Di balkon kamar terlihatlah gadis musim semi berdiri memandangii tanaman yang masih berembun. Emerald indahnya menatap kosong bunga-bunga indah di luar. Tangan kekar yang memeluknya dari belakang menyadarkannya dari lamunan.

"Ohayou Sasuke-kun." Ucap gadis itu lirih yang di balas sapaan balik dari pemuda reven di belakangnya setelah itu mereka hanya diam.

"Akhir-akhir ini kau murung." Pertanyaan dengan nada pernyataan pemuda reven terlontar namun gadis itu masih bergeming sebelum berbalik menghadap sang kekasih.

"Apa kau bosan denganku Sasuke-kun?" Ada nada ceria yang di paksakan oleh gadis itu. Pertanyaan itu membuat Sasuke terdiam sebelum menggeleng dan terkekeh kecil.

"Tidak. Jika aku bosan mungkin saat ini aku tak bersamamu. Kenapa kau berpikir begitu?"

"Tidak ada. Hanya saja kau terlihat berbeda. Kau jarang menyentuhku sekarang."

"Bukankah sekarang aku sedang menyentuhmu?" Alis pemuda itu terangkat satu.

"Kau tahu maksudku."

"Baiklah. Aku hanya tidak ingin membuatmu kelelahan. Di siang hari kau terlalu sibuk jadi aku tidak ingin membuatmu kelelahan." Gadis itu tahu ada hal lain yang di sembunyikan kekasih revennya.

"Aku sudah menyiapkan gaunmu untuk malam ini. Kau harus lebih cantik dari biasanya. Perlu aku jemput?" Gadis itu menggeleng menjawabnya kemudian melepas pelukan Sasuke sebelum berbalik.

"Aku akan berangkat bersama Ino saja." Tanpa gadis itu sadari pemuda reven di belakangnya tubuhnya menegang ketika nama sahabat gadis itu disebut.

.

.

.

Malam hari yang di nantikan itu pun di mulai. Pesta untuk pengganti pemegang baru perusahaan Uchiha. Di adakan tepat ketika sang kekasih berulang tahun dengan segala kejutan yang sudah di rencana pemuda itu.

Sudah dua jam pemuda itu menunggu sang kekasih yang tak kunjung datang juga dan selama itu pesta sudah di tunda selama satu jam. Nomor kekasih pink nya itu juga tidak aktiv juga dengan sahabat pirangnya.

"Bagaimana Sasuke-kun?" Tanya gadis merah yang juga terlihat panik.

"Sebaiknya acara segera di mulai Sasuke." Tegur sang ayah yang terlihat marah kemudian pergi lagi meninggalkan putranya.

"Kuso!" Hanya umpatan itu yang keluar dari mulut sang pemuda. Raut wajahnya terlihat marah,kecewa dan sedih di saat yang bersamaan. Di lihatnya kotak persegi kecil berwarna merah yang sedari tadi di pegangnya sebelum kemudian di buangnya kotak itu dan beranjak pergi.

Gadis merah itu memandang sendu kepergian pemuda itu. Rencana pemuda itu gagal, gadis itu tahu. Dan mungkin pesta ini akan menjadi pesta tersedih yang pernah ia hadiri.

Seseorang memungut kotak merah itu dan di kantonginya.

.

.


.

.

Haru no Sakura

Disclaimer : Naruto© Masashi Kishimoto

Sakura, Sarada, Sasuke

Rate: T

Genre: Drama, Family

Warning: OOC, typo, alur berantakan, ide mungkin pasaran, dll.

Don't like Don't read!

Don't like Don't read!

.

.

.

.

"Sepertinya aku sudah selesai nona Tsunade. Bolehkah aku kembali?" Wanita pirang yang di panggil Tsunade mendesah.

"Ada hal lain Sakura. Oh astaga! Sudah berapa kali jangan memanggilku nona lagi Sakura." Wanita pink lawan bicaranya memutar kedua bola matanya.

"Ini juga tempat kerja kaa-san. Rasanya tidak sopan."

"Kita hanya berdua saja. Ini tentang Sasukemu." Raut wajah Sakura menegang ketika nama itu di sebut.

