Kembali dengan Chapter 1~
Baiklah, di Chapter ini, OC saya akan dimunculkan. Dimunculkan doang, belum diperkenalkan~ Ehehe
Selamat menikmati, HAPPY READING~ (PS: Maaf kalau ceritanya membosankan dan atau membingungkan)


Sebelumnya, aku hanya gadis biasa... Tapi hari itu, semuanya berubah...

.

.

Aku tidak mau mengawali kisahku dengan kata-kata itu. Karena, bahkan sebelum aku dilahirkan, kehidupanku jauh dari apa yang bisa disebut normal. Bagi mereka yang tidak tahu, kehidupanku terlihat seperti kehidupan idaman orang. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, aku dan keluargaku berusaha keras tersenyum untuk menutupi apa yang ada di sisi lain kehidupan orang-orang itu, sisi yang memang sebaiknya tidak mereka ketahui. 'Aah... Seandainya saja aku ini normal...' Seandainya saja aku bisa mengatakan kalau aku berfikir seperti itu. Tapi tidak, selama hampir 13 tahun kehidupanku ini, kehidupanku dipenuhi oleh hal-hal yang istimewa, menakjubkan, dan ajaib, yang tak terhitung jumlahnya. Ya, memang tidak semuanya baik, sebagian begitu buruk, aku ingin sekali mereka tidak pernah terjadi. Tapi tak pernah sekalipun aku menyesal terlahir di tengah dunia seperti telah tumbuh untuk menghargai, bahkan menantikan dan menikmati semua itu. Bagiku, rasanya sayang sekali jika aku menutup mataku dan mengabaikan setiap hal yang terjadi di sekitarku. Sekarang, kembali lagi ke permasalahan awal. Apa kata-kata yang akan kupakai untuk memulai cerita ini? Ah... Bagaimana dengan ini:

.

.

.

Apa kamu percaya...?


Encounter

.

.

Pemuda itu terbangun.

Hal pertama yang dilihat matanya adalah kegelapan. Mungkin kegelapan tidak cocok untuk menjelaskan apa yang dilihatnya. Sebab dia tidak melihat apa-apa, tidak ada apapun. Mungkin kekosongan lebih cocok untuk menggambarkannya.

Ia mengangkat badannya dan duduk. Awalnya tubuhnya terasa berat, mungkin karena dia mengenakan zirahnya, tetapi tak lama dia sudah menyesuaikan diri dengan itu. Suara air langsung terdengar. Dilihatnya sekelilingnya, dia tengah duduk di lautan air yang tidak terlihat membentang sampai ke mana. Air itu hitam, atau mungkin bening tetapi memantulkan kegelapan di sekitarnya.

Dia memandang ke sisinya, lalu memasukkan tangannya ke dalam air itu. Tapi, walaupun dia merendam tangannya secara keseluruhan, atau 100 menara eiffel, dia tahu dengan sendirinya kalau dia tidak akan mencapai dasar dari lautan hitam itu. Aneh, padahal dia sekarang duduk di permukaan laut itu, dan airnya bahkan tidak mencapai mata kakinya.

Dia mengangkat tangannya dan memandang air bening yang mengalir jatuh darinya. Tiba-tiba dia mendesah, "Mimpi ini lagi?"

Pemuda itu adalah satu dari 88 ksatria pelindung Dewi Athena, dia adalah Saint. Lebih tepatnya, Bronze Saint Pegasus, Seiya.

Ya, ini kesekian kalinya Seiya berada di tempat itu. Pertama kali dia mengalami mimpi ini... Setelah dia berhasil memperoleh Cloth ―Sebutan untuk zirah yang dikenakan para Saint Pegasus-nya. Saat itu, dia bangun dan melihat kegelapan yang menyelimutinya, dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sejengkal pun. Tidak bisa bergerak, perasaan seolah kamu satu-satunya manusia di dunia, perasaan seolah kegelapan itu dapat menelannya saat itu juga. Dia takut. Dan percayalah, butuh usaha keras untuk membuat pemuda itu merasa takut.

Beruntung baginya, dia langsung terbangun tak lama setelah itu. Dan untuk waktu yang lama, dia tak pernah menemukan dirinya kembali ke tempat ini. Sampai beberapa minggu lalu...

