"Berdirilah Gray-san. Aku tidak enak hati melihatmu sembah sujud" pinta Natsu lembut, menjulurkan tangannya, untuk membantu pria bersurai raven itu beranjak. Angin menusuk dingin kulit ari mereka, pergantian musim memang selalu membawa perubahan

"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Gray tanpa basa-basi. Menyandarkan punggung di balik menjulangnya pagar kawat. Natsu mengangguk pelan, tersenyum entah itu tulus atau sekadar bersandiwara. Tentu ia menerima permintaan tersebut. Lagi pula, mana mungkin Gray begitu kejam

"Terima kasih. Aku pamit duluan"

Sikapnya tetap cuek seperti biasa. Natsu masih terdiam membisu di hadapan mentari senja. Sepasang onyx nampak intens berkilat kekaguman. Mendadak, kenangan masa lalu merasuki hatinya yang dirundung mega kelabu. Wajah Kak Zeref terngiang-ngiang, bayangan jari menunjuk sekelebat bayangan bersinar oranye terang. Mereka menyaksikan lembayung di pantai, ketika ia masih balita dengan ingatan samar-samar.

"Pulanglah ke rumah. Nanti lelaki itu menangis lagi" siapa yang Gray maksud? Natsu hanya melihatnya menaikkan tangan ke atas, melambai pelan dan masuk lagi, ke dalam saku celana. Secara tidak langsung dia mengucapkan, 'sampai jumpa'

Tas di samping pintu yang sedari tadi terlantar Natsu sampirkan ke bahu. Menuruni tangga terseok-seok akibat kaki pincangnya. Sewaktu melewati kelas, sesaat retinanya menangkap sesosok wanita bersurai pirang, tengah berdiri membelakangi papan persegi panjang, yang sedetik kemudian melontarkan senyum. Kedua kakinya mencegat agar si salam berhenti melangkah, mungkin pula berniat pulang bersama-sama.

"Gray sudah mengungkapkan penyesalannya. Aku harap kalian bertemam baik" ucap Lucy membuka percakapan pertama kali, dengan maksud semhunyi-sembunyi menarik tangan Natsu

"Ya, aku tau dia tidak pura-pura. Ku pikir Sting-san menjemputmu. Kalian agak renggang akhir-akhir ini" jelas Natsu tau, karena semua itu disebabkan olehnya. Kenapa pula, wanita berhati malaikat itu terus menempel, padahal ia berniat untuk menjauh

"Bukan lagi renggang, melainkan putus"

Berita yang benar-benar mengejutkan, membuat Natsu berhenti ketika mereka harus menyebrangi jalan. Lampu berwarna merah menyala terang, kendaraan kembali berlalu-lalang dari dua arah berlawanan. Lucy menempelkan wajahnya pada dada sang pemuda, meremas kemeja putih Natsu melampiaskan seluruh emosi. Sedih bercampur kesal, bahagia dan cemas melebur menjadi satu. Sekilas perasaannya tersampaikan, seakan belati tepat menusuk jantung.

"Ku ucapkan banyak terima kasih. Berkatmu aku sadar, Sting bukanlah cowok yang baik" terkejut, ekspresi yang Natsu tunjukkan secara spontan. Lucy melepas pelukannya, menyempilkan diri di tengah lautan manusia, hendak ke sebrang sana

"Berdamailah dengan Kak Zer. Aku tau dia melakukan yang terbaik untukmu"

Salam perpisahan berkedok nasihat, Natsu mendengarnya seksama dan bersiap melanjutkan perjalanan. Kira-kira dia sedang apa? Sibuk berkutat di depan layar laptop? Bertaruh dengan waktu demi menyelesaikan cerita pendeknya? Atau menggambar di meja belajar bermandikan peluh? Harum jagung bakar memecah lamunan yang mendera, makanan kesukaan mereka sekeluarga terutama Zeref.

