JENG JENG Update~
Sayangnya, ini bukan Chapter selanjutnya... Cuma OMAKE―cerita sampingan, ahaha... (Readers: *Gebukin Author rame-rame* Udah update lama banget! OMAKE doang!)
Ma-Maafkan saya... Apa saya sendiri yang masih bergelut dengan UAS?
?: Jangan curhat.
Oh ya, Teru tidak muncul di OMAKE ini. Dia akan muncul di cerita utama selanjutnya nanti~ Happy Reading~
(DISCLAIMER: Saint Seiya milik Masami Kurumada-sensei)
「Saya menyerahkan kepadamu untuk menjaga Mitsuki. 」
Kata-kata tersebut mengandung makna lebih dari itu.
Segala tindakan Akumu didasari oleh keinginan balas dendam Medusa kepada para manusia dan Dewa-Dewi―secara khusus kepada Athena. Karena itu, tidaklah aneh jika mereka menyerang orang-orang terdekat Saori. Dan kini, karena Mitsuki sudah menjadi sahabatnya, tentu saja namanya adalah nama paling atas dari daftar orang-orang yang akan dibunuh oleh Akumu.
「Kumohon, Kanon... Lindungilah dia dari segala bahaya yang mengancam...」
Permintaan itu datang lebih dari satu orang.
OMAKE
-On The Way Home-
.
.
Mitsuki dan Kanon berjalan bersama, dengan Mitsuki berjalan di depan dan Kanon yang sibuk mengawasi sekeliling mereka, memastikan tidak ada musuh. Kanon begitu fokus dengan hal itu sampai dia tidak menyadari bahwa Mitsuki tiba-tiba berhenti, tanpa sengaja, Kanon menabraknya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya sang Gemini.
Mitsuki berpaling kepada penjaganya. "Sudah dekat," katanya, "hanya perlu berbelok dan kita sudah sampai di rumahku."
"Oh..."
Keduanya kembali terdiam.
"Uhm, karena sudah dekat, aku tidak keberatan kalau Kanon-san kembali ke Mansion Kido sekarang." Tanpa Mitsuki sadari, ia kembali memanggil Kanon "Kanon-san", bukan "Kanon-kun".
"Tidak bisa. Aku mendapat perintah jelas untuk menjagamu sampai kamu tiba di rumahmu." Kanon bicara dengan nada yang menyatakan kalau itu adalah tanggung jawabnya, bukan berdasarkan perasaannya sendiri.
Mitsuki mengerutkan dahi. "B-Baiklah..."
Keduanya kembali berjalan sebentar, hingga mereka sampai di depan sebuah gerbang besi tinggi yang berwarna hitam.
"Sudah sampai."
Kanon menoleh ke samping dan matanya seketika terbelalak, tanpa dia sadari mulutnya menganga terbuka.
Kediaman Kamishiro adalah rumah bergaya tradisional Jepang. Rumahnya hanya memiliki satu lantai saja. Tetapi, ketiadaan tingkatan itu ditutupi oleh keluasannya yang menyaingi luas Mansion Kido. Sekeliling rumah dipagari oleh tembok tinggi, tetapi dari sela-sela gerbang, Kanon dapat melihat taman yang dihiasi sebuah kolam yang berada di sisi sebatang pohon sakura yang mulai bermekaran.
Mitsuki bisa melihat ekspresi terkejut Kanon yang terpampang jelas di wajahnya. Ini reaksi yang selalu didapatkannya ketika pertama kali membawa seseorang ke rumahnya, tetapi sang gadis masih belum juga terbiasa.
"Kanon-san...?" panggilnya dengan senyum yang dipaksakan.
Kanon tersadar dari lamunannya. Dia menatap Mitsuki dan berusaha bersikap seperti biasa―memasang wajah datar.
"...Terima kasih sudah mengantarkan dengan selamat sampai ke rumah," katanya sembari membungkuk dalam-dalam.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan perintah." Kata-kata yang diucapkannya tidak membuka ruang untuk percakapan lebih lanjut.
Sang Gemini sadar, belakangan ini dia lebih ekspresif dari biasanya. Karena itu, sekarang dia berusaha untuk tidak terlalu menonjolkan perasaannya, terutama dengan Mitsuki. Sang gadis sudah menjadi target nomor satu Akumu, jika mereka menjadi lebih akrab lagi... Nyawanya akan dalam bahaya yang lebih besar dari sekarang. Tapi di sisi lain, Kanon juga tahu kalau sang gadis ingin mengakrabkan diri dengannya dan ini adalah salah satu usahanya untuk itu.
Kanon mendesah sejenak, lalu berdeham. "Sebenarnya aku penasaran―" katanya.
Mendengar suara Kanon, sang gadis mengangkat bola mata biru safir-nya dan mengarahkannya kepada sang Gemini.
"―Kenapa kamu yang menemani kakekmu? Bukankah, yang biasanya bertugas menemani adalah putra laki-laki?"
Saat itu, ekspresi Mitsuki berubah miris. "Yah, mau bagaimana lagi... Ayahku menghilang ketika aku berusia 8 tahun."
Kanon cukup terkejut dengan jawaban itu. "Maafkan aku. Aku tidak tahu―"
"Kanon-kun tidak perlu minta maaf. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa diubah. Dan aku tidak ingin kenyataan itu menjadi cerita yang mengundang belas kasihan orang-orang."