Di mimpi kali itu, walaupun masih di tempat yang sama, setidaknya kali ini dia bisa bergerak bebas. Dan seperti semua orang yang menemukan dirinya di tempat gelap dan kosong, mereka akan melakukan satu hal. Mencari jalan keluar. Seiya berlari tanpa arah, mencari petunjuk sekecil apapun yang menunjukkan adanya makhluk lain di sana. Mau itu musuh, monster, hantu, tidak apa-apa. Begitulah yang dia pikirkan, selain berdoa dalam hati agar dia segera terbangun dari mimpi buruk itu.

Doa pertamanya dikabulkan. Dia menemukan sesuatu. Sebuah pohon berwarna abu yang batangnya seolah terbelit. Pohon gundul, tak ada satu helai pun daun di dahannya. Pohon yang cocok muncul di mimpi-mimpi buruk. Pohon itu berdiri tegak di atas gundukan tanah berumput, seperti sebuah pulau kecil.

'Kenapa ada pohon di tempat seperti ini?' pikir Seiya. Mencurigakan. Itulah hal pertama yang muncul ke otak orang yang melihatnya. Tapi justru karena itu, Seiya berjalan mendekatinya dengan penuh kehati-hatian. Makin dekat, tapi tak ada yang berubah. Tak ada tanda-tanda seekor monster yang akan melompat tiba-tiba. Sampai, dia merasakan hembusan angin yang muncul begitu saja. Saat itulah dia melihatnya, walaupun sekilas, rambut yang tersibak oleh angin dari balik pohon itu.

Hanya sekilas, tetapi justru karena hanya sekilas membuat rasa penasarannya lebih tinggi. Dia menginjakkan kaki ke pulau itu, berhati-hati agar tidak mengeluarkan suara yang tidak berarti. Semakin dekat, dia semakin berhati-hati.

Sekarang dia bisa melihatnya lebih jelas, walau masih tidak bisa melihat wajahnya. Gadis itu memegang batang pohon tersebut, air mata mengalir dari pipinya dan menetes jatuh.

'Kenapa dia menangis...?'

Siapapun pasti akan berpikir begitu.

Tapi Seiya tidak mendapat kesempatan untuk menanyakannya.

Tiba-tiba angin kembali berhembus, lebih kencang dari sebelumnya, membuatnya harus mengangkat tangan untuk menutupi matanya dari hembusan kuatnya. Di tengah-tengah angin itu, dia mendengar suara seseorang memanggilnya―――

"...ya... Seiya... Seiya...!"

―――Dan dia akan terbangun. Selalu, mimpi itu berulang-ulang, setiap kali, Seiya akan dengan sendirinya berjalan ke tempat gadis itu, gadis itu selalu berada di sana, menangis. Selalu, tepat sebelum dia dapat melihat wajah sang gadis, dia akan terbangun.

Sebenarnya kenapa dia melihat mimpi itu berulang-ulang?

Apa yang ditangisi gadis itu?

Siapa gadis itu?

Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya, tetapi tak satu pun terjawab.

.

.

.

"Kalau boleh jujur, mimpi ini mulai mengesalkan," keluhnya.

Seiya bangun dan mulai berjalan tanpa arah. Ya, walaupun tidak tahu jalan, entah bagaimana dia selalu sampai di tempat yang sama. Pulau kecil itu.

"Kali ini aku harus berhasil melihat wajahnya!" gumam Seiya, setengah penasaran dan setengah jengkel.

Kali ini dia mencoba cara lain. Bukan mengendap-endap, dia mencoba pendekatan yang lebih... Keras.

"Hei! Kamu yang di sana!"

...Dia berteriak...

Tentu saja, gadis itu terkejut, sesaat dia melihat sosok pemuda di hadapannya. Sesaat kemudian, dia langsung berbalik dan lari.

'Argh, aku harusnya tahu ini bakal terjadi,' pikirnya sebelum mengejar gadis itu.

"Tunggu! Maaf, aku tidak bermaksud menakutimu―"

Kata-kata itu menjadi tidak berarti ketika sang gadis terjatuh ke dalam lautan yang gelap itu.

.

.

Begitu mendengar suara Seiya, gadis tersebut segera berlari ke arah lain. Kakinya baru menyentuh permukaan air, seharusnya dia bisa berjalan di atasnya. SEHARUSNYA. Tetapi dia malah tenggelam ke dalam air. Secara refleks, sang gadis mengangkat tangannya sebelum keseluruhan tubuhnya berada di dalam air.

