Jam demi jam berlalu. Makan malam selesai, dan Natsu tak kunjung menampakkan batang hidung, membuat Zeref serta orang tuanya khawatir bukan main. Dia yang salah, jika tidak bertanggung jawab, mana pantas status kakak sulung disandang? Meskipun Sting adalah sang biang keladi, tetap saja ini masalah pribadi keluarga Dragneel. Selesaikan dulu yang di dalam, baru di luar.
"Aku akan membujuk Natsu. Ibu dan ayah tunggu saja di sini" ucap Zeref hendak undur diri. Menaiki anak tangga senyap menimbulkan bunyi keriat-keriut. Mereka masih cemas, bukannya tidak percaya atau apa, tetapi ... inipun termasuk tanggung jawab mereka, hanya diserahkan pada satu orang bagaikan lari dari kenyataan
"Nak. Biarkan ibu ikut bersamamu, oke?"
"Natsu marah karena aku, bukan salah ibu maupun ayah. Tenanglah, pasti segera selesai" dia tidak berjanji atas ucapannya barusan. Mungkin bisa selesai tiga hari, seminggu, satu bulan, bahkan bertahun-tahun. Apa lagi kondisi mental Natsu nyaris hancur, ya ... dia tak sekut keliatannya tanpa kehadiran Lucy
"Kalau ada masalah lain beritau kami. Jangan memendamnya sendirian" giliran ayah angkat bicara. Wajahnya kian kusut macam benang terlilit. Zeref tak tega, setiap kali melihat mata sayu itu berkilat kesedihan
Ayah sudah berjuang menjadi tulang punggung keluarga, pergi pagi pulang malam, demi mencari sesuap nasi di tengah krisisnya ekonomi. Ibu berusaha mempertahankan rumah tangga, supaya tidak hancur walau diterpa badai sekalipun. Zeref tau betul kali ini gilirannya, dia yang mengecewakan mereka, telah menganggur dan dipecat secara tidak terhormat. Pasti susah mencari kerja untuk beberapa waktu ke depan. Meskipun begitu ... ini konsekuensi yang mesti ditanggung.
Tok ... tok ... tok ...
"Kakak masuk, ya?" tak ada respon dari si salam, yang terdiam seribu bahasa termenung di pinggir ranjang. Zeref membuka pintunya, menghampiri adik bungsu di antara kembimbangan dan kegelisahan seorang remaja
"Berhenti di sana. Jangan dekati aku" pinta Natsu setengah memaksa, membuat Zeref terpaksa menurut, daripada tempramennya naik ke puncak termometer emosi. Lima menit berlalu, keindahan langit malam mulai digantikan oleh nyanyian hujan
"Ada salah paham di antara kita. Dengarkan kakak, Lucy..."
"Lucy-san tulus mencurahkan cintanya!" dalam kepala tersebut masih hangat, logat sampai nada membentak pelan pun ditiru mentah-mentah. Zeref mengangguk cepat, mengelus surainya penuh kasih sayang, seperti yang biasa ia lakukan jika sedang marah
"Kamu tau itu. Jadi, hentikan semua ini lalu ..."
"JANGAN MENGADA-ADA! KAKAK SENGAJA MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN DIBALIK PUNGGUNGMU! Aku bukan anak kecil yang mudah ditipu!"
Kapan ... Sejak kapan ia berani membentak kakaknya sendiri? Zeref merasa terpukul, balok kayu menghantam hati itu hingga rapuh tak karuan. Ibarat musuh di medan perang, sedangkan Sting merupakan provokator utama. Kedua tangan itu mengepal, mati-matian menahan amarah berdoa diberi kesabaran. Ini tujuan si pirang pucat, menginginkan perpecahan supaya hubungan mereka hancur, dalam ajang balas dendam karena Natsu dituding merebut Lucy.
PLAKKK!
Sayang, pikiran dan tindakan saling berlawanan. Zeref tercengang, menyaksikan telapak tangannya menghantam keras pipi sang adik. Bekas merah pun pedih bersarang di sana. Buliran di ujung pelupuk nyaris terjatuh, Natsu tak bergeming sedikitpun dengan mulut mengaga lebar. Dia shock berat, mendapati 'tamparan' yang menyakitkan bukan sebagai penyemangat, melainkan pelampiasan semata. Deretan giginya mengigit bibir bagian bawah, mengalirkan darah segar bak sungai mengalir.
