Dua bulan berlalu semenjak pernikahan mereka dilaksanakan. Lucy tinggal di mansion mewah kepunyaan Eucliffe. Hidup serba mewah dalam kekayaan melimpah, tanpa kekurangan sedikitpun. Mungkin beginilah gambaran ideal, jika sesama keluarga bangsawan menikahkan anak mereka. Ia berusaha membuktikan pada dunia, terutama Gray bahwa hidupnya bahagia. Tiada Natsu, Zeref, hanya bersama geng Lisanna.

"Cih, aku benar-benar tidak mengerti! Kenapa kepala sekolah membiarkanmu berkeliaran?!" seru Gray ketika Lucy melewati kelas, dengan tatapan angkuh ia membalas amarah si raven, menjadikannya semakin naik ke puncak

"Sudahlah. Siapa juga yang butuh pertobatan dari orang tak tau diri sepertimu?!"

"Memangnya kau mesias apa?! Minggir, jangan menghalangi jalanku!"

DUKKK!

Sengaja Lucy menabrak Gray hingga empunya terdorong menabrak daun pintu. Di barisan depan ia bergabung dengan geng Lisanna, membicarakan banyak hal mulai dari fashion, bintang majalah, segala hal yang berhubungan dunia wanita. Mendadak sepasang dark blue itu bernostalgia, bahwa kesadarannya membentuk sebuah fatamorgana, di mana pada masa lalu mereka bertiga berteman, bukan, melainkan bersahabat.

"Hey. Kemarin aku membeli ini di toko aksesoris, lucu ya?"

"Apa hebatnya gantungan beruang? Kalian pasti lebih suka yang ini!"

"Novel karya Levy McGarden?! Darimana kau mendapatkannya? Padahal sudah habis seminggu lalu"

"Aku juga punya kok, Lucy-san. Datanglah ke toko buku di awal bulan, pasti dapat. Gantungan hand phonemu lucu, mengingatkanku akan hadiah pertama dari ibu"

"Dengar Gray? Natsu saja tau gantungan beruang lucu!"

"Ya, ya, terserah kau, nona Heartfilia"

Berdiri di pinggir jendela, sesekali menyikut lalu menghamburkan canda tawa di sela-selanya. Mengingat kepingan-kepingan memori itu Gray hanya terdiam, menggertakkan gigi kesal atas perubahan yang terlalu tiba-tiba. Kini Natsu terbaring lemah dalam koma, tidak jelas kapan bangun atau meninggal disekap sunyi. Batas antar maut dan hidup berselisih beberapa inchi. Mungkin malaikat maut tengah bersiap-siap, mengayunkan sabit raksasanya …

"Tidak! Seperti kata kak Zeref, aku harus mempercayai Natsu!" benar, selama ada kepercayaan maka kesempatan selalu 1%. Lagi pula anak itu sudah menderita empat tahun, melawan takdir, kuasa Tuhan, pasti bisa … berhasil!

Tersisa dua puluh menit sebelum bel masuk berbunyi, Gray memutuskan menghirup udara segar di halaman sekolah, daripada diusik bising geng Lisanna yang menganggu pendengaran. Tanpa sengaja bahunya menabrak seseorang di daun pintu, sekilas ia melihat sesosok lelaki bertato, mengenakan uwabaki bertali biru menandakan satu tingkat di atasnya. Pantas terkesan asing, ternyata kakak kelas dari lantai tiga.

"Ma-maaf. Saya tidak sengaja menabrakmu" tentu Gray gugup. Bukan karena lawan mainnya preman atau anak berandalan, dia saja kurang tau identitas pemuda ini. Melainkan disebabkan tatapan bingung yang sulit dijelaskan

"Ada yang bisa kubantu? Kau tampak kebingungan" siapa peduli mau dianggap kurang ajar. Barusan spontan akibat terkejut, lidahnya juga kelu mendadak sopan begitu

"Di mana Natsu? Aku yakin bulan November dia masuk" perbandingannya jauh sekali. Sekarang saja sudah Februari, batin Gray menghela nafas. Omong-omong, darimana cowok misterius itu tau terakhir kali si salam masuk?

"Lupakan pertanyaanku, tadi spontanitas! Tiga bulan absen, kondisinya parah sekali ya?"

"Jawab dengan jujur, sebenarnya kamu siapa? Setauku Natsu tidak punya teman selain Lucy dulu" tanya Gray menginterogasi. Kemungkinan besar stalker kelas kakap. Lagi pula bulan demi bulan berlalu dia baru menampakkan batang hidung di sini

"Masih zaman membicarakan si pengkhianat? Menyaksikannya gembira bersama geng Lisanna membuatku muak"

"Omong-omong namaku Jellal Fernandes. Salam kenal, Gray. Terima kasih telah menjaga Natsu" apa orang ini mempelajari semacam ilmu meramal? Yang dijabat tangannya terperengah seketika, kemudian pergi sambil mengucapkan sampai jumpa

Benar juga, Jellal adalah teman masa kecil yang pernah Natsu ceritakan! Samar-samar Gray mengingatnya, entah berapa puluh kali kalender berganti, penampilan itu masih sama dengan sekebat gambaran di masa SD. Ia sekadar tersenyum usai menghabiskan lima belas menit bercakap. Saat membesuk di rumah sakit nanti, kejadian itu mesti diceritakan agar semangatnya belum benar-benar redup.

