Seorang pria berusia sekitar dua puluh tujuh tahun terlihat sedang berkutat dengan dokumen-dokumen yang menumpuk di atas mejanya. Tangannya sekali-kali mengacak surai biru kehitaman miliknya terlihat jika dia frustasi. Jika orang yang melihat mungkin akan berpikir bahwa pria itu frustasi dengan dokumen-dokumen di hadapannya, namun pada kenyataannya bukan itu yang di pikirkannya. Dirinya tidak fokus dengan dokumen itu karena memikirkan seseorang yang entah sejak kapan merasuki pikirannya hingga membuatnya frustasi.

"Teme!" Dobrakan pintu di sertai teriakan dari pria berambut pirang membuatnya semakin frustasi.

"Bisakah kau membuka pintu lebih sopan dobe." Sahutnya marah.

"Apa yang kau lakukan brengsek. Kau akhir-akhir ini tidak berada di kantor dan menggantikan Kakhasi untuk rapat. Ada apa denganmu Sasuke? Dan aku dengar kau tidak pulang di apartemenmu itu." 'Lebih tepatnya apartemen barunya karena selama ini aku pulang ke apartemen lamaku' batin Sasuke.

"Apa kau mempunyai wanita lain lagi huh? Kau brengsek teme. Kau mau mengulang kejadian enam tahun lalu huh?!" Pemuda pirang itu mencengjeram kerah Sasuke. "Aku akan menghajarmu sampai benar-benar mati jika kau membuatnya menangis. Hargai dia sebagai tunanganmu brengsek." Desis Naruto. Dia sudah tahu kejadian enam tahun lalu yang membuat sahabatnya menghilang dan saat itu pula Naruto menghajar Sasuke sampai hampir berakhir di rumah sakit. Jika saja Sasuke melawan mungkin dia tidak akan berakhir di rumah sakit, namun dia tidak mau melawan. Dan apalagi sekarang tunangan pria itu adalah orang yang dia sayangi maka dia benar-benar akan membunuh pria tampan di hadapannya.

"Lepaskan Naruto." Sasuke melepaskan cengkraman Naruto dan merapikan kemeja yang sedikit berantakan itu.

"Aku bertemu seorang gadis kecil berusia lima tahun." Naruto mengerutkan keningnya bingung dengan prnjelasan Sasuke namun dia lebih memilih diam setelah melihat raut wajah Sasuke menjadi serius.

"Gadis kecil itu bersekolah sama dengan Kenji juga anakmu. Aku bertemu dengannya ketika akan menjemput Kenji, namun ternyata ka-san sudah menjemputnya lebih dulu. Aku melihat gadis itu menunggu orangtuanya. Karena kasihan maka aku menemaninya dan mengantarnya pulang." Naruto sedikit terkejut dengan ucapan Sasuke, pasalnya pria itu tidak pernah peduli dengan orang di sekitarnya—kecuali gadis yang menghilang enam tahun yang lalu, apalagi orang asing.

"Aku tidak tahu kenapa setelah itu aku ingin bersama gadis kecil itu. Dan sejak saat itu aku mengawasi gadis itu." Naruto bersumpah jika Sasuke benar-benar membenci anak kecil, apalagi untuk bersama-sama dengan anak kecil bahkan dengan Kenji maupun anak Naruto pun dia benar-benar menghindar, tapi ini dia ingin bersama gadis kecil itu. Sungguh keajaiban.

"Siapa nama gadis kecil itu?"

"Sarada. Dia tidak menyebutkan marganya." Ucap Sasuke singkat ketika melihat Naruto hendak membuka mulut. "Dia memiliki rambut hitam dan mata onyx yang lembut." Sasuke mengingat-ngingat wajah gadis itu.

"Kemarin aku mengajak Sarada ke apartemen lamaku." Naruto melotot mendengarnya. "Dia bisa bermain piano dan kau tahu lagu apa yang dia mainkan? Lagu itu...lagu yang sering 'kami' nyanyikan dulu." Naruto tidak bisa menanggapi bagaimana untuk sahabatnya itu. Hatinya merasa sesak ketika sahabatnya itu menyebut kata 'kami'. Naruto menepuk bah sabatnya.

"Percayalah mungkin itu hanya sebuah kebetulan. Semua orang mengenal lagu itu. Lagu itu terkenal di jaman kita." Ucap Naruto meyakinkan.

.

.


.

.

Haru no Sakura

Disclaimer : Naruto© Masashi Kishimoto

Sakura, Sarada, Sasuke

Rate: T

Genre: Drama, Romance, Family

Warning: OOC, typo, alur berantakan, ide mungkin pasaran, dll.

Don't like Don't read!

.

.


.

.

