Lucy diberitau, bahwa jam olahraga telah selesai. Dia pun pamit kepada Natsu, berlari meninggalkan ruang UKS menuju kelas. Natsu masih terdiam di tempat, pusingnya mendadak hilang entah kemana, setelah pelukan berdurasi singkat itu lepas, bersamaan pula dengan kehangatan yang sesaat menyelimuti. Jujur, ia amat menikmati moment tersebut, meskipun berharap malaikat pelindungnya segera pergi, demi kebaikan mereka berdua.
Bel istirahat berbunyi nyaring. Natsu melangkah keluar, untuk mengambil kotak bekalnya yang tertinggal di dalam tas. Namun, bukan bento yang terlihat saat penutupnya dibuka, melainkan kosong belompong tanpa isi sedikitpun. Iris onyx menatap sekilas Gray di pojok jendela, memasang earphone sambil menikmati pemandangan di luar sekolah. Apa dia yang melakukannya? Natsu diberitau maksud istilah conge, bahasa gaul singkatan dari anak conge, artinya tuli.
Bukankah berarti, Gray menaruh benci?
"Oh, ternyata kamu tidak menuduhku" eh, apa maksudnya? Gray berjalan mendekat, memojokkan Natsu yang kelihatan tak berdaya. Sekarang posisi mereka mirip pasangan yaoi di anime
"Mana mungkin aku melakukannya. Gray-san belum terbukti bersalah, jadi, tidak boleh asal tuduh" jawab Natsu jujur, menjauh dari kedua tangan sang pemuda, yang telah menahan sejak dua menit lalu
"Ada seseorang datang kemari. Rambutnya pirang, dan dia membuang bekalmu ke tong sampah"
Sting? Kenapa nama itu justru terlintas, pacar Lucy sekaligus model remaja terkenal? Gray tidak banyak bicara, menepuk bahu Natsu pelan dan pergi keluar kelas, sebagai tanda bahwa ia bersimpati. Bekalnya terbuang sia-sia memang masalah, namun bukan hal terpenting yang harus dirisaukan. Apa Sting Eucliffe mesti berbuat kejam, hanya karena cemburu buta? Ancaman tersebut boleh dilaporkan, tetapi perkara yang tercipta akan bertambah parah, bahkan kekerasan pun dapat dilibatkan.
"Yo Natsu. Tidak makan siang?" suara Lucy merayapi indra pendengarannya. Natsu menoleh ke sumber suara, ternyata benar-benar dia...
"Su-sudah habis, kok. Lucy-san sendiri?"
"Aku baru selesai. Sting sedang bersama teman-temannya, aku jadi bosan" pantas balik sendirian, batin Natsu memalingkan muka. Lucy sebatas menganggap kehadirannya sebagai penghibur semata. Ibarat bulan dan matahari, mereka tidak ditakdirkan bersama
"Maaf membuatmu kesal, Sayang" sapa seseorang dibalik pintu geser, mengejutkan Natsu yang masih larut dalam bawah sadar. Tatapan intimidasi Sting kembali membunuh kesadarannya, dia sengaja mengumbar keromantisan dengan Lucy, mau iri pun tidak punya hak
"Ja-jangan mencium keningku tiba-tiba, Sting bodoh!"
"Hadiah untukmu karena sabar menungguku. Kita bertemu lagi sepulang sekolah, oke?"
Setelah Sting balik ke kelas asalnya, Lucy minta maaf tidak bisa menemaninya pulang. Natsu maklum, malahan lebih baik begini, supaya jarak mereka semakin merenggang, lalu putus komunikasi. Pelajaran telah dimulai, guru matematika, Laxus-sensei membagikan soal ulangan merata, kali ini giliran pensil yang menjawab, bagaimana cara para murid menyelesaikan lima butir pertanyaan di atas lembaran kertas putih.
Pulang sekolah...
