Sesampai di rumah, Natsu yang memiliki sisa tenaga bersemangat memperlihatkan selembar foto pada Jellal, menghalangi pandangannya terhadap bacaan di depan mata. Dia merasakan kesal dan senang sekaligus, benar-benar serasi mirip orang pacaran, berpegangan tangan pula. Lucy justru lebih banyak diam, membiarkan si salam menceritakan seluruh petualangan hebat mereka, mengenai pencarian stand makanan di pinggir jalan.

"Kau sebut itu hebat dengan bangganya? Jangan buat aku tertawa, dasar bodoh!" seru Jellal menepuk pelan bahu Natsu, menggunakan jilid komik yang langsung direbut oleh tangan-tangan nakal tersebut

"Padahal setiap hari kerjaanmu membaca komik bernama Mai Mai Kut atau apalah. Seharusnya kau ikut kelas tambahan bersamaku, tetapi rangkingmu malah tiga terbaik di kelas. Katakan, kamu memakai dukun atau sejenisnya?"

"Hentikan mencubit pipiku! Aku tidak mempercayai kekuatan gaib. Mungkin karena kita berbeda" alasan yang bahkan anak TK ketahui absurd. Natsu melipat dahi mendengar jawaban aneh Jellal, dia sampai berjuang keras mencerna empat kata di kalimat terakhir

"Berbeda darimana? Kita sama-sama lelaki, satu kelas, sering bersama atau mungkin … kamu tidak punya burung?! Biar kucek, tidak lama kok"

"Di-di sini ada Lucy! Kalau ketahuan aku yang harus menanggung malu!"

"Kita lakukan diam-diam, seperti maling menyusup ke jendela!" Jellal menghindari jari-jemari Natsu yang ditekuk nakal. Saat ada kesempatan berlari meninggalkan ruang tamu entah kemana. Pokoknya menghindar dulu

"Sayang sekali, kapan-kapan kuajak mandi bareng, deh! Oh iya Lucy, sekarang kamu mau melakukan apa? Bermain play station terdengar seru atau menonton film lama?"

"Maaf aku ingin ke toilet sebentar"

Tanpa rasa curiga Natsu mengangguk patuh, sambil menunggu Lucy mempersiapkan dua joy stick dan sebuah CD game. Ia berlari menghampiri Jellal yang kehabisan nafas, memasok udara hingga kaki bersimpuh lemas menghadap pintu kamar mandi. Ya, sejak kecil kaca mata hentai itu mempunyai fisik lemah, makanya sering bolos pelajaran olahraga dikarenakan berujung muntah-muntah, paling parah bercampur darah sampai masuk rumah sakit.

"Uhuk … uhuk … kenapa Lucy … kau juga … tidak percaya … aku … punya … burung?!" mendadak Jellal sensitif bak wanita diserang PMS. Mendengarnya wajah Lucy merah padam, bahkan melebihi lobster di lestoran mahal

"Ja-jangan sembarangan menyimpulkan! Kakak terlihat pucat, kuantar ke kamar ya?"

"Aku bisa sendiri. Tanyakanlah, semua terlihat jelas dari ekspresi bingungmu. Foto itu bukan serta-merta tanda persahabatan kalian bukan?"

"Saat memegang tangannya aku merasakan sesuatu yang beda. Hatiku terasa hangat … maaf jika kurang jelas, terlalu sulit diungkapkan" cerita Lucy meremas ujung rok, melampiaskan segala perasaan lewat tindakan tersebut

"Kau jatuh cinta, hanya itu yang dapat kusimpulkan. Sekarang mau bagaimana terserahmu"

"Tapi aku menyukai Gray! Dia pahlawanku ketika geng Fairy Tail berulah, sedangkan Natsu … bagiku sebatas teman baik, tempat berbagi canda tawa dan melakukan berbagai aktivitas"

"Banyak orang salah membedakan kagum dan suka. Aku rasa kamu termasuk salah satunya. Renungkan baik-baik, pikirkan dengan hati, mengerti?"

