Seorang gadis berambut merah muda sedang menunggu seseorang di counter bar. Gadis itu meminta satu gelasTequila lagi pada bartender. Setalah minuman itu datang gadis itu hendak meminum namun terhenti ketika ponselnya berbunyi. Dia menaruh lagi gelas itu dan mengangkat telepon yang ternyata adalah Fuma, managernya. Tanpa gadis itu sadari bahwa ada seseorang memakai topi sedari tadi memperhatikannya. Seorang yang di perkirakan seorang gadis —jika di lihat dari penampilannya— memasukan sesuatu pada minuman gadis musim semi yang masih sibuk dengan ponselnya. Setelah itu gadis bertopi itu segera beranjak pergi ketika gadis pink tadi memasukan ponselnya. Dirinya tersenyum mendapati seseorang yang sedari tadi dia tunggu melangkah ke arahnya.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya pemuda reven.
"Tidak juga. Kenapa menyuruhku kemari Sasuke-kun?" Gadis itu tersenyum lembut pada pemuda itu.
"Aku ingin berbicara sesuatu." Onyx pemuda itu menatap emerald sang kekasih yang langsung berpaling karena gugup. Gadis itu meraih gelas untuk mengurangi kegugupannya dan hendak meminumnya ketika dengan cepat pemuda itu mengambil gelasnya dari sang kekasih.
"Kau payah jika berurusan dengan alkohol. Jangan minum lagi." Ucapnya tersirat nada khawatir dalam suaranya. Pemuda itu langsung meminumnya dalam sekali tegak. Gadis itu pasrah melihat kekasihnya tidak memperbolehkan dirinya minum.
Beberapa menit kemudian tubuh pemuda itu menjadi panas. Dirinya tidak tahu apa yang terjadi hingga tubuhnya terasa terbakar. Dia juga melupakan apa yang ingin dia bicarakan dan mencium kekasihnya. Perlahan ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman panas. Gadis itu tersentak ketika sang kekasih meremas dadanya.
"Sasuke-kun.."
"Sakura.. Aku.. ayo kita pulang." Ucap Sasuke terbata menahan sesuatu.
Dirinya membawa kekasihnya ke apartemen dan langsung menerjang gadis itu dengan cumbuannya.
"Sasuke.. Ahh kita tidak boleh seperti ini. Maksudku aku belum siap ahh" Ucap gadis itu di sela desahannya namun kekasihnya tak menghiraukan dan terus mencumbunya hingga tanpa sadar mereka berada di kamar.
"Maaf Sakura. Aku tidak bisa menahannya lagi." Setelah mengucapkan itu pemuda itu melepas pakaiannya dan pakaian gadis pink itu. Dirinya sudah terselimuti nafsu hingga tak menghiraukan rintihan gadis di bawahnya. Berulang kali gadis itu mengatakan bahwa dia mencintai gadis itu namun tidak ada ucapan yang berarti membalas ucapan gadis itu dan hanya desahanlah yang terdengar dari mulut pemuda reven itu.
Gadis itu sedikit kecewa karena tidak bisa menjaga dirinya. Emerald sayunya memandang pemuda yang tertidur di sampingnya. Airmata kembali menetes. Tiga jam mereka bercinta dan setelah itu Sakura kelelahan dan tertidur, namun dirinya terbangun tengah malam dan melihat kekasihnya tertidur. Dirinya begitu mencintai kekasihnya namun dia tidak ingin membuat suster Rin, biarawati yang merawatnya selama ini kecewa melihat dirinya seperti sekarang.
Dirinya kembali tertidur dan menyerahkan nasibnya pada Kami-sama. Biarlah apa yang terjadi selanjutnya hanya Kami-sama yang tahu.
.
.
.
.
Haru no Sakura
Disclaimer : Naruto© Masashi Kishimoto
Sakura, Sarada, Sasuke
Rate: T
Genre: Drama, Romance, Family
Warning: OOC, typo, alur berantakan, ide mungkin pasaran, dll.
Don't like Don't read!
.
.
.
.
Setelah Sakura —yang di wakili Tsunade dan Tenten— menyerahkan Sarada, pria reven itu membawa Sarada ke mansion Uchiha untuk menemui seseorang. Lebih tepatnya bertemu sang nenek yang sedang sakit—atau berpura-pura sakit, Sasuke tidak tahu. Kondisi sang nenek tujuh tahun belakangan ini memang tidak stabil, tapi Sasuke bukanlah seorang yang bodoh hingga terpedaya dengan keinginan neneknya. Neneknya memanfaatkan kondisinya untuk meminta hal-hal aneh pada anak dan cucunya. Bukan cuman Sasuke dan orangtuanya, tetapi juga Itachi yang mau pulang hanya untuk melihat kondisi sang nenek. Itachi meninggalkan mansion ketika dirinya berusia lima belas tahun karena tidak ingin di jodohkan oleh kedua orangtuanya. Dan dia kembali dua tahun terakhir ini dengan membawa istri berkebangsaan London dan seorang anak berusia enam tahun. Fugaku—ayah Itachi dan Sasuke— berusaha mencari dan meminta pada Itachi untuk pulang juga atas desakan sang nenek. Sasuke menggelengkan kepala mengingat kejadian itu hingga berada di depan sebuah ruangan.
Setelah sampai di mansion Uchiha, mereka di sambut baik oleh pelayan-pelayan di sana dan juga tatapan bertanya ketika melihat Sarada. Sasuke langsung menuju kamar sang nenek, karena pada siang hari mereka bekerja dan hari ini Sarada membolos lagi. Sasuke sengaja tidak memberitahu pada keluarganya sebelumnya.
Sarada dapat melihat seorang wanita berumur tertidur dengan infus di tangannya ketika pintu di buka. Dirinya tidak pernah bertanya pada papa barunya kenapa mereka berada di sini.
"Papa siapa dia?" Karena penasaran akhirnya Sarada bertanya.
Seolah tidurnya terusik wanita itu bergerak kemudian membuka mata.
"Sasuke, kau kah itu?"
"Iya nenek. Aku datang bersama seseorang." Pandangan sang nenek bergulir pada gadis berkacamata yang berdiri di samping cucunya.
