Wina: Karena di chapter-chapter yang lalu lebih fokus ke OC... Untuk OMAKE ini saya akan memberikan spotlight pada karakter Saint Seiya, sudah begitu, karakter sampingan yang tidak sering dibahas~
? : ...Ekspresimu seolah mengatakan, "Puji aku."
Wina: Oh, ya? *giggle* Ah, untuk cerita kali ini, saya coba menggunakan style menulis yang berbeda... Mungkin Nazo-sensei dan readers sekalian bisa memberikan pendapat tentang style ini?
? : Hee, pertama-tama ayo kita mulai baca
Wina: Happy Reading~

(DISCLAIMER: Saint Seiya milik Masami Kurumada-sensei)


Supporting Performance

.

.

Siang itu lebih panas dari biasanya, tapi masih ada siswa yang dengan semangat bermain bola pada jam istirahat.

"Shun! Pass!" seru Seiya.

Pemuda berambut hijau lumut itu melakukannya, Seiya langsung menggiring bola menuju gawang. Ketika ia sampai pada jarak yang menurutnya sesuai, sang Saint Pegasus bersiap untuk menembak.

"Bersiaplah, Hyoga! Pegasus Meteor Shoot!"

Walaupun Hyoga ingin sekali mengkritik penamaan "Jurus Tendangan" Seiya, dia lebih dulu disibukkan oleh bola yang dengan kecepatan tinggi melayang ke arahnya. Hyoga melompat ke sisi kanan gawang sambil merentangkan tangannya ke atas. Namun, dia gagal menangkap bolanya.

"GOOLLL!"

Tim Seiya dan beberapa siswa lainnya bersorak girang, dibarengi dengan sorakan lain dari para siswi yang menonton. Satu per satu, mereka mulai memanggil nama para Bronze Saint yang ikut bermain.

Dalam waktu singkat semenjak mereka masuk ke Mitsuishi Gakuen, para Bronze Saint langsung menjadi populer di antara para murid―terutama perempuan. Bahkan, tidak aneh jika mereka punya klub penggemar. Yah, setidaknya sebagian dari mereka populer...

Di atap sekolah, empat Bronze Saint lain sedang menikmati makan siang mereka―Geki, Ban, Nachi, dan Ichi.

Dengan jengkel Geki melirik ke bawah, ke teman-teman populernya yang asyik bermain bola sepak.

"Aku mengerti kalau dalam pertarungan kita menjadi karakter sampingan, tapi menjadi karakter sampingan di dunia nyata itu..." Saint Ursa Major itu melepaskan helaan napas panjang, seperti dibuat-buat untuk menekankan kejengkelannya.

"Mau bagaimana lagi," kata Nachi sambil membalik halaman buku komik yang tengah dibacanya. "Dalam manga-manga shounen, Seiya dan yang lainnya itu termasuk ke dalam tipe-tipe ikemen." Akhirnya dia mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil kepada kawan-kawannya.

Kawan-kawannya memberikan pandangan yang seolah mengatakan: "Aku tidak mengerti apa pun yang kamu katakan, tapi ok."

Nachi mulai menjelaskan. "Lihat saja, pertama-tama Shiryu yang kalem dan pintar di atas rata-rata. Hyoga yang penampilannya sudah seperti―memang dia sebenarnya, sih― bule. Lalu ada lagi Shun, wajah manis dan sikapnya yang kelewat baik itu, pantas saja dia gampang dekat dengan cewek-cewek. Malahan, aku tidak terkejut kalau ternyata ada cowok yang naksir juga sama dia."

Ichi menyeruput jus kotaknya sebelum berbicara. "Bagaimana dengan Ikki? Kalian berdua sekelas dengannya, kan?" tanyanya kepada Geki dan Ban.

"Yah... Sikap cuek dan penyendiri itu malah dianggap keren."

Nachi menggumamkan sesuatu seperti "Senpai keren" sambil mengangguk-angguk.

Suara sorakan dari lapangan di bawah kembali terdengar. Geki dan yang lainnya kembali melongok ke bawah. Ternyata Seiya baru saja berhasil kembali membobol gawang tim Hyoga. Walaupun tidak mengerti istilah-istilah yang dipakai oleh Nachi, sebenarnya, tanpa harus dijelaskan pun mereka tahu kenapa rekan Bronze Saint mereka itu populer. Bukan cuma karena penampilan mereka.

"Seiya juga... Begitu-begitu dia pemimpin alami, walaupun dia lebih menggunakan insting ketika bertindak. Sudah begitu dia mudah bergaul, mudah didekati orang..."