"Festival musim panas dimulai hari Jumat kan?"

"Memang, lalu kenapa? Aku akan pergi ke sana bersama Erza"

"Kalau begini jadinya, lebih baik aku ungkapkan lebih cepat kepada Gray! Kata orang-orang … jika menyatakan perasaan di bawah kembang api, kemungkinan diterima meningkat sepuluh persen!"

"Kusarankan jangan. Habiskan saja waktu bersama Natsu. Kalau nekat bersiaplah sakit hati" Lucy tau kakaknya menyembunyikan rahasia, antara dia dan Gray yang begitu misterius

"Baiklah, kali ini aku mendengarkanmu. Beristirahatlah di kamar"

"Dari dulu kau selalu menurut, Lucy"

Di ruang tamu Natsu menunggunya, dengan semangkuk keripik kentang dan sebuah joy stick yang menganggur di sisi kiri. Sekejap Lucy melupakan kegundahan itu, bergabung memainkan game balap mobil kesukaan mereka. Debaran jantung dua kali lipat. Keringat dingin bercucur di pelipis. Semua lenyap dalam sekali ronde yang dimenangkan si salam. Benar, asalkan bisa terus bersama mencintai atau tidak bukanlah perkara penting.

"Bahumu lebar ya … hangat …" pucuk pirangnya disandarkan ke samping. Menahan pergerakan Natsu yang asyik menggerakkan joy stick ke berbagai arah. Dia tidak keberatan, justru bahagia melebihi siapapun di dunia

"Mirip kakak-adik sungguhan! Aku menyayangimu, Lucy"

"Uhm! Aku paling mengetahuinya dibanding kak Jellal, ayah maupun ibu" seulas grins menyapu kedua pipi Lucy dengan merah muda. Natsu mengelus lembut helaian surai pirang, mengabaikan ronde kedua yang berlangsung setengah jalan

"Eh … aku kalah! Kali ini kau beruntung, ronde ketiga Natsu Dragneel-lah pemenangnya, hahahaha!"

"Lihat saja dulu. Jangan terlalu cepat senang"

Pada hari itu Lucy menyadari, bahwa dirinya egois dengan menginginkan, senyum tersebut menjadi milik dia seorang.

Keesokan harinya …

Suara batuk Jellal menginterupsi sarapan khidmat Lucy dan Natsu. Mereka bergegas menghampiri, meninggalkan sepiring roti panggang tersisa seperempat-nya. Setelah diukur derajat memakai termometer, 38 celcius disertai pilek berat. Ternyata ini yang dinamakan flu musim panas, tapi agak aneh karena kemarin dia baik-baik saja. Rumah dititipkan pada mereka bertiga, paman Heartfilia bersama tante Dragneel tengah bulan madu di Eropa.

"Kasihan sekali kamu … tenanglah. Kencanmu dan Erza dilaksanakan hari Jumat, dalam tiga hari kujamin sembuh" ucap Natsu memainkan termometer bosan, sementara Jellal terdiam dengan kompres air hangat di jidat

"Ayo memasak bubur di dapur! Natsu kau bertugas memotong sayur" perintahnya mengambil start duluan. Kini mereka berlari seperti anak kecil bermain kejar-kejaran. Kepala Jellal mendadak pening membayangkan wujud beras berair itu

"Mungkin aku akan mati dalam hitungan detik"

Penuh semangat Natsu memotong sawi putih dan sayur asin, sementara Lucy sibuk mengaduk beras satu jam penuh. Sesekali ia berbuat iseng, mengambil daun bawang di kulkas lalu meletakkan di atas kepala seperti antena. Mereka tertawa lepas, suara kebahagaiaan yang membawa warna kuning cerah di sekitar dapur. Jellal tersenyum tipis mendengarnya, dia paham betul bagaimana jatuh cinta menyulap kegiatan biasa menjadi istimewa.