"Siapa anak kecil itu."
"Dia Uchiha Sarada" Sarada menoleh hendak protes namun Sasuke kembali berbicara, "Putriku." Bola mata onyx sayu itu membulat terkejut kemudian di gantikan sebuah senyum merekah.
"Ohh benarkah. Kemarilah cucuku, aku ingin melihatnya." Sasuke memberi isyarat pada Sarada supaya mendekat dan di turuti Sarada.
Setelah Sarada berdiri di samping tempat tidur, nenek itu duduk dan memeluk Sarada erat hingga suara Sasuke membuat pelukan itu terlepas seketika.
"Aku sudah membawa anakku, itu berarti aku tidak harus cepat-cepat menikah bukan? Keinginan nenek sudah terkabul." Nenek itu memandang Sasuke lelah.
"Apa kau tidak kasihan dengan Sarada yang mungkin saja di cap anak haram jika kau tidak menikahi ibunya?" Sesaat bahu Sasuke menegang.
"Bukankah kalian sudah bertunangan, tinggal menikah tidak masalahkan?" Sasuke membiarkan kesalah pahaman tentang Sarada. Dia tidak ingin bertambah kusut dengan masalahnya.
Setelah berkunjung di kamar sang nenek, Sasuke masuk ke kamar lamanya di mansion dengan Sarada ketika seorang pria berbadan besar dengan pakaian hitam menghampirinya.
"Kapan dia akan pulang?" Tanya Sasuke to the poin.
"Nona akan pulang mungkin seminggu lagi."
"Aku akan tinggal disini. Bawa pakaian Sarada ke kamar sebelahku. Apa dia sudah tahu tentang Sarada?"
"Sepertinya belum tuan." Setelah menyuruh orang tadi keluar, Sasuke menyuruh Sarada mandi dan dirinya menelfon tunangannya yang pergi tiga hari lalu.
Malam harinya Sarada di kenalkan secara resmi pada keluarga besar Uchiha. Sarada terkejut dengan adanya Kenji—yang setahunya adalah seniornya— sekarang menjadi kakak sepupunya. Di sana ada nenek yang tadi Sarada temui duduk di kursi roda dengan tabung infus di samping kirinya di temani wanita berseragam putih, ada pria paruh baya yang di kenalkan sebagai kakek Fugaku, di sampingnya ada wanita paruh baya dengan senyum ramah yang di kenal Sarada dengan Nenek Mikoto, di hadapan Uchiha Fugaku disebut Paman Itachi, di sampingnya ada wanita cantik berambut pirang dengan mata caramel, di samping itu ada Kenji, dan dirinya dduduk antara Kenji dan Sasuke.
Meski banyak yang bertanya siapa ibu Sarada dan apakah benar dia anak Sasuke namun pada akhirnya diam ketika Sasuke menunjukan test DNA antara Sarada dan dirinya.
Di keluarga Uchiha menerima dengan baik kehadiran Sarada meskipun Sasuke tidak mau buka mulut mengenai ibu Sarada.
Setelah makan malam dan berkumpul dengan keluarga Uchiha, Sarada menuju kamarnya bersama Sasuke. Malam ini Sasuke akan menemani Sarada tidur di kamar putrinya.
"Cepat tidur Sarada." Ucap Sasuke ketika melihat Sarada belum menutup matanya juga sedari setengah jam yang lalu.
"Papa.." Panggil Sarada.
"Hn." Balas Sasuke datar sembari mengelus surai hitam putrinya.
"Dulu ketika aku bertanya sama mama di mana papaku, mama pasti selalu bilang bahwa papaku pergi jauh sekali untuk membangun istana untuk kami tinggal bersama." Sasuke menyimak baik-baik celotehan putrinya. "Namun, lama-lama aku tahu jika mama bohong. Mama juga tidak tahu di mana papa sebenarnya. Ketika aku menangis Shikadai berkata mama tidak bohong, dia bilang papa akan kembali. Dan aku percaya itu." Sasuke tidak tahu harus bagaimana menanggapi omongan Sarada. Rasa bersalah menghinggap di hatinya. "Dan sekarang aku tahu jika mama tidak berbohong padaku. Karena sekarang aku tahu papa kembali dan membawa aku ke istana yang sangat besar dan indah. Sama seperti di dongeng-dongeng. Aku sangat senang bisa bertemu papa dan melihat istana ini. Apa papa bekerja keras untuk membuat istana ini." Meskipun sedikit ragu Sasuke akhirnya mengangguk juga.
"Kalau begitu sekarang kau tidur." Setelah berucap Sasuke mencium puncuk kepala Sarada dan memeluk erat Sarada.
Mulai pagi ini Sarada akan berangkat bersama Kenji dengan di antar Sasuke.
Sarada merasa beruntung masih bisa bertemu Shikadai di sekolah. Dan dirinya sangat senang ketika terpilih untuk bisa tampil di panggung dengan permainan pianonya. Dia akan tampil untuk sang mama. Berharap mamanya tidak melupakan janjinya untuk melihatnya tampil.
.
.
.
Lima hari berlalu, setiap malam Sarada susah untuk tidur dan terkadang dirinya menangis memanggil mamanya tengah malam hingga membuat Sasuke terbangun. Bahkan Sarada susah untuk makan. Mungkin jika Sarada tidak ingat dengan janjinya pada Sakura, dia akan menangis karena merindukan mamanya. Sasuke selalu membujuk Sarada agar mau makan juga bicara tapi percuma dan Sasuke sudah frustasi. Semua tidak bisa membujuk Sarada. Bahkan terkadang Mikoto ikut terbangun mendengar tangisan Sarada di tengah malam, Mikoto sampai ikut menangis melihat Sarada tidak juga mereda tangisannya. Nenek Sasuke menyuruh Sasuke agar ibu Sarada tinggal di sini saja tapi Sasuke bergeming. Jika mereka tahu siapa yang di panggil Sarada selama ini Sasuke tidak yakin apakah sang nenek masih menawarinya seperti itu.
.
.
.
"Sakura-san kenapa anda ingin berhenti di dunia entertainment? Bukankah saat ini anda sedang berjaya?"
"Bukankah dulu anda juga menghikang di saat sedang di posisi atas?"
