Maaf saya update lamaa minta ampun... Sekolah penuh dengan tugas, ulangan, dan masalah bergulat dengan kemalasan #PLAK
Karena minggu depan sudah UTS, update-nya sekarang saja~~

Baiklah, chapter kali ini cukup panjang... (6000+ neng) Sebenarnya masih mau dilanjutkan, tapi takutnya nanti terlalu panjang. Anyway, Happy Reading~

(DISCLAIMER: Saint Seiya milik Masami Kurumada-sensei)


Aku tidak tahu... Aku tidak mengenalnya... Jadi, kenapa? Saat pertemuan pertama itu, saat mata kita bertemu, muncul rasa bahagia yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku bisa mendengarnya dengan jelas, sebuah suara jauh dalam hatiku. Sekilas terbayang di batinku, wajah yang dihiasi senyuman, seperti milik orang yang paling bahagia di Dunia...

Akhirnya, aku menemukanmu...


Hundred Thousand Arrow of Light

.

.

Yang tak mereka ketahui, adalah adanya sosok yang mengamati mereka dari luar sana, di tengah kegelapan malam...

Sosok yang tampak seperti seorang wanita dewasa. Di kebun belakang Mansion Kido, dia berdiri tepat di antara batas jangkauan cahaya dan kegelapan. Kehadirannya seolah membuat semua makhluk ketakutan, sang rembulan juga tersembunyi di balik awan, membuat suasana makin remang. Di tengah kegelapan itu, wanita tersebut menutupi wajahnya dengan tangannya. Lalu, seiring mulutnya berubah menjadi sebuah seringai lebar, sebuah tawa paling mengerikan yang pernah didengar manusia bergema dalam kegelapan itu. Matanya bersinar dengan keinginan membunuh dan haus darah.

"AKHIRNYA! Akhirnya aku menemukanmu, ATHENA!" serunya lantang dengan suara penuh kebencian. "Dendam dari Era Mitologi ini, akan kubalas sekarang!"

Ia baru akan berjalan selangkah ke depan ketika puluhan tinju seperti bola cahaya―bukan, seperti bintang jatuh― menghujani tempat ia akan menginjakkan kakinya.

'Cih. Pegasus, ya?'

Sesosok pemuda berjalan ke jangkauan cahaya. Sebuah senyum penuh percaya diri menghiasi wajahnya. "Kalau kamu mengenal Athena sejak Era Mitologi, seharusnya kamu tahu kalau untuk mendekatinya, kamu harus melewati kami dulu, kan?" ucapnya.

Wanita itu menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Memangnya apa yang bisa dilakukan satu Saint sendirian? Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku? Heh... JANGAN BERCANDA, BOCAH!"

"Memang benar. Tapi, kata siapa aku sendirian?"

Tepat pada saat itu, serangan berbentuk seekor naga dan es menghantamnya. Dia merentangkan tangannya, menghentikan serangan tersebut dengan telapak tangannya.

"Dragon dan Cygnus," gumamnya. "Kalau begitu... Seharusnya Andromeda ada di sekitar sini..."

Ya, memang benar.

"Nebula Chain...!"

Sebuah rantai langsung melesat ke arahnya. Dengan tenang, wanita tersebut mengangkat tangannya dan membiarkan rantai tersebut melingkarinya.

"Ternyata kamu di sana." Matanya menatap ke arah datangnya rantai itu, sebuah pohon tak jauh di sisinya, di salah satu cabangnya adalah seorang pemuda dengan rambut hijau mengenakan Cloth Andromeda.

"Kudengar kamu dipilih menjadi Host untuk Hades beberapa waktu lalu?"

Terkejut, tanpa sadar Shun melonggarkan genggaman rantainya. Dia pun mengambil kesempatan itu untuk menggenggam kuat rantai sang Andromeda dan menariknya. Tenaganya begitu kuat sehingga Shun tertarik ke arahnya. Beruntung, serangan lain mengalihkan perhatian wanita tersebut, sebuah serangan berupa tinju berapi. Shun segera menarik kembali rantainya dan mendarat, jauh dari wanita itu.

Walaupun terkejut pada awalnya, dengan mudah dia menenangkan diri. Dia menatap sang pendatang baru dengan seringai mengerikan.

"Phoenix," katanya, "Dari cerita yang kudengar, kamu akan melakukan apa saja demi adikmu. Tak kusangka itu benar." Dia tertawa dalam kesunyian. "Kalau boleh jujur, aku sedikit iri padamu, Andromeda. Kamu memiliki saudara yang begitu menyayangimu..."

Kelima Bronze Saint memicingkan mata mereka.

"Sepertinya, kamu tahu banyak tentang kami semua." Shiryu-lah yang mengangkat suara.

"Ya, benar. Aku tahu segalanya tentang kalian berlima. Masa lalu kalian, jurus andalan, gaya bertarung, bahkan... Orang-orang yang kalian kasihi―"

Mereka mencoba menyembunyikannya, tetapi mereka terkesiap.

"―Aku bahkan tahu Gold Saint yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon itu. Mencari kesempatan saat aku lengah untuk menghabisiku." Dia mengalihkan pandangan ke pohon tempat Shun bersembunyi tadi. Seiring dengan perkataannya, seorang lelaki mengenakan zirah emas berjalan keluar dari belakang pohon itu.

"Hoo...? Sea Dragon― Bukan... Gemini?"

Kanon berjalan ke hadapan para Bronze Saint, matanya terus menatap wanita misterius itu. "Dari mana kamu mendapat informasi itu? Sebenarnya siapa kau?"

"Dari mana itu bukan urusanmu. Sedangkan, siapa diriku...? Sepertinya Dewi-mu lebih cocok untuk menjawabnya, bukan?" Tatapannya melewati para Bronze di belakang Kanon. "Tunjukkan dirimu, Athena! Bersembunyi di balik bocah-bocah seperti ini, menyedihkan sekali."

Akhirnya Athena datang, ia mengenakan gaun putih polosnya dan membawa tongkat yang menjadi simbolnya. Di belakangnya, Jabu dan keempat Bronze Saint lainnya mengikuti dan siap menjaganya.

Athena memandangi wanita di hadapannya. Tak ada rasa takut ataupun kebencian dalam tatapannya, berbeda dengan wanita itu. Saat Athena muncul, tatapannya dipenuhi kebencian dan amarah yang amat sangat.

"Athennaaa..." Suaranya bagaikan monster yang menemukan mangsanya. Tetapi, walau dihadapai dengan wujud mengerikan itu, Athena tetap tak bergeming.

"Akhirnya aku menemukanmu. Kali ini aku tak akan membiarkanmu lepas. Sudah lama sekali aku ingin mencabut jantungmu yang angkuh itu, mencabik-cabikmu dari kulit sampai ke daging, menghancurkan wajah dan rambut yang sangat kau banggakan itu..." Dia kembali melepaskan tawa yang mengerikan. "Tubuhku bergetar setiap kali membayangkan wajahmu yang menderita, darahku memanas dan aku tidak bisa berhenti tersenyum." Dia menyilangkan tangannya, menggenggam bahunya sendiri begitu kuat sehingga darah hitam menetes dari kulitnya. Tunggu... darah hitam...?

