Pacaran? Batin Natsu terbelalak kaget. Dengan segera ia mengemas isi tas, berjalan tertatuh-tatih meninggalkan kelas. Lucy sempat mengucapkan salam perpisahan. Namun, entah kenapa suaranya terdengar jauh, padahal jarak mereka hanya terpaut dua meter. Dia berhenti di belakang halaman sekolah. Mengatur nafas agar lebih tenang, lelah terlalu cepat mengambil langkah. Pengakuannya bagai sambaran petir bagi hati kecil pemuda itu. Kenapa sangat sakit? Padahal mereka tidak berteman, hanya orang asing yang sepintas mengenal!
"Sting-san adalah pacar Lucy. Sting-san adalah pacar Lucy. STING-SAN ADALAH PACAR LUCY!" akibat stres, Natsu terus mengulang perkataan yang sama. Rambut spike -nya di acak-acak sebagai pelampiasan. Dia sadar telah dirasuki setan, karena marah tanpa alasan jelas
"Dan Lucy adalah…adalah…."
Sebenarnya Lucy adalah siapa? Natsu beranjak bangkit. Menyampirkan tas ke atas bahu, dan kali ini benar-benar pergi. Kalau tidak salah ingat, Sting Eucliffe merupakan model terkenal di majalah Sorcerer. Dia menundukkan kepala sambil tersenyum sendu, menghalangi sinar matahari masuk menggunakan tangan. Lucy itu pacar orang terkenal, mana pantas disandangkan dengan manusia cacat? Hati kecilnya menyesal sekarang, dia bodoh terlena dalam kenyamanan. Jadi lupa diri dan derajat.
"Aku pulang!" seru Natsu membuka pintu pelan. Zeref langsung menyambut kedatangan adik bungsunya. Membawa tas punggung hitam ke lantai dua, lalu menyediakan segelas teh untuk diminum bersama
"Bagaimana hari pertamamu bersekolah?" tanya Zeref membuat Natsu menjatuhkan gelasnya. Pecah berkeping-keping mengotori lantai berwarna putih bersih
"Jangan melamun! Lain kali berhati-hatilah, ibu takut kakimu terluka karena menginjak beling" sapu berserta pengki segera disiapkan, guna membersihkan sisa kaca di sekitar kaki meja. Natsu mengangguk pelan, sama sekali belum menatap wajah kakaknya yang khawatir setengah mati setengah hidup
"Ceritakan pada kakak, Natsu."
"Apa kakak tau, seseorang bernama Sting Eucliffe?"
"Dia model terkenal di majalah remaja bernama Sorcerer. Ibu selalu membelinya seminggu sekali di toko terdekat. Kenapa kamu menanyakan hal ini?"
"Sting-san satu sekolah denganku. Tadi kami bertemu, dan Lucy berkata dia itu pacarnya."
"Temanmu hebat sekali! Kamu harus bangga bisa bertemu artis terkenal." hanya Zeref yang berbicara riang. Natsu semakin terpuruk mendengarnya, kenapa dugaan buruk justru menjadi kenyataan menyakitkan?
"Se-sepertinya, Sting-san tidak mau berteman dengan orang cacat."
"Jangan pesimis. Jika begini terus, kamu tidak akan memiliki teman selain Lucy. Natsu, tunjukkanlah bahwa dirimu sama seperti mereka. Cacat hanya satu kekurangan. Kamu mempunyai banyak kelebihan, yang tidak diketahui orang lain." nasehat Zeref benar-benar panjang dan lebar. Pucuk pink-nya sampai pegal, karena terlalu lama menghadap ke depan
Hening. Baik Natsu maupun Zeref saling terdiam, fokus memikirkan hal-hal di luar kepentingan. Ejekan Gray, tatapan intimidasi Sting, pembelaan Lucy, gosip seisi kelas, semua berputar dalam otaknya bagai rotasi rutinitas yang mustahil dihentikan, karena memang lingkaran tidak memiliki ujung. Kaki pincang itu bangkit berdiri, diseret menaiki tangga walau kesulitan. Mata sang kakak tak luput dari perjuangan adiknya, yang dipaksa bersusah payah. Padahal orang lain, bisa menaiki anak demi anak semudah membalik telapak tangan.