"Apa benar anda berhenti karena untuk putra anda? Dan apakah dulu anda tiba-tiba menghilang juga karena anda hamil di luar nikah?"
"Lalu bagaimana perasaan anda ketika tahu pacar anda bertunangan dengan sahabat anda?"
"Tolong jawab kami Sakura-san."
Suara wartawan menyerbu wanita nusim semi itu. Berbagai pertanyaan si lontarkan tanpa memberi jeda pada sumber beritanya. Akhirnya mereka kembali tenang setelah manager wanita pink itu berteriak membuat ballroom tempat konperasi pers itu hening. Setelah Shion berkata boleh bertanya lagi setelah angkat tangan, para wartawan mulai wawancara lagi.
"Apa alasan anda berhenti Sakura-san? Apa itu berhubungan dengan berita mengenai andamemiliki putra di luar pernikahan?"
"Yahh.. Saya memang berniat untuk fokus dengan kuliah saya." Menghela nafas panjang. "Mengenai saya memiliki putra itu memang benar adanya jadi mohon jangan melibatkan anak saya karena kesalahan saya."
"Jadi mengenai kepergian anda— enam tahun lalu— yang tiba-tiba berhubungan dengan kehamilan anda itu benar adanya?"
"Iya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karwna menyembunyikan dari publik."
"Siapa ayah dari anak anda? Apakah kekasih anda, Uchiha Sasukelah ayah biologis putra anda?" Sakura menggeleng lemah.
"Hubungan kami sudah berakhir sebelum saya menghilang. Tentang siapa ayah dari putraku, hanya aku yang tahu dan sekarang dia bahagia dengan ayahnya. Untuk itu saya berhenti agar putraku tidak menjadi sorot berita."
"Bagaimana perasaan anda ketika mengatahui pertunangan Uchiha Sasuke, pacar anda— ah maksud saya mantan pacar anda dengan Sahabat anda—" Sakura menjawab cepat pertanyaan itu, dengan kata lain memotong ucapannya.
"Hubungan kami sudah berakhir dan aku bahagia jika mereka bahagia bersama."
"Kenapa anda berkata jujur dan tidak menutupi hal ini? Padahal anda bisa saja menutup berita ini dengan mudah—" Sakura dengan cepat memotong ucapan wartawan itu dengan suara dinginnya.
"Saya lebih memilih anak saya daripada mencoba menutup berita yang berisi fakta. Lebih baiksaya mundur."
Ketika seorang wartawan hendak mengetahui lebih lanjut lagi, manager Sakura sudah menghentikan sesi wawancara.
.
.
Sasuke mengacak rambutnya frustasi, di matikannya televisi yang di tontonnya. Semua chanel menampilkan berita yang sama. Mengenai pengunduran diri Sakura dari dunia musik benar-benar di luar perkiraan. Wanita keras kepala itu juga melepas pekerjaannya. Dirinya tidak tahu apa yang ada di pikiran wanita itu. Sakura lebih memilih kehilangan keduanya daripada mempertahankan yang tersisa. Sakura terlalu rumit untuk di pahami.
.
.
.
Di sekolah pun Sarada menjadi bertambah diam. Sai dapat melihat wajah Sarada yang selalu tampak sedih itu pucat. Dirinya berulang kali mencoba memberitahu Sasuke agar mempertemukan Sarada dengan Sakura tapi di hiraukan oleh Sasuke membuat Sai geram.
Sepulang sekolah Sarada menunggu papanya menjemput, sedari kemarin papanya itu telat menjenputnya. Dirinya selalu melamun memikirkan mamanya.
"Sarada.." Wanita dewasa berambut pirang menghampiri Sarada dan memeluknya erat.
"Bibi?" Ujar Sarada bingung.
"Apa kabar sayang. Apa kau baik-baik saja? Bibi merindukanmu sayang." tanya wanita pirang itu, Yamanaka Ino.
Ino dapat melihat Sarada semakin cemberut. Di elusnya rambut hitam Sarada lembut.
"Kenapa sedih?"
"Sarada rindu mama. Apa bibi bersama mama?" Ino menggeleng lemah. Pagi tadi dirinya pulang dari Korea setelah mendapat telepon dari Tenten yang menceritakan semuanya. Ino merasa bersalah karena tidak bisa berada di sisi sahabatnya ketika Sakura terpuruk. Setelah Sakura menyuruh Ino menemui Sarada dan menyampaikan salamnya, Ino langsung ke sini dan mulai hari ini dia berjanji untuk menemui Sarada tiap hari untuk melihat keadaan Sarada mewakili Sakura. Berharap Sarada akan baik-baik saja.
"Mama menitipkan ini." Ino mengambil boneka seperti putri salju dari tas kertas yang dia bawa. "Kata mama, jika Sarada-chan rindu mama peluk saja boneka ini. Sarada-chan seperti memeluk mama jika memeluk boneka ini dan mama akan merasakan kalau Sarada memeluk mama." Ucap Ino menahan airmata yang siap tumpah.
"Benarkah?" Sarada berbinar-binar mendengarnya. Di peluknya boneka itu erat berharap mamanya bisa tahu jika Sarada merindukan mamanya.
"Sarada janji tidak akan sedih lagi kan?" Sarada mengangguk.
Obrolan mereka terintrupsi kehadiran wanita dewasa berambut merah berkacamata da seorang pria dewasa yang disebut Sarada sebagai papa. Onyx pria itu menatap tajam Ino yang duduk di sebelah Sarada.
"Hai 'sahabat', lama tidak berjumpa. Apa kabar?" Sapa wanita berambut merah itu sembari menyeringai membuat Ino menahan amarahnya.
Mengabaikan kehadiran Sasuke dan Karin, Ino berpamitan pada Sarada dan memeluk singkat gadis kecil berkacama itu dan pergi tanpa menoleh pada Sasuke maupun Karin.
Sarada masih memperhatikan kepergian bibi barbienya itu saat Sasuke menghampiri dan menggandeng tangan Sarada menuju mobilnya. Sasuke membawa mobilnya ke mansion Uchiha. Neneknya tidak membiarkan mereka kembali ke apartemen mereka dengan alasan masih ingin bersama Sarada. Sasuke tidak bisa membantah dan terpaksa menuruti kemauan neneknya.