Mereka sahabat, kan? Natsu pasti kangen setelah berpisah.

"Dugaanku benar. Keberadaanmu tidak lagi dibutuhkan, Lucy Heartfilia"

Tuhan merencanakan hal lain ternyata.

Pulang sekolah …

Keluar berbarengan dengan Lucy dan geng Lisanna, Gray merasa nasibnya dikutuk sial. Untunglah mereka berpisah di perempatan jalan, meski lima menit terabaikan ia digosipi aneh-aneh. Preman sok tobat, mempergunjingkan Natsu yang pincang, cowok tampang culun di pintu kelas, semua terangkum dalam satu topik. Jari kelingkingnya mengkorek telinga perlahan, bisa-bisa tuli jika gelegar suara mereka tidak dijauhkan secepat mungkin.

Setiba di rumah sakit, Gray duduk di samping Natsu yang terbaring lemas.

"Keadaanmu tidak berubah sedikitpun. Aku membawa kabar baik. Sahabatmu yang bernama Jellal tadi mengajakku mengobrol, dia masih mengingatmu tenang saja. Karena itulah, kau harus berjuang demi kami terutama diri sendiri"

"Saya pikir kamu mulai kehilangan rasa percaya" interupsi suara rendah di belakangnya. Dokter Makarov rutin memeriksa Natsu setiap pukul satu siang. Mereka sering bertemu, mengobrol ringan ditemani suhu udara yang mencengkam dingin

"Berkat kak Zeref. Apa dia sedang membeli makanan?"

"Sebentar lagi juga datang. Menemani Natsu hingga jam kunjungan habis, kau tidak bosan? Dia hanya tertidur, membalas sepatah kata pun mustahil"

"Natsu bisa mendengar saya, itu yang terpenting. Oh iya, dokter mengenal seorang bernama Jellal Fernandes? Dia teman masa kecil Natsu"

"Maksudmu si anak aneh? Saya sering memergokinya menguntit, lalu kabur entah kemana. Kau mana tau Jellal mengidap athazagoraphobia, yaitu takut dilupakan atau terlupakan"

"Jadi kenapa? A-atau mungkin, karena phobia itulah dia enggan menjenguk Natsu?" Jellal menyangka teman baiknya melupakan dia. Alasan yang masuk akal, sehingga lebih memilih menguntit dibanding menampakkan diri langsung

"Menilik catatan medis tiga tahun lalu. Bocah itu sering bulak-balik masuk rumah sakit, terkadang stress berat, sakit berkepanjangan, mengeluh nyeri di sana-sini. Dokter lain sampai angkat tangan karena tidak tahan"

"Gangguan jiwa?"

"Bisa jadi, saya kurang paham dengan kondisinya. Sekarang dia baik-baik saja, walau phobia tersebut tidak bisa dilenyapkan total. Ibu Jellal mengalami amnesia, kemudian ditinggal ayah ketika berumur dua belas tahun. Riwayat hidup yang menyedihkan"

"Pantas dia sangat mempedulikan Natsu"

Semuanya tertangkap jelas lewat sepasang hazzle itu, senantiasa memancarkan hangat yang mampu menenangkan gundah. Satu jam terlewati, Zeref tak kunjung datang dan waktu membesuk habis. Ia pulang ke rumah tanpa memikirkan hal lain, terlalu malas sampai kesadaran melayang-layang di udara. Mungkin benar atau salah, sejak tadi Gray merasa diikuti. Siapa lagi kalau bukan Jellal, tetapi gerangan apa sampai begini?

"Kakak kelasku mengerikan juga"

KSREK … KSREK … KSREK …

PLUK!

"Gray …?" Jellal keluar usai tangan kanannya terangkat ke atas, mengucapkan sampai jumpa singkat sekaligus melempar selembar kertas. Tergesa-gesa ia membuka pesan singkat tersebut

Natsu tidak lupa, sebelum koma dia banyak bercerita tentangmu, kenangan kalian. Jadi, jangan takut untuk menjenguk.

"Syukurlah kau mempunyai teman yang baik, Natsu"

Keesokan harinya …

Semangat pagi menyambut Gray untuk berangkat ke sekolah dini, sambil berjalan santai menikmati kicauan sepasang burung gereja. Kenaikan kelas di depan mata, minggu depan siap dilaksanakan serentak kecuali kelas tiga yang menanti ijazah kelulusan. Natsu dipastikan tinggal, bahkan kepala sekolah –korban sogokan Sting menyarankan agar dia dikeluarkan dari sekolah. Membeberkan serentet alasan di rapat guru, mati-matian berupaya menyingkirkan si salam.

