"Aku baru mulai, tetapi kakak menyuruhku mundur sekarang?! Maksudnya apa, lari dari Sting kemudian menghabiskan sisa hidup di rumah sakit, begitu?! Ba-bagaimana dengan Lucy-san? Gray-san? Mereka pasti kecewa berat …." isak tangis Natsu tertahan di kerongkongan, sedangkan Zeref terlihat bersikukuh mempertahankan pendapat tersebut
"Semua ini demi kebaikanmu. Di sekolah kau terus dibully oleh Sting, belum lagi teman-teman sekelas. Berhenti menutupinya, Gildarts-sensei sudah menjelaskan apa yang kamu alami di sekolah" skakmat bagi Natsu, bibir kering itu tertutup rapat. Ia kehabisan kata-kata sekarang
"Kumohon berikan aku satu kesempatan …. jika berhenti berjuang itulah kematianku yang sebenarnya. Lagi pula kita masih memiliki acara piknik, kakak tidak lupa bukan?"
"Ma-mana mungkin! Oh iya, kakak ingin pulang ke rumah membawakan pakaianmu, tunggu sebentar oke?"
Lagi-lagi ditinggal sendirian, padahal mereka belum banyak bicara. Zeref menundukkan kepalanya sendu, kalau dokter Makarov tidak memberitaunya sandiwara itu pasti terbongkar habis-habisan. Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, Lucy hanya terdiam sambil memperhatikan air muka sang kakak, pucat pasi akibat lelah menghadapi kenyataan. Andai waktu bisa diulang, Natsu tidak akan dia biarkan bersekolah di SMA Fairy Tail, bertemu Sting dan dibully bekerterusan,
tetapi …. mana mungkin ia menemukan malaikat pelindungnya.
"Kalian terlambat setengah jam. Duduklah, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan" perintah pak polisi mempersilahkan mereka bersaksi. Namun belum lima menit berlalu, Zeref sudah membuat keributan dengan emosinya
"Anda wajib memenjarakan Sting. Dia menyebabkan Lucy hamil, bahkan adikku hampir buta! Junjunglah tinggi keadilan, sebagai korban saya tidak bisa menerima perlakuannya!"
"Tenanglah, Tuan Zeref. Sting-san dijatuhi hukuman sesuai keputusan hakim, kami sebatas menyelidiki kasus dan mengumpulkan informasi" tentu dia tidak terima. Atas dasar apa, perkataan tersebut dilontarkan oleh aparat penegak hukum?!
"TETAP SAJA AKU TIDAK TERIMA! APAPUN YANG TERJADI IA HARUS DIPENJARA SEUMUR HIDUP, DIHUKUM MATI PUN BAKAN MASALAH!"
"Kami akan menginterogasi kalian besok. Nona Lucy, tolong bawa Tuan Zeref dan tenangkan dia, oke? Datanglah jam dua siang"
Yang Zeref ucapkan adalah kebenaran, tetapi kenapa polisi memandang sebelah mata? Bahkan secara tak langsung mengatainya gila! Lucy memandang sepasang manik onyx itu berkilat sedih, sirat frustasinya terlukis jelas, meski ia memaksakan diri tersenyum menutup-nutupi segala kelemahan tersebut, terutama di depan Natsu yang bertambah rapuh. Mereka berpisah di perempatan jalan, berjanji akan berjumpa lagi besok di kantor polisi.
Tinggal caranya menghadapi segala cobaan.
Tok … tok … tok ….
"Kamu lama sekali baru pulang! Di mana Natsu? Bukankah kalian rencananya piknik bersama?" tanya ibu memberondong sambil mempersiapkan makan malam. Menambah pemikiran Zeref yang nyaris dia lupakan untuk mengurangi luka
"A-ah … itu …. ibu ingin aku berkata-kata manis atau jujur? Pilihlah salah satu" mulutnya kian kaku bukan kepalang, membuat beliau mengernyitkan dahi mendengar Zeref agak melantur. Sang ayah pun ikut memasang telinga karena mendapat firasat buruk
"Katakan dengan jujur. Kita satu keluarga, jangan menyimpannya sendirian"
"Dokter Makarov berpesan, Natsu harus tinggal di rumah sakit lalu menjalani kemoterapi. Matanya juga kemungkinan besar karena terbentur tembok. Ta-tapi ibu dan ayah tenang saja, dia pasti berhasil. Bertahan tujuh belas tahun tidaklah mudah, a-aku yakin …."