Sarada di kenalkan seorang wanita cantik berambut merah, iris ruby wanita itu di hias dengan sebuah kacamata. Wanita itu mengenalkan Sarada sebagai Karin dan meminta Sarada untuk memanggil mama, namun Sarada menolak.
"Aku tidak mau memanggilmu mama. Karena mamaku hanya ada satu yaitu mama Haruno Sakura. Tidak ada mama yang lain." Bantah Sarada setengah berteriak.
"Kalau begitu panggil aku ka-san." Karin masih bersikeras membujuk Sarada.
"Tidak mau, ka-sanku cuma ka-san Temari." Karin frustasi melihat kekeraskepalaan gadis kecil itu.
"Lihat Sasuke-kun, betapa keras kepalanya dia. Benar-benar mirip dengan wanita itu." Adu Karin pada Sasuke yang sedari tadi diam mengamati dan menyeringai tanpa di ketahui Karin.
"Jangan terlalu memaksanya. Dia hanya butuh waktu untuk terbiasa. Bagaimanapun juga 'wanita itu' yang merawat Sarada selama ini." Ucap Sasuke datar.
Setelah perdebatan itu Sarada meminta papanya membawa piano yang berada di apartemen lama Sasuke untuk latihan Sarada. Sasuke langsung menyetujuinya. Sarada bercerita bahwa dia terpilih menjadi peran inti di pertunjukan dengan ceria tanpa memedulikan kehadiran Karin. Sasuke sedikit bersyukur ketika Sarada bisa berbicara dengan ceria lagi seperti dulu. Setidaknya Sarada tidak menangis di siang hari. Dia juga bersyukur atas kehadiaran Ino— yang mungkin mengatakan sesuatu pada Sarada sehingga gadis itu kembali ceria. Dia bahkan sadar jika Sarada terus-menerus memeluk boneka yang entah darimana dirinya tidak peduli. Meski Sasuke tahu, mungkin malamnya Sarada tidak sadar terbangun dan menangis mencari-cari mamanya. Dia bersyukur anaknya tidak menangis di malam harinya. Sepertinya Sarada menurut dan cerdas ketika di beritahu bahwa pasti mamanya tidak suka jika Sarada menangis, meski terkadang anak itu terlihat murung.
.
.
.
Malam harinya Sarada di bawa di kediaman keluarga Uzumaki untuk makan malam. Hinata yang menyambut mereka terkejut dengan kehadiran Sarada karena memang Sasuke tidak memberitahu pada mereka namun kemudian dia mempersilahkan masuk mereka.
Naruto bertanya siapa anak yang di bawa mereka, namun Sasuke diam dan menyuruh mereka memulai acara makannya terlebih dahulu. Sementara Sarada sendiri memasang wajah cemberut sambil memeluk bonekanya ketika melihat Hinata keluar menggendong balita berusia tiga tahunan yang mirip dengan hinata dan seorang anak lelaki berambut pirang sebayanya. Anak lelaki itu balik memasang wajah malasnya ketika melihat Sarada.
Setelah makan malam Sasuke menyuruh Sarada memperkenalkan diri.
"Aku Haruno Sarada. Umur lima tahun salam kenal." Karin dapat melihat Naruto membelalakkan matanya mendengar marga sahabatnya, dan Hinata terlihat biasa-biasa saja membuat matanya memincing.
"Sudah papa katakan Sarada, pakai Uchiha bukan Haruno lagi." Tegur Sasuke membuat Hinata menatap kaget Sasuke. 'Mungkinkah?'.
Sasuke mendesah melihat anaknya tidak mau menurutinya dan akhirnya dia mengalah. Karin mengenalkan Sarada jika mereka adalah paman dan bibi Sarada, sementara Boruto adalah kakak Sarada dan langsung mendapat bantahan Sarada.
"Tidak. Dia bukan kakakku. Aku hanya mempunyai satu kakak dan itu hanya Shikadai. Aku tidak mau mempunyai kakak bodoh dan nakal sepertinya." Kali ini Sasuke langsung menegur Sarada ketika Sarada mengejek Boruto. Dia sudah lelah Sarada masih belum bisa melupakan orang-orang di sekitar Sarada dulu. Sarada bahkan belum bisa menerima keluarganya. Bentakan Sasuke itu membuat Sarada takut dan hampir menangis namun Karin langsung memeluk Sarada yang semakin memeluk erat bonekanya. Karin menegur perbuatan Sasuke yang membentak Sarada. Di elusnya puncak kepala Sarada dan menenangkannya.
Setelah itu Sarada tertidur dan di bawa ke kamar tamu keluarga Uzumaki. Naruto mengajak Sasuke berbicara dan menyuruhnya untuk menjelaskan semuanya. Sasuke menjelaskan semuanya, bahkan tentang bagaimana dirinya bisa mendapatkan Sarada.
"Kau bajingan Sasuke." Itulah tanggapan Naruto setelah mendengar cerita Sasuke.
"Aku selalu mempunyai kartu AS wanita itu. Aku selalu tahu di mana letak kelemahannya dan dengan mudah mengalahkannya tanpa harus berbelit-belit."
