"Memangnya lucu apa bercanda sekarang? Mau percaya atau tidak, kenyataan terpampang jelas di matamu" penjelasan singkat, padat, jelas yang membuat Natsu terperengah. Lucy mengangguk pelan tanda setuju, ia tak dapat berkutik di hadapan iris karamelnya
"Ba-baiklah! Aku tau Jellal tidak mungkin berbohong. Berarti …."
"Aku sadar kalian saling mencintai. Jadi Natsu, kau harus mengungkapkan perasaanmu sekarang juga. Jika tidak akan sangat sulit untuk ke depannya"
"Berarti kita bisa bersama setiap hari. Yosh! Mulai sekarang Lucy ku anggap sebagai adik. Meski berat hati mengatakannya, aku mengakui Jellal adalah kakakku. Jangan sedih, kacamata hentai" empat siku melekat di pelipis Jellal. Kena kacang habis-habisan dan diberi julukan baru, dasar salam sialan!
"Makan malam, menonton televisi, memasak di dapur, aku ingin melakukannya bersamamu! Ide yang bagus, nanti kita mencoba permen apel dan beberapa permainan, lalu menonton kembang api!"
"Tentu, aku menantikannya!"
Dan percakapan mereka diakhiri dengan tawa kebahagiaan, kecuali Jellal yang merasa diabaikan total, oleh kedua orang bodoh di samping kanan dan depannya. Biar tau menyesal saja di akhir! Batin si kacamata hentai beranjak pergi, meninggalkan sepasang muda-mudi di bagian meja makan berserta obrolan absurd. Ia menyandarkan punggung malas di tembok, sampai seorang pria raven menganggu keheningan sesaat.
"Ditinggalkan Lucy karena ulah Natsu, hnnn ….?" godanya menaikkan satu alis usil, walau digubris habis-habisan oleh yang bersangkutan. Kenapa dia harus ketularan bodoh si salam? Mereka tidak benar-benar serius bukan?
"Sebutlah begitu. Padahal aku sudah memperingati Natsu, tetapi malah dikacangi! Dia justru terlihat sangat senang, ketika diberitau akan tinggal seatap dengan Lucy. Pikirannya polos sekali"
"Hahaha …. kau seperti tidak tau bagaimana watak Natsu! Kamu sendiri kapan menembak Erza? Kalau keburu diambil cowok lain baru tau menyesal" senjata makan tuan?! Jellal termenung mendengar ucapannya, lagi pula masalah Lucy tak kalah penting
"Cepat katakan padanya, sebelum terlambat Gray"
"Saat festival nanti aku pasti memberitau Lucy. Ingat, setelah pacaran jangan lupa pajak jadian! Sampai jumpa di lain waktu" mata duitan sejati memang si raven ini …. mereka berpisah dan pesta selesai, kebanyakan orang sudah pulang ke rumah masing-masing
Selama perjalanan pulang, suasana dalam mobil diriuhkan dengan suara Natsu dan Lucy yang saling bersahutan. Jellal sendiri akhir-akhir ini lebih banyak diam, fokus membaca komik entah didapatkan darimana, meski langsung dihentikan karena kepala mendadak diserang pening. Mereka benar-benar berisik! Apa tidak bisa berhenti lima menit saja? Bahkan jika diperbolehkan sampai tiba di rumah, kemudian ketiduran akibat terlalu lelah.
"Hentikan pembicaraan kalian! Aku kesulitan fokus membaca moe moe kyun!" hening seketika, tiga kata terakhir yang Jellal ucapkan menarik perhatian Natsu, dan mulut nistanya sekejap ia tutup menggunakan salah satu tangan
"Moe moe kyun? Ternyata maksudnya judul komikmu. Aku tidak menyangka kau seorang pedofil dan mesum kelas kakap, hahaha …."
"Bu-bukan begitu! Aku ... a-aku ….!"
"Satu kosong, usahamu sudah bagus kok. Aku menghargai jerih payahmu, kakak" siapapun, tolong hilangkan panggilan dan julukan itu, batinnya kurang ikhlas menjadi pemimpin di antara mereka bertiga, sementara Lucy cekikan menyaksikan keakraban Jellal dan Natsu
"Akhirnya kalian akur juga. Aku turut senang"
"Jelas kan! Hidupmu pasti menyenangkan memiliki adik sepertiku, rumah tidak pernah sepi atau kehilangan canda tawa. Jadi, setelah pulang ayo berkumpul di ruang tamu!"
