Akhirnya bisa update juga...! Readers sekalian... kalau ada tugas lebih baik langsung dikerjain semua begitu dikasih deh (Baru melewati minggu-minggu penuh ulangan, tugas-tugas, dan pr-pr. Untungnya udah dikerjain duluan jadi nggak kelabakan)
Happy Reading~
(DISCLAIMER: Saint Seiya milik Masami Kurumada-sensei)
Seiring sinar matahari menggelitik kelopak matanya, sang gadis terbangun. Ia menggeliat, memaksa tubuhnya untuk bangun. Untuk sejenak dia melihat keluar jendela kamarnya, tampak taman belakang Mansion Kido yang luas seolah tak berujung.
"Mimpi... 'kan...?" gumamnya.
Dia berusaha mengingat apa yang dimimpikannya. Tetapi semakin dia berusaha, semakin informasi itu memudar dari ingatannya.
Mata biru safirnya menelaah sekeliling kamarnya. 'Benar juga. Aku menginap di Mansion Kido seperti permintaan Ojiichan...'
Mitsuki menggeser tubuhnya ke ujung ranjang. Saat kakinya menginjak lantai, tubuhnya dibuat menggigil oleh sentuhan dinginnya yang tiba-tiba. Sembari menunggu kakinya terbiasa dengan suhu lantai, Mitsuki kembali menatap keluar jendela. Untuk sejenak, sinar matanya redup dan sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Tetapi dengan segera, ekspresinya kembali melembut dan akhirnya ia bangkit dari ranjangnya.
Sementara itu, sepasang gadis menginjakkan kaki di depan gerbang Mansion.
Yang satu berkata kepada yang lainnya, "Menurutmu, apakah kita bisa bertemu dengan dia...?" tanyanya.
"Entahlah," jawab yang satu lagi. "Tetapi... Kemungkinan itu terjadi tidaklah kecil."
Keduanya tersenyum kepada satu sama lain.
Akhirnya, mereka melangkahkan kaki mereka, masuk ke dalam Mansion...
Clarity in The Eyes
.
.
Mitsuki berjalan di lorong Mansion Kido. Ia mengenakan sebuah gaun terusan berwarna kuning pucat yang panjangnya kurang lebih mencapai lututnya. Tentu saja, gaun itu bukan miliknya. Karena dia menginap tanpa persiapan, tentu saja dia harus meminjam pakaian Saori. Walau jujur, dia tidak terlalu nyaman dengan pilihan-pilihan baju yang diberikan. Semuanya terdiri dari gaun-gaun yang mahal dan feminim... Terlalu mahal dan feminim untuk Mitsuki. Sebenarnya, dia lebih menyukai pakaian sederhana di mana dia bisa bergerak bebas saat memakainya.
'Tapi, sebagai tamu, aku tidak boleh mengeluh terlalu banyak.' Dengan pikiran begitu, Mitsuki mengenakan gaun itu tanpa rasa berat ataupun kesal.
Sekarang ini, Mitsuki tengah memenuhi keinginannya untuk menjelajahi Mansion Kido. Setidaknya, menjelajahi lorong-lorong yang dekat dengan kamar yang digunakannya. Tetapi aneh, langkahnya ringan. Ia mengetahui apa yang akan ditemukannya pada belokan tertentu, dan muncul rasa nostalgia dalam hatinya dari waktu ke waktu. Itu aneh karena satu alasan, sepanjang yang diingatnya, Kamishiro Mitsuki tidak pernah menginjakkan kaki ke dalam Mansion Kido. Tidak mungkin dia melupakan pernah mengunjungi kediaman yang hampir bisa disamakan dengan sebuah istana ini, lebih tidak mungkin lagi karena dia memiliki Photographic Memory―Kemampuan untuk mengingat segala sesuatu sampai ke detail terkecil, walaupun hanya melihatnya sekilas.
"Apa kamu tersesat?"
Sebuah suara mengalihkan perhatian sang gadis. Ia berbalik dan menemukan seorang pemuda berambut coklat gelap dan kulit terbakar matahari tersenyum padanya.
Mitsuki bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan mendadak itu. "Ah, tidak, ng..."
"Seiya."
Sang pemuda mendekati sang gadis dan mengulurkan tangannya. Mitsuki tidak segera menjabatnya, melainkan menatapi tangannya yang terulur dengan pandangan bingung.
"Aku baru ingat kita belum berkenalan. Jadi... Salam kenal, namaku Seiya." Seiya kembali tersenyum.
Pandangan Mitsuki teralih dari tangan ke wajah Seiya. "Uhm, apa Anda tidak ingat?" tanyanya.
"Ingat...? Oh, namamu "Mitsuki", kan? Tentu saja aku ingat," jawab Seiya.
Mitsuki terus menatapi Seiya, membuat sang pemuda bingung. Apa bukan itu yang dia maksu? Seiya mulai berpikir begitu. Setelah beberapa saat, Mitsuki tersenyum dan menjabat tangan.
"Ya," katanya, "namaku Mitsuki. Senang bertemu denganmu, Seiya-kun." Kata-katanya dibarengi dengan sebuah senyuman.
Walaupun masih bingung pada awalnya, Seiya menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan di pikirannya seiring melepaskan tangan Mitsuki.
Saat itulah, tiba-tiba dia menangkap sesuatu dari ujung matanya. Sesosok bayangan yang melintas di belakang sang gadis. Dengan segera ekspresinya mengeras. Dia melangkah melewati Mitsuki dan merentangkan tangannya, mengisyaratkan agar sang gadis tidak ikut maju. Menarik napas panjang, dia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk―Ada Akumu yang menyelinap masuk. Dengan tinju siap dilontarkan, dia berbelok ke sisi lain lorong.
"Turunkanlah tinjumu itu, kamu bisa melukai seseorang."