Akhir pekan hari ini Sakura benar-benar libur dari pekerjaan dan juga kulihnya. Sebenarnya dia meminta cuti hari ini dan managernya juga memberinya cuti walau hanya satu hari. Rencananya Sakura akan membawa Sarada di penginapan tradisional bersama keluarga Nara. Meskipun penginapan itu dekat dengan Tokyo—mengingat Sakura hanya libur satu hari— tapi mereka menikmati liburan ini. Bermain ski, lempar bola salju dan memakan Oden bersama. Oden adalah sejenis sup berisi bakso ikan, telur rebus, daikon (lobak) dan konnyaku. Oden dimasak dalam mangkuk besar di tengah meja dan dimakan bersama-sama ketika masih hangat. Juga ada hidangan lain seperti nabeyaki udon, udon kabocha, khas makanan yang sangat pas di musim dingin ini terlebih akan memasuki bulan febuari jadi udara bertambah dingin, tidak lupa secangkir teh hijau hangat, karena ada anak kecil jadi mereka tidak memesan sake.

Setelah makan malam mereka tidur di kamar masing masing, sebenarnya ada lima kamar yang kosong tapi Sakura memilih tidur bersama Sarada. Jadi keluarga Nara, Sakura dan Sarada, Tsunade dan Tenten juga tidur satu ruangan.

"Kata bibi Temari kau punya teman baru. Benarkah Sarada-chan?" Ucapnya mengelus kepala Sarada yang berbaring di sampingnya.

"Iya ma. Paman itu tampan dan baik hati. Dia yang mengantar Sarada waktu itu."

"Paman?"

"Iya. Dia papanya temanku." Meskipun Sarada tidak tahu siapa anak paman tampan itu tapi dia yakin apabila anak itu temannya. Akhirnya dia menceritakan paman itu pada mamanya.

Sakura yang mendengar itu agak was-was. Dia takut orang itu berniay jahat pada Sarada. Dan Sarada tidak memberitahu nama paman itu membuatnya semakin was-was.

"Tapi kamu harus hati-hati dengan orang asing, mengerti?" Nasihat Sakura pada akhirnya.

"Iya mama. Oh iya ma. Katanya setiap musim semi akan ada festifal di sekolahku hlo. Dan akan ada pertunjukan tiap kelas sebagai penutupnya. Orangtua siswa di undang dan aku ingin mama hadir." Celoteh Sarada ceria. Sakura tersenyum lembut dan mencium hidung Sarada.

"Tentu sayang. Mama harap kamu ikut dalam pertunjukan itu agar mama bangga punya anak seberani Sarada."

"Tentu Sarada akan tampil dalam pertunjukan. Aku akan buktikan kalau Sarada hebat." Sakura terkekeh.

"Dan mama akan memelukmu di panggung setelah pertunjukanmu selesei agar semua orang tahu mama bangga dan menyayangimu." Sarada mendelik mendengarnya.

"Jika mama melakukan itu Sarada akan malu mama." Sakura terkekeh melihat Sarada merengut. Sungguh menggoda anak semata wayangnya itu adalah hal yang menyenangkan.

.

.

.

Setelah malam itu Sakura kembali sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Sarada merasa mamanya semakin sibuk dan jarang bertemu dengannya.

Bahkan di pagi hari Sarada tidak menemukan Sakura di pagi hari saat sarapan. Sekarang Sakura juga tidak sempat sarapan dengan alasan terburu-buru.

Di malam haripun Sakura tidak lagi membacakan dongeng untuk Sarada di karenakan pulang larut.

Pernah suatu hari Sarada menunggu di ruang tamu untuk menunggu mamanya. Mengabaikan bujukan nenek dan tantenya untuk menunggu di kamar saja. Hingga nenek dan tantenya ikut menunggu sampai mereka tertidur. Tanpa sadar gadis kecil itu tertidur juga di sofa ruang tamu dengan posisi duduk kepalanya menyandar sisi sofa.

Ketika Sakura pulang dirinya terkejut melihat Sarada tertidur di sofa. Hatinya berdenyut sakit melihatnya. Dengan perlahan dia mendekati Sarada dan duduk di samping Sarada.

"Kau baru pulang Sakura?" Ucap Tsunade pelan dengan suara serak.

"Maaf ka-san. Manager itu benar-benar membuat aku kehilangan waktu dengan Sarada. Kenapa kalian tidur di sini?" Ucap Sakura khawatir.

"Sarada bersikeras menunggumu di sini. Kami sudah membujuk Sarada, tapi dia tetap keras kepala."

"Maaf merepotkan kalian. Aku akan menggendongnya ke kamar. Ka-san bangunkan Tenten saja. Kalian pasti capek." Ucapnya tulus.

"Tidak apa. Sepertinya Sarada merindukanmu. Kau juga cepatlah tidur. Seharusnya manager itu memberi waktu luang untuk anakmu."

"Aku sudah memprotes itu." Sakura mendesah lelah. "Hanya saja mereka tidak mengijinkan aku mengaku jika aku sudah memiliki anak. Maafkan aku ka-san, aku tidak bermaksud menyembunyikan Sarada dari masyarakat tapi aki juga tidak ingin Sarada dalam bahaya jika ada yang tahu bahwa Sarada anakku. Manager bilang jika anaki kita di ketahui media itu bisa di manfaatkan penculik." Jelasnya panjang lebar. Meskipun kurang setuju tapi akhirnya Tsunade mengerti perasaan putri angkatnya. Mungkin itu adalah pilihan terberat untuk Sakura.