"Aku membencimu, Athena. Aku membencimu yang mengutukku dan saudari-saudariku menjadi monster yang ditakuti semua orang... Aku membenci Artemis yang masih memenjarakanku di dalam Dunia yang sudah cukup untuk menjadi penjara... Aku membenci manusia-manusia angkuh yang berusaha kamu lindungi. Tapi lebih dari itu... AKU MEMBENCI KALIAN DEWA DEWI YANG MENATAP KAMI DARI TAKHTA KALIAN SEOLAH KALIAN MENATAP SAMPAH!"

Untuk sesaat, aura hitam dan merah tampak menari-nari di sekitarnya, seolah-olah kebenciannya mewujudkan diri.

Athena kelihatan seperti dalam pikiran yang mendalam. Begitu menyadari identitas sosok di hadapannya, matanya terbelalak dan dia langsung berseru, "Kalian semua, apapun yang kalian lakukan, jangan menatap mata wanita itu!"

Wanita itu menyeringai. "Akhirnya kamu ingat...?"

"Athena, siapa wanita ini?" bisik Kanon.

"Kalian semua mengenalnya... Dia adalah musuh kita kali ini, pemimpin dari kumpulan monster yang menamai diri mereka sendiri, Akumu―"

Ketika menyadari siapa yang dimaksud Athena, mereka semua secara tak sadar menahan nafas.

"―Gorgon, Medusa!"

Gorgon di hadapan mereka hanya diam. Aura membunuhnya tadi sudah mereda.

"Tenanglah, kalian tidak akan berubah menjadi batu hanya dengan melihat mataku. Jika iya, kalian semua sedari tadi sudah menjadi patung-patung baru untuk koleksiku. Fufufu..."

Tidak mungkin mereka mempercayainya― Bukan, mereka tidak ingin mempercayainya. Tapi dia benar, jika wanita di hadapan mereka benar adalah Medusa, seharusnya mereka sudah berubah menjadi batu sejak pertemuan awal mereka.

"Ngomong-ngomong... Di mitologi, Medusa memiliki tubuh bagian bawah berupa ular. Tapi kenapa..." Shiryu menatap kedua pasang kaki manusia Medusa.

"Rambutnya juga tidak berupa ular," tambah Shun.

Medusa kembali tersenyum. "Tentu saja, aku menukarkan tubuhku dengan tubuh manusia. Sebagai gantinya, kekuatan mataku disegel. Aku harus mengaktifkannya terlebih dahulu jika ingin merubah seseorang menjadi patung batu. Yah, walaupun itu bukan perkara sulit."

'Berarti, memang lebih baik menghindari kontak mata.' Mereka semua, entah bagaimana, memikirkan hal yang sama.

Selagi para Saint memikirkan strategi bertarung tanpa melihat mata musuh mereka, Athena sibuk memikirkan misteri lain.

"Tubuh manusia itu... Dari mana kamu mendapatkannya?" tanyanya.

Medusa terdiam sejenak. "...Aku bisa saja memberitahumu. Tapi, bukankah tak ada gunanya orang yang akan mati mengetahui hal seperti itu...?"

Bersama dengan perkataannya, beberapa ekor ular melompat keluar dari lengannya dan melesat ke arah Saori.

"ATHENA!" Kanon―secara harfiah― melompat ke depan Saori, sehingga ular-ular itu menggigitnya. Lehernya, kedua tangannya, kaki kanan dan perut sebelah kanannya kini ditempeli oleh ular-ular Medusa. Begitu menggigitnya, ular yang menggigit tangan kirinya berubah menjadi kabut hitam dan masuk ke dalam tubuhnya melalui luka gigitan itu. Kanon langsung mengerang kesakitan. Gigitannya sendiri, sebenarnya tidak menimbulkan sakit yang seberapa. Tetapi Kanon bisa merasakannya, dia bisa merasakan sel-sel dalam tubuhnya berubah menjadi batu dari dalam ke luar. Area sekitar gigitannya telah berubah menjadi batu dan tak bisa digerakkan.

"Kanon!"

Athena segera mengerahkan Cosmo-nya untuk menyembuhkan tangan Kanon. Cahaya keemasan menyelimuti tangan Kanon dan sedikit demi sedikit, sel yang membatu berubah kembali ke asalnya, sampai akhirnya tangan Kanon kembali normal dan dapat bergerak bebas.

"Terima kasih, Athena..." katanya terengah-engah. Dia baru saja akan mencabut ular-ular yang lainnya, ketika... Ketika Medusa kembali melepaskan sebuah tawa mengerikan.

"Tentu saja, kalian tahu tak akan semudah itu, bukan...?"

Ular-ular lain yang menggigit Kanon ikut berubah menjadi kabut hitam dan masuk dengan cara yang sama seperti tadi, perlahan mengubah sel-sel Kanon menjadi batu. Kali ini, rasa sakit yang menyerangnya begitu hebat, dia kehilangan tenaga bahkan untuk membuat ekspresi kesakitan. Dan seolah Kanon belum cukup menderita, empat ular keluar dari pergelangan kaki dan tangannya. Begitu keluar, keempatnya melingkari pergelangannya lalu berubah menjadi belenggu dan merantai Kanon.

Darah seolah menghilang dari wajah Athena yang kini sepucat mayat. Ia langsung mengerahkan segala kekuatan Cosmo-nya untuk menyembuhkan Kanon. Untuk itu, ia harus fokus hanya pada menyembuhkan sang Gemini. Yang berarti, ia adalah sasaran empuk.

"Kutukan ini memang bisa kamu patahkan, Athena. Tapi kamu harus menyembuhkannya sepenuhnya. Jika tidak, proses pembatuannya hanya akan berlanjut kembali. Tapi... Aku tidak yakin kamu akan bertahan cukup lama untuk itu."

Dari arah timurnya, aliran angin berubah dan menjadi sebuah cambuk tak terlihat. Ah, tidak, bukan cambuk, lebih pantas dibilang cakar. Angin itu seolah menjadi cakar yang memotong angin lainnya. Dan kini mengarah pada Athena.

Tersentak, Athena mendongak ke arah datangnya serangan. Tapi reaksinya terlalu lambat, saat dia sudah melakukan sesuatu tuk melindungi dirinya, semuanya sudah terlambat. Karena itulah, Shiryu segera berdiri di hadapannya dan menghalau serangan itu dengan tamengnya.

"Apa Anda baik-baik saja!?" tanyanya.

"Y-Ya, saya baik-baik saja. Terima kasih, Shiryu."

Shiryu menatap ke arah serangan angin tadi datang. Walaupun tersamarkan kegelapan, dia bisa melihat sosok wanita bersayap kelelawar dan kuku panjang terbang menjauh.

"Saori-san," panggil Seiya dari sisi lain, "Serahkanlah pertarungannya pada kami, Anda konsentrasi menyembuhkan Kanon saja." Ucapannya dibarengi dengan tatapan penuh keyakinan. Melihatnya, hati Saori menjadi lebih tenang. Ia mengangguk dan kembali membakar Cosmo-nya untuk menyembuhkan tubuh Kanon yang sudah hampir separuh berubah menjadi batu selama dirinya terdiam tadi.

Medusa kembali tertawa. "Kalian cuma Bronze Saint, tapi kalian berpikir bisa mengalahkan kami?"

"Kami?"

"Kau tak pikir aku sebodoh itu sampai datang sendirian ke sini, kan?" Medusa merentangkan tangannya dengan dramatis.

