Kondisi Natsu kian memburuk usai perpisahan tersebut. Gray sendiri tak habis pikir, setiap hari wanita itu datang menjenguknya, mereka tertawa bersama, berbagi candaan, suka dan duka, tetapi kini tinggal ia seorang ditemani sang kakak, Zeref Dragneel. Semua berubah dalam sekejap karena Lucy Heartfilia, bahkan tak satu pun lagi menyebut nama yang dibilang pengkhianat itu. Orangtua Natsu kecewa berat, begitu pula sahabat yang ditinggalkan.
Namun, terror Sting berkurang drastis bahkan menghilang dari kamus mereka.
"Ini gawat, saya tidak yakin Natsu bisa bertahan. Lagi pula, kenapa tiba-tiba Lucy menghilang? Dia hanya perlu anak itu, bukan obat atau terapi yang memperparah keadaan" nasihat dokter Makarov. Beliau sendiri tak luput dikecewakan, mungkin karena dia bodoh percaya pada orang asing
"Sebenarnya Lucy …" Zeref hendak bercerita jika uluran tangan Natsu tidak menghentikan. Dokter belum tau perihal kejadian setelah 'pertemuan' berakhir. Gray sendiri diminta bungkam hingga sekarang
"Lucy-san sibuk mengikuti lomba di luar kota. Kapan-kapan dia akan berkunjung"
"Menurut saya tidak masuk akal sampai satu minggu menelantarkanmu" kecuali Lucy mengikuti lomba olimpiade fisika dan di karantina selama tiga puluh hari. Natsu bungkam, mulutnya kaku untuk mengarang kebohongan lain
"Intinya adalah wanita sialan itu tidak akan balik. Selama ada kami Natsu pasti baik-baik saja. Jangan cemas, dokter" ucap Gray berlalu meninggalkan kamar. Jam kunjungan habis dan dia dipaksa balik
Selama perjalanan pulang pikirannya tak luput dari hal-hal buruk. Jika di masa lalu ia tetap menuruti Sting dan menjahati Natsu, mungkin bocah malang itu tidak dapat bertahan lama. Kekuatan tersebut datang karena Lucy, Gray sekadar orang asing yang bertobat akibat menyesal. Hubungan ini dihargai oleh pribadi antisosialnya. Mereka teman baik meski bukan sahabat, belahan jiwa atau saudara. Mungkin pula keberadaan si pengkhianat sulit digantikan/
"Selanjutnya kamu ingin kemana, sayang?" suara bariton yang terdengar familiar, Gray menoleh ke depan, terlihatlah sepasang muda-mudi di tengah lautan manusia
"Ayo beli creps!"
DEG … DEG …!
SREKKK!
PLAKK!
"Hah … hah … APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI BERSAMA STING? KUNJUNGILAH NATSU, DIA MEMBUTUHKANMU SEKARANG!" bentakan Gray mengundang perhatian sekitar. Lucy tersentak kaget dengan linangan air mata. Sting marah dan mendorong tubuhnya menjauh
"Kau belum paham? Lucy lebih memilihku dibanding manusia pincang itu! Pergi dan berhenti menganggu kami"
"SIALAN KAU! RASAKAN AKIBATNYA CEPAT ATAU LAMBAT, LUCY HEARTFILIA!" sumpah serapahnya menarik polisi untuk mengamankan Gray. Banyak orang ketakutan terutama anak kecil, beberapa sampai menangis karena dinilai berlebihan
Di kantor polisi, pria berseragam biru tua meminta keterangan langsung dari Gray, meski tatapan matinya seakan berisyarat, 'aku benci diganggu'. Lagi pula ini masalah hidup, aparat penegak hukum bertindak berdasarkan peraturan, mereka mana mengerti persoalan yang sedang dihadapinya? Sepuluh menit ditahan ia dapat keluar, namun dengan peringatan, 'sekali lagi memicu keributan, kau ditahan sehari'. Memang salah siapa, hah?
