? : Haha, dan dengan begitu 3 bulan pun berlalu...

S-Saya minta maaf... So without further ado, I present the next chapter of Lumen Arcadia

Happy Reading~ (PS: Teru mendapat spotlight di chapter kali ini~)

(DISCLAIMER: Saint Seiya milik Masami Kurumada-sensei)


"Kalau kamu adalah bulan, maka aku akan menjadi matahari―"

"Eh...? Aku tidak mau. Matahari dan bulan tidak pernah bertemu satu sama lain, kan? Aku tidak mau itu terjadi pada kita!"

"...Kalau begitu..." Ia berjongkok untuk menyamakan tingginya. "Bagaimana kalau Apollo dan Artemis?"

"Apollo dan Artemis...?"

"Ya, mereka adalah Dewa Kembar. Artemis merupakan Dewi Bulan, dan Apollo adalah Dewa Matahari. Meskipun matahari dan bulan terpisah... Ikatan mereka sebagai saudara tak dapat diputus. Aku akan menjadi Apollo, maka kamu akan menjadi Artemis. Bagaimana?"

"Baik... Tapi, ikatan seperti itu tetap saja tidak cukup. Kita harus tetap menghubungi satu sama lain, ya?"

"Tentu saja." Elusannya yang lembut dibarengi oleh sebuah senyuman. "Aku akan selalu menulis surat. Selama berada di sana, saat belajar, olahraga, makan, sebelum tidur, aku akan selalu memikirkanmu."

"Kalau begitu aku juga. Aku akan berdoa setiap malam."

Ia tertawa.

"Janji, ya?"

Tanpa ragu ia mengaitkan jari kelingkingnya. "Ya. Aku berjanji, Mitsuki..."

Walaupun kita terpisah jauh, aku tidak akan takut. Karena sejauh apapun jarak kita, kita akan selalu berada di bawah langit yang sama...


Under The Same Sky

.

.

Suara desingan memotong udara seiring sebuah anak panah dilepaskan dari busurnya. Seorang pemuda telah berhasil menancapkan anak panahnya pada target sasaran, 28 meter jauhnya dari tempatnya berdiri.

Sebuah tepuk tangan menyambutnya. Pemuda tersebut berbalik dan menemukan seorang gadis berambut pirang pucat berdiri tak jauh darinya. Ia tak mengatakan apa-apa dan membiarkan gadis tersebut berbicara, "Seperti biasa, kamu hebat, Seto-kun. Gerakanmu mulus sekali, terutama saat kamu menarik busur... begitu anggun."

Akhirnya ia tersenyum. "Terima kasih atas pujian berlebihannya. Jadi, kenapa Ketua OSIS sepertimu repot-repot datang ke sini?"

"Hanya ingin menyampaikan surat titipan adik kelasku yang manis." Ia berjalan mendekat dan menyerahkan sepucuk surat kepada Seto.

"...Mitsuki-chan? Aku mulai bertanya-tanya kenapa ia tidak datang."

"Ya, hari ini dia meminta izin pulang... Dia harus ke bandara untuk menjemput seseorang."

"Seseorang?" Sebuah senyuman terulas di wajah Kyūdōjin itu, dengan terang-terangan mengimplikasikan bahwa ia tahu seseorang yang dimaksudkan adalah siapa. "Kamu harusnya berbahagia, Minami-chan. Akhirnya, kamu bisa bertemu dengan dia lagi."

Rona merah muda menghiasi wajah Minami, namun senyuman di wajahnya menyatakan bahwa ia tidak tersipu malu. Dengan perlahan ia berpaling pada langit biru cerah yang menaungi dojo tersebut. "Akhirnya... orang itu sudah kembali..."

.

.

.

"S-Saori-san...? Aku berterima kasih Anda telah melakukan ini, tapi..."

"Jangan sungkan, Mitsuki. Bukankah sudah seharusnya teman membantu satu sama lain?"

'Tapi... Bukankah tumpangan dengan limosin itu berlebihan!?' sang gadis berambut krem berseru dalam hati.

Bola matanya melirik keluar, tampak pejalan kaki di sisi-sisi jalan berhenti sejenak untuk memandang mobil mewah yang baru melewati mereka. Seketika itu juga, ia mengalihkan pandangan. Lantai mobil itu entah kenapa tampak menarik sekarang.

Kanon, yang juga di sana untuk melindungi keduanya, hanya bisa tertawa tanpa suara. Sebagai cucu dari CEO perusahaan yang kekayaannya bahkan menyamai Graude Foundation,Kamishiro Mitsuki seharusnya sudah terbiasa dengan hal-hal "mewah" seperti ini. Seharusnya begitu... namun...

"Apa kamu tidak suka perlakuan istimewa seperti ini, Mitsuki?" tanyanya dengan nada bergurau. "Hee, ternyata kamu pecinta kesederhanaan."

Mitsuki menarik napas panjang dan mendongak. "Walaupun kekayaanmu setara dengan para raja di masa lampau sekalipun, bukanlah tindakan tepat untuk menunjukkannya dalam segala aspek kehidupanmu. Sejujurnya? Itu hanya akan menambah masalah."

...Apa itu cuma perasaannya?

Untuk sejenak, kata-kata sang gadis seolah terdengar bagaikan cerita dari pengalaman yang tidak bisa dibilang menyenangkan.

Sisa perjalanan mereka singkat dan senyap. Dalam hitungan menit yang terasa berabad-abad, limosin itu menepi di depan bandara.

Bandar udara itu sibuk seperti seharusnya. Kerumunan orang berlalu lalang membawa koper dan tas-tas lainnya. Mitsuki berjalan di depan, sedangkan Kanon dan Saori mengikutinya dari belakang.

"Athena, mungkin ini sudah terlambat, tapi... Untuk apa kita kemari?" tanya sang Saint Gemini dengan suara pelan.

Saori berbalik ke arahnya, lalu tersenyum, dan berkata, "Bukankah lebih baik menanyakan hal itu pada Mitsuki?"

Langkah Mitsuki terhenti. "Untuk menjemput seseorang," katanya. Ia berbalik dan tersenyum kecil kepada keduanya.

Kanon cukup yakin ia telah berbicara dengan suara pelan, namun tampaknya masih cukup kencang untuk didengar gadis yang berjalan 2 meter di depan mereka. Secara tak sadar, ia berharap Mitsuki tidak mendengarnya memanggil Saori, "Athena".

Selagi mereka mengkhawatirkan itu...

Sebuah tangan melingkarkan dirinya pada wajah Mitsuki, menutupi matanya. Pemilik tangan itu adalah seorang pemuda berambut coklat perunggu. Pemuda yang kini mencium puncak kepala gadis tersebut.

Seketika, wajah Saori menunjukkan rona merah yang langka. Sedangkan untuk Gold Saint yang berdiri di sampingnya... Matanya terbelalak kaget dan mulutnya ternganga. Hampir dengan segera, Kanon meneriaki pemuda tersebut.

"Kau! Apa kau tidak tahu mencium gadis sembarangan itu tidak―"

Ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya.

Setetes air mata mengalir turun ke pipi Mitsuki. "Niisan...?" gumamnya.

Mitsuki melepaskan diri dari genggaman pemuda itu. Ia berbalik dan menatap lurus kepada mata bagaikan batu ruby milik orang tersebut. Kini tangannyalah yang memeluk pemuda itu. Air matanya mengalir lebih deras.

"Aku pulang, Mitsuki..." bisiknya sembari memeluk tubuh adiknya yang bergetar.

Kamishiro Teru―Putra sulung dari anak laki-laki Kamishiro Sonosuke, kakak Mitsuki yang selama 3 tahun terakhir berada di London dalam sebuah program exchange student. Dan orang yang mau dijemput oleh gadis tersebut di bandara ini.

Kanon kembali terbelalak. Ia teringat kata-kata Mitsuki, bahwa ia punya seorang kakak laki-laki, kakak laki-laki yang tak pernah dia lihat selama 3 tahun terakhir...

Melihat kakak-adik itu bertemu kembali, ia tidak bisa menahan senyum ―Walaupun ada rasa getir di hatinya. Wajah Saga muncul dalam benaknya. Hubungan persaudaraan mereka telah kandas 13 tahun yang lalu, ketika ia bersiasat untuk membunuh Athena, dan membangkitkan sisi jahat dari kakak kembarnya. Sampai sekarang, ia masih bertanya-tanya... Apakah dia benar-benar dimaafkan?