"Berapa harganya?" tanya Natsu merogoh kocek uang di saku baju. Menghitung satu per satu koin bernilai sen. Kakek itu menyodorkan empat sekaligus, menyuruh dia mengambil selagi masih hangat

"Gratis, nak. Makanlah bersama keluargamu supaya terasa lebih nikmat" kebaikan kakek membuat hati Natsu luluh lantak. Ucapan Lucy terbesit sesaat, dia tidak bisa membenci kakaknya terus-menerus, padahal begitu disayang melebihi diri sendiri

"Semoga jualan kakek laku. Terima kasih"

Cuaca cerah. Matahari memancarkan sinar yang menerpa kulit hangat. Irisnya menatap bangunan nan megah di pusat perkotaan, perusahaan majalah saingan Saber Tooth yang tidak kalah terkenal, Lamia Scale. Seorang bersurai hitam baru saja keluar, berpakaian jas hitam membuat penampilannya tampak menawan. Natsu mengenal orang itu sangat baik, bau parfum papper mint yang terkesan familiar. Apa lagi... ketika dia menoleh ke belakang.

"Kakak...?" Natsu enggan mempercainya. Zeref berdiri di situ, membawa berkas berisi keterangan identitas untuk melamar pekerjaan. Apa mungkin dipecat? Sengaja mengundurkan diri karena tau, Sting adalah anak boss Saber Tooth?

"Yo Natsu. Kakak tidak menyangka kita bertemu di sini. Jangan melamun terus, ayo pulang!"

Lisannya membeku di hadapan sang kakak. Natsu ingin bertanya apa yang terjadi. Kenapa dan apa penyebab di balik semua itu. Ibu menyambut kedatangan mereka gembira, keluar sebentar meninggalkan masakan di atas panci. Wangi ikan goreng tercium jelas dari arah dapur, namun tak sedikitpun membangkitan selera makannya. Zeref mengajak nonton di ruang tamu, sambil menunggu air panas tersedia di bak mandi.

"Dulu kamu paling suka acara Spongebob. Setiap jam enam sore menontonnya meskipun diulang-ulang"

"O-oh, benarkah? Entah kenapa aku kurang ingat" jawab Natsu berusaha tampi, senormal mungkin. Menetralkan nada bicaranya yang nyaris menyiratkan kekhawatiran. Zeref mengganti channel televisi, sponge kuning bersama bintang laut sedang menangkap ubur-ubur di padang rumput

"Umurmu enam tahun saat itu. Wajar jika lupa. Besok pulang cepat, bukan? Mau temani kakak membeli peralatan piknik?" tawaran yang ingin Natsu tolak, tubuhnya terlalu lemas dua hari terakhir. Walau dia tidak tega, mendapati wajah penuh pengharapan yang Zeref tunjukkan

"Baiklah. Aku menantikannya"

Perhatian Natsu terpusat penuh pada file beramplop cokelat. Andai isinya bisa diintip sedikit saja... Teriakan ibu menginterupsi kegiatan mereka yang terpaksa ditunda. Mereka berendam santai di bak air hangat. Melepas penat selama setengah hari, melakukan aktivitas tanpa jeda sedikitpun. Zeref sadar betul sikap adiknya mendadak aneh, kemarin marah lalu mereda sangat cepat. Sekarang malah menyimpan sejuta teka-teki.

"Kak... Apa kamu...?"

"Lucy bercerita jika dia memutuskan Sting, dan Gray mendadak minta maaf. Bagaimana perasaanmu sekarang? Memiliki dua teman yang begitu baik?" pertanyaan Natsu dipotong, seakan kakanya mengetahui kelanjutan dari ucapan rumpang tersebut

"Rasanya menyenangkan. Semoga besok sebaik hari ini"

"Baguslah, setengah dari impianmu telah tercapai. Jangan pantang menyerah, oke?"

Ketahuan sekali menghindarnya. Waktu makan malam pun Zeref berkilah. Ibu bertanya, 'seharian ini kemana saja?' dan ia menjawab, 'reuni di rumah teman'. Natsu mampu membayangkan betapa lelah kakaknya mencari pekerjaan, melamar dari satu perusahaan ke perusahaan lain sampai diterima. Lagi pula, bukankah lebih baik tetap mengirim cerita ke majalah? Tapi memang, ekonomi tak bisa bohong jika mereka kekurangan uang.