"Dia bukan milikku kaa-san. Lagi pula apa lagi yang dia inginkan. Dia terlalu sempurna juga dengan hidupnya. Dan aku tidak memiliki apapun untuk dia rampas...lagi."

"Kau... Dia hanya ingin kau Sakura. Berulang kali dia datang ke rumah ataupun menemuiku hanya untuk bertanya keberadaanmu."

"Mungkin dia hanya ingin mengganggu hidupku. Dia mengkhianatiku kaa-san. Aku melihat dan mendengar sendiri." Ucapannya semakin lirih.

"Ingat Sakura, aku juga seorang dokter psikologi. Aku bisa membaca...sesuatu..." Tsunade memandang Sakura intens. "...di matanya. Ada sesuatu yang mungkin kau dan dia tidak ketahui." Menghela nafas panjang Tsunade melanjutkan. "Ku rasa ada kesalahpahaman di antara kalian."

Ruangan terasa lenggang sesaat. Wanita musim Semi itu memalingkan wajahnya. Melihat keluar jendela. Seolah kehilangan kata dia tidak mampu membalas satu katapun dari ibu angkatnya.

"Dia pernah berkata padaku, jika dia pun tidak tahu dengan alasan kenapa kau tiba-tiba menghilang—" Sakura memalingkan wajahnya memandang Tsunade, memotong ucapannya.

"Seharusnya dia sadar kenapa aku pergi. Dia berbohong padaku juga dia menyembunyikan banyak hal padaku."

"Kalian perlu bicara. Jangan keras kepala. Temui dia sekali saja, dan bicarakanlah secara dewasa dengan kepala dingin."

Wanita itu terdiam memikirkan ucapan Tsunade.

"Pikirkan baik-baik Sakura."

Ketukan di pintu menghentikan percakapan mereka. Setelah mempersilahkan masuk, seorang suster berambut hitam digelung masuk. Mengatakan ada seseorang yang memaksa ingin bertemu Tsunade. Seolah mengetahui siapa 'tamu tidak diundangnya' Tsunade menyuruh tamu itu masuk.

Sakura terkejut dengan kehadiran tamu itu begitupun dengan pria dengan mata onyxnya memandang tajam kedua wanita itu bergantian.

"Aku tahu kau memang menyembunyikannya Tsunade-san." Tuduh pria reven dengan kemarahan yang sengaja tidak ia sembunyikan.

"Aku tidak menyembunyikan apapun. Dia sendiri yang bersembunyi." Sakura melotot tak percaya dengan ucapan tenang Tsunade.

"Apapun itu aku tidak peduli. Kau tidak bisa melarikan diri lagi Sakura. Kita perlu bicara." Sasuke mendekati Sakura dan menarik tangan wanita itu agar mengikutinya.

"Kau menculik anakku di depanku sendiri Uchiha." Sindir Tsunade yang diabaikan Sasuke. "Ingat apa yang aku ucapkan Sakura." Mata emerald itu memandang Tsunade penuh tanya. Tsunade hanya melambaikan tangan kecil seolah mengucapkan hati-hati di jalan. Hingga wanita muda itu pasrah di bawa lari oleh mantan kekasihnya.

.

.

.

"Katakan sesuatu." Tuntut pria itu setelah diam dalam keheningan cukup lama.

"Kenapa kau memilih tempat di sini." Wanita itu merasa aneh ketika pemuda itu membawa dirinya di restoran dekat sekolah Sarada.

"Karena aku yakin kau pasti ingin bertemu dengan anak kita." Ucapnya malas. "Katakan sesuatu yang lebih penting."

"Apa? Aku bahkan tidak tahu hal penting apa yang kau maksud."

"Kau meninggalkanku."

"Kau seharusnya sadar kenapa aku pergi."

"Tidak. Seharusnya aku yang marah karena kau meninggalkanku begitu saja." Sakura mengkerutkan alisnya marah mendengar penuturan Sasuke.

"Kau harusnya sadar Uchiha." Sakura melihat jam tangannya "Kurasa kita harus menjemput Sarada sekarang, sudah lima belas menit lebih dari waktu pulangnya." Sakura mencoba mengalihkan percakapan tanpa sadar membuat Sasuke menyeringai.