"Apa gunanya, mempertahankan murid penyakitan itu di sini? Dragneel-san divonis koma dalam waktu tak dapat ditentukan, terlalu naif jika berharap dia akan bangun" begitulah ucap kepala sekolah. Namun Gildarts-sensei, selaku wali kelas membantah

"Kita tidak tau kuasa Tuhan. Natsu boleh saja bangun sebelum ujian dimulai"

"Nilainya pasti hancur lebur. Bolos tiga bulan hanya berbaring di rumah sakit. Mempermalukan nama SMA Fairy Tail membiarkan ia ikut ujian"

"Keputusan saya mutlak untuk mengeluarkan Natsu Dragneel. Tidak ada keberatan!" guru lain menerima tanpa peduli. Mungkin di sana, yang paling mengkhawatirkan bocah salam itu adalah Gildarts-sensei dan Yajima-sensei

"Kehilangan murid kesayangan tentu menyedihkan. Natsu paling serius mengikuti kelas bahasa Jepang, sementara yang lain sibuk sendiri atau tertidur. Saya menghargai semangatnya"

"Sebagai wali kelas saya gagal melindunginya dari ancaman, termasuk Lucy yang terpaksa hamil di luar nikah. Sting merupakan dalang di balik semua ini, namun kekuasaan melindungi mereka si pemegang uang. Terkadang terpikir, apa memang lebih baik tidak membiarkan Natsu sekolah di SMA Fairy Tail?"

"Dunia tidak pernah adil, terhadap mereka yang berada di tingkat terendah kehidupan"

Keluar dari ruangan tersebut, Gildarts-sensei menghampiri Gray yang dipupuskan harapannya. Natsu resmi dikeluarkan dan tinggal kelas. Sekalian ia disuruh menyerahkan surat kepada Zeref. Dipaksa berlapang dada, dikecewakan, membawa kabar buruk. Nobatkanlah hari ini sebagai tersial sedunia. Bel masuk berbunyi nyaring, selama pelajaran berlangsung kesadarannya terjebak di tempat lain. Penjelasan demi penjelasan bagai angin lalu semata.

Keesokan harinya …

Ingin menidurkan kepala di meja cokelat, Gray justru tersentak kaget mendapati berita di facebook. Hand phonenya terjatuh berat ke lantai, layar retak menampilkan foto Natsu terkulai di ranjang rumah sakit, namun bukan itu permasalahan utama, melainkan keterangan yang ditulis seseorang amat melukai pihak keluarga. Sialnya lagi facebook tersebut punya Lucy Heartfilia. Betapa banyak pertikaian ia buat entah demi apa.

Tap ... tap … tap …

"Lucy, ikut denganku ke halaman belakang. SEKARANG!" paksa Gray menyeret kasar pergelangan tangannya. Kini mereka berdua berdiri menghadap, di bawah pohon rimbun yang menutup cahaya keemasan matahari

PLAKKK!

"Sakit? Perih? Inilah yang dirasakan tante, om dan kak Zeref! Kau mempermalukan Natsu. Mengikis kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Membuat mereka menangis sia-sia. Dasar tidak punya hati, iblis! Aku bersyukur kamu mantan sahabatku"

"Ha … hahahaha …! Aku melakukan apa yang menurutku perlu. Tiada gunanya berharap pada manusia sekarat, kau saja kurang mengerti niat baik ini. Komentar kak Zer menunjukkan bahwa ia lemah, pengecut! Padahal orang dewasa mesti paham semua akan mati cepat atau lambat"

"Jika ayah atau ibumu meninggal bagaimana? Apa kau masih bisa berlagak sombong seperti tadi? Natsu meninggal maka kak Zeref, om dan tante yang paling sedih! Jangan main-main soal kematian, mungkin sekarang, besok, suatu hari nanti, TUHAN MURKA LALU MERENGGUT NYAWA SESEORANG YANG KAU SAYANGI!"

"Semua memiliki harga. Natsu membayar sangat mahal untuk mempertahan keberadaannya! Menghabiskan banyak waktu melakukan pengobatan, kemoterapi, fisioterapi, jika manusia tidak punya nyawa, nilai hidup yang ada pastilah rendah!"

"Bagaimana bisa … aku beranggapan kau memahami betul penderitaan Natsu?! Pergilah, wajahmu memuakkan, basi, dasar keparat!"

"Konyol sekali, Gray Fullbuster. Kalau begitu, aku yang akan bersumpah duluan Natsu meninggal, puas?!"

Sabar Gray, sabar! Gumamnya mengelus dada minta pertolongan Tuhan. Natsu lebih menderita dengan infus dan puluhan belalai di rumah sakit. Wajah pucat pasi, kulit putih bak salju di musim dingin dua bulan lalu. Bel usai istirahat berdering, dia menyusul masuk setelah Lucy pergi berpegang sumpah serapah. Tinggal menunggu waktu sampai terlihatlah, kepada siapa takdir memihak. Sembari berdoa cemas, 'tolonglah, jangan mempermainkan kami lagi'.