"Tentu saja ia memaafkanmu!"

Rasanya ia bisa mendengar suara dari seorang gadis berambut merah.

'Aku tidak yakin, apa itu benar...?'

Orang yang bersangkutan belum mengatakan kata-kata itu... Perbuatannya memang sulit dimaafkan, memang mustahil dimaafkan. Ia tidak terkejut jika dirinya dibenci selama-lamanya karena itu.

Selagi dirinya tenggelam dalam pikiran sendu, suara langkah kaki seseorang mengembalikannya pada kenyataan.

"Jadi kamu "Kanon-kun" itu, ya...?"

Mata hijau Kanon beradu dengan mata merah delima itu.

"Terima kasih telah menyelamatkan adikku, Mitsuki, ketika dia hampir tertabrak truk waktu itu." Sebuah senyuman menghiasi wajah tampan pemuda tersebut ketika mengatakannya. "Dan juga... kudengar kamu mengantarkannya sampai ke rumah keesokan harinya...?"

Tapi senyuman itu berubah dalam sekejap mata. Aura hitam ―yang mengingatkan Kanon pada Hades― meliputi pemuda berambut coklat itu. Tak ada yang menyadarinya selain dirinya sendiri, apa niatan membunuh itu hanya ditujukan kepadanya seorang?

Namun detik berikutnya, perhatian Teru berganti kepada Saori ―melegakan Kanon.

"Dalam situasi ini, "Senang bertemu denganmu" sepertinya kata-kata yang sesuai, ya, Saori-chan?" kata Teru dengan nada setengah menggoda.

Gadis tersebut tampaknya tidak terlalu menyukai nada bicara sang pemuda.

"Salam kenal, Teru-san. Dan saya kurang menyukai panggilan seperti itu."

Ia mengatakannya dengan terus terang.

Teru tertawa. Sang pemuda memosisikan tangannya seolah bertopang dagu, tetapi tangannya berada di depan mulutnya dengan ujung jari telunjuknya menyentuh hidungnya. "Kalau begitu, lebih baik aku memanggilmu apa? "Saori"? "Saori-san"? Atau..."

Ia terdiam tak melanjutkan kata-katanya, dan tak ada yang berinisiatif untuk menanyakan apakah kata-kata selanjutnya.

"Lupakan saja."

Sang pemuda memasang senyum cerah dan mengalihkan pembicaraan.

"Jadi, kalian repot-repot mengantar Mitsuki ke sini? Aku harus berterima kasih kepada kalian."

"Saya hanya ingin melakukan sesuatu sebagai seorang teman." Saori melirik Mitsuki di hadapannya dan tersenyum.

Teru pun menatap mereka berdua bolak-balik. Jika senyuman cerahnya tadi tampak seperti sebuah pengalih perhatian yang telah dilatih sebelumnya, kini senyumannya berubah menjadi senyuman tulus.

'Akhirnya kalian kembali berteman, huh...?'

Sebuah tawa kecil terlepas dari mulut pemuda tersebut.

"Niisan...?"

Adiknya memandangnya dengan pandangan penasaran.

"Bukan apa-apa, cuma lamunan pribadi." Ia menepuk kepala Mitsuki dan mengelus-elus rambutnya. "Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"

"Ah, kalau begitu akan saya antarkan..."

Tangannya terhenti. Sekali lagi, dia menoleh kepada Saori dengan firasat tidak enak. "Walaupun aku senang dengan tawaranmu... Tolong jangan katakan kalau mobilmu―"

Sebuah tawa jahil yang langka keluar dari bibir sang Athena...

.

.

.

Perjalanan dari bandara ke kediaman Kamishiro hanya memakan waktu beberapa puluh menit. Namun perjalanan tersebut terasa lebih lama, terutama bagi kedua bersaudara yang tampaknya saling mewarisi ketidaksukaan terhadap gaya hidup mewah.

Pada akhirnya, mereka pun sampai di depan kediaman Kamishiro. Teru sekali lagi berterima kasih kepada Saori, yang hanya dibalas dengan sebuah senyum dan perkataan, "Tidak usah sungkan". Mitsuki berpamitan dengan Saori dan Kanon. Dan Kanon sekali lagi menerima senyuman mengerikan dari Teru, sebelum akhirnya mereka pergi.

"Barang-barangku seharusnya sudah sampai hari ini..."

"Sudah, kok. Barang-barang Niisan sampai ke sini tadi pagi."

"Baguslah... Ayo cepat masuk."

Tangannya membuka gerbang rumah seperti yang dia lakukan ribuan, bahkan mungkin jutaan kali, sebelum ia pergi 3 tahun yang lalu. Sensasi besi di tangannya dan suara ketika gerbang itu terbuka mengirimkan gelombang nostalgia kepadanya.

"...aku pulang," bisiknya.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda!"

Dan tanpa disangkanya, bisikan itu mendapat jawaban dari puluhan pelayan yang menyambut mereka di pintu depan. Tangannya yang menggeser pintu rumah terjatuh lemas ke sisi tubuhnya. Pikiran, "Lagi!?" terlintas dalam benaknya.

Seorang pelayan lanjut usia―sang kepala pelayan, yang telah bekerja untuk keluarga Kamishiro bahkan sebelum ayah Mitsuki dan Teru lahir― berjalan mendekati mereka dan membungkuk hormat.

"Tuan besar tengah menunggu kehadiran Anda di ruang keluarga, Tuan muda..."

"Si kakek?"

Baaya ―Itulah panggilan Mitsuki dan Teru untuk kepala pelayan yang sudah seperti nenek kedua mereka― menuntun mereka ke ruang tamu. Setelah memberitahukan bahwa keduanya telah hadir, menggeser pintu, dan membungkuk hormat, Baaya meninggalkan ruangan.

Teru masuk dan segera duduk dalam posisi bersila di hadapan kakeknya, Kamishiro Sonosuke.

"Aku pulang, kek."

Kakeknya menyesap sake-nya sebelum membalas. "Selamat datang kembali, Teru... Dalam waktu 3 tahun yang singkat kamu banyak berkembang..."

Mitsuki, yang awalnya menetap di depan ruang keluarga, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kakak dan kakeknya sendirian.

"...Semakin dewasa, kau semakin seperti cerminan ayahmu..."

"Hee..." balas Teru, "jadi aku mirip dengan laki-laki yang menghilang begitu saja, meninggalkan keluarganya itu...?"

Langkah sang gadis terhenti. Dengan perlahan ia menoleh ke belakang, ke ruang keluarga yang tampak bercahaya putih dibandingkan dengan langit sore yang merah...

'Niisan... kau masih menyimpan dendam tentang itu...?'

.

.

.

Matahari telah terbenam sepenuhnya. Sekitar sejam telah berlalu sejak Teru dan Kakek Sono memulai pembicaraan mereka.

Mitsuki kembali mendatangi ruang keluarga, hanya untuk menemukan bahwa ruangan itu kosong.

"Baaya, kemana Ojiichan dan Niisan?" tanyanya kepada Baaya yang kebetulan lewat.

"Tuan muda sudah kembali ke kamarnya, sepertinya ia tengah merapikan barang-barangnya..."

"Kamarnya" berarti―

Sang gadis berterima kasih kepada kepala pelayannya dan bergegas menyusuri lorong mengarah ke kamarnya.

―Ya, jika ia tidak berganti kamar, maka kamar Teru masih berada di sebelah kamar Mitsuki.

Pintu kamar itu terbuka. Dan ketika sang gadis mengintip ke dalam, terlihatlah. Di antara kardus-kardus dan koper, seorang pemuda dengan pulas berbaring. Tampaknya Teru tertidur ketika tengah membereskan barang-barangnya.

Melihat ekspresi damai kakaknya, sebuah senyuman membentuk diri pada wajah Mitsuki. Ia berjalan ke kamarnya, lalu kembali dengan membawa selimut.

Berjongkok di sisi Teru, sang gadis pun menyelimutinya. Kemudian, ia berbaring di samping pemuda tersebut.

"Sudah lama kita tidak tidur seperti ini..." bisiknya kepada diri sendiri.

Kilasan masa lalu muncul satu per satu―Malam dengan badai dan kilat, saat Mitsuki kecil terlalu takut untuk tidur sendiri... Malam ketika gadis kecil itu bermimpi buruk... Ia akan selalu bergeser ke kamar Teru dan tidur bersama kakaknya.