"Kita? Bukankah kita seperti pasangan orangtua yang sedang menjemput anaknya." Wajah wanita itu memerah mendengar ucapan pria di hadapannya. Seolah ucapannya menjadi bumerang bagi dirinya.

"Terserah kau." Sebelum beranjak dari duduknya pemuda itu menarik tangan wanita itu membuatnya terduduk lagi.

"Ada Karin yang bisa menjemputnya. Ada Itachi juga jika dia tidak bisa. Selama Sarada bersamaku dia akan terjamin." Sakura memutar kedua bola matanya bosan.

"Jelaskan alasan kau menghilang." Tatapan Sasuke tterlihat serius saat ini membuat Sakura tidak bisa lari lagi.

"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Bukankah begitu?" Sasuke bergeming tidak bisa menjawab membuat keyakinan Sakura meningkat. "Katakan kenapa kau tidak menyentuhku selama seminggu sebelum aku pergi? Apa karena kau bosan atau kau memiliki kekasih lain hingga takut aku hamil? Atau kau memiliki hubungan khusus dengan sahabatku di belakangku?" Ucap Sakura penuh marah.

"Dengar Sakura. Aku ingin berkata jujur malam itu, tapi kau tak datang. Aku—" Ucapan Sasuke terputus dengan teriakan wanita yang berada tiga meja di seberang mereka membuat mereka menoleh dan terkejut mengetahui siapa wanita itu.

"Ada apa denganmu?! Bukankah kau seharusnya senang tidak ada yang mengganggu asmaramu dengan Sasuke." Mereka dapat melihat Ino marah hingga membuat beberapa pengunjung kaget dengan bentakannya.

"Jangan berpura-pura bodoh Ino. Kita bertiga tahu tentang penyebab Sakura pergi dulu. Dan kalian mengambing hitamkan seseorang yang mencoba melindungi kalian." Meskipun jarak mereka terpaut tiga meja tapi Sasuke maupun Sakura bisa mendengar nada sarkasme Karin.

"Apa maksudmu?!" Sakura mengernyitkan alisnya ketika melihat wanita berambut indigo bersama kedua wanita itu. 'Kenapa mereka semua bisa bersama?' itulah pikiran Sakura.

"Jangan berpura-pura tidak tahu Hinata. Kau bahkan lebih tahu segalanya dari siapapun."

"Apa yang kau bicarakan? Aku tiak mengerti dengan semua lelucon it–"

"Lelucon? Pesta, pertunangan, mabuk,obat tidur, berakhir di ranjang, aku bahkan tahu kau mengerti apa yang aku bicarakan Hinata. Kau membiarkan– tidak, kau membuat Ino mabuk dan memberi obat tidur pada minuman Sasuke." Sakura berdiri dari tempat duduknya. Kali ini Sasuke membiarkan wanita itu. Dia dapat melihat raut wajah shyok wanita itu. Di biarkannya Sakura berjalan ke meja ketiga wanita yang sedang berdebat itu.

"Dan kau Ino, kau memberikan obat perangsang pada minuman Sakura yang di minum Sasuke waktu di bar. Jangan kau pikir aku tidak tahu Ino. Aku tahu kau juga mencoba membawa Sasuke ke kamar dan bercumbu dengannya di pesta waktu itu. Kau berbohong dan berkhianat pada Sakura." Karin memandang Ino marah. "Kau masih menyukainya dan ketika hubunganmu dengan Neji tidak seperti yang kau harapkan kau mencoba mendapatkan Sasuke. Kau iri pa–"

"Jangan berpikir hanya kau yang merasa di korbankan Karin! Lalu apa alasanmu bertunangan dengan Sasuke dan setelah Sakura pergi?! Kau juga mencintainya Karin, jangan munafik. Kita bertiga mencintai orang yang sama." Teriak Ino memotong ucapan Karin. "sementara Hinata, jangan bertingkah polos sementara kau senang bukan melihat kita bertiga saling membenci? Kau pikir aku tidak tahu ap–"

"Ya kalau itu memang benar apa masalahmu? Kau bersikap seolah hanya kau yang mengerti Sakura tapi aku yakin kau bahkan tidak memberitahu padanya tentang malam itu bukan?!" Ucap Hinata sarkasme memotong ucapan Ino.

