Saya bangkit dari kubur ('-')/

Saya cuma bisa bilang maaf karena berbulan-bulan tidak update... Ada sedikit masalah dengan... "Writer Block". Dalam kasus ini, idenya ada tapi kehilangan motivasi untuk melanjutkannya. Yah, tapi intinya sekarang motivasi itu sudah kembali~

Dan sebagai permintaan maaf, update kali ini tidak satu, tidak dua, tapi TIGA cerita XD (Walau dua cerita lainnya OMAKE doang sih)

Happy Reading~

(DISCLAIMER: Saint Seiya milik Masami Kurumada-sensei)


Di ruang perpustakaan Mansion Kido, Saori sedang duduk dan membaca sebuah buku, sementara Kanon berdiri tak jauh darinya.

"Athena, apa benar tidak apa-apa?" tanyanya untuk kesekian kalinya. "Mengirimkan para Bronze Saint ke Mitsuishi Gakuen di saat seperti ini?"

"Apa yang engkau khawatirkan, Kanon?" balas Saori tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Bagaimana kalau ada Akumu yang menyerang Anda?"

Akhirnya sang Dewi mengangkat wajahnya dan menatap Kanon. "Kanon, tolong jangan lupa kalau saya memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk melindungi diri saya sendiri. Dan, kalau pun kemungkinan terburuk terjadi... Akan ada seorang Gold Saint yang melindungi saya, bukankah begitu?" jelasnya.

Kanon merasakan kebanggaan tersendiri mendengar pujian tak langsung itu.

"Lagipula," tambahnya lagi, "dengan berada di sekolah itu... Bukankah akan lebih mudah bagi mereka untuk menolong orang-orang?"

"Maksud Anda, Anda berpikir ada kemungkinan para Akumu akan menyerang orang-orang tak bersalah?"

"Bukan kemungkinan. Saya tahu Akumu akan menyerang... Hanya saja, mungkin bukan sekarang dan tidak secara terang-terangan."

"Kenapa tidak?"

"Karena terlalu beresiko. Bisa-bisa itu menarik perhatian mereka..."

"Maaf... Mereka?"

Sebuah senyuman menghiasi wajah sang Athena. "Jadi, kamu tidak tahu ya, Kanon...?" ucapnya sembari bangkit dari kursinya.

Saori berjalan mendekati salah satu rak buku di perpustakaan itu.

"Bukan hanya kita yang berusaha melindungi umat manusia, dari kekuatan yang tidak bisa dipahaminya."

Sambil mengatakan itu, Saori meletakkan buku「Legenda Raja Arthur」yang dibacanya kembali ke rak tersebut.


Unmasked
-The Warrior from That Dream-

.

.

Di kastil yang menjadi markas para Akumu, seorang pemuda dengan jubah hitam berjalan menyusuri lorong. Tudung jubahnya menutupi wajahnya sehingga ekspresinya tidak bisa dibaca. Tak lama, ia mencapai sebuah pintu. Dengan perlahan, dirinya mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.

Ruangan itu ternyata adalah sebuah kamar berbentuk persegi, dengan sepasang jendela besar yang memperlihatkan langit merah di luar sana. Kamar itu penuh dengan kertas dan kanvas, semuanya berisi gambar seorang gadis yang sama.

Sang pemuda sudah terbiasa dengan pemandangan ini, tetapi bukan berarti ia menyukainya. Dari lukisan-lukisan itu, pandangannya beralih kepada seorang pemuda yang sedang duduk di ranjang, sibuk menggambar. Pemuda itu memiliki rambut ungu yang begitu gelap, sehingga tampak berwarna hitam jika dilihat sekilas. Kepalanya tertunduk ke arah buku gambar di tangannya, tangannya sibuk mencoret-coret buku itu, membentuk lukisan gadis itu lagi. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan sang pemuda berjubah hitam.

"Lagi-lagi kau tidak menghadiri rapat strategi, ya―" katanya kepada si pelukis. "―Murasaki...?"

Tangan Murasaki berhenti bergerak. Dia mengangkat wajahnya, matanya yang bagaikan amethyst terarah pada lawan bicaranya.

"Oh, Shino," sapanya. "Ya, aku sedang sibuk." Murasaki menjawab tanpa perasaan bersalah.

"Menggambar dia lagi...?" Shino mendesah pelan.

Sebuah senyuman cerah tersungging di wajah Murasaki. "Waktu itu, ketika bertarung di Mansion Kido... Dia ada di sana, kita begitu dekat... Akhirnya, sedikit lagi aku bisa bertemu dengannya lagi. Bagaimana aku tidak antusias?"

"Aku senang kamu merasa begitu. Tapi kamu harus mengingat posisimu," katanya dengan nada tajam. "Doppelganger Murasaki, kau adalah anggota Dewan Sepuluh Komandan."

Senyumannya menghilang. "Sudah kuduga, kamu tidak mungkin datang hanya untuk mengobrol. Jadi, apa yang wanita ular itu mau dariku sekarang?"

"Medusa memanggilmu. Nampaknya ia punya sebuah pekerjaan untukmu."

.

.

.

.

.

Mitsuki berbaring telentang di tengah kamarnya, menatap ke atas langit-langit. Sang gadis melepaskan sebuah desahan panjang seiring dirinya memutar kembali kejadian yang terjadi selama seminggu terakhir.

.

.

Hari itu adalah hari pertama dari tahun ajaran baru di Mitsuishi Gakuen. Semua orang sibuk mengenal teman-teman baru mereka, bercengkrama, dan membagi cerita semasa liburan mereka.

Kelas 8-A terdiri dari 5 baris dan masing-masing baris terdiri dari 6 meja dan kursi. Mitsuki duduk di barisan paling depan, tepat di samping jendela yang menghadap ke lapangan depan sekolah. Sekarang ia memutar badan menghadap ke belakang, mengamati barisan belakang yang kini dipenuhi oleh murid-murid perempuan dan laki-laki yang mengerumuni sekelompok pemuda, para Bronze Saint.

Seiya dan kawan-kawan duduk pada dua baris terakhir di kelas. Dan kini mereka sedang berusaha meladeni pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka.

"Sebelumnya kalian sekolah di mana?"

"Kudengar kalian kenal dengan Kido Saori? Dia orang yang seperti apa?"

"Kenapa kalian pindah ke Mitsuishi Gakuen?"

Mitsuki melepaskan desahan panjang.

Seseorang tertawa kecil dan mendekatinya. "Sepertinya Mitsu-chan tidak suka sekelas dengan kami, ya?"

Mitsuki menoleh. "Bukan begitu, Sophie-chan..." balasnya.

Sophie menduduki kursi di hadapannya dan menopang dagu, menunggu jawaban sahabatnya.

"Aku hanya merasa― Entahlah, aku sendiri tidak mengerti perasaanku."

Senyuman Sophie hilang seketika. "...maaf."

"Ti-Tidak! Sophie-chan tidak perlu minta maaf," balas Mitsuki dengan segera. "Aku juga, sebenarnya senang bisa sekolah dengan Sophie-chan."

Sophie terdiam sejenak. Mitsuki tersenyum cerah untuk meyakinkan Sophie bahwa kata-katanya itu tulus dari hatinya. Akhirnya, Sophie memilih untuk percaya dan kembali tersenyum.

"Tapi, sayang sekali kita tidak bisa sekelas dengan Henna-chan." Sophie mendesah kecewa.

Mitsuki mengangguk. "Aku terkejut ketika melihatnya mengenakan seragam SMA Mitsuishi Gakuen."

"Ya, ya. Aku juga malu karena Henna-chan sebenarnya lebih muda setahun dari kita."

Mitsuki hanya tertawa.

"Apa Henna-chan akan baik-baik saja? Ah, tapi Ikki-san ada bersamanya. Ia pasti akan baik-baik saja." Sophie menjawab pertanyaannya sendiri. "Hmm, sekarang aku jadi khawatir apa Ikki-san bisa memahami pelajaran anak SMA... Yah, Henna-chan ada bersamanya, jadi pasti bisa. Henna-chan terlalu jenius."

"Sophie-chan, perkataanmu berputar-putar..."

Mitsuki melirik para Bronze Saint dari ujung matanya.

