Suara seraknya berusaha ditekan dalam-dalam. Cukup keras hingga terdengar ke luar dan berhasil, mengundang atensi lain untuk memeriksa masuk. Pucuk hitam sang kakak menyembul di luar pintu. Sting yang berdiri di samping alat infus menyingkir, melihat Zeref bertingkah agresif dengan sirat-sirat khawatir nan memuakkan. Padahal hanya orang rendahan, tapi bermulut besar, batinnya mendengus kesal.

"Hentikan drama murahan ini. Tinggal biarkan adikmu mati apa sulit?" tanya Sting acuh tak acuh. Membelakangi dua saudara Dragneel yang lagi-lagi memancing emosi Zeref. Jelas dia salah besar atas peenyataan tersebut!

"Memang kau mengerti apa, bocah ingusan? Keluarlah, aku tidak ingin bertengkar di rumah sakit" sebisa mungkin ia memperpanjang bataa kesabarannya. Syukur, Sting tau diri dan beranjak pergi

"Ceritakan Natsu. Kau diapakan olehnya?!"

"Sting-san berkata, mata kakak hilang karenaku. Se-sebentar lagi juga aku buta ... se-setidaknya kita harus keluar berpiknik a-atau berfoto! Pasti menyenangkan" sosok ini ... apa lagi kalau bukan jiwa yang rapuh? Natsu tersenyum tapi menangis. Zeref kehabisan kata-kata

"Dengarkan kakak, kamu ..."

"Sa-salah ya? Seharusnya aku minta maaf! Kakak mau mengasihani? Mengejek? Menertawakan? Lakukanlah ... lagi pula ... SELAIN SAMPAH APA ARTI KEBERADAANKU DI SINI?!"

PLAKKK!

Tamparan kedua kali, Zeref yang hendak menenangkan justru memperkeruh suasana. Ia sadar betul. Memahami Natsu dengan setengah harapan hidup. Tau kebencian Sting terhadap adiknya. Persahabatan mereka bertiga ... Tuhan berbaik hati memberikan semua itu! Lantas jika menderita, kita mesti meratapi nasib? Menghujat? Tidak! Benar kata 'seorang yang lain', hidup ada demi diperjuangkan.

"Inilah realita. Lihat sisi positifnya, kau punya Lucy, bahkan Gray berbalik mendukungmu sekarang. Ayah, ibu, aku, dokter Makarov, kami berharga bukan? Malam nanti ucapkan terima kasih pada Tuhan, meski usiamu hampir tutup telah diperbolehkan menyaksikan gejolak kehidupan"

"Kau adalah pria dewasa, Natsu. Kakak mengakuinya"

"Walau aku sering menangis dan mengeluh?" sepasang onyx mengerjap pelan. Zeref sebatas mengangguk sambil mendekatkan mulutnya, membisikkan sesuatu yang menghempas hati Natsu ke awan putih di atas langit

"Besok seseorang akan mendonorkan matanya. Siapapun dia jaga pemberian terakhir itu, oke?"

"Sampaikan rasa terima kasih terbesarku"

Duka di antara mereka menghilang sejenak. Natsu merutuki kebodohannya yang kurang pandai bersyukur. Zeref pamit pulang, sebelum dokter Makarov mencegah di tengah lorong. Pemuda dan pria baya itu duduk menikmati secangkir kopi, bermandikan hembusan AC dan rasa penasaran di benak masing-masing. Memang benar beliau menyetujui keinginan naif tersebut, tapi tidak sesuai perjanjian.

"Saya ingat menyuruhmu, memberitaukan kepada Natsu kaulah pendonornya" dalam aturan kedokteran tidak diwajibkan. Namun disengaja Makarov, supaya anak malang itu tidak menyimpan pikiran lain untuk dipendam

"Kumohon rahasiakanlah. Jika Natsu tau dia pasti bersikukuh menolak. Apapun boleh asal jangan pengelihatannya ..."

"Dasar keras kepala. Pulang dan beristirahatlah, anggap saya berbelas kasih"

Lucy juga mengetahui rencana Zeref, terkecuali pengakuan yang sengaja dirahasiakan. Terlebih kehadiran Sting membawa banyak masalah. Wanita pirang itu membuka riwayat SMS mereka, berlinang air mata scroll bar diturunkan terutama melihat pesan terakhir, '... mendekati Natsu dia mati'. Sial! Nomor polisi menjadi tidak berguna di saat-saat penting. Jude Heartfilia sekalipun tak berkutik di hadapan hukum.

