Seorang gadis berjalan menuju tempat di mana ada tiga orang yang memiliki surai rambut berbeda. Gadis itu tersenyum mendapati seorang pemuda pirang sedang mengomel pada seorang gadis berambut indigo. Gadis berambut merah muda itu duduk di samping gadis pirang yang tengah asyik memerhatikan minumannya dan sesekali meminumnya. Gadis itu meminta minuman pada bartander berambut coklat cepak. Sepertinya kedua manusia berbeda gender itu tidak menyadari kehadiran gadis berambut pink, sedangkan gadis pirang itu hanya melirik sekilas dan meminum kembali minumannya.
"Aku ingin minum sedikit saja Naruto-kun.." Rengek gadis berambut indigo itu.
"Tidak boleh Hinata-chan.. Kau sedang hamil dan Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayi kita." Balas Naruto kekeuh. Gadis pink itu hampir saja tersedak minumannya sendiri mendengar ucapan Naruto.
"Apa? Hinata hamil?"
"Eh.. Sakura-chan sejak kapan di sini? Dimana teme?"
"Dia akan datang lima belas menit lagi. Kau bilang Hinata apa tadi? Kenapa Hinata tidak boleh minum?"
"Tentu saja Hinata-chan tidak boleh minum minuman beralkohol karena dia itu hamil sudah tiga bulan. Dan itu sangat—" Ucapan pemuda pirang itu terpotong oleh pekikan gadis merah muda.
"Apa? Ti-tiga bulan? Apa aku tidak salah dengar? Kalian bahkan baru menikah belum genap satu bulan." Mendengar ucapan gadis pink membuat wajah gadis berambut indigo memerah.
"E-ehhh.. ano.. " Menyadari ucapannya tadi pemuda pirang menjadi gugup dan salah tingkah.
"Waow.. Tidak ku sangka ternyata Hinata-chan yang polos ini dapat membuat dalam jangka waktu yang terbilang singkat." Gadis merah muda terkikik mendapati sahabat indigonya memerah mukanya.
"Tidak heran lagi jika pasangannya itu si mesum Naruto." Sahut gadis pirang yang sedari tadi diam dan memperhatikan.
"Kau benar Ino.." Gadis merah muda itu terkekeh.
Lama-kelamaan gadis pink itu menyadari jika gadis pirang di sampingnya sedari tadi minum terlalu banyak alkohol. Sakura merampas gelas minuman Ino cepat sebelum gadis pirang meminum minumsnnya —yang entah keberapa— lagi.
"Aku tahu kau kuat dalam hal ini. Tapi bukan berarti kau tidak bisa mabuk jika meminum terlalu banyak Ino." Sakura mengernyit mendapati wajah Ino yang berantakan dan kusut.
"Ada apa denganmu?"
"Bukan urusanmu." Ketus gadis pirang kesal.
"Bukan urusanku? Apa kau benar-benar putus dengan Neji?" Gerakan gadis pirang yg mencoba mengambil gelasnya terhenti dan mendesah.
"Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?" Sakura melihat Ino yang memalingkan wajahnya.
"Ap—" Ponsel Sakura berdering memotong ucapan Sakura. Setelah mengangkat ponselnya gadia pink yang sedang memandang khawatir sahabat pirangnya berdiri hendak berpamitan.
"Karin sudah di depan vila. Dia memintaku menemuinya. Aku pergi sebentar." Ucapnya setelah menutup teleponnya. "Kami akan menyusul segera. Jangan biarkan dia minum lagi Hinata."
"I-iya."
Gadis merah muda turun ke lantai bawah dan keluar vila untuk menemui seseorang. Dia tersenyum mendapati seorang gadis berambut merah turun dari mobilnya.
"Kenapa tidak langsung ke bagasi saja? Bukankah kita berencana akan menginap? Jangan khawatir vila Hyuga ini memiliki kapasitas bagasi yang luas." Sakura terkekeh membuat mata ruby di balik kacamata gadis merah berputar.
"Oh.. ayolah Saku. Aku aku hanya menunjukan diriku sebentar sebagai jaminan bukan?" Sahutnya sarkastik. "Kau tahu aku berhutang ini pada suigetsu karena memecahkan tabung labnya. Dan aku tidak bisa menundanya." Lanjutnya dengan wajah masam sembari menunjukan tas plastik berisi tabung-tabung laboratorium.
"Oke.. oke aku percaya. Tapi kau ikut bergabungkan setelahnya." Karin mengangguk semngat.
"Bisa kita ke kamar mandi sebentar Karin? Aku ingin buang air kecil." Pinta Sakura yang mendapat anggukan dari Karin. Setelah keluar dari kamar mandi Sakura segera berdandan.
