Natsu terdiam membatu di kursinya. Dia bisa saja kabur, lari dari kenyataan yang menyakitkan, dengan cara pindah sekolah. Tetapi tindakan tersebut pasti mengecewakan Lucy, mereka baru berteman, bahkan sekarang Gray pun memihak padanya, mungkin. Ini adalah proses menuju kedewasaan sekaligus mimpi. Walau berduri sekalipun, harus dilewati dengan perjuangan. Pasti, keberhasilan mampir merayakan keberhasilannya.
Sreekk...!
Tap...tap...tap...
BUK!
"Gray-san...?" panggil Natsu tak percaya. Melihat sesosok pemuda raven duduk di belakangnya. Bukankah geng Lisanna berkata ia diskors karenanya? Kenapa sekarang bisa masuk?
"Ada perlu apa memanggilku? Jangan harap aku akan berterima kasih, bodoh!" entah bagaimana, perasaan lega justru merasuki hati kecilnya yang sempat gundah. Mendengar nada ketus Gray menandakan bahwa semua baik, ya, kira-kira begitulah
"Seharusnya aku yang berterima kasih, telah membelaku meskipun kita belum saling mengenal" ucapan Natsu tulus. Menggambarkan perasaannya yang gembira, walau diterpa badai kencang. Gray memalingkan muka. Berpura-pura sibuk membenahi buku dalam tas
"Peduli amat! Setelah ini jangan lagi dekati aku" peringat Gray serius. Melototi iris Natsu yang membulat sempurna. Katakan telinganya salah dengar atau mendadak tuli. Apapun boleh, asalkan seseorang memberitau semua itu bohong
"Tolong jangan bercanda! Ini tidak lucu!" volume suaranya semakin memancing emosi Gray. Ia kalap dan meninju pipi Natsu. Nafasnya tersengal-sengal akibat emosi yang meluap. Puluhan pasang mata tertuju ke pertengkaran mereka. Sesekali berbisik, diam sekadar merasa iba terhadap si pincang
"Memangnya juga lucu? Ketika aku diskors gara-gara kamu, hah?!"
Hening.
Perkataan tajam Gray menusuk-nusuk hati Natsu, yang sudah rapuh sejak didiagnosis terserang penyakit kanker. Berapa banyak plester untuk menutupi lukanya? Puluhan kah? Ratusan bahkan ribuan? Namun sia-sia, setiap kali terobati maka akan muncul yang baru, terus mengulang siklus serupa hingga rasanya ingin membuang semua. Kehidupan. Kasih. Cinta. Sayang, dia kurang berani melakukannya.
Masih ada ayah, ibu dan Zeref. Merekalah rekan seperjuangan, sama-sama memikul beban di kedua pundak, demi masa depan keluarga Dragneel. Serta Lucy, yang kini berdiri di sebelahnya berparas sendu.
"Keterlaluan, Gray. Bukan Natsu yang salah melainkan Sting. Aku...aku tidak menyangka kamu sangat kejam" ungkapan kekecewaan Lucy jauh dari lubuk hati terdalam. Telak menampar hatinya meninggalkan bekas di sana. Dia mengigit bibir bagian bawah, melampiaskan segals kekesalannya yang sulit dikeluarkan
"Lalu kenapa?! Berteman dengan Natsu hanya membawa masalah. Kamu pikir enak apa diskors?! Orang tuaku kecewa berat, termasuk Gildarts-sensei terutama diriku sendiri! Keptusan itu salah, aku menyesalinya!"
PLAKK...!
Kali ini betul-betul tamparan. Gray terpukul secara fisik dan jiwa. Apalagi dilakukan oleh Lucy Heartfilia, kekasih Sting sang model terkenal majalah remaja. Natsu tak bergeming sedikitpun. Sampai geng Lisanna datang, menyalip kerumunan manusia di depan mata. Ketua berdiri menghadap si pirang, kemudian balas memukulnya berbalut amarah. Sekarang kenapa? Ia lelah, ingin beristirahat memejamkan mata erat.