Seiya langsung mengejar gadis itu. Kalau boleh jujur, dia cukup percaya diri dengan kecepatannya, salah satu faktornya adalah kenyataan bahwa dia seorang Saint. Kecepataannya tidak bisa dibandingi dengan manusia biasa. Saat dia melihat gadis itu tenggelam, tangan dan kakinya bergerak lebih gesit lagi.

Seiya menangkap tangannya dan menariknya sekuat tenaga. Tetapi gadis itu lebih berat dari yang diperkirakannya― Bukan, gadis itu ditarik, ditarik ke bawah oleh sesuatu. Lebih tepatnya, tangan-tangan kecil berwarna hitam. Tangan-tangan itu keluar ke permukaan, berusaha menarik sang gadis ke dalam air sementara Seiya berusaha menariknya keluar. Kekuatan tangan-tangan itu tidak seberapa, tetapi jumlahnya yang membuat mereka lebih beruntung. Bahkan, sekarang, tangan-tangan tersebut sepertinya menyadari hehadiran Seiya. Kini mereka berusaha menarik dia masuk juga.

Kh!

Seiya berusaha mempertahankan posisinya, tetapi sebuah tangan berhasil menggenggam kakinya. Tak lama tangan-tangan lain juga ikut berdatangan.

"J― Jangan― Jangan... MEREMEHKANKU!"

Dia membakar Cosmo-nya. Cahaya terangnya menerangi kegelapan itu. Suara jeritan terdengar dari dalam air, seperti jeritan kesakitan seekor monster. Bersamaan dengan jeritan itu, tangan-tangan tersebut melepaskan genggamannya dan kembali ke dalam air.

Mereka takut pada cahaya.

Itulah kesimpulan yang diambilnya.

Dia membakar Cosmo-nya lebih kuat, sehingga cahaya semakin terang. Genggamannya terhadap tangan sang gadis semakin kuat dan dia bersiap menariknya. Bereaksi terhadap cahaya, tangan-tangan yang memegang gadis tersebut melepaskan diri satu persatu.

Uwoooo!

Seiya menarik sang gadis dengan kekuatan penuh. Begitu kuat, sampai gadis itu terlempar ke udara. Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan, membuatnya jatuh ke belakang bersama sang gadis ―Masih berpegangan tangan― dengan wajah di dada bidang Seiya.

Sang pemuda berusaha mengatur nafasnya, adrenalinnya barusan membuatnya lelah. Tanpa sadar dia menutup matanya. Sementara itu, sang gadis sadar akan posisinya yang... Well... Dia pun langsung mengangkat badannya.

Seiya merasakan beban yang hilang dari tubuhnya, diikuti oleh suara yang terdengar seperti bisikan. Mendengarnya, akhirnya dia memutuskan untuk membuka matanya.

Tapi yang dilihatnya bukanlah wajah seorang gadis atau kegelapan, melainkan langit-langit kamarnya. Aah, dia terbangun lagi. Tepat sebelum dia bisa melihat wajah gadis itu. Dipaksanya badannya untuk bangkit dari ranjang. Lalu dia diam. Diam, dengan ekspresi yang sulit untuk dibaca. Sejenak kemudian dia menghela nafas kesal dan mengacak-acak rambutnya.

'Agh! Mengesalkan, padahal tinggal sedikit lagi... Ada yang bilang mimpi berakhir di saat yang seru―'

Tidak, tidak ada orang yang mengatakan itu

'―Kuh, padahal...'

"Padahal dia ada di depan mata..."

Seiya tidak bisa menjelaskan... kenapa dia ingin sekali melihat wajah gadis itu. Mungkin... Mungkin dia merasa, dengan begitu dia akan mengerti mengapa dia mengalami mimpi itu berulang-ulang. Apakah gadis itu yang membawanya ke sana, apa tujuannya.

Ah, tidak... Sepertinya ada jawaban yang lebih sederhana. Rasa ingin tahu manusia adalah sesuatu yang kuat.

"Seiya? Kamu sudah bangun?"

Suara seorang perempuan terdengar dari arah pintu kamarnya. Seiya mendongak dan melihat seorang gadis, beberapa tahun lebih tua darinya, membuka pintu. Dia memiliki rambut keriting sebahu berwarna coklat dan mata yang senada. Kakaknya, Seika.