Natsu juga sadar, dia tak pantas berkomentar karena semua itu salahnya. Yang benar adalah mengaku dan minta maaf, barulah pantas disebut lelaki sejati.

Keesokan harinya...

Matahari terbangun dari tidur lelap. Terbit di ufuk timur menandakan dimulainya hari baru. Pagi itu nafas Natsu sedikit tersengal-sengal, sempat menyebabkan Zeref khawatir ketika mengunjungi kamar sang adik. Ia bersikukuh memaksakan diri, sebatas mengkonsumsi obat asma dan langsung berangkat ke sekolah. Sepeda melaju lambat di pinggir jalan raya, kedua tangannya memeluk erat punggung si sulung yang tengah fokus mengendarai.

"Istirahatlah di rumah. Nanti kakak minta Lucy membawakanmu catatan" meskipun tau pasti ditolak mentah-mentah. Tetap saja Zeref tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Dokter Makarov sering memperingati, 'kondisi Natsu bisa melemah kapanpun dan mesti kemoterapi'. Apa sudah saatnya?

"Jangan... Aku tidak ingin, merepotkan Lucy-san lebih dari ini"

"Kita sudah sampai. Kakak antar ke dalam kelas, ya?" jangankan berjalan, berdiri pun amat kesulitan. Mereka menjadi pusat perhatian seluruh siswa, sepanjang Zeref mempapah tubuh Natsu yang hampir roboh

"Hubungi kakak jika kamu perlu sesuatu. Lucy, tolong jaga Natsu baik-baik"

"Uhm! Jangan cemas Kak Zer, pulanglah ke rumah. Serahkan dia padaku"

Ketika keluar kelas, Sting sempat berpapasan dengannya di koridor, menyenggol bahu Zeref kasar hingga ia hilang keseimbangan. Mereka bersitegang lewat tatapan mata, walaupun tidak lama dikarenakan bel masuk berbunyi nyaring. Di lapangan parkir khusus sepeda, badannya dihempaskan lelah menabrak dinding batu-bata. Terjatuh perlahan dalam posisi duduk memandang langit biru. Daripada pulang ke rumah, menunggu di sekolah jauh lebih baik dan efisien, agar Natsu tidak menunggu terlalu lama.

"Semoga kamu tidak kenapa-napa, Natsu"

Jam istirahat...

Suasana cukup sepi di ruang kelas, hanya ada Gray yang terlihat kalem menyalin catatan di papan tulis. Natsu baru keluar dari toilet setelah buang air kecil, menontoni mantan murid berandal lewat luar. Biasanya di jam istirahat, dia jajan atau makan di atap sekolah bersama Sting dan kawan-kawan. Kalau tidak, tidur beralaskan kedua tangan saling menyilang. Inikah yang dinamakan perubahan progesif?

"Masuk saja. Aku tidak suka diuntit, apa lagi oleh lelaki" malu-malu kucing Natsu melangkahkan kaki masuk. Duduk di kursinya yang memang bertetangga dengan Gray. Hening kembali menyelimuti, ia masih terpaku pada papan tulis hijau lumut

"Jarang melihat Gray-san mencatat di jam istirahat begini. Sudah makan?"

"Ta-tadi pagi makan roti, aku masih kenyang. Pe-perhatianmu tidak mungkin membuatku luluh. Dasar bodoh" sejak kapan Gray memiliki sisi imut? Natsu menahan agar bibirnya tidak tersenyum, justru tawanya yang duluan pecah ke permukaan

"Kamu tsundere ternyata. Ini pertama kalinya aku melihat langsung"

"Tertawalah sepuasmu! Dan berhenti mengganguku, nanti tak kunjung selesai"

Nada ketus masih terdengar pedas bagi telinga Natsu. Meskipun begitu, kesannya terhadap Gray berubah 180 derajat. Dia baik, hanya saja cara mengekspresikan emosi positif tersebut, berbeda dengan kebanyakan orang. Manusia memang pribadi yang unik, Tuhan menciptakan mereka berbeda-beda, tapi masih bisa memahami satu sama lain.