"Maafkan kakak Natsu. Maaf!" sekarang Zeref meraung. Berlutut di depan kaki Natsu yang bergetar hebat. Ia tidak mendapat ampun, justru pukulan serupa namun lebih keras. Diusir dengan halus, begitulah cara kalian menyebutnya
"Pergi kak ..." lengan ringkihnya mendorong lemas, mengerahkan tenaga yang masih tersisa dalam tubuh. Natsu merasa ingin jatuh, pandangan onyx itu perlahan-lahan memudar. Membedakan sadar dan alam bawah pun kesulitan
"KUBILANG PERGI DARI KAMARKU. SEKARANG JUGA!"
Pucuk hitamnya tertunduk lesu. Keluar kamar meninggalkan Natsu dengan siratan kesedihan. Justru dia yang termakan umpan, Sting memenangkan pertaruhan tersebut untuk sesaat, lagi pula takdir manusia mampu, diubah sesuai kekuatan mereka dalam menghadapi cobaan tersebut. Zeref membanting pintu kamar keras. Mengabaikan total panggilan orang tuanya yang mendadak cemas. Bagaimana tidak? Ia stres berat, butuh waktu guna memulihkan semua itu.
"Maafkan aku ayah, ibu ... Telah menyia-nyiakan harapan kalian" tidak ... sampai kapanpun pasti selalu kurang. Zeref sadar, hanya bertindak satu-satunya jalan, tetapi harus bagaimana? Apakah mungkin ... Minta bantuan?
Drrttt ... drrtt ... drrttt ...
"Halo?" Zeref asal angkat tanpa melihat nama penelpon. Meski dia yakin, pasti Lucy Heartfilia yang cemas, memikirkan keadaan Natsu mulai aneh usai pulang sekolah. Perkara itu bukankah lebih baik diceritakan?
"Halo kak Zer. Bagaimana Natsu? Aku merasa janggal ketika kami mengobrol di atap sekolah. Dia sedang tidur? SMS-ku tidak dibalas" dengarlah, padahal dia begitu mempedulikanmu, batin Zeref mengetahui perhatian Lucy yang tulus. Kata siapa mulutnya berbohong waktu itu? Ia saja terlalu bodoh untuk peka
"Y-ya. Natsu tidur sangat pulas. Besok aku sampaikan padanya"
"Syukurlah, aku pikir dia jatuh sakit karena tekanan dari Sting. Dia memang keterlaluan, pasti ku marahi! Memang kami pacaran, tapi menyakiti teman baikku tidak bisa dimaafkan"
"Terima kasih, Lucy. Aku berhutang budi" ucapan Zeref membuat wanita di sebrang sana heran. Dia merasa tidak melakukan hal heroik, sebatas menanyakan kabar Natsu, yang pasti bisa dilakukan siapapun. Entah kenapa, firasat itu kembali muncul
"Kak. Ceritakan jika terjadi sesuatu, ya?"
"Jangan khawatir. Hubungan kami baik-baik saja. Sekarang sudah malam, kakak tidur dulu"
"Semoga mimpi indah!"
Manusia apa yang membutuhkan mimpi, jika mereka tengah dilanda kesulitan? Andai kenyataan dapat dikendalikan semudah membalik telapak tangan, maka itulah asa terbesar bagi kaum miskin dan terbelakang. Zeref langsung memejamkan mata. Lelah mendustai dirinya sendiri sekaligus Lucy. Tidur pun tidak nyenyak. Kira-kira selama malam berganti fajar, selain kalender berubah tanggal, terjadi apa lagi?
Kematian ...?
Keesokan harinya ...
Langkah kaki Zeref terburu-buru, berlari menghampiri kamar Natsu yang kosong belompong. Kemarin benar-benar mimpi buruk! Ia menyaksikan adiknya meninggal dalam deraan siksa, meronta-ronta kesakitan sampai muntah darah. Tinggal kulit berbalut tulang, dengan puluhan selang yang menempel di sekujur tubuh. Terutama narasi gila itu, berbunyi "... Selain kalender berubah tanggal terjadi apa lagi? Kematian?". Ramalan tersirat yang mengerikan, pikirnya mengusap kepala. Pening bukan karuan.
