A/N: Yo. Semoga imajinasi gua bagus sekarang. semoga wkwk. btw, kalo gua bilangnya mesti 'aku', 'gua' atau 'saya'? kalo 'saya' terlalu formal, 'aku' gaenak, 'gua' takut ga sopan. haaa udahlah biarin aja kalo gua ngomongnya berubah-ubah abaikan :v dasar anak tidak sopan :v kalo ada typo maapkan.
Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama
AU, OOC, JeanMika, Spoiler
.
.
.
"Sialan kau, mengagetkan saja." Jean mendesis ketika melihat Eren tersenyum dengan sok polos dengan peluh keringat membanjiri wajah innocentnya.
'Anak ini habis bekerja, ya.'
"Sedang apa, Jean?" Eren duduk bersandar pada pohon di sebelah Jean dan meluruskan kakinya.
"Buang air besar sambil memikirkan cara yang tepat untuk menyiksa orang yang suka datang tiba-tiba. Kau tahu, kau tidak ada bedanya dengan setan."
Senyum Eren hilang, matanya kini melirik tajam ke arah Jean tanpa menoleh ke arah nya. "Sialan kau, Jean. Aku bertanya baik-baik. Jangan memancingku."
Jean mendengus. "Tch. Tidak dipancing juga kau akan tiba-tiba mengamuk. Angry German Kid. Haha," Jean tertawa sinis, fokusnya masih terpaku pada goresan-goresan sketsa kasarnya.
Eren panas.
"Lagi pula, Eren, sebaiknya kau pergi dari sini. Ini tempatku, carilah tempat lain." Jean bergeser sedikit dari tempat duduknya, matanya masih fokus pada mahakaryanya dan merasa Eren tidak layak untuk dipandang matanya.
Eren merasa terhina. "Memangnya tempat ini milik nenekmu? Tempat ini milik desa, aku warga desa ini, jadi aku berhak untuk duduk di sini, lagi pula memangnya kalau kau sedang duduk di sini lalu ada orang tua yang ingin beristirahat di sini, kau akan mengusirnya dan mengatakan bahwa tempat ini adalah milikmu? Lalu-"
"Ah, ya sudah! Hentikan omong kosongmu, kau tidak perlu bicara panjang dan berlebihan seperti itu!"
Eren diam, namun mata hijaunya masih menatap Jean yang masih fokus menggambar dengan tajam dan-
-Melihat sketsa wajah saudaranya di kertas Jean.
Matanya melebar. "Apa-apaan kau, muka kuda! Kenapa kau menggambar Mikasa? Kau mau macam-macam dengannya?"
Jean hampir melompat dari duduknya. "ANAK SETAN! Jangan berisik! Kalau ada orang yang mendengarnya, harga diriku akan turun! Jika sampai ada orang yang mendengarnya, ku kubur kau hidup-hidup!"
"Persetan dengan harga dirimu! Aku saudaranya Mikasa, aku berhak mengetahui apa yang ingin kau lakukan dengannya! Kalau kau macam-macam dengan Mikasa, kau yang akan menempati lubang kubur ku!"
Eren dan Jean berdiri.
"Jangan ikut campur! Kau tidak ada urusannya dengan ini!" Jean menarik kerah baju Eren.
"Jelas ada! Dan lepaskan tanganmu dari bajuku!"
"Aku tidak peduli dengan baju kotormu itu."
"Sialan kau!"
Perkelahian antara dua remaja bodoh telah dimulai. Siapkan camilan.
Jean dan Eren memang sudah menjadi rival sejak tujuh tahun mereka berada di dunia. Awalnya ketika mereka bertemu di festival tahunan, Eren tidak sengaja menyenggol lengan Jean yang sedang memegang minuman kesukaannya, dan mereka berdua membuat ibu mereka malu karena saling hajar menghajar dan merusak suasana.
Namun, meskipun mereka terkadang tidak bisa disatukan seperti dua kutub magnet yang saling tolak menolak, mereka akan tetap membutuhkan satu sama lain seperti simbiosis mutualisme.
Walaupun terkadang mereka saling menendang, saling beradu omongan vulgar dan menyakitkan, mereka akan tetap menjalin hubungan sebagai seorang teman.
Jean menendang diafragma Eren dengan sempurna.
"Sakit, Jean!"
Entah kenapa Eren merasa dirinya sedang tidak beruntung, biasanya hanya dalam beberapa menit, Jean akan mengaku kalah dan pergi.
"Jean! Menjauhlah dari Mikasa!" Eren berteriak disela-sela gerakan perkelahiannya, "Jika aku melihat kau menemuinya, kau tidak akan ku ampuni!"
Jean mendadak menghentikan kakinya yang hendak menendang tulang kering Eren. Mendadak bengong menatap Eren dengan ekspresi imbisil. Eren merapikan pakaiannya sambil menautkan kedua alisnya. "Apa? Kurang jelas?"
"Apa yang kau ketahui tentang ku dan Mikasa?" Jean menyipitkan mata jahatnya.
Eren memiringkan kepalanya dan menunjuk Jean. "Aku tahu kau menyukai Mikasa." Ada jeda sejenak. Anak itu semakin tajam menatap sepasang bola mata milik Jean. "Namun meski orang tuaku setuju, dan jika Mikasa bersedia untuk menjadi pacarmu pun, aku tidak akan suka." bocah bermarga Jaeger itu menurunkan telunjuknya dan mengibaskan tangannya.
Jean merasa dimakan titan. "Omong kosong apa itu, Eren?"