Kenapa sekolah harus diliburkan sih?! Jellal tepar dengan telinga memerah di atas sofa, hebatnya lagi Natsu belum kehabisan tenaga, lalu penuh sukarela Lucy menunjukkan sebuah kamar, yang terletak di sebelah bilik sang kakak. Entah dia mesti bahagia, menangis haru atau bersedih di pojokan. Siapa sangka calon istri paman mereka ibu si salam?! Terlebih kedua orang itu punya perasaan terpendam, ya …. meski belum ketahuan seratus persen.
"Kamu lemas sekali. Makanya jangan banyak komik terus di kamar, liburan musim panas nanti ayo berenang di pantai. Kakak bawa semangka ya!"
"Hoi jangan seenak jidat memutuskan! Lagi pula, siapa yang bilang aku ingin menjadi kakakmu?! Tapi terserahlah, pergi ke kamar dan tidur sana!" bisa dibilang Jellal pasarah, kalau Tuhan maunya begini harus bagaimana?
"Selama Lucy bahagia ku pikir bukan masalah"
Terlalu malas Jellal pun tertidur di sofa, tenaga untuk berjalan pun terkuras habis, gara-gara terlibat dalam keributan yang mereka berdua buat. Lampu ruang tamu dimatikan, dan seseorang datang sambil membawa sehelai selimut cokelat. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, hari yang sangat melelahkan mengingat penghuni di rumahnya bertambah. Sebelum tidur saja ia masih sempat, mengucapkan sampai jumpa kepada masa-masa tenang yang sekarang digantikan keramaian.
"Padahal aku tidak ingin ketahuan membaca komik shoujo. Kapan-kapan akan kucari kardus bekas di gudang belakang"
Karena Jellal tau betul, Natsu paling suka mengacak-acak barang orang ….
Keesokan harinya ….
Matahari bersinar cerah menembus kaca jendela. Jellal terbangun dari tidur lelap, sadar jika pandangannya mendadak gelap tanpa alasan jelas. Sementara penghuni rumah dibuai alam mimpi, dia sibuk berlari kesana-kemari mengelilingi ruang tamu, sampai pucuk kepalanya menghantam tembok keras. Selimut cokelat terbang bebas di udara, menutupi sepetak lantai membuat ia terheran-heran. Mungkin milik Natsu ….
TOK … TOK … TOK ….
CKLEK!
Benar saja, anak itu tidur hanya di atas ranjang berbalut sprei, tanpa selimut yang memang disediakan khusus untuknya. Jellal boleh sebal dengan Natsu, tapi tetap saja kasihan jika dibiarkan macam anak telantar. Ia berniat menyelimuti balik, sampai tangan kanan si salam melayang bebas ke udara mengenai pipi lelaki malang itu telak. Hanya bekas merah dan rasa sakit yang tersisa, dan keinginannya bersikukuh menarik perasaan tersebut.
"Lucy, aku masih ingin sosisnya …."
"Sampai terbawa ke mimpi segala. Dasar tidak peka! Lucy pun samanya sepertimu, kalian berdua memang bodoh"
Merasa sayang saja jika kesempatan yang disia-siakan. Tak lama Jellal turun, Natsu mengikuti dari belakang sambil menguap malas. Paman dan ibu masih tidur di kamar, mereka sarapan bertiga di meja makan melahap sepotong roti dan segelas susu hangat. Tentu menyenangkan baginya juga Lucy, sedangkan kacamata hentai sudah terbiasa dengan keadaan lampau. Lalu setelah itu …. menganggur di depan televisi berlayar hitam legam.
"Membosankan…. meski sekarang liburan musim panas, aku tidak mempunyai rencana apa-apa" gerutu Natsu membalik-balikan badan malas. Membuat Jellal yang mendadak kedapatan ide segera bertindak, daripada mubazir?