"Apakah kalian sudah menentukan akan ikut klub apa?" tanya salah seorang murid.

"Maaf, tapi kami terlalu sibuk sepulang sekolah untuk kegiatan-kegiatan seperti itu," jawab Seiya.

"Eehh, begitu ya? Sayang sekali..."

"Klub, ya?" Suara Sophie kembali mengalihkan perhatiannya. "Aku tidak bisa ikut klub yang berhubungan dengan olahraga... Apa mungkin aku masuk Klub Musik saja?" gumamnya. "Bagaimana denganmu, Mitsu-chan?"

"Aku? Aku sudah menentukannya. Aku akan ikut Klub Memanah."

.

.

.

Mitsuki membuka matanya, tetapi bukanlah cahaya lampu kamarnya yang menyambutnya. Dia tidak melihat apa-apa. Yang ada hanyalah kegelapan kosong. Sang gadis menatap ke bawah, melihat air yang menjadi tempat pijakannya.

"Jadi, aku kembali ke sini..." gumam sang gadis sembari mengamati pantulannya di permukaan air yang terlihat hitam.

Rambut cream panjangnya dan mata biru safir-nya kehilangan warna mereka di dalam lautan gelap tersebut.

Mitsuki mengangkat kembali kepalanya dan menatap jauh ke kegelapan yang seolah tak berujung.

Ya, dia pernah ke tempat ini. Bahkan sudah cukup lama, hampir setiap kali dirinya tertidur, ia akan terbangun di tempat ini.

Kosong...

Gelap...

Sunyi...

Kombinasi yang cukup untuk membuat bulu kuduk merinding. Dia pikir dirinya sudah terbiasa dengan semua itu, setelah sekian kali berada di tempat ini. Semua itu, kecuali...

Sebuah riak muncul di permukaan air, dibarengi dengan suara mengerang yang kian lama kian jelas.

Dengan enggan, Mitsuki menoleh ke belakang.

Dia tidak takut dengan hantu, karena Pure Eyes miliknya, ia sudah dapat memberanikan diri untuk berhadapan dengan makhluk-makhluk seperti itu. Tapi makhluk seperti ini... berapa kalipun bertemu, kehadiran mereka selalu berhasil menguras darah dari wajahnya.

Selangkah, dua langkah, Mitsuki berlari dengan segala kemampuannya. Tetapi, secepat apa pun langkahnya, ia selalu dapat mendengar erangan tersebut tepat di belakang telinganya. Ia berusaha mengabaikannya dan hanya fokus berlari. Jauh di depan matanya, sang gadis dapat melihat setitik cahaya.

Kemudian, tepat ketika ia melihat cahaya itu, dirinya terjatuh. Bukan terjatuh karena terpeleset atau tersandung, tetapi karena ditarik.

Mitsuki berbalik dan menemukan sepasang tangan hitam sedang menggenggam kakinya.

Para makhluk kegelapan merangkak keluar dari bayangan. Wujud mereka pasti mengingatkan seseorang pada roh-roh gentayangan yang terperangkap di tepi sungai Acheron, tidak bisa menyeberang maupun kembali ke Dunia Atas. Hanya saja, tubuh mereka berwarna hitam pekat. Kulit mereka nampak seolah meleleh dan dapat lepas kapan saja. Mereka menumpuki satu sama lain, berlomba untuk mencapai sang gadis.

Tangan-tangan hitam lain muncul dari dalam air, kini mengekang tangan sang gadis dan menariknya ke bawah, membuatnya tak bisa bergerak.

Mitsuki meronta berusaha melepaskan diri. Sementara dia berusaha, makhluk-makhluk kegelapan yang mengejarnya telah merangkak mendekatinya.

Wajahnya memucat seiring tangan makhluk itu terulur ke arahnya. Ia memejamkan matanya dan berdoa dengan keras dalam hati. Berdoa akan datang seseorang untuk menolongnya, atau membangunkannya dari mimpi buruk ini.

Saat itulah, ia dapat melihat sesosok kuda putih bersayap di balik kelopak matanya yang terpejam. Sebuah cahaya putih bersinar memilaukan di tengah kegelapan tersebut.

Sang gadis dengan perlahan membuka matanya dan yang ada di hadapannya adalah seorang pemuda mengenakan zirah berwarna putih. Sang pemuda memunggunginya, cahaya putih menari-nari di sekitarnya.

Terdengar erangan kesakitan para makhluk kegelapan yang membenci cahaya. Dengan segera, mereka semua mundur, kembali ke dalam bayangan.

Cahaya putih itu masih bersina, tetapi kini lebih lembut. Perlahan-lahan, sang ksatria menoleh kepada sang gadis, dengan sebuah senyuman di wajahnya.

Lalu Mitsuki terbangun.

Kini cahaya menyilaukan yang ada di hadapannya berasal dari lampu kamarnya.

Ternyata, dirinya terlelap saat tengah mengingat kembali kejadian-kejadian yang terjadi selama satu minggu terakhir ini.

Mitsuki berusaha mengatur napasnya. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Ia mengangkat tangannya ke wajahnya dan menyentuh pelupuk matanya. Tanpa sadar air matanya menetes. Ia pun mengusap matanya dan memaksa tubuhnya bangun.

Tiba-tiba terdengar sebuah gonggongan dari luar kamarnya. Tersenyum kecil, ia membuka pintu geser kamarnya dan melangkahkan kaki ke lorong yang berhubungan dengan kebun rumahnya. Di depannya, ada seekor anjing.

Sang gadis berambut cream tersenyum melihat anjing Akita putih di hadapannya. Ia duduk di ujung lorong dengan kakinya menyentuh rerumputan, dan seketika si anjing mendekatinya dengan ekor yang dikibaskan penuh semangat.

"Hei, Shiro..." Mitsuki menyapa si anjing.

Shiro membalasnya dengan sebuah gonggongan.

Sebuah tawa kecil terselip keluar dari bibir sang gadis. 'Tidak ada gunanya juga aku terlalu memikirkannya...' batinnya.

Tangan Mitsuki meraih Shiro dan dengan lembut mengelus punggung anjing tersebut. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

Dan Shiro sekali lagi menggonggong.

.

.

.

"Memburu seseorang, ya...? Aku tidak mengerti kenapa aku harus menerima tugas seperti ini," keluh Murasaki.

Terdengar tawa dari sampingnya, seorang perempuan tengah memeluk lengannya dengan manja. Perempuan itu adalah Succubus Sonata.

"H-Hei, lepaskan. Kita sedang bekerja, ingat?" Murasaki berusaha melepaskan diri dari genggaman Sonata. Tetapi perempuan itu tidak bergeming.

Walaupun merasa terganggu, Murasaki berusaha untuk mendiamkannya. "Ngomong-ngomong... Apa kamu akan memberitahuku sebenarnya siapa target kita? Padahal Medusa memintaku melakukan ini, tapi tak ada yang mau memberitahuku apa-apa."

"Tenang saja~ Walaupun Murasaki-kun tidak tahu siapa buruan kita, aku tahu. Jadi tidak akan ada masalah sama sekali~"

Perubahan karakter yang mengerikan. Dari seseorang yang dapat membunuh tanpa penyesalan apapun, menjadi seorang gadis manja yang menempel terus pada orang yang disukainya... Lalu kembali menjadi serius.

"Dia datang." Sambil berkata begitu, Sonata menunjuk kerumunan orang yang berjalan di jalan seberang.

Sebenarnya, Murasaki tidak bisa melihat siapa di antara kerumunan orang itu yang menjadi target mereka. Namun, dia mulai berpikir bahwa itu tidak penting. Sang doppelganger mengangkat tangannya, sehingga lengan atasnya sejajar dengan bahunya, sementara tangannya terangkat menunjuk langit. Kemudian, dia berbisik, "Will-o'-the-wisp." Seketika, terbentuk lima bola api biru di sekitar tangannya. Murasaki menurunkan tangannya, mengarahkannya ke tempat yang Sonata tunjuk. Kelima bola api itu langsung melesat ke arah jalan itu.

Sementara itu, Shiro berjalan sembari mengibas-ngibaskan ekornya, sesekali menggonggong dengan riang. Mitsuki tertawa kecil melihat lagak anjing Akita-nya. Memang sudah lama ia tidak mengajak Shiro jalan-jalan.