"Maafkan ayah Lucy ..."

"Terbalik, seharusnya aku yang minta maaf, karena ulahku kalian pusing, sedangkan Natsu terpaksa menderita di luar sana"

Drttt ... drttt ...

From : Gray

Besok datanglah ke rumah sakit jam 12 siang. Kau paling tau Natsu akan melakukan donor mata. Menemaninya tidak buruk kan?

Sejak kapan Gray si berandal berhati malaikat? Setelah ini Gildarts-sensei pasti melantukan beribu terima kasih. Lucy membalas seala kadar, pikirannya terbagi tak menentu ke segala arah, namun yang dominan ialah menyangkut kelanjutan hubungan mereka. Bukan dia terlalu takut mempercayai pria salam, melainkan khawatir dengan bermacam-macam konsekuensi. Terburuk di antara terburknya, Sting minta balikan.

From : Pengkhianat

Sudah dipikirkan? Cepat jawab, aku mau bertanggung jawab lho. Tau sekalipun Natsu tak mungkin bisa menyanggupinya. Orang dijemput ajal hanya tau berbaring dan memohon, hahaha ...

To : Pengkhianat

Berhentilah menjelekkan Natsu! Berikan aku dua hari lagi, boleh?

From : Pengkhianat

Hnn ... baiklah. Apa yang tidak untukmu, sayang~

Benar, selain mengulur waktu pilihan Lucy sangat terbatas. Mengingat ia sendiri dijebak ke permainan keluarga Eucliffe.

Keesokan harinya ...

Sesuai perjanjian, Lucy datang ke rumah sakit demi merestui Natsu, entah kenapa Gray terlihat semangat dibanding kelihatannya. Ranjang beroda ditarik depan-belakang oleh suster, mereka mengikuti hingga ke ruang operasi sambil memanjat doa, supaya berjalan sukses dan tidak gagal. Terselip sedikit keanehan di situ, iris karamel yang biasanya tersenyum mendadak sendu. Ya ... agak sulit dijelaskan, sih.

"Jangan takut Lucy-san. Aku mempercayai dokter dan suster, kau juga harus oke?" ia benar-benar merasa tidak berguna. Keteharannya habis guna menyembunyikan sekelabat persoalan

"Uhm! Setelah itu buka matamu dan lihat aku, oke? Rasanya janggal, setiap matamu menuju ke arahku tapi gelap. Berjuanglah, doa kami menyertai selalu"

Pahit ... amat pahit ... Lucy terduduk lemas di kursi tunggu, diikuti Gray yang asyik memperhatikan langit-langit. Kemarin Zeref mengabari kalau Natsu mendadak buta. Mengerikan sekaligus memilukan bagi sanak keluarga dan teman dekatnya. Tuhan merencanakan banyak hal gila, apa Dia sedih membiarkan Natsu terus merana? Lalu diambil begitu saja?

"Hey. Bukankah terlalu tiba-tiba?" tanya Lucy membuka sesi obrolan. Mengalihkan sepasang dark blue Gray dari dunianya. Meski tak dipungkiri pertanyaan itu aneh

"Maksudmu tentang Natsu yang buta? Dokter pernah menjelaskannya, beberapa hari terakhir gegala tersebut nampak dan kemungkinan naik ke seratus persen. Mungkin kak Zeref tau sehingga merencanakan secepat mungkin"

"Bagaimana bisa Natsu tau kedatanganku kemarin, jika keadaannya saja memburuk ke titik nol?"

"Mata ... bukan, hatinya dapat merasakan kehadiranmu. Kau spesial untuk seorang Natsu Dragneel. Cinta juga tidak mempunyai mata, walau kak Zeref membatalkan operasi ini, dia tetap melihatmu lewat 'pendengaran'"

"Spesial, ya ... aku menyukainya, cara pandang onyx itu, senyum khas Natsu, atau ketika dia mati-matian melawan takdir"

"Omong-omong keputusanmu berubah? Wajar menilik kalian berdua saling mencintai" ucap Gray ringan, sembari memasukkan koin 500 joul ke mesin kaleng. Lucy menundukkan kepala perlahan, tidak selama orang itu Gray Fullbuster

"Natsu membalik keadaan, tanpa sadar aku larut dan menerimanya"

"Terimalah nasib. Cintai dia sampai meninggal. Kau telah memberikan hadiah terbaik sepanjang hidupnya" nasihat Gray bagai angin lalu. Mendengar perkataannya Lucy membisu di tengah kesenyapan rumah sakit