"Kau belum menceritakan semuanya, Zeref" giliran kepala keluarga yang angkat bicara. Memperhatikan gerak-gerik si anak sulung sangat aneh melebihi keseharian. Ibu pun beranggapan sama, dalih barusan tak lebih dari kebohongan semata
"Sewaktu-waktu aku bisa melupakan kalian termasuk Natsu. Jangan beritau dia maupun Lucy"
Air mata hampir lolos dari irisnya yang mengerjap. Ayah dan ibu shock berat, setelah Tuhan memberi kesengasaraan pada Natsu, Zeref pun diseret ke dalam lubang serupa? Memang melelahkan, lagi pula manusia tidak mempunyai hati sekuat baja, dibakar sedikit saja terkadang langsung meleleh. Hari esok sulit dibayangkan akan menjadi seperti apa. Dia hanya berharap wajah Sting segera dimusnahkan, sehingga perkara mereka terselesaikan sekaligus.
Drttt … drttt … drttt ….
"Halo kak Zer. A-aku ingin bertanya, semoga kamu tidak tersinggung" pasti sangat mendesak sampai Lucy menelpon berangkai nada panik. Berdoalah semoga Sting berhenti disangkutpautkan
"Tanyakan saja. Memang ada apa?"
"Tadi di kantor polisi, kakak berkata Natsu hampir buta. Saat aku bertanya ke dokter Makarov, kemungkinannya delapan puluh persen. Ta-tapi itu bohong, kan?
"Benar, cepat atau lambat Natsu pasti buta. Begitulah kenyataannya, meski aku meminta donor mata sekalipun mustahil dilakukan"
"Dan semua itu gara-gara Sting?! Kita akan menggiringnya ke penjara, kak Zer tenang saja! Meskipun seluruh dunia memusuhimu, aku pasti berada dipihakmu!" dukungan terbaik untuk menaikkan semangatnya yang sempat turun ke titik nol
Selain tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Zeref bisa apa? Dia kehilangan minat memutarbalik waktu, mengenal Lucy adalah keberuntungan terbaik adiknya, walau bencana tentulah selalu mengintai di balik bayang. Mereka memutus obrolan di menit kedua, menilik langit melukiskan kelamnya hitam bertabur jutaan bintang. Natsu pasti memandang sebatas jendela, kemudian memanjatkan doa jikalau ada cahaya kecil jatuh menghampiri bumi.
Namun …. sinar itu akan segera hilang secepat mungkin.
"Aku tidak ingin membiarkannya terjadi. Jangan khawatir, kakak pasti mengembalikan milikmu yang telah dicuri dari Sting!"
Kali ini Zeref bersumpah, tidak membiarkan kedua kakinya jatuh ke lubang serupa, yakni kegagalan itu sendiri.
Keesokan harinya ….
Pagi menyapa diiringi kicauan burung. Zeref yang bersiap pagi-pagi sekali hendak menjenguk Natsu di rumah sakit. Kemoterapi dilaksanakan besok pukul sepuluh, kalau keadaannya memburuk maka terpaksa ditunda dan berarti, menambah waktu menginap lelaki malang itu di lembaga kesehatan tersebut. Selewat ia bertemu Lucy di depan rumah, mengenakan seragam seperti biasa pun mengukir seulas senyum tipis, entah apa maksudnya.
"Selamat pagi, kak Zer! Pulang sekolah aku akan membesuk Natsu, beritaukan padanya ya?"
"Tentu. Natsu pasti senang dengan kehadiranmu, ji-jika tidak merepotkan …. tolong berikan salinan catatan pelajaran hari ini dan kemarin, bisa?" Zeref mana enak hati terus menyusahkan Lucy, bahkan karena kesalahannya dia harus menanggung beban kehidupan dalam perut
"Uhm! Aku duluan"
"Lucy, kakak mohon jangan menutupinya lebih lama. Kau pasti terluka, bukan? Biar aku yang bertanggung jawab, semua ini salahku meninggalkanmu di gudang sehingga Sting dapat berbuat macam-macam"
"Ditolak, kak Zer. Sting yang akan melakukannya, aku sudah memberitau ayah dan ibu mengenai kejadian kemarin" terdengar nekat memang, namun disembunyikan pun pasti ketahuan cepat atau lambat
"Lalu bagaimana reaksi mereka?"