Kakaknya yang telah terpisah setelah bertahun-tahun lamanya. Setelah pertarungan dengan Hades, mereka tinggal bersama di Yacht House. Tentu saja, walaupun tinggal bersama mereka tidak tinggal sekamar. Tetapi bagi mereka itu sama saja, asalkan mereka bisa bersama kembali sebagai keluarga.

"Baguslah," katanya lagi, "barusan seseorang bernama Tatsumi datang. Dia mencarimu."

Kini Seiya sepenuhnya terbangun. "Tatsumi? Tatsumi yang bekerja untuk Saori-san?"

Kakaknya memiringkan kepala.

'Ah, benar juga. Neesan tidak tahu.'

Seiya berpikir sejenak. "Apa orangnya botak? Badannya besar? Matanya seperti selalu melotot?"

"Iya, benar! Orangnya seperti itu!"

"Berarti benar Tatsumi. Untuk apa dia kesini?"

Seika tersenyum hangat. Dilihat dari senyumannya, sepertinya kabar bagus.

"Seiya... Dia bilang Saori-san sudah kembali ke Jepang―"

"APA!?"

Begitu terkejutnya, secara tidak sadar dia meremas pundak Seika.

"Apa, apa benar? Saori-san, sudah pulang...?" tanyanya sembari melepaskan genggamannya.

"Ya, dan ia ingin bertemu denganmu. Sebenarnya, Tatsumi-san bilang "kalian semua"."

"Kalian― Ah, para Bronze Saint. Apa lagi yang kutunggu? Sebaiknya aku cepat-cepat ke―"

Kata-katanya terputus. OK, memalukan, dia tidak yakin di mana mereka akan bertemu.

"Mansion Kido. Saori-san pulang ke Jepang, tentu saja ia ke rumahnya."

"Aah..." Seiya mengusap-ngusap belakang kepalanya.

"Dan... jika kamu mau ke sana... Apa kamu tidak keberatan Kakak ikut...?"

"Eh―"

"Sebenarnya, Saori-san ingin bertemu denganku juga. Jadi... ya?"

...

Tidak mungkin Seiya bisa berkata tidak pada kakaknya sendiri.

.

.

Perjalanan dari Yokohama ke Tokyo cukup jauh. Seiya dan Seika akhirnya sampai sekitar tengah hari.

"Kalian terlambat." Itu kata-kata pertama Tatsumi ketika membukakan pintu.

"Yah, maaf ya, aku tinggal di Yokohama!" Seiya membalas dengan sarkastik. "Memangnya yang lain sudah datang semua?"

"Iya. BAHKAN Ikki."

Pemilihan kata yang aneh, tapi mengingat kebiasaan sang Saint Phoenix untuk muncul ketika saat-saat genting dan menjadi "Pahlawan"... pemilihan kata yang tepat.

Sementara itu, Seika kelihatan terkagum-kagum dengan kemegahan Mansion Kido. Saat sampai di gerbang tadi saja, matanya sudah terbelalak kaget melihat betapa luasnya tempat itu. Dan itu baru taman di sisi depan Mansion.

"Semuanya berkumpul di ruang belajar, ikut aku." Kata-kata Tatsumi membawa Seika kembali ke Bumi. Tentu saja, karena ini pertama kalinya dia datang ke sini, dia mengikuti Tatsumi dari belakang. Tetapi Seiya, walaupun sudah berkali-kali mengunjungi tempat ini, tetap mengikuti Tatsumi demi menemani kakaknya.

Akhirnya mereka memasuki ruang belajar. Yang menyambut mereka adalah 9 orang pemuda gagah, 4 diantaranya telah menemani Seiya melawan musuh-musuh berat.

"Yo! Lama tidak bertemu, semuanya!" sapanya dengan riang.

"Ma-Maaf mengganggu..." Sebaliknya, Seika bersuara sepelan bisikan.

Selain pemuda-pemuda tersebut, di balik meja belajar di ujung ruangan, berdiri seorang gadis. Gadis dengan rambut lavender panjang, matanya memandang ke langit dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa saat kemudian, bibirnya melengkung, dia berbalik dan menyambut kakak-adik yang baru datang.

"Saya senang sekali kamu bisa datang, Seiya... dan Seika-san juga," ada campuran kehangatan, kewibawaan, dan keanggunan dalam suaranya.