"Selamat pagi, Natsu, ayah, ibu" sapa Zeref duduk manis dikursinya. Melahap telur goreng sambil tersenyum tipis, menambah porsi makannya mencapai dua piring. Jelas membuat mereka bingung, apa si sulung sedang kejatuhan durian runtuh?
"Jarang melihatmu begini. Kau punya pacar, huh?" goda ayahnya cekikikan kecil. Meneguk segelas kopi hangat, ditemani rubrik olahraga favorit beliau. Zeref tidak menjawab, bersiap mengantar Natsu berangkat ke sekolah, walau dia sempat menolak mengingat konflik kemarin
"Ayo. Nanti terlambat"
Mau tidak mau Natsu mengiyakan. Emosi kakaknya labil ia pikir, dari sedih ke senang bagaikan berjarak satu meter, sekali loncat pun sekejap menghasilkan perubahan, bahkan sempat bersenandung riang dan mengayuh sepeda sangat lambat, seakan menikmati moment ini sebagai akhir kenangan terindahnya. Anggapan gila macam apa itu? Meski mereka bermusuhan sekarang, Natsu tidak memiliki niat membenci Zeref.
"Langitnya cerah sekali. Lihat, matahari kesukaanmu bersinar terang" jari telunjuk sang kakak mengarah ke bola bermandikan sinar itu. Natsu membisu, apa memang selalu seperti ini? Amat cantik sekadar dilihat mata telanjang?
"Minggu besok ingin piknik?"
"Kakak senang mengetahui kamu sehat. Itu sudah cukup, lebih-lebih jika berhasil mewujudkan mimpimu, walaupun gagal ... sebenarnya kau berhasil. Jangan disesali, mengerti? Gunung setinggi apapun bisa ditanjaki, sepanjang tekad itu membara dalam hatimu, Natsu"
"Baiklah. Aku tunggu acara piknik kita" akhir kata yang Zeref ucapan, sebelum sepeda itu terparkir rapi di depan gerbang sekolah. Ia melambaikan tangan seperti biasa. Mengayuh pedal sepeda selembut semilir angin berhembus. Natsu tidak sadar, hati kecilnya tengah menangis di bawah penderitaan
Gerangan apa yang membuatnya bernasihat macam motivator? Itu urusan Zeref, dia acuh tak acuh malas menanggapinya. Lucy nampak mengobrol dengan Sting. Mereka bercanda diselingi tawa antar dua pihak yang silih berganti. Entah mengapa ia merasa biasa saja. Bibir membentuk garis horizontal. Berjalan menuju kursi di bagian belakang, tanpa mengindahkan Gray yang diam-diam minta dikode balik.
"Hoi Natsu! Hoii!" panggil Gray penuh penyesalan. Mengguncang bahu Natsu di tengah jam pelajaran. Semua terheran-heran memandanginya. Iris Laxus-sensei pun tak luput dari mereka, dua pemuda yang baru-baru ini akrab
"Gray Fullbuster, berhenti menganggunya atau saya hukum!" arghhh ... Sial! Gray mendengus kesal. Membiarkan Natsu lanjut menyalin catatan di papan tulis. Tertangkap basalah oleh guru killer, untung hidupnya belum kelar
"Ah maaf. Saya ada urusan, jangan berisik!"
Sekaranglah kesempatan terbaik! Gray mendatangi Natsu yang sibuk mengerjakan soal. Mengibaskan tangan di udara mencari perhatian. Tetap saja dikacangi habis-habisan, seakan patung mengajaknya mengobrol seperti di film aminasi. Menjengkelkan jelas, walau ia tau semua ini disebabkan olehnya. Sting pun bersalah, sayang bintang sekolah itu paling anti dengan kata 'minta maaf'. Mentang-mentang berkuasa kemudian berbuat seenak jidat.
Hey, korban keegoisanmu juga ada di sini!