Sakura sudah berada di samping meja mereka tanpa di sadari mereka

"Cukup. Berhenti saling menyalahkan." Ucap Sakura dingin membuat tubuh ketiga wanita itu membeku dan menoleh bersamaan.

"Sa–"

"Kalian berteriak membuat semua perhatian pengunjung café tertuju pada kalian." Suara dingin itu membuat mereka tersentak dan melihat keseliling dan sedikit malu ketika menyadari mereka menjadi pusat perhatian.

"Sakura.." ucap Ino lirih bahkan terdengar seperti sebuah bisikan.

"Aku perlu penjelasan dari apa yang aku dengar tadi." Ucap Sasuke datar membuat ketiga wanita itu tersentak kembali.

.

.

.

"Jadi?Siapa yang suka rela menjelaskan lebih dulu?" Tanya Sasuke. Mereka semua berpindah tempat. Rasanya cafe bukan tempat yang cocok untuk di jadikan tempat berbicara serius. Jadi di sinilah mereka sekarang di dalam apartemen lama Uchiha Sasuke, lebih tepatnya di ruang tengah. Kali ini ada Naruto juga yang di undang Sasuke. Awalnya pria rubah itu bingung ketika dirinya tiba-tiba di hubungi sahabatnya namun dia hanya diam ketika tahu jika suasana di antara mereka sedang tidak baik.

"Kau boleh menanyakan apapun padaku Sakura." Ucap Hinata lirih. Sedangkan wanita musim semi itu masih bergeming.

"Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. Ini semua membingungkan." Ucap Sakura akhirnya.

"Beri aku alasan kenapa kau pergi begitu saja Sakura." Tanya Naruto pada akhirnya. Meskipun lelaki itu tidak peka dan terlihat bodoh tapi dia mampu membantu menyeleseikan masalah itulah alasan kenapa Sasuke meminta Naruto ke sini, juga pada Naruto lah orang yang paling di percaya Sakura.

"Aku mendengarnya. Sasuke dan Karin... Aku mendengar ucapan mereka. Tiga hari sebelum aku pergi. Waktu itu aku ingin memberitahu soal kehamilanku pada Sasuke dan aku tidak sengaja mendengar ucapan mereka. Mereka membicarakan tentang suatu hal yang tidak aku mengerti..." Sakura menarik nafas dalam sebelum mengeluarkannya lagi. "..di kampus. Tapi aku yakin jika orang yang di bicarakan itu aku." Karin menahan nafas mendengarnya.

"Aku yakin 'dia' yang di maksud mereka itu aku." Karin memekik kaget mendengarnya.

"Tidak. Kau salah Sakura. Bukan kau. Kau pasti tidak mendengar keseluruhan pembicaraan itu."

"Baiklah. Kalau begitu buat aku mengerti." Ucap Sakura kesal.

"Aku harus menceritakan semuanya...tapi aku bingung harus bercerita dari mana.." Karin menggatung ucapannya berpikir harus memulai dari mana. "...baiklah aku akan bercerita dari awal. Kau ingat ketika Sasuke memintamu ke bar enam tahun lalu di waktu musim gugur?" Wanita musim semi itu hanya mengangguk. "Dia berencana mengatakan hal penting padamu. Dan hanya aku dan Sasuke yang tah—"

"Hal penting?" Tanya Sakura curiga.

"Oh astaga.." Karin beranjak dari duduknya dan mrngahapiri Sasuke yang sedang bersandar pada piano kusam. "Berikan padaku!" Tuntut Karin pada Sasuke.

"Tidak."

"Katakan padaku di mana kau menaruhnya."

"Tidak Karin."

"Jangan jadi pengecut Sasuke. Kau harus menyelesaikan masalah ini jika ingin Sakura memandangmu lagi." Akhirnya Sasuke mengambil sebuah kotak merah di saku celananya dan menyerahkan kotak itu pada Karin.

"Ini.." Ucap Karin setelah berada di hadapan Sakura sembari memperlihatkan kotak itu. "Dia ingin memberimu ini sebelumnya. Dan sialnya gagal karena meminum minumanmu yang telah di beri obat perangsang oleh seseorang." Ucap Karin sinis.

