Natsu telah mempersiapkan semuanya, terutama mental jika tidak berhasil memasuki SMA impiannya. Demi itu, dia memaksakan diri belajar melebihi batas kemampuan, dimana kegagalan sentatiasa menghantui di sekitarnya, memeras otak sang pemuda agar mendekati kata 'berhasil'. Namun, manusia hidup bukan sekadar mengandalkan pengetahuan, tetapi juga keberuntungan dan kepercayaan. 'Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda'. Itu benar, jadi, untuk apa disesali jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin?

"Percayalah pada dirimu sendiri. Kunci keberhasilanmu terletak di sana" ucap Zeref sebelum meninggalkan rumah sakit dalam keadaan tenang. Mengemas serakan buku yang tercecer di atas meja kayu

Kepala pink-nya mengangguk manis menuruti perkataan itu. Natsu tidak dapat memikirkan apapun, selain merasakan bentrok demi bentrok yang berperang dalam kepala. Meski belum mendapat izin dari dokter, dia terlalu masa bodoh untuk mengkhawatirkannya. Masa muda adalah yang terindah, termasuk 'usia emas' dimana kamu tumbuh dan berkembang, bersama orang tua tercinta.

Ya, Natsu memutuskan untuk meninggal, tanpa menyisikan sedikit pun penyesalan.

-ll-

Pagi menyapa seluruh umat manusia, tak terkecuali hewan dan tumbuhan. Natsu sudah mempersiapkan diri sejak jam lima tadi, mandi, mencuci muka, gosok gigi, berpakaian lengkap, dia telah siap menghadapi segala rintangan di depan mata. Zeref ikut menemani menuju tempat berlangsungnya ujian. Semua murid dengan satu tujuan sama tengah berkumpul di lapangan. Sigap mendengar instruksi dari kepala sekolah, yakni seorang lelaki separuh baya berusia sekitar tujuh puluh tahun. Bukankah beliau pantas pensiun?

"Ruang ujian dibagi menjadi tujuh, yang berada di lantai satu dan dua. Setelah mendapat kartu peserta, harap mencari kelas dimana kalian akan mengerjakan tes masuk. Sekian dari saya, terima kasih"

"Selamat berjuang, Natsu" Zeref melepas kepergian sang adik, disertai doa dan harapan setinggi mungkin. Seulas senyum ditampakannya sekilas. Tak lupa mengancungkan jempol berisyarat 'aku pasti bisa'

Merepotkan sekali….batin Natsu menemui petugas, hendak meminta kartu peserta sebelum masuk ke bangunan utama. Dia memperhatikan sekeliling. Menerobos kerumunan manusia yang sibuk mencari nama mereka masing-masing. Tubuh lemahnya kalah melawan tekanan di sekitar. Mencapai titik paling depan pun terasa sangat sulit. Natsu berusaha bangkit kembali, menunggu sampai hiruk-pikuk sedikit mereda, lalu dia melihat lagi papan pengumuman.

"Kelasmu di IX-2 IPS. Lantai dua. Kamu duduk bersama Lucy Heartfilia" sebuah suara melewati indra pendengarannya cepat. Natsu segera bergegas mengikuti arahan tersebut. Mengingat waktu yang dia miliki tidaklah banyak

'Lembut….suara itu mirip dengan ibu'. Awan gelap di hati Natsu berangsur menghilang, digantikan sinar kehangatan milik matahari. Dia tidak lagi merasa gugup, takut atau bingung, seakan beliau memang berada di sisinya, setia menemani sampai akhir perjuangan. Pintu digeser pelan, terlihat ada tiga puluh murid kira-kira banyaknya, yang mengincar satu tujuan yaitu kelulusan. Pengawas menunjuk satu bangku kosong di bagian belakang. Seorang wanita bersurai wanita duduk santai menunggu soal dibagikan.

"Ayo berusaha bersama-sama" ajaknya mengulurkan tangan ingin berjabat. Natsu menerima dengan senang hati, siapa pun wanita itu dia juga mengharapkan hal sebaliknya

Lembar soal dioper dari depan ke belakang. Berisi seratus butir pertanyaan yang diujikan, dua lembar penuh. Natsu meletekkan pensil di sebelah kanan. Mereka masih harus menunggu bel dibunyikan sebanyak tiga kali berturut-turut, barulah pengawas memberi aba-aba untuk mengerjakan. Dia mendadak kepikiran 'suara ibu' yang didengarnya tiga menit lalu. Ah….sayang sekali aku tidak mengetahui siapa orang itu. Sekarang, bagaimana caraku berterima kasih?