Setelah berpamitan dengan ibunya, wanita musim semi itu menggendong anaknya naik lantai dua menuju kamar putri semata wayangnya.

Di tidurkannya Sarada di ranjangnya kemudian melepas kacamata yang dipakai Sarada. Setelah itu dirinya berbaring di sebelah Sarada. Seperti biasanya dia akan mencium kening, hidung, setelah mencium hidung Sarada gadis kecil itu membuka sedikit matanya dan bergumam, "Mamaa." dengan suara serak setelah itu memeluk Sakura dan memejamkan matanya lagi. Sakura juga mengeratkan pelukannya pada Sarada setelah mencium kening, hidung dan bibir Sarada. Rasanya hari-hari ini dirinya tidak pernah benar-benar bisa beristirahat. Badannya begitu lelah, bahkan untuk mandipun dirinya tak sanggup hingga tidur tanpa mandi terlebih dahulu.

.

.

.

Dua minggu sudah Sakura sibuk dengan pekerjaannya membuat Sarada semakin merasa kurang di perhatikan. Juga dua minggu itu Sarada semakin bertambah nakal. Sering menghilang membuat nenek dan bibinya khawatir. Di sekolah juga Sarada berulah mbuat Sai-sensi yang merupakan wali kelasnya kualahan. Sarada yang biasanya tenang ketika di ganggu Boruto, teman sekelas Sarada yang selalu berbuat onar sekarang Sarada menanggapi hingga mereka berdua berkelahi.

Pernah suatu hari,puncak kesabaran Sai habis sudah ketika Boruto mengejek— entah apa itu, Sai tidak tahu— dan Sarada menghajarnya sampai babak belur. Anehnya setelah itu yang menangis bukan Boruto dan malah Sarada yang menangis. Shikadai yang biasanya selalu menenangkan Saradapun kini sedikit kualahan. Setelah itu Boruto di bawa ke ruang kesehatan bersama Anko-sensei, dan Sarada bersama Shikadai di ruangan Sai. Sensei tampan itu memanggil orangtua Boruto juga Sarada. Sai meninggalkan Shikadai yang tengah menenangkan Sarada di ruangannya. Sebenarnya dia tidak suka hal-hal merepotkan seperti ini. Namun jika itu untuk Sarada maka Shikadai tidak akan keberatan.

"Jangan menangis lagi Sarada. Nanti mama akan sedih melihatmu menangis." Ucap Shikadai mengelus rambut Sarada yang masih terisak. Sarada bukan anak yang mudah menangis, tapi jika dia menangis akan susah untuk membujuknya.

"Jangan dengarkan Boruto. Dia hanya ingin cari perhatian saja."

"Tapi dia mengejek mama. Dia bilang aku tidak punya papa hiks.."

"Siapa bilang kamu tidak punya papa. Jika mamamu juga mamaku berarti tou-san ku juga tou-sanmu Sarada." Ucapnya polos.

"Tapi kamu punya dua mama."

"Berarti kita sama. Tou-san ku juga tou-sanmu, dan kita punya dua mama— ka-san dan mama kan adikku. Dan Boruto tidak punya kakak sepertimu jadi dia iri."

"Benarkah?" Shikadai menghapus airmata Sarada kemudian mengangguk membuat onyx Sarada berbinar senang mendengarnya. Setelah itu Sarada memeluk Shikadai.

.

.

.

Sakura tergesa-gesa berjalan memasuki sekolah di temani Shikamaru. Setelah di telefon Sai dirinya meminta Shikamaru untuk ikut menjemput Sarada. Dirinya merutuki kebodohannya yang mengijinkan Tenten mengajari bela diri di usianya yang masih kecil hingga menyalah gunakan kemampuannya itu. Mereka memasuki ruangan Sai setelah sebelumnya mengetuk pintu ruangan itu. Ketika dirinya masuk Sakura langsung memeluk Sarada setelah memarahi sebentar Sarada. Sai bilang orangtua teman Sarada di ruang kesehatan setelah menemui Sai. Sakura meminta maaf karena dirinya datang terlambat dan tidak sempat meminta maaf pada keluarga 'korban' amukan Sarada. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Sai merekapun akhirnya pamit pulang dan keluar dari ruangan Sai.

Di koridor persimpangan Sakura terkejut bertemu dengan seseorang wanita berambut gelap sedang menggandeng anak lelaki berambut pirang yang terlihat babak belur dan anak lelaki berambut hitam beriris hazel yang berusia mungkin tiga tahun lebih tua dari Sarada. Wanita yang sedang mengomel tadi juga sempat terkejut dengan mata membulat.

"Sa-sakura-chan." Ucap wanita itu ragu.

Shikamaru dapat melihat bahu wanita disampingnya menegang ketika wanita itu menyebut nama Sakura.

"Hinata." Ucap Sakura lirih.

"Oh astaga, ya tuhan. Kau benar Sakura-chan." Wanita itu memeluk Sakura, namun Sakura tak membalas pelukannya.