Ia kembali tersenyum.

Kenangan lain muncul―Ketika Mitsuki baru menjadi siswa Sekolah Dasar, pada malam dengan badai dan kilat, pada malam ketika ia bermimpi buruk... Kini ia tidak mau merepotkan kakaknya. Sang gadis berusaha menelan rasa takutnya. Meskipun begitu, Teru akan membuka pintu geser yang memisahkan kamar mereka dan dia akan menemani adiknya yang ketakutan.

"Tenanglah, jangan takut, aku akan selalu melindungimu..."

Kata-kata sang kakak bergema di lubuk hatinya...

Mitsuki pun menutup mata.

'Selamat tidur, Niisan...'

.

.

.

.

"Gadis sialan itu, gadis sialan itu, gadis sialan itu... !"

Dinding di hadapannya seketika hancur.

"Sonata, kau boleh kesal... Tapi bisakah jangan dindingku yang kau hancurkan?" Seseorang mengatakannya dari sisi lain dinding tersebut.

Sang Succubus hanya diam mengatur napasnya.

Raksasa di balik dinding itu, monster laut yang dikenal sebagai Cetus pun mendekatinya. Berjongkok pun tidak cukup untuk menyamai tinggi mereka.

"Apakah kamu kesal karena dikalahkan oleh seorang manusia, atau karena Murasaki menyukai gadis manusia itu?"

Seharusnya ia tidak mengatakan kata-kata tersebut.

Amarah Sonata yang mulai mereda kembali mengamuk. Cosmo hitam bagaikan badai milik sang Succubus berkoar-koar, meretakkan dinding, langit-langit, dan lantai tempatnya berdiri.

"Hoi, hoi! Sudah kubilang jangan mengamuk di tempatku!"

Namun hal yang ditakuti Cetus malahan sesuatu yang berbeda, hanya masalah sepele.

"Kenapa Murasaki-kun memilih gadis manusia itu...? Aku tidak bisa melihat apa yang bagus dari dia!"

"Ya, ya... Aku mendengarmu, aku mendengarmu..."

Ekspresi Cetus menyatakan dengan jelas bahwa ia tidak tertarik pada curahan hati seorang gadis.

"Lagipula, gara-gara gadis sialan itu... Sekarang Murasaki-kun harus berada di ruangan "penjinakan"..."

Sonata menggertakkan giginya.

Untuk sekali itu, Cetus menyeringai. Sepertinya ia mulai tertarik.

"Jadi, karena itu...? Karena seorang manusia, dia dimasukkan ke ruangan itu, ya?"

"...Hei, Sonata, mau kubantu masalah percintaanmu ini?"

Ruangan itu yang dimaksudkan adalah ruangan gelap, dengan lubang kecil sebagai pencahayaan, yang memberikan cahaya merah pada "siang hari" dan cahaya biru remang pada "malam hari". Ruangan berisi alat-alat penyiksaan, Iron Maiden, Iron Boot, Head Crusher, Brazen Bull, Cat's Paw, mahkota besi dengan paku-paku untuk "mengebor" kepala korban, alat-alat siksaan ciptaan para Akumu sendiri, dan alat penyiksaan lainnya. Semuanya terkumpul dalam ruangan kotak itu.

Dan di ruangan "penjinakan" tersebut, Murasaki diikat pada rak yang digunakan untuk menarik tubuh manusia ke arah yang berlawanan, sampai tubuhnya terbelah dua. Tapi untuk saat ini, alat itu hanya digunakan untuk mengekangnya.

Tidak, tidak, Murasaki adalah pion yang terlalu berharga untuk dibuang begitu saja. Setidaknya, begitulah pemikiran pemimpin mereka―Medusa.

Bunyi cambuk memecah udara dalam ruangan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan sekali lagi, suara cambuk kembali memecah kesunyian. Seorang―atau seekor, yang memegang cambuk tersebut adalah makhluk yang rupanya seperti manusia, hanya saja ia memiliki ekor. Wajahnya dihiasi oleh senyuman yang menunjukkan kepuasan.

'Kali ini ia pasti kesakitan,' pikirnya.

Yang menjadi korban cambukan-cambukan itu, juga memiliki rupa manusia. Rambut ungu pekatnya, yang tampak berwarna hitam untuk sekilas, kini dihiasi oleh warna merah gelap. Tubuhnya dipenuhi luka cambukan, ada yang tampak baru... ada yang tampak lama...

Meskipun begitu, ia tetap tak bersuara.

'Gawat. Apa dia mati?'

Tidak, tidak. Tidak ada yang perlu dibicarakan pemuda itu, jadi dia memilih untuk diam. Seiring sang pemuda mengangkat kepalanya, wajahnya menampakkan ekspresi yang tidak cocok untuk seorang korban penyiksaan.

"6 jam penjinakkan, sepertinya sudah mau habis, ya..." katanya sambil menguap.

Itulah kata-kata pertamanya. Bahkan, seakan mengejek lawan bicaranya, ia mengatakannya dengan nada dan ekspresi santai.

Tidak mau menerima itu, si penjinak kembali mencambuknya. Ia menggertakkan gigi dengan kesal. Kenapa dia tidak tersiksa? Kenapa dia tidak tunduk? Pasti ada sesuatu yang bisa melenyapkan senyuman itu...

Sebuah ide muncul dalam pikirannya. Ah, ini pasti berhasil...

"Kamu boleh saja tampak santai seperti itu, Murasaki... Aku mau tahu sampai kapan kamu bisa seperti itu."

Murasaki mengerutkan dahi.

"Maksudku, kau tahu, 'kan? Tidak lama lagi... kamu tidak akan sendirian di ruangan ini. Aku mau tahu," Ia tertawa agar kata-katanya terdengar lebih dramatis, "bagaimana ekspresimu ketika aku menyiksa gadis manusia kesayanganmu itu?"

Setelah itu, tawanya makin membesar. Atau setidaknya, seharusnya begitu. Sebab sebelum ia bisa melakukannya, sebuah tangan telah mencengkram lehernya. Menahan segala udara keluar, maupun masuk.

Murasaki, dengan mudahnya, telah melepaskan tangan kirinya dari belenggu dan menyekik penjinak-nya.

"Kalau kau berani menyentuhnya, yang akan kupatahkan bukanlah lehermu saja." Murasaki mengencangkan cengkramannya, sebuah pandangan dan senyuman tak manusiawi muncul di wajahnya.

Dalam beberapa saat, cengkramannya bisa menghancurkan tulang leher lawannya.

"Hentikan."

Namun suara itu menghentikannya.

"Apa kamu benar-benar berniat untuk mengotori tanganmu hanya untuk membunuh satu Cercopes?" lanjut sang pemilik suara.

Sang Doppelganger menoleh, memperhatikan tamu baru mereka. Jubah hitam yang menutupi tubuhnya dari atas sampai ke bawah... itu pasti Shino.

Murasaki akhirnya melepaskan cengkramannya, dan sang Cercopes terbatuk-batuk―menarik napas dengan rakusnya.

Shino melangkah maju. "Aku kemari untuk menjemputnya. Waktu 6 jam-nya telah berlalu 34 detik yang lalu."

Sang Cercopes tidak menjawab, ia masih sibuk mengurusi rasa sakit yang menetap pada lehernya. Bahkan menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat sang Shinigami begitu menyakitkan.

"Ayo, cepat, Murasaki."

Ketika itu, ekspresi sang pemuda telah kembali seperti biasa―santai dan penuh sarkasme. "Ya, ya," katanya sembari melepaskan diri―dengan menghancurkan ketiga belenggu yang tersisa.

Tanpa memperdulikan Cercopes yang masih meringkuk di tanah, mereka meninggalkan ruangan tersebut.

Shino menyerahkan sebuah kemeja bersih kepada Murasaki, dan membiarkannya mengganti baju sembari mereka berjalan menyusuri lorong.

"Kuharap kamu sudah belajar untuk tidak melanggar perintah lagi."

"Hm."

"Kau beruntung. Tapi, keberuntungan itu juga akan habis pada waktunya."

"Ya..."

"...Apa kamu benar-benar mendengarkanku? Oi, Murasaki―"

Ketika berbalik, Murasaki tidak lagi berjalan di belakangnya. Pemuda tersebut berbelok ke lorong lain.