Mereka kembali mendesah.

"Kalian terlalu mempersoalkannya." Sebuah suara menarik perhatian mereka. Jabu baru saja datang, namun sedari tadi telah mendengar keluh kesah rekan Bronze Saint-nya.

"Kami tidak mau mendengarnya darimu! Padahal kamu tidak termasuk Bronze Saint yang bertarung dalam Pertempuran 12 Kuil, Poseidon, atau Hades, tapi diam-diam punya penggemar!"

Jabu hanya menjawab, "Hee..." Dia bahkan tidak tahu kalau dia punya penggemar, meskipun dalam hati itu membuatnya cukup senang.

'Tapi apa hubungannya pertarungan itu dengan kehidupan sekolah kita?' batin sang Unicorn.

"Mengesampingkan itu," katanya lagi, "seperti yang kubilang barusan, kalian terlalu mempersoalkannya. Kelima yang kalian sebutkan tadi, semuanya sudah punya pacar. Aku yakin mereka bahkan tidak terlalu memperdulikan fakta bahwa mereka punya penggemar di sekolah ini."

Jabu sudah sering melihat reaksi Seiya dan yang lainnya ketika menerima surat cinta atau surat penggemar atau semacamnya―Kalian akan terkejut betapa banyak surat yang mereka terima, padahal belum sebulan mereka bersekolah di Mitsuishi Gakuen. Dia menunggu reaksi teman-temannya, tapi untuk beberapa saat mereka masih terdiam.

"Ah, Jabu, jadi kau sudah mengakui kalau Seiya dan Ojousama berhub―"

"Apa yang kamu bicarakan, Ichi? Tentu saja "pacar" Seiya yang kumaksud itu teman masa kecilnya dari Panti Asuhan, Miho." Jabu "tersenyum" ketika mengatakannya.

'Ternyata Ojousama Complex-nya belum sembuh...'

Beberapa saat setelah itu, bel yang menandakan jam istirahat selesai, berbunyi nyaring. Bersama dengan kerumunan orang di lapangan yang membubarkan diri, kelimanya juga turun dari atap dan kembali ke kelas mereka masing-masing.

Dalam perjalanan kembali ke kelas, Ban dan Geki mampir terlebih dahulu ke kelas 8-A. Bertepatan dengan kedatangan mereka, Seiya dan yang lainnya sampai ke kelas.

"Oh, hei, Geki, Ban," sapa Seiya. "Sayang sekali kalian tidak ikut main tadi. Kalau kalian yang menjaga gawang, pasti tim Hyoga tidak akan kebobolan."

"Jangan ngomong macam-macam." Hyoga membalas dengan jengkel. "Lagipula apa-apaan tendanganmu itu? "Pegasus Meteor Shoot"? Kau pikir ini anime olahraga? Dan juga..." Ia mengecilkan suara sebelum melanjutkan perkataannya, "Diam-diam kau pakai Cosmo, kan? Dasar curang."

"Aku tidak melakukan hal seperti itu, kok!" Seiya tertawa.

Tapi mereka tidak ikut tertawa...

.

.

.

.

"Silahkan datang kembali."

Suara kasir minimarket menyertai para Bronze Saint yang berjalan keluar. Nachi, Ichi, Geki, Ban, dan Jabu baru saja membeli camilan dari sebuah minimarket di daerah pertokoan.

"Haruskah kalian membeli camilan sebanyak itu?" tanya Jabu.

"Hei, aku makan ketika frustasi, oke?" balas Ban.

"Jadi kalian masih kesal, ya? Sudah kubilang ―untuk ketiga kalinya― jangan terlalu mempermasalahkannya. Lebih baik kalian memikirkan persoalan kita, seperti Akumu...? Apa kalian masih ingat?" Ucapannya dipenuhi nada sarkastik, terutama pada kalimat yang terakhir.

...Seharusnya Jabu tidak mengatakan itu...

Tak lama setelah kelimanya memasuki daerah perumahan―jalan pintas yang mereka ketahui dari Kanon, dan yang Kanon ketahui dari Mitsuki― mereka menemui sepasang wanita yang sedang mengobrol di depan sebuah rumah. Lalu, tiba-tiba seorang anak kecil berlari keluar dari rumah tersebut dan memeluk salah satu wanita yang ternyata adalah ibunya.

Sambil menangis, anak itu berkata, "Mama! Ada raksasa seram!"