Apa Natsu kurang menderita, sehingga Tuhan begitu kejam padanya?
"Sebentar lagi makan siang siap. Turunlah." pinta ibunya keluar dapur sejenak. Mengelap tangan menggunakan celemek biru muda, bergambar anak burung di pojok kiri
"Aku kenyang. Kalian saja yang makan." lagi-lagi begini. Dokter Makarov pasti marah, mengetahui Natsu sulit diatur. Sesudah pukul dua belas, Zeref akan menemaninya kontrol ke rumah sakit, jaga-jaga supaya sel kanker tidak menyebar luas, lebih dari sebelumnya
"Zer. Kamu tidak mengatakan yang aneh-aneh, kan, pada Natsu?" orang tua manapun tidak ingin mencurigai anak sendiri, tetapi ibunya khawatir terjadi apa-apa. Apalagi, selama sesi bincang berlangsung, ada pertengkaran (yang dianggap begitu oleh beliau) di antara mereka
"Hanya menasehatinya. Aku ingin Natsu memiliki banyak teman. Dia harus bangkit dan melangkah maju mulai sekarang."
"Baguslah jika semua baik-baik saja. Ayo makan."
Suasana di ruang makan nampak sepi. Suara garpu terdengar beradu dengan sendok, memukul piring pelan menyebabkan sedikit kericuhan. Ikan panggang, sayur kangkung diteman sup mofu tahu, terasa hambar bagi ibu dan anak tersebut. Ayah sibuk bekerja di kantor. Tengah mengadakan rapat penting dengan perusahaan asing. Tersisa mereka berdua yang setia menemani Natsu di rumah. Dentingan jam merambat di sekitar udara, belum pula tercipta obrolan yang sekiranya dapat memecah kecanggungan.
"Aku naik dulu ke atas. Menyuapi Natsu makan bubur" pamitnya menaiki tangga, sambil membawa semangkuk bubur hangat. Ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali, terlihat tubuh lunglai itu berbaring lemas di atas ranjang. Zeref mendekat, menaruh nampan dan mencium kening sang adik
"Meski hanya sesuap kamu harus makan. Buka mulutmu."
"Tadi aku sudah bilang tidak lapar. Tolong habiskan untukku."
"Mana boleh begitu. Kakak mohon, turutilah perintah Makarov-san. Semua ini demi kebaikanmu."
"Siapa peduli?! Aku ngantuk ingin tidur. Kapan-kapan saja kita pergi ke dokter."
PLAKKK!
Tamparan telak mengenai pipi pucat Natsu. Keras dan menyakitkan, sampai meninggalkan bekas merah di permukaan kulit. Zeref menurunkan tangan menyesal, kesulitan bernafas karena tidak menyangka, akan melukai adiknya sendiri. Keberadaan Natsu memberi dampak besar, terutama ketika dia muncul ke dunia untuk pertama kali. Sejak awal pun, kesehatannya berada di bawah rata-rata anak normal. Sering sakit demam, flu atau batuk, apalagi saat musim penghujan tiba.
Dibalik kasih sayang Zeref terhadap sang adik. Dia menyimpan sisi gelap dalam sebelah dirinya. Ayah dan ibu, menaruh beribu perhatian lebih banyak untuk Natsu. Sementara sebagai kakak sulung, tuntutan yang dibebankan pada pundaknya amat besar, melampaui segala kebaikan yang pernah diterima oleh hati nan lapang itu.
Tidak cukupkah penderitaannya demi menyadarkan Natsu?