"Ini, terimalah" ucapnya menyodorkan buku catatan bersampul biru polos, membuat Natsu kebingungan atas pemberian mendadak itu. Gray mengibas tangan di udara, menyuruhnya membuka lembaran kertas di halaman terakhir

"Gambarmu bagus, Gray-san" puji Natsu menunjuk sponge kuning kesukaannya. Bahkan preman sekalipun hobby menonton kartun jam enam sore

"Bu-bukan yang itu! Maksudku ini!"

"Catatan ekonomi. Kamu hendak meminjamkannya?"

"Lebih tepatnya aku salin khusus untukmu. Aku tidak tau kenapa tanganmu terus bergetar, tetapi sulit bukan, menulis dalam keadaan seperti itu?"

"Terima kasih banyak. Aku menghargai bantuanmu"

Dan diam-diam di balik pintu, seseorang memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil. Rupanya langit memang cerah. Namun, jauh lebih indah dilihat jika mendung.

Pulang sekolah...

Semua murid sudah bubaran sejak lima menit lalu, sedangkan Natsu masih sibuk membenahi buku. Lucy pamit karena ada rapat OSIS. Gray membolos di jam pelajaran terakhir usai mengumpulkan tugas. Ya biarlah, sekarang dia ingin mengabari kakak sekaligus minta dijemput. Belum sempat mencari nomor di daftar kontak, seseorang masuk dan menggeser pintu menutup, menyebabkan sepasang onyx-nya terbelalak kaget melihat sosok itu adalah Sting sendiri.

"Selamat siang, pecundang. Kau mau pulang, ya?"

"Begitulah. Kakak mengajakku jalan-jalan sepulang sekolah. Sting-san tidak balik? Nanti orang tuamu cemas" niatnya baik menasehati Sting, sayang disambut dengan decihan beruntutan kalimat kasar

"Cih, JANGAN SOK PEDULI SIALAN! KARENAMU AKU KEHILANGAN LUCY, DAN SEKARANG GRAY MEMIHAKMU. BAYARLAH MENGGUNAKAN TUBUHMU, PENDERITAANKU YANG TIDAK BISA KAU RASAKAN!"

BUAKKK!

Tangan kanan Sting mengepal sempurna, meninju keras pipi Natsu sampai ia tersungkur di atas lantai. Beberapa temannya menggotong keluar kelas, tak lupa menginjak ponsel si salam agar Zeref tidak bisa menghubunginya. Mereka berhenti di halaman belakang sekolah, memasuki gudang bekas dan mengunci pintu rapat. Tubuh ringkihnya diikat menggunakan tali tambang, air dingin disemburkan membasahi wajah Natsu yang mulai membuka mata.

"Di-di mana ini? Kau mau apakan aku Sting-san?!" rautnya tak bisa berdusta. Sekujur badan Natsu mengucurkan keringat dingin, bergetar hebat melihat balok kayu yang dipegang si pirang pucat

"Penyiksaanmu baru dimulai sekarang, Natsu"

Sementara itu Zeref...

Sebelah kakinya dihentak gelisah, bagaimana tidak? Setengah jam berlalu dan Natsu belum memberi kabar. SMS diabaikan. Telepon pun tidak diangkat. Zeref memutuskan untuk bertindak, dibanding pasrah menunggu keajaiban bekerja. Ia mengunjungi kelas di lantai dua, tempat sang adik belajar tiap delapan sehari. Hanya ada petugas kebersihan yang menyapu lantai. Tas selempang Natsu menghilang entah kemana. Sementara pengki dipenuhi kepingan hand phone berwarna biru tua.

"Maaf, apakah kamu melihat adik saya yang bernama Natsu Dragnnel?"