Lalu raungan lain mengguncang Bumi. Tanah bergetar bersamaan dengan terdengarnya suara langkah kaki raksasa. Dari balik pepohonan di Timur, terlihat sosok manusia yang tinggi menjulang, mengalahkan pohon-pohon di sekitarnya. Di pepohonan Barat, banyak pohon yang berjatuhan karena didorong oleh sesuatu. Wanita bersayap kelelawar tadi bukanlah satu-satunya yang terbang. Dari kegelapan di baliknya, muncul sekawanan makhluk yang tampak seperti kelelawar penghisap darah. Tubuh mereka hitam pekat dari dan mata mereka bersinar kemerahan.

"Seiya..." panggil Saori.

"Aku tahu. Ada orang-orang tak bersalah yang harus kami lindungi, bukan?" balasnya.

"Ya. Tapi, bukan cuma Mitsuki dan para pelayan... Ada tamu-tamu yang datang bersama keluarga mereka yang menginap di sini juga... Jadi―"

"Saori-san... Apa Anda lupa?" kata sang Pegasus, "Kami adalah ksatria pelindung cinta dan perdamaian di muka Bumi, Saint. Kami akan melindungimu, dan semua orang yang ada di Mansion."

Dengan perkataan itu pun, pertempuran pun dimulai...

.

Shun berlari ke Timur dan segera menemukan sang raksasa. Tingginya dengan mudah melampaui 2 meter, kulit dan rambutnya berwarna biru pucat, sedangkan di lehernya terdapat insang seperti yang dapat kamu temukan pada ikan hiu.

Matanya yang berwarna jingga seolah menyala terang begitu melihat siapa yang mendatanginya. Ia menyeringai, menunjukkan taringnya yang tajam, tersusun bagaikan pedang. Tawanya meledak. "Tak kusangka sejarah akan mengulangi dirinya! Untuk berpikir aku mendapat kesempatan membunuh Andromeda untuk kedua kalinya..!"

Shun sebetulnya menyesal dia tidak membawa penutup telinga. Bukan hanya tubuhnya yang besar, tetapi suaranya juga besar, mengingatkannya pada suara bom meledak. Meskipun begitu, ia berhasil mempertahankan ketenangannya. Dia sebenarnya juga monster... Monster yang muncul dalam Mitologi... Mitologi Yunani... Monster yang berusaha membunuh Andromeda...

Hanya ada satu nama yang muncul ke pikirannya.

"Cetus."

Monster laut yang dikirimkan Poseidon untuk menghukum Ratu Cassiopeia atas kesombongannya.

Monster yang dibunuh oleh Perseus

Yang secara ironis, dibunuh dengan kepala sang Gorgon, Medusa

"Sepertinya bukan hanya Medusa yang mendapatkan wujud manusia," gumam Shun.

Walaupun sebenarnya tidak mengharapkan jawaban dari Cetus, Shun mendapatkannya. "Aku sudah mendengar tentangmu. Kata mereka, Saint Andromeda sekarang ini membenci pertempuran. Mereka bilang dia memiliki hati paling suci, sampai-sampai menjadi wadah untuk Hades..."

Shun secara tak sadar mengencangkan kepalannya.

Cetus menyeringai dan dengan kecepatan hebat memukul sang Andromeda, meninggalkan sebuah kawah seperti bekas meteor jatuh. Beruntung, Shun berhasil menghindarinya. Begitu serangan itu datang, ia langsung melompat ke belakang. Cetus terkejut dan segera mencari sosok sang pemuda, yang ditemukannya hanyalah rantai yang melesat cepat, mengikat tangannya. Shun berhasil melakukan serangan kejutan, tetapi dia melupakan satu hal. Tubuh Cetus yang besar membuatnya menang dalam aspek kekuatan. Dengan mudahnya, monster laut itu mengangkat tangannya, melemparkan Shun ke udara.

Rantainya masih melilit tangan sang monster sehingga ia tidak terjatuh. Ia pun mengambil kesempatan untuk menggunakan rantainya yang satu lagi, targetnya adalah mata sang raksasa.

Cetus langsung mengerang ketika rantai itu menusuk mata kanannya. Suaranya adalah sesuatu yang tidak mungkin datang dari seorang manusia.

Shun melepaskan kedua rantainya dan mendarat dengan aman di atas tanah. "Aku memang tidak suka menyakiti orang lain," katanya, "Tetapi aku memiliki alasan untuk bertarung! Aku tidak bisa kalah di sini!"

"DASAR CACING KECIL!" Cetus kembali mengepalkan tinjunya. Kini, sebuah pusaran air menyelimuti tangannya.

Shun menatapnya tanpa rasa takut di matanya.

.

Shiryu dan Hyoga sebenarnya berlari sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya bertemu satu sama lain di pepohonan Barat. Saat melihat sosok manusia tidak di kejauhan, mereka hampir saja menyerang satu sama lain. Untunglah mereka sadar siapa sosok itu dan tidak jadi menyerang.

Setelah bertukar pandangan sejenak, tanah dekat mereka berguncang. Keduanya memasang kuda-kuda, mereka siap menyerang kapan saja.

Tanah kembali berguncang. Kini terlihat jelas penyebabnya, sesosok makhluk besar ditutupi rambut putih panjang. Tinggi sosok itu sendiri kurang lebih sama dengan pepohonan di sekitarnya, tetapi tangan dan kakinya yang begitu besar memudahkannya untuk mencabut sebatang pohon dan mengayunkannya seperti pentungan.

"Ini..." gumam Hyoga.

"Ya. Lawan yang cocok untuk kita... bukankah begitu, Hyoga?" balas Shiryu.

Hyoga tersenyum kecil. "Monster yang hidup di dataran bersalju China..."

"...Yeti." Keduanya mengatakannya bersamaan.

Tidak seperti Medusa ataupun Cetus, monster ini tidak peduli akan penampilannya. Dia tetap menggunakan wujud aslinya―yang sebenarnya diketahui oleh manusia, walaupun hanya sebagai isapan jempol. Sebenarnya, dia juga tidak membenci para Dewa atau manusia seperti yang lainnya. Alasan dia mengikuti Akumu adalah sebuah misteri yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Tuhan.

Matanya yang tersembunyi di antara rambut lebatnya menatap Dragon dan Cygnus di hadapannya. Lalu dia langsung mengayunkan pohon yang dicabutnya sekuat tenaga. Tanpa berkata apa pun, tanpa tanda-tanda apa pun, dia langsung menyerang.

Menghadapi serangan kejutan itu, reaksi kedua Saint bisa dibilang cepat.

"Rozan Shō Ryū Ha!"

Membakar Cosmo-nya dan melontarkan sebuah pukulan, Shiryu melancarkan jurus terkuat sang Naga. Serangannya mematahkan batang pohon itu, membelahnya menjadi dua. Di saat yang sama, mengambil kesempatan selagi Yeti itu belum berhasil menangkap situasi, Hyoga juga menyerang.

"Diamond Dust!"

Angin kencang beserta es dan salju menghantam wajah sang Yeti. Kehilangan keseimbangannya, dia terjatuh ke belakang, membuat tanah kembali menguncang. Hyoga tersenyum puas, tetapi―

Raksasa salju itu segera bangun, sebagian wajahnya masih terbungkus es, tetapi dia tampak tidak tergangggu. Tentu saja, karena dia tinggal di daerah bersalju, serangan dengan elemen tersebut akan kurang efektif terhadapnya.

―Senyumannya langsung digantikan dengan ekspresi hitam.

.

Sementara itu, Seiya masih berada di sisi Saori―yang sibuk menahan proses pembatuan Kanon. Yang menjadi lawannya dan Jabu, Nachi, Ichi, Geki, serta Ban adalah sepasukan kelelawar vampir. Mereka menyerang dengan begitu terkoordinasi, sulit membayangkan mereka adalah hewan tanpa akal.