"Sadarlah nona Heartfilia. Kau yang salah karena menolong si cacat ini. Jika tidak, maka kejadian seperti itu mana mungkin terjadi. Lihat Natsu, kau mesti bertanggung jawab atas seluruh perbuatanmu" kesalahan Sting pun dilimpah ruahkan kepadanya. Lucy terdiam. Gray masih didera lamunan
"Ja-jangan dengarkan Lisanna! Aku tidak..."
"Asal kamu tau, Lucy melakukannya akibat terpaksa. Dia dibayar jutaan oleh seseorang, kira-kira siapa, ya?" bagus. Inilah akhir paling menyedihkan yang pernah ada. Natsu termangu, menepuk pelan bahu teman pertamanya dengan jari bergetar hebat
"Bohong! Ku mohon Natsu, ini semua salah paham!"
"Duduklah di tempatmu. Sebentar lagi pelajaran dimulai"
Usiran Natsu memang halus, namun cukup menyakitinya yang difitnah. Laxus-sensei memasuki kelas. Memulai pelajaran matematika di pagi hari. Lisanna berkata 'Lucy dibayar seseorang', apa sang kakak ialah dalang di balik pengutaraan wanita bermarga Strauss itu? Jelas sulit dimaklumi, sebegitu cemasnya, kah, sehingga berbuat sejauh pun senekat ini? Tentu kelewat batas! Lupakan soal taruhan, teedapat satu hal penting yang harus dibahas.
Jam istirahat...
Jenjang kaki Lucy terekspos bebas. Menampilkan kulit putih yang dipadu stocking hitam selutut. Dia berniat menghampiri Sting. Memergoki setiap kejahatan dibalik bayang ketidak adilan. Kasihan kak Zeref, pikirnya, berniat menyeret kebenaran justru malah berakhir tragis : ikut dipermainkan di bawah tangan kaki geng Lisanna. Ia berhenti di depan pintu kelas, menarik nafas dalam baru menyeretnya agar terbuka.
"Sting. Aku mau berbicara empat mata denganmu"
"Serius sekali. Jarang melihatmu begini" goda Sting menggelituk dagu Lucy penuh cinta, mesji ditepis kasar mengisyaratkan, 'jangan pegang-pegang aku!'. Kaki kanannya bertumpu pada bagian kiri, berlagak ala boss bersiap mendengar keluhan pegawai kantor
"Kamu, kan, yang menyuruh geng Lisanna demi menyebarkan kabar burung? Kak Zer tidak pernah menyogokku"
"Benarkah? Berpikirlah selangkah lebih maju. Kita mana tau, apa Natsu benar-benar pincang atau tidak. Siapa tau dia pura-pura, untuk menarik simpati murid di sekolah kita. Kau termakan umpannya, Sayang"
"Dan kau mau bersaksi pula, kalau tiga hari lalu Natsu melakukan perbuatan licik itu?! Sting, perasaan wanita lebih peka dibanding pria. Kebohonganmu telah terbongkar!"
"Seram! Itu cerita horror terbaik sepanjang masa! Kenapa kamu meragukan pacarmu sendiri. Lebih mencintai Natsu, huh?" skak mat. Lisan Lucy terkunci rapat. Mantera sihir 'lelaki selalu salah' tidak berkerja dengan baik. Ia kehabisan kata-kata, menelannya bulat masuk kembali dalam kerongkongan
"Tidak apa-apa. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku. Tunggulah!"