Sebuah suara dengan tenang membalasnya.
Seiya membeku di tempat. Dia tidak bisa mempercayai siapa yang sedang ditatapnya sekarang. Di hadapannya adalah sepasang gadis kira-kira seusia dengannya. Yang satu memiliki rambut pirang panjang mencapai lututnya, sedangkan yang satu lagi memiliki rambut biru bagaikan laut. Keduanya memiliki warna mata yang berbeda akibat Heterochromia Iridum. Yang pirang memiliki warna mata biru dan merah, sedangkan yang satu lagi memiliki mata biru dan ungu. Keduanya memiliki suatu keindahan yang seperti bukan milik manusia.
Mulut Seiya bergetar, siap mengatakan sesuatu.
"Henna-chan? Sophie-chan?"
Seiya berbalik, melihat Mitsuki yang tidak menaati―atau mungkin tidak menangkap― isyaratnya.
Fakta yang lebih penting, apa barusan sang gadis berambut cream memanggil nama mereka?
Sebelum bisa berkata apa-apa, sang gadis berambut biru langsung menerjang Mitsuki dan memeluknya erat. "Mitsu-chan~ Aku kangen~" ucapnya.
Pipi Mitsuki sontak memerah. "So-Sophie-chan... Ya, aku juga merindukan kalian." Mitsuki menatap gadis yang satu lagi. "Henna-chan juga, aku sangat merindukanmu." Sebuah senyuman bagaikan malaikat muncul di wajah sang gadis bermata biru safir.
Henna membalas dengan sebuah senyuman kecil, menjaga agar emosinya tidak meluap seenaknya. Lalu, dia mendekati Mitsuki yang masih dipeluk Sophie dan ikut memposisikan diri seolah memeluknya. "Lama tidak bertemu, Mitsuki."
Seiya kebingungan. Dia kebingunan bukan main. "Tunggu, tunggu, tunggu... kalian mengenal satu sama lain?" tanyanya pada akhirnya.
Ketiga gadis melepaskan pelukan mereka. "Kenal? Kami sahabat."
"Oh..."
Untuk sejenak suasana berubah hening...
...
...
...!?
"TUNGGU, APA!?"
.
.
.
Aula yang digunakan untuk pesta semalam, kini dialih fungsikan menjadi tempat para tamu yang menginap untuk sarapan bersama dengan keluarga mereka. Makanan-makanan disajikan dengan gaya prasmanan, sehingga para tamu dapat memilih sendiri apa yang ingin mereka makan.
Di ruangan itulah para Bronze Saint ikut menikmati sarapan mereka bersama, saat jumlah mereka bertambah satu.
"Seiya?" Shun adalah orang pertama yang menyadari kedatangan sang Pegasus. "Kenapa wajahmu seperti itu...?"
"Aku baru saja melihat... sesuatu yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata," katanya sembari menduduki kursi di sebelah sang Andromeda. "Lebih baik kamu melihatnya sendiri."
Belum sempat mengatakan apa pun, sepasang tangan langsing melingkarkan diri ke leher Shun.
"Shun~" Sebuah suara sepelan bisikan menggelitik telinganya. Jika saja dia tidak mengenali suara ini, ia pasti sudah terperanjat dari kursinya. Tapi dia mengenal suara ini, dia terlalu mengenalnya. Sang Andromeda bangkit dari kursinya dan berbalik, menatap sang gadis berambut biru yang memeluknya.
"Sophie?"
Sophie tersenyum kepadanya.
"Sophie!?" katanya lagi, kali ini dengan nada terkejut. "Kenapa kamu ada di sini!?"
"Aku menemani Henna-chan mengirimkan surat kepada Saori-san," jawab Sophie. "Dan juga... aku ingin bertemu denganmu, apa itu salah?" Rona merah menghiasi pipi sang gadis saat ia mengatakannya.
Tepat pada saat itu, Shun kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Dia tersenyum dan mengelus lembut pipi Sophie. "Tentu saja tidak," katanya sembari mencium kening Sophie.
"Ehem. Aku tahu kalian berpacaran... Tapi apa kalian perlu menunjukkan kemesraan kalian di sini?" ucap Seiya.
Shun segera menarik diri menjauhi Sophie.
"Sophie." Ikki ikut berdiri dan mendekati sang gadis. "Barusan kamu bilang, Henna juga ada di sini?" tanyanya.
"Y-Ya... Aku tidak tahu apakah ia sudah selesai berbicara dengan Saori-san atau tidak, sih..."
Itu cukup untuk Ikki. Ia langsung meninggalkan rekan-rekan Saint-nya dan berjalan menuju pintu. Baru saja ia melangkahkan kaki ke lorong Mansion, matanya bertemu dengan sepasang mata berwarna merah dan biru.
Rambut pirang Henna yang terpapar cahaya matahari membuatnya seolah bersinar keemasan.
"Henna!" Suara Ikki keluar lebih kencang dari yang dia mau. Sang Phoenix melangkah mendekati sang gadis. "Kudengar dari Sophie kamu datang..." Kali ini suaranya terdengar lebih tenang.
Henna hanya mengangguk.
Seharusnya Ikki sudah tahu ia akan melakukan itu, dia sudah mengenal sang gadis sejak kecil.
"Kita sedang sarapan, apa kamu mau sarapan bersama kami?"
"...tidak."
Ikki sejujurnya sedikit terpuruk oleh jawaban datar Henna.
"Tetapi..." Sebuah senyuman kecil muncul di wajah sang gadis, sebuah senyuman yang langka. "Aku akan senang jika kamu bersedia menemaniku berjalan-jalan di taman Mansion..."
.
.
Mitsuki memilih duduk di meja yang berada di sebelah meja para Bronze Saint, ia menyukai suasana riang yang dibawa canda-tawa mereka dan pertengkaran kecil mereka. Ini berbeda sepenuhnya dengan makan malam di rumahnya yang biasanya berlangsung dalam kesunyian.