"Kau benar-benar brengsek teme. Kau tahu? Dia selalu sendirian. Dia tidak seberuntung kau yang memiliki orangtua, bahkan juga tidak seberuntung aku yang tahu pasti siapa orangtuanya. Mungkin sedari kecil aku memang tidak di temani orangtuaku, tapi setidaknya aku masih lebih beruntung darinya karena aku tahu pasti siapa dan bagaimana rupa orangtuaku. Sedangkan Sakura.." Naruto menarik nafas panjang mencoba untuk tidak menggunakan emosi dalam pembicaraan ini. "Dia.. bahkan tidak tahu siapa orangtuanya. Dia hanya anak yang di buang di depan gereja ketika berusia lima tahun. Dia anak yang tidak di inginkan. Tidak tahu siapa ayahnya dan bagaimana rupanya, sementara ibunya lebih memilih meninggalkannya daripada merawatnya. Yang dia tahu adalah ibunya seorang pelacur yang tidak menginginkan kelahirannya. Sedari kecil dia sendiri dan tumbuh dengan caci maki dari banyak orang. Ketika dia bertemu dengan seseorang yang dia sebut sahabat dia begitu senang. Aku tumbuh dalam lingkungan yang sama dan aku sempat jatuh cinta pada senyumannya. Namun seseorang lebih beruntung dariku. Kau tahu?" Sasuke bergeming, hanya mendengar cerita sahabatnya. "Ketika dia masih kecil dan melihat seorang pemuda berambut gelap menolongnya dari anak-anak nakal yang mengerjainya dia bahkan sudah mengagumi pemuda itu. Hingga dirinya tumbuh dewasa dan jatuh cinta pada pemuda penolong itu. Dia begitu tulus mencintainya. Saat itu aku tahu bahwa pemuda itulah yang menjadi penyemangat untuk tetap melanjutkan hidupnya. Kemudian apa yang terjadi aku tidak tahu dan dia menghilang." Naruto tertawa mengejek. "Aku dan dia tumbuh dalam keadaan sama-sama tanpa orangtua. Hanya saja bedanya aku lebih beruntung darinya. Jadi sedikit banyak aku mengerti bagaimana hidup dalam kesendirian. Aku memiliki Karin, adik sepupuku. Sementara dia sebatangkara di dunia ini. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa hidup tanpa pangerannya itu." Naruto tersenyum sinis pada Sasuke, "Aku yakin terjadi sesuatu sebelum dia menghilang. Asal kau tahu Sasuke, dia hanya memilikimu. Hanya kamu yang membuatnya tetap hidup. Aku yakin saat ini hanya Sarada yang di milikinya dan kau merampasnya, merampas harta satu-satunya yang dia miliki. Kau tahu? Mungkin kau berpikir jika Sakura sangat mencintai dunia musiknya, dan itu salah besar. Dia bahkan tidak peduli dengan karirnya. Dia hanya hidup untuk seseorang dan kau merampas apa yang menjadi sumber kebahagiaannya." Naruto menghela nafas panjang sebelum beranjak meninggalkan Sasuke dengan semua perasaannya.
"Kau akan menginap di sini bukan? Kurasa Sarada bisa kau pindahkan ke kamar Himawari jika dia mengganggu malam kalian. Aku akan bicara dengan Hinata." Setelah mengatakan itu Naruto menghilang di balik pintu.
.
.
Seperti yang di lakukan Sasuke dan Naruto, kini Karin meminta Hinata —kakak iparnya bicara sebentar.
"Kau tidak terkejut dengan marga Sarada. Kau sudah mengetahui siapa Sarada sebenarnya." Pernyataanlah yang diucapkan Karin.
"Kau benar.. Aku bertemu Sakura sekitar tiga minggu lalu ketika menjemput Boruto dan Kenji." Hinatapu menceritakan tentang pertemuannya dengan Sakura juga ketika Sakura tidak ingin siapapun tahu mengetahui pertemuan mereka.
"Apa kau memberitahu Naruto?"
"Sudah aku bilang tidak ada yang aku beritahu, bahkan dengan Naruto. Aku takut bicara tentang masalah itu Karin. Aku pikir lelaki itu ayah Sarada dan Shikadai." Karin masih bergeming tanpa membalas ucapan Hinata.
"Aku tidak tahu jika ayah Sarada adalah Sasuke." Karin masih diam menatap kosong ke depan.
"Aku tahu pasti sulit untukmu Karin. Kita bersahabat. Tidak.. mungkin hanya kau, Sakura dan Ino.. sementara aku orang luar yang beruntung bisa berteman dengan kalia—"
"Kau bukan orang luar Hinata. Asal kau tahu, kami juga menganggapmu sahabat." Potong Karin cepat.
"Yah kau benar." Hinata tersenyum lembut sebelum berubah menjadi sendu. "Tapi aku sungguh tidak berpikir akan secepat ini berakhirnya persahabatan kita. Maksudku, aku dan kau mungkin tahu sesuatu kenapa Sakura menghilang. Maksudku kita bersahabat, mungkin dirinya bercerita sesuatu kepadamu karena aku tidak sedekat kalian bertiga."
Karin bangkit dari duduknya. Tidak tahu apa yang ingin di bicarakan atau membalas ucapan Hinata.
"Maksudku bukan itu, maafkan aku.. Aku sungguh tidak bermaksud.." Sebelum melangkah dia berbalik menatap Hinata serius.
"Aku yakin kau pasti menebak apa yang terjadi sebelumnya hingga Sakura menghilang." Karin berbalik memunggungi Hinata, membuat wanita indigo itu tidak bisa melihat ekspresi Karin. "Tapi kita tidak tahu siapa yang menjadi musuhnya yang sebenarnya selama ini. Kau berpikir bahwa akulah penyebab Sakura pergi." Tubuh Hinata menegang. Karin mendengus sinis. "Bukankah begitu? Tapi kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau, aku dan.. 'dia'.. tahu. Tidak peduli berapa lama kita saling mengenal. Hanya saja sebuah kepercayaan yang di salah gunakan oleh seseorang membuat 'kita' menderita. Aku sama sekali tidak tersinggung Hinata." Karin menoleh menatap Hinata. "Mari kita lihat bagaimana permainan baruku di mulai. Dan 'kita' semua akan tahu siapa yang memulai." Karin menyeringai dan pergi meninggalkan Hinata.
.
.
Ketika Sasuke memasuki kamar tamu dia dapat melihat Karin sedang mengelus rambut Sarada.
"Aku tidak tahu jika wajah tidurnya sungguh mirip dengannya. Apa aku boleh membencinya?" Terlihat jelas raut terluka di dalam wajah cantik Karin.
"Aku sudah bicara dengan Naruto bahwa kau akan tidur di kamar tamu sebelah jika tidak ingin tidur bersams Sarada. Aku yang akan tidur bersama Sarada."
"Tidak. Aku akan tidur bersamanya. Aku ingin bicara sebentar denganmu Sasuke-kun."
Setelah mengatakan itupun mereka keluar dan berbicara. Mereka butuh waktu untuk berbicara mengenai Sarada. Suara tangis Sarada mengintrupsi pembicaraan mereka dan mereka berlari melihat Sarada. Sasuke segera menggendong Sarada yang menangis dan memanggil-manggil mamanya. Seperti biasa Sarada akan terbangun dan menangis tengah malam ketika tidak menemukan mamanya.