Ucapan Sting diindahkan total. Lucy berlari mendahuluinya keluar kelas. Menuju atap sekolah di lantai teratas. Natsu berada di sana, tengah menatap keindahan langit biru yang ia sukai. Pemandangan tersebut amat menyakitkan. Lebih-lebih menyaksikan, grins khas itu tertutupi oleh senyum palsu
"Bagaimana Lucy-san tau aku di sini?" tanya Natsu membelakanginya. Berulang kali menghirup dan menghembuskan udara segar di sekitar. Kini ia berdiri di sebelahnya. Menikmati desiran angin yang memainkan lembut surai pirang tersebut
"Hanya menebak, kok. Ucapan Lisanna yang tadi...apa kamu mempercayainya?" ia gelisah, harap-harap cemas menanti jawaban Natsu. Artinya sama saja dengan meragukan, tetapi Lucy mana tau perasaannya usai dicobai berkali-kali
"Tenang. Aku yakin Lucy-san memang tulus"
"Terima kasih telah mempercayaiku. Ayo masuk, jika terlambat nanti kena marah Yajima-sensei" ajak Lucy menarik lengan ringkih Natsu. Pergi meninggalkan atap sekolah dan percakapan mereka, menjadi masa lalu yang wajib dilupakan
Bermain sandiwara bukanlah keahlian Natsu. Untung terkecoh, kalau tidak maka masalah akan bertambah banyak. Sting menontoni mereka di daun pintu. Menyeringai penuh kemenangan menatapinya begitu menyedihkan. Rencana sebenarnya dimulai ketika bel pulang berbunyi. Dia berterima kasih kepada Lisanna, karena mau memberi sedikit pertolongan untuk bumbu penyedap, konflik di antara kakak-adik lima jam kemudian, pukul tiga sore nanti.
Pulang sekolah...
Orange melukis langit kota tercinta Magnolia. Natsu pulang sendirian, memaksa Lucy jalan duluan karena urusan mendadak. Keluarga bangsawan memang berbeda, dibanding rakyat jelata dalam kehidupan sehari-hari. Ibu memutar kenop menggunakan celemek putihnya. Mempersilahkan si bungsu masuk menemui kakaknya di ruang tamu, sedang menonton televisi dilengkapi AC 28 derajat celcius.
"Sudah pulang rupanya. Maaf Natsu, hari ini kakak tidak bisa menemanimu kontrol ke dokter" Zeref sibuk merapikan berkas-berkasnya. Pamit pergi menyerahkan naskah cerita, yang mencapai batas ardenaline
"Tumbenan tidak bertanya kenapa. Tunggu sebentar, ibu mau ganti baju"
Malah kabur begitu saja, pasti berniat menghindar. Dasar pengecut! Gumam Natsu masih duduk termenung di sofa, lalu tak lama kemudian ibunya turun sembari menjingjing tas kecil. Lagi pula tidak aneh jika kabur, itu menandakan ada sesuatu yang disembunyikan. Siapa yang dapat menjamin, seseorang akan mengatakan seluruh pikiran dan perasaannya terang-terangan. Mempercayai pun harus dibatasi. Waspada tetap yang nomor satu.
"Melamun terus. Memikirkan Lucy, ya?" goda sang ibu diselingi tawa. Meramaikan perjalanan mereka yang terkesan sepi. Natsu membisu di antara sadar dan bawah sadar. Menatap kosong rute di depannya berkilat kemarahan
Sementara itu Zeref...
From : Ibu
Tingkah Natsu aneh. Apa terjadi hal buruk di sekolah?
Beliau mengirim pesan singkat, mempertanyakan kekhawatirannya benar atau salah. Zeref sebatas mengetik beberapa patah kata. Langsung memasuki kantor tempat ia mengirim karya. Sesampai di lantai tujuh belas. Kembaran onyx tersebut menatapi kotak persegi panjang berwarna cokelat tua. Membuka perlahan dan menghadap meja kayu impor Rusia itu. Boss menatap remeh ke arah lawan bicara, mempersilahkan duduk di tempat yang telah disediakan.
"Jadi, ada perlu apa mencari saya? Zeref Dragneel" ini saat-saat yang menegangkan. Memang tak disangkal, ia sudah mempersiapkan diri selama perjalanan ke kantor, sekitar setengah jam jika ditempuh dengan jalan kaki
"Bukan masalah pekerjaan, melainkan perbuatan anak anda, boss"
"Memangnya Sting melakukan apa, huh?" kesan yang diberikan acuh tak acuh. Membuat Zeref merasa direndahkan derajatnya, hanya karena ia penulis free lancer. Mereka berdua memiliki kesamaan : dipandang sebelah mata saja
"Sting-san meninju adikku. Kepala sekolah tidak ingin memberi pertanggung jawaban, kalau kami sebatas menyumbang ratusan untuk dana sekolah. Itulah sebabnya..."