Sebuah senyuman terulas di wajahnya sembari ia menikmati sarapannya.
"Apa kamu tidak keberatan saya duduk di sini?"
Mitsuki mengangkat wajahnya kepada Saori yang berada di hadapannya. "Tentu saja tidak," jawabnya.
Saori pun duduk di kursi di hadapan sang gadis bermata biru safir. Tak lama, Kanon juga ikut duduk bersama mereka.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Saori. Sebuah pertanyaan yang tidak aneh dari seorang tuan rumah kepada tamunya.
"Tentu, sepertinya..." jawab Mitsuki ragu-ragu.
"Sepertinya?" ulang Kanon.
"Ah, bukan apa-apa, hanya... Aku bermimpi aneh semalam."
Saori dan Kanon langsung melirik satu sama lain.
"Mimpi apa?"
Tetapi bukan keduanya yang menanyakan itu, melainkan Seiya yang duduk tepat di belakang Mitsuki. Sang pemuda langsung mengambil kursi terakhir yang kosong di meja ketiganya dan memandang Mitsuki dengan serius.
"Aku... tidak bisa mengingatnya. Kalau aku tidak salah..." Mitsuki meletakkan jarinya ke dahinya dan berusaha lebih keras untuk mengingat mimpinya. "Tentang... cahaya dan kegelapan...? Mereka bertarung dengan satu sama lain."
Untung saja Mitsuki memejamkan matanya, sehingga ia tidak melihat ekspresi tegang sang Athena, Gemini, dan Pegasus.
"Tentu saja, itu hanya mimpi, kan? Tidak mungkin itu menjadi kenyataan, kan?" tanya Mitsuki, ia mengatakannya dengan nada seolah mengetahui bahwa mimpi tersebut adalah sebuah realita yang senyata dirinya. Atau sepertinya, lebih cocok mengatakan ia tampak takut akan kemungkinan itu.
Ketiganya tidak bisa bersuara.
"Mimpi menjadi kenyataan? Apa kalian sedang membicarakan epithymía?" Sophie mendekati meja mereka dan memecahkan kesunyian mencekam tersebut.
Επιθυμία―epithymía, bahasa Yunani untuk permintaan, kehendak, atau keinginan. Tidak aneh untuk Sophie mencampurkan bahasa Yunani dengan Jepang, mengingat dirinya juga berasal dari Yunani.
Selain memecahkan kesunyian, tampaknya Sophie juga mengalihkan perhatian semua orang di meja itu. "Ah, uhm, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanyanya kepada Shun yang berada di belakangnya.
"Kurasa tidak," balasnya.
Saat itu, mata Shun dan Mitsuki bertemu.
"Selamat pagi," sapa Shun sambil tersenyum.
"Pagi." Mitsuki membalas sambil tersenyum juga. "Jadi ini Shun-kun yang sering kudengar, ya?" katanya kepada sahabatnya, Sophie.
Sophie tersenyum, tetapi terlihat jelas pipinya merona.
"Kalau aku memberitahu Milo... dia bisa mengamuk," goda Kanon.
"Kanon-nii~ Tolong jangan melakukan itu ya~?" balas Sophie dengan sebuah senyuman manis yang entah kenapa... mencekam, seolah ada kegelapan tersembunyi di baliknya. Dan Kanon tahu betul bahwa dia tidak akan mau berhadapan dengan kegelapan itu.
"Ah, Kanon-san kenal kakak Sophie-chan?" tanya Mitsuki.
Lagi-lagi... Tenggorokannya serasa tercekat mendengarnya. Kanon mengamati Sophie yang berusaha menjawab pertanyaan Mitsuki tanpa mengungkit fakta bahwa mereka berdua adalah Gold Saint―Ksatria terkuat pelindung Athena. Dia menatap begitu lama sehingga sang gadis menyadari tatapan yang ditujukan padanya.
"...Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Mitsuki.
Kanon terdiam sejenak.
"Tidak. Aku hanya... tidak tahu apakah aku senang dipanggil seperti itu olehmu. "Kanon-san" membuatku merasa tua," jelasnya.
Kini giliran Mitsuki terdiam.
"Maaf, tapi... sepertinya kalau dilihat dari umur, Kanon-san memang lebih tua dariku."
"Benarkah? Bagiku kita kelihatan kurang lebih seumuran."
"Kau tahu, aku baru berusia 13 tahun."
Dan kata-kata Mitsuki berhasil mengejutkan sang Gemini. "Kau pasti bercanda," katanya.
Mitsuki menggeleng pelan. "Tidak, aku baru akan menjadi siswi kelas 8 di Mitsuishi Gakuen musim semi ini."
Seiya tertawa lepas begitu mendengarnya. "Sayang sekali, ya, Kanon. Hilang sudah kesempatanmu!" candanya.
"Diam kau, Seiya!" Kanon bangkit dari kursinya dan melampiaskan amarahnya pada mejanya yang tak bersalah, berusaha melawan agar wajahnya tidak berubah merah. Kanon pun meninggalkan meja itu dan menghilang dari pandangan mereka.
"A-Apa aku mengatakan sesuatu yang salah...?" tanya Mitsuki.
"Diamkan dia," kata Seiya, "nanti juga dia kembali seperti biasa setelah mendinginkan kepalanya."
Mitsuki hanya diam mengangguk. Sang gadis menatap tempat sahabatnya berdiri barusan, Shun dan Sophie sudah pergi saat keributan sesaat yang lalu.
"Ngomong-ngomong," kata Seiya lagi, kali ini ditujukan kepada gadis berambut lavender yang berusaha dia lindungi. "Sophie bilang, Henna datang ke sini untuk mengirimkan sebuah surat kepada Saori-san. Apa isinya?" tanyanya.