Buku dan alat tulis dibereskan secepat mungkin, menyampirkan tas ke punggung tanpa mempedulikan lambaian tangan Lucy. Kelakuannya mirip buronan dikejar massal. Dia memaksa kaki pincang itu berlari, sampai menabrak orang yang berjalan berlawanan arah. Maaf tidak cukup bagi Sting, dia menarik kerah seragam Natsu kasar, kemudian menghempaskannya hingga terjatuh membentur lantai.
"Berani mengabaikanku, manusia rendahan?"
"Bukan begitu Sting-san. Aku tidak bermaksud merebut pacarmu"
"Makanya jauhi dia! Melanggar maka Lucy menjadi taruhan!" kata demi kata Sting perjelas, guna menggambarkan kesungguhannya, amat absurd menurut Natsu
Bahkan, Sting yang menyandang status pacar Lucy, berani menyakiti belahan jiwa sendiri? Natsu mengutuk perkataan tersebut, meskipun belum mengenal lama, dia menyayanginya melebihi cinta si pirang pucat. Orang sebaik itu, mana pantas diperlakukan begitu keji?! Sesosok wanita bermarga Heartfilia benar-benar mengikatnya. Kini, bagaimana cara Natsu memutus hubungan seumur jagung ini? Padahal syarat utama adalah, hal yang baru saja ditekankan barusan,
Terluka atau 'terluka'.
Tap...tap...tap...
Seperti biasa, Zeref yang membuka pintu pertama kali. Natsu melepas sepatu malas, lunglai menjatuhkan diri ke permukaan sofa. Lagi-lagi sama dengan kemarin, jelas sang kakak khawatir, bisa gawat jika dia terlalu stress, penyakitnya mudah kambuh kalau suasana hati sedang buruk. Wajah Sting di sampul majalah terlihat mengerikan untuk sepasang onyx. Terutama ancamannya di lorong sekolah.
"Banyak pikiran? Ingat, jangan dipendam" peringat Zeref duduk menemani. Membuka isi majalah acak memperlihatkan sebuah gambar berukuran A4
"Gambarku masuk majalah sorcerer, bagaimana bagus?"
"Ya, sangat bagus...kakak pernah diancam?"
"Tidak. Pertanyaanmu melantur sekali" diam-diam Zeref menaruh curiga, pasti Sting atau siapa berbuat aneh. Ekspresi Natsu juga kacau balau, pasti terjadi sesuatu
"Sting-san mengancamku agar menjauhi Lucy-san"
"Tingkahnya semakin keterlaluan. Laporkan ke guru, kau berhak Natsu. Jangan takut ditindas, laki-laki harus kuat, apalagi ini demi Lucy, benar bukan? Kemarin malam kamu berkata, 'ingin lepas dari Lucy', tetapi itu mustahil. Ingat, kakak menyuruhnya untuk melindungimu, sedangkan motto keluarga Heartfilia 'menepati janji'"
"Jika tidak menjauhinya, Sting-san berkata akan melukai Lucy-san" bagian paling mengerikan yang menyebabkan Natsu tak mampu berkutik. Dia kesulitan mengambil keputusan, Zeref masih berpikir, menimbang-nimbang segala keputusan yang sekiranya terbaik
"Mungkin kakak bisa menolongmu. Ayo makan, bekalmu habis kan tadi?"
"U-uhm! Bentonya enak"
Beda cerita jika menyangkut hal ini, kalau dia melapor ke Zeref, bahwa Sting membuang bekalnya ke tong sampah, ibu pasti sangat sedih. Cacing bergeluyutan dalam perut Natsu, tetapi melihat lauk yang terhidang di meja makan, entah kenapa terasa begitu sedih. Itu mirip dengan santapannya untuk istirahat. Pagi tadi, dia menonton beliau memasak di dapur, padahal jarinya sedang terluka, meski sesekali meringis kesakitan, ibu tetap melakukannya sepenuh hati.
"Apa kamu bosan makan ini terus? Ibu buatkan yang lain, ya? Mau ikan goreng atau..."