"Tatap mataku Natsu! Kau pikir mengabaikanku bisa menyelesaikan masalah?!" suara baritonnya naik satu oktaf lebih tinggi. Membentak Natsu yang kini menoleh, ke arah sepasang dark blue Gray. Ia menghela nafas panjang, waktu begitu berharga dan terbuang sia-sia, karena sebuah tanggung jawab besar pada kedua bahu
"Bersikap kasar tidak mengubah apapun, Gray" bela Lucy angkat bicara. Gerah hati melihat tingkah si berandal amat menyebalkan. Anak buah Sting rata-rata suka bermain kekerasan, bisa gawat jika Natsu kena hantam lagi
"Berisik kau!" refleks Lucy menutup mata, terkejut akan perubahan sikap Gray yang tiba-tiba. Kelima jarinya mengepal sempurna, siap melontarkan pukulan ke wajah atau tepat di bagian pipi. Ya, jika Laxus-sensei terlambat sedetik
"Kau dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran. Sekarang keluar dan berdiri di tengah lapangan!" perintah beliau mutlak, membuat Gray tidak berkutik sedikitpun di tempat. Dia gagal total, padahal tujuannya tepat di depan mata, dekat namun sulit dijangkau
Misi itu adalah Natsu sendiri. Pemuda yang duduk di depannya, dengan senyum secerah musim panas. Sekaranh berbeda, dia lebih redup ...
Jam istirahat ...
"Yo Natsu. Mau makan bersama di kantin?" tawar Lucy sembari menenteng kotak bekalnya, meski ditolak dengan alasan, 'malas keluar kelas'. Dia pun tak terlihat menyuap nasi, hanya termenung menundukkan kepala penuh sejuta tanda tanya
"Lucy-san. Aku memiliki pertanyaan untukmu. Jawab dengan jujur, apa kakak membayarmu agar bersikap baik padaku?" shock, reaksi itu yang pertama kali Lucy tunjukkan. Bagaimana bisa, dia berpikiran buruk tentang kakaknya?
"Apa maksudmu? Kak Zer maupun aku jarang berkomunikasi. Dia bukan orang sehina pernyataanmu!" Lucy bungkam. Dia melupakan kondisi mental Natsu, main berteriak tanpa mencoba bicara baik-baik
"Ceritakanlah, Natsu. Darimana pemikiran itu muncul? Apa ulah Lisanna? Benar begitu bukan?!"
"..."
"Dia benar-benar kelewat batas. Maaf Natsu, aku tidak bisa melindingimu sesuai janji. Sting yang melakukannya, pacarku menyogok Lisanna demi memecah hubungan kalian. Kenapa ... kenapa semua kejam terhadapmu?!"
Air matanya menetes, penyesalan terbesar Lucy seumur hidup menghirup nafas di bumi. Natsu teringat sekilas peristiwa tadi pagi, Zeref pun sempat menangis, ketika pucuk kepalanga menghadap ke atas langit. Berbeda 180 derajat, kalau sang kakak menangis bahagia, maka wanita pirang itu meluapkan emosi negatifnya, secara terang-terangan yang menjadi bukti kuat : dia serius mengucapkan kesaksian tersebut.
"A-ah, maaf! Ini surat untukmu dari Gray" amplop putih tak berbubuh nama di pojok kanan, yang Natsu terima berbalut rasa penasaran. Lucy pamit ke toilet, hendak membasuh muka dengan air dingin
"Temui aku di atap sekolah nanti sore"
Tapi kenapa ...? Tanya Natsu memandang sebatas jendela. Menyaksikan Gray berteduh di bawah pohon jambu, menghindari sengatan sinar matahari yang membakar kulit. Salahnya juga sehingga Laxus-sensei angkat tangan. Sepenting apa, sih, sampai ia didesak terus-menerus? Bel masuk berbunyi, Lucy sudah selesai dan langsung duduk, bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya satu jam ke depan. Aneh, sekarang iris karamel itu terlihat lebih dingin.
Otaknya merekam banyak rentetan peristiwa, sampai dia sendiri kesulitan membuat kesimpulan.
Pulang sekolah ...
Sementara Lucy di kelas Sting ...
Pertemuan kedua manusia pirang ini telah Lucy rencanakan sejak awal istirahat. Menggeser pintu kelas Sting yang tertutup rapat, menunggu kedatangan pacarnya di dekat meja guru. Ya, dia mengirim SMS sewaktu singgah di toilet, demi merencanakan alur perbincangan mereka sesuai keinginannya. Suasana hening sejenak, matahari nyaris tenggelam yang membuat Sting buka mulut duluan.