"Ehem! Sayang, kamu sedang memasak apa?" sandiwara suami-istri yang Natsu ciptakan tiba-tiba. Lucy menyambut baik, melakukan improvisasi macam drama Korea tontonan setia ibu rumah tangga

"Bubur untuk kak Jellal yang sakit. Kenapa sayang, kamu cemburu?"

"Kata siapa? Aku tau kamu menganggapku paling berharga di seluruh … dunia"

"Lihat sudah jadi bubur! Kita bisa menyiapkannya selagi …" tanpa sengaja wajah mereka bertemu di satu titik, saling merasakan deru nafas masing-masing yang memburu hebat. Lucy memalingkan muka disusul Natsu. Mereka terdiam menuju kamar Jellal

"Sepertinya kalian bersenang-senang. Aku ketinggalan berapa babak, hnn …?"

"Kau pikir kami sedang berakting apa? Oh biar aku yang suapi duluan!" sendok alumunium diarahkan ke mulut Jellal, namun belum sempat dibuka Natsu sembarangan memasukannya hingga ia berteriak

"Pa-panas! Kau mau membunuhku ya?"

"Natsu lupa meniupnya. Sekarang giliranku" satu suapan yang mendarat mulus ke dalam mulut. Ala ibu menyuapi bocah berumur lima tahun, sendok digerakkan bak pesawat terbang bebeas di udara

"Buka lebar-lebar dan katakan, aaaa …" entah memberontak atau apa, bubur tersebut jadi tercecer di ruas bibirnya. Jellal habis kesabaran untuk memaafkan. Natsu justru tertawa keras melihat si kaca mata hentai menderita

"Hahaha … biar kufoto sebagai kenang-kenangan"

"KELUAR DARI KAMARKU DAN BERSIHKAN KAMAR MANDI SANA!" sakit sekalipun teriakan Jellal tetap membahana di sekeliling rumah. Natsu berlari riang. Lucy melangkah kalem bahkan mesam-mesem tidak jelas

Kehabisan tenaga ia terkulai lesu di atas ranjang. Natsu asyik menyikat lantai sambil bersiul. Entah kenapa kegiatan bersih-bersih yang dibencinya terasa menyenangkan, jika dilakukan bersama Lucy bukan sendirian. Mereka mencipratkan air yang tersisa di ember, terkadang berlari kesana-kemari menghindari serangan lawan. Bersyukurlah untuk seukuran ekonomi menengah ukuran kamar mandi lumayan luas.

"Rasakan ini!" seru Natsu menyemburkan air setengah ember. Hari itu panas, anggaplah sebagai ganti pergi ke kolam renang di pusat kota

"Awas di belakangmu!"

BYUUR!

"Refleksmu boleh juga. Berhenti sebentar, ada busa di pipimu" jemari lentiknya menyeka pelan. Meski hanya berlangsung satu menit kurang. Jantung Lucy sukses dibuat dag-dig-dig tidak karuan. Untung Natsu terlalu bodoh untuk sadar

"Mau bermain gelembung sabun? Tidak perlu beli, aku tau cara membuatnya"

"Selesaikan dulu bersih-bersihnya. Nanti kak Jellal marah besar lalu terbatuk-batuk. Dia tidak akan sembuh jika begitu terus" peringat Lucy menekan iseng hidung Natsu. Sesaat ia bisa mencium harum stroberi yang diumbar rambut pirang itu

"Yosh! Ayo selesaikan dalam waktu singkat"

SWINGGG …!

DUAKKK!

"Aawww … maaf kakiku terpeleset" kira-kira beginilah gambaran posisi mereka, Natsu menindih Lucy yang mati kutu. Tak sedikitpun jarak memaut mereka, benar-benar bersentuhan secara langsung. Kontak fisik kedua setelah kemarin tangan dilibatkan

"A … ah i-itu … be-berat ya! Ahahaha … maaf, maaf, aku melamun tadi"

Suasana canggung menyelimuti sampai acara mereka selesai. Dengan tatapan kosong Natsu dan Lucy memandang langit biru. Meniupkan gelembung sabun lesu hingga menyisakan percikan semata. Si bodoh tidak mengerti apa yang terjadi, hanya karena kecelakaan kecil atmosfer mendadak berat, misterius sekali bukan?! Dia memang kurang peka, tentu bagi wanita peristiwa tersebut merupakan 'cambuk' tersendiri.