Suasana ceria di ruangan itu perlahan berubah serius.

"Saori-san... kenapa kami dikumpulkan di sini?" tanya Seiya.

"...Yang cocok untuk menjawab itu... bukan saya,"

Hampir sesaat setelah Saori mengatakan itu, seseorang berjalan memasuki ruangan. Tak heran perhatian semuanya langsung tertuju pada si pendatang baru.

"Na―!?"

"Ti, tidak mungkin..."

"Bagaimana―"

"Bagaimana bisa!?"

Yang kini berdiri di tengah mereka, adalah Gold Saint Gemini, Kanon. Ya, bagaimana bisa? Ia dan kedua-belas Gold Saint lainnya mengorbankan diri untuk menghancurkan The Wailing Wall saat pertempuran di Underworld, dan seharusnya meninggal...

"Kanon! Jika kamu ada di sini, apa berarti Gold Saint yang lainnya―!?"

Dia hanya diam. Membuat suasana ruangan lebih mencekam. Akhirnya, yang memecahkan kesunyian itu adalah Sang Athena.

"Karena itulah, saya meminta kalian berkumpul di sini..."

Dan itulah awalnya.

"Kalian tentu tahu Dewi Artemis?" tanya Saori.

"Tentu saja," jawab mereka hampir serentak, sebagian hanya mengangguk. "Kenapa? Apa dia lawan kita selanjutnya?"

"Bukan," jawab Kanon dengan segera. "Dia adalah teman kita untuk melawan musuh kita selanjutnya." Dia menggunakan penekanan kuat pada kata teman.

They were dumstruck. Tak ada yang bersuara, mereka masih sibuk meresapi informasi tak terduga itu.

Kanon mendesah, "kalian tahu, 'kan, Artemis itu bukan cuma Dewi Bulan, tetapi juga Dewi―"

"Perawan?" potong Shun.

"Err, iya... tapi bukan itu―"

"Hewan?" Kali ini Hyoga.

"Buk―"

"Alam liar?" Shiryu ikut bersuara.

"Uh―"

"Memanah? Gunung? Hutan? Kelahiran?" Satu per satu, para Bronze Saint menyuarakan tebakan mereka.

"Pemburu! Aku mau mengatakan pemburu!"

'Ah... Itu tebakanku...' batin Seiya.

Ehem

Kanon berusaha menenangkan diri.

Saori menepuk pundaknya dan memberikan senyuman yang terkesan simpatik, "Saya saja yang menjelaskan." Pandangannya kini tertuju pada 10 pemuda di hadapannya.

"Seperti yang Kanon katakan, untuk melawan musuh yang selanjutnya, kita membutuhkan bantuan Artemis sebagai Dewi Perburuan. Tapi jika saya boleh jujur, ada alasan lain selain itu."

Penjelasan awal Saori selesai, ia terdiam sejenak seolah memberikan waktu kepada mereka untuk bertanya.

"Memang... sebenarnya siapa musuh baru ini?" Ikki-lah yang menanyakannya.

"...Untuk menjawab itu, ada yang perlu dijelaskan terlebih dahulu. Apa kalian tahu Brauron?"

Kesembilan Bronze Saint langsung menatap Shiryu. Memang, di antara mereka semua, dia adalah yang paling pintar. Dalam kata lain: kamus berjalan untuk para Bronze Saint. Yang ditatapi berusaha tak menghiraukan mereka dan tenggelam dalam pikiran. Setelah beberapa saat, akhirnya dia berkata, "Kalau tidak salah... Tempat itu disebut sebagai Sanctuary of Artemis?"

"Hoo... jadi seperti Sanctuary kita, tapi untuk Artemis?" ucap Seiya.

"Tapi tempat itu sekarang hanya reruntuhan kuil. Untuk menyebutnya Sanctuary mungkin terlalu..." Setelah mengatakannya sang Saint Dragon menatap Saori. Tak terduga, sang Athena tersenyum.

"Yang kamu lihat sebagai reruntuhan kuil hanyalah apa yang ada di Dunia ini."

Butuh waktu untuk mengartikan kata-katanya, tetapi waktu itu tidak diberikan karena ia segera melanjutkan penjelasannya.