"Terima kasih, Bu. Lebih dari cukup kok" jawab Natsu menarik pelan celemek sang ibu. Zeref sebatas menyungging senyum melihatnya, si bungsu jauh lebih dewasa sekarang
Selesai makan siang, mendadak lambungnya terasa sakit dan mulas. Natsu berlari memasuki kamar mandi, memuntahkan isi perut ke lubang kloset, beserta darah yang tercampur. Kondisinya menurun tanpa alasan jelas, Zeref yang panik bergegas pergi menuju rumah sakit, meminta dokter Makarov memeriksa adiknya segera. Nyawa Natsu tidak terancam bahaya, tapi kemungkinan besar kanker tulangnya kambuh. Cepat atau lambat dia harus menjalani kemoterapi.
"Bertahanlah, Natsu. Kau baru mulai, jangan sampai kalah" rasa khawatir Zeref melebihi semangatnya hidup. Kebahagiaan mereka berlangsung singkat, Tuhan bisa merengguy nyawa Natsu kapanpun, asalkan bukan sekarang maka ia lega
"Demi berjaga-jaga, Natsu harus rawat inap dua hari guna memulihkan kesehatannya"
"Adikku baru masuk sekolah, sekarang dia terpaksa tinggal di rumah sakit"
"Saya mengerti perasaanmu. Kami akan berusaha sekuat tenaga" dokter Makarov tidak dapat berjanji, pasti menyembuhkan penyakit Natsu yang terbilang kronis. Manusia boleh berencana, tapi kehendak ada di tangan Tuhan
Zeref yakin, Lucy memang malaikat pelindung Natsu. Dia hanya perlu percaya, dan biarkan semuanya berjalan.
Malam hari...
Perlahan-lahan Natsu membuka mata. Pandangannya sedikit kabur, dia sakit kepala berat dan mual hebat, ditambah bau obat bercampur dengan udara di sekitar, menyesakkan dada setiap kali tempat itu terlintas dalam kepalanya, rumah sakit. Zeref tertidur di samping, mengenggam erat tangan sang adik, seakan ia takut kehilangan. Entah apa yang dokter Makarov katakan, kakanya begitu gelisah sambil mengumamkan satu nama, Natsu
"Sudah bangun? Mau kakak belikan makanan?"
"Nanti saja. Kakak terlihat lelah, pulanglah ke rumah dan istirahat. Aku bisa jaga diri" dia mana tega menahan Zeref terlalu lama. Jika lebih cepat terbangun, pasti Natsu telah menyuruhnya balik
"Besok jangan pergi ke sekolah. Dokter memintamu rawat inap"
"Ta-tapi ada ulangan bahasa Jepang!"
"Seharian kamu pingsan, pasti belum belajar kan?"
"Aku...aku harus...harus..." Natsu kehabisan kata-kata untuk merangkai kebohongan. Alasan tersebut hanyalah karangan semata. Besok belajar seperti biasa, tanpa ulangan atau ujian praktek
"Terserah. Ingatlah, jika merasa tidak enak badan telepon pulang ke rumah. Kakak akan menjemputmu"
Syukurlah kakanya dapat mengerti. Bukan apa-apa, Natsu hanya ingin bertemu Lucy, meski dia tau hubungan mereka 'terlarang'
Keesokan harinya...
Malam berakhir cepat. Pagi menyapa umat manusia, baik yang masih tertidur maupun sudah memulai aktivitas. Natsu menginap semalaman di rumah sakit, sehingga Zeref bangun pagi-pagi mengambil seragam yang tergantung rapi di tangan lemari. Jam menunjukkan pukul 6.30, kakak-adik itu bergegas pergi, mengayuh sepeda cepat melawan hembusan angin, kemacetan jalan raya, untung dewi fortuna masih memihak kepada mereka, Natsu tiba sepuluh menit sebelum bel berbunyi.