"Ino terlihat buruk akhir-akhir ini." Karin diam cukup lama sebelum menanggapi ucapan Sakura.
"Kau benar." Mereka kemudian keluar dari kamar mandi dan menaiki tangga.
"Hei.. Aku rasa aku tadi melihat Sasuke masuk ke vila." Ucap Karin memastikan.
"Benarkah? Aku belum melihatnya."
"Aku tadi melihatnya memasukan mobilnya ke bagasi. Aku kira kalian berpapasan."
"Tidak. Mungkin terlalu banyak orang membuat penglihatanku tidak fokus." Sakura terkekeh.
Mereka sampai di lantai dua dan melihat sudah banyak orang yang memenuhi ruangan. Bahkan dirinya sulit mencari keberadaan Ino. Mereka menuju tempat di mana sahabat dekatnya berada tadi.
Karin menghentikan langkahnya membuat Sakura menoleh dengan dahi berkerut bingung.
"Ada apa?" Tanya Sakura.
"Sepertinya aku harus mengembalikan tabung ini sekarang dan bergabung dengan kalian nanti." Karin menarik tangan Sakura dan berbalik. "Aku rasa, aku memerlukan teman. Maukah kau menemaniku Sakura?" Karin menatap sahabatnya sulit diartikan namun gadis pink itu mengangguk juga. Sakura dapat merasakam Karin memegang tangannya semakin erat. Seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi.
.
.
.
.
Haru no Sakura
Disclaimer : Naruto© Masashi Kishimoto
Sakura, Sarada, Sasuke
Rate: T
Genre: Drama, Family
Warning: OOC, typo, alur berantakan, ide mungkin pasaran, dll.
Don't like Don't read!
Don't like Don't read!
Jika tidak suka dengan jalan cerita atau apapun yang ada di fic ini silahkan tutup laman anda.
Saya tidak mengharuskan atau memaksa siapapun untuk membaca fic ini.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
.
Setelah acara selesai Sarada tidak mau lepas dari Sakura. Dirinya menangis memeluk mamanya ketika turun dari panggung. Bahkan dia melupakan papanya. Sarada tidak peduli jika papanya marah karena sekarang yang dia tahu mamanya kembali dan takut mamanya akan pergi lagi jika dia melepaskan pelukannya.
"Kenapa wajah mama tidak seperti biasanya? Wajah mama seperti Sai-sensei." Ucap Sarada di pangkuan Sakura. Sarada memandang Sai dan Sakura bergantian.
"Benarkah?" Sarada mengangguk. "Mungkin karena mama sudah bertambah tua sama seperti Sai-sensei." Sai mendelik pada Sakura yang saat ini sedang terkekeh. "Mama juga terlihat kurus sekarang." Sarada merengut karena mamanya tidak seperti biasanya. Dan Sarada takut jika mamanya tiba-tiba pingsan sama seperti dulu ketika mamanya bilang kelelahan.
"Eumm.. Mungkin karena mama sangat khawatir dan rindu sama Sarada." Sakura tersenyum tulus. Sai mengacak rambut Sarada kemudian terkekeh melihat Sarada merengut.
.
.
Sasuke merasa diabaikan oleh Sarada. Dirinya hanya melihat mereka mengobrol dan bercanda. Sesuatu dalam hatinya berdenyut tak nyaman sesuatu yang pernah ia rasakan dulu. Dia mencoba mengabaikan rasa itu. Naruto mendekatinya dan mengajaknya mengobrol, cukup berhasil mengalihkan perhatiannya.
Sarada benar-benar tidak bisa lepas dari Sakura membuat Sasuke tidak mempunyai kesempatan berbicara dengan Sakura. Tsunade mencoba mengajak Sarada bermain atau membeli apapun. Awalnya sulit namun setelah Sakura berkata tidak akan kemana-mana lagi Sarada mau juga.
Sasuke tidak mau membuang-buang waktu dan segera mengajak Sakura menjauh dari kerumunan. Dirinya menanyakan keberadaan Sakura saat dirinya mencari wanita itu. Wanita keras kepala itu tetap bungkam. Sasuke juga bertanya kenapa Sakura berhenti dari dunia musik dan jawaban Sakura membuatnya diam.
"Aku pernah mengatakannya., jika kamu ingat. Aku suka musik, bernyanyi adalah hobiku. Tapi impianku adalah menjadi seorang dokter." Sakura diam sesaat. "Namun jika menjadi penyanyi dapat merusak hobi dan kesukaanku maka aku lebih rela melepaskannya.. Karena aku tidak ingin menjadi egois hanya untuk mempertahankan apa yang aku sukai dengan mengatakan kebohongan hingga lama-kelamaan aku semakin tenggelam dalam keegoisan sampai aku menyadari kehilangan impianku yang sesungguhnya. Mengorbankan hal yang lebih berharga mungkin menyebabkanku membenci hal yang aku pertahankan dengan keegoisanku, hal yang aku sukai. Jadi aku melepaskannya saat ini membuat aku masih bisa meraih impian namun juga menyukai apa yang selama ini aku sukai." Sasuke terdiam mendengar penjelasan wanita musim semi di sampingnya.