"Cepat Sayang. Aku disuruh ayah untuk menemui tamu khusus"
"Dengarkan rekaman ini dengan seksama" balas Lucy menyodorkan hand phone, berisi file voice_001 yang menyebabkan Sting tercengang
Provokasilah Natsu, agar, dia percaya kalau Zeref disogok seseorang, yaitu Lucy!
"Kau ... HAPUS ATAU TANGGUNG AKIBATNYA. WANITA SIALAN!"
"AKU MINTA PUTUS! ANGGAPLAH LUCY KESAYANGANMU TELAH MENGHILANG! Karena apa? Karena kau berani melukai Natsu!" ya, kemungkinan ini tak dapat dihindari, Lucy berani menanggung konsekuensi tersebut. Urat kesabarannya putus sedari tadi, menghadapi sang pacar yang dibodohi seorang cowok cacat
"Candaanmu kali ini menjengkelkan! Apa kekuranganku?! NATSU ITU PINCANG. DIA MASUK SMA KARENA BELAS KASIH KEPALA SEKOLAH!"
"Setidaknya hati Natsu jauh lebih bersih dibandingkan denganmu! Aku berpuluh kali lipat lebih menghargai janji kak Zer daripada hubungan kita!"
Rela berkorban demi orang lain?! Sting sangka Lucy gila, dia harus dirawat intensif. Minta putus karena Natsu Dragneel, dan janjinya terhadap Zeref? Omong kosong!
"Kau akan balik padaku, Lucy"
Natsu di sisi lain ...
Kaki pincangnya agak kewalahan menaiki tangga. Kenapa pula harus di atap sekolah? Di halaman depan juga bisa. Gray menghadap ke arah selatan, membiarkan angin berhembus menerpa seragamnya yang kotor oleh tanah. Natsu maju beberapa langkah, terdiam menanti sebuah jawaban atau pernyataan keluar lewat lisan itu. Suasana di antara mereka begitu tegang. Tiap hirupan udara pun terasa sangat jelas melewati hidung.
"Maaf"
"To-tolong katakan lebih keras. Anginnya terlalu kencang" jujur, Natsu ketakutan setengah mati dan hidup. Apa Gray marah besar karena masalah itu? Lagi pula wajar, dia salah terlalu ikut campur. Jika dibiarkan hukuman skors tiga hari pasti hanya 'angin; belaka
"MAAFKAN AKU NATSU. BUKAN NIATKU UNTUK MENJAUHIMU ..."
Kini Gray bertekuk lutut di hadapannya, setengah membentak gagal mengekspresikan rasa bersalah. Natsu terpaku di tempat, membiarkan pemandangan itu bertahan menyentuh menit ke tiga. Sekarang apa?
Ternyata memang ….
Aku tidak pantas memiliki makhluk bernama 'teman'. Cepat atau lambat, Gray-san dan Lucy-san pasti tersakiti. Keberadaanku memang sampah di dunia ini.
Bersambung ….
Balasan review :
Fic of Delusion : Hahaha aku juga senyum2 kok pas liat si Natsu menderita banget di sini /authoryangjahat. Ya ending itu memang gak buruk kok, lebih baik Natsu meninggal daripada menderita, iya gak? Mungkin untuk selanjutnya bisa lebih tragis ... Thx udah review!
BlackHage-chan : Yep udah mulai masuk ke masalah sebenarnya, sedangkan untuk ending mungkin masih lama tamatnya. Wkwkwkw selanjutnya otak Sting akan lebih banyak berkarya daripada sekarang, oke thx udah review.
Kaoru Dragneel : #prayforZeref #prayforNatsu. Pasti terselesaikan kok salah pahamnya, percaya deh. Thx ya udah review.
aprianor007 : Dugaan yang tepat! Sting memang sengaja menyusun rencana itu agar hati Natsu dikacau balaukan, mengingat mentalnya lumayan rapuh karena sakit kanker. Oke dehh pasti dilanjut kok sampai tamat, dan update-nya emang gak bisa kilat karena ada fic lain, jadi digilir update. Thx udah review! Ikuti terus ya ceritanya~