"Ah, surat itu..." Saori menurunkan gelasnya yang berisi teh. Ia baru saja akan melanjutkan kata-katanya, tetapi pandangannya beralih pada Mitsuki. Tatapan sang Athena mengatakan segalanya, fakta bahwa surat itu berisi sesuatu yang berhubungan dengan Saint, atau mungkin Sanctuary, dan bahwa ia tidak bisa mengatakannya di depan Mitsuki, karena ia tidak ingin melibatkan sang gadis dalam masalah ini.
Sang gadis berambut cream dapat menangkap maksud dari tatapan Saori. "Terima kasih atas sarapannya. Makanannya sangat lezat, Saori-san," katanya sembari beranjak dari kursinya. Mitsuki tersenyum, memberikan tanda: "Aku akan meninggalkan kalian berdua, jadi kalian bisa bebas membicarakan apa pun."
Akhirnya, Mitsuki juga keluar dari ruangan tersebut.
Langkahnya membawanya ke pintu belakang Mansion. Seberapapun besar keinginannya untuk menjelajahi Mansion Kido, ia merasa tidak sopan melakukannya tanpa izin dari Saori. Tetapi, tidak ada masalah berjalan-jalan di taman belakangnya, kan?
Mitsuki meraih gagang pintu dan membukanya, membiarkan angin pagi berhembus dan menyibakkan rambut panjangnya. Samar-samar tercium wangi bunga dan dedaunan yang bercampur dan dibawa angin yang hangat. Sang gadis memejamkan matanya sejenak dan tersenyum. "Benar-benar musim semi, ya..." gumamnya.
Ia melangkahkan kaki keluar.
Matahari pagi menyinari wajahnya, terdengar kicauan burung, dan angin yang sejuk. Benar-benar suasana musim semi.
"...Seolah mengusir angin dingin, bunga musim semi bermekaran..." Mitsuki tertawa kecil. "Apa-apaan itu?"
Sang gadis kembali berjalan menyusuri taman.
"Angin fajar membentuk cahaya, mari berdoa pada khatulistiwa yang abadi..." Sekali lagi, ia menertawakan lirik lagu yang baru saja dikarangnya.
Sementara itu, Kanon berada di kamarnya dan kembali bersender ke jendela yang menghadap ke taman belakang. Kini matanya tertuju pada sang gadis yang baru saja keluar ke sana.
'13 tahun seperti itu...?' batinnya.
Kanon mengamati Mitsuki. Sang gadis tiba-tiba berjongkok di dekat sebuah pohon dan menengadahkan tangannya seolah mengangkat sesuatu. Mungkin karena jaraknya yang jauh, Kanon tidak dapat melihat apa yang diangkat oleh Mitsuki.
Sebenarnya, tidak aneh sang Gemini tidak bisa melihatnya, karena yang berada di tangan sang gadis memang sesuatu yang tidak bisa dilihat.
Aosagibi―Sejenis youkai berupa burung yang mengeluarkan cahaya biru keputihan dari bulunya dan napasnya berupa api yang tidak menghasilkan panas atau membakar apa pun. Itulah yang ada di telapak tangan Mitsuki sekarang ini. Ini adalah sebuah rahasia yang disimpannya, bahwa ia dapat melihat makhluk yang bukan berasal dari Dunia ini.
Pure Eyes―Kemampuan untuk melihat sesuatu yang seharusnya tidak dapat dilihat. Dalam kasus Mitsuki, ia dapat melihat makhluk-makhluk supernatural, roh, dan sejenisnya. Tentu saja, kekuatan semacam ini datang dengan keterbatasannya sendiri. Ia hanya dapat melihat mereka pada hari-hari tertentu, yaitu sehari sebelum malam bulan purnama, pada hari dimana terdapat bulan purnama, dan hari setelahnya. Selain itu, Mitsuki tidak bisa membedakan antara yang manusia dengan makhluk-makhluk itu, jika makhluk itu berwujud manusia. Karenanya, ia terkadang menemukan dirinya berbicara pada angin di mata orang-orang awam.
Aosagibi yang ada di tangan Mitsuki tidak bercahaya, ia kelihatan seperti terluka. Tetapi, tak lama Aosagibi tersebut bangun dan mengepak-ngepakkan sayapnya, sampai akhirnya ia kembali bercahaya dan terbang pergi. Mitsuki tidak bisa tidak tersenyum. Dan tanpa sadar, kakinya berjalan mengikuti burung tersebut, masuk ke dalam pepohonan...
Langkahnya membawanya ke sebuah tanah terbuka. Tunggu. Bukan... Setelah memerhatikannya lebih teliti, tempat itu bukanlah lahan terbuka. Melainkan, pohon-pohon yang berada di sana telah menghilang. Sebagian tampak seperti ditebang atau tumbang, hanya menyisakan sejumlah tunggul pohon. Sementara sisanya tampak seperti telah dicabut dari tanah, menyisakan lubang-lubang.
Mitsuki tidak bisa mengalihkan matanya dari pemandangan tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Sang gadis berbalik. Dari bayang-bayang pepohonan, 5 pemuda berjalan keluar. Yang barusan berbicara pada sang gadis adalah Jabu. Tapi Mitsuki belum berkenalan secara langsung dengan mereka.
Jabu berjalan selangkah ke depan. "Kutanya sekali lagi-"
"Aku hanya berjalan-jalan." Mitsuki sudah menjawab sebelum dia menyelesaikan perkataannya. "Hanya kebetulan saja langkahku membawaku ke sini. Tapi..." Sang gadis kembali menatap bekas pohon-pohon di hadapannya. "Bolehkah aku bertanya bagaimana hal ini bisa terjadi? Peristiwa ini kelihatan... hampir tidak normal."
"Oh? Ternyata rasa ingin tahumu besar juga." Suara lain menimbrung pembicaraan mereka.