Pulang sekolah …

Di kamar Natsu terdapat pemandangan baru, yakni lima tangkai bunga matahari dalam vas berisi air segar. Zeref terduduk lemas di kursi, setia memegang hand phone di laman facebook. Gray sengaja meletakkan surat tersebut di atas laci, namun sekejap disadari dan dirobek ujung amplopnya. Membaca kata per kata bermimik serius dan terpatahkan, seakan paras nan tampan itu hancur berkeping-keping di setiap ruas kulit.

"Penyesalanku bertambah dari hari ke hari. Sulit mengambil sisi positifnya walau berusaha membesarkan hati. Lucy benar, aku hanya lelaki lemah yang lari dari kenyataan"

"Bahkan otakmu dicuci olehnya?! Makanlah mentah-mentah ucapanmu sendiri, kak Zeref yang berkata, 'selama percaya maka ada kemungkinan satu persen'. Kau mau memperbaiki jadi turun ke nol persen, begitu?!"

"Terimalah kenyataan. Semakin bersikukuh, luka di hatimu tambah mengaga lebar. Terkadang manusia harus kenal menyerah, daripada dikhianati harapan yang terlalu muluk. Gray, aku yakin Natsu menginginkan ini. Lepaskan dia, relakanlah …"

"Kehidupan selalu dibayangi kematian. Ingatlah, kalian telah membuat banyak kenangan indah, bersama Lucy, aku, ayah, ibu, dokter Makarov, guru di sekolah … Tuhan menyuruhmu belajar ikhlas, karena Ia tau kau belum mengerti definisi tersebut. Kita semua sama, ayo berjuang"

"Kak Zer, aku … tidak, Natsu belum boleh dibiarkan pergi. Kita bawa Lucy agar meminta maaf padanya. Barulah anak itu kurelakan singgah ke surga. Setuju?"

"Baiklah. Tinggal Lucy yang membawa 'kepingan hidup' Natsu di saku roknya"

Bagaimanapun caranya. Gray bersumpah pasti membuat wanita itu bertekuk lutut dengan sedu-sedan penyesalan.

Keesokan harinya …

Sayup-sayup, kabur buruk menghampiri Gray yang menyebrangi belang zebra di jalan raya. Truk menabrak sebuah mobil sport berwarna kuning terang, sang pengendara adalah Sting sendiri bersama seorang wanita hamil, yakni Lucy. Melupakan rasa dendam, ia berlari membopongnya ke rumah sakit terdekat. Plesetan dari pelajaran pertama matematika, keselamatan mereka jauh lebih penting dibanding hukuman terlambat.

"Dokter Makarov, bagaimana keadaan Lucy dan bayinya, lalu Sting?!" pertanyaan Gray memberondong sekaligus. Deru nafas tersengal-sengal dengan ekspresi cemas. Dia sadar tidak bisa membenci kedua manusia biadab itu

"Lucy selamat tetapi mengalami keguguran. Sting meninggal akibat kehabisan banyak darah. Tolong hubungi keluarga Heartfilia dan Eucliffe"

"O-oh … baiklah"

"Wajahmu terlihat terpukul mendengar berita barusan. Saya kaget kamu memaafkan mereka, terlebih Lucy yang berkhianat"

"Entahlah. Saya juga tidak paham kenapa … mungkin doaku dikabulkan Tuhan. Lucy menderita gara-gara pertengkaran kami kemarin" di mana bentakannya menggema sepanjang halaman belakang. Ketika ia teramat yakin pasti terbalaskan

"Perkataan saya tentu kejam, tapi hukuman ini adalah terbaik yang dapat Tuhan persiapkan. Gray, biarkan Dia membalaskan dendammu, oke? Petiklah pelajaran, itulah akibat kalau meremahkan hukum karma, sedangkan hukum sebab-akibat merupakan terutama di antara pertama"

"Saya mengerti, dokter"

Tangis kesedihan terlepas bebas saat dua belah pihak datang, terutama keluarga Eucliffe yang berduka cita, dipaksa melepas kepergian putra semata wayang mereka. Lucy bangun di sore hari, kemudian tersedu-sedu menitihkan air mata sewaktu kabar tersebut tiba. Ayah dari bayinya meninggal, kehidupan baru yang dikandung janin itu lenyap menyisakan likuid merah. Zeref ikut berkabung walau dihajar habis-habisan, dalam artian dicaci maki tak berkesudahan.

"KARENAMU DAN ADIKMU STING BEGINI! DIA BENAR-BENAR SIAL MENGENAL KALIAN YANG BERANI MENENTANG BANGSAWAN! PERGI DAN JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN BATANG HIDUNG. KUDOAKAN SEMOGA NATSU CEPAT MENINGGAL!"