"Aku mengharapkan perpisahan. Usai operasinya, jangan pernah sebut nama Natsu. Kontak kak Zer akan kuhapus"

"Wanita egois ya. Padahal kami, para pria berjuang demi kalian. Hargai sedikit usaha Natsu, penyakitan pun berhak mencintai dan dicintai"

"Diam-diam kau pengikut motivator bernama Teguh-Teguh itu? Lupakan, aku malas berdebat"

"Mau mampir ke kedai ramen? Sekarang jam makan siang, aku yakin perutmu keroncongan"

"Tidak, aku ingin menunggu Natsu"

Bohongnya ketahuan sekali ... Gray membeli bento dekat rumah sakit. Lucy pasti datang tanpa sempat mengisi perut, selain mengkhawatirkan Natsu maka apa? Zeref sibuk mengurusi administrasi juga mencari biaya pengobatan. Ingatlah, uang jauh lebih penting daripada memaklumi kesulitan orang lain. Seharusnya Sting bertanggung jawab atas insiden tersebut, malah ditumpahruahkan penuh pada keluarga Dragneel.

"Sadari posisimu dan bantu Natsu. Aku tidak mengerti kenapa kau melakukannya, tetapi dia hanyalah teman Lucy" dari balik pohon Sting menunjukkan diri. Dia benar-benar muka tembok sejati!

"Asal kamu tau pengkhianat. Lucy milikku seorang!"

"Kenapa begitu terobsesi? Aku kurang percaya, orang jahat sepertimu mengerti arti cinta mati, atau gara-gara nafsu semata?"

"Melihatnya lemah membuatku gembira. Salah siapa berani menantang Sting Eucliffe?! Dia membuangku demi manusia cacat, penghinaan apa yang lebih buruk dari ini?"

"Ya, ya. Terserah kau saja. Aku duluan"

Ketika detik berganti menjadi menit dan berubah ke jam. Di kala cahaya rembulan menerangi bumi, langit malam merupakan saksi bisu dari sebuah sambutan hangat. Pertama kali sebelah onyx itu membuka mata. Sesosok wanita bersurai pirang dengan serangkaian asanya memeluk erat tubuh ringkih itu. Dua pasang senyum tersungging lebar, Zeref tak dapat menahan kegembiraan yang meluap-luap.

"Selamat karena berhasil melewatinya"

"Kakak ... Gray ... Lucy ... ayah ... ibu ... aku mengucapkan terima kasih! Jika aku sembuh kita rayakan ya?" seulas grins yang hilang kini Natsu perlihatkan terang-terangan. Hari ini dia adalah manusia paling bahagia di dunia

"Hiks ... hiks ... untunglah aku mempercayaimu. Selamat datang kembali, Natsu!"

Bahkan genggaman tangannya berisyarat, Lucy enggan melepaskan pegangan tersebut. Malam itu indah sekaligus buruk.

Tiga hari berlalu ...

Akhir-akhir ini batang hidung Lucy tidak nampak. Saat ditanya Gray menjawab, 'dia sibuk mempersiapkan sesuatu'. Natsu merasa kesepian dibanding biasanya. Terakhir ketika operasi sukses dilaksanakan, sementara kalender berganti dan waktu berjalan cepat. Pria raven itu berjanji pada sang sahabat, bahwa pagi ini bagaimanapun caranya, nyonya Heartfilia akan diseret ke rumah sakit.

"Hahaha ...! Aku menanti kabar baik. Pergilah, sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi"

"Ughh ... baiklah, baiklah! Tenang saja, Lucy pasti membawakan catatan bahasa Jepang hari ini, dan kau bisa membacanya hingga puas"

Seperti biasa, Lucy kalem mengikuti pelajaran meski banyak beredar kabar tentangnya dan Sting. Berita kehamilan juga diungkit-ungkit, tanpa ampun ia diserang habis-habisan oleh geng Lisanna, membuat telinga Gray panas bukan main mendengar para wanita bergosip. Waktu istirahat adalah yang terparah, kelas tetangga, adik, kakak kelas ikut-ikutan buka mulut. Gildarts-sensei sukses dibuat kewalahan.

"Kerjaan kalian mempergunjingkan Lucy sejak minggu lalu, tidak bosan?!" suara baritonnya dinaikkan satu oktaf. Baru kali ini Gray marah dengan niat tulis, yakni melindungi si pirang dari 'gigitan sekelompok nyamuk'

"Apa urusanmu Gray Fullbuster? Aku heran kenapa dia mau-mau saja menerima Natsu. Sudah pincang, miskin, tidak berguna pula"

"Siapa yang kau katakan dekat, Lisanna?" iris Gray terbelalak kaget di tempat, tangan Lucy terlihat digandeng mesra oleh Sting. Padahal dia yakin sudah minta putus!