Pasukan kelelawar itu terbang dalam barisan bagai tentara, lalu menerjang mereka dengan kecepatan penuh. Para Bronze Saint kesulitan menangkis mereka. Kelelawar itu menang dalam jumlah, ukuran mereka yang kecil juga mempersulit situasi bagi para Saint.

Seiya berputar menghadap ke arah Bronze Saint lainnya. Begitu melihat kelelawar-kelelawar itu menukik menuju Jabu, dia langsung menyerang dengan Pegasus Ryu Sei Ken miliknya. Barisan kelelawar yang rapi terbang berhamburan, berusaha menghindari serangan tersebut.

"Seiya! Tanpa kamu ikut campur, aku bisa mengatasinya tadi," protes Jabu, dia tidak suka orang memandangnya lebih lemah dari kelima Bronze Saint yang ikut serta dalam Pertempuran 12 Kuil. Dia ingin membuktikan kalau itu salah. Walaupun tahu ini salah... walaupun tidak mau mengakuinya, tanpa disadarinya dia menganggap pertarungan ini sebagai cara untuk membuktikannya.

"Apa kamu serius!? Kamu mengeluh karena aku berusaha menyelamatkan nyawamu!?" balas Seiya.

"Kalian berdua... Ini bukan waktunya untuk bertengkar!" Akhirnya Geki melerai keduanya sebelum situasi menjadi tidak terkendali.

Keduanya memalingkan kepala tanpa mengatakan apa pun.

Saat itulah... Seiya menyadari sesosok bayangan berlari di antara pepohonan. Secara refleks, dia melangkahkan kakinya maju, tetapi langkahnya terhenti sebelum dia bisa berjalan lebih jauh. Sang Pegasus berbalik ke belakang, mengamati rekan-rekannya dan Dewi yang berusaha dilindunginya.

"Pergilah."

Seiya menoleh ke sumber suara, yaitu salah satu rekan Bronze Saint-nya. Seorang pemuda dengan zirah berwarna ungu, rasi bintang Monoceros, Unicorn Jabu.

"Tugas untuk melindungi Athena serahkan saja pada kami. Atau, apa kamu tidak mempercayai kemampuan kami?" Jabu menatap Seiya dengan pandangan dingin.

"...Tentu saja tidak," balas Seiya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia melesat mengejar sosok misterius itu.

Saori mengamati kepergian sang ksatria Pegasus. Mungkin sang pemuda tidak menyadarinya, tetapi sosok yang dikejarnya itu berlari ke arah Mansion. Sepertinya dia telah menelaah situasi pertarungan, dan menemukan bagian tak terlindungi yang menuju ke pintu masuk Mansion. Sebuah keputusan tepat bagi Seiya untuk mengejarnya, karena keselamatan para tamu yang menjadi pertaruhan di sini.

"A-Athena..." bisik Kanon. "Hentikan. Jangan, membuang-buang Cosmo Anda untuk menyembuhkanku lagi... Sekarang, prioritas utama kita... adalah, mengalahkan para Akumu itu."

"Apa yang kamu katakan, Kanon!?" balas sang Dewi tanpa menghentikan aliran Cosmo-nya. "Kalau saya melakukan itu, kamu akan mati!"

"Hanya aku yang akan gugur... Dengan kekuatan Anda, Anda bisa menghentikan pertarungan ini... Tak ada orang lain yang akan terluka..."

"Saya menolak untuk melakukan itu! Tak akan saya biarkan satu pun Saint gugur begitu saja." Saori memperkuat aliran Cosmo-nya, mempercepat proses penyembuhan. Tetapi, walau berapa kali pun ia melakukan penyembuhan total, proses pembatuannya akan kembali terjadi begitu ia berhenti.

'Pasti ada sesuatu, sesuatu yang menyebabkan Kanon terus menerus kembali menjadi batu.'

"Kh..."

Jabu dan yang lainnya berusaha keras menangkis pasukan kelelawar vampir itu.

"Sial, kenapa mereka bisa teroganisir seperti ini!?" keluh Geki.

Jabu sekali lagi menatap ke kelelawar-kelelawar yang terbang di atas kepalanya... Ketika dia menyadari sesuatu.

'Jangan-jangan...' batinnya.'Patut diuji.'

"Geki!" serunya. "Rentangkan tanganmu, telapak tangan menghadap atas!"

Walaupun bingung, Geki melakukan yang diminta oleh temannya itu. Begitu mengambil posisi, Jabu berlari sekencang-kencangnya ke arah si beruang.

"He-Hei! Apa yang kamu lakukan!?"

Pertanyaannya dijawab dengan ini:

"Lemparkan aku ke atas!"

Apa kamu gila!?

...Itulah yang ingin dikatakan olehnya. Tetapi sebelum dia bisa mengatakannya, Jabu melompat ke atas telapak tangannya. Dia langsung mendorong kaki sang Unicorn, menerbangkannya kurang lebih 7 meter di atas udara.

Jabu langsung mengerahkan Cosmo-nya, serta mempersiapkan tendangannya.

"Unicorn Gallop!"

Targetnya adalah wanita bersayap kelelawar yang ada di bawahnya.

Wanita tersebut tersentak kaget. Sedari tadi dia melayang di sana, tak ada satu pun yang berpikir untuk menyerangnya. Setidaknya tidak sampai saat ini...

Sepasukan kelelawar seketika mengelilingi wanita itu, menghentikan serangan Jabu. Tetapi sang pemuda tersenyum puas. Ia berputar di udara, lalu mendarat dengan selamat di Bumi tercinta.

"Ternyata aku benar," katanya, masih dengan senyuman penuh kemenangan. "Kelelawar-kelelawar itu dikendalikan olehnya! Sekarang yang harus kita lakukan hanyalah memusatkan serangan pada wanita itu!"

.

Sosok yang menyerupai manusia berlari di antara pepohonan Mansion Kido. Tubuhnya ditutupi oleh jubah hitam dari atas sampai ke bawah, membuat penampilan fisiknya tak terlihat selain seringai di wajahnya. Di kejauhan, terdengar jelas suara ribut hasil dari pertarungan antara para Bronze Saint dengan Akumu lainnya. Tapi tak ada seorang pun yang mengejarnya, dia maju tanpa halangan menuju Mansion.

"Pegasus Ryu Sei Ken!"

Atau setidaknya dia berpikir begitu...

Dengan sigap dia melompat menghindari serangan tersebut.

Seiya telah mengejar sosok misterius itu dengan kecepatan penuh. Begitu melihat sosoknya di kejauhan, dia mempercepat langkahnya sembari mempersiapkan serangan. Ketika jarak mereka cukup dekat, dia langsung melancarkan tinju meteor-nya.

Sosok itu tetap tersenyum. Dia berhasil menghindari serangan kejutan tersebut. Bukan cuma itu, selagi melompat ke atas, dia menanggalkan jubah hitamnya dan melemparkannya ke arah Seiya. Jubah tersebut jatuh tepat di wajahnya, menghalangi penglihatannya.

"Pegasus Ryu Sei Ken."

Begitu Seiya melepaskan jubah itu dari wajahnya, puluhan tinju bagaikan meteor mengarah ke arahnya. Dan dia tidak sempat menghindar.