"Baiklah. Kalian boleh mengerjakannya"

Dentingan bel pun bagaikan lenyap dari kedua pasang telinganya. Natsu menepuk pipi lumayan keras, dia harus fokus dan mendapat hasil terbaik. Soal Bahasa Jepang dapat dikerjakannya dengan mudah, melihat kemampuan terbaik Natsu terletak di bidang sastra. Begitu juga pengetahuan alam yang 80% didominasi biologi. Jam menunjukkan pukul sembilan tepat, tersisa satu jam untuk melahap habis soal matematika yang menghalangi pintu keluar.

"Sial….aku lupa rumus volume kerucut!"

'Tidak apa-apa, daripada menghabiskan banyak waktu lebih baik aku mengerjakan nomor berikutnya'. Natsu berusaha keras menenangkan diri. Dia bertekad tidak boleh dikalahkan subjek kelemahannya. Ada tujuh belas soal yang dilewati dari dua puluh, bukankah ini pertanda buruk?! Rambut landaknya diacak-acak kesal, kenapa harus lupa rumus di saat-saat genting? Tiga yang dia kerjakan pun belum tentu benar, masih setengah yakin setengah ragu.

"Ambillah" ucap seseorang di sebelahnya, menyodorkan remukan kertas putih bertuliskan macam-macam rumus

Mencontek adalah perubatan terlarang, Natsu mengetahui itu melebih apapun. Namun yang paling penting sekarang, dia mesti menyelesaikan seratus butir soal di depannya. Mau salah atau benar dipikirkan nanti saja, waktu yang terjepit sukses membuat Natsu kehilangan sehat, gila-gilaan menyilang pilihan dari a sampai e menurut hati nurani.

PLEK!

Pensil kayu pemberian Zeref patah di tengah-tengah ujian berlangsung. Natsu hendak merautnya kembali memakai pengserut mini yang terselip di saku celana. Sesaat onyx itu terasa berkunang-kunang. Pemandangan di sekitar bergoyang liar, menyebabkan dia menjatuhkan segala benda dalam kepalan tangan. Natsu yang mendapat balik kesadarannya langsung bertindak, namun mengambil alat tulis pun seperti menggengam besi berbobot satu ton, sangat berat! Gagal tes karena sakit kepala bukan pengalaman lucu. Dia bersikeras melanjutkan walau diminta beristirahat di UKS.

"Pakai saja pensilku"

Lagi-lagi wanita surai pirang menjadi malaikat penyelamatnya. Natsu dinyatakan berhasil melewati tes masuk menurut dirinya sendiri, berkat bantuan teman sebangku. Seluruh murid berhamburan keluar kelas, diikuti mereka berdua yang entah kenapa bisa tertinggal. Natsu mengembalikan pensil itu kepada sang pemilik asli, bahkan dia sempat kepikirkan untuk balas budi. Sudah ditolong dua kali masa dilupakan begitu saja?

"Eto…eto….apa hari ini kamu sibuk?" tanya Natsu disendat rasa malu. Semburat merah menghiasi pipi kurusnya yang kurang makan, harap-harap cemas menanti jawaban dari si pirang

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Aku ingin mentraktirmu di restorant Island. Anggap saja ucapan terima kasih karena terus menolongku"

"Eh….padahal tidak perlu repot-repot! Tetapi jika kamu memaksa, mau bagaimana lagi"

Bunga melatar belakangi suasana hati Natsu saat ini. Dia baru pertama kali pergi bareng cewek, orang asing pula. Biarlah pulang terlambat juga, jarang-jarang ini. Restorant Island berlokasi di Jalan Magnolia nomor 7, cukup dekat dengan SMA Fairy Tail tempat murid SMP serentak melaksanakan ujian masuk.

Mencairkan suasana itu penting, tetapi mulut Natsu seakan terkunci sampai kesulitan berbicara. Mengeluarkan huruf vokal pun lidahnya bergetar hebat. Selempang tas hitam dipegang erat-erat, dia merasa benar-benar payah dalam urusan wanita. Pantas, kak Zeref tak bosan mengejeknya 'jomblo ngenes'. Meski pemuda bodoh tercinta kita ini kurang peduli dengan masalah sejenis itu.