"Jelas, kan, marah besar. Ayah merasa bersalah telah merestui hubungan kami, karena Sting keluarga bangsawan seperti Heartfilia …. mereka tidak mampu menerka kemungkinan buruk ini"
"Baiklah, lakukanlah apa yang menurutmu terbaik"
Perjalanan menuju sekolah berlangsung sepi baginya. Tidak ada Natsu yang biasa duduk dekat jendela, atau ucapan terima kasih jika ia dipinjamkan catatan oleh Gray. Lucy menggeser pintu kelas lesu, menangkap sesosok pria surai pirang pucat dikerumuni sekumpulan anggota majalah dinding. Ini mimpi paling terburuk sepanjang masa, padahal dia yakin Gildarts-sensei menjatuhi hukuman skors seminggu, tetapi …. KENAPA BAJINGAN TENGIK ITU ADA BERSAMA MEREKA?!
"Apa kabar Lucy Heartfilia kekasihku? Kamu pasti kaget melihatku masuk sekolah hahaha …." tawanya puas membuat urat kemarahan melekat di pelipis. Terlebih, tanpa rasa malu dia menaikkan volume suara
"BERISIK STING! Gildarts-sensei mengskorsmu selama satu minggu, bagaimana bisa kau berada di sini?!" mata dan telinganya tidak salah lihat maupun dengar. Lucy hanya tak paham kenapa ketidakadilan terjadi lagi
"Hah …. aku tidak salah dengar? Pak tua berani menghukumku?! Lelucon yang bagus sayang! Kau benar-benar pelawak terbaik sejagat raya"
"Kasus kejahatanmu banyak! Tertangkap basah menyiksa Natsu, mengambil bola mata kak Zer bahkan memperkosaku di gudang! Aku yang akan menghukummu jika begitu!" sial, aku keceplosan! Batin Lucy masih mengangkat tangan tinggi-tinggi, berniat menampar Sting dengan segenap kekuatannya
SREKKK!
PLAKKKK!
Justru sebaliknya, Lisanna yang menampar pipi Lucy duluan. Seisi kelas heboh bukan main, mendengar kesaksian si pirang bertolak belakang dengan dusta manis Sting. Sekarang ia terpojok, semua sudah dicuci otak oleh cowok tengik tersebut, tidak ada seorang pun berdiri atau memihak kepadanya. Gosip beredar secepat angin sore berhembus, tinggal menunggu jam istirahat tiba sampai berita ini tersebar ke saentro sekolah.
"Gawat! Aku membuat kesalahan dan memberikan kemenangan cuma-cuma untuk Sting. Kekalahanku telak … maaf kak Zer, Natsu …."
"Ayo balik ke tempat duduk masing-masing. Kalian mau dimarahi Laxus-sensei, hah?! Geng Lisanna juga, jangan menyebabkan perkara!" suara bartion menginterupsi kegaduhan mulut-mulut nakal. Gray datang dan menghentikan mereka semudah membalik telapak tangan. Meski ia terpaksa mengarang kebohongan
"Gray ….?" Lucy memanggil lirih dengan tenaga tersisa. Ia kesulitan berkata-kata, mengucapkan terima kasih atas pertolongannya atau tersenyum, benar-benar rapuh seperti kayu lapuk terkena siraman 'air'
"Aku mendengar pembicaraan kalian sejak sepuluh menit lalu. Tenang saja, aku berada di pihakmu, Natsu dan kak Zeref. Lagi pula tidak heran, manusia sekejinya bisa melakukan perbuatan biadab tersebut"
"Benarkah …? Ku pikir asalkan itu Gray maka tidaklah mustahil. Terima … kasih … hiks … hiks … hiks …."
PUK!
"Ja-jangan membuatku terlihat lemah, bodoh" telapak tangannya mengelus sayang helaian rambut Lucy, guna meredam tangis yang semakin menjadi-jadi, di antara bahagia dan haru mendapatkan sebuah kepercayaan
"Jam istirahat pertama ikut aku ke atap sekolah"
Laxus-sensei tiba sedikit terlambat di kelas, dan tak lama lagi Gray pasti dimintai penjelasan. Memang siapa yang bilang ada berbohong demi kebaikan?
Istirahat pertama ….
Bel berdering sebanyak tiga kali, secepat kilat Lucy menarik lengan Gray menuju atap sekolah, berusaha menghindari gosip para murid semakin merajalela. Mereka terdiam sejenak memandang hamparan langit biru, sambil memakan bekal masing-masing dalam suasana sunyi, sampai suaranya menganggu acara makan yang berlangsung khidmat. Sepasang iris dark blue itu terbelakak kaget, mendengar ucapan wanita bermarga Heartfilia di luar perkiraan.