"Natsu yang jalannya pincang? Tadi saya lihat dia dibawa Sting dan kawan-kawan ke UKS. Adikmu mungkin pingsan, cek saja ke sana" ucapannya tidak berhenti sampai di situ. Petugas kebersihan memicingkan mata hendak memperingati Zeref agar waspada

"Tetapi hati-hati, geng Sting terkenal suka membully anak-anak lemah. Saya takut Natsu dijadikan korban"

Lagi-lagi anak itu melibatkan Natsu! Batinnya berluap amarah, berlari menuju UKS di pojok kanan koridor. Dengan kasar Zeref menarik gorden putih satu per satu, namun tidak mendalati Natsu terbaring di salah satu ranjang. Kemungkinan terburuk justru menjadi kenyataan. Ia benar-benar heran, apa tujuan mereka sampai bertindak sejauh ini? Otaknya sulit berpikir jernih, diserang hal berbau negatif yang menyebabkan pria itu semakin geram.

"Tunggu kakak Natsu! Bertahanlah, jangan mau kalah dari Sting"

BRUKKK!

"Maaf, aku terburu-buru sehingga tidak... Lucy?! Aku pikir kamu sudah pulang"

"Kak Zer tidak bersama Natsu? Aku kira kalian sedang jalan-jalan!"

"Di-dia menghilang... Seorang petugas berkata padaku, jika Natsu bisa saja dibully oleh geng Sting. Bantu aku mencarinya, oke?"

"Ayo pergi ke gudang di halaman belakang sekolah. Aku punya firasat Natsu berada di sana" Lucy menarik cepat tangan Zeref. Mengantarnya ke tempat tujuan, yang biasa Sting gunakan untuk menghajar target. Terlebih sekarang hari Jumat, pulang lebih cepat dan rata-rata guru sibuk mengajar ekskul

Dari dalam terdengar Natsu mengerang kesakitan, disertai isak tangis tertahan dalam kerongkongan. Zeref naik pitam, sekuat tenaga menendang pintu kayu tersebut sampai terbuka lebar, menimbulkan suara bantingan yang mengagetkan mereka. Lucy berdiri mematung, menyaksikan geng Sting dihajar habis-habisan menggunakan tangan kosong. Tubuh Natsu masih terikat, kesadarannya ditelan alam bawah akibat tidak kuat menahan siksaan tersebut.

"Buka matamu Natsu. Natsu, Natsu!" seru Zeref mengguncang bahu adiknya, kemudian sengaja menaruh telapak tangan tepat di depan rongga hidung. Ia bernafas walau lemah, terluka banyak terutama di bagian wajah dan perut

"Kak, awas di belakangmu!"

BUKKKK!

Terlambat, Zeref telak terkena pukulan itu. Pandangannya agak kabur ditutupi darah, tetap memaksakan diri bangkit dan melarikan Natsu ke rumah sakit.

"Lucy, tolong hubungi ambulan segera. Keadaan Natsu kritis, dia bisa meninggal kapanpun!"

Di sini begitu gelap. Tubuhku ringan seperti kapas di udara. Tenggelam dalam lautan luka yang amat menusuk.

Tuhan tak kunjung membiarkanku pergi. Beristirahat dengan tenang, melihat bumi dari atas awan, menari bersama para malaikat di surga sana.

Penderitaanku tidak berarti apapun, selain proses kematian yang amat menyakitkan dan sangat panjang.

Biarkanlah rintik tangis yang menyudahi cerita ini.

Bersambung...

Balasan review :

aprianor007 : Hmm agak cepat ya, maaf jika begitu karena author kekurangan ide hehehe. Oke thx ya udah review, maaf lama update.

Fic of Delusion : Hip hip huraayy, ayo adakan pesta untuk pertobatan Gray :v Kesannya seperti lebih mendukung Sting dibanding Natsu, wkwkw. Thx ya udah review.

Kaoru Dragneel : Iya lama, karena update cerita ini agak bentrok dengan cerita lain, dan jujur aku bingung harus update bareng sama fic apa dan apa. Kalo salah paham terus jadi gak so sweet berdua wkwkw. Thx ya udah review.