"Kemana saja kau selama ini. Kau menghilang. Kami mencemaskanmu. Kau bahkan pergi tanpa memberitahu siapapun." Hinata langsung menanyai wanita itu meski hanya di jawab diam.

Iris ametyse Hinata melihat Shikamaru kemudian beralih melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengan pria dewasa— yang sedang memandang sinis Boruto— dan berhenti pada seorang gadis kecil berkacamata berambut gelap dengan onyx yang tajam sedang mengalihkn pandangan kearah lain. Hinata memandang intens Sarada seperti mengingat-ingat sesuatu dan langsung tersentak ketika sebuah deheman dari pria dewasa tadi.

"Sepertinya aku bersama anak-anak akan menunggu di mobil dulu." Ucap Shikamaru menepuk bahu Sakura.

"Dasar anak manja." Meskipun pelan Sarada bisa mendengarnya dan akan menghajar Boruto lagi jika Shikamaru tidak cepat menggendongnya.

"Mama.. Ayo pulang jangan bicara dengan banci itu." Ucap Sarada lantang yang langsung di beri deathglare Boruto.

"Sarada, Shikadai mama nanti akan menyusul. Ayo kita ke mobil dulu." Ujar Shikamaru menggendong Sarada dan menggandeng Shikadai. Membungkuk sekilas dan mengucapkan maaf mereka bertigapun berlalu meninggalkan Sakura juga Hinata. Wanita bersurai gelap itu juga menyuruh Boruto dan Kenji— itu yang Hinata panggil tadi— juga masuk kemobil bersama supir.

"Maafkan anakku yang menghajar putra anda." Ucapan formal Sakura membuat Hinata kaget.

"Aku juga minta maaf karena ulah Boruto. Kenapa kau menghilang Sakura. Kami mencemaskanmu. Dan aku terkejut ketika kau tampil di dunia musik lagi." Hinata sungguh tidak sabar dengan semua yang ingin dia tanyakan, namun sikap dingin Sakura membuatnya diam seketika.

"Maaf, tapi saya ada urusan lain." Sakura berbalik bersiap meninggalkan Hinata sebelum tersentak mendengarkan ucapan Hinata.

"Bahkan Sasuke mencemaskanmu waktu itu. Kau tidak tahu bagaimana dia ter—" Sakura berbalik menghadap Hinata lagi dan memotong ucapannya.

"Mencemaskanku? Jangan konyol. Bahkan aku masih ingat dengan berita pertunangan mereka yang tersebar di berbagai media lima tahun lalu, satu tahun setelah aku pergi." Sakura meninggikan suaranya membuat Hinata syok. "Maaf Hinata. Hidupku sudah bahagia dengan anakku dan keluargaku sekarang. Aku harap kau tidak memberitahu siapapun dan anggap saja kita tidak pernah saling kenal." Sakura berbalik dan melangkah menuju mobil, memasang sabuk pengaman setelah di dalam mobil dan terlihat bergumam sebelum menatap ke depan dan menoleh kebelakang berkata sesuatu, kemudian mobil berlalu. Namun Hinata masih melihat kepergian mobil itu. Hatinya berdenyut mendengar ucapan terakhir Sakura. Tanpa terasa airmata itu jatuh juga. Cepat-cepat di hapusnya airmata yang mengalir dan menuju mobilnya untuk pulang.

Di dalam mobil Hinata hanya diam, melupakan keinginan untuk mengomeli anak sulungnya dan mengabaikan Kenji yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Kenji adalah anak dari Itachi dan Erza yang lebih tua dua tahun dari Boruto. Hinata akan menjemput Kenji sekalian jika ia yang menjemput. Terkadang Sasuke juga menjemputnya, namun jarang mengingat pria itu membenci anak kecil.

.

.

.

Malam harinya Hinata berfikir siapa pria yang bersama Sakura. Sempat terfikir jika dia adalah suami Sakura. Namun setelah mendengar ucapan Boruto tadi rasanya bukan.

FLASBACK.

"Kenapa kau selalu berbuat nakal Boruto. Kau mengecewakan ayahmu." Habis sudah kesabaran Hinata hingga meledak seperti ini di ruang kesehatan.

"Bahkan mungkin ayah tidak peduli denganku." Sahut Boruto.

"Ayahmu sibuk, seharusnya kau mengerti. Dan jangan membuat orang lain tersakiti dengan ucapanmu itu. Mungkin ka-san akan memahami jika kau hanya mencoret dinding dan meja atau kau membolos, tapi ka-san akan marah jika kau melukai hati orang lain dengan ucapanmu."

"Ka-san tidak mengerti."

"Kalau begitu buat ka-san mengerti dengan keinginanmu." Nada Hinata mulai melembut.