Ibunya dan teman ibunya langsung kebingungan dan berusaha menenangkannya, tapi sang anak terus saja menangis sambil menunjuk ke arah ia melihat "raksasa" tersebut.

Bagi orang biasa, mereka pasti hanya menganggapnya sebagai imajinasi berlebihan seorang anak kecil. Tapi, Geki dan lainnya bukan orang biasa.

Setelah bertukar pandang sejenak, mereka memutuskan untuk menyelidikinya... tanpa Jabu.

Geki dan Ban melemparkan kantong berisi camilan yang mereka beli tadi kepada sang Saint Unicorn. Otomatis, yang dilempari kebingungan.

"Jabu, kamu kembali duluan ke Mansion. Kami berempat akan menangani ini sendiri," katanya sebelum beranjak pergi.

Jabu bahkan tidak mendapat kesempatan untuk protes. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia berjalan kembali ke Mansion Kido dengan langkah enggan.

.

.

.

.

Geki, Ban, Ichi, dan Nachi masih menyusuri gang-gang, sampai mereka merasakan tanah bergetar di bawah kaki mereka. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang Cyclops berjalan sambil membawa pentungan yang ukurannya lebih besar dari Nachi dan Geki digabungkan.

"Perintah Medusa, terong manusia," gumam si Cyclops.

"Terong?" Ichi mengulangi perkataan raksasa bermata satu itu.

"Mungkin maksudnya teror manusia?" balas Nachi.

Ban memberi isyarat agar keduanya diam, atau setidaknya memelankan suara.

Di antara mereka berempat, Geki-lah yang paling tenang. Semenjak melihat Cyclops tersebut, ia belum mengucapkan sepatah kata pun. Matanya terpaku pada raksasa itu dan dia seolah sedang memikirkan strategi penyerangan. Namun mungkin, yang sebenarnya ia pikirkan adalah bahwa ini bisa menjadi kesempatan mereka membuktikan diri, bahwa mereka bukan cuma karakter sampingan dari sebuah manga.

Geki bangkit dan berjalan menuju sang Cyclops, mengabaikan teman-temannya yang memanggilnya dan menanyakan apakah dia sudah gila. Ya, mungkin saja dia sudah gila. Terutama karena tindakan selanjutnya adalah meneriaki si raksasa yang mau terong manusia.

Cyclops itu memutar badannya, menoleh kesana kemari sebelum akhirnya pandangannya turun kepada sang Saint. Sang Cyclops mengendus-endus. "Bau Sein! Kata Medusa, Sein buruk! Bunuh Sein!"

Ketiga Bronze Saint lainnya telah menghampiri Geki ketika sang Cyclops mulai berbicara tentang "Sein". Firasat mereka mengatakan kalau Sein ini adalah versi salah pengucapan si Cyclops dari "Saint".

Oh ya, merekalah Sein bau dan buruk itu.

Sang Cyclops mengangkat pentungan maha besarnya dan kembali berseru, "Bunuh Sein!"

"Mungkin maksudnya "Burung Sein"?" kata Nachi.

"Dan itu membuatnya lebih masuk akal!?"

Pentungan itu diayunkan ke bawah dengan kekuatan penuh. Geki dengan sigap mengangkat kedua tangannya dan menahan agar pentungan itu tidak meremukkan dia dan teman-temannya. Selagi itu, Nachi dan Ban berinisiatif untuk menyerang kaki si raksasa bermata satu.

Sang raksasa kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Hebatnya, aspal tempatnya terjatuh tidak retak, meskipun baru saja dihantam oleh makhluk yang ukurannya lebih besar daripada rumah-rumah di dekatnya.

Keempat Bronze Saint mengambil kesempatan itu untuk bersembunyi ke gang kecil di dekat sana.

"Otaknya sih tidak pintar-pintar amat, tapi ukuran tubuh itu saja sudah jadi masalah..." komentar Ban.

"Andai saja kita membawa Cloth," tambah Nachi.

"Kalau Cloth, aku bawa." Ichi menyingsingkan lengan bajunya dan menunjukkan bagian lengan dari Cloth Hydra miliknya. "Untuk berjaga-jaga."

"I-Ichi... kau membawa zirah berisi taring beracun ketika pergi berbelanja dengan kita...?"

"...Tidak, ini mungkin menguntungkan kita. Aku punya ide." Geki tersenyum dan mulai menjelaskan strateginya.

.

.