"Lakukanlah sesuka Anda. Saya mohon pamit" siapa sangka, Zeref tetap berlagak kalem meski panas hati. Kakinya mengarah ke Lucy yang dirawat inap di sebelah ranjang Natsu, menderita anemia sehingga kekurangan tenaga untuk buka mulut

"Kau berani atau bodoh? Sudah jelas keluarga Eucliffe membenci kalian para Dragneel sampah"

"Selagi di rumah sakit, kau mau menyentuh tangan Natsu? Kulitnya sangat dingin meskipun detak jantung normal, terkadang kritis namun dia berhasil melewati masa tersebut. Sekarang hampir empat bulan, aku penasaran kapan sifat keras kepalanya menghilang"

"Berhenti membicarakan Natsu. Aku mau istirahat, keluarlah"

"Semoga cepat pulih, Lucy" pesan Zeref sebelum menutup pintu rapat-rapat. Bayangannya ditelan kegelapan yang melingkupi lorong rumah sakit

"Dasar sialan. Aku tidak mungkin tunduk semudah itu!"

CROTTT …

"Menderitalah berpuluh kali lipat sebagai bayaran kebahagiaanku, Natsu Dragneel!"

Seminggu kemudian …

Lucy diperbolehkan pulang hari Minggu, kemudian memaksakan diri masuk di hari Senin. Tidak ada lagi ocehan Gray yang menginterupsi, dia mendadak berkepala dingin, menatap kagum hamparan langit biru sebatas jendela. Ya, untuk apa mengindahkan pekerjaan orang asing? Langkah kakinya menuju geng Lisanna di barisan depan, tetapi mereka malah menjauh ke lokasi lain. Mengundang cekikik tertahan di seberang sana.

"Lisanna dan kawan-kawan mulai menunjukkan topeng asli mereka. Aku hanya ingin berkata waspadalah. Kalau bisa tinggalkan sekarang juga"

"Hah, apa maksud ucapanmu?! Palingan mereka mencari suasana baru"

"Coba datangi. Aku ingin menyaksikan dari awal hingga akhir"

"Selamat pagi, Lisanna-chan, Jenny-chan, Juvia-chan, Cana-chan. Kalian sedang apa?"

"Dilihat pun jelas kami sedang mengobrol, atau matamu katarak akibat kecelakaan itu? Janda ditinggal mati suami tercinta, kasihan …" ledek Jenny diiringi tawa anggota lain. Gray yang tau sejak jauh-jauh hari terdiam dalam bisu. Kira-kira Lucy akan melakukan apa?

"Gurauan yang lucu, Jenny-chan. Oh ayolah, kita bisa bicarakan banyak hal. Menggosip kakak kelas aneh di luar kelas terdengar seru" terheran-heran Gray melipat dahi. Ternyata yang Lucy maksud adalah Jellal, dia mengintip lewat kaca berbidang persegi di belakang pintu geser

"Bawa orangnya kemari. Hoi kamu yang di luar, kesini cepat!" ughh … bodoh! Kenapa kau menuruti omongan si tukang mabuk ini?! Gray mendelik ke sepasang hazzle tersebut. Jellal menundukkan kepala merasa bersalah

"Namamu Jellal Fernandes teman anak pincang? Ah ya ampun … kalian cocok sekali hahaha! Sesama culun dan korban bullying, sayang kamu tidak tertatih-taih saat berjalan" Lucy tertawa paling keras di antara teman-temannya. Gray nyaris marah besar jika lupa mengendalikan emosi

"Katai aku sebanyak yang kalian inginkan. Bye"

BRAKKK …!

PRANNGGG!

"Ups maaf … kaki Juvia pegal. Lain kali gunakan matamu untuk melihat. Kaca matanya sampai pecah" setengah mati Jellal mencari jalan keluar. Murid lain ikut-ikutan berselonjor hingga ia jatuh berulang kali. Lucy sukses mempermalukan sahabat terbaik Natsu sepanjang masa

"Tindakanmu keterlaluan. Aku harap Jellal tidak tinggal diam …"

Ya, selain menonton Gray kehabisan akal guna membantu. Lagi pula ada yang lebih penting untuk diurus, dan mereka berdua sepakat berpura-pura tidak mengenal.

Malam hari di mansion Eucliffe …

Kegaduhan mewarnai seisi mansion. Ibu Sting bersikeras mengusir Lucy, didukung pula opini anggota keluarga yang menilai : wanita itu membawa kesialan. Secara paksa ia diusir keluar, berkelut dengan dinginnya udara di malam hari yang menusuk bulu roma. Tanpa tujuan jelas jenjang kaki putih itu melangkah lunglai, sambil meracik berbagai kutukan busuk guna melaknati tujuh turunan berturut-turut. Ya, biar tau rasa!

"Wanita sialan … aku tidak sudi tinggal bersamamu sejak awal. Jika bukan karena Sting, koper dan barang bawaanku pasti sudah di luar gerbang"

"Mungkin aku harus mengunjungi dukun supaya kutukannya bekerja baik"

Tap … tap … tap …

KRESEK … KRESEK!

DAPPP!

"Umuhmmmuhhhh …!"

BRUKKK!