"Berapa yang kau butuhkan?" tangan kanan Zeref refleks memukul meja. Beginikah pola pikir orang kaya, menganggap apapun dapat diselesaikan dengan uang? Dia pikir Natsu barang apa?! Seenaknya ditukar memakai harta duniawai
"Pak. Saya tidak memerlukan uang, tetapi keadilan. Adikku banyak menderita, terutama semenjak Sting melakukan pembullyan terhadapnya. Jangan katakan Natsu pantas diperlakukan seperti itu. Kita sesama manusia, mana boleh membeda-bedakan?!"
"Dan saya tidak butuh ceramah murahan. Pergilah dari sini, jika kau masih menyayangi pekerjaanmu"
"Asalkan demi Natsu, saya tidak akan mundur sampai mendapatkan keadilan tersebut"
"Anak muda zaman sekarang nyalinya besar juga. Baiklah, sepulang kantor nanti saya pasti memarahinya" bukan mengharapkan lebih atau apa. Zeref kira hukuman tersebut tak sebanding, dengan luka sang adik yang kian bertambah banyak
"Suruh Sting minta maaf pada Natsu. Aku anggap impas"
"Maumu banyak sekali, hah?! KAU SANGKA, WAKTUKU BANYAK GUNA MENGURUSI ADIK CACATMU?! INGATLAH HAL INI, MENANTANG KELUARGA EUCLIFFE SEHARGA NYAWAMU. STING TIDAK BERSALAH. TUDUHLAH TUHAN YANG MENYEBABKAN NATSU DIGEROGOTI KANKER! KAU DIPECAT SECARA TIDAK TERHORMAT!"
"Maksudmu apa boss?! Aku tidak terima!"
"SALAH SIAPA SEHINGGA SAYA SANGAT MARAH?! CEPAT KELUAR, KELUAR!" bentak sang boss melempari barang di atas mejanya. Membuat Zeref terkejut dan terpaksa keluar, sebelum hal yang lebih buruk terjadi
PRANGGG!
Gelas kaca memukul belakang kepalanya. Mengalirkan darah segar di area kening. Menganggu indra pengelihatan sepasang manik onyx itu. Zeref berjalan sempoyongan, terkadang tersengat pusing hingga pandangan kabur, atau berhalusinasi melihat sesosok lelaki berdiri di depannya. Jam menunjukkan pukul empat. Pasti Natsu sudah selesai periksa di dokter Makarov. Ia pun memutuskan berangkat ke rumah sakit terdekat. Untunglah tidak bertemu Lucy atau kawan lama.
"Hey kepalamu kenapa?!" jelas dokter panik. Segera memberi pertolongan pertama yang sekiranya dibutuhkan. Perban putih meliliti pucuk kepala hitam tersebut. Zeref menundukkan leher, menatap lantai marmer putih berbau obat pembersih
"Lagi-lagi aku gagal menyeret keadilan. Boss...maksudnya ayah Sting justru memecatku. Dia tidak terima Sting dituduh. Malah mengutuk Tuhan atas kemalangan kami"
"Mentang-mentang kaya raya berbuat senak jidat. Percayalah, pasti Ia akan membalasnya untuk kalian" berkata begitupun tidak membuat Zeref kembali bersemangat. Air matanya tumpah. Membasahi celana berbahan hitam yang diremas erat
"Maafkan kakak, Natsu. Maaf...maaf...!"
Makarov tau betapa beratnya menanggung beban itu. Manusia terkuat sekalipun mempunyai batas kesabaran, terutama saudara kandung yang saling terikat satu sama lain. Zeref mohon pamit, walau dipaksa berbaring sebentar guna menghilangkan pening. Ia mampir membeli ubi bakar di kios pak Jet, makanan kesukaan Natsu nomor dua setelah daging. Kebetulan sang adik berada di ruang tamu, tengah menggambar di buku sketsa untuk tugas seni budaya.
"Kakak pulang! Istirahatlah dulu makan ubi. Nanti keburu dingin, lho!" bujuk Zeref berupaya menarik perhatian Natsu, yang terus fokus menorehkan garis tipis di permukaan kertas. Ini aneh, apa mulasnya kambuh lagi?