Sang Cyclops sudah kembali bangkit dan mengangkat pentungannya, sekarang dia kembali mencari Sein-sein untuk diburung.

Geki kembali berlaku nekad dan meneriaki si raksasa, "Oi, mata satu! Ada Sein di sini!"

Sang Cyclops berputar, sama seperti tadi, dan mengayunkan pentungannya kepada Geki. Dan, sama seperti tadi, Geki menahannya. Yang berbeda adalah, kali ini teman-temannya memainkan peran baru.

"Sekarang, Ichi!"

Ichi melompat ke atas pentungan yang ditahan Geki. Lalu melalui pentungan itu, dia berlari di atas tangan sang Cyclops dan menerjang matanya yang terletak di atas hidungnya.

Sebuah taring beracun menancap di matanya.

Sang raksasa berteriak kesakitan, tapi itu belum cukup untuk mengalahkannya. Yah, mereka sudah memperkirakan ini.

Sekarang Nachi dan Ban berlari ke arah sang raksasa yang masih meraung, dan hampir bersamaan, melancarkan serangan terkuat mereka.

Sang Cyclops terhuyung-huyung ke belakang. Kini giliran Geki memainkan perannya. Dengan segala kekuatan yang dia punya, Bear Geki mengangkat pentungan si raksasa. Ternyata pentungan itu lebih berat dari dugaannya, terlalu berat untuk dia angkat seorang diri.

Namun, dia punya teman-teman untuk membantu.

Ban, Nachi, Ichi, dan Geki bersama-sama mengerahkan Cosmo mereka untuk mengangkat pentungan Cyclops itu. Dan tepat sebelum sang Cyclops mencabut taring Ichi dari matanya, mereka mengayunkan pentungan itu dan memukul perut raksasa tersebut.

Alih-alih terhempas ke samping, sang raksasa langsung terbuyarkan menjadi debu.

Keempatnya langsung kejatuhan hujan abu bekas Cyclops. Badan mereka menjadi abu-abu dari atas sampai ke bawah.

"Menjijikan," komentar Ichi.

Setelah terdiam untuk sedetik, mereka mulai tertawa.

Mereka berempat berjalan kembali ke Mansion Kido dengan tubuh masih ditutupi oleh debu. Ketika mereka sampai, Seiya, Saori, serta Bronze Saint yang lainnya sedang menunggui mereka di depan gerbang Mansion.

Seiya adalah orang pertama untuk menghampiri mereka.

"Kudengar kalian melawan monster sendirian? Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya.

"Yah, bukan masalah yang tidak dapat kami atasi." Nachi membusungkan dada dengan bangga ketika mengatakannya.

Bronze Saint lainnya mulai mendatangi mereka satu per satu, sehingga mereka berempat pun mulai menceritakan bagaimana mereka mengalahkan Cyclops tadi―dengan melebih-lebihkan setiap kenyataan yang ada.

Di tengah cerita mereka, sebenarnya menjelang akhir, Saori yang sedari tadi berdiam di depan gerbang Mansion melangkah mendekat. Ia menggenggam tangan pemuda yang juga merupakan Saint pelindungnya dan menatap mereka dalam-dalam.

"Kalian benar-benar baik saja?" Setiap kata yang diucapkannya dibubuhi dengan kekhawatiran yang tulus.

Tanpa mengalihkan pandangan, sang Dewi menunggu jawaban mereka.

Geki menggaruk pipinya yang sedikit memerah. Bibir keempat Saint yang baru saja melawan seorang Cyclops kini melengkung menjadi sebuah senyuman. Mereka bertukar pandang sebelum menjawab pertanyaan sang Athena.

Di belakang mereka semua, Jabu hanya bisa terkekeh kecil. 'Wajah kalian seolah mengatakan, "Setidaknya ada seorang yang menghargai kami"...'

"Itu terlalu menyedihkan," gumamnya kepada langit merah di atas kepalanya.


Omake -

Wina: Selesai sudah bagian terakhir dari parade update kali ini~
? : Ah... Lagipula, kenapa harus tiga chapter sekaligus?
Wina: Karena ini hari terakhir dari bulan Maret? *senyum*
? : ...Oh?
Wina: Eh- Nazo-sensei tidak ingat? TvT
? : 'Tentu saja aku ingat' *menahan senyum* Lebih penting dari itu, ayo kita tutup. Jangan terlalu banyak berbicara yang tidak perlu
Wina: Uuh... Ha'i...
? : *chuckle*

Sekian~

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Sekali lagi, maaf karena hiatus panjang saya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~