"Dari mana kau tahu?" Tanya Hinata.

"Aku melihat ketika orang itu memasukkan sesuatu pada minuman baru Sakura. Dan aku mengikuti dia sampai akhirnya aku tahu siapa orang itu dan sialnya aku tidak bisa mengejar dia."

"Siapa?" Lirih Sakura.

"Seseorang yang setia bersamamu. Yang saat ini berada di sampingmu"

Wanita pirang disampingnya bergerak-gerak gelisah mendapati semua mata memandangnya.

"Maafkan aku." Ino menunduk. "Aku hanya bercanda Sakura."

"Bercanda?" Sasuke tertawa sinis menanggapi ucapan Ino.

"Dengar, waktu itu aku hanya ingin membuatmu sadar Sakura. Tidak ada manusia yang sempurna. Semenjak kau menjadi lebih terkenal kau sombong, kau selalu mementingkan Sasuke, kau egois dan ku pikir itu lelucon yang pas untukmu." Nafas Ino memburu juga bibirnya bergetar. "Maafkan aku, sungguh aku tidak berpikir akan seperti ini." Sakura diam mencerna ucapan Ino. Memang benar dirinya menjadi lebih sibuk setelah menjadi penyanyi. Tapi dirinya juga bersyukur karena perbuatan Ino itu dirinya mendapat malaikat kecil yang luar biasa.

"Itu bukan topik utama kepergian Sakura. Aku hanya ingin menjelaskan dari awal. Ku pikir itu tidak ada masalahnya semenjak satu bulan kejadian itu dan aku pikir itu tidak menjadi masalah besar." Jelas Karin tenang.

"Jangan berbelit-belit Karin! Ucapkan intinya." Seru Hinata tidak sabaran.

"Aku tidak berbelit memang inilah awal pembicaraanku dengan Sasuke waktu itu dan aku tidak tahu apakah Sakura mendengarnya. Ku rasa Ino sendirilah yang harus mengaku tentang ini. Aku tidak ingin terlihat seperti pengadu." Ucap Karin sarkastik.

"Apa? Apa yang perlu aku jelaskan."

"Pesta di vila Hyuga. Saat kau mabuk itu." Balas Karin sarkastik.

Ino menunduk lagi, merasa bingung dan serba salah. Wanita barbie itu bingung harus memulai dari mana. Setelah hening cukup lama akhirnya Ino mengangkat wajahnya menatap wanita musim semi di sampingnya dengan manik shapphir yang sarat akan penyesalan.

"Maafkan aku Sakura. Waktu itu aku mabuk dan aku terlalu depresi dengan masalahku bersama Neji. Aku iri melihat Sasuke begitu perhatian padamu, maksudku…meskipun dia terlihat dingin dan tidak peduli tapi dengan dirimu dia berbeda. Mungkin kau tidak sadar tapi kami bisa melihat itu." Membuang nafas frustasi Ino memalingkan wajahnya. "Kemudian kau menemui Karin di bawah dan Naruto dan Hinata pergi ketika Sasuke datang menanyakan dirimu. Waktu itu aku merasa marah..dan panas karena aku mungkin–masih mencintai Sasuke dan pikiran iblisku datang dan menghasutku agar aku merayunya. Dan waktu itu aku terlalu mabuk sampai aku mati rasa, aku tidak peduli dengan apa yang dia katakana sampai aku berpikiran seperti seorang pengecut. Aku tahu Sasuke sebenarnya peduli dengan teman-temannya jadi aku memintanya untuk mengantarku ke kamar di sana dengan alasan aku idak kuat berjalan dan dia memapahku sampai di kamar kemudian aku merayu Sasuke lagi, tapi Sasuke menolak itu dan aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia tidak sadarkan diri, aku…mencumbunya… aku menciumnya….setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi." Ino menarik nafas panjang sebelum di hembuskannya. Dia merasa menjadi wanita rendahan ketika mengungkapkan semua itu.