"Selamat pagi, Natsu. Tumben datang kesiangan" sapa Lucy sesampainya Natsu di ambang pintu. Dia balas melambaikan tangan, duduk di sebelah Gray yang babak belur tanpa alasan jelas
"Kondisimu terlihat buruk. Apa ada masalah, Gray-san?"
"Pedulikan saja dirimu sendiri, dan jangan lagi mengobrol denganku!" volume suara Gray dinaikkan satu oktaf. Ibarat tersetrum listrik statis, sukses membuatnya tersentak kaget sesaat
Gray adalah orang baik, Natsu tetap percaya meski tingkah teman sebelahnya agak aneh. Pelajaran pertama dan kedua disuruh belajar sendiri, seisi kelas pun mendadak heboh membicarakan gosip yang beredar, tertutama ini menyangkutnya secara tidak langsung.
"Eh, eh, si anak cacat itu merebut pacar Sting, ya?"
"Benar. Dasar tidak tau diri, memangnya dia siapa? Kapan-kapan mesti diberi pelajaran!"
"Bisa gawat kalau tingkahnya semakin keterlaluan. Apa dia tidak diajari agar tau diri? Sudah cacat mentang-mentang ganteng. Iya, gangguan telinga, hahaha. Anak conge namanya juga"
Merebut apa? Bahkan aku tidak dapat memiliki Lucy, batin Natsu terdiam, membalas ejekan geng Lisanna pun hanya menyebabkan perselisihan. Tujuannya bersekolah untuk menghabiskan masa muda tanpa penyesalan. Dia ingin hidup dan diperlakukan normal, tetapi bagi mereka, harapan semacam itu tak pantas dipegang oleh manusia cacat. Menegaskan kalau 'kita berbeda dari kamu!'.
Apa dunia luar memang sekejam ini?
Jam istirahat...
Isi bekal Natsu lagi-lagi menghilang tak meninggalkan jejak. Tidak ada Gray di dalam kelas, niatnya mencari sang pelaku pun menguap entah kemana. Lucy muncul di saat-saat yang mungkin tepat, namun dia tau, pasti karena kesepian sehingga mencarinya. Oh ayolah, trik serupa mana mempan dipakai dua kali berturut-turut.
"Makan bersama di kantin, yuk!" ajak Lucy menarik pelan lengan Natsu, berbaik hati pula mentraktirnya semangkuk udon porsi besar
"Nanti pulang sama-sama, mau tidak?"
"Tentu! Omong-omong terima kasih, sudah mentraktirku makan" ucap Natsu canggung. Jujur, dia merasa sangat senang dibanding kelihatannya. Jika mustahil menghapus hubungan mereka, maka pilihan terbaik dengan menjaga jarak
"Jangan sungkan, kita kan teman! Ah iya, kemarin Sting mengajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Dia membelikanku boneka beruang yang besar...sekali! Warnanya mirip rambutmu, benar-benar menggemaskan"
Celotehan Lucy terus berlanjut hingga bel usai istirahat berbunyi. Natsu sebatas mendengarkan, terkadang bertanya atau pura-pura tertawa, demi temannya seorang. Andai kebahagiaan ini berlangsung lebih lama. Semoga Sting tidak serius mengatakan, hendak melukai Lucy dan ucapan sejenisnya. Apa keinginan tersebut akan dikabulkan?
Pulang sekolah...
Terpaksa Lucy mengikuti rapat terlebih dahulu, membuat Natsu mau tidak mau menunggunya di depan ruang OSIS. Jari-jemarinya menelusuri isi tas, mencari HP yang ternyata tertinggal di kelas. Seseorang terdengar bicara ketika ia hampir tiba. Malah terjadi pertengkaran antar Gray dan Sting, tapi kenapa? Sementara kata orang-orang mereka bersahabat.
"Ucapkan sekali lagi Gray, kau lebih memilih si pincang daripada aku?!"
"Silahkan jika mau komplain. Aku merasa kau hanya memanfaatkanku"
"Otakmu telah dicuci rupanya. Biar kuhajar dia sampai jera!"