"Hei, kamarmu kan lewat sini?"

"Ya, tapi aku bukan mau ke sana."

Setelah mengatakan itu, Murasaki kembali menyusuri lorong satu lagi. "Kamu mau ikut?" Dia berhenti sejenak untuk menanyakan hal tersebut.

Hmm...

Tidak diperlukan pertimbangan panjang. Shino harus mengikutinya. Untuk berjaga-jaga agar kawan satunya itu tidak berbuat macam-macam dan kembali dilempar ke ruang penjinakkan.

Lorong itu kosong, hanya ada jendela di sisi kiri, menampakkan langit hitam dan tanah hitam di bawahnya. Lalu di ujung lorong tersebut, ada sebuah pintu. Dan di balik pintu itu, terdapat tangga melingkar ke atas. Tangga tersebut membawa mereka ke salah satu menara kastil. Jika ini Dunia Manusia, pemandangan yang terlihat dari tempat ini pasti menakjubkan.

'Manusia mendapat hiburan dengan melihat pemandangan dari atas. Aku tidak akan pernah bisa memahami mereka,' batin Shino.

"Yak,"

Shino berbalik ketika mendengar suara Murasaki. Sang Doppelganger melompat ke atas dan menangkap sesuatu, sebuah pintu kecil. Setelah membukanya, ia menarik dirinya ke atas dan dalam sekejap, ia sudah berada di atap.

'Untuk apa?' batin sang Shinigami.

Ia ikut melompat ke atas dan keluar melalui pintu tersebut.

Sekarang, yang ada di hadapannya, adalah sebuah pemandangan yang tidak dapat ia percaya.

Langit malam, dihiasi dengan bintang-bintang yang menyala redup. Di kejauhan, terlihat kota dengan gedung-gedung tinggi dan lampu berwarna-warni. Sang Shinigami memerhatikan sekelilingnya, mereka berada di semacam bukit.

"Dunia Manusia, huh..."

"Begitulah..." Murasaki menghempaskan tubuhnya ke belakang, membaringkan diri pada rerumputan.

Shino mengambil tempat duduk di sisinya dan bersama-sama, mereka menatap langit.

"Tak kuduga ada pintu tersembunyi yang menghubungkan kastil itu dengan Dunia Manusia... Apa ada pintu lain?" tanya Shino.

"Entahlah, dan aku tidak peduli... Asalkan aku bisa menggunakan pintu ini dan ke sini."

Shino mendesah pelan. "Kamu benar-benar menyukai Dunia Manusia, ya..." gumamnya.

"Tidak juga. Yang kusuka adalah..." Suaranya terhenti. Sebuah senyuman menghiasi wajah sang pemuda. Meskipun dipenuhi lebam dan bekas luka, ketampanannya masih terlihat dengan jelas.

"Berada di bawah langit yang sama dengan dia... Melihat bintang-bintang yang sama dengan dirinya..."

.

.

.

"Selamat pagi, Tuan Muda."

"Selamat datang kembali, Tuan Muda."

Langkah Teru diiringi dengan sapaan dari para pelayan. Untuk mempertahankan kesopanan, ia tersenyum dan mengangguk. Beberapa pelayan muda tersipu dan berlalu sembari cekikikan.

Sang pemuda memasuki ruang tamu. Tangannya meraih remote yang tergeletak pada meja dan menyalakan televisi. Walaupun mengganti-ganti channel, semua berita yang dilaporkan kurang lebih sama.

Fenomena misterius yang diberitakan sebagai bencana-bencana alam yang dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Mereka menutup sebelah mata pada fakta bahwa "bencana-bencana" yang mereka sebutkan itu terjadi hampir serentak di seluruh dunia dan fakta bahwa "bencana-bencana" tersebut dibarengi dengan kejadian-kejadian lain... pembunuhan misterius, orang-orang yang menghilang... Semuanya dicap sebagai "hanya kejadian alami" yang memiliki penjelasan "masuk akal", hanya untuk memuaskan ego mereka, hanya untuk menutupi ketidaktahuan mereka.

Layar televisi kembali hitam. Sang pemuda mendesah dan meletakkan remote tersebut kembali ke tempatnya.

"Baaya, bukankah seharusnya Mitsuki sudah pulang sekarang?" tanyanya kepada sang kepala pelayan yang memasuki ruangan.

Baaya meletakkan segelas teh ke meja dan menjawab, "Nona sudah pulang. Namun beliau langsung keluar untuk mengajak Shiro jalan-jalan..."

'Shiro? Ah, anjing yang dia pungut itu...'

"Biasanya mereka jalan-jalan ke mana?"

Mitsuki mengajak Shiro berjalan-jalan ke taman tempat ia bertarung dengan Succubus Sonata tempo hari. Meskipun begitu, sudah tidak tampak lagi tanda-tanda pertarungan tersebut pernah terjadi.

Tanah yang retak... Parit yang terbentuk pada undakan di sisinya... Lampu taman yang bengkok akibat hantaman Will-o'-the-wisp... Pohon yang tumbang...

Mereka telah memperbaiki semuanya.

Manik biru safir sang gadis menelusuri sekeliling taman. Semuanya benar-benar kembali seperti semula. Bahkan tidak ada miasma yang tersisa dari pertarungan tersebut di udara.

"Eh, Mitsuki? Kebetulan sekali..."

Mendengar seseorang memanggil namanya, sang gadis pun berbalik. Di belakangnya berdiri Seiya, Shun, Hyoga, dan Shiryu.

"Ah, selamat siang, Seiya-kun, Shun-kun, Hyoga-kun, Shiryu-kun." Ia menyapa mereka satu per satu.

Berbeda dengan Mitsuki yang tersenyum, Shiro mengambil posisi siaga. Telinga dan ekornya terangkat naik, ia mulai menggeram.

"Ayolah, Shiro! Apa kamu tidak mengingatku?" Seiya mendekati Shiro yang menggeram. "Hei, hei, aku yang melindungi majikanmu kemarin itu loh."

Secara logis, tidak mungkin anjing dapat memahami bahasa manusia sepenuhnya.

Seiya merentangkan tangannya kepada Shiro. Pada detik-detik pertama, Shiro telah menunjukkan taring anjingnya. Kemudian dia mengendus tangan Seiya, dan geramannya pun berhenti. Anjing putih itu duduk manis dengan lidah terjulur keluar dan menggoyang-goyangkan ekornya penuh semangat.

Dan dalam beberapa menit ia dan para Bronze Saint sudah bermain bersama.

Mitsuki duduk dan memerhatikan mereka bermain dari kejauhan.

"Apa kamu keberatan kalau aku duduk di sampingmu?"

Sang gadis menolehkan kepalanya ke samping dan tersenyum kepada sang pemilik suara. Ia menepuk kursi di sisinya, sebagai isyarat bahwa ia mengizinkan sang lelaki ―Gemini Kanon― duduk di sisinya. Dan Kanon pun duduk di sampingnya.

"Apa kamu juga ke sini untuk memeriksa keadaan taman ini?" tanya Kanon, tanpa menunggu jawaban dari sang gadis, ia melanjutkan, "Tapi... tak kusangka taman ini diperbaiki secepat ini... Dan tidak ada satu pun orang yang bertanya-tanya? Seolah-olah pertarunganmu dengan Sonata hanya sebuah mimpi saja."

Sebuah tawa pelan menyelinap keluar dari bibir sang gadis.

"...Sebenarnya aku senang bisa bertemu denganmu, Mitsuki."

Kata-kata Kanon berhasil mengalihkan perhatian sang gadis. Manik biru safirnya kini terpaku pada manik hijau Kanon.

Kanon mengacak-acak rambutnya, berusaha memaksa kata-kata yang ingin dia katakan keluar dari tenggorokannya.

"Gara-gara berteman dengan kami... Kamu jadi incaran Akumu. Kamu jadi terlibat dalam masalah ini... Aku ingin minta maaf―"

"Jangan."

Kali ini, Kanon lah yang mengalihkan pandangannya kepada kedua bola mata biru itu.

"Jangan meminta maaf, Kanon-san..."

Nada suara Mitsuki terdengar memohon, tapi tatapan matanya lurus dan tegas.

"Ba-Baiklah... Tapi, aku jadi kehilangan bahan pembicaraan."

Tatapan matanya melunak dan sebuah senyuman kembali menghiasi wajahnya.