Namun senyuman itu langsung menghilang. Sang gadis memeluk anjingnya dan melompat ke depan. Tepat saat itu, jalan tempat ia berdiri tadi meledak, melempar debu ke udara.

"A-Apa ini? Ledakan gas!?" Orang-orang di sekitarnya mulai panik.

'Bukan, itu...'

Menyadari sesuatu, ia segera mengangkat tubuhnya. "Shiro, lari." Setelah mengatakan itu, Mitsuki juga berlari secepat yang ia bisa, menjauhi tempat itu.

Di atap gedung seberang, Sonata mendecakkan lidah. "Cih, dia kabur."

Murasaki mengerutkan dahi. 'Siapapun target kita ini, ia berhasil menghindar dari serangan mendadak Will-o'-the-wisp. Sebenarnya siapa dia...?'

"Kita harus mengejarnya," usul Sonata.

"Tidak perlu. Walaupun kita kehilangan satu Will-o'-the-wisp, masih tersisa empat lainnya. Jika dia bisa mengalahkan mereka..." Murasaki terkekeh. "Berarti dia bukan orang biasa." Sang pemuda memberikan tatapan penuh arti kepada succubus di sampingnya.

Sonata tak senang dengan implikasi kata-kata Murasaki. Ia mengepakkan sayap kelelawarnya dan terbang pergi.

Rekannya yang ditinggalkan hanya bisa mendesah. "Memangnya dia tahu targetnya ada di mana?" ucapnya dengan nada sarkastik biasanya.

Mitsuki berlari menembus kerumunan orang. Ketika ia melihat ke belakang, ia bisa melihat cahaya biru yang mengejarnya. 'Aku harus menjauhkan mereka dari orang-orang.' Itulah insting pertamanya. Sang gadis berbelok ke sebuah gang sempit. Tak lama, terdengar bunyi ledakan di belakangnya, ia kembali menengok ke belakang. Tepat saat itu, sebuah bola cahaya melesat ke arahnya. Sang gadis langsung tiarap ke bawah, membiarkan bola api itu menabrak dinding gang, lalu kembali berlari ke arah lain.

Dengan setiap langkahnya, dia berusaha memikirkan tempat dimana tak ada banyak orang. Saat itu, ia kembali mendengar gonggongan Shiro. Sang anjing sedaritadi dengan setia berlari di dekatnya. Melihatnya, sebuah tempat langsung muncul di otaknya. Saat itu hari masih siang, matahari berada tepat di atas kepala. Pada waktu seperti ini, tak banyak orang yang datang ke taman.

Setelah mengetahui tempat tujuannya, langkah sang gadis semakin mantap.

Berbeda dengan Mitsuki yang berlari sekuat tenaga, Murasaki berjalan santai di antara kerumunan orang. Ia memiliki ikatan batin dengan Will-o'-the-wisp yang digunakannya, jadi ia tahu di mana mereka berada. Dan dia juga tahu bahwa dua dari lima Will-o'-the-wisp yang dipanggilnya telah lenyap. Langkahnya terhenti begitu ia mengetahui itu.

'Satu lagi hilang. Sebenarnya siapa target kita?'

"Akhirnya aku menemukanmu!"

Perhatiannya teralihkan oleh seruan seorang gadis. Tak jauh darinya, ia melihat sepasang kekasih yang terlihat bahagia karena telah menemukan satu sama lain di antara kerumunan itu. Sebuah senyum kecil terulas di wajahnya.

Satu-satunya alasan ia menerima tugas ini adalah karena ia bisa keluar ke Dunia Manusia. Dengan begitu, dia bisa mencari orang itu. Sang pemuda tidak peduli dengan perburuan ini, lebih-lebih dendam Medusa. Satu-satunya alasan sang doppelganger bermata amethyst ini mengikuti sang Gorgon adalah―

Murasaki tertawa pada dirinya sendiri, kemudian melanjutkan perjalanannya.

Ketika sampai di taman, Mitsuki langsung memisahkan diri dengan Shiro. Ia tidak mau membuat anjingnya itu terlibat―dan juga terluka― Kini mata biru safir-nya menatap tajam tiga bola api biru di hadapannya. Tak satu pun dari mereka bergerak. Sang gadis berusaha mengatur napasnya. Lalu, begitu ia melangkahkan kakinya ke depan, salah satu dari ketiganya langsung melesat tajam ke depan.

Tentu saja, ia berhasil menghindarinya. Bola api itu menabrak tanah dan lenyap. Kedua yang lainnya kembali bergerak mengejarnya. Tetapi di tempat ini, dirinya lebih leluasa bergerak. Tak ada orang ataupun bangunan yang menghalangi ruang geraknya.

"Three down, two to go..." gumamnya kepada diri sendiri.

Satu Will-o'-the-wisp kembali melesat ke arahnya. Dia kembali menghindar, dan bola biru tersebut menghantam lampu taman di belakangnya. Alih-alih terbakar, lampu tersebut langsung bengkok pada tempat Will-o'-the-wisp telah menabraknya.

Melihat ini, sang gadis membuat hipotesa bahwa satu-satunya yang akan terbakar bila menyentuh api biru itu adalah dirinya―buruan mereka.

Ujung matanya melirik pepohonan di sisinya. Sekarang ia tak perlu takut akan pohon-pohon yang mungkin terbakar, jadi... Dia pun masuk ke dalam lautan pohon tersebut.

Doppelganger Murasaki sekarang berada di gang tempat Will-o'-the-wisp kedua menghilang. Ada banyak orang berkerumun juga di sana, sementara polisi yang menyelidiki "insiden ledakan gas" yang terjadi di gang tersebut barusan. Secara mendadak, ia meletakkan tangannya ke kepalanya. Will-o'-the-wisp kelima sudah lenyap.

Intuisinya langsung menyerang. Siapapun yang mereka buru bukanlah manusia biasa. Seharusnya dia bisa menebaknya. Tak mungkin Medusa memerintahkan dua komandannya untuk mengejar seorang manusia biasa. Ia memejamkan matanya, berusaha menentukan lokasi terakhir para Will-o'-the-wisp. Setelah menemukannya, tidak lagi berjalan, ia berlari menuju taman.

Di taman yang tengah dituju Murasaki, Mitsuki berjalan keluar dari pepohonan yang dimasukinya barusan. Will-o'-the-wisp yang terakhir telah meledak setelah menumbangkan sebuah pohon. Akhirnya, ia bisa beristirahat. Setelah ini ia harus mencari Shiro, setidaknya itu yang dia pikirkan.

"Hee... Kamu berhasil mengalahkan lima Will-o'-the-wisp, boleh juga." Sebuah suara dingin bicara padanya.

Perlahan Mitsuki mendongak. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang wanita muda berkulit pucat. Paras wajahnya bisa dibilang cantik, namun matanya tajam menatapnya. Wanita tersebut mengenakan pakaian ketat dari kulit berwarna hitam, seolah untuk memamerkan bentuk tubuhnya. Begitu melihatnya, Mitsuki langsung tahu kalau dia tak mungkin bisa bersahabat dengannya... dan bahwa ia bukan manusia. Dengan Pure Eyes yang dia miliki, walaupun saat itu bukan malam bulan purnama, ia bisa melihat sosok sebenarnya para makhluk supernatural yang memiliki kekuatan besar. Ia bisa melihat sayap kelelawar sang Succubus, ekor, serta kukunya yang panjang dan tajam.

"Anda apa? Nampaknya Anda bukan manusia."

Sonata melepaskan tawa yang membuat tulang menggigil. "Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu..."

Mitsuki mengencangkan kepalannya. Ekspresinya berubah keras dan matanya tak melepaskan diri dari wanita di hadapannya. "Apa kau yang mengirimkan Will-o'-the-wisp itu?" Dirinya sudah tidak memperdulikan kesopanan lagi.

"Bukan. Tapi memang akulah yang ditugaskan untuk memburumu." Sonata menjilat bibirnya.