Kali ini keenamnya memalingkan kepala mereka hampir bersamaan. Dan pemilik suara itu ternyata seorang pemuda berambut hitam panjang, Shiryu. Bersamanya ada seorang pemuda berambut pirang, yang tak lain tak bukan adalah Hyoga.
Tanpa sadar, sang gadis berambut cream melangkah mundur. Dia merasa kurang nyaman dikelilingi dengan orang-orang yang belum dikenalnya dengan baik seperti ini.
"Hm...? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" Suara lain kembali menarik perhatian mereka. Mitsuki bernapas lega karena ia mengenali suara tersebut, itu suara Seiya.
Bukan hanya Seiya, ada Shun dan Sophie juga. Sepasang kekasih tersebut sedang menikmati waktu mereka bersama sembari berjalan-jalan di taman belakang Mansion ketika mereka secara kebetulan bertemu dengan Seiya.
Sophie tertawa kecil. "Semuanya lengkap di sini ya?" candanya.
"Semua? Memangnya di mana Ikki?" tanya Seiya setengah bercanda.
"Oh, kalian tidak perlu bersembunyi. Keluarlah Henna-chan, Ikki-san~"
Tak lama, seorang gadis berambut pirang panjang dan seorang pemuda berambut hitam pendek menghampiri mereka. Sebenarnya, saat keduanya sedang berjalan-jalan, Ikki melihat Sophie dan Shun dari kejauhan. Sisanya tidak perlu ditanyakan, insting kakak overprotective-nya mengambil alih dan Henna terpaksa menemaninya membuntuti adiknya itu dari kejauhan.
Sophie dan Henna bergerak menjauhi kekasih mereka dan mendekati sahabat mereka, Mitsuki.
"Mitsu-chan juga jalan-jalan? Kenapa pikiran kita sama ya?" Sophie tersenyum manis.
Hyoga mendekati Seiya, entah bagaimana dia tahu kalau Seiya lah yang paling dekat dengan Mitsuki di antara mereka bersepuluh, kemudian dia berbisik, "Mereka mengenal satu sama lain?"
"Mereka sahabat," jawab Seiya cukup lantang agar terdengar oleh teman-temannya yang lain.
"APA!?"
"Tunggu," bisik Shiryu, "Apa itu berarti Mitsuki tahu tentang Saint?"
"Entahlah... Tapi, kelihatannya tidak. Menurutku..."
Sementara para Bronze Saint sibuk berbisik-bisik, para gadis hanya memperhatikan mereka dari kejauhan, bahkan kesepuluh pemuda itu tidak menyadari mereka sedang diamati.
"Kenapa mereka berbisik-bisik...?" tanya Mitsuki.
Sophie dan Henna hanya melirik satu sama lain, bingung bagaimana harus menjawab pertanyaannya.
"Oh, iya!"
Ekspresi Sophie berubah cerah, sebuah ide muncul di otaknya. Ia mendekati Mitsuki dan menarik tangannya mendekati para Bronze Saint.
"Mitsu-chan belum berkenalan dengan mereka, kan?"
Sembari Sophie mulai memperkenalkan Mitsuki kepada kesembilan Bronze Saint lainnya, Henna masih berdiri mengamati mereka dari belakang. Tiba-tiba sang gadis mendongak ke atas, mata merah dan biru-nya menelaah langit yang menjunjung tinggi di atas mereka. Jauh di atas, hanya ada seekor burung terbang dengan bebasnya.
'Apa cuma perasaanku?' batinnya. Akhirnya Henna kembali menatap lurus kepada teman-teman dan kekasih di depannya, berusaha mengabaikan perasaan seolah sedang diawasi.
Dari jarak seperti langit dan bumi, burung tersebut memang tidak terlihat berbeda dari burung lainnya. Baru ketika melihatnya dari dekatlah, kamu bisa melihat perbedaan jelas antara keduanya. Burung tersebut berwarna hitam seperti gagak, tetapi ia tidak memiliki mata. Bagian di mana seharusnya matanya berada kosong dan berlubang. Bulu di sekitarnya memiliki warna hitam yang berbeda, warna hitam yang diciptakan saat darah mengering. Terlihat jelas tanda-tanda bahwa mata burung itu telah dicongkel keluar. Sebagai gantinya, terdapat sebuah mata besar―yang cocok dengan defenisi dari kata "grosteque" dari segi manapun― di antara kedua lubang matanya. Tetapi apa yang dilihat mata itu, tidaklah hanya dilihat oleh sang gagak. Mata itu terhubung dengan sesuatu yang berada di tempat lain.
Di suatu tempat yang tidak dapat dicapai manusia... Di sebuah Dunia yang berada di balik kegelapan. Dunia di mana langit selamanya berwarna merah seolah terbakar, berdiri sebuah kastil. Kastil yang berwarna hitam dari puncak sampai dasar. Kastil tersebut memberikan suatu aura yang cukup untuk membuat bahkan pahlawan paling berani ketakutan dan mengurungkan niatnya untuk menginjakkan kaki dekat dengan tempat tersebut. Di puncak dari apa yang terlihat seperti ngarai, diselubungi oleh hutan duri, itulah markas para Akumu.
"Medusa-sama, ada laporan dari familiar yang barusan dikirim." Wanita kelelawar dari malam sebelumnya berbicara dengan nada sopan kepada tuannya.
Mereka berdiri di tengah suatu ruangan luas dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar putih yang menjulang. Terdapat tiga buah singgasana. Satu yang ada di tengah berukuran lebih besar daripada kedua di sampingnya.
"Hoo? Kerja bagus, Succubus Sonata." Sebuah pujian hambar dari Medusa.