"Ehem! Natsu, kau mendengar suara kakak, bukan?"
"Omong-omong ada yang ingin kutanyakan?" Natsu menaruh peralatan gambarnya. Menoleh ke belakang mendapati Zeref yang heran. Cih, bahkan sampai sekarang masih berpura-pura bodoh! Kelihatan sekali sifat pengecutnya
"Katakan saja" firasatnya mendadak buruk. Sorot onyx Natsu mengerikan, mirip hantu gentayangan hendak menakut-nakuti mangsa
"Apa benar, kakak membayar Lucy-san agar baik padaku?"
Tercengang, ekspresi yang pertama kali Zeref tunjukkan. Mulutnya mengaga lebar, kenapa tiba-tiba Natsu menuduh sembarangan? Sting berulah lagi atau mungkin perbuatan orang lain, yang sengaja menyebarkan fitnah? Dia menggeleng cepat, memegang bahu sang adik berniat memberi penjelasan menyeluruh.
"Kata siapa Natsu? Kakak tidak mungkin melakukannya. Pasti terjadi salah paham" dengan kasar ia menyingkirkan tangan Zeref. Beranjak bangkit menepuk dada kirinya yang perih setengah mati
"Berhentilah berbohong! Kak, sikapmu terlampau keterlaluan. Mulai sekarang jangan mencemaskanku. Menjauh dariku, pergi, pergi, pergi!"
"Dengarkan kakak. Aku tidak membayar Lucy untuk berbuat baik kepadamu. Dia tulus mencurahkan cintanya!"
"Arghhh berisik!"
Kehilangan pekerjaan, lalu dibenci adik satu-satunya. Zeref merutuk kesal, membiarkan Natsu menaiki tangga dengan kaki pincang tanpa dipapah. Membeli ubi bakar pun uang pas-pasan, bagaimana mau menyogok?! Memang menggunakan daun, yang tinggal dipetik semudah membalik telapak tangan?! Tidak...masalah orang dewasa jauh lebih rumit. Bukan seperti PR sekolah yang bisa dihindari dan dibiarkan, kemudian semua berakhir bahagia.
Andai Sting tidak pernah ada...pasti hubungan mereka akan baik-baik saja.
Jika tertawa maka tertawalah.
Jika menangis maka menangislah.
Ungkapkanlah perasaanmu yang sesungguhnya. Itu hak dasar setiap individu, kita wajib memperjuangkan hal tersebut!
Setegar apapun manusia...
mereka memiliki sisi lemah yang mustahil disembunyikan selamanya.
Bersambung...
Balasan review :
Byakugou no Hime : Karena yang bikin juga baperan ahahaha. Yo salam kenal juga bang, thx lho udah mampir. Iya maksudnya wanita bersurai pirang, itu typo yang aneh banget wkwkw. Thx udah review!
BlackHage-chan : Daripada digituin mending dilaporin langsung ke polisi dan biar puas hatinya. Pastinya sad ending, udah keliatan emang dari judul sama summary. Kalo tiba2 happy ending itu bukan aku yang bikin, tapi orang laen ngebajak nih akun wkwkw (sapa juga yang mau bajak). Amin dahh, berharaplah untuk chapter yang lebih baik. Thx udah review!
Fic of Delusion : Maaf anda belum beruntung, silahkan coba lagi. Dan cerita ini belum nyampe klimaks. Thx udah review.
Yuna : Lumayan kan baca dua chap sekaligus hohoho...lupakan guru BP, biar Tuhan aja yg hukum si Sting. Oke thx udah review.
Guest : Author juga sebel kok sama kepsek-nya (padahal aku yang bikin nih fic hahaha). Oke thx udah review.
aprianor007 : Iya bener kepsek-nya emang udah disogok sama Sting wkwkwkw. Aku juga ngerasa kesian sama Natsu, seumur hidup belum pernah bikin dia menderita begini. Oke deh, maaf kalo gak bisa update kilat, karena ada fic laen yang harus diurus juga hehehe. Oke thx udah review dan baca dr chap 1~