Sang gadis berusaha agar keterkejutannya tak nampak pada wajahnya. Ia memposisikan diri pada kuda-kuda siaga. Kini sudah jelas sekali, wanita yang di depannya adalah musuh. Musuh yang kapan saja akan menyerangnya. Hanya satu hal yang tak dia mengerti, Kenapa ada yang mau memburunya? Ada beberapa kemungkinan yang muncul.

Keduanya diam... tak ada yang berniat melakukan serangan pertama. Rasanya mencekam, begitu sunyi senyap. Terlalu sunyi... Hari sudah mulai sore, seharusnya saat ini taman tersebut mulai penuh dengan orang. Tapi tak ada suara seorang manusia maupun hewan yang terdengar.

'Aneh.'

Sepertinya sang Succubus bisa menebak apa yang Mitsuki pikirkan. Ia kembali tersenyum. "Tentu saja tak ada seorang pun di sini... Aku sudah mengatasinya agar tak ada orang yang mengganggu."

"Kau, apa yang kau lakukan...?"

Tak ada jawaban, hanya sebuah tawa yang mengejek.

Tak memperdulikan Sonata, Mitsuki berlari melaluinya dan menuju pusat taman. Di sanalah ia menemukannya. Tubuhnya membeku melihat penampakan di hadapannya. Puluhan orang dan peliharaan mereka, semuanya terbaring di tanah. Ia mendekati salah seorang dari mereka dan memeriksa denyut nadi serta napasnya.

"Mereka masih hidup, hanya terlelap," jelas Sonata yang sudah berada tak jauh di belakangnya. "Tapi sayang juga, tak ada pria yang menarik perhatianku di antara manusia-manusia ini."

Mitsuki terdiam.

"Wanita... Sayap kelelawar... Kemampuan mengendalikan mimpi dan membuat orang jatuh tidur... Mencari seorang pria..." Sang gadis melemparkan tatapan tajam kepadanya. "Kau seorang Succubus."

"Hmm... Akhirnya kau menyadarinya."

Sonata melepaskan samaran manusia-nya, memperlihatkan sayap, ekor, dan kuku yang telah sang gadis lihat. Ketika dirinya menunjukkan sosok sebenarnya, angin di sekitarnya berhembus liar, udara dan atmosfer rasanya membeku.

Mitsuki membaringkan kembali orang tadi dan berdiri di depan kumpulan orang yang ditidurkan sang Succubus.

"Apa kamu bermaksud melindungi mereka?"

Jawaban Mitsuki berupa sebuah tatapan tajam.

Kalau begitu...

Sonata melambaikan tangannya dan seketika, Cosmo-nya membentuk cambuk dari angin. Hembusannya begitu kencang menerpa Mitsuki, menyayat bajunya di sana-sini.

"Bodohnya..."

"Aku tidak akan beranjak dari tempat ini― Aku tidak boleh! Melindungi orang-orang ini adalah kewajibanku!"

"Kalau begitu matilah, Shrine Maiden!"

Lilim's Claw!

Cambuk angin itu lebih tepat disebut cakar sekarang. Kini, bukan hanya bajunya yang tergores, tubuh dan wajahnya juga tersayat oleh angin Sonata. Sebuah luka gores yang memanjang terbentuk di pipi kirinya, setetes darah mengalir dari luka tersebut.

"Sedikit angin tak akan mengalahkanku," komentar Mitsuki.

Sonata terdiam sejenak. Lalu tawanya meledak, seolah seseorang telah membisikkan lelucon kepadanya.

"Kau tidak benar-benar berpikir aku menyerangmu dengan angin biasa, kan?"

Mitsuki langsung mengerti maksud perkataannya ketika dirinya kehilangan rasa dari seluruh tubuhnya. "...angin beracun..." gumam sang gadis seiring tubuhnya jatuh ke tanah.

Sonata mendekati tubuh gadis yang terbaring dan mengangkat dagunya. "Tenanglah sedikit. Racun ini fungsinya melumpuhkan, bukan membunuh..." jelasnya.

"Nah, sekarang..." Sang Succubus menatap mata biru safir sang gadis. "...aku akan menggali mimpi terburukmu."

Niatannya terhenti ketika seekor anjing putih menerjang ke arahnya. Karena kaget, sang wanita kelelawar segera mundur menjauhi Mitsuki.

"Hmpfh. Selamat, ksatria pelindungmu adalah seekor anjing." Nada sarkastik terdengar jelas dalam perkataannya.

Shiro kembali menggeram, bertekad melindungi majikannya. Sonata melangkahkan kaki ke depan. Di saat yang sama, Shiro langsung menggonggong keras.

"Tak bisakah anjingmu itu diam?" Perkataannya diabaikan oleh keduanya. "Karena inilah aku benci binatang."

Semakin Sonata mendekat, gonggongan Shiro semakin kencang. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menerjang Sonata dan menggigitnya. Sonata langsung mengumpat. Ia melempar Shiro ke tanah dan menendang perutnya. Ia menendangnya sekali lagi sehingga Shiro kembali berada di depan Mitsuki yang masih lumpuh.

Sang Succubus kembali mengangkat tangannya dan bersiap untuk menyerang keduanya.

"Matilah bersama anjing sialanmu itu!"

Cambuk angin yang mendekatinya dengan kecepatan tinggi terpantul di bola mata Mitsuki, bersama dengan sosok anjingnya yang terbaring tak berdaya. Sebuah teriakan nyaring keluar dari mulut sang gadis. Ada sesuatu yang meluap dari dalam dirinya. Dan untuk pertama kali sepanjang ingatannya, Kamishiro Mitsuki membakar Cosmo-nya.

Cahaya keperakan meluap-luap di sekitar tubuh gadis tersebut. Cosmo-nya membelokkan serangan Sonata, angin tersebut berubah arah dan kini menuju dirinya sendiri. Keterkejutan menyerang Sonata secara beruntun―Terkejut akan ledakan Cosmo buruannya yang mendadak, dan terkejut karena angin ributnya kini tertuju padanya. Sang wanita kelelawar melompat tinggi ke udara untuk menghindari serangannya sendiri.

Dengan Cosmo yang masih mengalir, Mitsuki memaksa tubuhnya bangun. Setelah cahaya keperakan itu muncul, tubuhnya mulai terasa ringan kembali. Dengan perlahan, ia mendekati Shiro. Tangannya mengelus surai putih anjing Akita itu, seketika, Cosmo sang gadis ikut menyelimuti anjing itu. Dan begitu cahayanya redup, Shiro langsung berdiri dan mengibas-ngibaskan ekornya kepada sang gadis, kembali ceria seolah luka di perutnya itu tak pernah ada. Bibir sang gadis mengulum menjadi sebuah senyum. Ia tak menyangka dapat tersenyum dalam keadaaan seperti ini.

Namun senyuman itu juga lenyap ketika Shiro kembali menggeram. Mitsuki langsung menoleh ke belakang dan menemukan dirinya dalam cengkraman sang Succubus.

Shiro menggonggong dan menerjang Sonata. Rahangnya terbuka siap menerkam wanita tersebut. Tapi dengan mudah Sonata menangkap moncongnya dengan tangannya yang bebas dan lagi-lagi melemparnya ke samping.

"Perubahan rencana, aku harus membunuhmu sekarang juga." Dia kembali menatap mata Mitsuki. "Tatap mataku..."

Jika dibilang begitu, tentu saja insting pertama seseorang adalah untuk menghindari kontak mata. Tapi, Mitsuki menemukan dirinya tak bisa menghindar. Entah bagaimana, pandangannya terlekat pada mata sang Succubus.

"...dan jatulah ke dalam kegelapan mimpi."

"Nightmare Rhapsody..."

Seketika itu, bagi sang gadis, sekelilingnya seolah berputar dan bergeser, sampai akhirnya berubah total. Kini dirinya berada di sebuah lorong, di hadapannya adalah sebuah pintu. Tangannya meraih kenop pintu dan memutarnya terbuka, sayup-sayup terdengar suara tangisan.