Seiya mengerang kesakitan ketika puluhan tinju itu menghantamnya. Dia terjatuh ke tanah dengan lutut sebagai tumpuan. Matanya terbelalak begitu melihat sosok di hadapannya. Sosok misterius yang dikejarnya itu... Seharusnya dia mengenalnya lebih dari siapapun. Karena, sosok itu adalah... dirinya sendiri.

Ya, benar. Sosok yang berdiri di hadapannya memiliki penampilan persis sama dengannya, Seiya merasa seolah sedang bercermin. Satu-satunya yang membedakan keduanya adalah mata mereka. Mata Seiya berwarna coklat gelap, sedangkan yang satu lagi memiliki mata bercahaya violet.

"Hai, Saint Pegasus." Suaranya tenang dan, entah kenapa, memiliki nada sarkastik di dalamnya. Bukan cuma mata, ternyata suara dan cara bicara mereka juga berbeda.

"Siapa kau? Bagaimana kamu bisa memiliki penampilan yang sama denganku?" tanya Seiya.

"Aku salah satu anggota Akumu. Itu cukup menjelaskannya, bukan?" balasnya, masih dengan nada yang entah bagaimana terkesan sarkastik.

Seiya memaksakan tubuhnya berdiri, matanya memelototi si pemalsu.

"Ah, hei, hei... Sabarlah, aku tidak mau pertarungan yang tak berarti. Baiklah, akan kujawab..." Dia menggaruk bagian belakang kepalanya, seolah ingin mengatakan kalau menjawab pertanyaan Seiya adalah sesuatu yang merepotkan. "Penjelasan singkatnya, aku adalah apa yang kalian sebut dengan Hybrid. Orang tuaku adalah Doppelganger dan Shape-shifter, sebenarnya kekuatan mereka kurang lebih sama saja. Ya... Kamu tahu apa itu Doppelganger, kan, Pegasus...?" Senyuman mengerikan muncul di wajahnya.

Doppelgangerseseorang yang tampak seperti orang lain. Jika berbicara tentang makhluk supernatural, maka mereka adalah makhluk yang mengambil wujud menyerupai seorang manusia yang hidup dan kadang disebut-sebut sebagai pembawa sial. Dikatakan jika kamu bertemu dengan doppelganger-mu, maka kamu akan meninggal beberapa tahun kemudian.

Wajah Seiya berubah pucat begitu mengingatnya.

"Tenanglah," katanya lagi, "Kamu tidak akan mati dalam beberapa tahun lagi, kok."

Tanpa sadar sebuah senyuman tipis muncul di wajah sang Pegasus.

Ah... Kapan terakhir kali darahnya bergejolak seperti ini?

Dia kuat. Satu hal itu Seiya tahu jelas. Dia tidak seperti monster-monster yang lainnya, pemuda yang ada di hadapannya sekarang ini memiliki kekuatan dalam arti sebenarnya. Bukan keuntungan karena tubuh yang besar atau berotot, bukan kutukan yang diturunkan para Dewa... Bahkan, bukan jurus yang ditiru olehnya. Seiya tidak bisa menjelaskannya dengan baik, dia hanya mendapatkan kesan seperti itu. Mungkin bisa kau sebut sebagai sebuah "perasaan" atau "firasat". Rasanya sudah lama sekali dia tidak bertarung dengan orang seperti itu. Dia tidak mau mengakuinya, tapi dia tak sabar untuk melawan sang doppelganger.

Dengan begitu, Seiya mempersiapkan kuda-kudanya. "Hoo...? Kamu akan membunuhku sekarang?" tanyanya.

Pemuda di hadapannya hanya tersenyum.

"Aku ingin melihatmu mencoba," katanya lagi.

Kesunyian yang tegang langsung menyelimuti keduanya. Keduanya tidak menggerakkan satu otot pun. Mata mereka masih terpaku pada satu sama lain, berjaga-jaga jika musuh mereka melakukan gerakan sekecil apa pun.

Angin malam berhembus, dedaunan pada pohon di sekitar mereka menari karenanya. Lalu, sehelai daun terlepas dari rantingnya. Seiring hembusan angin melembut, ia perlahan jatuh ke bawah, ke ruang kosong di antara kedua Pegasus.

Lalu, saat daun itu menyentuh tanah...

Sang doppelganger berlari menjauh.

...

'...Eh?'

"Hei! Oi! Kenapa kamu lari!?" tanya Seiya yang jelas sekali kebingungan.

Pemuda yang berlari itu tertawa lepas. "Sudah kubilang, kan? Aku tidak menginginkan pertarungan tak berarti."

"Jadi, kamu menipuku ketika mengatakan akan membunuhku!?"

"Tidak... Aku ini tidak pernah berbohong," katanya lagi, "Dari awal, aku memang tidak pernah mengatakan akan membunuhmu." Nada suaranya seolah meledek dan dia kembali tertawa.

"Kurang ajar kau!" seru Seiya. "Kembalikan semangat bertarungku barusan!" Seiya, akhirnya, kembali mengejar Akumu itu.

Dengan cepat jarak di antara keduanya menyempit.

Menyadari kehadiran pemburunya, dia berseru, "Jangan ikuti aku, Pegasus!" Tidak seperti sebelumnya, kali ini ada nada jengkel dalam suaranya.

"Mana mungkin aku membiarkanmu kabur!?" tambahnya, "Tujuanmu itu Mansion Kido, kan? Tak akan kubiarkan kamu melukai orang-orang di Mansion."

"Kau mengganggu!" Nada jengkel itu berubah menjadi amarah. "Aku bukan dan tidak akan melukai orang-orang di sana, jadi pergi!"

"Kau kira aku bisa mempercayai kata-katamu itu?"

"Ck." Dia mendecakkan lidahnya, lalu mempercepat langkahnya hingga mencapai kecepatan yang jauh melampaui manusia normal.

Sebenarnya, dia memang tidak berbohong. Dia tidak memiliki niatan untuk melukai seorang pun. Alasan dia berlari sekuat tenaga adalah... karena ada orang yang ingin ditemukannya. Ada seseorang yang dia cari, dan sang pemuda yakin dia ada di dalam bangunan mewah tak jauh di hadapannya itu.

'Dia ada di dalam sana... Aku yakin itu!' batin sang doppelganger.

Semakin dekat dengan Mansion tersebut, perasaan itu semakin menguat. Karena itulah, dia tidak mau Seiya mengganggunya. Meskipun itu berarti... Meskipun itu berarti dia... harus membunuh sang Pegasus.

Akhirnya langkahnya terhenti begitu dia keluar dari pepohonan lebat tersebut. Dihadapannya adalah dinding Mansion Kido, tetapi saat ini perhatiannya bukan tertuju pada itu. Wajahnya yang tertunduk membuat ekspresinya tak terbaca.

Sesaat kemudian, Seiya berhasil mengejarnya dan keluar dari pepohonan lebat itu juga. Napasnya terengah-engah. Sang Pegasus memperhatikan sang doppelganger, rasanya aneh melihat dirinya sendiri, tetapi bukan itu yang paling aneh sekarang.

'Kenapa dia diam saja? Barusan dia begitu bersikukuh untuk masuk ke Mansion.' Keringat dingin bercampur dengan keringat yang sebelumnya telah mengalir di dahinya.

"Kutanyakan kamu sekali lagi," kata sang Pegasus palsu. "Kamu tidak punya niatan untuk membiarkanku pergi?"

"Tentu saja..." Suaranya lebih bergetar dari yang diharapkannya. "Tak akan kubiarkan kamu masuk ke Mansion."