"Aku hanya iri dengan Sarada. Dia tidak memiliki ayah, tapi dia selalu di perhatikan oleh paman Shikamaru. Dia menyayangi Sarada, belum lagi Sai-sensei yang juga perhatian dan peduli dengannya. Sarada juga mempunyai Shikadai yang selalu melindunginya. Dia tidak memiliki ayah atau mungkin keluarga yang utuh, sementara aku? Aku mempunyai ayah namun dia sama sekali tak peduli padaku. Bahkan aku ragu apakah dia menyayangiku." Hati Hinata berdenyut mendengar isi hati anak sulungnya. Dia mengerti betapa Boruto ingin selalu bersama ayahnya dan iri melihat temannya yang di sayangi banyak orang. Naruto— suami Hinata, menjadi sibuk karena mengurus perusahaan ayah Hinata sebagai bukti bahwa dia benar-benar serius dengan Hinata. Dan wanita itu tidak bisa menyalahkan Naruto karena ia sendiri bekerja untuk masa depan keluarganya. Dan dia menyesal Boruto tumbuh tidak sesuai umurnya, dia menjadi berpikir dewasa sebelum umurnya. Di peluknya Boruto dengan sayang.

FLASH BACK END.

Ketika Hinata mengingat kembali gadis kecil yang ia tahu bernama Sarada, dia seperti melihat seseorng yang sangat familiar. Namun terlihat buram. Seperti perpaduan antara Sakura dengan seseorang, namun entahlah dia lupa. Dirinya ingin memberi tahu suaminya namun niat itu di urungkan ketika mengingat kembali ucapan Sakura. Biarlah suatu saat nanti semua akan terungkap jadi dia pendam sendiri.

.

.

.

Setelah kejadian bertemunya Sakura dengan Hinata, wanita itu menjadi was-was takut apabila Hinata memberitahu orang lain apabila dia memiliki Sarada. Bukan takut akan karirnya yang mungkin akan hancur, sungguh karir itu tidak berarti dibandingkan dengan Sarada. Melainkan takut apabila suatu saat nanti dia akan kehilangan Sarada.

Dirinya meminta pada Shion— managernya, untuk memberi sedikit waktu luang agar tidak membuatnya kehilangan waktu bersama anaknya. Meski sedikit berat akhirnya Shionpun memberinya waktu dan mengatur ulang jadwalnya.

Setiap hari dirinya sendirilah yang menjemput Sarada, dan meminta pada ibunya jika tidak bisa. Setelah kejadian Sarada menghajar temannya, mereka membicarakan masalah itu dan Sarada mengungkapkan bahwa sebenarnya dia merindukan mamanya. Akhirnya Sakura berjanji menemani Sarada dan akan meluangkan waktu dengan Sarada.

Dan hari di mana Sakura kembali terkejut pun datang lagi. Sama seperti tiga hari lalu, Sakura terkejut dengan kehadiran seseorang yang sangat ingin dia hindari. Entah hanya kebetulan atau takdir yang mempermainkan Sakura hingga dia bertemu dengan seorang yang berada di masa lalunya ketika menjemput Sarada.

Mata onyx pria di hadapannya membulat melihat siapa yang ada di hadapannya. Mata onyx itu memandang Sakura dengan ekspresi yang sulit di artikan namun tersirat keterkejutan.

Teriakan dari seorang anak lelaki menyadarkan mereka ke alam nyata.

"Mama.." Shikadai muncul bersama Shikamaru, Sarada sudah berada di mobil sedari tadi. Sasuke melihat Shikamaru dan Shikadai bergantian dengan intens sebelum memandang Sakura lagi.

"Iya sayang, ayo pulang." Sakura menggandeng Shikadai menuju mobil Shikamaru tanpa menghiraukan pandangan menusuk dari pria reven itu.

Shikamaru dapat melihat ada raut kekecewaan dalam ekspresi pria reven itu.

"Sebelumnya aku minta maaf, tapi kau tidak sopan melihat anakku seperti itu." Ucap Shikamaru yang mendapati pandangan menilai dari Sasuke terhadap anaknya. Setelah itu meninggalkan Sasuke dengan perasaan campur aduk.

"Aku rasa Sarada sudah di jemput orangtuanya baru saja." Sasuke tersentak mendengar ucapan Sai dan melihat pria itu tersenyum aneh.

"Aku menjemput Kenji."

"Oh aku pikir untuk bertemu dengan ratu kecilmu."

"Jangan bercanda Sai."

"Aku menyerah. Kenapa kau begitu peduli dengan Sarada Sasuke?" Sai bertanya menyelidik.

"Apa kau juga menyukai ibunya Sarada hingga perhatian dengan anaknya. Ingatlah kau sudah bertunangan Sasuke." Berteman selama tiga tahun bersama Sasuke membuat Sai tahu bahwa temannya itu tidak begitu suka dengan anak-anak.

"Siapa nama ibunya?" Ucap Sasuke datar. Sai kaget mendengarnya, dia berpikir Sasuke sudah tahu.

"Haruno Sarada itu anak Haruno Sakura." Sasuke menoleh cepat menghadap Sai dengan wajah terkejut.

.

.

.