"Maafkan aku Sakura. Mungkin aku tak lebih dari seorang jalang di luar sana." Ino mulai terisak. Sementara gadis di sampingnya hanya diam membisu. Terlalu syok mendengar pengakuan itu. Bahkan tidak ada airmata yang menetes tapi manic emeraldnya menyiratkan jika dia terlalu kecewa.

Karin hanya diam dan mematung dirinya bingung harus bersikap bagaimana. Sebenarnya dia tidak tega jika melihat sahabat-sahabatnya terluka namun dia lelah jika harus menjadi kambing hitam terus-menerus.

"Aku tidak tahu ini benar atau tidak, dulu Shino berkata padaku jika seseorang memasukan sesuatu pada minuman Sasuke di pesta itu dan membuang bungkusnya di tempat sampah yang ternyata adalah obat tidur. Apa kau bisa katakan sesuatu Hinata?" wanita indigo yang sedari tadi diam menyimak itu tiba-tiba tersentak namanya di panggil.

"A-apa maksudmu Karin?" ucap Hinata was-was.

"Ku rasa kau mengerti Hinata. Apa kau yang menaruh obat itu?"

"Jangan menuduh Karin. Hinata selalu bersamaku waktu itu." Ucap Naruto marah.

"Selalu? Apa kau yakin?" Naruto terdiam mendengar ucapan Karin itu.

"Dia menyembunyikan sesuatu darimu Naruto. Kau tidak tahu saja jika selalu cemburu dengan Sakura karena kau selalu mementingkan Sakura daripada dia." Ucap Karin sarkastik.

"Apa itu benar Hinata?" hinata menunduk.

"Maafkan aku."
"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke dingin.

"Bukan aku yang memasukkan obat itu. Tapi ku mohon jangan marah pada orang ini jika aku memberitahu kalian.

"Siapa orang itu?" Tanya Sasuke dingin.

"Ne-neji-nii yang melakukan itu. Aku melihat dia memasukan sesuatu ke dalam minuman dan aku tidak tahu untuk siapa minuman itu. Dan aku menegurnya tapi dia hanya berkata jika minuman itu membuat seseorang merasa pusing dan mengantuk dan akan aman karena orang tersebut tidak akan kemana-mana. Dan…seharusnya aku sadar jika itu untuk Sasuke karena Neji-nii selalu cemburu karena Ino masih peduli dengannya, dan ketika melihat Sakura tidak kunjung dating dan malah menjebak Sasuke bersama Ino aku melihat Neji-nii menyesal." Ucap Hinata lirih. "Kalian tahu sendiri jika Neji-niisan begitu membenciku dan setelah kami berbaikan aku tidak ingin membuat dia membenciku lagi. Ku mohon maafkan aku." Hinata menunduk merasa bersalah. Sementara Karin terdiam, merasa bersalah pada Hinata. Mereka emua tahu bagaimana Hinata begitu menyayangi kakak sepupunya itu namun Neji begitu benci dengan Hinata karena suatu kesalahpahaman.

"Sekarang kau mendapatkan jawaban kenpa aku tidak menyentuhmu Sakura. Aku merasa bajingan jika aku menyentuhmu setelah aku bersentuhan dengan wanita lain. Kau akan jijik jika tahu itu." Ucap Sasuke datar namun tersirat nada sendu dalam suaranya. Dia memandang Sakura yang sedari tadi diam. Dan ruangan kembali hening, bahkan udara terasa lebih dingin daripada musim dingin padahal ini musim semi.

"Lalu apa hubungannya dengan kepergian Sakura?" Tanya Naruto memecah keheningan.