"Rupanya kamu. Kalian mirip sepasang kekasih saja, Natsu dikemanakan?" giliran Jenny yang menguji kesabaran Gray. Jika lawannya laki-laki pasti sudah dihajar sampai babak belur

"Oh dia. Aku sekadar mengasihaninya, tidak lebih. Kalian tau kan, dia sangat menyedihkan dan kekurangan kasih sayang, sebagai orang baik memberi sedikit perhatian bukan masalah sulit" DEG! Jantung Gray serasa berhenti saat itu. Lucy berubah 180 derajat!

"Hoi apa yang terjadi padamu?!"

"Jangan sembarangan menarik kerah bajunya, pengkhianat sialan! Ayo pergi, di sini banyak penganggu"

Ekspresi Sting lebih menyebalkan dari biasanya. Gray hampir melayangkan tinju kalau melupakan Natsu, dia berpesan 'agar tidak menggunakan kekerasan'. Gawat ... bagaimana cara menyampaikan kabar ini? Di sisi lain menghindari kebohongan, tapi juga tak melukai hati. Mustahil jelas ...

Pulang sekolah ...

Sewaktu mengambil sepatu dalam loker, Gray mendapati sepucuk surat bertuliskan 'Lucy Heartfilia' di pojok kanan. Gerangan apa sehingga dia berlagak misterius? Selesai membaca, ia refleks berlari ke arah rumah sakit, mengunjungi kamar Natsu sekaligus meminta izin pada dokter Makarov, bahkan mengeluarkan kursi roda untuk mengantarnya keluar.

"Firasat saya buruk soal surat itu. Kau yakin membiarkan Natsu pergi?"

"Lucy yang memintanya sebagai permohonan terakhir. Saya tidak enak hati menolak" mungkin ini salam perpisahan, tapi kenapa tiba-tiba? Padahal bisa direncanakan lebih baik

"Batas waktunya setengah jam. Perhatikan kondisi Natsu, dia tidak boleh stres berat"

Taman kota mempertemukan mereka berdua, disorot mentari yang menyapa hangat di ufuk timur. Rambut pirang Lucy berkibar ditiup angin musim dingin, tinggal hitungan waktu sebelum salju turun memutihkan hijau-biru bumi. Syal biru tua melilit di leher Natsu, di belakangnya Gray meremas erat dorongan kursi roda. Semoga dokter Makarov salah terka ... tolong berikanlah satu kesempatan!

"Katakanlah semuanya, Lucy"

"Tolong lupakan janji naifmu. Mencintaiku sampai menutup mata, kita hanya mendapatkan luka. Ternyata aku lebih bahagia bersama Sting, dia tidak membuang perasaannya. Justru salahku karena memilihmu!"

"Lucy-san apa maksudmu?"

"Selama ini aku menemanimu gara-gara kasihan! Dan sekarang kau tambah menyedihkan ... maaf, sampai di sini saja hubungan kita"

"Bohong. Katakan kau bercanda!"

"Tatap wajahku pengecut! Aku serius mengucapakannya! Kau tak lebih dari beban, dasar sampah masyarakat!"

PLAKKK!

"A ... a ... a ... a-aku ..."

"Berhentilah berharap"

"Aku ... minta maaf jika menyusahkan. Terima kasih atas perhatianmu, kenangan kita ... semoga hidup bahagia"

"SIAPA JUGA YANG BUTUH UCAPAN SAMPAHMU?!"

Semuanya berakhir ... apa giliran Lucy yang berkhianat?

Bersambung ...

Balasan review :

Aoi Shiki : Ya orang kaya mah gitu, apa juga main sogok. Thx ya udah review, sekarang aku udah gak bingung kok.

Fic of Delusion : Oh iya bener Natsu mati, terus soal tebakan itu ... mungkin bener mungkin salah. Kayaknya untuk bunuh diri enggak deh, Lucy mana tega sih ngebunuh bayi yang ada di perutnya. Bhaks tiba-tiba nyasar ke Zeref, kok bisa? Thx ya udah review.

Akabane Dragneel : Gak diapa-apain kok, tuh mereka masih hidup, masih jadi kakak-adik juga. Thx ya udah review.