Hari berikutnya Sasuke datang lebih awal menjemput Sarada dengan maksud agar Sakura tidak lari lagi. Dirinya sudah tahu semua tentang Sarada dari Sai. Dirinya sempat mengira Shikamaru— begitu yang disebut Sai— kemarin itu adalah suami Sakura dan Shikadai—juga Sai yang memberitahu namanya— yang mirip dengan Shikamaru itu adalah anak mereka, namun setelah mendengar penjelasan Sai kemarin membuatnya sedikit lega? mungkin.

Setelah semalaman dirinya berpikir membuat spekulasi baru. Jika sekarang Sarada berumur lima tahun dan Sakura menghilang enam tahun yang lalu maka tidak salah lagi perkiraannya bahwa Sarada adalah anaknya. Namun dia tetap sabar dengan pemikiran itu. Dia tidak ingin terlalu kecewa nantinya.

Bel pulang kelas satu berbunyi, dia melihat Sarada keluar dengan Shikadai dan menghampiri mereka.

"Hai paman. Lama tidak bertemu." Sapa Sarada ceria.

"Sarada. Kau menunggu ora—"

"Ka-san.. Mama.." Seruan Shikadai memotong ucapan Sasuke dan berbalik melihat Sakura bersama wanita pirang bercepol empat.

Sakura sempat syok melihat Sasuke berbicara dengan Sarada sebelum tersenyum pada Sarada. Sarada menghampiri mamanya.

"Mama.. Ini teman baruku ma." Tunjuk Sarada pada Sasuke. Sasuke menyeringai melihat Sakura melihat was-was padanya.

"Lama tidak bertemu Sakura." Temari melihat bahu Sakurq yang menegang menjadi was-was.

"Paman kenal mama?" Tanya Sarada polos.

"Bolehkah paman bicara dengan mamamu?" Ucap Sasuke lembut yang di balas anggukan oleh Sarada.

"Maaf nona, saya akan meminjam Sakura sebentar." Temari terlihat ragu dengan Sasuke dan melihat wanita pink tersebut menggeleng lemah srolah kehilangan tenaga juga suaranya kemudian melihat Sasuke seolah memohon. Akhirnya dengan terpaksa Temari meninggalkan Sakura bersama pria itu bersama dengan Sarada dan Shikadai. Mereka pun pulang tanpa Sakura.

.

.

.

Suasana dalam cafe terasa mencekam bagi mereka berdua meski suara di luar begitu ramai. Sudah lima belas menit mereka berdiam diri tanpa minat meminum pesanannya atau pun untuk memulai berbicara. Bahkan merekapun bingung harus memulai dari mana.

"Aku tidak punya waktu hanya untuk bersantai Uchiha-san." Ucap Sakura memecah keheningan. Tidak mendapat respon dari lawan bicaranya membuat Sakura tidak sabar."

"Apa yang ingin kau bi—"

"Siapa ayah Haruno Sarada." Potong Sasuke to the point membuat Sakura bungkam.

"Tidak bisa menjawab." Sasuke memiringkan kepala sambil menyeringai.

"Itu bukan urusanmu Uchiha. Jangan campuri urusanku lagi. Kau bukan siapa-siapaku." Ucap Sakura sedikit membentak .

"Bukan siapa-siapa?! Tidak ada kata putus diantara kita, itu berarti kau masih kekasihku." Sahut Sasuke dingin.

"Kekasihmu?! Jangan bercanda! Bagaimana mungkin kau mempunyai kekasih sementara kau sendiri bertunangan dengan orang lain." Suara Sakura mulai meninggi.

"Cukup Sasuke. Hubungan kita berakhir. Ku mohon jangan mengganggu kehidupanku dengan anakku lagi. Dan kau tidak berhak mencampuri urusan siapa ayah Sarada." Sakura bangkit dari kursinya berniat meninggalkan pembicaraan yang mungkin akan membuka luka lamanya lagi. Baru selangkah dirinya berjalan namun suara dingin Sasuke terpaksa membuatnya berhenti.

"Aku ayah biologis Sarada." Sakura berbalik dan menatap marah Sasuke.

"Asal kau tahu Uchiha, SARADA BUKAN ANAKMU. DAN ENYAHLAH DARI KEHIDUPAN KAMI." Setelah mengucapkan itu Sakura keluar dari cafe. Untung tempat mereka tertutup hingga tidak membuat mereka menjadi bahan tontonan.

.

.

.

Di dalam taxi pun akhirnya Sakura bisa menumpahkah airmata yang sedari tadi ia tahan agar tidak terjatuh.

Setelah sampai di rumah dirinya menuju kamar Sarada tanpa medulikam panggilan Tsunade. Di peluknya Sarada erat membuat Sarada bingung melihatnya.

"Mamaa."

Menghiraukan rintihan putrinya Sakura mengecup puncak kepala Sarada berulang kali dan menyebut nama anaknya.

Tsunade yang melihatnya mengetahui apa penyebabnya setelah mendengar ucapan Temari tadi.

.

.

.

Dentingan piano mengisi seluruh ruangan bernuansa biru langit. Dalam keheningan malam dentingan musik itulah yang menjadi satu-satunya sumber suara. Seorang wanita paruh baya menatap sendu wanita musim semi yang sedang melantunkan lagu. Siapapun yang mendengar dentingan piano itu pasti akan tahu betapa terlukanya si pemain. Tsunade mendekati anak angkatnya dan memeluk pundak Sakura.