"Kalian tahu? Semua itu terhubung dengan alasan Sakura pergi jika dia mendengar percakapanku dengan Sasuke." Semua mata memandang Karin. "Tiga hari sebelum kepergian Sakura, Sasuke menyuruhku ke kelasnya ketika pagi-pagi dia melihatku di kampus. Di kelas Sasuke yang masih kosong Sasuke berbicara padaku jika tiga hari sebelumnya dia terbangun dengan keadaan hamper telanjang di tempat tidur yang sama dengan Ino. Dia terlihat kacau Sakura jika kau ingin tahu." Karin diam sesaat memikirkan kata-kata yang terucap berikutnya agar tidak melukai siapapun yang ada di ruangan. "Sasuke keluar kamar sebelum Ino bangun, dan aku takut jika dia ingat dan tahu jika mereka terbangun di tempat tidur yang sama. Dan aku marah karena Sasuke melakukan itu dengannya meskipun Sasuke menjelaskan jika dia tidak bermaksud melakukan itu dan tidak ingat apa yang selanjutnya terjadi. Aku juga takut jika dia hamil dan membuat hubungan kalian terpisah. Sasuke menyarankan untuk menggugurkannya jika Ino hamil dan aku tidak setuju karena aku tahu kau pasti juga tidak akan menyetujui ide ini, Sakura. Aku hanya tidak ingin kalian terluka." Karin menghentikan ucapannya, mencoba mengambil nafas sementara yang lain hanya menyimak dan mencoba memahami penjelasan panjang Karin.

"Aku berpikir Ino akan menuruti ucapanku jika dia hamil karena mereka bersahabat." Sambung Sasuke.

"Ya, dan aku takut pertunangan kalian akan hancur– maksudku rencana Sasuke yang akan melamarmu akan hancur Sakura. Kau ingat malam di mana Sasuke mengadakan pesta itu?" Sakura hanya bergeming memandang kosong di depan. "Sbenarnya dia melakukan itu karena berencana melamarmu Sakura."

"…"

"…"

"Lalu, jelaskan kenapa Sakura bilang jika dia mendengar kau berkata mencintai Sasuke dan bertunangan dengannya Karin."

"Karena hanya kata itu yang mampu membebaskan aku dari rasa sukaku pada Sasuke. Mengucapkan itu pada Sasuke membuat perasaanku perlahan-lahan terkikis karena aku tahu…aku sudah kalah sebelum mendekatinya, aku bisa melihat di matanya sudah ada seseorang di hatinya, seperti yang dikatakan Ino tadi jika dia hanya berbeda jika di dekatmu dan orang bodohpun tahu, Sakura. Mungkin dulu aku jahat selalu merayu dan mendekati Sasuke sebelum aku berteman dengan kalian. Aku bahkan sering membuat Sakura marah dengan tingkahku padahal mereka masih berteman, namun ketika aku bersedih dia dating menjulurkan tangan padaku dan menawarkan sebuah pertemanan…saat itulah aku sadar kenapa di mata itu hanya ada Sakura seorang. Dan aku menyerah dan berteman dengan kalian." Air mata sudah mengenang namun di tahannya. "Lalu aku berusaha dekat dengan Sasuke dan mencoba membuatnya mengatakan perasaannya padamu, Sakura." Mengatur pernafasan yang terasa sesak Karin mencoba melanjutkan ucapannya. "Aku bertunangan hanya ingin menjaga Sasuke untukmu Sakura. Paman Fugaku memaksa Sasuke bertunangan dengan Miko Shion, dan aku tahu jika itu terjadi maka Sasuke benar-benar lepas darimu maka aku mengajukan ide jika aku yang bertunangan dengan Sasuke maka aku bisa menunda pernikahan sampai kau kembali. Percayalah Sakura, Sasuke hanya mencintaimu sebelum ataupun sesudah kau mencintainya dan dia selalu mencoba mencari keberadaanmu." Sakura terdiam raut wajahnya benar-benar kosong.

"Karin mengorbankan perasaannya untukmu Sakura. Dia mengambil resiko dengan bertunangan palsu denganku." Sasuke memancing Sakura untuk berbicara sesuatu namun gadis itu hanya diam.

Sakura tiba-tiba berdiri membuat semua orang tegaang. Dia beranjak pergi dan berniat keluar namun berhenti ketika semua orang memanggil namanya secara reflek.

"Kau mau kemana Sakura-chan?" Tanya Naruto yang menyusul Sakura.

"Aku mohon." Ucapnya singkat seolah meminta waktu untuk sendirian. Dan pada akhirnya dia pergi meninggalkan mereka dengan pikiran masing-masing.

.

.

.