Ruangan di seberang pintunya adalah kamar sederhana berbentuk persegi, tak ada perabot apa pun selain sebuah ranjang besar. Seorang wanita berambut cream panjang bergelombang terbaring di ranjang tersebut. Di satu sisi, dua orang lelaki berdiri menatapnya―seorang pria dan anak lelaki tidak lebih dari 5 tahun―keduanya memiliki rambut coklat bagaikan perunggu. Di sisi lain, seorang gadis kecil membenamkan wajahnya ke dalam tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Tubuh Mitsuki membatu saat itu juga. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak ada satu suara pun yang keluar. Dia mengenal kejadian ini. Bagaimana tidak? Ini adalah saat-saat Ibunya meninggal... Jika begitu, gadis kecil yang sedang menangis tak lain adalah dirinya sendiri. Jika begitu, maka kedua lelaki yang berdiri di sisi lain ranjang tersebut pasti adalah ayah dan kakaknya.

Sonata berhasil. Ia telah menemukan mimpi terburuk Mitsuki, kematian ibunya. Namun yang membuatnya menjadi mimpi buruk Mitsuki bukan hanya kenyataan bahwa ibunya meninggal di depan matanya, tetapi karena hal lain. Hal lain ini berubah menjadi trauma yang menghantui sang gadis sampai sekarang. Kenyataan bahwa, ia melupakannya. Itu adalah saat-saat terakhirnya bersama dengan ibunya, dan dia melupakannya―Wajah ibunya, ekspresi yang ditunjukkan wanita yang mendatangkannya ke Dunia saat dirinya meninggal.

Sambil berpikir apakah dirinya bisa melihat wajah ibunya jika ia mendekat, Mitsuki melangkah ke depan. Ketika berada di hadapan ranjang besar itu, ia mendongak dan berusaha melihat wajah wanita yang terbaring di atasnya. Kelambu membentuk bayangan yang jatuh tepat pada wajah wanita tersebut, sehingga Mitsuki tidak bisa melihatnya dengan jelas pada awalnya. Lalu perlahan-lahan matanya membiasakan diri dan dapat melihat menembus kegelapan bayangan itu, dan terlihatlah...

Ekspresinya berubah pucat dan ia tak bisa menahan teriakannya. Yang terbaring di ranjang itu, bahkan tak bisa lagi disebut dengan mayat seorang manusia. Tubuh itu telah membusuk dan menciptakan perpaduan menjijikan antara daging dan tulang.

Tangan sang gadis menutup mulutnya sebagai usaha untuk meredam teriakannya sendiri. Ia melangkah mundur, dan seolah-olah telah direncanakan sebelumnya, tubuh ayah dan kakaknya terjatuh. Namun, alih-alih daging, tubuh mereka tersusun dari pasir. Tulang belulang mereka begitu rapuh sehingga langsung hancur ketika berbenturan dengan tanah.

'Ini cuma ilusi, ini cuma ilusi.' Mitsuki berusaha memberi sugesti kepada dirinya sendiri, dan otaknya menerimanya.

Tetapi bersama dengan tubuhnya yang berhenti bergetar, ada hal lain yang berhenti.

Suara tangisan dari gadis kecil―ilusi dirinya sendiri.

"Okaasan... Hei, kenapa Okaasan tidak mau bangun? Apa karena Okaasan sudah tidak menyayangi Otousan dan Niisan? Apa karena Mitsuki anak nakal...? Bukan..." Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang meleleh dan membusuk setengah. Tatapan mata birunya dingin dan begitu menusuk.

Ini pasti strategi dari ilusi tersebut. Ketika targetnya telah menyadari bahwa ini adalah ilusi dan berhasil melawan rasa takutnya, ia akan menunjukkan ilusi lain, mengguncang mental dan menarik kembali rasa takut target.

'Ya, pasti begitu...' Sang gadis kembali berusaha melawan ilusi mengerikan itu.

Saat itu, ia menginjak sesuatu dan menimbulkan sebuah ciprakan. Mitsuki mengalihkan pandangan ke lantai, kini lantai tersebut digenangi oleh cairan kental berwarna merah. Persis, atau bahkan mungkin, adalah darah.

Hemophobia―Rasa takut akan darah. Sejujurnya, hanya segelintir dari segelintir orang di Dunia ini yang tak takut pada genangan darah seluas ini. Namun, bagi mereka yang mengidap fobia ini, seperti Mitsuki, rasa takut tersebut dikalikan sepuluh kali dibandingkan ketakutan orang normal.

Tubuhnya kembali bergetar hebat, wajahnya berubah pucat, keringat dingin mengucuri tubuhnya, pandangannya mulai mengabur, jantungnya berdebar begitu kencang sehingga serasa seperti akan meledak saat itu juga.

Jika ia mendapat serangan di sini, apakah yang akan rusak? Tubuh fisiknya, ataukah mentalnya? Yang jelas, keduanya bukanlah pilihan. Mitsuki harus bisa melawan ilusi ini. Ia memejamkan matanya, berusaha mengabaikan darah yang mulai melumuri dinding kamar tersebut, seolah melelehkan mereka.

Ia harus melawan rasa takutnya sendiri. Tetapi ilusi ini tak akan membuatnya semudah itu. Secepat sang gadis bisa berpikir untuk melawan, ia kembali diserang. Kali ini, ada yang menggenggam pergelangan kakinya. Tangan yang menggenggamnya terasa kurus, keras, dan tajam. Ketika ia melihat ke bawah, yang ditemukannya adalah―

Saat kamu memiliki Pure Eyes―Terutama bagi yang mendapat kekuatan untuk melihat makhluk-makhluk supernatural― kamu dengan sendirinya belajar untuk tidak takut pada mereka. Tetapi tetap saja, praktek jauh dari teori sebenarnya. Selama 13 tahun hidupnya, dibarengi dengan penglihatan-penglihatannya, hanya ada satu hal yang berhasil menoreh trauma dalam pikiran Mitsuki. Satu-satunya monster yang ia takuti, itu adalah...

―Roh gentayangan mereka yang mati karena perang.

Mengenakan pakaian tentara Perang Dunia kedua, dengan tulang belulang yang telah berubah hitam. Satu, dua, tiga... Satu per satu, semakin banyak hantu korban perang yang muncul dan menggerogoti tubuhnya, menariknya turun ke dalam genangan darah yang kini telah berubah menjadi lautan. Tanpa disadari, kamar itu telah menghilang, digantikan langit hitam yang kosong.

Dalam hatinya, ia tahu bahwa itu adalah perlawanan yang sia-sia. Sang gadis memberontak berusaha melepaskan diri, namun jumlah tengkorak yang menyerangnya justru semakin bertambah. Kini mereka muncul dari atasnya, mengulurkan tangan kepadanya dan mendorongnya semakin jauh.

Rasa ngeri mengalir ke sekujur tubuhnya, alarm bahaya dalam otaknya berbunyi keras. Wajah-wajah tengkorak mulai memenuhi daerah penglihatannya. Mereka kian mendekatkan diri, sekelilingnya menjadi gelap. Di saat-saat seperti itu, sebuah pikiran terlintas dalam benaknya,

'Kau akan datang lagi, kan? Kau akan menyelamatkanku lagi, kan...? Wahai... ksatria berzirah putih...'

.

.

.

"Fufufu... Mentalnya seharusnya sudah hancur sekarang," ucap Sonata sembari memperhatikan tubuh Mitsuki.

Sang gadis terkulai lemas di tanah, matanya masih terbuka, namun tatapannya kosong.

"Tapi, aku tidak bisa mengambil resiko..."

Sang Succubus mengangkat tangannya, dan kukunya memanjang sepanjang lengannya sendiri. "Mati kau."

Seklise-klisenya, itulah yang terjadi. Tepat di saat terakhir, sebelum cakarnya bisa menyentuh tubuh Mitsuki, puluhan pukulan diselimuti cahaya seperti meteor menyerangnya. Dengan gesit ia menghindar, melompat sekitar 3 meter ke belakang.

"Menyerang seorang gadis yang tidak berdaya, sepertinya kamu perlu diberi pelajaran, ya?" kata musuh baru sang Akumu.

"Kau..."

"Aku, Pegasus Seiya, akan mengajarkan sedikit tata krama kepadamu."

Seiya berdiri di depan tubuh Mitsuki, Cosmo putih meluap-luap di sekitarnya. Untuk sejenak, sang pemuda menoleh untuk melihat keadaan sang gadis. Tak ada perubahan.