Naruto dan Hinata kemudian datang untuk melihat keadaan Sarada.
"Apa yang terjadi?" tanya Hinata.
"Sarada terbangun dan mencari mamanya. Setiap malam dia selalu seperti ini. Maaf mengganggu tidur kalian." Sasuke melihat Boruto berjalan ke arah mereka. "Dan anak kalian." Lanjutnya masih menenangkan Sarada.
"Yah begitulah naluri seorang anak jika di pisahkan dari ibunya. Mungkin jika dalam keadaan sadar dia tidak akan menangis karena di kelabui oleh kalian, tapi hati kecilnya tersiksa karena tidak bertemu dengan sosok ibu yang selalu menemaninya." Suara dalam Naruto jelas sekali tersirat nada menyindir.
Hinata meminta Sarada dan menenangkannya. Dua jam sudah akhirnya Sarada tertidur lagi setelah di bacakan dongeng oleh Hinata. Sarada memeluk erat boneka pemberian mamanya lewat Ino.
.
.
.
Setelah malam di kediaman Uzumaki, Hinata menyarankan Karin untuk membacakan dongeng Sarada tiap malam dan itu sedikit berhasil. Dia sedikit-sedikit mau menerima keluarga Uchiha dan kehadiran Karin. Itu membuat Sasuke lega.
Sarada meminta izin pulang terlambat karena latihan untuk festifal musim seminya dan mendapat izin karena Kenji juga ikut dalam festifal.
Di rumahpun Sarada berlatih dengan piano tua milik Sasuke. Semua keluarga yang mendengar lantuanan tiap lagu yang dimainkan Sarada sangat senang. Terlebih Neneknya yang kini keadaannya semakin membaik.
Tanpa di ketahui Sasuke, Ino selalu menemani latihan Sarada ketika di sekolah. Dia beralasan menjemput Shikadai agar bisa bertemu Sarada ketika di tanya Sarada. Shikadai yang memang tahu maksud Ino pun diam dan mendukung bibi Ino. Shikadai tahu bahwa Ino juga di mintai tolong mamanya untuk memastikan bahwa Saradanya baik-baik saja. Seperti dirinya yang di mintai tolong untuk menjaga Sarada saat di sekolah dan Shikadai menyanggupinya. Bagaimanapun juga dirinya masih tidak rela berpisah dengan adik tercintanya.
.
.
.
Hari di mana festival musim semipun sudah di mulai saat setsubun no hi (puncak musim semi) pada tanggal dua puluh maret dan pertunjukan dilakukan pada tanggal dua puluh lima sampai dua puluh delapan. Kelas Sarada tampil pada tanggal dua puluh delapan, bertepatan hari ulang tahun mamanya. Sarada berencana untuk memberi kejutan untuk sang mama. Dia sangat berharap jika mamanya akan datang seperti janjinya dulu.
Sarada sangat senang karena mereka akan tampil di taman Ueno Park, taman bersejarah di Tokyo sekalian berhanami. Meskipun panggung mereka kecil namun semua tampak senang bisa tampil untuk menghibur orang-orang yang sedang berhanami. Dan penontonnya pun bersebaran dengan duduk di atas tanah dengan sebuah kain sebagai alas, dan untuk keluarga siswa di beri tempat di dekat panggung agar bias melihat jelas acaranya. Dulu mamanya sering mengajak Sarada berhanami di The Osaka Mint Bureau, ketika dirinya tinggal di Osaka. Meskipun tidak begitu banyak pohon Sakura namun Sarada senang karena bisa bersama mamanya.
Sarada bercerita begitu antusias pada Karin dan Sasuke bahwa dia akan memberi kejutan untuk sang mama ketika Sarada latihan dirumah. Sasuke yang mendengar itu sedikit kesal karena Sarada selalu mengutamakan Sarada hingga akhirnya dia bilang bahwa Sakura tidak akan datang membuat Sarada kecewa. Setelah malam itu Sarada terus memeluk boneka pemberian mamanya semakin erat.
Pagi harinya ketika Karin membangunkan Sarada dirinya terkejut mendapati tubuh sarada demam. Sarada terus memanggil-manggil mamanya. Ketika di periksa dokter pribadi Uchiha, Kabuto bilang bahwa Sarada hanya demam biasa dan mungkin merindukan mamanya karena terus memannggil mamanya. Dia berkata pada Karin ─yang dia tahu ibu Sarada─ untuk memberikan waktu luang besama sarada. Berita sakitnya Sarada membuat guru juga temannya khawatir karena simpati dan karena festival tinggal tiga hari lagi.
Sasuke yang tidak tega melihat Sarada sakit pun akhirnya bertindak. Dia lebih takut jika kehilangan Sarada daripada Sakura mengambil Sarada lagi. Sasuke membisikan pada Sarada bahwa dia berbohong ketika bilang mamanya tidak akan datang.
"Maafkan papa Sarada. Papa berbohong ketika bilang mama tidak datang. Bagaimana mama bias datang dan melihatmu jika tuan putrinya sakit dan tidak tampil di festival. Mama akan menemui Sarada jika Sarada sembuh. Mama bilang begitu sama papa, jadi papa mohon Sarada cepat sembuh." Di kecupnya kening Sarada.
Seperti di bisikan sebuah mantra, keesokan harinya keadaan Sarada pun membaik. Meskipun belum sembuh benar dirinya tetap ingin ke sekolah, untuk latihan. Meskipun di larang tapi Sarada nekat. Dia semakin tidak sabar untuk tampil dan melihat mamanya. Dirinya hanya anak kecil yang tidak tahu apa yang terjadi dengan mama dan papanya, tapi dia merasa bahwa saat ini mamanya sakit karena papanya bersama orang lain. Sarada anak yang cerdas jadi dia paham apa yang terjadi. Dia paham jika kedua orangtuanya tidak akur. Sarada merasa sedih karena dia tidak bias melihat mamanya.
.
.
.