"Hoi Lucy. Lihatlah aku bisa membuat gelembung yang besar!" sekuat tenaga Natsu meniupnya. Lingkaran sabun itu melayang di udara dan menghilang dalam sekali letus

"Kau benar … sangat besar! Ajari aku bagaimana caranya"

"Cukup tiup kuat-kuat dan lepaskan dengan bebas. Asalkan itu Lucy pasti bisa!"

"Menurutmu kemana gelembung yang meletus pergi?" mendengarnya Natsu memiringkan kepala sejenak. Berpikir apa jawaban tertepat guna memuaskan rasa penasaran Lucy. Tapi sia-sia, dia kebingungan sampai menggaruk kepala

"Pertanyaanmu sulit. Laxus-sensei sekalipun harus berjuang keras demi mendapatkan jawabannya"

"Mudah saja, berbaur dengan udara. Aku tidak mengerti, kenapa rasa suka secepat itu hilang digantikan cinta, seperti gelembung sabun yang barusan kau tiup"

"Karena … perasaan manusia mudah berubah! Awalnya sebatas teman, berkembang menjadi sahabat bahkan sepasang kekasih atau melanjutkan ke pernikahan. Hubungan itu hebat ya. Kita yang berbeda satu sama lain bisa disatukan dengan ikatan tersebut"

"Benar. Terlebih aku bersyukur bisa mengenalmu. Terlepas dari geng Fairy Tail atau bukan, semua itu hanya cerita kelam di masa lalu"

"Awalnya aku menyesal memutuskan berteman denganmu, tetapi Tuhan berkehendak lain. Kita dipersatukan dalam atap yang sama malah …"

Nafas Lucy terlalu sesak, untuk menghirup udara di samping Natsu yang menikmati mainannya. Ia meremas dada kiri kuat, sama seperti meniupkan gelembung terbesar di dunia.

"Sakit … rasanya menyakitkan …"

Hari Jumat festival musim panas …

Selama Jellal pergi berkencan, ia menyampaikan beberapa pesan terutama kepada Natsu. Tidak jauh dari, jangan membuat keribuatan atau tetangga sebelah marah, dilarang memainkan bahan makanan di dapur dan lain-lain. Padahal tinggal bersantai lalu percayakan rumah pada mereka, sesulit itukah? Ya … kalau Lucy bisa dipercaya, tetapi anak nakal itu … ah sudahlah! Jam menunjukkan pukul tujuh tepat, pengangguran menyertai sepasang muda-mudi yang mati bosan.

"Gawat! Aku hampir lupa mengabari Lisanna" terburu-buru dia mengetik pesan singkat, bercecer typo yang membuat Lucy tertawa kecil di belakang punggungnya

"Kebiasaan kita sama ya! Walau sudah diingatkan kak Jellal, aku baru memberi kabar pada Gray"

"Enaknya melakukan apa ya? Aku ingin cepat-cepat hari Minggu! Bagaimana kalau dipersiapkan dari sekarang? Besok kita beli semangka di pasar" usulan yang Lucy anggukan. Mereka memutuskan berkumpul lagi di kamar Natsu

"Kaca mata renang, sunblock, sabun, shampoo, baju ganti …" gumamnya menyebut satu per satu barang yang dibawa. Ketinggalan satu saja maka acara mereka akan hancur berantakan. Lucy ingin tampil cantik di hadapan Gray

"Wanita memang repot ya! Tasmu terlihat besar"

"Eh Natsu? Tempat janjiannya diubah?" sesaat ia tersentak kaget. Mendapati sesosok pemuda salam bersandar di daun pintu

"Tidak apa-apa. Lagi pula kamarmu lebih rapi! Mau mendengarkan cerita seram?"