"Kenapa kamu menargetkan Mitsuki?"

Sebelum ia bisa mendapat jawaban, pertarungan telah dimulai.

Sang Succubus menyerang Seiya dengan cambuk anginnya. Seiya seketika membangkitkan Cosmo-nya, tangannya menelusuri udara menggambarkan rasi bintang Pegasus. Lalu, sang Saint Pegasus melancarkan jurus andalannya.

Lilim's Claw!

Pegasus Ryu Sei Ken!

Sementara serangan keduanya beradu, cahaya mata Mitsuki perlahan-lahan kembali. Pandangannya masih kabur, namun jelas bahwa ia berhasil lepas dari ilusi buatan Sonata. Dengan pandangan kaburnya itu, ia melihat sosok pemuda di hadapannya.

Matanya terbelalak.

Entah sudah berapa kali ia melihat punggung tersebut, mengenakan baju zirah putih, diselimuti oleh cahaya putih yang bergelora.

"Ksatria... dari mimpiku...?" gumamnya dalam suara yang lebih pelan dari bisikan.

Tetapi sang pemuda tetap mendengarnya, atau mungkin―Ia hanya merasakan bahwa gadis yang tengah dilindunginya telah sadar.

"Kau sudah sadar?" katanya, "Syukurlah. Tunggulah sebentar, aku akan segera menyelesaikan ini." Dia mengatakannya sembari menoleh kepada sang gadis.

Walaupun dari jarak sedekat ini, Mitsuki tetap tidak bisa melihat wajahnya. Bukan hanya karena pandangan matanya yang masih belum pulih sepenuhnya, juga akibat dari cahaya Cosmo sang pemuda yang membentuk bayangan, menyebabkan wajahnya tertutup bayangan tersebut.

Seiya kembali menghadap musuhnya, menambah jumlah pukulan yang dia lancarkan. Kini, angin Succubus tidak bisa lagi beradu dengan meteor sang Pegasus. Dirinya terpaksa membentangkan sayap kelelawarnya dan menerbangkan diri ke udara demi menghindari hujan meteor itu.

Dalam hatinya, Seiya menghitung mundur―Menghitung waktu yang paling tepat baginya untuk menjalankan tahap berikut dari serangannya. Secepat ia menghentikan pukulan meteornya, Seiya menolakkan diri ke depan dan melesat ke arah Sonata.

Sang wanita kelelawar baru saja berhasil menghindar dari pukulan Seiya yang terakhir. Konsentrasinya terbuyarkan sehingga tak menyadari bahwa sang pemuda berada tepat di bawahnya dan melontarkan diri ke arahnya. Menangkap kaki kanannya, Seiya menarik sang Succubus dengan kekuatan begitu besar sehingga wanita tersebut terbanting ke tanah.

Sonata tidak membuang sedetik pun untuk membalas serangan. Ia langsung mengayunkan tangannya, berusaha untuk mencakar Seiya dengan kukunya yang setajam belati. Namun, tanpa menunjukkan usaha yang berarti, sang pemuda menangkap pergelangannya dan menahan serangannya.

"Aku tidak suka―"

Sonata mengayunkan tangannya yang satu lagi, mengirimkan sebuah cambuk angin. Kali ini sang Saint Pegasus memiringkan kepalanya, kembali menghidari serangan darinya. Serangan tersebut bahkan tidak memotong sehelai pun dari rambut sang pemuda.

"Aku tidak suka menyakiti perempuan." Sang pemuda mengulangi perkataannya. "Jika bisa, aku mau kita selesaikan ini tanpa bertarung." Tatapannya jatuh pada musuhnya yang terlentang di tanah.

Ketika itu, sebagian besar tubuh Mitsuki sudah pulih dan ia berhasil memaksakan diri untuk bangun. Sang gadis melirik pemuda yang baru menyelamatkannya dan perempuan yang baru mencoba membunuhnya. Matanya terbelalak.

Succubus Sonata menyeringai.

"Jangan tatap matanya!"

Terlambat.

Seiya tersentak mundur, dia menemukan dirinya tertarik ke dalam mata dingin Succubus. Dan seketika, ia kehilangan kesadaran.

Sonata menyingkirkan tubuh sang pemuda dan bangkit. Sebuah senyuman kejam terulas di wajahnya, ia menendang perut sang Saint Pegasus. Tak ada perlawanan. Tentu saja, karena kini sang pemuda tengah tenggelam dalam ilusi mimpi terburuknya.

Tubuh Seiya terhempas sampai ke hadapan Mitsuki.

Dengan menyeret tubuhnya, Mitsuki menghampiri tubuh sang ksatria. Ia membalikkan tubuh sang pemuda, matanya kembali terbelalak ketika melihat wajah dari ksatria misterius dari mimpinya.

"Seiya-kun..."

Sebuah tawa dingin menyela. "Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Pegasus, tapi berbahagialah, akan kubunuh kalian berdua sekarang juga. Kalian bisa bermesraan sebebasnya di neraka."

Sunyi...

Dengan perlahan, sang gadis kembali membaringkan tubuh Seiya di tanah.

"Hei, apa kau mendengarku...?" tanya Sonata jengkel.

Jawaban yang didapatkannya adalah sebuah tatapan lurus dari Mitsuki. Tak ada amarah, kebencian, atau niatan membunuh dalam bola mata biru safir tersebut, ada sesuatu yang lain―Sesuatu yang tak bisa Sonata gambarkan, tapi satu hal yang ia tahu pasti. Ia tidak menyukainya.

"Apa-apaan matamu itu...? Apa kamu menantangku!?"

Sang gadis bangkit dan berdiri memunggungi Seiya.

"Apakah kamu bersedia melepaskan Seiya-kun dari ilusi itu...?" tanyanya.

Sonata mendecakkan lidah dan membuat gerakkan mencabuk, satu lagi cambuk angin melesat dan menghantam tanah di depan kaki Mitsuki.

"...Kuanggap itu "tidak". Kalau begitu..."

.

.

Setibanya Murasaki di taman tersebut, ia segera mendatangi tempat terakhir Will-o'-the-wisp terasa. Di tengah pepohonan, terlihat sebuah pohon yang tumbang dengan batang yang patah.

Saat itu, sebuah ledakan Cosmo mencuri perhatiannya. Ia berbalik dan menatap langit mendung yang menaunginya. Kini tampak sesuatu seperti pilar cahaya―Cosmo, tak jauh dari tempatnya. Akan tetapi, bukanlah Cosmo besar itu yang membuatnya menahan napas terkesiap. Melainkan, siapa pemilik Cosmo tersebut.

Jika Murasaki tidak salah, dan hampir tidak mungkin itu terjadi, pemilik Cosmo ini adalah dia...

Kaki sang pemuda melangkah secepat angin. Dalam hitungan detik, dirinya sudah keluar dari lautan pepohonan.

Tak jauh di sampingnya, terlihat Sonata. Dan di hadapan sang Succubus...

Sang Doppelganger hanya bisa membeku di tempat.

.

.

Cosmo perak dan emas menari-nari di sekitarnya. Bahkan sang gadis sendiri tak tahu bagaimana ia berhasil membangkitkan kekuatan tersebut.

Sonata benci mengakuinya, ia mengutuk tubuhnya yang bergetar di hadapan cahaya tersebut. Ekspresinya kembali mengeras, ia ikut membakar Cosmo-nya.

Jika dibandingkan, Cosmo keperakkan Mitsuki nampak seperti cahaya yang keluar dari sebuah pedang suci sedangkan Cosmo milik Sonata lebih cocok dikatakan sebagai angin prahara hitam yang bercampur dengan lidah-lidah api.

Pilar cahaya tersebut menipis sampai akhirnya terkonsentrasi di sekitar tubuh sang gadis berambut cream.

"Jangan sombong... Kau cuma manusia rendahan... GADIS SIALAN!" Amarah sang Succubus telah mencapai batasnya.

"Dasar si bodoh itu!" umpat Murasaki dari kejauhan.

Midnight Tempest!

Cosmo hitamnya melecut liar seperti angin topan. Dan targetnya adalah... Kamishiro Mitsuki.