"Cih! Mereka hanya membuang-buang waktuku"
Drrtt … drttt … drttt …
"Halo?" nada bicara Gray sedikit melunak, setelah melihat nama Zeref tertera di layar hand phone. Suara di seberang sana masih tertahan di kerongkongan, justru sesekali tertangkap desak isak tangis
"Ha … halo Gray. Permintaanku pasti membuatmu kesal, ta-tapi kumohon pertimbangkanlah!"
"Katakan dulu. Aku tidak bisa menilai jika kak Zeref kebingungan seperti itu" logikanya menebak kemungkinan paling tepat. Gray mendesah pelan usai menimbang perkiraan tersebut
"Tolong bujuk Lucy bagaimanapun caranya. Natsu sangat membutuhkan dia"
"Aku tau kak Zeref akan memintanya. Baiklah, berdoalah semoga membuahkan hasil manis. Mungkin sulit, setelah kuperhatikan Lucy dan Sting lumayan dekat. Apalagi bajingan tengik itu mau bertanggung jawab" boleh disebut kesempatan mereka hanya 20%. Gray sendiri kurang yakin
"Firasatku memang buruk sejak seminggu lalu, tetapi aku enggan putus asa. Terima kasih banyak, Gray"
"Seharusnya aku yang berterima kasih, terutama kepada Natsu. Perubahan sifatku membawa kebahagiaan bagi ayah dan ibu. Mereka tidak marah melainkan selalu tersenyum"
"Kita sama-sama berhutang budi. Sampai jumpa besok di rumah sakit. Aku menunggu kabar baik"
Panggilan diputus sepihak, Gray berjalan pulang menuju rumahnya yang mendadak hangat. Sekarang berbanding 180 derajat, dia merasa puas melebihi pencapaian apapun selama setahun terakhir. Ibu menyambut ramah dari dapur. Ayah beristirahat di ruang tamu sambil membaca koran, lalu mengajak putra tunggal Fullbuster menonton acara televisi. Tidak ada pertengkaran atau amarah, semua berjalan mulus.
"Dasar … kalau dilihat lagi keluhanku tidak berarti apa-apa selain kelemahan"
"Bagaimana kondisi temanmu? Penyakit kankernya membaik?"
"Justru memburuk. Kata dokter hanya seseorang yang mampu menolongnya, sayang dia memilih berkhianat dan membangun hidup bersama lelaki lain"
"Teman perempuanmu yang hamil gara-gara diperkosa? Jadi … pelakunya ingin bertanggung jawab begitu?"
"Uhm! Aku tidak mengerti apa maunya. Entah menyesal, bersalah, menumpang tenar? Membingungkan" mengingat keluarga Heartfilia adalah bangsawan di Magnolia. Tentu banyak keluarga jahat yang mengincar mereka
"Menurut ayah niatnya buruk. Lindungilah temanmu, walau berkhianat kalian pernah menjalin hubungan itu bukan? Berikan dia kesempatan kedua"
Apa semua orang pantas memperolehnya? Kepercayaan yang sempat hancur dan dirombak ulang? Gray memandang langit-langit rumah heran. Benarkah Lucy pantas mendapat pertolongan? Keputusan Zeref baik atau berbanding terbalik? Sting tulus menopang tanggung jawab besar? Natsu benar-benar mencintai wanita yang disebut-sebut malaikat pelindungnya? Pertanyaan demi pertanyaan berputar searah jarum, tanpa jawaban pasti.
"Gawat. Aku harus bagaimana sekarang?"
Percayai dan lakukan yang menurutmu benar.
Keesokan harinya …
Pukul 6.30 Gray tiba di sekolah. Sebagai murid teladan pasti Lucy datang lebih pagi, benar saja, batang hidungnya telah nampak di ambang pintu. Ia terlihat asyik mengerjakan latihan matematika di buku catatan, sengaja mengabaikan Gray yang akhir-akhir ini sering habis kesabaran. Dengan kasar buku itu ditarik menyamping, menyebabkan pensil pilotnya bergeser tiga centimeter. Mereka bertukar pandang sejenak, iris karamel berkilat angkuh dilawan kebencian mendalam.