"Permainan uji nyali? Boleh! Matikanlah lampu di seluruh ruangan, supaya suasana horrornya semakin terasa. Oh, jangan lupa bawa lilin juga pemantik!"

Berlebihan memang, seakan ingin memanggil hantu atau bermain ouija. Natsu memulai pertama kali, dia bercerita mengenai seekor monster dan gadis kecil di hutan belantara. Di depan pintu raksasa mereka bertemu, wajah yang menyeramkan disertai suara mengintimidasi, sepasang tangan besar siap menerkamnya bulat-bulat. Tidak seram, justru karena kepayahan meniru bunyi Lucy menahan tawa di kerongkongan.

KRESEK … KRESEK …

WHUSSHHH!

Meong … meong …

"Hantu itu berjalan dalam langkah senyap, semakin mendekat … mendekat dan mendekat …" amat menghayatinya Natsu merangkak maju hingga Lucy terpojok. Lilin tidak lagi membawa ketenangan. Angin yang mengetuk jendela menambah suasana mencengkam

"Tangannya terangkat ke atas. Gadis kecil telat mengelak dan …"

"Be-berhenti Natsu. Aku menyerah!"

HUG!

"Monster berkata, 'berhati-hatilah, di sini berbahaya untuk gadis kecil sepertimu. Kuantar pulang, oke?'" masih melanjutkan ceritanya, Natsu memeluk Lucy yang memejamkan mata erat, ketakutan. Tawa renyah si salam memeriahkan sesaat. Lampu kembali menyala. Sumbu lilin ditiup perlahan

"Sebenarnya bukan seperti itu, aku ubah karena kamu terlihat takut. Sudahlah, daripada meringkuk begitu lebih baik kita bermain game, lalu menagih oleh-oleh pada Jellal!"

Terdera lamunan, Lucy membayangkan Natsu adalah monster baik hati, sedangkan dia si gadis kecil yang tersesat di hutan belantara. Entah bagaimana kelanjutannya, mungkin berteman baik seperti mereka, atau saling jatuh cinta mirip kisah Beauty and The Beast? Oh ayolah, kamu memikirkan apa sih dasar bodoh! Kalian tak lebih dari kakak-adik, sahabat! Gumamnya beranjak meninggalkan kamar. Ada seseorang yang menunggu di sana …

"Jalanmu lambat. Bersemangatlah jangan lesu!"

"Salah siapa mengagetkanku hingga kehabisan tenaga? Malam selanjutnya giliranku bercerita seram!"

"Jika bisa membuatku bergidik, akan kukabulkan satu permintaanmu, tertarik?" taruhan yang Lucy sepakati tanpa pikir panjang. Berhasil atau tidak, Natsu pasti mengalah dan memberikan satu kesempatan. Sekarang dia berpikir ingin minta apa

"Sekali seumur hidup, lho! Jangan sampai menyesal"

"Berkali-kali membuatmu menuruti keinginanku bukanlah hal sulit"

Jadilah mereka bermain play station, menunggu jam demi jam berlalu sampai jarum menunjuk angka sebelas. Jellal belum pulang, mengabari salah satunya pun tidak dilakukan. Lucy tertidur pulas di atas sofa, setia menggengam play station yang sengaja Natsu lepaskan perlahan-lahan. Bergaya bridle style menggendong tuan putri Heartfilia menuju kamar. Malam itu menyenangkan, walau agak sepi tanpa kaca mata hentai.

"Mimpi indah, Lucy"

CUP!

Kecupan singkat yang mengakhiri Jumat kala festival musim panas berlangsung.

Keesokan harinya …

Krinngg … kriinggg … kringgg …

CKLEK!