"Di tempat itu, ada sebuah segel. Ah, tidak, sepertinya segel bukanlah kata yang cocok. 「Perbatasan」 sepertinya lebih cocok. Dan di dalam perbatasan itulah, terdapat segel."

"Perbatasan... dengan apa...?" Entah kenapa terdengar ketakutan dalam kata-kata tersebut.

"Dunia para monster."

Seketika wajah mereka pucat. Sepertinya, mereka punya firasat apa yang ingin disampaikan sang Dewi.

"Jangan bilang... Segelnya hancur dan monster-monster itu kabur semua...?"

"Tidak. Segel itu tidak hancur, tetapi... mulai retak. Dan hanya sebagian monster saja."

"Walau sebagian, tapi... Uhm, jadi, kita harus memburu mereka bersama Artemis?"

Saori menundukkan kepalanya. "Seharusnya begitu, tapi... Artemis, menghilang. Untuk waktu yang lama..."

Ekspresi mereka seketika berubah, ekspresi yang seolah mengatakan: "Oh, bagus, jadi sekarang kita harus memburu monster-monster itu sendiri? "

Tetapi sang Athena tersenyum, bagaimana bisa dia tersenyum di saat seperti ini!?

"Sepertinya," katanya dengan tenang, "yang ada di pikiran kalian adalah monster liar yang haus darah. Tenanglah, kenyataannya tidak seperti itu. Lawan kita, memang monster, tetapi mereka lebih terorganisir, dan tidak sembarangan menyerang manusia seperti yang kalian pikirkan."

Mereka tidak bisa tidak menghela nafas lega.

"...Mereka, menamakan diri mereka―Akumu."

"Akumu? Akumu seperti 「Mimpi buruk」?" tanya Ikki, yang sedari tadi diam seperti tidak tertarik.

Sang Dewi mengangguk sekali lagi. "Dan yang memimpin mereka adalah... Sang Gorgon, Medusa."

Di saat inilah, cerita ini dimulai.

Jika kamu bertanya kepada seorang ilmuwan atau guru sejarahmu, mereka pasti memberitahumu kalau zaman itu dibagi menjadi Zaman Batu, Logam, dan sebagainya. Tapi, jika melihat sisi mistik, jika kamu bertanya kepada tokoh-tokoh supernatural, seperti Chiron sang Centaur, seorang Magus, atau Dewa-Dewi, mereka akan memberitahumu bahwa zaman dibagi menjadi dua.

Zaman Para Dewa―Age of Gods

Dan, Zaman Manusia―Age of Man

Zaman Manusia ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan bagaimana manusia mulai menggunakannya, mereka tidak lagi hanya bergantung pada Para Dewa. Karena perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, mereka lebih memilih untuk menggunakannya dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang mereka hadapi. Dan―sepertinya kalian sudah menduga dan bosan mendengarnya, para Dewa dan makhluk mitologi lainnya makin lama menjadi terlupakan.

Terlupakan―Dianggap hanya sebagai mitos, dongeng, tidak nyata. Walau dalam kenyataannya, mereka nyata senyata aku dan kamu. Para Dewa-Dewi mendapat tugas baru, menjaga agar keberadaan makhluk-makhluk tersebut tetap menjadi rahasia, agar mereka tetap menjadi makhluk-makhluk yang hidup dalam imajinasi manusia.

Biarkanlah mereka hidup damai dalam ketidaktahuan.
Kata mereka.

Meskipun begitu, tak semua makhluk mitologi menerima dicap sebagai sekedar khayalan. Beberapa dari mereka begitu agresif, tak sedikit percobaan mereka untuk membahayakan manusia. Beruntungnya, sejauh ini Para Dewa berhasil menggagalkan niatan tersebut. Tetapi, seiring waktu, kemungkinan monster-monster itu menyerang manusia makin besar. Karena itulah...

Dewi Artemis mengusulkan kepada seluruh Dewa-Dewi di Dunia untuk mengumpulkan semua makhluk mitologi dan menyegel mereka ke dunia lain. Tunggu, mungkin "dunia lain" itu tidak cocok. Karena, sebenarnya mereka berada di dunia yang sama dengan kita. Hanya saja, karena berada di dimensi yang berbeda, interaksi biasa antara kita dan mereka tidak dapat terjadi.