"Kak….aku minta-"
"Maafkan kakak karena menamparmu! Natsu, ketahuilah hal ini, banyak orang di luar sana, yang berjuang mati-matian demi bertahan hidup. Keluarga mereka menderita, mencari uang ke sana-kemari, pinjaman, dana bantuan. Apa semudah itu kamu menyerah? Ada harga yang harus dibayar, yaitu penderitaan mental. Namun, demi anggota keluarganya mereka terus melawan takdir. Meski suatu hari nanti kita kalah, aku tetap bersyukur karena sudah menolongmu"
"Bodoh! Seharusnya aku yang minta maaf, bukan kakak. Setelah makan, antarlah aku pergi kontrol ke dokter Makarov. Oke?"
"Baguslah jika kamu tau. Mau kakak suapi?"
"Adikmu sudah kelas satu SMA. Jelas kan harus makan sendiri?"
"Baik, baik"
Kesedihan selalu diselingi tawa, begitupun sebaliknya. Zeref menaruh mangkuk usai dihabiskan oleh Natsu, meski tersisa separuh dari bubur yang telah disediakan. Ya, ini merupakan suatu kemajuan, jadi harus disyukuri. Selesai mencuci dan ganti baju, kakak beradik itu mohon pamit kepada ibu. Mereka menaiki sepeda menuju rumah sakit Fairy Tail, yang jaraknya lumayan jauh sekitar lima ratus kilo meter. Angin berhembus kencang, membuat Natsu mengigil kedinginan walau mengenakan jaket. Ternyata kondisi fisiknya mengalami penurunan lagi.
"Tunggu di sana. Kakak akan mengambil nomor antrian." perintah Zeref sesampainya di rumah sakit. Berlari kecil ke tempat pendaftaran, lalu mengantri di paling belakang
"Uhm!"
Bau shampoo stoberi tercium, ketika seorang wanita bersurai pirang duduk di samping kiri Natsu. Dia mengenalinya dengan sangat jelas, pasti milik Lucy Heartfilia, tetapi, apa di benar-benar berada di sini sekarang?
"Selamat siang, Natsu."
"Lu-Lucy-san ternyata. Sedang apa?"
"Menemani nenekku kontrol ke dokter. Kamu sendiri?"
"Kakiku sakit akhir-akhir ini. Jadi, disuruh periksa ke rumah sakit sama ibu. Berlebihan sekali, ya, hahahaha…." tawa Natsu hambar, guna menutupi segala kesedihannya. Keadaan yang memaksa agar dia berbohong. Lucy tidak boleh mengetahui kelemahan terbesarnya
"Menurutku ibumu sangat perhatian. Sendirian saja? Tidak bersama siapapun?"
"Aku pergi bersama kakak. Itu dia, sedang berjalan kemari"
"Yo, Natsu. Lama menunggu?"
"Ti-tidak, kok. Lucy-san mengajakku mengobrol. Makanya aku tidak sadar, kakak sudah selesai antri."
"Terima kasih mau berteman dengan Natsu. Jaga dia baik-baik, ya, di sekolah" permintaan aneh macam apa itu? Sebanyak apapun mulutnya berkata sampai kering, Zeref tetap menganggap Natsu sebagai bocah berusia lima tahun. Menyebalkan sekali!
"Aku sudah besar! Bisa jaga diri baik-baik tanpa bantuan Lucy-san" bantah Natsu memainkan jari-jemari gelisah. Tersipu malu sewaktu melawan ucapan kakaknya yang terkesan meremehkan
"Natsu lucu kalau marah. Itu tandanya kakakmu juga perhatian"
"A-ah, maaf. Nomor antiranku sudah dekat. Sampai jumpa di sekolah"
Lengan ringkih Natsu menarik kakaknya menjauh dari ruang tunggu. Meninggalkan Lucy yang sesaat melambaikan tangan. Dia mengatur nafas sedemikian rupa, memasok lebih banyak oksigen untuk mengontrol detak jantungnya yang berdebar-debar sejak tadi. Zeref melepaskan pegangan, hendak menanyai sang adik atas perbuatannya yang tidak sopan. Dan lagi, kenapa harus berbohong hingga dua kali berturut-turut?