"Pergilah ke taman katak bersama Lucy nanti malam. Pasti menyenangkan" ucapnya menyodorkan dua buah tiket kepada Natsu, yang ia terima cuma-cuma tanpa berpikir panjang. Sayang kalau rejeki ditolak, jarang-jarang Jellal memberi gratisan
"Baiklah, terima kasih. Hoi Lucy, kau tertarik? Jika tidak aku akan mengajak Lisanna saja" l-lho, mana boleh begitu?! Jellal berniat mencegat, untungnya kepala pirang sang adik mengangguk tanda setuju. Syukurlah kali ini dibayar sepadan!
"Aku sudah tidak sabar! Banyak makanan enak kan?"
"Iya, iya. Pikirkan juga nilai dan kelas tambahanmu, mulainya minggu depan bukan?"
"Jangan membuatku teringat hal-hal buruk, Jellal. Memanggilmu kakak tidak enak, lagi pula kurang cocok dengan tampang hentai"
"Siapa yang kau katai hentai? Ya terserahlah, setidaknya orang itu bukan Erza. Sekarang apa maumu Natsu?" giliran Jellal balik bertanya, membuat otak api tersebut berputar lebih keras dibanding seharusnya
"Ayo ajak Gray dan Lisanna ke pantai Minggu besok! Sebelum kelas tambahanmu dimulai"
"Ide bagus. Biar aku yang menelpon Lisanna, sedangkan kamu menghubungi Gray. Hitung-hitung untuk modus" lho, sejak kapan pikiran polosnya tercemari oleh hal-hal semacam itu? Jellal sendiri baru tau, ternyata Natsu tidak sesuci yang ia kira
Terserah mereka, walau Jellal tau betul cepat atau lambat pasti diakhiri penyesalan. Dan dia hanya ingin, malam segera datang menggantikan siang yang dihujani keributan.
Malam harinya ….
Kedua kalinya Lucy dan Natsu pergi bersama. Pertama ketika mereka diberi harapan palsu, anti mubazir waktu yang tersisa pun dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu ke pusat kota. Jellal melambaikan tangan singkat sewaktu jam menunjukkan pukul tujuh tepat, berserta secercah harapan guna menyadarkan muda-mudi bodoh ini. Langkah kaki riang salam ditunjukkan lewat sepatu kets yang biasa dikenakannya, sementara wanita ponytail berjalan tenang di samping kanan.
"Silahkan masuk dan nikmatilah waktu Anda"
Meski Natsu hanya tertarik pada stand makanan di pinggir jalan. Mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling, lalu mencoba berbagai pencuci mulut yang menggoda. Sekotak takoyaki berukuran mini ia habiskan dalam lima lahapan besar, perut pun dielus sayang sambil bergumam 'kenyang'. Lucy duduk santai di pinggir air mancur, entah melihat apa sampai serius begitu. Padahal ikan di sana masih hidup dan merupakan jenis hias ….
"Daripada menganggur tidak jelas, mau berfoto di sana?" tanya Natsu menunjuk seorang fotografer dan para modelnya, yakni pasangan muda mengenakan topi berbentuk katak pula
"Uhm, tentu! Setelah itu ayo pulang"
Lucy pikir topi kataknya lucu, sayang tidak bisa dibawa pulang. Sang fotografer memberi aba-aba pada mereka untuk bergandengan, yang Natsu turuti tanpa pikir panjang selain berisyarat, 'ayo lakukan!'. Sayang perasaan tak dapat dibohongi, walau sekilas ia menyadari satu hal terpenting.
"Kenapa berhenti berjalan? Ayo pulang, katanya ingin membuat Jellal iri, kamu kedinginan?" Lucy tidak meminta apapun, Natsu langsung menyematkan jaket merah tuanya menutupi tubuh ringkih itu
"Tunggu apalagi, atau kakimu sakit dan minta digendong?"
"Dasar bodoh, sekarang musim panas tau …."
Kira-kira, apa namanya perasaan itu?
Bersambung ...
Balasan review :
Hrsstja : Oke thx ya udah review, pasti dilanjut kok sampe tamat.
Fic of Delusion : Jangan lupakan Jellal, dia juga terlibat hahaha. Thx ya udah review.