Wanita musim semi duduk di bangku taman yang sudah sepi. Tanpa terasa pembicaraan tadi membutuhkan waktu yang lama hingga saat dia keluar hari sudah senja dan kakinya melangkah tak tentu arah hingga dia lelah dan duduk di sebuah taman dekat gereja. Mata emeraldnya memandang sendu gereja di depannya. Sebuah mantel biru yang di letetakkan di bahunya membuatnya kaget dan menoleh mendapati seorang pria berambut klimis.

"Apa yang kau lakukan malam-malam di sini?" tanyanya lembut setelah duduk di samping wanita itu.

"Apa kau ada masalah dengan Sasuke? Kau bisa bercerita padaku untuk mengurangi bebanmu."

"Kau mengenalnya Sai?" sai tersenyum menanggapi.

"Ya. Kami teman bisnis, tapi aku cukup dekat dengannya." Ucapan Sai hanya di tanggapi dengan diam. "Aku sudah mendengar sedikit masalah kalian meskipun aku tidak tahu apa masalah sebenarnya." Sakura memandang Sai intens sebelum menghembuskan nafas panjang.

"Aku hanya merindukan gereja itu." Ucapnya singkat dan Sai hanya memandang bingung gadis itu. "Aku di besarkan di gereja itu." Sakura memulai bercerita. "Ketika berumur lima tahun–mungkin, aku tidak ingat– ku di tinggalkan ibuku di depan gereja itu, dia bilang hanya pergi untuk membelikanku gula-gula tapi sampai malam dia tidak kembali dan aku sadar jika aku di buang. Kemudian Suster Rin dating dan merawatku. Dia lebih menyayangiku daripada ibuku sendiri. Sampai suatu hari aku mengecewakannya Sai." Tanpa terasa airmata itu jatuh juga.

"Kau merindukannya?"

"Sangat. Aku takut bertemu dengannya."

Sai hanya terdiam dirinya bukan orang yang pandai menghibur dan hanya bisa memeluk Sakura dari samping member kekuatan.

"Apakah aku mempunyai dosa terbesar hingga semua terjadi seperti ini. Ini terlalu…rumit."

"Kau orang baik Sakura-san jadi jangan berpikir seperti itu."

"Ataukah mungkin ini karma karena ibuku seorang pelacur yang hanya menjadi penghancur rumahtangga orang. Aku– "

"Ssstt… kau tidak boleh berkata seperti itu. Aku yakin ibumu orang baik karena melahirkan seorang anak yang baik pula."

"Kau salah Sai. Ibuku…mungkin hanya seorang pelacur dan pecanduyang membuang anak kandungnya sendiri.

"Mungkin ibumu bukan seperti itu. Mungkin dia berpikir memilih meninggalkanmu di gereja karena dia berpikir jika kau akan terjamin dan agar kau memiliki hati yang kuat dan menjadi lebih baik daripadanya. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya menderita. Bukankah itu yang kau pikirkan tentang Sarada-chan?" Sakura terdiam. "Seandainya dia pelacur dia hanya tidak ingin jika kau tumbuh di lingkungan yang salah."

"Kau benar Sai."

Akhirnya Sakura memahami bagaimana dia harus bersyukur akan hidupnya. Mungkin hari ini dia belum bisa memaafkan semua orang namun dia butuh waktu untuk sendiri hingga kemarahannya mereda.

.

.

.

TBC…

.

.

.

.

Yeay bentar lagi tamat. Semoga chap ini bisa bikin reader puas dan maaf jika mengecewakan.

Thanks to :

ChyntiaSepti, Miss Divania Cherry, Nurulita as Lita-san, SaSaSarada-chan, TomatoSwaggy, ayutami, 1, 1, farhaaha, ferrish0407, kakikuda, raizel's wife, respitasari, sagyun, 17, sakura istri sasuke

AceSaboLuffy, azizahnur123456, Drisana620

mantika mochi, suket alang alang, kakikuda, echaNM, L, Firza290, moydini, shaulaamalfoy, yencherry, C. Prichilla, Jamurlumutan462, Harika-chan ELF, Nurulita as Lita-san, Guest, Secret Anthology, williewillydoo, Miyuki, zarachan

.

.

.

makasih banget buat dukungan readers semua dan sekali lagi gomen ne tidak bisa balas reviews tapi udah aku bacasatu-satu kok. Terimakasih buat dukungannya..