Seseorang menculiknya, hanya itu yang Lucy ketahui. Sejam kemudian ia mendapati diri terkurung di sebuah gudang bobrok. Menutup hidung rapat-rapat mencium bau amis tersebar mengepung. Sang pelaku datang menghampiri, refleks kakinya menggeliat ketakutan dan mundur menabrak kayu lapuk. Sinar rembulan menerbos masuk lewat celah kecil di sepinggir tembok, memperlihatkan wajah yang nampak familiar bagi sepasang karamel.

"Jellal Fernandes?! A-apa yang kau lakukan di sini?"

"Belum sadar juga? Aku menculikmu kemari, paham? Pesanku tidak perlu berteriak, gudang ini terletak di dalam kuburan dan penjaga menitipkan setengah hari" seakan hendak pamer, 'pekerjaanku hebat bukan?'. Lucy kehabisan kata-kata, meringkuk melawan dingin yang menyerang

"Menculikku? Untuk apa?! Dibunuh lalu diperlihatkan mayatnya pada Gray, Natsu, kak Zer, kemudian mereka tertawa renyah sambil mabuk-mabukan?!" imajinasi Lucy berlebihan. Jellal menggeleng pelan, dia masih mempunyai yang manusi sebut hati nurani

"Menyadarkanmu supaya berhenti bersikap bodoh. Menyerahkan diri, turuti perintahku dan kamu bebas" pembebasan bersyarat? Gila! Gumam Lucy bermaksud menerobos pintu. Bocah culun itu tidak memakai kacamata, mungkin dia kurang tau betul di mana lokasinya sekarang

GREPP!

"Kacamataku rusak berkat ulah Juvia. Keluarga kami krisis keuangan dan tidak bisa membeli yang baru. Duduk manislah di situ, tanpa benda itu bukan berarti aku benar-benar buta!"

"Ceritakan padaku, semuanya. Kenapa kamu berkhianat? Kalian saling mencintai bukan, kau dan Natsu?" dibanding menjawab pertanyaan Jellal. Lucy memilih bungkam seribu bahasa

"Percayalah tidak ada yang mau mendengarkanmu. Gray muak begitupun kak Zer. Hanya Natsu tetapi kau kehilangan satu-satunya. Bersyukurlah aku berbaik hati"

"Jauh lebih baik jika KAU MENGELUARKANKU DARI GUDANG BAU INI! Aku melakukannya bukan demi Natsu. Sejak awal berteman dengan mereka, bertemu kak Zer, om, tante, yang kuperbuat sebatas kasihan, SIMPATI SEMATA! JANJI ITU KUTERIMA AKIBAT TERPAKSA. LIHAT! TIDAK BERGUNA MESKI DIIYAKAN"

DUAKKK!

"Sadar dan UCAPKAN SALAM PERPISAHAN DENGAN BAIK, BAHKAN ANAK TK LEBIH MEMAHAMINYA DARIPADA KAMU! IKUT AKU, AYO!"

Pergelangan tangan Lucy ditarik paksa keluar. Kini mereka berdiri di hamparan batu nisan, dihiasi aneka pohon membentang di sekeliling. Jellal memperlihatkan salah satu kuburan, bertuliskan nama 'Natsu Dragneel'. Ya, identitas yang paling dibenci Heartfilia tiga bulan terakhir. Mendadak kakinya mati lemas, bersimpuh di hadapan liang tersebut bercucuran air mata. Ia bergumam tidak jelas, namun Jellal paham keseluruhan itu berisikan penyesalan.

"Kenapa … kenapa air mata tidak berhenti menetes? Wali kota boleh menobatkanku, sebagai orang nomor satu yang membencimu, tetapi … tetapi … di depanmu aku terlihat lemah begini. Memalukan, menjengkelkan …!"

"Ketahuilah. Rasa benci hanya menusukmu semakin dalam, kemudian berlalu meninggalkanmu yang telah tersungkur jatuh. Kau punya kebahagiaan, sahabat baik, 'kakak' pengertian, malah membuangnya demi kekayaan. Lagi-lagi penyesalan menghampiri, kau dibutakan dunia"

"Maafkan aku … Natsu …"

"Belum terlambat. Ikut denganku ke rumah sakit, cepat!"

Ta-tapi, bukankah Natsu sudah dikubur …? Antara bingung dan senang Lucy mendengarnya. Mereka bisa bertemu, ia akan mampu mengungkapkan bentuk-bentuk penyesalan terpendam. Sesampai di rumah sakit, menaiki ratusan anak tangga menuju kamar di lantai tiga, semua terlihat mengerumuni ranjang si salam, dokter Makarov, ayah-ibu Dragneel, Zeref, Gray, Gildarts-sensei dan Yajima-sensei pun tak mau ketinggalan.

"Natsu … apa yang terjadi padamu?!"

"JANGAN BERTANYA SEAKAN KAMU AMNESIA! KAU MEMOTRETNYA, BILANG KEADAAN NATSU MENYEDIHKAN, SEKARAT, MUSTAHIL DITOLONG, DAN SEKARANG … TIBA-TIBA MUNCUL INGIN MINTA MAAF BEGITU?! KALAU HUKUM DIDAMAIKAN SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN, UNTUK APA ADA POLISI, HAKIM, JAKSA AGUNG?!"