"Uhmm … ini di mana? Seingatku kemarin tertidur di sofa, berarti … ah sial, aku kalah taruhan!" mereka membuat yang lainnya untuk meramaikan suasana. Lucy sendiri kurang peduli, bangun-bangun menyambar hand phone di atas laci

From : Gray

Tentu. Terima kasih sudah mengajakku, ayo kita jadikan musim panas terbaik sepanjang masa. Omong-omong ada yang ingin kukatakan, aku dan Juvia jadian kemarin, di festival musim panas. Kau boleh minta pajak jika mau, tapi jangan mahal-mahal!

"Jellal tidak ikut ke pantai besok. Suhu badannya naik lagi gara-gara pulang kemalaman. Hey Lucy, kau … kenapa?"

Ucapan Natsu terhenti di ujung lidah, melihat Lucy bermandikan air mata menuruni dagu. Menggunakan tangan kosong ia usap perlahan, agar tak meninggalkan sedikitpun sisa yang tambah melukai hatinya. Penyebab semua itu tak lain berasal dari Gray, mengabarkan sendiri bahwa si raven pacaran dengan Juvia, kelas tetangga. Perjuangannya berhenti di titik ini, tidak ada dekat-mendekat atau memukul iseng, semua berakhir dalam sekejap.

"Gray itu … merusak kesenangan orang saja! Berhentilah menangis, masa muda tidak melulu tentang cinta, masih banyak cowok yang lebih baik! Pacar boleh dicari kuliah nanti. Sahabat tetap tak tergantikan seumur hidup"

"Kau benar, Natsu. Maaf, aku memang lemah dan selalu menyusahkanmu"

"Menurutku tidak! Lucy, kau adalah wanita terkuat setelah ibuku. Meski dijahati, diperas oleh geng Fairy Tail kamu berusaha tegar. Itulah yang terpenting, sebanyak apapun jatuh harus bisa bangkit kembali!"

"Kata-katamu mirip motivator di televisi saja. Ayo sarapan, perutku lapar. Nanti kita suapi kak Jellal lagi, tapi ingat ditiup dulu ya buburnya"

"Lidahnya saja yang terlalu lemah. Bubur kemarin hangat kok"

Hari ini baru hidangan pembuka. Besok merupakan eksekusi sebenarnya.

Pukul sembilan pagi mereka berkumpul di rumah Natsu. Menempuh perjalanan satu jam dengan waktu istirahat lima menit di pom bensin. Ucapan selamat berdatangan secara serentak, termasuk Lucy yang mati-matian menahan sesak di dada. Namun tetap, di antara mereka berempat si salam paling bersemangat, menagih pajak jadian saja mesti berteriak seakan menang tiket lotre.

Hanya demi menyenangkan hati. Natsu ingin menyaksikannya tertawa, seperti biasa …

"Akhirnya kita tiba di pantai! Hoi Gray, aku tantang kau lomba renang di laut, yang kalah harus traktir"

"Boleh. Akan kubuat kau menyesal telah menantangku"

"Mereka bersemangat sekali. Lucy tidak bergabung? Aku tau kau paling suka berenang terlebih di laut, bahkan pernah menjuarai lomba tingkat nasional!"

"Hahaha … tidak hebat kok. Saat Lisanna memberitau Natsu kalau kamu dan Bickslow pacaran, bagaimana reaksinya?" kedua belah pihak sama-sama terpukul. Dia berlebihan menyembunyikan perasaan sedih, pura-pura tertawa, menikmati air laut, tapi jauh dari itu …

"Dia berkata, 'selamat ya! Aku menunggu traktiranmu di kedai ramen atau sushi. Mie soba juga boleh'. Selalu saja memikirkan makanan"

"Lisanna pasti tidak sadar, Natsu menyukaimu diam-diam"

"Dibanding menyukaiku, Natsu berpuluh kali lipat mencintaimu. Apa Lucy tau? Ia menahan karena enggan melihatmu sedih. Hanya setetes pun berharga di matanya. Kau menangis maka hati itu ikut meringis perih"

"Tersenyum dan hampiri dia. Buatlah banyak kenangan bersama"

Selain menurutinya Lucy bingung mesti berbuat apa. Sesuai perencanaan di halaman belakang sekolah, mereka membangun istana pasir memakai ember, lalu dibentuk dan dihias dengan aneka kerang. Bermain bola voli juga, setelah dibentuk dua kelompok berlomba mengumpulkan skor terbanyak, walau dikalahkan Gray-Lisanna, sekadar tawa kegembiraan yang dihempaskan pada udara bebas, di bawah teriak matahari sebagai saksi bisu.