Hari dimana Sarada tampilpun datang. Seluruh keluarga Uchiha datang dan menyemangati. Awalnya Sasuke bersikeras agar Sarada beristirahat karena keadaan putri semata wayangnya itu masih belum sehat benar. Namun Sarada lebijh kerasa kepala dan akhirnya dia mengalah juga.
Di kelas Sarada menampilkan sebuah drama tentang cita-cita setiap siswa. Drama itu juga menampilkan karya seni siswa-siswa kelas satu. Sarada sendiri bermain piano dengan menyanyikan sebuah lagu tentang kasih sayang seorang ibu. Sarada sedikit kecewa tidak mendapati mamanya di manapun. Dia hanya melihat Shikamaru, Temari, Tsunade, Tenten dan seorang pria dewasa berambut coklat yang mirip dengan Hinata.
Di akhir drama, semua siswa tampil berjejer di panggung membawa bunga kesukaan mereka yang akan di berikan pada orang yang di sayanginya. Sarada tampak begitu sedih dan Boruto mulai mengerti kenapa Sarada begitu. Dia memberi semangat pada Sarada dan mengatakan kalau mamanya pasti akan datang. Setelah Boruto tersenyum Sarada menoleh pada Shikadai yang juga tersenyum padanya. Sekarang dirinya percaya bahwa mamanya pasti menonton.
Dentingan piano mulai terdengar begitu indah merangkai menjadi alunan lagu 'I Have a Dream' lagu popular dari Westlife. Suara Sarada yang jernih mulai terdengar.
I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
Sarada teringat mamanya pernah menyanyikan lagu ini bersamanya, dan dirinya mengusulkan lagu ini pada Sai-sensei dan senseinya itu setuju. Mamanya pernah berkata jika dirinya mempunyai sebuah impian maka kejarlah sampai kau bisa menggapainya. Mamanya selalu membacakan dongeng tentang putri-putri di negeri dongeng dan dia ingin menjadi seorang putri yang di sayangi banyak orang. Melihat keajaiban sama seperti putri salju yang bangun ketika sang pangeran datang. Seperti putri alice yang mempunyai banyak teman meskipun mereka tak sama.
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream - I have a dream
Mamanya berkata, jika suatu saat seorang malaikat akan datang ketika natal tiba dan jika dia berdoa maka impiannya akan percaya ucapan mamanya dan selalu berdoa di setiap malam natal. Karena hanya mamanyalah yang dia percaya. Sarada berdoa supaya dia bisa bertemu papanya dan menunjukan pada siapapun bahwa dia juga mempunyai papa.
Dulu ketika dirinya bertanya dimana papanya berada, mamanya selalu berkata bahwa papanya pergi jauh untuk membuat sebuah istana untuk Sarada. Sarada selalu percaya dengan semua yang dikatakan mamanya. Hingga suatu hari ibu temannya berkata bahwa mamanya membohongi dirinya dan Sarada menangis mendengarnya. Mamanya meyakinkah bahwa dia harus percaya dengan mamanya. Mengatakan jika dia berdoa maka malaikat akan mengabulkan doanya.
I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness still another mile
Mamanya berkata bahwa Sarada harus percaya bahwa suatu hari nanti impiannya menjadi nyata. Meskipun banyak yang berkata mamanya seorang pembohong, Sarada tidak peduli.
Ketika Saarada masih berusia empat tahun dirinya hanya di hina dan di sebut anak haram meskipun dirinya tidak tahu, tapi mamanya selalu terlihat sedih mendengarnya. Sarada ingin membuat mamanya senang dan dia ingin menunjukan bahwa mamanya bukan pembohong karena sekarang doa Sarada terkabul, Sarada bertemu dengan papanya dan di bawa ke istana besar.
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream - I have a dream
Mereka semua dapat melihat penghayatan dalam permainan piano Sarada. Bahkan Tsunade menangis melihat cucunya begitu merindukan mamanya sampai menyanyikan lagu mereka dulu.
Sasuke merasa bersalah karena tidak mengijinkan Sakura menemui Sarada lagi. Dan ketika dirinya mencari Sakura di kediaman Senju, dirinya di beritahu bahwa Sakura di korea. Hal itu membuatnya merasa semakin bersalah. Bahkan dirinya diam saja ketika di maki oleh Ino ketika bertanya pada wanita pirang itu.
Semua siswa yang berada di panggung ikut menyanyi.
Semua penonton di buat takjub ketika mereka bernyanyi bersama dengan bertaburan kelopak Sakura yang berjatuhan.
I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
Di sela-sela temannya menyanyi Sarada berkata dengan airmata yang dia tahan.
"Ketika aku masih kecil, mama bertanya apa impian Sarada? Dan Sarada bilang bahwa, Sarada ingin bertemu dengan papa dan tinggal di istana yang selama ini di buat papaku, seperti kata mama disetiap aku bertanya dimana papa? mama menjawab papa berada jauh untuk membuat sebuah istana. Dan sekarang impianku terkabul karena aku bertemu dengan papa dan tinggal di istana yang besar." Airmata Sarada akhirnya jatuh juga. Sembari masih memainkan musiknya dirinya melanjutkan ceritanya.
"Namun saat ini, Sai-sensei bertanya apa impian Sarada? Sarada berkata jika di festival sarada akan mengatakannya. Dan sekarang Sarada akan menjawabnya. Impianku saat ini hanya bertemu dengan malaikatku. Malaikat yang selama ini merawat Sarada. Aku ingin bersama mamaku, dialah malaikat yang sesungguhnya. Bukan sinterklas di hari natal ataupun ibu peri di negeri dongeng. Sarada tidak ingin di istana lagi jika tidak bersama mama, malaikat Sarada." Semua yang mendengarpun terharu mendengarnya.
"Sarada selalu suka melihat mama memakai baju putih, karena mama akan terlihat bersinar seperti seorang malaikat." Nyanyian teman-teman Sarada terdengar samar karena mereka memelankan suaranya.