"Dan lagi … KAU MENYUSUPKAN RACUN KE INFUS NATSU! SEJAM LALU DIA KEJANG-KEJANG, MUNTAH DARAH, DIPAKSA MELEWATI MASA KRITIS LAGI. AKULAH YANG SEHARUSNYA MEMBENCIMU BUKAN TERBALIK!"

"Kita bisa perang dingin maupun panas tergantung kemauanmu. Siapa sangka kau memilih keputusan kedua. Wanita hina dasar …" Gray yang belum puas melampiaskan amarahnya ditutup mulut oleh Jellal. Ia memicingkan kedua mata kesal, menyampaikan kode, 'ingat perjanjian!'

"Hiks … hiks … kami tidak mengerti … Jellal kenapa kamu membawanya …? Natsu membutuhkanmu, bukan lagi Lucy, pembunuh sekaligus pengkhianat" sang ibu yang tak terima angkat komentar. Ayah menyetujui di balik setetes embun di ujung pelupuk

"Om, tante, Gray, kak Zer, dokter Makarov, Gildarts-sensei, Yajima-sensei. Saya mohon waktu untuk Lucy, dia harus mengutarakan semuanya …"

"Setelah itu ambillah jalan terbaik menurut kalian, mengerti?" ucap dokter Makarov sebelum keluar diikuti yang lain. Lucy berlutut di samping Natsu. Hening menyelimuti sesaat dikarenakan mulutnya terlalu kaku

"Selamat malam, Natsu. Aku penasaran kau sedang bermimpi apa, sebegitu indahnya kah sampai tidak ingin balik menemui kami?"

"Mungkin kau kaget karena mulutku mendadak manis. Biarkan aku bercerita dalam tidur panjangmu, tentang seorang gadis yang terluka akibat dalihnya sendiri"

"Dahulu, sang gadis hidup bahagia bersama seorang lelaki. Mereka saling membagi cinta, kasih sayang, canda tawa. Namun suatu hari … seekor serigala datang merusak kebahagiaan. Atas sebuah inisiatif, si gadis berniat berpisah dengannya, memilih binatang buas itu meskipun harus dibenci"

"Cowok tau gadis hanya berpura-pura. Dia meminta agar mereka bisa seperti dahulu, tetapi hatinya bersikukuh memilih berpisah, bahkan demi menunjang keputusan egois tersebut, si gadis sampai mencaci maki, melukai perasaannya, lalu pergi begitu saja"

"Penyesalan hafal betul kapan mesti menampakkan diri. Si gadis merasa hampa, ia sadar hanya mencintai sang lelaki. Kesempatan untuk balik menghilang. Ia terkapar dalam tidur panjang sepertimu. Dokter berpesan, 'kematiannya tinggal menunggu waktu', ta-tapi … kedua tangan itu justru menyuntikkan racun berharap dia cepat meninggal …"

"Gadis itu adalah aku sendiri, Lucy Heartfilia. Jellal benar, kebencian yang kubuat hanya menusuk semakin dalam, lalu pergi meninggalkan setelah tau arti menyesal. Natsu, telinga dan hatiku lapang tidak memerlukan maafmu, tapi setidaknya … jarak di antara kita terhapuskan, kembali dekat bagai sahabat sehidup-semati"

"Tidak perlu membuka mata. Memaksakan diri berjuang demi wanita bodoh macamku. Gray mengatakan, 'bagaimana bisa, aku beranggapan kau memahami betul penderitaan Natsu?'. Dia benar-benar marah, dengki terhadapku, menaruh benci … tapi kesombonganku justru dipertahankan sebagai harga mati"

"Selain berkata maaf, maaf dan maaf aku tidak bisa apa-apa. Aku menyerahkanmu kepada Tuhan, keputusan dokter. Menarilah di atas awan, bernyanyi, syairkan puisi mengenai kehidupan yang kau perjuangkan, jangan sebut nama Lucy Heartfilia, ingatlah sahabat-sahabat baikmu"

"Aku mengakuinya … kau adalah orang paling bahagia yang pernah ku kenal! Terima kasih banyak, seribu, dua ribu, tak terhingga! Terima … kasih …"

Dirasa cukup, penghuni luar berbondong-bondong memasuki kamar inap. Giliran dokter Makarov mengambil alih, pembesuk yang hadir diharuskan memilih, membiarkan Natsu hidup dibantu serangkai alat medis, atau melepasnya dan membiarkan dia meninggal dengan tenang. Separuh bersikukuh agar keputusan jatuh di pilihan pertama, para guru golput sedangkan Gray, Jellal juga Lucy mengikhlaskan supaya teman mereka pulang ke surga.

"Lihat dok! Kau harus mengupayakan segala cara demi Natsu, anak kami …"

"Maaf menyelamu, ibu. Aku rasa tidak berguna, harapan yang kita dambakan sudah lenyap entah sejak kapan. Natsu masih hidup kita semua tau itu. Namun … jika dibantu alat maka hanya menyiksanya secara fisik!"