"Nomor antrianmu masih panjang! Kenapa tidak duduk saja di ruang tunggu? Lucy menemanimu di sana." tanya Zeref meminta perhatian Natsu. Sikapnya berubah total tanpa alasan jelas, membuat pemuda bersurai hitam itu cemas bukan kepalang
"Di-di situ sesak. Temani aku mengelilingi rumah sakit, ya?" pinta Natsu amat memohon. Zeref pun terpaksa menurutinya, meski sejuta pertanyaan tersimpan rapi dalam benak si sulung
Sting mendengar seluruh obrolannya dengan Lucy. Kembali, tatapan intimidasi yang Natsu benci nampak, setelah pagi ditutup suara nyaring bel pulang. Sekarang, bagaimana dia menghadapi hari esok?
Keesokan harinya….
"Cepatlah. Nanti kamu terlambat" Zeref sudah menunggu di ambang pintu. Memarkir sepeda merah kesayangannya untuk membonceng Natsu berangkat sekolah. Yang dipanggil berjalan lambat. Mengikat tali sepatu pun butuh waktu lima menit
"Tanganmu tidak lemas, kan? Bagaimana kepalamu, pusing?"
"Tidak sama sekali. Aku dalam kondisi baik sekarang"
"Ingat pesan kakak, jangan ikut pelajaran olahraga meski keadaanmu prima. Kalau bisa, mintalah pada guru olahraga supaya mengizinkanmu tinggal di kelas"
"Iya. Aku mengerti"
Pedal dikayuh secepat angin musim panas berhembus. Matahari bersinar terik, peluh membasahi pelipis Natsu yang sempat demam 38 derajat celcius. Dia memaksakan diri untuk masuk, tidak mau dikalahkan penyakit hariannya setiap kali cuaca menjadi kurang bersahabat. Zeref berhenti di depan gerbang, barulah pulang ke rumah membantu ibu membersihkan ruang tamu.
Loker tempatnya menyimpan uwabaki dibuka lebar. Natsu mendapati sepucuk surat, yang tersegel rapi bertengger di dalam sana. Bagian depan dan belakang dibalik berulang kali. Namun, dia tak kunjung menemukan nama si pengirim. Palingan hanya orang iseng, atau mungkin….?
SREKKK! (efek suara : amplop dirobek)
Jangan dekati Lucy, jika kamu tidak ingin disiksa.
Selembar kertas melayang bebas di udara. Menjatuhkan diri lembut di atas lantai marmer berwarna biru. Siapa lagi kalau bukan Sting, seseorang yang melihatnya sebelah mata. Natsu tau betul, cepat atau lambat pasti hal buruk akan terjadi. Namum, siapa sangka bakal sedini ini? Memang, dia memiliki banyak kekurangan dari segi fisik, tetapi kepekaan hatinya jauh lebih baik, dibanding manusia normal.
Surat kaleng tersebut dia buang ke tong sampah, disimpan pun tidak ada gunanya. Karena Natsu hafal di luar kepala, bunyi dari ancaman tersebut.
Jam olahraga….
"Jika badanmu lemas, mintalah seksi kesehatan untuk mengantarmu ke UKS"
"Saya mengerti, Sensei"
"Hari ini tes lari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali. Cewek dan cowok jumlahnya sama! Tunjukkan semangat laki kalian!"
Gelegar suara Elfman-sensei menyebabkan kepala Natsu diusik rasa pusing. Entah kapan pastinya, dia jadi anti terhadap teriakan manusia dan toa. Duduk di bawah sengatan sinar matahari, nyaris membuat tubuhnya tumbang, jikalau dia tidak memaksakan diri untuk membuka onyx nan letih itu. Perlahan-lahan tapi pasti, Natsu hilang kesadaran dan tatapan matanya melemah. Kini dia benar-benar pingsan, terjatuh dari bangku dengan kepala membentur tanah.
Seisi kelas mendadak heboh, meski sebagian acuh tak acuh membiarkannya dibakar matahari.
"Biar saya yang membawanya ke UKS." tawar Lucy mengajukan diri. Dia benci melihat petugas yang bermalas-malasan. Padahal Natsu butuh pertolongan secepat mungkin
"Berhati-hatilah. Itu baru LAKI!"