"Begitu, ya...? Kalau begitu..." Sang doppelganger berbalik ke arah Seiya, tak ada secercah belas kasihan dalam matanya saat ini. "Aku tidak punya pilihan lain, selain membunuhmu."

Dia membakar Cosmo-nya begitu kuat. Seiya tersentak kaget ketika melihat ledakan Cosmo dashyat tersebut, jika harus mendeskripsikan apa yang dilihatnya, Seiya akan mengatakan bahwa pemuda di hadapannya tengah diselubungi api berwarna hitam― Bukan, warnanya yang ungu pekat menyebabkan orang yang hanya melihatnya secara sekilas salah mengira itu adalah hitam. Ya, bisa dibilang... Sang doppelganger telah melepaskan sisi kemanusiaannya, dan merangkul sisi monsternya.

Sebuah senyum yang dipaksakan muncul di wajah Seiya. Walaupun begitu, dia tetap memasang kuda-kuda dan ikut membakar Cosmo-nya. Begitu melakukan itu, segala rasa khawatir dan takutnya lenyap, satu-satunya yang menetap adalah kesiapan untuk melawan musuh di hadapannya, dan dia tidak berniat untuk kalah.

Cosmo mereka beresonansi. Cahaya terang Seiya dan cahaya gelap sang doppelganger berkobar-kobar, tetapi menciptakan sebuah tarian yang entah kenapa terkesan anggun. Bahkan, mungkin kamu bisa mengatakannya indah.

Keduanya diam menatap mata satu sama lain, siap menyerang kapan saja.

Lalu...

Tanah tak jauh di sisi mereka meledak, membuat debu-debu berterbangan. Perhatian mereka goyah, langsung saja keduanya berpaling ke arah ledakan tersebut. Ketegangan barusan menghilang seketika.

Sebenarnya, tanah itu tidak meledak. Lebih tepatnya, ada sesuatu yang dilemparkan dengan kekuatan besar dan jatuh dengan begitu keras sehingga tanah yang dibenturnya hancur. Setelah kabut debunya mereda, Seiya melihat sosok tak asing berusaha bangun di kawah yang terbentuk akibat impak barusan.

"Shiryu!" seru sang pemuda.

Shiryu berbalik, lalu memicingkan matanya. "Seiya...? Apa kepalaku terbentur sekeras itu? Kenapa kamu ada dua...?"

Seiya tak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap perkataan sang naga, dan dia tidak perlu, karena detik berikutnya, mereka kedatangan tamu lain.

Sang yeti keluar dari pepohonan ke tempat mereka, tanah berguncang dengan setiap langkahnya. Di tangannya ada Hyoga yang berusaha melepaskan diri dengan membekukan tangan besar si yeti, tetapi tidak berhasil. Dia tahu serangan berelemen es tak berguna melawan monster yang hidup di tempat dipenuhi salju tersebut, tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa selain itu.

Ekspresi gelap si doppelganger lenyap, seolah dia kembali ke sisi manusiawinya. Dia menyeringai dan berkata, "Kerja bagus, Yeti! Sisanya kuserahkan padamu, ya." Nada bicaranya kembali ceria, seolah dia sedang melawak. Setelah mengatakan itu, sang pemuda kembali berlari.

"Kau mau kabur lagi!?" Seiya mulai kesal sendiri dengan kebiasaan musuhnya satu itu. Seiya berniat mengejarnya, lagi, tetapi ada lagi yang menghalanginya.

Seorang, seekor, keduanya cocok menggambarkan raksasa di hadapannya. Dengan kepala banteng dan tubuh manusia, semua orang pasti langsung mengetahui identitas makhluk satu ini... Minotaur.

Seiya baru saja akan memikirkan strategi untuk melawan manusia banteng itu, tiba-tiba punggung sang Minotaur terbakar. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi kesakitan, lebih tepat ekspresinya kesal, seolah ada serangga yang terbang ke arahnya dan berusaha mengusiknya. Dia berbalik menghadap penyerangnya, seorang pemuda dengan rambut gelap dan zirah burung api abadi, Phoenix.

"Pergilah, Seiya," katanya, "Monster itu menuju pintu belakang Mansion. Kau harus menghentikannya."

Seiya mengangguk dan berlari secepat yang ia bisa.

Pintu belakang Mansion, yang menjadi masalah bukan hanya fakta bahwa dia bisa masuk ke dalam, tetapi karena... Pintu belakang Mansion, itu tempat Athena dan lainnya sedang bertarung. Walaupun ia bilang ia tidak akan melukai siapa-siapa, Seiya masih tidak dapat mempercayai kata-katanya itu.

Dia harus mengejarnya secepat mungkin.

.

Saori masih sibuk berusaha menyembuhkan Kanon, sementara Jabu dan yang lainnya sibuk melawan wanita kelelawar beserta pasukannya.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan di kejauhan. Bersamaan dengan suara itu, seseorang terlempar ke sisi Saori. Tersentak kaget, ia pun menoleh dan menemukan seorang pemuda berambut coklat mengenakan zirah Pegasus tergeletak di sisinya.

"Seiya!?" serunya kaget.

"Ngh... A-Athena..." gumam sang pemuda.

Saori secara refleks mengulurkan tangan, berniat menolongnya―

"Saori-san, jangan! Dia Akumu!" ...Seiya berteriak dari kejauhan

Eh!?

Sang Athena secepat mungkin menarik kembali tangannya. Dalam sekejap, sang doppelganger mendongak mendekati wajah sang gadis dan tersenyum.

Mata keduanya bertemu. Saori merasa terhisap ke dalam bola matanya yang bagaikan amethyst.

Seiya panik, rasa takut langsung menyerang dadanya. Sang doppelganger bisa menyerang Dewi-nya kapan saja, dan jaraknya terlalu jauh untuk menghentikannya...

...Tetapi sang doppelganger tidak melakukan apa-apa...

Dia menarik wajahnya mundur dan menjauhi Saori. Seiya mengambil kesempatan tersebut dan segera berlari ke sisi Athena. Mereka semua bingung kenapa doppelganger ini tidak menyerang.

Sang Pegasus palsu kembali tersenyum. "Hei, dia membatu tuh." Dia menunjuk Kanon di belakang keduanya. Saori langsung tersadar dan kembali mengalirkan Cosmo-nya untuk Kanon.

Kedua Pegasus memandang sang Athena sejenak, sampai salah satu dari mereka berbicara ―yang memiliki mata violet, "Aku tidak mengerti kenapa kamu berusaha sekeras itu, Athena. Maksudku, kamu tahu, kan...? Kamu tahu kalau pembatuannya tidak akan berhenti. Setidaknya tidak sampai kamu melenyapkan sumbernya..." jelasnya.

Tetapi Saori tidak mendapat kesempatan untuk memikirkan kata-katanya lebih jauh...

Seiya memandang kembarannya dengan tatapan yang seolah mengatakan "Kenapa?"

"Sudah kubilang, bukan? Aku tidak punya niatan untuk melukai siapa pun... Tidakkah perbuatanku ini membuktikannya?"

Berbeda dengan ekspresi puas si pemuda, Medusa menggertakkan giginya penuh amarah. "Kau! Kau punya kesempatan untuk membunuhnya, dan kau lepaskan!?"

Orang yang dimarahi hanya mengusap-ngusap rambutnya dan menghela napas panjang, seolah amarah Medusa hanyalah sebuah celoteh tidak berarti dan merepotkan baginya. "Kau tidak bisa memerintahku melakukan sesuatu yang tidak ingin kulakukan..." gumamnya cukup kencang.