"Mungkin orang seperti kamu tidak mengerti bagaimana rasanya dan tidak mengerti apa artinya." Sakura menghembuskan nafas panjang. "Tapi hanya perlu satu yang kamu ingat Uchiha-san. Sama seperti impian dan hobiku, aku tidak akan melepaskan harta berhargaku begitu saja padamu. Aku pernah kehilangan separuh harta berhargaku dulu, dan sekarang... aku tidak akan melepaskan separuh harta berhargaku lagi begitu saja. Aku akan mengambil apa yang lebih berharga dari harta berhargaku dulu. Entah itu esok atau esoknya lagi, tapi akan ku pastikan apa yang telah menjadi milikku akan kembali lagi padaku." Sakura meninggalkan bungsu Uchiha yang masih terpaku di tempatnya.
.
.
.
Sakura menghabiskan waktu bersama Sarada hari itu hingga malam. Sakura mengembalikan Sarada pada Sasuke ketika mendapati tatapan tajam pria itu sepanjang hari. Sarada menangis terisak ketika Sakura menyerahkannya pada Sasuke. Bahkan Sarada memeluk leher Sakura erat saat tahu Sasuke akan mengambilnya. Gadis kecil itu terus menangis dan memeluk Sakura. Tidak mempedulikan bujuk rayu dari siapapun. Bahkan Sarada menggigit tangan Sasuke ketika papanya mencoba menggendongnya. Karena tidak tega mendengar tangis pilu anaknya, akhirnya dirinya mencoba menghibur Sarada. Sakura berjanji akan menemui Sarada lagi dan akan tinggal bersama Sarada jika Sarada menurut untuk tinggal di rumah papanya. Sakura juga menggunakan pekerjaannya —sebagai dokter— untuk menolong banyak orang di tempat yang jauh hingga Sarada harus tinggal bersama papanya. Dirinya berjanji jika akan bersama Sarada jika tugasnya selesei dia akan kembali.
"Mama janji mama akan kembali lagi jika mama sudah selesei menolong banyak orang." Sarada masih terisak mensengar Sakura bicara.
"Dengarkan mama, Sarada-chan. Sarada sayang mama kan?" Sarada mengangguk. "Sarada-chan ingin seperti mama kan?" Kembali gadis kecil itu mengangguk. "Jadi Sarada-chan harus menurut sama mama. Jadilah Sakura yang sebenarnya. Menjadi Sakura yang tidak pernah membenci musim gugur yang telah menggugurkan bunganya. Menjadi kuat di musim dingin meskipun hanya tertinggal batangnya. Dan tetap indah di setiap musim. Jangan pernah membenci siapapun yang melukaimu dan bertahanlah demi mama. Jangan menangis lagi. Bukankah Sarada-chan pernah bilang jika Sarada sudah besar? Dan orang dewasa tidak akan menangis lagi bukan? Maka dari itu tunggu mama, mama pasti akan menjemput Sarada." Sarada mencari keyakinan dalam wajah mamanya dan mendapati Sakura tersenyum.
"Mama janji?" Sakur mengangguk sebagai jawaban. Hingga akhirnya Sarada mau menuruti perkataan Sakura.
Sarada melepas pelukannya pada leher Sakura dengan tidak iklhas dan diam ketika Sasuke menggendongnya.
Sasuke dan Karin berpamitan pada Sakura dan yang lainnya kemudian pulang. Dalam perjalanan Sarada masih terisak kecil sampai dia lelah dan tertidur di pangkuan Karin.
Sasuke hanya bisa memandang Sarada sendu. Percakapannya dengan Sakura masih teringat dalam ingatannya.
.
.
.
Semua kembali seperti semula. Wanita yang identik dengan musim semi itu duduk di atas kasur dengan kedua kaki di tekuk dan kedua telapak tangannya bertaut menumpukan dagunya di dalam ruangan serba putih. Ketika menutup matanya bayangan tentang masa lalunya berputar kembali. Bayangan ketika seorang pemuda berambut emo memintanya— ah tidak, lebih tepatnya memerintahkannya menjadi kekasih pemuda itu tampak jelas di depan matanya. Hari itu hari di mana dirinya berulang tahun yang ke tujuh belas. Pemuda emo mengajak dirinya berkencan di Kyoto, hingga berhanami di The Philosopher's Path. Tempat yang indah dengan bangunan kunonya namun terkesan romantis hingga menjadi pilihan banyak remaja untuk berhanami. Pohon Sakura tumbuh di sepanjang kanal. Sungguh indah. Dirinya merasa sangat beruntung di ajak berkencan di tempat paling indah yang pernah dia kunjungi. Kebahagiaannya bertambah ketika si pemuda mengajaknya menjadi sepasang kekasih.