"Tatapanmu menyebalkan, nyonya malaikat pelindung! Kau berubah drastis ya? Mentang-mentang berhasil mendapatkan Sting Eucliffe, model terkenal sekaligus pemuda tertampan edisi majalah sorcerer?"
"Jelas iya, merupakan kebanggaan untukku seorang. Kesempatannya juga satu banding seribu, kami bahagia itu yang pasti" pamer Lucy menyeringai sombong. Gray yang menyimak sebatas mengangguk malas
"Tidak bosan terus mengarang kebohongan?"
"Siapa yang berkilah?! Aku serius. Lihat wajahku sekarang, mata katarak!"
"Ternyata kami bertiga salah menilaimu. Malaikat apanya, kamu tak lebih dari manusia bermuka dua! Nikmatilah kekayaan Sting, bahkan jika diperbolehkah, keluar sekarang juga dari sekolah!"
"Saksikan menggunakan mata kepalamu sendiri. Aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia"
"Ya, ya, dasar hina"
"Hina katamu?! LALU KAU APA DI MASA LALU? KERJAANMU MENYAKITI YANG LEBIH LEMAH, MENGHAJAR DAN MEMALAK MEREKA HINGGA KETAKUTAN. KAMU BUKAN MANUSIA SUCI, BERHENTI MENASEHATIKU!"
"Setidaknya aku mau bertobat dan tidak jatuh ke lubang serupa. Kamu berbeda, sudah berada di jalan yang benar malah melenceng. Ingat pesanku baik-baik, penyesalan pasti menusukmu suatu saat"
Bagaimana bisa menolong, tadi saja akal sehatnya dibutakan emosi! Gray merutuki kesalahan fatal itu, Lucy terasa semakin jauh, dari daya jangkau seorang Fullbuster. Pelajaran pertama di hari Sabtu dimulai, Yajima-sensei membacakan puisi halaman 155, salah satu kesukaan Natsu yang sering ia baca di jam istirahat. Sekarang bangku di bagian belakang kosong, entah sejak kapan sepi mulai merujuk masuk, mengetuk pintu hati yang awalnya sedingin es tersebut.
"Kumohon berikan aku kesempatan … sekali saja …"
Jam istirahat …
Seminggu terakhir Lucy bertambah dekat dengan geng Lisanna, sesekali Sting ikut berkumpul lalu mereka makan di kantin. Gray yang melihat kesempatan mencengkram erat pergelangan tangannya. Langkah wanita pirang itu terhenti di depan meja guru, tanpa ditunggu atau ditanyai langsung ditinggalkan oleh teman-teman barunya. Hening menyelimuti sejenak, belum satu pun berani membuka mulut.
"Teman? Mereka sekadar memanfaatkanmu, sadarilah sesegera mungkin!"
"DIAM, kau tau apa tentangku?! Lepaskan, aku ingin makan siang bersama yang lainnya. Mau kulaporkan ke Sting?" pinta Lucy setengah mengancam. Gray tetap bersikukuh mempertahankan posisi mereka
"Ayo kita mulai dari awal, kembali menjalin pertemanan dan tinggalkan geng Lisanna serta Sting" negosiasi yang ditolak mentah-mentah. Lucy melepaskan pegangannya kasar
"Maksudnya kau mengajakku berteman dengan si salam penyakitan? Aku menolak, menghancurkan image saja" jika lawan bicara adalah lelaki, Gray pasti sudah meninju pipinya sejak awal. Tingkah Lucy … kenapa dia tidak menemukan sedikitpun celah?!
"Tunggu, kamu serius membuang Natsu? Tidak berniat berkorban deminya?"
"Kata siapa? Jangan sembarangan menyimpulkan, tuan Fullbuster. Aku kasihan, terbawa suasana dan tidak sengaja memutuskan Sting. Aslinya kami berdua saling mencintai, mengerti?"
