"Hampir saja aku terlibat bentrok dengannya karena dia memberiku kue tart berbentuk love dengan cream berwarna merah muda. Apa dikira aku gadis murahan yang bisa dibuat kegirangan dengan kue tart semacam itu? Tsk! Dia pria yang tidak punya selera tinggi, Hyung." sambung Chang Min tanpa melihat situasi dan kondisi yang tengah berlangsung.
Jae Joong kehabisan kata-kata. Wajahnya pun memucat seketika.
"Kue tart berbentuk... love?"
Title : LOVE TRIANGLE
Pair : Homin × Yunjae
Rate : T (sementara waktu)
Genre : Romance comedy
Length : 3 of ?
Disclaimer: HoMin milik Tuhan, orangtua mereka, dan juga para Cassiopeia. Author hanya meminjam namanya saja! TYPOS! Tidak suka pair HoMin, silakan menyingkir!
~HOMIN~
《Chapter 3》
.
.
.
Sepanjang jalan Jae Joong menghabiskan waktu untuk melamun. Tidak jarang ia harus berurusan dengan para pengguna jalan lain karena menjalankan motornya dengan seenaknya. Tidak memberi peringatan ketika berbelok, atau menyalip kendaraan dalam keadaan tidak memungkinkan, menjadi alasan kuat ia harus berurusan dengan pengguna jalan lain yang memilih bermain mulut untuk mencacinya.
Alasannya cukup sederhana... Shim Chang Min.
Sejak Chang Min mengatakan Yun Ho memberinya kue tart berbentuk love, Jae Joong menjadi berpikiran negatif. Mungkinkah Chang Min berniat menantangnya untuk berlomba merebut perhatian Yun Ho?
Jelas-jelas Chang Min tahu, sejak pertemuan pertama pun ia sudah tertarik pada Yun Ho. Secara detail dan gamblang bahkan ia sudah memberikan alasan mengapa ia bisa tertarik dengan bos dari toko kue tersebut. Namun mengapa Chang Min seolah menantang dan meremehkannya?
~ckiiit~
Jae Joong menepikan motornya saat penat tidak mampu lagi ditolak. Setelah melepas pelindung kepala berwarna hitam miliknya, Jae Joong mengusap wajahnya berkali-kali dan mencoba mengenyahkan pemikiran buruk yang sempat singgah.
Sejauh ia mengenal Chang Min, Chang Min tidak pernah mengkhianati seorang teman. Walau dari luar terlihat ketus dan dingin, tapi Chang Min adalah pria yang setia, penyayang, jujur, dan penuh perhatian. Ia sangat yakin, Chang Min tidak bermaksud memamerkan keunggulan kue tart yang diberikan Yun Ho semalam. Mungkin hanya dirinya saja yang terlalu sensitif dan tidak bisa mengontrol emosi.
Sebaiknya ia meminta maaf pada Chang Min atas pemikiran buruknya tersebut.
.
.
.
.
.
Yun Ho tengah merapikan tempat tidurnya saat Ji Hye masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu atau meminta izin terlebih dahulu. Tanpa diminta Ji Hye lantas mendudukkan diri di kursi belajar yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat Yun Ho berdiri saat ini. Dengan menyilangkan kedua kakinya dan tangan bersedekap di depan dada, gadis itu menatap Yun Ho seperti seorang penyelidik kepolisian yang tengah melakukan interogasi pada tersangka pembunuhan berantai.
"Ada yang salah, Hye-ya?" tanya Yun Ho setelah memastikan penampilannya yang mengenakan kaos o-blong putih dan celana pendek selutut tidak ada masalah.
"Tidak, Oppa."
"Lalu kenapa kau memandangku seperti itu?"
"Hm. Haruskah aku menjawabnya?" Ji Hye tertawa untuk mempermainkan Yun Ho sebelum memberi penjelasan, "Bukankah Shim Chang Min sangat manis, Oppa? Aku menyukainya."
Yun Ho tersentak. "Menyukainya?"
"Tsk! Bukan menyukai sebagai seorang gadis pada seorang pria. Lebih kepada seorang adik pada kakak iparnya. Kau mengerti maksudku, 'kan?"
Tercatat Yun Ho memiliki IQ superior ketika menginjak bangku Senior High School beberapa tahun lalu. Namun untuk menjawab teka teki dari Ji Hye, ia membutuhkan waktu hampir dua menit untuk berpikir. Ia pun lantas tertawa setelah menemukan jawaban dari teka teki tersebut.