Sungguh kenangan yang manis untuk di lupakan, namun menyakitkan untuk di ingat jika melihat apa yang terjadi sekarang. Emerald indahnya tanpa terasa tergenang air dan jatuh menuruni pipi mulusnya. Sekuat hati dirinya mencoba melupakan pria yang telah menghancurkan hidupnya itu. Kedua kelopak matanya tertutup, menyembunyikan emerald yang terlihat rapuh namun kembali bayangan gadis merah muda bersama pemuda emo bermain piano. Sang gadis memainkan piano dan bernyanyi dengan tangan kanan pemuda itu merangkul pundaknya dari belakang sementara tangan yang lainnya menekan tuts-tuts menyeimbangi permainan gadis dalam dekapannya. Pemuda reven menumpukan dagunya pada puncak kepala gadis musim semi. Sesekali mereka tertawa dan bercanda bersama. Seketika itu juga kedua mata gadis itu terbuka menampilkan sepasang emerald yang terlihat terluka.
Samar-samar Sakura dapat mendengar kata-kata yang tak seharusnya dia ingat.
"Apa arti diriku untukmu Sasuke-kun?" Suara lembut seorang gadis seolah nyata dalam ruangan sepi.
"Kau Sakura-ku. Kenapa masih bertanya?" Suara pemuda itu tidak direspon oleh sang gadis. Seolah bayangan seorang gadis dengan pemuda tengah berpelukan di atas ranjang berada tepat di hadapan Sakura.
"Kau tahu kenapa aku selalu menyuruhmu memakai gaun putih di saat kita berkencan?" Gadis itu mengkerutkan kening bingung memandang pemuda yang sedang mendekapnya. "Karena aku selalu menyukai hal itu. Kau terlihat polos dan bercahaya, seperti seorang malaikat yang datang untuk menerangi setiap kegelapan yang ada di bumi. Kau dan putih adalah gabungan sempurna seperti dirimu yang sesungguhnya."
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Itu jawaban ambigu Sasuke-kun." Pemuda itu tersenyum tulus.
"Kau tak perlu mengerti. Suatu saat nanti kau akan memahaminya ketika seseorang yang sama polosnya dengan dirimu yang mengucapkannya dengan tulus."
Sakura tersentak dari lamunannya. Kata-kata Sasuke beserta ucapan Sarada hari itu memiliki artian yang sama. Namun dirinya tidak benar-benar menyadarinya.
Mengacak rambutnya frustasi wanita itu membuang semua bayang-bayang masa lalunya jauh. Kenapa lelaki itu bersikap manis padanya? Apakah lelaki itu hanya berpura-pura saja? Namun semua perhatian lelaki itu terasa nyata dan tulus. Dirinya tidak mengerti sejak kapan mereka menjalin hubungan di belakangnya sementara perhatian lelaki itu tak pernah berubah padanya. Apa karena dirinya begitu bodoh hingga tidak menyadarinya? Sakura tidak pernah mempercayai omongan semua orang tentang kedekatan sahabat dan pacarnya karena dirinya percaya pada mereka. Namun ketika Sakura mendengar dan melihat sendiri enam tahun lalu dirinya tidak bisa berpikir normal lagi. Gugurkan? Bukankah Sasuke menginginkan aku menggugurkan bayiku —meski hanya menguping pembicaraan mereka— lalu kenapa dirinya meminta Saradanya? Entahlah.