"Ha … hahaha … kau bercanda" walau ekspresi Gray menyuratkan kaget. Biasanya dia paling pandai mendeteksi kebohongan, namun kali ini … gagal total!
"Kehabisan kata-kata? Terserah mau menyebutku iblis, setan, muka dua atau apa. Aku tidak pernah menginginkan Natsu"
Oh ya ampun … betapa kejamnya dunia, terhadap remaja berumur tujuh belas tahun itu! Tanpa sadar Gray membiarkan Lucy pergi, detak jarum jam sampai terasa menusuk kulit terutama hati. Benar-benar wanita sialan, setengah tahun berlalu terbukalah kedok asli si malaikat pelindung. Salju perlahan-lahan menuruni bumi. Semester dua di depan mata dan Natsu melewatkan sebulan terakhir di rumah sakit.
Musim dingin yang menyedihkan bagi pemuda bermarga Dragneel.
Pulang sekolah …
Jalannya melambat bak siput merayap. Gray menolak memberi laporan, sementara Zeref menaruh segala harapan pada kedua pundak itu. Rumah sakit bagai tempat angker di hadapan sepasang dark blue tersebut, terutama melodi yang mengalun sendu dari kamar pasien 'Natsu Dragneel'. Pintu dibuka menimbulkan suara mengernyit. Syal biru muda melingkar hangat di lehernya, dengan bibir yang mengembangkan senyum sempurna.
"Di mana kak Zeref?"
"Pergi membeli minuman. Senin besok liburan musim dingin dimulai ya … aku ingin bermain ski! Bermain perang bola salju juga menyenangkan. Kau tau? Dulu kami sering melakukannya, kemudian minum cokelat panas di rumah menikmati perapian"
"Ibu memberikan hadiah di hari natal begitupun ayah. Aku dan kakak membukanya di ruang tamu, kami tertawa bersama saat itu. Siang hari makan ayam kalkun, salad, banyak sekali makanan yang tersaji"
"Paling enak tetap daging! Aku menghabiskan sampai tiga atau empat piring, hahaha …"
"Menginjak bangku SD aku mempunyai banyak teman, tapi hanya satu nama yang kuingat, yaitu Jellal Fernandes. Anaknya baik dan pintar, bahkan matematika sering dapat seratus! Meski kuakui dia agak aneh, namun bukan masalah besar"
"Setiap karyawisata kami duduk bersama. Oh aku ingat! Ketika kelas lima kacamatanya sempat dicuri seekor monyet. Guru dan teman-teman tertawa lalu dia menangis keras! Kasihan sih, tetapi lucu"
"Kamu tega juga ya …" balas Gray tersenyum geli. Pertama kalinya Natsu gembira usai ditinggal Lucy. Dia juga banyak bercerita mengenai masa lalu. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama
"Salah … bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu. Gray-san, maukah sekali lagi kamu mendengarkan keluh kesahku? Ini terakhir sebelum ajal menjemput" jantungnya seakan berhenti berdetak. Bukankah terlalu mendadak untuk mengubah arah pembicaraan?
"Jujur, aku menyesal tidak berhasil mengikat Lucy. Kami menghabiskan banyak waktu, dia teman pertamaku ketika yang lain menjauh. Hatiku jatuh padanya sangat lama, meski sadar mencintai hanya menambah luka, tetap saja kepalaku keras!"
"Pada akhirnya aku berjanji, tidak, bersumpah mencintai Lucy sampai menutup mata. Dia ingin mempercayaiku, tapi siapa sangka di akhir malah berkhianat. Nuraniku sadar hanya semata-mata dipermainkan"
"Katai aku bodoh sebanyak yang kau mau. Bagaimana bisa, seorang dari keluarga bangsawan kupercayai semudah membalik telapak tangan? Jelas mustahil jika Lucy menerima kondisiku dengan lapang dada"
"Ta-tapi sekali saja … aku ingin memanggilnya Luce. Memperbaharui sumpahku menjadi ucapan maaf di ujung kisah kami. Temanmu ini orang bodoh yang naif, tolong maklumi …"
"Lucy saja yang gagal mencerna cinta tulusmu. Biarkan dia menyesal, kau terlalu baik untuk terus disakiti"
BRAKKK!