"Belum tidur?" Tanyanya lembut.

"Aku tidak bisa tidur ka-san. Maaf ka-san, apa aku mengganggu tidurmu?" Tsunade menggeleng.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak ada. Hanya aku merass takut saja."

"Takut? Takut kenapa? Ceritakanlah." Pinta Tsunade.

"Aku bertemu dengannya lagi ka-san. Dia.. bertanya siapa ayah biologis Sarada. Aku takut, aku takut bagaimana jika dia mengambil Saradaku?" Sakura memandang Tsunade. Membalikkan badan Sakura Tsunade kemudian memeluk anak angkatnya memberi kekuatan.

"Semua akan baik-baik saja. Ka-san selalu bersamamu."

"Terimakasih ka-san." Sakura menangis dalam pelukan Tsunade. Hanya ibu angkatnya lah yang saat ini bisa dia percaya. Dia tidak ingin mengganggu sahabatnya yang sekarang berada di Korea, biarlah sahabatnya itu bekerja tanpa beban darinya. Cukup dia menyusahkan sahabatnya itu.

.

.

.

Keesokan harinya ketika Sakura berada dalam kampus dirinya di bawa ─lebih tepatnya di culik─ Sasuke hingga dirinya sekarang beradadi sebuah café tertutup sama seperti kemarin untuk membicarakan Sarada meskipun berulang kali dirinya sudah menolak dan mencoba kabur namu tidak bisa karena di luar ruangan ada body guard yang sedia menahannya.

Setelah berdebat dengan alot, akhirnya dia menyetujui untuk melakukan tes DNA antara Sarada, Sasuke dan dirinya. Dirinya merasa konyol karena menerima desakan Sasuke. Sudah pasti Sasuke akan menang darinya. Bahkan dari dulupun Sasuke selalu menang darinya.

Pagi harinya dirinya mengajak Sarada menemui Sasuke dan ketika melihat kedekatan sasuke dengan Sarada hatinya terasa berdenyut, takut apabila Saradanya akan melupakannya. Dan hari itu pun mereka melakukan test DNA.

Belum selesei urusannya dengan Sasuke dirinya kembali mengalami badai dengan munculnya berita tentang dirinya yang sudah memiliki putri. Dirinya tidak mempermasahkan itu akan tretapi managernya berusaha menutup-nutupi tentang berita itu dengan alasan agar dirinya tidak anjlok karirnya. Hal itu membuat Sakura frustasi lantaran di larang berjalan bersama, bahkan Sakura di haruskan tinggal di apartemennya yang lama, apartemen miliknya dan sahabatnya. Jika dirinya terlibat dalam skandal besar seperti ini dia akan di denda tiga kali lipat dari honornya. Semua akan lebih mudah jika Sarada memiliki ayah, itu keterangan dari managernya. Managernya mengetahui jika Sarada lahir tanpa ayah maka dari itu dia menutupi semua itu.

.

.

.

Tiga hari setelah test akhirnya hasilnya pun sudah keluar dan dengan terpaksa dirinya harus bertemu dengan Sasuke lagi. Dan hari di mana semua yang di takutkanpun datang juga. Sasuke meminta Sarada kembali dengan tenangnya seolah semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja itu sangat sulit untuk Sakura. Setelah perdebatan dan alasan kenapa Sasuke meminta kembali Sarada, akhirnya dengan berat hatipun dirinya melepas Sarada. Sasuke memberi tiga hari terakhir untuk Sakura habiskan dengan Sarada.

Tiga hari itu benar-benar di gunakan Sakura dengan baik. Dirinya meminta libur dan meskipun sedikit berdebat dirinya akhirnya di perbolehkan dan dirinya juga membolos dari kuliahnya─ hal yang tidak pernah Sakura lakukan.

Di hari terakhir Sakura menemani Sarada bermain piano.

"Mama.. musim dingin sudah berakhir dan besok hari pertama mesim semi." Ucap Sarada riang tanpa tahu bahwa besok dirinya tidak bisa bertemu dengan mamanya lagi.

"Kamu suka musim semi?" Ucap Sakura sendu.

"Tentu saja. Karena di musim semi aku bisa melihat Sakura dan ketika melihat bunga Sakura di mana-mana maka aku akan teringat mama. Musim semi selalu mengingatkanku pada mama. Aku suka melihat itu. Haru no Sakura, Sakura di musim semi. Bukankah itu nama mama. Namanya cantik seperti mama. Dulu aku ingin memiliki rambut pink dan mata hijau agar mereka tahu bahwa aku anak sang malaikat, mamaku tapi tou-san Shikamaru meskipun warna rambut dan mataku berbeda tapi aku mirip dengan mama. Apa itu benar mama?" Hatinya berdenyut mendengar celotehan Saradanya. Mati-matian dirinya menahan aormatanya agar tidak jatuh namun sia-sia saja pada akhirnya jatuh juga.