Dan juga, Brauron sebenarnya bukan perbatasan antara dua dunia ini. Karena Artemis-lah yang mengusulkan penyegelan ini, penyegelannya pun dilakukan di Brauron. Dari situlah julukan perbatasan itu berasal. Perbatasan yang sebenarnya berada di seluruh Dunia. Selain itu, segel itu sendiri bukan untuk memisahkan kedua dunia ini. Melainkan, untuk menjaga keseimbangan antara keduanya. Dan sekarang, segel tersebut kembali melemah sejak 18 tahun yang lalu. Sampai akhirnya melemah ke level dimana keseimbangan itu mulai hancur.

Apa yang akan terjadi jika keseimbangan itu hancur sepenuhnya? Kamu tidak mau tahu.

"Jadi... melemahnya segel ini disebabkan oleh monster-monster yang kabur," jelas Kanon.

"Akumu yang tadi itu?" tanya Seiya.

Kanon mengangguk.

"Uhm," Shun angkat suara, "kalau kami boleh tahu... Bagaimana Akumu itu bisa kabur?"

Kanon terdiam dan menatap Saori, yang masih tampak tenang seperti biasanya. Tak lama, akhirnya ia menjelaskan...

Beberapa waktu setelah penyegelan, mungkin beberapa tahun, mereka yang terjebak di Dunia itu mulai mempelajari cara untuk menyebrangi perbatasan yang memisahkan kedua dunia. Mereka mempelajarinya dari makhluk-makhluk mitologi yang diberikan izin untuk menyebrang ke Dunia Manusia, makhluk-makhluk yang dianggap sebagai Pelindung oleh manusia.

Mereka meninggalkan inti dan tubuh asli mereka di sana, lalu menyebrang ke dunia kita. Di sini, sebuah tubuh sementara terbentuk. Inilah alasan mengapa jika monster terbunuh, mereka dapat kembali. Dan lagi, untuk mencegah kepanikan di tengah masyarakat, ada semacam penghalang, seperti tabir atau kabut yang menghalangi manusia-manusia biasa untuk melihat wujud aslinya. Ada banyak faktor yang membuat mereka datang ke sini, tetapi kalau mereka membuat masalah, dipastikan akan ada seseorang yang membunuh mereka. Yah, kita sebut saja mereka "Pahlawan".

Tetapi, di antara semua monster yang tersegel, ada beberapa yang begitu berbahaya, begitu kuat, dan begitu membenci manusia serta Dewa-Dewi yang mengasingkan mereka, mereka disegel di dalam dunia mereka sendiri. Penjara dalam penjara. Salah satu dari mereka, adalah Gorgon Medusa.

"Segel yang melemah ini... perbuatannya?" tanya Shun.

"Ya, sepertinya. Dan, entah apa ini keberuntungan atau sebaliknya, tetapi mereka menuju ke sini."

"Ke sini!? Ke sini ke Jepang!?" seru mereka bersamaan.

"Hei, ini sudah diduga," komentar Kanon. "Mau bagaimana lagi? Kalian tahu mitologi Medusa dan Athena bagaimana, 'kan?"

Ah...

Tentu saja Athena menjadi target nomor satu dalam daftarnya. Tetapi, bukankah itu berarti Artemis yang memenjarakannya juga menjadi target utama?

Kesunyian menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Sampai, Seiya menyeringai dan berkata, "Heh. Jadi begitu? Hei, kenapa kalian berwajah begitu! Bukankah ini menguntungkan kita? Mereka sendiri yang datang, kita tidak usah repot-repot mencari mereka. Lagi pula..." Dia menatap temannya satu per satu, sepertinya mereka tahu apa yang akan dikatakan Seiya selanjutnya, dan mereka setuju dengannya.

"―Kita tahu hanya perlu melawan dan melindungi Athena, 'kan?" lanjutnya.

Moral mereka kembali terangkat. Tentu saja, mereka itu Saint. Sangat memalukan kalau mereka takut hanya karena hal seperti ini.

"Yosh! Ayo kita kalahkan monster-monster ini!" seru Seiya sembari melemparkan tinju ke udara, Bronze Saint yang lain pun mengikuti.

Tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Seiya pun menoleh ke arah Seika, yang sedari tadi berdiri diam.

"Neesan..." Suaranya terdengar miris. "Neesan, maaf, untuk melindungi Athena―Saori-san, berarti aku harus berada di sisinya... Dan itu berarti..."