"Kita bisa memikirkan sesuatu. Aku sadar, aku tidak tahu apa-apa tentang Kanon-san, maupun Saori-san, Seiya-kun, dan yang lainnya... Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam pikiranku."

"Tanyakan saja. Jika itu adalah pertanyaan yang bisa kujawab, akan kujawab."

Ia terdiam sejenak.

"Ngomong-ngomong, kamu memanggilku "Kanon-san" lagi, ya..."

Tangan Mitsuki langsung menutup mulutnya, matanya terbelalak ketika menyadarinya. "Oh, maaf! Tampaknya aku belum cukup terbiasa... Maaf, Kanon-kun."

"Sekarang kamu yang meminta maaf," Kanon terkekeh.

Mitsuki ikut tertawa. "Tindakanku berkontradiksi dengan perkataanku," candanya.

Untuk sejenak, keduanya tertawa bersama.

"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan tadi?" tanya Kanon.

"Hm... benar juga..." Mitsuki berpikir sejenak. Ia meletakkan tangannya di depan mulutnya, dengan sikap seolah bertopang dagu, ujung jaring telunjuknya menyentuh bagian bawah hidungnya. Melihat ini, Kanon mau tidak mau berpikir betapa mirip sebenarnya Mitsuki dengan Teru. Mereka benar-benar saudara, seperti kembar, bahkan.

Ah, ini tidak baik... Memikirkan tentang persaudaraan selalu membangkitkan perasaan mengganjal di hati sang lelaki.

"Gemini Kanon. Apa itu berarti, zodiak Kanon-kun juga Gemini?"

Untuk sekarang, ia harus menjawab pertanyaan sang gadis.

"Ya. Aku dan Saga lahir pada 30 Mei, jadi zodiak kami Gemini."

"30 Mei...? Ternyata lebih dekat dari dugaanku..." gumam Mitsuki.

"Lebih dekat? Dengan ulang tahunmu?"

Pada awalnya, kata-kata itu hanya dimaksudkan sebagai candaan. Namun, sang gadis mengangguk.

"Memangnya ulang tahunmu kapan?" Kali ini Kanon yang bertanya.

"Ulang tahunku... pada hari pertama rasi bintang kembar."

Senyuman sang gadis seolah mengatakan, "Apa kamu bisa menebak kapankah itu?"

"Hari pertama rasa bintang kembar," gumam Kanon. "Itu―"

"Wah, wah, lihat siapa yang sudah akrab?"

Kata-kata tersebut datang dibarengi hawa pembunuh yang amat kentara. Kanon langsung melompat ke dalam kuda-kuda siaga, bersiap untuk melindungi Mitsuki. Namun, ketika ia berbalik dan menemukan Teru "tersenyum" kepadanya... Untuk sesaat, dia berpikir mungkin sebaiknya ia bersiap untuk melindungi dirinya sendiri tadi.

"Niisan..." Mitsuki berjalan menghampiri kakaknya.

"Aku menunggumu pulang sekolah... Tapi ternyata kamu langsung pergi lagi." Kekesalan ―mungkin lebih seperti jengkel, terdengar dalam suaranya.

"Maaf," balas adiknya.

Teru mengelus kepala Mitsuki, "Aku tidak marah padamu."

Teru melirik ke samping. "Bocah-bocah itu juga ada, ya? Kebetulan sekali." Setelah mengatakan itu, ia mengalihkan pandangan kepada Kanon.

"Ada yang perlu kubicarakan dengan Saori. Kamu tidak keberatan mengantarku ke Mansion Kido, kan? "Kanon-kun"...?"

.

.

.

Setelah beberapa lama, mereka kini sudah berada di halaman depan Mansion. Perjalanan mereka sedikit terhambat karena terlebih dahulu singgah ke Kediaman Kamishiro, untuk mengembalikan Shiro ke kandangnya. Itu adalah kali pertama Seiya, Shun, Hyoga, dan Shiryu melihat rumah Mitsuki... dan mulut mereka ternganga lebar ketika melihatnya―Sebuah reaksi yang sering ditemui Mitsuki, namun tidak pernah berhasil terbiasa dengannya.

Entah sejak kapan, langit di atas mereka dilingkupi awan kelabu.

Tiupan angin perlahan bertambah kencang.

Lalu, terdengar suara percikan air―Suara jernih seperti lonceng, berbeda dengan bagaimana percikan air hujan seharusnya terdengar.

Sebagian dari mereka bertanya-tanya, apakah yang lain mendengar suara tersebut?

Tetapi, suara tersebut bukanlah pertanda baik. Sebab, dia datang bersamaan dengan suara itu.

Raksasa besar, monster laut yang dulu dikirim Poseidon untuk melahap Andromeda―Cetus.

Melompat keluar entah dari mana, tawanya menggelegar seiring dirinya meluncurkan diri pada kawanan tersebut.

"Gawat!"

Kelima Saint segera mengambil kuda-kuda siaga. Lalu, wajah mereka berubah pucat ketika menyadari keberadaan teman baru mereka, Mitsuki dan Teru.

Di antara kita semua, Teru lah yang berada dalam bahaya jika diserang...!

Setidaknya seorang dari mereka berpikir begitu.

Tawa Cetus kembali menggelegar, dan mimpi terburuk mereka menjadi kenyataan. Tinju monster laut tersebut terarah pada Mitsuki, yang berada di sisi Teru.

"Lari! Sekarang!" seru Kanon.

Ia ingat akan keberadaan "Kabut"―Tabir gaib yang menutupi wujud asli makhluk-makhluk supernatural, sehingga manusia fana melihat hal lain. Tapi, apakah yang dilihat oleh mata merah delima itu sebegitu tidak berbahayanya, sehingga ia tampak setenang itu?

Teru merentangkan tangannya ke samping―ke arah Cetus. Dan sama seperti ketika Mitsuki melawan Sonata, pada lengan kirinya muncul garis bercahaya yang tampak seperti sirkuit. Namun, yang muncul di ujung telapaknya bukanlah tameng... melainkan pusaran api.

"πύρρα χορός" bisiknya.

pýrra chorós, bisa diterjemahkan sebagai "Dansa Api".

Melawan monster laut, itu adalah tindakan bodoh. Cetus bisa dengan mudah mematikan api itu dengan menggunakan serangan airnya. Ya, andaikan itu api biasa. Sang raksasa mengerang seiring tubuhnya dilalap api, begitu keras sehingga tanah bergetar untuk sesaat. Tetapi, erangan tersebut pun perlahan menghilang... bersamaan dengan api yang lenyap, dan tubuh Cetus yang kini tinggal abu...

Para Saint terbelalak.

Shun mengingat betapa ia kesulitan untuk melawan Cetus saat pertama kali mereka bertarung. Tapi...

'Dia mengalahkan monster raksasa dengan begitu mudahnya, ia bahkan tidak meneteskan satu pun keringat... Orang ini, sebenarnya siapa!?'

"Jangan melihatku begitu... Kita beruntung karena punya elemen kejutan, karena itulah dia bisa kalah dengan mudah." Teru mengatakannya setelah menyadari pemikiran para Saint.

Kata "Kita" sedikit menenangkan mereka, sebab itu menandakan ia ada berada di sisi yang sama dengan mereka...

"Nah, ayo cepat masuk. Melihat serangan mendadak ini, sepertinya situasinya lebih parah dari yang kukira. Aku harus cepat mengantarkan itu kepada Saori."

.

.

.

"Maaf aku datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sayangnya, waktu bukanlah teman kita saat ini."

Sekarang mereka semua―Para Bronze Saint, Kanon, Mitsuki, Sophie, Henna, Teru, dan Saori telah berkumpul di ruang kerja Mansion Kido.

"Saya tidak keberatan, maupun terganggu. Jadi, apakah urusan genting ini?"

Sang Athena membalas dengan suara setenang air.

"Ini," kata sang pemuda sembari menyerahkan sepucuk amplop putih kepadanya.

Saori menerima surat tersebut, dan menelaah bagian luarnya sebelum membukanya. "Saya menduga, ini dari mereka?"

Teru mengangguk.

"Ah, begitukah..." Saori pun mengeluarkan isi surat tersebut dan mulai membacanya.

"...Sebenarnya apa yang terjadi, Saori-san...? Sebenarnya siapa "mereka" ini?" Seiya bertanya, "Lalu, bagaimana dia..."