"Omong-omong kamu lulusan mana?"

"SMP Lamia Scale"

"Wow! Berarti kau cukup pintar, ya"

"Ehehehe….mungkin begitu"

"Cara berjalanmu lucu"

"Te-terima kasih atas pujiannya, ehehehe…." jelas kan sindiran halusnya mengarah ke ejekan?! Natsu memperhatikan kaki kanannya iba. Kata dokter, dia harus menjalani fisioterapi selama setengah tahun, baru diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Jika tidak, maka cara berjalannya akan bengkok seperti sekarang

Kanker tidak menetap di satu ruas saja. Usai menggerogoti tulang belakangnya, penyakit mematikan itu kini menyerang bagian kaki. Sialan memang, tetapi mau dikutuk sebanyak apapun, keadaan tetaplah sama tanpa perubahan berarti. Mereka sampai di restorant Island. Duduk di bagian ujung kanan menghindari keramaian. Si pirang sebatas memesan kentang goreng ditemani segelas besar coca-cola. Natsu hanya meminta segelas kopi pahit pada pelayan. Nafsu makannya hilang entah kemana.

"Maaf. Aku tidak bermaksud mengejekmu atau apa"

"Ja-jangan dipikirkan! Kaki kananku memang pincang sejak dulu. Bukan masalah besar, kok!"

"Be…benarkah?"

"Iya. Pincang karena kecelakaan mobil delapan tahun lalu" Natsu menyembunyikan kebenaran dibalik ucapannya. Dia tidak betul-betul pincang, kalian tau itukan? Sedangkan bagi keluarga Dragneel merupakan hal lumrah, karena putra bungsu mereka mengidap kanker

"Hey. Jika misalnya kita berdua diterima, ayo berteman!"

"Ber…teman….?"

Kapan terakhir kali dia mendengarnya? SMP kelas satu? SD? TK? Natsu tidak dapat mengingat secara rinci, namun perasaan itu datang menghampiri sekali lagi. Buliran jernih siap terjun bebas dari sudut matanya. Natsu mengelapnya sambil tersenyum getir, apa dia masih pantas menanggapi permintaan tersebut? Padahal sisa usianya tak kurang dari tiga tahun?

"Te-tentu. Aku tidak sabar menunggu saat itu tiba" hatinya mana enak hati menolak. Natsu terpaksa setuju didesak keadaan sekitar. Jika suatu hari nanti mereka dekat satu sama lain, maka dia hanya perlu memutuskan hubungannya, lalu pura-pura tidak kenal agar 'sang malaikat' tidak terluka lebih dalam

"Air mukamu buruk. Mungkin sepotong kentang goreng bisa memperbaiki mood"

"Ah tidak, terima kasih. Te-tentang hal tadi….aku rasa janggal"

"Janggal darimananya?" tanya si pirang menyungging seutas senyum penuh arti

"Kita sudah berteman bukan?"

"Seratus untukmu! Aku kira kamu tidak akan menyadarinya"

"Ahahaha….kalau begitu aku pulang dulu. Maaf tidak bisa berlama-lama menemanimu"

"Berhati-hatilah di jalan! Aku tidak ingin mendapatimu kecelakaan ditabrak mobil"

"Oh ayolah, aku bukan anak kecil lagi" gumam Natsu tertawa kecil. Menutup pintu lestorant keras dan berjalan pulang menuju rumah

Terkutuklah perasaan senang itu

Aku mana berhak merasakannya

Bersambung….

Balasan review : (deg2an pas mau baca review yang hanya dua ini, tetapi terima kasih banyak)

Fic of Delusion : Memang sih rada keliatan kayak one shoot, meski pada awalnya niatku mau bikin sekali tamat, tapi gak jadi. Pasti, cerita ini pasti bakalan panjang, takutnya hiatus nanti di tengah jalan. Thx ya udah review, kamu selalu aja mampir :)

Kaoru Dragneel : Eh benarkah? Aku kira gak menarik loh karena chap 1 itu baru awal banget. Oke deh, thx ya udah review. Gimana chapter dua-nya?