Sang Succubus tetap menerimanya dengan hati gembira. Ia kembali berbalik kepada makhluk di depannya. Makhluk ini memang memiliki asal-usul sebagai manusia. Tapi sekarang, dia sudah tidak bisa disebut manusia lagi. Ya, nama dari monster itu adalah Invunche. Walaupun begitu, cerita monster ini lebih mendekati cerita tragedi dibandingkan horror. Tetapi, itu adalah cerita untuk lain hari.
Sonata berdiri di belakang sang invunche yang sedang menggerak-gerakkan tangannya pada sebuah bola kristal.
Medusa berjalan mendekati bola kristal tersebut dan menatap ke dalamnya.
Yang terpantul dalam bola tersebut bukanlah ruangan tempat mereka berada, melainkan taman Mansion Kido yang telah menjadi medan pertempuran mereka. Di sana, terlihat jelas Seiya dan kesembilan Bronze Saint lainnya, Henna, Sophie, serta Mitsuki.
Apa yang dilihat oleh gagak tersebut akan terpantul dalam bola kristal di tangan sang Invunche.
Ya, "bukan hanya sang gagak yang melihatnya" merujuk pada ini. Gagak itu dalam kenyataannya adalah seekor familiar spirit―Semacam makhluk pesuruh yang digunakan pengguna sihir untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Salah satu di antaranya, mereka sering digunakan sebagai mata-mata. Dalam kasus ini, pengguna sihir yang mengendalikan gagak tersebut adalah sang Invunche. Sebagai monster penjaga gua penyihir, ia memperoleh pengetahuan sihir yang tidak kalah dari penyihir sebenarnya.
"Putri Poseidon. Sepertinya Athena telah meminta kerja sama para demigod," gumam Sonata ketika melihat Sophie.
"Bukan cuma demigod..." balas Medusa sembari menunjuk Henna.
"Anda mengenalnya?"
"Apa kamu tidak? Gadis itu adalah Tuan Lucifer."
Sonata terdiam, tetapi ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia terkejut dan tak dapat mempercayai apa yang baru saja diberitahukan kepadanya.
"Walau lebih tepatnya, beliau disegel dalam tubuh gadis itu. Tetapi, itu tidak mengubah fakta bahwa ia memilki kegelapan agung dalam tubuh mungilnya itu, bukan?" Medusa kembali mengeluarkan tawa mengerikannya. "Mungkin dia bisa berguna untuk kita suatu saat..." gumamnya.
Sang invunche tiba-tiba menggeram.
Keduanya kembali memperhatikan apa yang terpantul di bola kristal tersebut.
Medusa mengerutkan dahi. "Gadis itu..."
"Tampaknya seorang manusia biasa, teman dari Kido Saori. Sepertinya dia tengah mengakrabkan diri dengan para Saint dan kedua gadis itu," jelas sang Succubus.
Medusa menatap wajah Mitsuki di bola kristal tersebut dengan pandangan muak. Akhirnya, ia berpaling dan berjalan keluar dari ruang singgasana itu.
"Sonata," katanya sebelum meninggalkan ruangan. "Kumpulkan para komandan. Sudah waktunya."
Sonata nampak terkejut akan keputusan tuannya, tetapi tetap membungkuk hormat dan mematuhinya.
Sementara itu, Medusa berjalan di lorong kastil. Langkahnya menggema mengisi kekosongan. Ia sampai ke bagian terpencil dari kastilnya, sebuah lorong gelap dengan sebuah pintu kayu di ujungnya.
"Hehehe..."
Terdengar kekehan yang seperti berasal dari seorang kakek yang tengah memikirkan sesuatu yang licik. Itu tidak sepenuhnya salah. Tampak cahaya lilin menyusup dari celah-celah pintu itu. Tak lama, pintu itu terbuka.
"Saya telah menanti Anda, Medusa-sama. Hehehe..."
Seorang manusia kerdil. Dia bungkuk dan tingginya tidak mencapai pinggang Medusa. Rambutnya berwarna bagaikan campuran tanah dan abu dengan jenggot panjang yang senada, wajahnya kelihatan tidak terawat dengan hidung besar dan jerawat di sana-sini. Pakaiannya lusuh dan tampak seperti apa yang dikenakan oleh penambang di masa lampau. Di tangannya, ia memegang sebuah lentera yang menjadi satu-satunya penerang dari kegelapan di balik pintu tersebut.
Tatapan dingin sang Gorgon tidak membuatnya gemetar, sebaliknya, ia terus terkekeh.
"Jangan banyak tertawa dan antarkan aku kepadanya," titahnya.
Si kakek kerdil melepaskan satu kekehan lagi sebelum membuka pintu kayu itu sepenuhnya, mempersilahkan sang Gorgon masuk.
Keduanya berjalan menyusuri anak-anak tangga melingkar, yang melingkar, melingkar, dan terus melingkar seolah tidak memiliki ujung.
Tiba-tiba terdengar samar suara raungan dari kejauhan. Semakin mereka turun, semakin raungan itu terdengar jelas. Setelah mencapai dasar, Medusa memerintahkan ajudannya itu untuk berhenti dan tidak menemaninya lebih jauh lagi.
Tempat itu dipenuhi dengan sel-sel yang terbuat dari batu dengan jeruji besi yang tampak kuat meski sudah berumur dan diserang oleh karat.
Penjara bawah tanah, itulah tempat itu.
Medusa berhenti di depan sel yang menjadi sumber dari raungan mengerikan yang didengarnya. Dengan cahaya dari obor yang dipasang pada dinding-dinding lorong, ia dapat melihat bayangan dari apa yang nampak seperti seekor naga. Ukurannya begitu besar sehingga seorang manusia terlihat seperti tusuk gigi dibandingkan dengannya.
"Leviathan..." ucap Medusa dengan suara sepelan bisikan.