"Kenapa mama menangis? Apa tou-san bohong." Cepat-cepat Sakura menggeleng.

"Mama hanya senang karena kamu sangat menginginkan mama. Mama sayang kamu Sarada." Di peluknya Sarada erat.

.

.

.

Awal musim semi tiba, dan saat itu pula lah dirinya harus kembali kehilangan harta berharganya. Dirinya tidak sanggup melepas Sarada hingga akhirnya Tenten dan Tsunadelah yang mengantar. Ketika Sarada akan pergi dirinya berbicara dengan Sarada, mencoba memberi penjelasan.

"kamu ingin mempunyai papakan?" Sarada mengangguk antusias.

"Sekarang kamu akan punya papa. Tapi berjanjilah untuk tidak nakal di sana, mengerti?"

"Hmm, siapa papaku ma?"

"Paman Sasuke adalah papamu. Jadi kamu akan tinggal dengan papamu. Jangan telat makan, minum susu sebelum tidur dan jangan menangis."

"Tapi mama ikutkan?" pertanyaan Sarada semakin membuatnya sakit, dipeluknya Sarada erat.

"Tidak sayang, mama akan pergi lama jadi mama tidak ikut. Mama harus bekerja dan meraih cita-cita mama."

"Tapi mama kembali kan? Terus siapa yang membacakan dongeng setiap Sarada mau tidur?" Dengan hati berdenyut dirinya mengangguk. "iya, di sana akan ada mama yang lain yang akan membacakan dongeng Sarada."

"Hmm.. Berjanjilah mama akan menonton Sarada di festifal sekolah ma. Sarada terpilih untuk tampil di panggung. Mama janji akan datangkan?" susah payah Sakura menahan air matanya dan mengangguk meskipun dirinya tidak yakin. Di ciumnya puncuk kepala, kening, pipi, hidung dan bibir berulang kali dan di peluknya Sarada erat. Berat untuknya melepas anak yang selama ini dia rawat dengan sepenuh hati.

Di hari ini pun datang, perpisahan yang selalu dia takutkan.

Dan pada akhirnya di musim semilah dia harus kehilangan orang yang berharga lagi untuk ke dua kalinya.

Di awal musim semi dirinya harus melepas harta satu-satunya yang dia miliki.

Semua akan baik-baik saja, itulah yang di ucapkan di dalam hatinya untuk menguatkan dirinya sendiri.

Kembalilah lagi dirinya yang dulu, berpura-pura tersenyum seolah semua tak pernah terjadi, dan untuk kedua kalinya hatinya kosong. Karena buah hatinya pun telah pergi.

Seolah hidup tanpa nyawa. Mampu bergerak namun terasa hampa. Tersenyum tapi hanya sebuah lengkungan bibir tak berarti.

Kami-sama selalu punya cara lain untuk membuat skenario. Biarlah semua berjalan seperti seharusnya dan meninggalkan dirinya ke dalam kegelapan tak berdasar.

.

.

.

TBC


.

.

Hai! Sepertinya mau di bikin two-shot juga gak bisa yah.. :D

Oke sepertinya semua rencanaku gagal deh.. Sebenarnya peran Hinata itu lebih panjang lagi tapi ini banyak yang aku skip biar gak kepanjangan tapi tetep aja panjang. XD banyak yang aku potong soalnya moga gak ancur dan gak bosan karena kepanjangan.

Ikuti alurnya ajah deh.. #ngomong sendirikan.

Gak mau banyak ngomong lagi deh. Balas review :

echaNM : yah memang dasarnyakan ntu Sasuke nyebelin. Meskipun nyebelin dia tetep keren hlo #plak.. :D nih udah ketemu ma Saku kok.

Hana : nih udah tau kan siapa Kenji. Kalo hinata mah aku mah kagak tega misahin Hinata ma Naruto makanya bukan Hinata yang jadi tunangan Sasu. XD

Jamurlumutan462 : sasu punya alasan kok kenapa tega ma Saku. Soal pacar Sasu itu sebenarnya Saku dari awalcuman.. yah tau sendiri kan di chap ini

oyoy30 : bukan hinata kok. Ntar muncul kok seorang yang gak di sangka XD yang jadi tunangan Sasu. Kenji anak Itachi kok.

CherystyFlorenza : oke makasih. Nih udah lanjut.

Harika-chan ELF : nih dah lanjut. Jambak ajah aku ikhas, soalnya aku juga greget ma tu orang XD

Firza290 : makasih banget rela-rela review lewat pm gara-gara error. Terharu hlo.. #abaikan, mulai lebay. Nih udah ke jawab pertanyaanmu di chap ini. Bukan hinata kok seseorang itu, mungkin chap depan bakal ketahuan. Di sini juga udah ke jawab kalo Sasu ngrebut Sarada dari Saku.

.

.

Thank to follow/review/favoritnya:

BubbleChickenButt, Harika-chan ELF, Jamurlumutan462, RanCherry, cuke cuka nalu, echaNM, moydini, Taka Momiji, Yumi UchiHaruno,

.

.

.

See u next chapter..