Hari berangsur sore. Lucy mencegat langkah Natsu yang berjalan santai di pinggir laut.

"Soal permintaan itu aku sudah memikirkannya. Kita bermain kejar-kejaran, oke?" sederhana sekali, padahal Natsu membayangkan yang aneh-aneh semacam digendong ke rumah, berenang mengelilingi samudera, dan lain-lain

"Larimu cepat. Kau mantan anggota atletik?!" seru Natsu mengejar Lucy yang tertawa dibarengi mentari senja. Sinar oranye menerpa hangat mereka, sepasang muda-mudi penuh antusias

"Dulu aku pernah cerita, yang benar anggota klub renang! Kau belum kehabisan tenaga kan?"

"Mana mungkin! Natsu Dragneel selalu ceria dan bersemangat"

Lisannya hendak mengganti dua kata itu, menjadi sebuah hampa dan bimbang. Natsu berhenti mengejar Lucy yang terus berlari, dengan kepala diisi memori mereka selama berbulan-bulan menjalin pertemanan. Ingin dia berbohong, lari dari kenyataan bahwa semua itu salah, seluruh perasaan itu tidak benar! Bukan Lisanna melainkan wanita ponytail. Ikat rambut yang justru menyebabkannya menitihkan, setitik embun di pelupuk mata.

Penyesalan. Angin tertawa. Pasir menjadi jejak kebodohannya.

"Ma-maaf aku pulang duluan! Pergilah bersama Lisanna dan Gray" secepat kilat Natsu berbenah. Memberhentikan bus yang menarik penumpang di sekitar area pantai. Tak terpikiran orang lain kecuali Jellal. Dia sudah memperingati, memberitau jauh-jauh hari sebelum mereka peka

"Lho Natsu? Anak itu mendadak aneh …"

Tap … tap … tap …

Hosh … hosh …

CKLEK!

BLAMMMM!

"Kemana Lisanna, Gray dan Lucy? Aku kira kau pulang bersama mereka" tanya Jellal fokus membaca komik di ruang tamu. Natsu yang habis kesabaran mengguncang kasar bahu temannya itu, sambil mengigit bibir kesal beralirkan darah segar

"Kenapa … kenapa aku sangat bodoh?! Kami banyak menghabiskan waktu. Sewaktu kau kencan dengan Erza, tanganku memeluknya erat, sangat erat … seakan mengisyaratkan, 'jangan pergi', 'tetaplah bersama', 'berhentilah menangis'. A-aku …"

"ANDAI AKU MENYADARINYA. KAMI TIDAK AKAN TERLUKA AKIBAT CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN! Kami pasti bahagia … kami bisa … melakukan lebih dari sekadar berteman"

"Kau bisa mengulang waktu? Aku boleh pacaran dengan Lucy meski kami seatap sekarang?"

"Jika manusia mempunyai kekuatan tersebut, maka tidak ada yang bernama penyesalan di dunia. Kau sendiri bilang menganggapnya adik, sudah jelas kan mustahil?"

"Biarlah. Aku mampu membahagiakannya"

Kisah yang berakhir tragis.

Tamat

Balasan review :

Fic of Delusion : Sayang keburu nyesel hahaha. Hmmm enggak tuh! Rintangannya mereka gak sadar perasaan masing-masing. Thx udah review, semoga suka dengan endingnya.

Hrsstja : Sip dah, maaf kalo kelamaan lanjut hahaha. Thx udah review.