"Grr... Baiklah, kalau kamu menolak untuk melakukannya..." Medusa menjentikkan jarinya.

Tiba-tiba para monster berhenti menyerang.

Si wanita kelelawar terbang menjauh dan menghilang ke dalam kegelapan di balik Medusa, membawa pasukan kelelawarnya bersama dengannya. Cetus, Yeti, dan Minotaurus juga berhenti. Mereka tiba-tiba berbalik dan berjalan menjauh, mengacuhkan Bronze Saint yang baru sedetik lalu mereka lawan. Bahkan, Hyoga dilempar oleh si Yeti, untungnya Shiryu bergerak cepat sehingga Hyoga tidak menghantam tanah.

Walau bingung pada awalnya, Shun, Ikki, Shiryu, dan Hyoga akhirnya sadar akan apa yang harus mereka lakukan. Mereka langsung mengejar monster-monster itu, dan karena tujuan para monster adalah tempat Medusa... Keempat pemuda itu berakhir kembali ke sisi Athena. Saat mereka sampai, tidak ada tanda-tanda dari monster yang mereka kejar. Yang ada hanyalah Saori, Kanon yang masih terantai, Seiya, dan kelima Bronze Saint lainnya, serta Medusa yang masih berdiri di batas antara cahaya dan kegelapan.

Tanpa berpikir panjang, keempatnya langsung bergabung dengan kawan-kawannya. Mengambil posisi siap bertarung, mereka mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Medusa mengangkat tangan kanannya, dan lagi-lagi sejumlah ular keluar darinya. Mereka melilit-lilit ke atas, ketika mereka kembali ke dalam tuannya... muncul sebuah tengkorak di tangan Medusa.

"Tak kusangka aku akan menggunakannya secepat ini." Medusa mendekatkan tengkorak itu ke bibirnya dan membisikkan sesuatu.

"Kau tahu, Athena..." ucapnya lagi, "Wujud manusia ini bukanlah satu-satunya yang kuterima saat datang ke Dunia ini..."

―Samar-samar terdengar sebuah suara dari dalam kegelapan...

―Bulan yang tersembunyi di balik awan malam akhirnya mewujudkan dirinya...

Mereka semua terkejut.

Di belakang Medusa, kini ada ratusan, ribuan pasukan yang berbaris seolah tidak memilik ujung. Tapi hanya itu tidak cukup untuk mengejutkan mereka sampai seperti itu. Yang membuat wajah mereka berubah pucat adalah kenyataan... bahwa pasukan itu hanya terdiri dari tulang belulang.

Ya, pasukan itu terdiri rangka manusia, tak ada daging ataupun kulit yang menempel ke tulang mereka. Bahkan, rangka mereka tidak lengkap. Tak ada satupun dari mereka yang memiliki tengkorak, satu-satunya bagian dari kepala mereka yang terpasang adalah tulang rahang bawah mereka. Setiap langkah mereka dibarengi dengan suara gemertak dari tulang-tulang mereka.

Skeleton Army. Sebuah nama yang ironis mengingat mereka tidak memiliki tengkorak.

"Heh," dengus Seiya. "Mau tulang atau apa pun... Yang penting kita menghancurkannya, kan?"

Seiya membakar Cosmo-nya dan melancarkan serangan ke salah satu bagian barisan. Benar saja, hanya dengan begitu tentara di bagian tersebut hancur. Tulang belulang mereka berserakkan di tanah. Tetapi sekejap kemudian, tulang-tulang itu membentuk prajurit-prajurit yang baru.

Keringat dingin menetes dari dahi sang Pegasus. "Uhm, teman-teman... Jangan menyerang mereka sembarangan, ya..." ujarnya.

"Kau pikir?" Balasan yang sarkastik.

"Kau benar, Pegasus. Menyerang dengan ceroboh, dan kalian malah mempermudahku dalam membunuh kalian semua. Satu-satunya cara bagi kalian untuk mengalahkan pasukan ini adalah dengan jurus penyegelan, atau kalian boleh mencoba untuk menyerang mereka semua sekaligus dengan satu serangan. Tapi..." Mata ularnya melirik Saori dan Kanon. "Dengan tangan Athena dan Gemini terikat begitu..."

Tawa Medusa kembali meledak. "Tidak ada kesempatan bagi kalian untuk mengalahkan pasukanku!"

Sang doppelganger memandang Medusa yang begitu yakin dengan kemenangannya, lalu pandangannya beralih ke sisi para Saint yang mengepalkan tangan mereka dan menggertakkan gigi. Akhirnya, ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya.

"Dengan ini semuanya akan berakhir! Bersiaplah!" seru Medusa sembari mengangkat tinggi tengkorak di tangannya.

Sang doppelganger mengangkat wajahnya dan menatap sang rembulan dengan pandangan sendu...

「―Wahai Angin... 」
...Sebuah suara mengatakannya dalam bisikan yang tak terdengar siapa pun...

Tiba-tiba, sebuah anak panah keemasan menancap pada tengkorak yang di pegangnya ―Bukan... Itu bukan anak panah, melainkan cahaya keemasan yang berbentuk seperti anak panah.

"Tidak mungkin... Jangan-jangan...!?" Lebih dari satu orang yang mengucapkan kata-kata itu.

Mereka semua mengangkat wajah mereka, berusaha mencari siapa pun yang melepaskan anak panah itu. Lalu...

Ratusan... Ribuan... Anak panah yang sama seperti sebelumnya turun menghujani tentara tulang Medusa dalam jumlah yang tak terhitung. Dengan setiap anak panah, satu prajurit terjatuh ke tanah. Tetapi tak ada satu pun prajurit baru yang muncul...

Kesepuluh Bronze Saint membeku di tempat, tak ada satu pun yang bersuara. Mata mereka terpaku pada pemandangan di depan mereka, pemandangan yang tampak tak nyata, bahkan dalam mimpi sekali pun...

Medusa menggeram. Bukan hanya tentaranya yang ditargetkan sekarang, sejumlah panah juga terbang ke arahnya. Ia melepaskan ular-ularnya dan mereka menelan panah-panah itu, dan tepat saat mereka memakan cahaya keemasan tersebut, mereka musnah karenanya. Makin banyak panah yang menuju ke arahnya, Medusa mulai kesulitan mempertahankan diri.

Sebuah panah kembali dilepaskan, tapi bukan tertuju pada Medusa atau tentara tulangnya, melainkan pada Kanon.

Anak panah itu menembus dada Kanon ―melewati tempat di mana jantungnya berada, lalu menancap ke tanah. Tapi tidak ada darah setetes pun, yang tertancap di ujung anak panah adalah seekor ular. Ular tersebut kemudian berubah menjadi kabut hitam dan lenyap.

Selanjutnya, empat panah lainnya menembak rantai yang membelenggu Kanon, menghancurkannya. Kanon terjatuh ke tanah dengan bertumpu pada lututnya.

Saori menatap rantai yang berubah kembali menjadi ular.

'Tentu saja,' pikirnya. 'Ada lima ular yang menggigit Kanon, empat di antaranya keluar dari tubuhnya membentuk rantai itu. Jadi masih tersisa satu di dalam tubuhnya, dan dialah yang menyebabkan proses pembatuannya tidak berhenti.'

Matanya kini beralih kepada doppelganger tak jauh di sisinya. 'Dia tahu... Bagaimana? Lebih penting lagi, kenapa dia memberitahu kami yang adalah musuhnya?'