"Kekuatanku tidak dipakai untuk menghajar yang lemah. Aku benci melihatmu menyakiti Natsu, padahal dia bukan musuhmu"
"BERHENTI MENYEBUT NAMANYA! Aku tak sudi, anak cacat itu dekat dengan Lucy"
"Dasar otak miring. Mereka hanya berteman, buktinya seharian Lucy membicarakan dirimu. Berkata senang menerima hadiah darimu, ingin kencan lagi kapan-kapan, mampir ke cafe atau baca buku. Natsu tidak berniat merebut pacar orang, DIA TAU DIRI!"
"DIAM KAU BRENGSEK!"
"Gray-san, Sting-san, aku mohon henti..."
BUAKK!
Tinju Sting telak mengenai wajah Natsu, dia pun terkapar di atas lantai, membuat Gray shock berserta Lucy yang baru selesai. Hidungnya banyak mengeluarkan darah, kulit yang pucat pasi terserang anemia, menambah kepanikan mereka berdua. Usai melakukan pertolongan pertama, Lucy menelpon nomor asing yang mengirim SMS padanya kemarin.
"Halo kak Zer. Cepat datang kemari, Natsu pingsan!"
Bersambung...
Bahkan, kalau ini terakhir kalinya aku membuka mata
Mungkin lebih baik begini
Supaya aku tidak dapat melihat air matamu
Supaya aku bisa pergi dengan tenang
Terima kasih atas segalanya, Lucy.
A/N : Ceritanya diketik di hp, biar cerita FTHS sama yang ini bisa update barengan. Maaf kalau banyak typo yak, maklumlah namany jg ketikan HP hahaha...selanjutnya update Aozora Kataomoi ya. Gak kerasa nih cerita author pada mau tamat :D Sayang juga meski akhirnya gak jadi barengan, wwkwkw. Author mengucapkan maaf yang sebesar2nya karena lama update, mungkin selanjutnya akan lebih dipercepat (semoga saja).
Balasan review :
BlackHage-chan : Yang bikin juga gak percaya, tiba2 bikin Lucy sama Sting pacaran (padahal di awal gak ada niat begini). Beuhh mantap deh, pasti Natsu dibikin tambah menderita kok, dan kalau untuk akhir...liat nanti aja yak, gak mau spoiler nih. Hohoho baguslah kalau begitu, thx ya udah review.
Fic of Delusion : Cieee yang kebingungan, wkwkw. Berarti secara gak langsung sifatmu ketebak ya. Thx udah review.
Yuna : Cowok udah tampil sempurna mah bosenn, sesekali cowok dong yang menderita, wkwkwk. Yep baru muncul perasaan iba, belum sampe ke perasaan cinta yang kayak Lucy ungkapkan ke Sting, berharap aja deh semoga Natsu gak kejebak friend zone. Oke deh thx udah review, maaf update kelamaan.
Kaoru Dragneel : Huhuhu kelamaan malah, cerita ini terlantar satu bulan. Thx ya ucapan semangatnya, maaf baru dibales sekarang, ehehe. Yep Sting jadi antagonis di sini, dan Natsu bakal lebih banyak menderita /percayadeh. Thx juga ya udah review, selanjutnya mungkin bakal lebih cepat update-nya.
Novia : Maaf baru update! Author sendiri suka males lanjut bikin cerita, wkwkwk. Baguslah kalau feel-nya dapet, terus baca ya. Thx udah review.
Kira : Bisa nyampe? Wah senangnya denger itu, kirain cuman cerita biasa tanpa berhasil menyampaikan feel Natsu. Oke thx ya udah review.
Li-chan N : Hmm...kalau dibilang cengeng sih enggak, anggap aja perasaan galau bercampur cemas, hehehe...cuman dibikin sedikit menderita kok, gak ada yang lain ^_^ Yap, Natsu pasti bisa tabah kok selama diberi dukungan, makanya dukung terus ya Natsu di sini. Thx udah review.