Lucy berlari menyusuri koridor, mengambil jalan berbelok barulah tiba di UKS. Perasaannya menyadari satu hal saat ini, Natsu tidak seperti anak lelaki pada umumnya, yang banyak makan dan suka berolahraga. Bahkan, dia hanya seberat anak SD berusia delapan tahun. Tubuh jangkuknya di tidurkan pada sprei putih khas ruang kesehatan itu. Lucy mengelus lembut, surai merah muda yang tertidur di atas bantal, terkadang memainkannya sambil tersenyum simpul. Halus sekali….
"Uhmm….!"
"Natsu, kau sudah sadar?"
"Lucy-san, bukankah hari ini ada tes lari? Kenapa kamu malah mengantarku ke UKS?"
"Aku bisa meminta susulan ke Elfman-sensei nanti."
"Maaf merepotkanmu sampai sejauh ini" ujar Natsu menundukkan kepala. Berat hati mengangkat dan melihat wajah malaikatnya yang masih menunggui
"Duduk di bangku saja kamu pingsan. Benar kata kakakmu, aku harus menjagamu" tanpa merasa canggung Lucy memeluk erat Natsu, membiarkan pucuk kepalanya terbenam menikmati kehangatan tersebut. Dia beku di tempat, gagal melepaskan diri dari Lucy
Sayangnya, aku tidak bisa menjagamu.
Malah seharusnya, kau yang menjaga dirimu sendiri.
Dekat denganku hanya membawa malapetaka.
Pergilah sebelum kau dan aku tersakiti.
Bersambung….
A/N : Karena author mau UAS, maka update cerita Fairy Tail High School dll akan ditunda sampai hari Sabtu bulan Desember nanti. Setelah itu berjalan normal lagi, karena kegiatan saya hanya kelas meeting. Sekian dan terima kasih!
Balasan review : (Jujur, kaget banget karena review-nya naik drastis)
Fic of Delusion : Suka di bagian mana-nya ya? Jujur agak bingung (padahal yang bikin itu saya, wkwkw). Thx ya udah review!
Titania Princess : Thx ya udah review. Baguslah kalau kamu suka alurnya XD
BlackHage-chan : Lucy pacaran sama Lucy? Sting maksudnya? Takdir si Natsu kan author yang tentuin, memang ya kalau dipikir-pikir kembali kasian banget dia. Mungkin selanjutnya, dia akan lebih banyak mendapat penderiataan dan belum tentu Lucy dapat menolongnya setiap saat. Thx ya udah review. Maaf lho kalau update-nya kelamaan, author pergi ke sukabumi tiga hari+banyak ulangan harian.
Yuna : Tanpa tokoh antagonis cerita emang terasa hambar banget. Ke depannya Sting bakalan ganggu Natsu dan Lucy terus, bahkan Natsu bisa disingkarkan dengan...kejam? Baguslah kalau kamu suka alurnya, aku kira terlalu lambat lho! Soal karakter Natsu yang anti mainstream itu aku kurang mengerti, karena aku menciptakannya asalkan itu menarik dan mampu menunjang cerita. Thx ya udah review.
Guest : Konflik bakalan lebih banyak di chapter ke depannya, wkwkw. Thx y udah review, meski males login saya menghargai apapun masukanmu.
Guest (Kaoru) : Di chapter satu emang kurang menarik. Entah kenapa saya payah banget soal bikin prolog. Yap, dibalik penderitaan pasti ada dukungan dari orang-orang tercinta. Saya bisa aja bikin dia benar-benar menderita, terus larut dalam keterpurukan, namun itu tidak menyampaikan pesan moral apapun. Thx ya udah mampir lagi buat baca, jujur saya kangen baca review-mu XD Okelah, terima kasih sudah mereview Shiki, juga atas dukungannya!
Yuu : Oke thx ya udah review. Berharap yang terbaik aja ya untuk mereka.
Asuna : Maaf kalau update-nya lama banget. Saya sibuk beberapa waktu terakhir, hehehe.