Perdebatan setelah tes DNA itu juga masih teringat jelas di memori otaknya. Sakura tidak mengerti dengan tawaran Sasuke pertama kali Sasuke membuka mulut setelah keheningan yang terjadi sedari mereka sampai. Menikah? Yang benar saja, Sasuke bertunangan dengan Karin namun dengan mudahnya meminta Sakura menikah dengan Sasuke. Dirinya wanita, dia sangat mengerti bagaimana sakitnya di khianati. Apakah lelaki itu tak memiliki hati hingga dengan mudahnya meminta dirinya menikah sementara lelaki itu memiliki tunangan. Sasuke meminta Sarada layaknya meminta sebuah bonekah begitu ringan di ucapkan tanpa tahu betapa beratnya dia melepas Sarada. Sasuke juga bilang bahwa neneknya—seingat Sakura sangat membenci orang tidak mampu sepertinya— meminta Sasuke segera memiliki anak sementara Karin tidak bisa hamil. Pada awalnya Sakura tidak percaya dan menolak keras keinginan Sasuke meminta Sarada. Dirinya mencoba membenci mereka, mencoba membenci sahabatnya namun pada kenyataannya dia tidak bisa. Rasa sayangnya lebih besar dari rasa benci itu sendiri. Pada akhirnya dirinya melepaskan Sarada untuk sementara. Biarlah Sarada bisa merasakan kebersamaan bersama ayahnya selagi dirinya menjalani operasi. Sakura berjanji akan mengambil Sarada lagi jika dirinya sembuh total. Tanpa seorang pun tahu alasan yang sebenarnya dirinya melepas Sarada, kecuali Tsunade. Melepas sementara karena dia akan tetap mengambil Saradanya kembali suatu saat nanti. Dirinya juga mengingat kata-kata terakhir yang Sasuke bisikan padanya sebelum dirinya pergi. 'Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi, Sakura.' kata-kata itu masih terngiang jelas di telinganya hingga dirinya memilih untuk menghilang dari lelaki reven itu. Dengan mudahnya lelaki itu berkata demikian sementara dirinya menutup hatinya rapat-rapat dari siapapun. Dirinya juga tahu jika Sasuke mencari dirinya di kampus maupun di rumah dari Tsunade namun dirinya mengabaikannya.
Pintu kamar berderit menandakan bahwa ada seseorang yang membuka pintu membuat lamunannya buyar dan disusul langkah kaki ringan yang mendekat.
"Kau harus beristirahat cukup Sakura-chan." Ucap wanita berambut hitam pendek yang kemudian duduk di pinggir ranjang.
"Kapan semua ini akan selesai Shizune-san?" Mengabaikan saran wanita tadi Sakura balik bertanya.
"Ini akan memakan waktu lama Sakura-chan. Ini bukan sesuatu yang mudah dan kemungkinan terbesarnya hanya enam puluh persen. Kita baru menjalani selama dua bulan, dan butuh sepuluh bulan lagi untuk hasil maksimalnya." Wanita itu menghela nafas panjang. "Seandainya kau menuruti ucapanku lebih awal mungkin kita bisa mengatasinya lebih awal."
"Aku mengerti Shizune-san. Maafkan aku." Sakura menoleh tersenyum dan di balas senyum oleh Shizune. Shizune berdiri, menepuk pundak Sakura lembut,
"Semua akan baik-baik saja Sakura-chan. Asal kita dapat mengurangi penyebabnya dan berusaha keras pasti semua berjalan dengan cepat. Tidurlah. Tsunade-sama akan sedih jika melihatmu seperti ini." Setelah berucap Shizune pergi. Sakura mencoba berbaring dan menutup mata.
.
.
.
Karin memandang jengah pria yang sedang memandang sebuah kotak berisi dua buah cincin permata yang berukuran berbeda. Sasuke menyadari kehadiran Karin ketika wanita itu melangkah mendekatinya. Di tutupnya kotak berwarna merah dan di kantongi dalam saku celananya.
"Apa Sarada sudah tidur?" Ucap Sasuke tanpa membalikkan badannya membuat wanita itu berhenti melangkah.
"Ya." Karin melihat jam tangan yang terpasang di tangan kirinya. "Sejak satu jam yang lalu dan sejak setengah jam yang lalu aku melihatmu melamun." Sasuke mengabaikan ucapan Karin.
"Kau terlihat menyedihkan Sasuke."
"..."
"Sampai kapan kau membiarkan ini semua terjadi? Kau hanya akan semakin membuat kami terluka."
"..."
"Kau bodoh Sasuke. Berhentilah bersikap egois. Kau hanya akan membuatnya semakin terluka. Katakanlah yang sebenarnya Sasuke. Sampai kapan kesalahpahaman ini berakhir." Air mata wanita itu sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Ini tak semudah yang kau bicarakan Karin. Kau tahu bagaimana sakitnya ketika kau bertemu dengan orang yang kau cintai namun dia memandangmu takut dan... benci?" Setelah lama dalam keheningan akhirnya lelaki itu menanggapi ucapan wanita itu.
Tersenyum sinis, "Bahkan dia memanggilku seperti memanggil orang asing. Aku tak tahu apa yang ada dalam otaknya."
"Aku sudah berkali-kali mencarinya. Bahkan setelah Sarada berada di tanganku."
"Karena kau tak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya." Sahut Karin.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan jika dia selalu menghindar. Bahkan dia bungkam saja ketika aku bertanya kenapa dia menghilang dan sekarang membenciku. Aku tidak tahu alasannya."
"..."
"Aku pernah datang ke rumah ibu angkatnya tiga hari setelah Sarada bersamaku."