Mata sang Pegasus beralih ke pemuda berambut perunggu di hadapannya. Ingatan singkat tentang bagaimana Teru memanggil pusaran api dan mengalahkan Cetus kembali berputar di otaknya.

"Itu... Bukan Cosmo, ya?"

"Memang bukan, yang kugunakan tadi adalah 「Mana」."

...?

Suasana tegang tadi seketika hilang seperti embun pagi, digantikan oleh kesunyian yang... canggung.

"Magical Energy―Kalau kukatakan begitu, apa kalian mengerti?"

Ah...

Teru melepaskan desahan panjang.

"Jadi, tadi itu... Sihir?" ucap Shiryu.

Tapi Seiya membalas, "Oh, ayolah... Sihir? Kau pasti bercanda."

Teru mendengus. "Kalian melawan monster, beradu dengan Dewa-Dewi, bertarung dengan menggunakan kekuatan yang di luar akal manusia... Tapi begitu dihadapkan dengan sihir, kau kesulitan menerima fakta bahwa sihir itu nyata? Pemikiranmu sempit juga."

Seiya sudah melangkah maju ke depan, siap menghantam wajah tampan pemuda itu dengan tinjunya, jika tidak untuk Shiryu yang berhasil menahannya.

Sang Saint naga menatap Teru. "..."Masalah" yang kamu katakan... itu tentang Akumu bukan? Bisakah kamu menjelaskan semuanya? Apa sebenarnya hubungan antara Akumu, sihir, dan "mereka" yang kalian sebut-sebut itu?"

Mata merah delima itu menelusuri sekeliling ruangan. Sepertinya semua orang memiliki permintaan yang sama dengan Shiryu.

"Baiklah," katanya. "Tapi, sepertinya aku harus mulai dari yang paling dasar, ya...?" Teru mengusap-usap bagian belakang kepalanya, berusaha menyusun penjelasan yang paling mudah dimengerti. "Jika tidak, kalian akan sulit mengikuti penjelasannya," tambahnya.

Kesepuluh pemuda dan Kanon berusaha untuk menerima kata-kata tersebut bukan sebagai sindiran.

Sebenarnya, mereka tidak perlu berusaha untuk melakukan apa-apa. Meskipun terlihat enggan pada awalnya, dalam seketika sikap Teru berubah. Ekspresinya berubah keras dan serius, tampak bagaikan ia tidak mengenal kejenakaan sejak ia lahir.

"「Mana」― Secara sederhana adalah energi, sama seperti apa yang kalian sebut Cosmo." Sang pemuda memejamkan matanya, membuat penjelasannya tampak lebih serius. "Cosmo, Mana, Ki, Qi, Prana, Ka, Chakra, Youki... Nama-nama mereka boleh saja berbeda, tapi mereka semua memiliki satu kesamaan―mereka adalah energi. Yang membedakan mereka hanyalah untuk apa mereka digunakan, penerapan mereka. Yah, ini hanya pendapatku sendiri, sih." Ekspresinya melunak dan sebuah senyuman kecil terbentuk dari bibirnya.

"Mana, seperti yang kubilang barusan, digunakan dalam sihir..." lanjutnya, "Magic―Sihir adalah kemampuan untuk mempengaruhi Dunia, internal maupun eksternal, menggunakan kekuatan yang tidak dapat dikomprehensi oleh manusia dengan merealisasikan 「Misteri」dan memanggil 「Keajaiban」."

...Lagi-lagi, tak ada respons. Sebagian besar dari mereka masih tampak berusaha keras untuk menerima penjelasan Teru barusan.

Ia pun mendesah. "Kalian pasti punya gambaran sendiri tentang sihir, kan? Pakai saja itu dan kita lanjutkan penjelasannya. Kalau tidak kita tidak akan kemana-mana dengan penjelasan ini."

Mata merah delimanya menelusuri ruangan. 'Tidak ada protes. Bagus.' Lalu, ia kembali menjelaskan.

Sihir dibagi menjadi dua, yang pertama adalah 「Divine Magic」. Seperti yang diimplikasikan namanya, ini adalah sihir yang hanya bisa dilakukan oleh 「Divine Entities」, seperti Dewa-Dewi dan Malaikat.

"Mungkin pertanyaan pertama kalian adalah... Apakah manusia atau orang-orang dengan darah Dewa mengalir dalam tubuhnya, seperti Demigod," Teru melirik Sophie, "bisa melakukan Divine Magic?"

"Jawabannya adalah tidak. Selama ia manusia, selama ia bukan sepenuhnya seorang Divine Entities, dia tidak akan bisa melakukan Divine Magic."

Yah, Divine Magic memiliki―apa yang mungkin bisa disebut sebagai "cabang turunan", yaitu Lesser Divine Magic. Pada umumnya berupa artefak, relik, atau objek lainnya yang diciptakan para Divine Entities tadi, pada tingkatan yang kurang lebih dapat dikendalikan manusia. Akan tetapi, bahkan bagi mereka yang memiliki darah Dewa yang pekat, butuh sebuah Keajaiban hanya untuk mengaktifkan Lesser Divine Magic ini.

"Bagaimana dengan reinkarnasi para Dewa-Dewi, ataupun Malaikat...?" Shiryu menyela penjelasan sang pemuda.

Teru tersenyum. "Pertanyaan bagus. Ketika turun ke Bumi, kekuatan mereka dibatasi sedemikian rupa sampai ke tingkat tertentu... Setidaknya sampai sekarang, belum ada catatan maupun rekaman titisan Dewa-Dewi yang menggunakan Divine Magic. Heh, mengingat konsekuensinya, itu berarti tidak ada yang cukup gila untuk melakukannya."

"Konsekuensi? Apa yang akan terjadi kalau manusia fana berusaha menggunakan Divine Magic?"

"...musnah. Mereka dihancurkan dari atom ke atom, satu per satu. Karena itu, aku sama sekali tidak merekomendasikan kalian untuk iseng dan mencoba-coba."

Kesunyian kembali menggantungi ruangan tersebut, kini lebih tegang dari sebelumnya.

"Kau bilang ada dua... lalu, apa sihir yang satu lagi?" tanya Kanon.

"「Mundane Magic」."

Dalam kata lain, sihir yang bisa digunakan oleh manusia fana. Sihir tersebut dibagi kembali menjadi dua, Psychic dan Magecraft.

"Kutebak, itulah yang kamu lakukan barusan?" Kanon kembali bertanya.

Pemuda berambut cokelat perunggu itu berbalik dan memandang sang Gemini, sebelum kembali menjelaskan. "Ya, yang kulakukan tadi adalah Magecraft... Magecraft memiliki bidang-bidangnya sendiri, tapi intinya, orang-orang yang meneliti dan mempraktekkan sihir itu disebut 「Magus」―Sepertiku, dan Mitsuki..."

Teru pun mengakhiri penjelasannya untuk sementara.

"Eeeh... Jadi, dari penjelasan panjang lebarmu barusan," kata Seiya, "Kau mau menjelaskan kalau sihir itu nyata dan kamu itu seorang penyihir?"

Untuk sesaat, tubuh Teru tampak bergetar, walaupun ia terlihat tetap santai, tangannya terkepal dan alisnya berkedut.

"Seiya-kun," Mitsuki yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat suara, "tolong jangan samakan kami dengan makhluk rendahan yang menyakiti orang tidak bersalah sehingga julukan monster tampak seperti sebuah pujian itu, ya~?" ucapnya dengan sebuah "senyuman manis". Mereka berusaha mengabaikan aura hitam yang meraung-raung di belakangnya.

Tepat saat itu, Seiya dan lainnya membuat sebuah catatan mental: "Ingat. Magus tidak suka disamakan dengan penyihir."

Yah, perselisihan antara penyihir dan Magus itu sendiri memiliki sejarah yang panjang. Dan itu merupakan sesuatu yang tidak ingin dijelaskan sang pemuda saat ini―

Lalu, Ikki mengingatkan mereka kembali akan apa yang sebenarnya berlangsung―sebelum komentar Seiya mengundang maut. "Aku tidak melihat apa hubungan antara penjelasanmu dengan situasi kita saat ini."

―Namun, harus tetap dilakukannya.