"Gray, Jellal, dan kau Lucy, walaupun keberadaanmu tidak diharapkan, aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Pasti kalian berpikir, 'untuk apa mempertahankan Natsu daripada ia terus menderita?'. Ayah, ibu, jelas ini terdengar egois. Dokter, kumohon lepaskan selang-selang tersebut"

"Zeref kenapa kau melakukannya?! Bagaimana acara piknik kalian? Impian lulus SMA? Kuliah? Foto kelulusan? Ibu yakin Natsu masih ingin berjuang demi secercah harapan, sebuah keinginan!"

"Batin kami terikat denganmu. Ibu dapat merasakan penderitaan Natsu. Rambutnya botak. Badan sering lemas. Jatuh sakit berkali-kali. Dipermalukan, dipergunjingkan, dihina … kau orang pertama yang paling mengerti!"

"Kehilangan dan kematian merupakan cara tercepat bagi manusia, untuk mengerti betapa sulitnya menghargai seseorang. Lucy, jika kamu belum memahami ucapanku ini, kau tidak pantas mencintai Natsu sedikitpun"

Tut … tut … tut …

"Nghhhh … Lu … cy …" semua fokus pada suara bartion itu. Perlahan-lahan tapi pasti Natsu membuka matanya, sembari tersenyum lemah menyapa para penghuni yang meneteskan air mata bahagia

"Dia … bangun …"

"Rasanya sulit kembali kesini. Ayah, ibu, kak Zeref, aku mengucapkan terima kasih karena mau berjuang bersamaku. Jellal, kau sahabat terbaikku meski kita sempat berpisah. Jaga kesehatanmu baik-baik, jangan masuk rumah sakit lagi"

"Gray, berhentilah bertengkar dan membuat om serta tante sedih. Kamu tidak kesepian, jiwaku selalu di sisimu sampai kapanpun"

"Gildarts-sensei saya menyukai kebaikanmu yang menerimaku apa adanya. Yajima-sensei, pelajaran bahasa Jepangmu selalu menyenangkan. Teruslah bersemangat demi mengajar kami, para murid"

"Lucy pengkhianat kecilku. Selama tertidur lelap aku bermimpi kau datang kembali, meminta maaf sambil menangis tersedu-sedu. Namun bukan itu yang kuinginkan, cintaku kamu anggap apa …?"

"Tak terbatas oleh benci. Cinta yang bahkan tak dapat digapai oleh uluran tanganku. Natsu, pengorbananmu begitu banyak untukku. Maaf jika tidak bisa membalas semuanya, sebagai ganti … kau boleh meminta apapun"

"Berikan aku ciumanmu. Biarkan aku memanggilmu Luce terakhir kalinya"

"Tentu Natsu … akan kuberikan segalanya. Sayang, kata-kata itu tidak boleh diucapkan seorang pengkhianat"

Terakhir kalinya, ketika suara itu kian melemah, Lucy mencium singkat bibir Natsu, mengisyaratkan sampai jumpa terdalam sekaligus perasaannya. Mata yang tertutup, senyum terukir di bibir, siapapun tak dapat menyangkal, bahwa Natsu Dragneel ialah pemuda paling bahagia sedunia untuk hari ini, besok, besok dan besok hingga malam berganti fajar.

Kebahagiaan abadi melebihi harta duniawai.

Cinta, kasih sayang, pengorbanan, sahabat, keluarga. Apalagi yang mampu membayarnya, selain ucapan syukur kepada Tuhan Maha Esa.

Jangan pernah lepaskan siapapun meski kamu membencinya.

Penyesalan itu pahit dan mahal …

Akan lebih baik, kau gunakan air matamu demi hari esok yang cerah.

Bukan menangis demi penyesalan semata …

Tamat

A/N : Yak aku minta maaf jika moment NaLu sedikit banget, di akhirnya malahan sedih. Tetapi menurutku, ini moment terbaik yang dapat kutuliskan. Kapan-kapan aku akan membuat moment NaLu yang bahagia, daripada baper mulu gak punya pacar pula di malam minggu /ehkeceplosan

Review please?

Balasan review :

kazugaya Dragneel : Tuh udah mati, pasti puas deh. Thx ya udah review.

Fic of Delusion : Masih menderita tuh, tapi gak apa-apa Natsu udah tenang hahaha. Sayang gak sesuai ekspetasi, tapi intinya Sting tetap mati toh. Thx ya udah review.

Stayawake123 : Sama yang bikin juga gak tega, kayaknya kejam banget gitu. Thx ya udah review.

Sakurako-san 007 : Ya udah tamat ini, semoga suka dengan ending-nya. Thx udah review.

Aoi Shiki : Lah malah milih Gray hahaha, ya daripada sakit hati. Thx ya udah review semoga suka dengan ending-nya.

its me : Yeah Natsu sudah berjuang, relakan saja dia ke surga oke? Thx udah review.