Raungannya berhenti. Bayangan tersebut lama kelamaan mengecil hingga berubah menjadi seorang pemuda tampan, dengan rambut biru pucat dan mata yang menyala kuning keemasan dalam kegelapan tersebut, ia berjalan menghampiri Medusa. Tubuhnya tinggi semampai, langsing tetapi berotot. Dengan tangannya yang pucat, ia menggenggam jeruji besi itu dan mencondongkan wajahnya ke depan.
"Apa maumu, Gorgon?" ucapnya dengan nada kebencian yang tidak repot-repot disembunyikannya.
"Masih sama, aku mau kamu menjadi salah dari Komandanku."
"Dewan 10 Komandan." Leviathan menertawakan nama itu. "Kamu memilih 10 monster yang kamu percaya untuk memimpin pasukanmu dan membantumu membalaskan dendammu."
"Balas dendam kita. Yang membenci manusia-manusia rendahan dan Dewa-Dewi angkuh itu bukan hanya diriku."
Leviathan mendengus. "Cari saja orang lain, aku tidak tertarik. Memang dari awalnya aku tidak menginginkan balas dendam―"
"Bagaimana kalau aku bilang," sela Medusa, "Kalau dengan begitu, kamu dapat bertemu dengan gadis manusia itu lagi?"
Leviathan terdiam, tatapannya kini lebih dipenuhi amarah dari sebelumnya. "Kalau kau menyentuh sehelai pun dari rambutnya..." Sebuah ancaman yang dibarengi niatan membunuh dan Cosmo yang hebat.
"Tidak akan, jika kamu berkerja sama, tentunya." Medusa tersenyum licik. "Ini penawaranku. Bergabunglah denganku, dan kamu bisa menemuinya sendiri. Aku tahu... itulah satu-satunya alasanmu belum menghancurkan kastil ini sejak detik pertama kamu dipenjarakan di sel busuk ini."
"Kau yang memenjarakanku di sini."
"Itu tidak penting. Jadi, akankah kamu bergabung denganku... atau menetap di penjara ini selamanya dan kehilangan kesempatan terakhir untuk bertemu dengannya? Terserah padamu ingin memilih yang mana."
"Kh..."
.
.
Medusa membuka pintu menuju ruang singgasana-nya dengan keras, memberitahukan kedatangannya pada semua orang yang ada di sana. Di sisinya, Leviathan berjalan tanpa suara.
"Terima kasih sudah berkumpul di sini, Dewan 10 Komandan..."
Dengan dirinya, kini terdapat 10 monster dengan ukuran dan wujud yang beragam. Tetapi masing-masing memiliki aura gelap yang hebat.
"Nah, mari kita mulai..."
.
.
.
"Apa kamu yakin tidak perlu mobil untuk mengantarmu pulang?" tanya Saori untuk kesekian kalinya.
"Tidak, saya yakin." Mitsuki menjawab untuk kesekian kalinya.
Mitsuki, Saori, Kanon, dan Tatsumi kini berada di teras depan Mansion Kido. Mitsuki telah memberitahu mereka bahwa ia berniat pulang saat itu dan Saori langsung menawarkan untuk memanggilkan sebuah mobil untuk mengantarnya, tetapi dengan segera ditolak olehnya.
"Setidaknya, biarkanlah seseorang mengantarmu. Saya hanya ingin memastikan keselamatanmu."
Ketika mengatakan itu, Saori melirik Kanon dari ujung matanya. Secara refleks, Kanon menegapkan postur tubuhnya, seolah memberitahu Dewi-nya bahwa ia siap menerima tugas tersebut.
Pada awalnya, Mitsuki berniat menolak tawaran itu juga. Tetapi, mereka telah berdebat selama 15 menit lamanya karena masalah mobil itu, Mitsuki tidak ingin ini berlanjut 15 menit lagi karena ia menolak tawaran tersebut. Akhirnya, ia mengganguk pelan.
Wajah Saori berubah cerah seketika. "Baiklah, Kanon. Saya menyerahkan kepadamu untuk menjaga Mitsuki."
Kanon mengangguk mantap.
Setelah berpamitan dengan Saori, keduanya pun berjalan berdampingan menuju pintu gerbang Mansion Kido.
Setelah keduanya hilang dari pandangan, senyum Saori meredup.
"Tatsumi," ucapnya dengan nada serius. "Kumpulkan Seiya dan lainnya, ada hal penting yang harus saya bicarakan."
.
Mitsuki dan Kanon berjalan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mereka diselimuti kesunyian, kesunyian yang canggung. Sang gadis kurang menyukai kesunyian ini, tetapi pada saat yang sama, dia tidak tahu bagaimana harus memecahkannya. Pandangannya melekat pada jalan di depannya.
"Apa yang kamu lakukan di taman tadi?"
Akhirnya, Kanon memecahkan kesunyian.
Mitsuki mendongak ke arahnya. "Ah... Hanya jalan-jalan."
"Oh. Aku melihatmu mengangkat sesuatu."
Sang gadis terdiam sejenak. "Hanya seekor burung kecil." Itu bukan sepenuhnya kebohongan.
"Begitu ya? Kamu mengikutinya sampai masuk ke dalam pepohonan..."
Kini Mitsuki tertawa kecil. "Kanon-san memperhatikanku dengan seksama, ya?" candanya.
Kanon tidak sempat membalas perkataannya. Karena segera setelah itu, Mitsuki segera melanjutkan perkataannya. "Aku hanya bercanda. Ya, dan karenanya aku bisa berkenalan dengan Hyoga-kun dan yang lainnya."
'Jadi, dia sudah akrab dengan para Bronze Saint, ya...' batin sang Gemini.
"Tapi aku masih penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dengan pohon-pohon itu..." gumam Mitsuki kepada dirinya sendiri.
"Pohon?"
Mitsuki mengangguk. "Aku menemukan banyak pohon yang tampak tumbang, ditebang, dan dicabut."