"Yah, itu ada hubungannya dengan mengapa sebelum saat ini, kalian tidak mengetahui tentang keberadaan Magus." Ia kembali menjelaskan, "Dalam dunia mistik, masa di Dunia ini dibagi menjadi dua―"

"Kami sudah tahu itu," potong Ikki. "Zaman Para Dewa dan Zaman Manusia, bukan? Zaman Manusia ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan Dewa-Dewi, monster, serta hal-hal mistik lainnya dianggap menjadi isapan jempol belaka. Benar begitu, 'kan? Lalu, apa hubungannya?"

Teru memejamkan matanya sejenak. "Ya, benar. Kalian mengetahui ini mempermudah penjelasanku..."

Memasuki Zaman Manusia, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, manusia lebih memilih untuk bergantung padanya. Para Dewa-Dewi, para monster, sihir, semuanya dikesampingkan dan diperlakukan hanya sebagai cerita yang orang tua akan ceritakan kepada anaknya agar mereka berlaku baik. Tetapi, seberapapun manusia menolaknya, walaupun mereka terus menganggapnya 「tidak nyata」, tak akan merubah kenyataannya... kalau mereka ada. Nyata. Berada di antara kita.

Terus... Terus mengawasi...

"Saat itu, sekelompok pengguna sihir menciptakan sebuah peraturan. Sebuah "kode etik" kalian boleh bilang..."

"Untuk tidak pernah menyakiti manusia hanya demi sihir, untuk tidak pernah melibatkan orang-orang yang seharusnya tidak terlibat. Untuk melindungi umat manusia dari misteri yang mereka tidak siap ketahui."

Teru dan Mitsuki mengatakannya pada saat yang bersamaan, meskipun mereka tidak merencanakan maupun berlatih sebelumnya.

"Akan kusederhanakan untuk kalian, mereka yang mengikuti kode inilah yang disebut 「Magus」 dan mereka yang tidak adalah apa yang kalian kenal sebagai 「Penyihir」."

"Para Magus terus melindungi umat manusia sepanjang sejarah dari balik bayangan... Tapi mereka tidak bisa melakukannya seperti itu selamanya. Untuk benar-benar melindungi umat manusia dari hal-hal supernatural yang lebih baik mereka tidak ketahui, para Magus harus terorganisir."

Dan dengan begitu, terlahirlah organisasi para Magus. Organisasi yang melestarikan sihir, menjaga kerahasiaannya dari manusia fana, dan melindungi manusia dari misteri-misteri yang ada di Dunia ini.

Mageia―Organisasi yang mengendalikan segala Sihir di Dunia ini.

"Walaupun markas mereka tersebar di seluruh Dunia, markas pertama dan utama mereka berada di―"

"Avalon, kutebak?" ucap Kanon.

"...Ya. Dan ironisnya, nama "Avalon" menjadi sama artinya dengan "Mageia", bahkan lebih populer..." candanya. "Dan dari sanalah surat ini berasal."

Sang pemuda menunjuk surat yang kini berada di tangan Saori.

"Berarti benar, masalah yang kau sebut adalah tentang Akumu..."

"Ya." Mata Teru dan Saori bertemu, dan mereka menatap satu sama lain dalam-dalam. "Aku hanya menyampaikan pesan untukmu... Awalnya permasalahan Akumu ini adalah urusan antara Anda dan Medusa. Tapi, sekarang manusia tidak berdosa telah tertarik ke dalamnya... Karena itu, kami tidak bisa mendiamkannya lagi. Kami menawarkan bantuan― Tidak, kami mengajak Anda, reinkarnasi Athena, Kido Saori, untuk bekerja sama dengan kami untuk menangani permasalahan ini. Dan, maaf, tapi Anda tidak mempunyai hak untuk menolak."

Entah disengaja atau tidak, namun suaranya menyimpan nada bagaikan ancaman.

"Bagaimana, apa kamu bersedia bekerja sama, Saori?" tanya Teru dengan senyuman cerah.

"Jangan bercanda!"

Namun, yang menjawab bukanlah Saori, melainkan Seiya.

"Apa? Kamu― Kalian masih tidak bisa mempercayaiku?" tanya Teru.

"Benar sekali. Kalian bilang kalian melindungi umat manusia... Lalu kemana kalian ketika Poseidon hampir menenggelamkan Bumi, atau ketika Hades hampir membunuh seluruh umat manusia dengan Greatest Eclipse!?"

Teru diam mendengarkan amarah Seiya dengan ekspresi tenang. Dan ketika sang Pegasus selesai, ia pun berkata, "Apa kalian menonton televisi?"

"Eh?"

"Televisi... acara berita, apa kalian menontonnya?"

"T-Tentu..."

Teru mendengus. "Air bah yang menenggelamkan seluruh dunia, gerhana matahari pembawa kematian... Pernahkah, sekali pun, mereka membahasnya?"

Semuanya terdiam. Sebab mereka tahu jawabannya, tidak pernah. Tidak sekalipun.

"Bencana paling mematikan yang bisa menghancurkan Bumi beserta isinya, tapi tidak ada yang memberitakannya... Apakah kalian tidak menganggapnya aneh? Terutama pada zaman teknologi ini."

"Jangan bilang... Kalian menutupinya?"

"Hmm, "menutupi" mungkin bukan kata yang tepat. Sepanjang pengetahuan manusia, kejadian-kejadian ini tidak pernah terjadi."

"Kita semua memiliki peran masing-masing yang harus kita jalankan." Teru kembali menjelaskan, "Walaupun kalian berjuang untuk mengakhirinya, kenyataan bahwa banjir tersebut telah melanda dunia dan gerhana tersebut telah terjadi tidak berubah. Selama kalian bertarung untuk menghentikannya, kami melindungi manusia yang kalian berusaha lindungi itu, agar mereka tidak musnah, sebelum kalian berhasil menyelamatkan Dunia."

Perhatian mereka semua terpusat pada Teru. Karena itulah, tidak ada yang menyadari seseorang meninggalkan ruangan tersebut. Mitsuki, tanpa suara membuka pintu dan berjalan keluar.

Yang menyadari kepergiannya hanyalah kedua sahabatnya, Henna dan Sophie. Melihat temannya pergi begitu saja, secara instingtif, Sophie berniat untuk mengejarnya. Namun Henna segera menghentikannya. Ia memberi isyarat sunyi kepada sang Putri Poseidon, lalu melirik ke sisi lain ruangan. Sophie mengikuti arah pandangannya, dan melihat Kanon berjalan mendekati pintu.

Kanon juga menyadari Mitsuki meninggalkan ruangan. Meskipun, kemungkinan besar, masih ada yang akan Teru jelaskan setelah ini, ia lebih memilih untuk mengikuti sang gadis.

'Hanya untuk mengecek keadaannya.' Setidaknya itulah yang ia pikirkan.

Selama sebagian besar penjelasan tadi, sang gadis hanya berdiam diri. Kanon sesekali melirik Mitsuki, dan menemukannya tertunduk, tanpa senyuman yang biasa menghiasi wajah gadis tersebut. Selama ini, hanya ada satu ekspresi Mitsuki yang para Saint ketahui―Senyuman.

Jika seseorang yang selalu tersenyum tiba-tiba berhenti tersenyum, tentu saja orang akan menganggapnya aneh.

Lagipula, jika Mitsuki meninggalkan ruangan di tengah penjelasan Teru, berarti Teru telah selesai menjelaskan hal-hal yang penting dan perlu diketahui oleh para Saint. Lagi-lagi, setidaknya itulah yang ia pikirkan.

Mungkin saja, ia hanya mencari alasan untuk membenarkan tindakannya mengikuti sang gadis.

Kanon berjalan menyusuri lorong, tapi sosok sang gadis tidak kunjung terlihat. Mansion Kido luasnya bukan main, Kanon sendiri tidak malu untuk mengakui kalau dirinya masih tersesat sesekali. Tapi, dalam selang waktu yang singkat antara Mitsuki keluar dari ruangan dengan Kanon keluar dari ruangan, tidak mungkin gadis itu pergi jauh, bukan?

Wahai bunga bersemi

Ah, kumohon beritahu diriku

Mengapa manusia menyakiti sesama, tak hentinya bertikai?

Saat itulah ia mendengarnya.

Di lorong yang sunyi itu, nyanyian tersebut seolah bergema.

Dengan suara tersebut sebagai panduan, Kanon pun menemukan Mitsuki sedang bernyanyi di salah satu balkon Mansion Kido.

Sang Gold Saint menunggu gadis tersebut berhenti menyanyi sebelum berjalan mendekatinya.