Mitsuki mengangkat tangannya ke depan seolah ia telah melakukannya ribuan kali. Selain Cosmo-nya, kini ada cahaya lain yang menyelubunginya. Di sepanjang tangannya, muncul garis bercahaya yang tampak seperti sirkuit. Pada saat yang sama, dirinya berseru, "Callisto!"

Seketika muncul sebuah perisai berwujud lingkaran sihir di depan tangannya. Serangan Sonata menghantam perisai tersebut.

Akan tetapi, kemampuan sebenarnya Callisto bukanlah menghalau serangan, melainkan, memantulkannya.

Di saat angin topan itu menghantam Callisto, ia berubah arah dan melesat kembali kepada sang Succubus.

Terkejut dan bingung, Succubus Sonata tidak sempat berbuat apa-apa untuk menghindari serangan itu.

Senjata makan tuan. 」

―Metafora yang cocok sekali.

Terhisap ke dalam pusaran angin hitam dan terlempar jauh ke atas, butuh waktu beberapa detik sebelum tubuh wanita tersebut jatuh kembali ke tanah. Terbanting begitu keras sehingga terdengar suara sesuatu yang retak, dan lawannya―Mitsuki― yakin itu bukanlah suara tanah yang retak.

Untuk saat ini, sang gadis bisa menarik nafas lega. Syaraf-nya yang tegang mulai kembali relaks. Untuk pertama kalinya, ia mengalihkan pandangan dari musuhnya. Menerawang sekelilingnya―Pertama-tama matanya bertemu dengan Shiro yang terkulai pada undakan tak jauh darinya, kemudian ia berbalik kepada orang-orang yang masih terbaring di tanah tak jauh di belakangnya. Akhirnya, gadis berusia 13 tahun itu berjongkok untuk memeriksa keadaan pemuda yang telah melindunginya.

Pegasus Seiya masih dalam ilusi Succubus, nafasnya terengah-engah, dan keringat dingin mengucur dari dahinya.

'Ternyata mengalahkannya saja memang tidak cukup,' batin Mitsuki.

Dirinya begitu terfokus pada sang pemuda yang terkulai lemas, sehingga tidak memperhatikan musuhnya yang juga terkulai tak jauh di belakangnya.

Ia tidak menyadari asap hitam berupa sulur yang keluar dari tanah, dan mulai melilitkan diri pada tubuh Sonata. Lalu, seperti adegan dari sebuah film horror, mata Succubus Sonata terbelalak terbuka. Ia bangkit, asap hitam tadi bercampur dengan Cosmo-nya, lalu kembali menyerang.

"Midnight Tempest!"

Mitsuki segera berbalik, garis seperti sirkuit kembali bersinar di tangannya―dia siap memanggil kembali Callisto. Akan tetapi, ternyata itu tidak diperlukan.

Murasaki terus mengamati pertempuran singkat itu. Dan ketika dirinya menyadari Sonata yang kembali bangkit, hal pertama yang dilakukannya adalah melompat ke depan Mitsuki dan Seiya.

Sang Doppelganger membelokkan serangan Sonata semudah membalikkan tangan. Angin topan itu dialihkan kepada undakan di samping kanannya. Angin topan tersebut terus mengamuk sampai 5 meter jauhnya sebelum akhirnya reda, meninggalkan sebuah parit panjang dan kawah kecil.

Murasaki memandang Sonata dan berkata, "Cukup sampai di sana, Sonata. Kali ini yang kalah adalah kau, terimalah kenyataan itu."

Mata biru safir Mitsuki kini melekat pada Murasaki, otaknya masih memproses apakah dirinya harus memperlakukan sang pemuda sebagai teman atau musuh.

"Aku minta maaf atas perilaku rekanku. Walaupun," Murasaki terkekeh, "sebenarnya aku tahu meminta kalian memaafkannya adalah keinginan yang munafik."

Dia berbalik dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang gadis. Ia merentangkan tangannya ke depan. Tentu saja, tubuh Mitsuki bergerak untuk menghindarinya. Tetapi Murasaki kembali meraihnya dan mengusapkan ibu jarinya pada luka sayatan di pipi kiri Mitsuki.

"Aah, kau sampai terluka seperti ini..." katanya.

Wajahnya memancarkan kekhawatiran yang tulus.

"Meskipun begitu... Sudah berapa tahun aku menunggu? Semua penantian itu telah terbayar dengan momen ini." Lalu dia tersenyum. "Aku senang sekali, akhirnya bisa bertemu denganmu, Dewi..."

Tangannya bergerak turun dari pipi, menelusuri lengan sang gadis. Dengan perlahan, Murasaki mengangkat tangan gadis yang sampai tadi adalah target buruannya, lalu mengecup lembut pungggung tangannya.

Dengan sengaja, sang Doppelganger mempertemukan iris amethyst-nya dengan iris biru safir sang gadis, dan mencondongkan wajahnya ke depan.

Tepat pada saat itu...

Seolah menghiraukan rasa sakit bak seorang manusia, Shiro menggeram di samping Murasaki. Anjing Akita itu menggonggong bahkan lebih kencang daripada gonggongannya kepada Sonata tadi.

Bahkan Murasaki tahu itu isyaratnya untuk mundur. Ia tertawa dan berkata dengan nada sarkastiknya seperti biasa, "Aku tidak menyangka kau punya dua ksatria pelindung."

Setelah mengatakan itu, dia bangun dan menghadap mitra Succubus-nya. "Sonata, lepaskan Pegasus dan orang-orang itu dari jurusmu," perintahnya.

Tentu saja bisa ditebak, Sonata menolak. Tapi setelah Murasaki memanggil namanya untuk kedua kalinya, ia langsung mematuhinya.

Rasanya hebat bagaimana Succubus Sonata bisa menjadi gadis patuh di depan Doppelganger Murasaki.

Sonata tampak tak melakukan apa-apa. Namun, dengan melihat Seiya yang menarik napas panjang seolah sedari tadi ia berada di bawah air dan orang-orang yang perlahan-lahan bergerak bangun, jelas bahwa sang Succubus benar-benar melepaskan ilusinya.

"Sekarang kita mundur, Sonata."

Sama seperti tadi, gadis itu tidak bisa dibilang menyukai gagasan itu. Namun, sama seperti tadi, ia menjadi patuh jika di hadapan pemuda berambut ungu hitam itu.

"Cepat atau lambat kita akan bertemu lagi, tapi kuharap... Semoga kita kembali bertemu dalam waktu dekat." Murasaki kembali menyunggingkan sebuah senyuman kepada Mitsuki sebelum berjalan pergi.

Sonata melotot ke arah Mitsuki sebelum berlari menyusul Murasaki, memeluk lengannya ketika ia sudah berada di sisi pemuda tersebut.

Keduanya pun menghilang dari pandangan.

"Mereka sudah pergi, ya?" Seiya berusaha mengangkat diri, walau akhirnya Mitsuki harus menopangnya agar tidak kembali terantuk ke tanah.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya sang gadis, alih-alih dari pertanyaan "Apakah kamu baik-baik saja?"

"Selain trauma dari ilusi si Succubus dan sekujur tubuh yang sakit? Aku baik-baik saja."

"Apa kamu bisa berjalan?"

"Y-Ya... Bisa kucoba."

Seiya kembali mencoba untuk berdiri.

Mitsuki tersenyum kecil. "Baguslah, sebaiknya kita segera kembali ke Mansion Kido, Saori-san dan yang lainnya pasti khawatir. Lagipula, sepertinya kalian berhutang sebuah penjelasan padaku..."

Mitsuki mengusap pipi kirinya yang kini kembali mulus, tanpa bekas luka.

.

.

.

Setelah perjalanan yang terasa cukup panjang―dengan Mitsuki membopong Seiya, keduanya sampai di Mansion Kido. Kedatangan mereka bertepatan dengan keluarnya Shun serta Bronze Saint lainnya. Dengan Cloth dan persiapan lengkap.

"Seiya! Kau sudah kem―" Kata-kata Hyoga terputus begitu dia sadar akan keberadaan Mitsuki.

Sontak, mereka panik. Sang gadis telah melihat mereka mengenakan Cloth, bagaimana mereka akan membual untuk menutupi kebenarannya? Apa yang harus mereka katakan?