"Kau serius ingin mengungkapkannya kepada Natsu?!"
"Tidak mungkin aku bermain-main di saat genting. Gray percayalah padaku, ini adalah keputusan terbaik. Asal kamu tau, harapannya hidupnya tidak lagi lama"
"Memang Natsu sakit apa? Bukankah dia hanya pincang?"
"Lebih parah dari dugaanku. Natsu terserang kanker tulang sejak dia masih kecil, dan kemungkinan besarnya buta gara-gara ulah Sting kemarin!" sulit mempercayainya. Gray memalingkan muka sesaat dari netra karamel Lucy yang memancarkan serius
"Arghhh …. dasar bodoh! Aku banyak melakukan hal buruk, dan sebentar lagi dia meninggalkan kita berdua. Tetapi tindakanmu terlalu nekat, kalau mental Natsu bertambah rapuh bagaimana?!"
"Biar aku yang bertanggung jawab. Sekarang terserah kamu, ingin melakukan apa demi kebaikan Natsu"
Obrolan mereka dihentikan bunyi bel yang nyaring. Lucy berjalan pelan menuruni tangga, diikuti Gray dengan berbagai pemikiran mencerna kebulatan tekad wanita itu. Dia berani mengambil keputusan, walau sempat berselisih paham hati nuraninya tau mana yang terbaik untuk Natsu. Pasti ada cara lain! Kita bisa ke negara sebrang menaiki pesawat, kereta api atau mengayuh sepeda, kenapa harus mengikuti kepercayaannya yang tidak diyakini si raven?
Pulang sekolah ….
Sesuai rencana, Lucy menyuruh Gray membesuk belakangan agar memberinya waktu untuk 'mengungkapkan' semua itu. Kebetulan Zeref pergi entah kemana, dokter Makarov sibuk, ayah dan ibu Natsu sedang membeli beberapa keperluan di toserba. Perjuangan dimulai, ketika papan persegi panjang ini ia ketuk sebanyak tiga kali.
TOK … TOK … TOK ….
CKLEK!
"Yo, Natsu. Kau terlihat sehat, bagaimana perasaanmu sekarang?" Lucy menududuki kursi di samping ranjang. Pertama-tama basa-basi terlebih dahulu sebelum menyungging topik sesungguhnya
"Ah ya …. aku baik kok. Terima kasih telah menanyakannya, Lucy-san" balas Natsu sambil menggaruk belakang kepala malu. Gestur yang baru pertama kali ia lihat sejak mereka berkenalan di awal tahun pelajaran
"Aneh, senyummu cerah sekali …."
"Karena kamu datang dan mengubah segalanya. Lucy-san, maukah kau mendengar kesaksian terakhirku?" DEG! Degub jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Ia kehabisan akal menanggapi situasi yang tiba-tiba menegang
"Pasti! Aku pasti mencintaimu sampai menutup mata. Walau terpisahkan, jiwa dan raga kita tetaplah satu. Kamu heran bukan mendengarnya? E-entah kenapa …. seseorang berbisik padaku untuk mengungkapkan perasaan tersebut. Namun tolaklah, Lucy-san hanya terlukai kalau membalasnya"
HUG!
"Bodoh! Aku tidak akan melakukannya sebanyak apapun kau suruh! Tepati kaulmu Natsu. Jangan memberi harapan palsu kepada wanita yang selalu mendambakan pernyataan ini!"
Tuhan tidak memihak Lucy sedikitpun. Natsu menjungkirbalikkan situasi yang awalnya mendukung penuh rencana tersebut.
Sementara Zeref ….
"Kakak pasti menjaga, agar cahaya itu tetap menyertaimu Natsu"
Di depan pagar mansion Eucliffe, Zeref memulai perjuangan dari titik nol.
"Setengah tahun sebelum ajal menjemputmu"
Apakah takdir berkehendak lain atau mereka yang mengubah keputusan Tuhan?
Bersambung ….
Balasan review :
Fic of Delusion : Dan terus tertawalah karena masih panjang dan banyak kejutan lainnya. Oke thx udah review.
aprianoor007 : Kemana aja nih? Kangen liat review-nya, hahaha. Dan sayangnya Sting kagak jadi masuk sel gegara nyogok, thx ya udah review.