Selagi Seiya berusaha mengutarakan perasaannya, Seika tersenyum dan menggeleng lembut. "Tidak. Menurutku, memang lebih baik jika Seiya berada di sini." Seika menatap Saori. "Inilah alasan anda mengundang saya ke sini, bukan?"

Saori menundukkan kepalanya sedikit. "Maafkan saya."

"Tidak apa-apa. Justru aku yang egois jika memaksa Seiya tetap bersamaku." Pandangannya kembali ke adiknya. "Sebagai gantinya, tolong jangan melakukan tindakan nekat dan membahayakan dirimu sendiri, janji ya?"

Seiya hanya diam mengangguk. Ada sedikit kekesalan dalam hatinya, padahal akhirnya kita kembali bertemu, pikirnya.

"Tapi, ini bukan berarti kalian harus berpisah."

Suara Saori melenyapkan perasaan itu.

"Bagaimana kalau Seika-san tinggal di sini?" tanya sang Athena kepada Seika.

"Tidak, terima kasih. Aku hanya akan mengganggu jika tetap di sini. Dan juga, mendengar semua ini, aku merasa lebih baik jika menjaga keselamatan anak-anak di panti..." Ia mengakhiri perkataannya dengan menatap Seiya, seolah mengatakan maaf.

Dan Seiya menyadari maksud tatapan itu. "Ehem, ehh, ya... Aku juga tidak mau Neesan terluka..." Dia menggaruk pipinya.

"Seiya, kita malah takut kamu sekarat. Lagi." Seisi ruangan itu tertawa mendengar canda Jabu.

Nah, permasalahannya kini sudah selesai. Para Bronze Saint kembali ke Mansion Kido, dan kembali bertarung untuk melindungi kedamaian Dunia. Mengakhiri pertemuan tersebut, para Bronze Saint diantar ke kamar yang akan mereka diami sekali lagi.

Seiya masuk ke kamar barunya dan merebahkan diri di kasurnya.

Ada banyak hal yang terjadi, dia sedang menyusunnya satu per satu.

Tak lama, dia mengangkat tubuhnya dan berjalan ke depan jendela. Dibukanya jendela itu, membiarkan semilir angin menyejukkan kamar, beserta kepalanya. Bibirnya melengkung menjadi senyuman seiring kepalanya menengadah ke langit.

.

.

.

"Hm? Padahal masih siang, tapi bulannya terlihat..."


「つづく。。。」

?: Baru chapter 1 udah begini... Aku khawatir...
Wina: J-Jangan begitu dong...
?: Lagian, apaan ini? Tema Chapter ini "ah, bukan, sepertinya ini tidak cocok..."?
Wina: ...
?: Kamu kelamaan tinggal di Nasuverse
Wina: I know... Sudahlah, cepetan pergi sono, lagian kamu itu siapa sih? Muncul tiba-tiba...
?: *Mengabaikan dan pergi*

Wina: ... *Sweatdrop* Yak, ayo balas review~ Hmm... Guest hari ini...
Saga: Gemini Saga, mohon bantuannya
Aiolos: Sagittarius Aiolos *Senyum*
Wina: *Jauh-jauh karena silau*

#Shimmer Caca
Saga: Tetep di Sanctuary!
Wina: Aiolos gimana?
Aiolos: Nasibku gak jelas... Dari Classics, SoG, Omega...
Wina: K-Kasihan... ^^; Aku juga masih bingung sama nasibmu

#Gianti-Faith
Wina: Ma-Maaf lama...
Saga, Aiolos: Pake banget.
Wina: Action... Menunggu, beberapa chapter
Saga: Sebenarnya-
Aiolos, Wina: *Bekep Saga* Spoilerr...

#albaficaaiko
Wina: Makasih sarannya :) Yaah, sebetulnya prolog itu udah selesai jauh-jauh hari...
Saga: Dan diposting tanpa diubah
Aiolos: Kayaknya cara penulisannya juga berubah?
Wina: Uhm... Menurutku segitu aja udah cukup sih
Saga: Chapter ini juga udah selesai, tapi gak diposting jauh-jauh hari
Aiolos: Katanya mau sekalian ngerjain chapter berikutnya
Wina: Yaah, yang penting sekarang udah dipost kan? 'Kenapa aku berantem sama karakter anime?'

Sekian~
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~