"Tidak kusangka, kamu juga bisa membuat wajah seperti itu," katanya.

Sang gadis berbalik menghadapnya.

Kanon tersenyum kecil, dan akhirnya sang gadis membalas senyumannya.

"Nah, itu Mitsuki yang kita kenal." Ia terkekeh.

"...Apa Kanon-kun tidak marah? Aku meminta kalian memberitahuku rahasia kalian, tapi aku sendiri menyimpan rahasia dan... Sejujurnya, aku tidak berniat memberitahu kalian."

"Hmm..."

Kanon berdiri di samping Mitsuki. Sikunya bertumpu pada balkon, lalu ia menengadah menatap langit.

"Sejujurnya, kami― Setidaknya aku, tidak berniat untuk memberitahumu juga... Sama seperti "kode etik" kalian Magus, kami juga tidak mau melibatkan orang luar dalam pertempuran kami. Tapi, meskipun kami merahasiakannya, marabahaya tetap saja mendatangimu. Karena berteman dengan kami, Akumu menjadikanmu target mereka juga."

Mitsuki kembali diam mendengarkan penjelasan Kanon.

"Intinya... Kita sama-sama menyimpan rahasia. Anggap saja kita sudah impas, bagaimana?"

"Baiklah," jawabnya sambil tersenyum.

Keduanya melemparkan senyuman kepada satu sama lain, lalu kembali diam. Mereka hanya berdiri di sana dan menikmati angin semilir yang berhembus.

...Sebenarnya, masih ada yang belum Mitsuki katakan kepada lelaki tersebut. Setelah menjelaskan maksud mengapa ia kembali ke Jepang, Teru telah memberitahu adiknya apa langkah mereka selanjutnya. Setelah menemui Saori, langkah selanjutnya adalah... pergi ke Sanctuary. Namun, sang kakak juga menyuruhnya untuk merahasiakan hal ini dari siapa pun―termasuk Sophie dan Henna. Saori juga pasti akan mengetahui tentang hal ini dari surat yang ia terima―Sang Athena pasti akan memberitahukan hal ini pada Saint-nya. Yang berarti, Kanon juga akan mengetahuinya nanti. Tapi―

Mitsuki melirik lelaki di sampingnya.

'Apa sebaiknya aku memberitahu Kanon-kun...?' batinnya.

Sang gadis, sebenarnya, enggan pergi ke Sanctuary. Sebab hari keberangkatan mereka, akan bertepatan dengan hari itu. Hari yang tidak ingin diingatnya, namun hari yang tidak bisa―tidak boleh dilupakannya...

Kanon menyadari tatapan Mitsuki dan menoleh. "Ada apa?"

"Oh, bukan apa-apa." Sang gadis kembali tersenyum. "Aku hanya berpikir, sepertinya Niisan masih akan lama di sini... Tapi, aku sudah ingin pulang ke rumah..."

"Oh? Mau kuantar lagi?" Kanon menyeringai.

Mitsuki tertawa kecil. "Nanti Niisan akan marah dengan Kanon-kun lagi..."

Kanon ikut tertawa. "Wah, ternyata kamu tidak sepolos yang kuduga."

Sang gadis hanya bisa memiringkan kepala...

.

.

.

.

Tirai malam telah dibuka. Teru sudah pulang sejak tadi sore. Sisa dari hari mereka biasa-biasa saja. Mandi, makan malam... Sekarang sang pemuda tengah terlelap di kamarnya, berlawanan dengan adiknya yang kini terjaga.

Mitsuki menggeser buka pintu kaca yang memisahkan bagian dalam rumah dengan kebun, lalu mendongak menatap langit―Sesuatu yang menjadi kebiasannya sejak sebulan lalu.

Sang gadis mendesah perlahan.

"Hari ini bulannya indah, ya?"

Sebuah suara merusak kesunyian malam.

Mitsuki menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang pemuda duduk bertengger pada dahan pohon sakura di kebunnya. Sang Doppelganger, Murasaki.

"Yah, walaupun sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa kamu lebih indah dari bulan..."

Sang Doppelganger tersenyum kepada sang gadis.

Sang gadis langsung memasuki mode siaga. Matanya menatap tajam musuh di hadapannya.

"Aah, jangan menatapku seperti itu... Aku bukan ancaman, kok. Lihat, buktinya pelindung rumahmu tidak bereaksi. 'kan?" katanya lagi.

"...Kamu tahu tentang kekkai yang melindungi rumah ini?" tanya sang gadis dengan nada terkejut.

"Tentu saja aku tahu." Murasaki menjawab sambil tersenyum. "Dan tampaknya kekkai ini tingkat tinggi, ya...? Bukan menyingkirkan semuanya, tetapi menghalau hanya yang berpotensi menjadi ancaman, kah...?"

Sang pemuda kembali menatap ke bawah, ke sang gadis. "Meskipun begitu, lihat, aku masih bisa masuk. Ini membuktikan bahwa aku bukanlah ancaman, bukankah begitu?"

"Kamu tahu banyak tentang sihir..." balas Mitsuki.

"Ya, dan aku tahu lebih banyak lagi tentangmu, Dewi." Ia melanjutkan, "Kudengar kamu akan ke Sanctuary...?"

Seketika, wajah sang gadis berubah sepucat mayat. "Kalau kamu mengetahui itu, berarti Akumu juga―"

"Tidak, mereka tidak tahu. Dan aku juga tidak berniat memberitahu Medusa..."

Sang pemuda memberikan senyuman tulus kepada gadis yang seharusnya adalah musuhnya.

"Sebenarnya, itulah alasanku datang ke sini. aku harus bertemu denganmu, bagaimana pun juga, sebelum kamu pergi."

Manik amethyst-nya bertemu dengan manik biru safir sang gadis.

"Dewi, apa kamu mau berkencan denganku?"


「つづく。。。」

Wina: Wahaha, lebih baik saya kabur sebelum ada yang mengamuk~ *Author kabur dari TKP*
Camus: Chapter kali ini... cukup panjang, ya... (6,998 words, itu untuk cerita-nya saja)
Milo: Si Doppelganger itu nekat juga! Ngomong-ngomong, gadis berambut merah!? Itu Shizen, ya!? Waaiii, Shizen! Pantesan si Wina ngundang kita! *Milo kegirangan*
Camus: Kata kuncinya adalah "kita", Scorpio Milo...
Milo: Shizen~! *melambaikan tangan*
Camus: Ugh, a-ayo... kita balas review saja... Nazo-sensei
? : Tidak kusangka, bahkan kamu juga memanggilku begitu, Aquarius Camus...

#Gianti-Faith
Milo: Oh, si Mitsuki baik-baik aja kok, Soph. Keep calm aja
Camus: Lebih banyak yang mengomentari tentang hubungan Murasaki dan Mitsuki, padahal pairing sebenarnya...
? : Yah, kita harus menyalahkan sang penulis untuk itu *Sigh*
Milo: Makasih review-nya! *peace sign*

#Shimmer Caca
Mitsu: Aku baik-baik saja kok, Shizen-chan *Senyum malaikat* Ah, dan Wina-chan minta maaf karena seenaknya memasukkan Shizen... walau, hanya sebagai...
? : *berbisik ke Camus* Ide bagus, menggantikan Scorpio Milo dengan Kamishiro Mitsuki
Camus: Yah, aku tidak mau dia membuat kehebohan di sini...
Mitsu: Hmm... diburu kapan saja, ya...? *Senyum* Kalau berani datang saja. Akan kuladeni dengan senang hati.
ALL: *mundur 10000 langkah*
Wina: *nongol* Ngomong-ngomong~ Gimana Teru-nya~? Cukup disorot, kan? Ahaha. Dan, kalau Kanon yang menyelamatkan Mitsu, ya? Hm hm... sebenarnya~ Ah, tapi itu untuk Chapter yang akan datang jauh di masa depan(?)
Camus: ...karena itu kah kamu memilih Seiya sebagai penolongnya, bukan Kanon?
Wina: Gimana, ya~

#yuukanda92
Wina: Next telah tiba :3
? : Setelah 3 bulan
Wina: Ugh..

#Tsuki
Wina: Terima kasih sudah membaca, dan sekali lagi, Author minta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa Update lebih cepat

Sekian~

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seperti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Seperti biasa, maaf karena hiatus panjang saya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~