FLASHBACK :
"Anda pasti tahu di mana Sakura berada Tsunade-san. Sakura pasti berada di sini bukan?" Sasuke mencoba masuk kedalan namun di halang oleh Tsunade.
"Kau tidak sopan bocah. Sakura tidak di sini, cepat pergi dari sini."
"Aku hanya ingin berbicara dengan Sakura Tsunade. Beri aku sepuluh menit saja. Ini tentang Sarada. Dia selalu memanggil mamanya."
"Oh ya..." Tsunade tersenyum sinis. "Lalu kenapa kau tidak mengembalikan Sarada padanya saja?"
"Aku akan mengembalikan Sarada asal aku bertemu dengan Sakura. Aku mohon. Kami membutuhkan Sakura. Aku akan bertanggung jawab Tsunade-san. Aku akan menikahi Sakura. Aku berjanji."
Tsunade terdiam mendengar permohonan Sasuke.
"Kau berpikir Sakura mau menikahimu dengan Sarada sebagai alasannya? Jangan bercanda! Dia bukan wanita murahan yang memanfaatkan putranya untuk bisa bersamamu lagi. Dan asal kau tahu Uchiha, Sakura tidak lagi mencintaimu. Kau pikir siapa kau tiba-tiba datang dan mengambil Sarada begitu saja." Teriak Tsunade marah.
"Aku akan bertanggung jawab. Jadi beri aku kesempatan Tsunade-san." Ucap Sasuke dengan nada memohon.
"Kau bahkan punya waktu lima tahun untuk sebuah kesempatan tapi kau diam saja. Kemana saja kau ketika Sakura terpuruk dan sekarat di rumah sakit untuk mempertahankn bayinya?! Kau bahkan mungkin tidak tahu jika Sakura pergi.."
"Ya, aku bahkan tidak tahu bahwa dia hamil. Aku mencoba mencarinya tapi seolah dia hilang di telan bumi tiba-tiba. Bahkan aku tidak tahu alasan kenapa dia pergi meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. Bicara denganmu hanya akan membuat omong kosong tak berarti. Sial!" teriak Sasuke frustasi.
"Sakura tidak di sini. Dia sudah di Korea sejak Sarada kau ambil. Pergilah! " Tsunade menutup pintu tanpa menunggu Sasuke membalas ucapannya.
Sasuke tahu bahwa ibu angkat Sakura berbohong padanya. Dengan langkah berat dirinya meninggalkan kediaman Senju.
FLASHBACK END.
Karin tidak percaya Sasuke bahkan memohon paa seseorang yang bahkan tidak di kenalny sebelumnya. Sejak awal dirinya tahu jika Sasuke akan berusaha keras untuk mencari keberadaan wanita itu namun dirinya tidak tahu jika Sasuke akan memohon pada Tsunade.
Dua belas hari setelah percakapan mereka. Sasuke mencoba mendatangi ke kediaman Senju untuk kesekian kalinya namun hailnya pun tetap sama, dirinya akan di usir bahkan sebelum menginjakkan kaki memasuki gerbang rumah. Dirinya merasa pusing menghadapi pertanyaan yang sama setiap harinya tentang Sarada dan Sakura dari keluarganya. Sasuke sudah memperkirakan hal itu akan terjadi namun ia tidak tahu jika akan semerepotkan ini. Bahkan dirinya kadang tidak pulang ke mansion Uchiha untuk menghindari keluarganya, dia tidak akan cemas dengan Sarada karena ada Karin dan Sasuke percaya Karin tidak akan mungkin mencelakai Sarada karena Karin memang tidak mungkin melakukan itu.
Melihat Sasuke frutasi membuatnya meninggalkan pekerjaannya dan berencana menjemput Sarada hari ini. Wanita merah itu tahu jika Ino diam-diam menemui Sarada di sekolah dan Karin berencana akan menemui Ino untuk menanyakan Sakura Karen dia yakin wanita pirang itu pasti tahu di mana keberadaan wanita musim semi sekarang berada. Dugaannya benar, dia melihat Ino sedang bicara dengan Sarada. Karin menghampiri mereka membuat Ino sedikit terkejut dengan kedatangan wanita berkacamata hitam itu. Karin mencoba berbicara pada Ino namun wanita pirang itu mengelak mencoba kabur dan menabrak Hinata ketika dirinya berbalik. Karin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menyeret Ino beserta Hinata masuk ke mobilnya sementara Sarada bersama Boruto berada di mobil jemputan keluarga Uzumaki.
Karin membawa kedua wanita —mantan sahabatnya— ke café dekat sekolah Sarada. Disana mereka hanya saling diam sementara Karin memanang tajam Ino beserta Hinata yang saling membuang muka. Karin memaksa Ino membuka mulut tentang keberaan Sakura namun wanita pirang itu tetap bungklam.