Tapi tetap saja...
.
.
"...Aku punya saudara kembar." Kanon kembali berbicara. "Kami tidak bisa dibilang akrab, malahan, lebih cocok mengatakan kalau kami membenci satu sama lain. Tapi sekarang, aku menyesali hal itu. Sekarang, aku akan melakukan apa saja agar hubungan kami bisa kembali menjadi keluarga..."
"Tapi," lanjutnya, "aku juga sadar sekarang... bahwa bukan hubungan darah yang menentukan apa itu keluarga. Keluarga tidak terbatas kepada mereka yang memiliki hubungan darah denganmu. Sahabat-sahabatmu, rekanmu, bahkan orang yang baru kamu kenal... Orang-orang yang berbagi perasaan yang sama denganmu, orang-orang yang berharga bagimu, yang kau berusaha lindungi―itulah keluarga."
Mitsuki terpesona oleh ucapan Kanon. "Kata-kata yang bijak..." pujinya. "Apakah itu usaha Kanon-kun untuk menghiburku?" tanyanya sembari memiringkan kepala dan tersenyum.
Secara refleks Kanon menahan napas. Dia lebih memilih diam daripada berbicara lebih lanjut.
"Terima kasih."
Mitsuki membuka pintu gerbang dan berjalan masuk. Langkahnya terhenti ketika ia mencapai pintu depan rumahnya. Sang gadis berbalik sekali lagi dan tersenyum kepada laki-laki yang telah menjaganya.
"Ngomong-ngomong, aku juga mempunyai seorang kakak laki-laki. Sayangnya, ia sekarang ada di London, mengikuti program exchange student... Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengannya..."
Setelah mengatakan itu Mitsuki berterima kasih sekali lagi kepada Kanon, lalu menggeser pintunya terbuka dan masuk ke dalam.
Setelah Mitsuki masuk, Kanon berbalik dan mulai berjalan kembali ke Mansion Kido. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, tapi dia berusaha menyingkirkannya.
.
.
.
Kanon hanya terganggu dengan perasaan bahwa kata-kata terakhir sang gadis terdengar seperti sesuatu yang sudah dilatih sebelumnya...
「Omake - 完s」
?: Pendek.
Wina: Memang pendek.
?: *Mulai nguliahin Wina*
Wina: Kamu udah kayak guru aja ya, kupanggil "Nazo-sensei" gimana? *sarkastik*
?: ...boleh juga
Wina: S-Serius? *Sweatdrop*
Balas review yuk~ *Narik Mitsu*
#Shimmer Caca
Wina: Ma-Maaf penjelasannya gak jelas...
Mitsu: S? Huruf S? Es batu? Es teh? Es krim? S-
ALL: CUKUP NAK
Wina: Ahaha, ya... "Normal" Mitsuishi Gakuen sekolah yang normal
Mitsu: *Ehem* Terima kasih reviewnya ^^
#Neo TsukiRin Matsushima29
Wina: Oh? Tertarik dengan Pure Eyes? Ada satu lagi sih, Mystic Eyes
Mitsu: Untuk Mystic Eyes, kekuatannya itu bukan cuma "Melihat" tapi bisa bermacam-macam
Wina: Err, bingung dimananya? Manusia itu? Yah, intinya ada gadis manusia yang dia sukai dan dia akan membunuh Medusa sampai tidak tersisa apa pun darinya kalau dia berani melukai gadis itu *Watados*
Mitsu: S-Seram juga...
#Gianti-Faith
Mitsu: Aku juga senang bisa sekolah dengan Sophie-chan~ *Senyum*
Wina: ? Siapa itu? OC baru? *Kepo Mode ON*
Mitsu: Sudahlah, kalau kita memang akan tahu, kita akan tahu pada saatnya nanti
Wina: Aku tahu kok. Ah, Teru munculnya... CHAPTER berikutnya, tapi kalau ternyata update selanjutnya OMAKE juga-
ALL: Dasar Author PHP
#Guest
Wina: Terima kasih sudah membaca *Senyum* Saya ikut senang~
Mitsu: Aku tidak merasa Kanon-kun suka padaku... Dari sikapnya malah terlihat sebaliknya...
Wina: 'Udah tertulis di Characters cerita ini Pairingnya siapa, kan?'
Mitsu: Uhm, j-jati diriku yang sebenarnya...?
#albaficaaiko
Wina: Serang adalah ibukota Banten #PLAK #Beda
Mitsu: A-Aku dan Kanon-kun...? *Nahan blush*
Wina: Camus itu KAMUS BERJALAN XD
Mitsu: Ngomong-ngomong Om Arnold kemana? Lagi syuting? *Watados*
Wina: Makasih udah review Aiko-san~
#Ketrin'Shirouki
Wina: Yay~! Omedetou~ We missed you~
Mitsu: Bukan. Bukan aku. (Memang bukan Mitsuki, tapi OC lain yang kemungkinan besar gak bakal dimunculin(?))
Wina: Ah, Henna gak OOC keterlaluan kan? *Takut-takut*
Mitsu: H-Henna-chan? Dimana? *Kangen mode*
Wina: Arigatou~ Chapter selanjutnya ada Teru loh XD *Gk peduli*
Sekian~
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Maaf juga Teru tidak jadi muncul, tapi setidaknya ada dibahas...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~