"Tenang saja, dia sudah tahu."

Perkataan Seiya pun menjadi rem yang menghentikan rangkaian pikiran panik rekan-rekan Saint-nya.

Kini sang gadis yang angkat suara, "Bolehkah kami masuk? Seiya-kun harus dirawat, dan..." Matanya bertemu dengan Saori yang berada di belakang para pemuda. "Sepertinya ada banyak yang harus kita bicarakan."

Tempat yang dipilih Saori untuk pembicaraan ini tak lain adalah ruang kerjanya. Dari jendela, ia bisa melihat Tatsumi yang disibukkan dengan Shiro yang tak berhenti menggonggonginya.

"Darimana sebaiknya kita mulai?" tanyanya.

"Bagaimana kalau dari awal?" balas Mitsuki.

Saori memejamkan matanya, mengisyaratkan "Baiklah."

"Apakah Anda tahu tentang Saint?"

Ia membuka penjelasan dengan sebuah pertanyaan.

"Ksatria dari mitologi yang bertugas melindungi Dewi Athena, bukan?"

"Ketika Athena turun ke Bumi, merekalah yang melindungi reinkarnasinya."

"Dan reinkarnasi Athena saat ini adalah「Kido Saori」."

Sang Athena mengangguk. Ia pun mulai menjelaskan semuanya, dari percobaan pembunuhan Saga 13 tahun lalu, Galaxian Wars, pertempuran 12 Kuil, Poseidon, Hades, sampai akhirnya pada masalah Akumu mereka saat itu.

Lalu penjelasannya selesai.

Yang lain terdiam menunggu reaksi Mitsuki, apakah ia akan tertawa dan menanyakan "dimana kameranya?" atau akankah ia pingsan karena tidak dapat menerima kenyataan?

Tapi dia hanya diam, lalu tersenyum.

"Kamu mempercayainya? Kamu tidak terkejut?" tanya Kanon.

"Yah, aku sudah tahu tentang keberadaan Saint." Ia melirik Seiya sembari mengatakannya. "Aku hanya tidak memperkirakan semua orang di sini adalah Saint. Seharusnya aku sudah menduganya. Bagaimana pun juga, kalian mengenal Sophie-chan dan Henna-chan."

"Kalau begitu, kamu sudah tahu?"

"Bahwa Henna-chan adalah titisan Gabriel dan Sophie-chan Putri Poseidon? Tentu saja, mereka sahabatku." Sang gadis kembali tersenyum, kini lebih manis dan lembut.

Sophie dan Henna tidak membalas senyumannya. Mereka bertanya-tanya apakah Mitsuki akan memberitahu Saori dan para Saint. Ternyata sang gadis tidak mengatakannya.

"Tapi, melihat situasinya... Sepertinya tidak akan lama sampai mereka mengambil tindakan. Bukankah begitu, Saori-san...?"

Hanya itu yang dikatakannya.

.

.

.

Langit berwarna merah padam ketika Mitsuki sampai di rumahnya. Sang gadis membuka gerbang dan membiarkan Shiro masuk duluan. Sementara dirinya tidak masuk, sebab sesuatu mengalihkan perhatiannya―Sebuah surat.

Ia mengambilnya, membolak-balikannya, sebelum akhirnya membukanya dan membaca isinya.

Tak butuh lama untuk membacanya sampai habis. Dan ketika dirinya telah selesai membaca, sebuah tawa hambar keluar dari mulutnya. "Terlambat, aku sudah tahu semuanya duluan dari Saori-san..." komentarnya.

Yah, namun ada hal-hal yang tampaknya belum diketahui pihak Saint. Sebaiknya ia memberitahu mereka jika mereka bertemu nanti. Pikir sang gadis.

Akhirnya, Mitsuki membalikkan surat tersebut untuk memeriksa apakah masih ada tulisan lain. Ya, ada. Di balik surat itu, di tengah-tengah kertasnya, tertulis: 「P.S: Aid will come.

'Bantuan...?' batinnya. Sang gadis menengadahkan kepalanya dan memandang langit merah di atasnya, dihiasi matahari yang akan terbenam dan bulan yang telah memunculkan diri.

.

.

.

.

.

Di sebuah bandara, seorang pemuda menarik kopernya dan berjalan sembari berbicara lewat telepon. Seiring ia berjalan, banyak perempuan yang berhenti untuk menatapnya sejenak. Rambut pendek berwarna coklat perunggu, tubuh tinggi dan gagah, fisik bak seorang model. Walaupun ia mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya, paras rupawannya tak dapat ditutupi.

"Ya, aku sudah di Heathrow. Sekarang aku berjalan ke terminalku... Ya, aku mengerti, begitu aku sampai ke Jepang aku akan menghubungi."

Dengan begitu, ia mematikan teleponnya. Sang pemuda berhenti sejenak dan mendekati jendela bandara. Setelah melepaskan kacamata hitamnya, bola mata merah bagaikan rubi miliknya menatap langit malam melalui jendela. Bulan yang sedari tadi tertutup oleh awan akhirnya keluar, memancarkan cahaya pada langit hitam.

"Sebentar lagi aku pulang, Mitsuki..."


「つづく。。。」

Wina: Sudah selesai satu Chapter. Nazo-sensei, kritiknya?
? : 'Dia lebih bersemangat dari biasanya...' Yah, sudah kutuliskan... Silahkan baca sendiri
Wina: Ha'i!
Saga, Aiolos: Selagi Author membaca kritiknya, ayo balas review

#Shimmer Caca
Aiolos: Ahaha, saat Galaxian Wars berarti... masa-masa Mitsuki pura-pura tidak tahu apa-apa, ya?
Saga: Kenapa kamu bisa tahu hal seperti itu?
Aiolos: ? Mitsuki yang cerita
Saga: Kapan? Kalian dekat?
Aiolos: Oh, kami-
Wina: *buru-buru bekep Aiolos* Jangan spoiler isi Chapter yang masih jauh!
Saga: Memaafkan Kanon, ya? Memaafkan... apa harus?
Wina, Aiolos, ALL: Maafkan sajalah

#Neo TsukiRin Matsushima29
Saga: Karakter Leviathan ini termasuk ke Overprotective huh?
Aiolos: Atau mungkin Merciless?
? : Bagaimana kalau Sadistic?
Wina: Apa yang kalian bicarakan? Dan kenapa Nazo-sensei ikutan? *Sweatdrop*
Kanon: *nongol* Kok malah pada kasihan dengan aku nganterin Mitsuki?
Wina: Err, sepertinya bukan itu yang mereka omongin deh

#albaficaaiko
Saga: Kanon dan Mitsuki...? For God's sake, usia mereka terlalu berbeda jauh!
Teru: *nongol* Akhirnya ada yang setuju-
Wina: Oi, kau munculnya nanti aja pas udah muncul beneran (?)
Mitsu: Ah, ya, semoga Paman Arnold bisa kembali secepatnya *senyum polos*
Aiolos, Teru: Paman Arnold?
Wina: LANJUUTTT~

#Tsuki
Wina: Terima kasih sudah mau baca, saya juga maaf semaaf-maafnya baru update sekarang...
? : Aku karakter di luar cerita yang berperan memberikan kritik terhadap cerita yang dituliskan oleh Wina
Wina: Karena itu panggilannya "Nazo-sensei"~
? : Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu...
Wina: Diam-diam Nazo-sensei senang kan~?

#Gianti-Faith
Wina: Err, gak maksa harus review kok...
? : Kamu bilang begitu, padahal sebenarnya kamu menantikan review dari para pembaca, bukan?
Wina: Diam, ah *blush*
Aiolos, Saga: *chuckle*
Wina: Menyentuh, ya... Ah, kalau boleh jujur, aku tidak menduga Chapter itu berhasil menyentuh hati pembaca
Aiolos: Tapi ternyata begitulah kenyataannya. Berbahagia saja, Wina
Saga: Yah... 'Memang benar, mana mungkin aku dan Kanon bertengkar di depannya...'
Wina: Aku jadi penasaran sama sikapmu terhadap calon adik iparmu nanti, Saga
Aiolos: Terima kasih atas review-nya

Sekian~
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Maaf karena hiatus panjang saya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~