"Sungguh aku tidak tahu di mana Sakura. Tsunade ba-san hanya bilang Sakura ke Jeju dan hanya itu yang aku tahu."
"Bukankah kau sahabatnya, tidak mungkin kau tahu." Ucap Karin dengan penekanan pada kata sahabat.
"Ada apa denganmu?! Bukankah kau seharusnya senang tidak ada yang mengganggu asmaramu dengan Sasuke." Bentak Ino merasa di pojokkan.
"Jangan berpura-pura bodoh Ino. Kita bertiga tahu tentang penyebab Sakura pergi dulu. Dan kalian mengambing hitamkan seseorang yang mencoba melindungi kalian." Ucap Karin sarkasme.
"Apa maksudmu?!" Ada nada tidak terima dari pertanyaan Hinata.
"Jangan berpura-pura tidak tahu Hinata. Kau bahkan lebih tahu segalanya dari siapapun."
"Apa yang kau bicarakan? Aku tiak mengerti dengan semua lelucon it–"
"Lelucon? Pesta, pertunangan, mabuk,obat tidur, berakhir di ranjang, aku bahkan tahu kau mengerti apa yang aku bicarakan Hinata. Kau membiarkan– tidak, kau membuat Ino mabuk an member obat tidur pada minuman Sasuke." Karin memotong ucapan Hinata. "Dan kau Ino, kau memberikan obt perangsang pada minuman Sakura yang di minum Sasuke waktu I bar. Jangan kau pikir aku tidak tahu Ino. Aku tahu kau juga mencoba membawa Sasuke ke kamar dan bercumbu dengannya di pesta waktu itu. Kau berbohong dan berkhianat pada Sakura." Karin memandang Ino marah. "Kau masih menyukainya dan ketika hubunganmu dengan Neji tidak seperti yang kau harapkan kau mencoba mendapatkan Sasuke. Kau iri pa–"
"Jangan berpikir hanya kau yang merasa di korbankan Karin! Lalu apa alasanmu bertunangan dengan Sasuke dan setelah Sakura pergi?! Kau juga mencintainya Karin, jangan munafik. Kita bertiga mencintai orang yang sama." Teriak Ino memotong ucapan Karin. "sementara Hinata, jangan bertingkah polos sementara kau senang bukan melihat kita bertiga saling membenci? Kau pikir aku tidak tahu ap–"
"Ya kalau itu memang benar apa masalahmu? Kau bersikap seolah hanya kau yang mengerti Sakura tapi aku yakin ku bahkan tidak memberitahu padanya tentang malam itu bukan?!" Ucap Hinata sarkasme memotong ucapan Ino.
"Cukup. Berhenti saling menyalahkan." Ucap suara dingin yang mereka sangat kenal membuat mereka membeku ketika menoleh ke sumber suara.
"Sa–"
"Kalian berteriak membuat semua perhatian pengunjung café tertuju pada kalian." Suara ingin itu membuat mereka tersentak dan melihat keseliling an seikit malu ketika menyadari mereka menjai pusat perhatian.
"Sakura.." ucap Ino lirih bahkan terdengar seperti sebuah bisikan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Gomen ne, hontou ne gomen.. saya benar-benar minta maaf karena telat update karena saya lebih mementingkan kesehatan saya. Sakit saya kambuh dan gak bisa berhadapan sama yang namanya hp, laptop, computer dan sejenisnya. Kalian pasti juga sudah tahu kan semengerikan apa penyakit yang diakibatkan sama radiasi hp atau sejenisnya?meskipun belum sampai tahap parah tapi tetep aja nyiksa. Jadi saran nih buat kalian sebelum terlambat, jangan sering-sering main hp atau laptop sampai lupa waktu. Nih aja nyalin sampai segini mata udah buram n kepala udah berat. Aduh maaf nih malah jadi curhat.. XD
Saatnya balas review:
moydini: eum.. itu ntar di lihat aja.. heheee.. Sasu egois juga punya alaan kok.
Yoshimura Arai : udah jangan nangis lagi nih persediaan balon ma permenku habis nih kalo pada nangiss XD sasu gk jahat hlo sebenernya
Guest1: cup cup cup jangan nangis lagi. Udah elesei kok acara nangisnya
Younghee Lee: makasih buat review nya
echaNM: yups.. aku aja juga baper nulisnya.. nih uda ke buka seikit misterinya
Jamurlumutan462: Karin sebenarnya gak jahat hlo.. ia jahat kepaksa juga. Iya kasian Sarada, untung dia gadis tangguh XD
Guest2: soalnya sudut pandang sasu itu kunci konfliknya jug sih.. hihii.. nih sedikit gambarin perasaan sasu di chap ini
Firza290: sebenarnya 'dia' yang di maksud Karin itu mau aku certain di chap ini sekalian tapi aku nya gak sanggup nyalin sebanyk itu, jadi tunggu chap depannya. Mungkin di chap ini sedikit bis nebak kok..