Langkah Kanon terhenti. Ingatan tak menyenangkan akan pertarungan semalam kembali berputar di kepalanya.
'Aku tidak dapat berbuat apa-apa...'
―Ia menggertakkan giginya.
'Aku hanya berdiri di sana tak berdaya...'
―Kepalan tangannya mengencang.
Kanon berdiri di sana dan membiarkan amarahnya menumpuk. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kumpulan emosi seperti ini. Tidak setelah dia bersumpah setia pada Athena. Ia merasakan kegelapan yang ia kira telah hilang untuk waktu yang lama...
"...an...? Kanon-san...? Kanon-san!"
Kanon tersentak dari lamunannya saat sang gadis mendekatkan wajahnya kepadanya.
"Apa Kanon-san baik-baik saja...?" ucapnya dengan nada dan ekspresi khawatir yang jelas sekali.
Kanon tidak menjawab.
"Ah... Maaf," Mitsuki mundur. "Kanon-san tidak senang aku memanggilmu seperti itu, ya?"
Mungkin Kanon tidak menyadarinya, tapi ini adalah usaha Mitsuki untuk meringankan situasi.
"Kalau begitu... bagaimana dengan "Kanon-kun"?"
Mata biru safir sang gadis kembali melekat pada sang Gemini seiring dirinya menyunggingkan sebuah senyuman manis kepada lelaki di sisinya.
.
.
.
Waktu berlalu sejak pertemuanku dengan Seiya-kun dan yang lainnya. Hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan. Kini bunga sakura telah bermekaran, menandakan awal dari siklus musim yang baru dan awal dari tahun ajaran yang baru di sekolahku, Mitsuishi Gakuen.
Setelah Upacara Pembukaan Tahun Ajaran Baru, siswa-siswi lama dan baru berkumpul di depan papan pengumuman, mencari nama mereka di antara ratusan nama lainnya. Aku termasuk di dalamnya. Berdiri di belakang siswa-siswi lainnya, aku mencari sampai akhirnya menemukannya.
Tertulis jelas nama "Kamishiro Mitsuki"―「神白 満月」 pada deretan kelas 8-A.
Setelah menemukan namaku, kini aku memperhatikan nama-nama yang lain, mencari tahu siapa saja yang akan sekelas denganku.
Saat itulah aku melihatnya, di antara deretan itu, nama-nama tersebut mencolok karena hanya terdiri dari satu bagian. Seiya... Shun... Shiryu... Hyoga...
Tidak mungkin...
Mataku mencari nama yang lain, dua lebih tepatnya. Dan aku menemukannya, satu nama yang ditulis dengan katakana, "Sophitia Nephilim Eremiah".
Tingkat keterkejutanku tampaknya tidak bisa melebihi ini.
Tanpa sadar, kakiku melangkah mundur. Sampai seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan menemukan Seiya-kun tersenyum padaku, di belakangnya terdapat Sophie-chan dan kawan-kawannya yang lain. Semuanya mengenakan seragam Mitsuishi Gakuen.
"Mohon bantuannya, Mitsuki!" ucapnya dengan senyuman ceria.
Tapi untuk kali ini, aku tidak bisa membalas senyumannya itu...
「つづく。。。」
?: Kali ini jadi lebih fokus ke OC-mu
Wina: Iya, aku tahu.
?: Ada pembaca yang tidak suka begitu, pastikan karakter asli dari Saint Seiya tetap mendapat spotlight
Wina: Baik... Sekedar pemberitahuan, ceritanya akan mulai lebih fokus ke Mitsuki di chapter-chapter berikutnya...
Seiya, Shun: Ayo balas review
#Gianti-Faith
Wina: Semoga Sophie tidak terlalu OOC di sini
Mitsu: Ah, Atlanta-san mau gentayangin? *Udah terbiasa didatengin roh-roh gentayangan*
Seiya: Kanon doang yang dibahas? Kita yang capek2 bertarung nggak?
Shun: Ah, eh, maaf Sophie... Tapi dia yang menyerangku, apa yang harus kulakukan? Apakah aku salah karena melawan?
Mitsu: Terima kasih review-nya ^^
#Shimmer Caca
Wina: Ya, kekuatan cahaya memang bisa membantu... Tapi mereka tidak muncul di arc ini #PLAK
Seiya, Shun: 'Padahal pertempuran kita akan lebih mudah kalau dimunculin...'
Mitsu: Ahaha... 'Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan...'
Camus: *Muncul lagi* Selain Major dan Minor, Minor Arcana dibagi lagi menjadi Wands, Cups, Swords, dan Pentacles. Masing-masing Minor terdiri dar-
Seiya: Cukup! Pokoknya sama kayak kartu Tarot kan? Liat aja Major dan Minor Arcana di G**gle atau W*k*!
Shun, Mitsu: *Sweatdrop*
#albaficaaiko
Wina: Cukup memuaskan detail-detailnya? Syukurlah~ Semoga chapter ini juga~
Shun: Om Arnold jadi langganan review ya? (ALL: Jangan panggil om, oy)
Seiya: Yang lain dong! Kayak Captain Amreica atau Thor gitu XD
Mitsu: Memangnya kita diperbolehkan membicarakan hal-hal seperti ini disini?
Wina: Hmm.. Sebenarnya aku juga berharap bisa masukin Saga juga, tapi-
ALL: Tapi semuanya berubah ketika Negara Api menyerang.
Wina: Ehem, salah fandom, ehem.
#Vhiee
Wina: Terima kasih ^^
Seiya: Sayangnya Author ini update-nya lama setengah mati. Awas kehilangan readers loh...
Wina: ...Kamu tahu gak berapa banyak tugas-
ALL: Stop, jangan curhat di sini.
Sekian~
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~
Oh, dan satu pemberitahuan terakhir~ Teru akan muncul di Chapter berikutnya~!