Sang Athena mendapat firasat, bahwa seiring waktu, misteri yang meliputi doppelganger/shape-shifter hybrid tersebut akan semakin bertambah.

Senyuman khas-nya kembali muncul. "Sepertinya pertarungan kali ini berkahir dengan kekalahanmu, ya, Medusa?" ucapnya.

Tubuh Medusa bergetar hebat. Bukan karena takut, tetapi karena marah. Tubuhnya penuh dengan luka gores dari serangan barusan. Walaupun ia berhasil menghindari serangan yang berakibat pada luka fatal, serangan-serangan lainnya berhasil meninggalkan luka pada kulit pucatnya. Darah segar kini mengalir, menciptakan perpaduan antara putih dan hitam dari kulit dan darahnya.

"...Diam kau... Kalau saja dia tidak mengganggu... Ya... Kenapa...?" Medusa mengencangkan kepalan tangannya. "Kenapa kamu selalu mengganggu, Phaesporia!?"

Musuh sang Gorgon hanya menatapnya bingung. 'Phaesporia? Kalau tidak salah itu...'

Medusa kembali bangkit. Matanya kini berkilat merah. Secara refleks semua orang di sana langsung menghindari tatapannya. Walaupun begitu, Kanon berdiri di depan yang lainnya, siap melawan balik.

"Kusarankan," kata sang Gemini, "kau mendengar saran ajudanmu. Apa kamu berpikir bisa mengalahkanku dengan kondisi seperti itu?"

"Dia benar, kau tahu," tambah sang doppelganger. "Bagaimana kalau kamu mundur dan menerima kekalahanmu ini, Medusa? Kesempatanmu menang terlalu kecil..."

Sang wanita ular mendecakkan lidah. Tanpa melawan lebih jauh, ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan.

Kanon menghela napas lega. Kini, ia melirik pemuda yang tidak jelas adalah musuh atau kawannya. Sementara itu, sang pemuda mengabaikannya, ia berjalan mendekati pepohonan dan membungkuk mengambil sesuatu―jubahnya.

Seiring mengenakan jubahnya, ia menanggalkan topeng bernama Pegasus Seiya. Sebelum ada yang bisa melihat wajah sebenarnya, dia sudah menurunkan tudungnya, menyembunyikan wajahnya dari hidung ke atas.

"Lebih baik aku juga pergi," katanya.

"Apa kamu pikir kita akan membiarkanmu pergi begitu saja?" tanya Kanon dengan tatapan tajam.

"Sebenarnya, ya. Setidaknya, aku ingin mempercayai itu." Dia kembali tersenyum dan melirik Athena. Athena pun memberikan isyarat kepada para Saint untuk membiarkan pergi.

"Terima kasih..."

Saori hanya mengangguki perkataannya.

Sang pemuda berjalan menjauh, menuju ke dalam kegelapan. Tetapi, sebelum masuk ke dalam bayangan malam, dia menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Mansion Kido di kejauhan. Matanya memandang apa yang sudah tidak ada di sana lagi. Sebuah tatapan lembut, campuran antara kerinduan dan kebahagiaan, secercah harapan muncul dalam jiwanya. Sebuah senyuman lembut ―berbeda dengan senyuman lain yang ia tunjukkan, muncul di wajahnya... seiring cahaya violet matanya memantulkan bayang-bayang rembulan...

"Sedikit lagi... Sedikit lagi, akhirnya aku dapat bertemu denganmu..."

Sebelas pemuda dan seorang gadis memperhatikan seiring sosok berjubah itu menghilang ke dalam kegelapan. Hampir bersamaan, mereka semua menghela napas lega.

Saori menampilkan senyum bak seorang Dewi. "Mari kita masuk. Kalian pasti kelelahan, istirahatlah..."

Dan begitulah, pertarungan pertama antara Saint Athena dan Akumu berakhir. Semuanya kembali sunyi, jiwa-jiwa yang ada di Mansion Kido masih terlelap.

Seiring cahaya pagi muncul dari ufuk timur, seorang gadis berambut cream yang masih meringkuk di dalam selimutnya terbangun. Ia memaksakan tubuhnya bangkit, matanya masih belum terbuka sepenuhnnya. Mitsuki menoleh keluar jendela, menatap halaman belakang Mansion Kido, tanpa mengetahui fakta bahwa tempat itu menjadi panggung pertarungan hebat semalam...

"Mimpi... 'kan...?"

...Atau setidaknya tampak seperti itu...


「つづく。。。」

?: Hm...
Wina: Aku tidak mood dengan ceramahmu hari ini. *Dorong keluar*
?: A- Hei- Kritiknya-
Wina: Mari balas review~ Tamu kali ini...
Camus, Milo: Halo

#TsukiRin
Wina: Kami gak maksa Nisa-san baca kok. Gak papa kalau tidak sempat juga ^^
MitsuKanon: *Blush*
Mitsu: Maafkan aku...
Kanon: Aku tidak kesasar! Kebawa arus doang! *Maksa*
Milo: *Nahan ketawa* Ternyata kamu... hihihi
Camus: Milo... Hentikan tawamu itu
Wina: *Abaikan* Terima kasih sudah review~

#Gianti-Faith
Kanon: Kau tahu, kesabaran orang ada batasnya juga.
Milo: *Bisik* Hei, jangan menantang maut.
Wina: Kata-kata guruku tuh!
Mitsu: Tidak tidak tidak, kami belum sampai pacaran! *Nahan blush*
Camus: *Baca cerita di atas* Kanon gak ada "Action"-nya sebenarnya.
ALL: Haha...
Wina: Jangan ingetin dong...

#Shimmer Caca
Mitsu: Kalau Kanon-san tidak datang... saya sudah tinggal nama.
ALL: Jangan ngomong begitu TAT
Wina: Pemburu Artemis ya... Masukin gak ya?
Milo: 'Modus...' -_- Kanon... berikan contoh yang baik ke Shizen dong.
Kanon: Sendirinya kamu modus sama dia.
Milo: *Headshot*
Wina: Ngomong-ngomong, kalau Apollo sih ada pasukan ksatria (Buatanku sendiri)
Camus: Nama pasukannya Arcana, dibagi menjadi Major dan Minor, nama-nama mereka di ambil dari kartu tarot, dan zirah mereka bernama Corona
Mitsu: Sekian penjelasan singkat dari Profesor Camus *Senyum*
Wina: Oracle itu tersendiri lagi soalnya bukan "Ksatria".

#albaficaaiko
ALL: *Pasang kacamata hitam dan muka serius* I'll be back.
Wina: Syukurlah ini keren di mata Aiko-san *Hela napas lega*
Milo, Camus: Kanon, Aiolia, Saga, sejak kapan kalian...
Mitsu: 'Swasanaseger... Suasana seger...' *Nahan ketawa*
Wina: Maklumilah, "Arnold Schwarzenegger" itu gak gampang ditulis nak, ini aja Copas XD

#Tsuki
Wina: Semua orang menanyakan Teru~
ALL: Nggak juga.
? ?: #JLEB
Wina: ? ? ini beda dengan ? loh~
Milo, Kanon: Gak nanya.
Wina: *Abaikan* Teru rencananya muncul di chapter selanjutnya... Tapi karena ini dipotong karna kepanjangan, diundur jadi 2 chapter.
Camus: ? ? itu Teru.
Mitsu: Rahasia terbongkar *Ketawa*

Sekian~
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~