Eren menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri, "Ingat omong kosong itu." Jawaban Eren memang bukan jawaban spesifik yang Jean harapkan. Tapi melihat tatapan mata si Jaeger, Jean yakin bahwa Eren tidak benar-benar serius. 'Semoga saja,' batinnya melihat Eren yang memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Jean.
"Aih sial, gambarku rusak."
.
.
.
"Gyahahaha! Banci piraaang, hahahahahaha!"
"Berisik, Connie! Kau membangunkan ayam yang sedang tidur, tuh."
"Ba-hahaha-nci pirahahaha- itu cocok, Reiner, itu luar biasa cocok, hahahaha,"
"Diam."
Connie semakin berlinangan air mata, Bertolt berusaha untuk menjaga perasaan Reiner dan menahan tawa, Marco mendengus tidak tahan.
"Ymir sialan itu mau menjauhkanku dari Christa," gumam Reiner sambil bertopang dagu. "Hei, tidak baik menghina perempuan seperti itu," bisa terdengar dari sela-sela perkataan Bertolt, anak itu masih berusaha untuk tidak tertawa. "Aku tidak peduli mau dia perempuan atau bukan, kelakuannya seperti laki-laki dan tidak mau jauh dari Christa yang seorang perempuan."
"Ada yang salah dengan Ymir, ya?" Connie yang sudah berhenti tertawa kini mencoba untuk mengendalikan diri. "Ya, aku yakin ada yang bermasalah dengannya." Reiner mengocok gelasnya. "Nyonya, airnya lagi."
"Kenapa kita seperti ini." Marco menghela napas, menatap gelasnya yang masih setengah terisi. "Jika besok kiamat, kau akan menyesal karena tidak memiliki pengalaman dan kenangan masa muda, Marco." Reiner bersandar pada kursinya.
"Kita masih terlalu muda, banci pirang."
"Gyahahahahaha!" tawa Connie yang mengagumkan menggelegar lagi di kedai itu. "Marco, kau diam-diam sialan juga ya!" Reiner memang harus mengakui, Marco yang pada dasarnya adalah anak yang pendiam, aneh, dan yang selalu menjaga cara bicaranya juga bisa bersifat manusiawi.
"Ya Tuhan, ku mohon, jangan pernah sebut 'banci pirang' lagi. Aku sakit perut," Connie mendapat kendali dirinya lagi. Lagi pula, 'banci pirang' itu tidak lucu. Selera humor anak berambut tipis itu ternyata sangat rendah.
"Reiner, kau dan Bertolt sudah berumur enam belas tahun. Tapi aku dan Connie masih empat belas tahun. Kau seharusnya tidak mengajak kami ke sini." Marco berusaha serius walau ia tahu, ia tidak sedang berkumpul dengan para peminum sungguhan seperti pak Hannes dan teman-temannya. Dan walaupun Reiner tidak meminum itu, tapi mereka sedang berkumpul di lingkungan para peminum.
"Ayolah. Kau sudah memasuki masa remajamu. Cobalah bersikap jantan sedikit, jangan lembek dan lembut seperti bokong bayi."
Connie terbahak lagi.
"Ngomong-ngomong bokong, kalian tahu? Salah satu kelemahan titan adalah dengan cara menusuk bokongnya.*"
"Kau percaya saja dengan titan," ini adalah omongan Bertolt yang kedua sejak tadi.
"Reiner, itu bisa saja menjadi kata-kata terakhirmu, lho.*" Jean muncul tiba-tiba dan menarik kursi kosong dan bergabung dengan meja mereka.
"Astaga," Bertolt bengong, sementara Reiner, Connie dan Marco menatapnya setengah kaget. "Ya Tuhan, lihat dirimu, Jean. wajahmu memar dan lecet."
Jean tersenyum simpul. "Biar laki."
"Eren, ya?" Marco melipat tangan di meja. "Setan." Jean bersandar di kursinya dan merasakan punggungnya agak sakit, mengaduh pelan. "Apa Mikasa benar-benar layak kau perjuangkan? Meski sikapnya seperti itu? Jean, ku rasa Mikasa memang bukan untukmu."
"Diam, Reiner."
Seorang pelayan menghampiri meja mereka, meletakkan gelas untuk Reiner.
"Katakan saja perasaanmu padanya. Setidaknya agar dia tahu kenapa kau melakukan semua ini untuknya, dan agar dia lebih menghargaimu."
"Mikasa bukan orang bodoh yang tidak bisa mengetahui perasaanku padanya, Marco. Aku yakin dia sudah tahu, apalagi Eren juga sudah mengetahuinya." Jean merasakan perih ketika ia mengingat perkataan Eren sebelumnya.
"Mati lah kau,"
"Terima kasih, Connie."
"Tapi bagaimana kalau Mikasa sebenarnya bodoh dan ia tidak mengetahui tentang perasaanmu? Bagaimana kalau Eren tidak memberitahunya? Lalu apa kau akan terus begini dan terus menahannya?" terima kasih atas skakmat nya, Bert.
"Kisahmu tak serumit kisahku dan Christa." Reiner menambahkan dengusan pada akhir kalimatnya. "Diam kau, banci pirang."
"Gyahahahaha!"
"Itu tidak lucu!"
"Daripada kalian terus meributkan tentang banci, lebih baik kalian membantuku agar aku bisa jadi dengan Mikasa."
TBC
A/N: Ah, gak jelas banget. masih pendek pula. belom ada romance jean mikasanya lagi. ANE BUTUH ASUPAN :v chapter 3 ada kok, don't worry be happy buat yang udah review makasih banyak yaaaa ^^ saya terhura
(*) referensi dari manga volume 2 waktu mereka lagi mau nembakin titan :v
pokonya yang udah baca, review, terimakasih sebanyak dan sebesarnya (?) (gajelas)
SF