Tiba-tiba Zeref membanting pintu keras, nyaris membuat engselnya putus dari pinggir kayu. Dengan kepala menunduk ia menyodorkan sebuah undangan, berhiaskan sepasang burung yang melipiri ujung amplop putih-keemasan itu. Gray membaca sekilas tampilan luarnya, tersentak kaget hingga terseret ke pinggir laci cokelat. Di sana tertera 'kepada Natsu Dragneel' dari Lucy Heartfilia dan Sting Eucliffe, bahwa …
mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Tanggal delapan belas Desember nanti lebih rincinya …" Zeref tak kalah shock dengan Gray. Sekujur tubuh Natsu bergetar hebat dipenuhi air mata yang siap tumpah
"Kak, biarkan aku datang ke pernikahan mereka, oke? Hatiku berkata agar merestui kebahagiaan Lucy"
"Kebahagiaannya omong kosong! Natsu pikirkan dirimu sendiri. Menerima undangan itu saja badanmu keringat dingin. Menyaksikan mereka mengucapkan kaul mungkin kau pingsan!" berluap emosi Gray melarang keputusan tersebut. Namun Zeref berpendapat lain
"Tentu, kenapa tidak? Gray, kita harus menghargai keputusan Natsu. Percaya padanya walaupun itu pilihan terburuk yang ia ambil"
"Baiklah, persiapkan mental dan kondisi terbaikmu, paham?"
Kenapa pula takdir suka sekali mempermainkannya?
Hari pernikahan, Sabtu 18 Desember …
Mengenakan tuxedo hitam dibantu kursi roda, Natsu ditemani Gray dan Zeref hadir ke pernikahan Lucy. Mereka menyaksikannya mulai dari pembuka acara, berlanjut ke pemotongan kue lalu makan-makan sampai jam sembilan malam. Selain mengigit bibir kedua pemuda itu tidak bisa melakukan apa-apa. Iris karamel yang biasa memancarkan cinta kini berubah penuh keangkuhan, terlebih Sting memanasi suasana di situ.
"Kuucapkan selamat atas pernikahan kalian, Lucy-san, Sting-san. Semoga hidup bahagia" bahkan suaranya terdengar bergetar menahan tangis. Gray yang hendak menghentikan lagi-lagi dicegah Zeref, meminta agar ia menonton sampai akhir
"Siapa sangka kamu akan datang. Aku pikir kau sedih dan meringkuk di pojokan"
"Jika wanita yang kucintai tengah berbahagia, bukankah seharusnya aku ikut merayakan? Lucy-san, cobaan seberat apapun lewatilah bersama Sting-san. Jangan hanya meminta pertanggung jawaban, cinta kalian adalah hal terpenting"
"Sting-san. Jika sedikit saja kau melukai Lucy-san, jangan harap bisa lolos dariku. Ingatlah, aku pun mencintainya melebihi perasaanmu selama ini"
"Percayakan saja padaku, manusia pincang!"
Kasat mata Gray menyadari ekspresi Lucy berubah, bercampur haru sekaligus sedih mungkin? Asli atau palsu kini sulit membedakannya. Ia tetap percaya kalau semua itu demi Natsu seorang.
Begitulah, pertemuan pertama sekaligus terakhir di musim dingin bulan Desember.
Bersambung …
Balasan review :
Fic of Delusion : Apakah Natsu masih kurang menderita? Dia udah dikhianati Lucy, dipaksa menghadiri pernikahan Lucy dan Sting, kurang apalagi ... thx ya udah review, tunggu eksekusi sebentar lagi :D
Aoi Shiki : Lucy kenapa akan terungkap di chapter terakhir! Oke dijamin update kilat kok tenang aja. Thx ya udah review.