"Semua bilang mama pembohong, tapi aku tahu mama bukan pembohong. Sarada akan selalu percaya pada mama, karena mama malaikat yang di kirim Kami-sama untuk Sarada. Mama berjanji mama akan melihat Sarada, tapi Sarada tidak melihat mama. Sarada percaya pasti mama akan datang. Sarada mohon jika mama melihat Sarada mama harus menghampiri Sarada, memeluk Sarada dan mencium Sarada seperti kata mama dulu. Agar semua orang tahu bahwa mama sayang Sarada. Sarada tidak akan malu di cium mama di depan semua orang, karena Sarada sayang mama."
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream - I have a dream
I've cross the stream - I have a dream
"Papa selalu bilang bahwa mama bukanlah mamaku, dan menyuruh Sarada memanggil orang lain mama.. Tapi.. bagi Sarada mama hanya satu.. mama Sarada hanya mama Sakura.. malaikat Sarada dan akan tetap menjadi mama dan malaikat Sarada. Selamat ulangtahun mama.. Sarada sayang mama.. selalu.. Jangan tinggalkan Sarada mama.. "
Semua siswa di panggung masih bernyanyi dan turun ke panggung, memberi bunga pada orang yang mereka sayangi. Sarada masih berharap jika mamanya tiba-tiba muncul dan memeluknya.
Tapi sampai mereka berhenti menyanyipun mamanya tidak datang. Sarada masih memainkan pianonya. Dan semua orang menyanyi mengulang lirik lagu terakhir.
Seorang wanita berdress putih dengan topi putih menutupi rambut merah jambunya berjalan mendekati panggung dan naik ke panggung. Semua orang terdiam melihatnya. Namun semua murid masih bernyanyi setelah mendapat isyarat dari Sai-sensei. Wanita itu memeluk Sarada begitu erat seolah takut Sarada menghilang. Terdengar tepukan tangan dari penonton membuat Sarada sadar akan apa yang terjadi dan balas memeluk mamanya. 'Mamanya kembali.'
Sakura mengucapkan 'maaf' dan 'mama sayang Sarada' berulang kali yang di balas kata-kata sayang dari Sarada. Sarada turun dari kursinya berdiri menghadap mamanya yang berjongkok. Di hapusnya airmata mamanya dengan kedua telapak tangan kecil Sarada, tangan Sakura memegang telapak tangan kecil itu dan mencium telapak tangan Sarada dan menghapus airmata Sarada sebelum beralih mencium pucuk kepala, kening, kelopak mata Sarada ketika menutup mata, hidung, pipi dan bibir Sarada, seperti kebiasaan Sakura. Sarada. tersenyum mendapati mamanya kembali menciuminya. 'Mama Sarada benar-benar kembali.'
'Sarada melihat malaikatku kembali lagi. Sarada harap ini nyata.'
'malaikat berbaju putih dan bersinar. Malaikat yang menyelamatkan Sarada jika Sarada takut gelap. Melindungi Sarada ketika semua teman menggangguku.'
.
.
.
TBC
.
.
.
.
happy birthday mama haruno Sakura. :D kagak kerasa udah jadi emak-emak #abaikan..
Panjang banget yak.. hiks.. moga gak ngebosenin. Gak tahu kenapa nih ketika ngetik malah baper.. :(
Well, sepertinya di sini Sasuke keliatan brengsek sekali yah.. Maap yak Sasu. XD banyak juga yang nyumpahin Sasu yah :D
Sungguh saya gak ada niatan basingin chara, maap hlo ya karena ini udah tuntutan cerita jadi mau gimana lagi.. piss :D
Gak mau tambah-tambah panjang nih word nya, Saatnya balas riview:
moydini : gak janji nih bias bikin Sasu kena karma. Tapi tenang aja entar Saku bahagia kok pastinya. Dan sasu juga ngaku kalah ma saku
suket alang alang : tuh udah keliatan siapa tunangan Sasu kan? Iya tuh Sasu emang gitu orangnya :D main ambil ajah..
Jamurlumutan462 : cup cupcup.. jangan nangis lagi.. nih aku kasih permen XD.. nih chspter kayak e juga bikin baper deh.. hiks
respitasari : yups.. aku suka westlife dari dulu.. makasih.. nih udah di lanjut..
i'm invisible : nih udah di lanjut
echaNM : gpp.. getok ajah aku ikhlas lahir batin kok XD .. iya tuh tbc nya tau-tau ngikut kok :D
Harika-chan ELF : iya tuh, Sasu selalu punya kartu AS Saku, jadi dengan berat hati dia lepasin Sara.. masa lalu mereka ntar di jelasin.. tebakanmu benar banget. :D
fdestyalove : makasih.. iya nih aku juga sempet nyesek.. apalagi ama chapter ini.. Sasu kan pengen sama anaknya makanya dia ngambil Sara.. Maaf nih kalo kurang jelas.. kamu itu suka banget ama cinta segitiga sih.. :D di sini banyak seginya hloh bukan Cuma segitiga.. :D
Guest (Linda Y) : waduh map nih kalo aku kurang memperjelas alas an saku nyerahin sara gitu aja. Tapi dia itu punya rencana lain. Dan saku cumin pengen sara bahagia. Mungkin chapter depan kamu akan ngerti kok. Makasih buat sarannya yah..
Miura Kumiko : makasih. Nih udah lanjut. Sasu itu ngasih waktu ke saku selama tiga hari bersama sara sebelum sasu ngambil sara kok.
nkaalya : nih udah lanjut..
Sipembaca : well, pada dunia nyatapun cewek juga bakal kalah ma perasaannya sendiri.. tenang aja, nanti bakal ada waktu di mana sasu kalah kok, bahkan ngaku kalah di depan saku sendiri.
Momoi Satsuki : jelas gak tahan jika ada di posisi saku mungkin. Ngebayangin aja ngeri sendiri XD . dari dulu mah sasu emang egois.. tenang aja pasti akhirnya bahagia kok buat saku.
Dan buat Firza290 aku gak masalah kok kalau review lewat PM. Bagiku sama saja dan makasih udah baca fanfic ku.. :D
Thanks for reviews/ favorit and follow :
BubbleChickenButt, Harika-chan ELF, Miura Kumiko, Sipembaca, Zulchan, afifah dinar, chae121, fdestyalove, respitasari, rifitriuchiha, yulwi, Nakashima Rie, feyuchiha, yaahaa
Sekali lagi, selamat hari lahir cerry blossom.
See u next chapter..