Yencherry: bisa I pertimbangkan kok, soalnya saya juga suka saisaku..#plak.. tapi saya gak janji hlo soalnya saya uah bikin sampai ending.
Avery Emmeline : ahh iya, saya minta maaf atas typonya. Makasih udah mau memberitahu. Setelah saya liat ternyata juga saya salah. Itu yang bener Haruno Sarada. Sekali lagi terimakasih dan tolong kasih tahu kalao ada typo lagi. Saya gak merasa tersinggung, beneran kok. Malah seneng ada yang mau memperbaiki.
Taka Momiji: maaf jika alurnya gak sesuai atau nge-rush. Maklum saya cuman penulis abal-abal juga baru I dunia fanfic.
suket alang alang: kalo masalah cinta kagaknya hanya sasu yang tau XD
BubbleChickenButt: gak papa tissue cuman 3000 ntar beli lagi XD. Emang yang bikin papa sasu keren kan jahatnya itu XD maklum orangnya stundere XD
Annisa852: nih udah lanjut. Gak papa sekali-kali nangi biar plong XD
Linda Y: terimakasih buat sarannya. Saya punya cerita dengan konflik saya endiri. Saya tahu kalo fic ini gak bermutu jadi saya gak memaksa siapapu buat ngeluangin waktu buat saya. Saya uda bikin cerita sampai akhir dan riviews buat saya itu sebagai perbaikan namun konflik, alur, plot, ending dan apapun itu da di tangan saya. Mungkin kamu seorang yang terbiasa dengan yng profesionl jadi fic saya hnya terlihat eperti sampah. Saya gak maka ana buat lanjutin baca jik anda tidk suka, tpi jika anda bc sy dan member msukn sy juga gk kebertan bahkan jik anda menghinpun saya juga gak keberatan. Terimkasih ebelumnya.
donat bunder: hahahaa itu ucapan juga bikinnya asal ceplos kok XD. Yah chap kmarin emang penuh rasa sesak di hati #jiahh.. itu kalo kamu baca lengkpnya mungkin tmbh nyesek kali, karna bagian itu banyak yang aku potong soalnya ngerasa etail an berbelit an jainya gitu eh
Hyuga Hana: sebenarnya gk brmaku nistain sasu sih, tapi udah tuntutan hidup#eh cerita maksudnya XD
caesarpuspita: nih udah lanjut..
Harika-chan ELF: yups karena hanya Karin yang cocok dapet peran itu :D di chap ini keliatan gk sasu jaht? Iya Sarada udah gk tahan di pisahin ma saku makanya dia ungkapin semua ii hatinya..
Hana: chap depan bakal tahu kok siapa 'dia'.. sasu gak sgitunya kok tenng aj.. :D
1: ahh makasih udah bilang bagus padahal masih abal kayakgini. Dugh kasian sasu jai banyak yang nyumpahin XD
Miura Kumiko: jengkol mah masih mending dari pada segede durian XD.. timpukin aja sama ayam biar au pantat ayam hahahaa
Ss: ugh banyak yang baper yah :D nih dah up date
yu otosaka: ahh seneng deh kalo feelnya dapet :D gpp nangis bentar biar plong :D
C. Prichilla : gak masalah kok panjang2 :D iya tuh emang uchiha kan egois #ampun mbah madara XD. Lagunya emang enak di denger kok. Di chap ini udah puas belum ma perasaan sasu? :D
Thank for review/ favorit/ follow and silent reader:
Annisa852, blackwing123, Drisana620, Firza290, Kazuomi Inoue, WbQueen, Younghee Lee, yu otosaka, Yumi UchiHaruno, Alexandra Keith, caesarpuspita
Well buat tambahan aja nih, saya gak maksa atau pun mengharuskan siapapun buat baca nih fic sampah. Daan makasih aja buat yang uah mau ngeluangin waktu buat baca an review. Saya uda bikin cerita sampai akhir dan riviews buat saya itu sebagai perbaikan buat nambahin atau ngurangin cerita namun konflik, alur, plot, ending dan apapun itu ada di tangan saya. Review juga sebgai penyemangat, saya juga gak terlalu ambil pusing jika mau menghina fic ini sekalipun,. Saya bersyukur sama tuhan udah di beri hati kayak batu jadi gak bakal mudah ambil hati hinaan orang. Sekali lagi saya gak mksa siapapun baca atau suka sama fic ku.
Dan buat yang udah hargain dan baca fic ku makasih banget.
Cukup sekian dari saya.. :D
Maaf sekali lagi curhat.
See U next chapter..