"Kau tidak dengar waktu dia mengatakan sudah memiliki kekasih?" tanya Yun Ho mencoba membawa Ji Hye pada kejadian tadi pagi saat Chang Min mendatanginya untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. "Dia sudah mempunyai kekasih, Hye-ya."
"Apa itu jadi penghalang? Kulihat tatapanmu padanya sedikit berbeda. Seperti orang yang sedang kasmaran saja," balas Ji Hye dengan yakin. "Jika memang suka, mau dia sudah menikah pun tidak akan menjadi masalah, Oppa. Aku mendukung selama kau bahagia. Jujur saja, aku malu pada teman-temanku. Kau terkenal tampan di kalangan teman-temanku, dan kau belum memiliki kekasih sejak aku mampu mengingat kenangan masa kecilku? Memalukan."
Yun Ho memilih mengakhiri pembahasan yang mulai tidak jelas, kemudian membaringkan diri di ranjang kebesarannya. Setelah menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut hitam tebal, ia pun mulai menutup matanya dan bersiap tidur. Namun ucapan Ji Hye kembali memaksanya untuk berjaga.
"Kudengar dari Wokkie, ada satu lagi pria yang datang bersama Chang Min. Apa dia juga semanis Chang Min?"
Yun Ho mengangguk. "Sama manisnya."
"Lalu, apa kau memiliki perasaan padanya selain perasaanmu pada Chang Min?"
Yun Ho memiringkan kepalanya untuk memandang Ji Hye yang masih belum menyerah menyerang kehidupan pribadinya. Selama Ji Hye tidak merugikan, ia akan mendengar saja celotehan adiknya yang lebih banyak menuntut agar ia segera memiliki seorang kekasih. Namun tidak untuk menurut. Hidupnya adalah miliknya. Segala keputusan dan pilihan yang ada dalam kehidupannya adalah urusannya. Tidak ada satu orang pun yang berhak ikut campur, meski Ji Hye sekali pun.
"Perasaan apa yang kau bicarakan?" tanya Yun Ho pada Ji Hye. "Orang yang datang untuk menikmati kue di tokoku hanyalah pelanggan, tidak lebih. Aku memperlakukan mereka dengan hormat dan ramah. Apakah sikap semacam itu bisa dikategorikan sebagai sebuah perasaan? Begitu juga dengan Chang Min dan temannya, Jae Joong. Aku menganggap mereka hanya pelanggan, tidak lebih. Aku memperlakukan mereka sebagai pelanggan, tidak lebih. Dalam konteks kerja, kau boleh saja mengaitkan mereka denganku. Tapi di luar itu, rasanya hal seperti itu tidak lagi berlaku."
Penjelasan Yun Ho menciptakan tawa sinis bagi Ji Hye. "Lalu seorang pemilik toko berhak menunjukkan wajah tidak suka saat adiknya menyabotase pelanggan? Tidak, 'kan? Apa berhak pemilik toko marah-marah seperti tadi pagi hanya karena adiknya mengajak pelanggan sarapan bersama? Tidak, 'kan? Kau sangat lucu, Oppa. Padahal aku memperlakukan Chang Min sebagai pelanggan, tidak lebih." Kembali ia menambahkan, "Jangan munafik seperti itu, Oppa. Saat ini mungkin bagimu mereka adalah pelanggan. Tapi tidak ada orang yang tahu dengan hari esok."
Puas mengeluarkan keluh kesahnya, Ji Hye meninggalkan Yun Ho seorang diri. Yun Ho mendesah saat memastikan kamarnya kembali hening seperti sedia kala, sebelum Ji Hye datang dan mengganggunya dengan analisis yang menurutnya tidak penting.
Ya, baginya Chang Min dan Jae Joong adalah pelanggan semata. Tidak ada yang spesial dari keduanya. Walau ia pun tidak akan mengelak jika dituduh memperlakukan kedua pelanggan tersebut sedikit berbeda. Dengan memberi keduanya kue yang tidak habis dijual misalnya. Jelas hal tersebut adalah perlakuan yang sedikit istimewa. Namun sedikit pengecualian untuk Chang Min yang gemar membuat bibirnya menyunggingkan senyum simpul yang tidak mampu ia sadari. Ia tidak ingin Chang Min hanya sekadar menjadi pelanggan. Bersahabat, rasanya tidak masalah.
.
.
.
.
.
Chang Min mengusap perutnya yang melilit karena lapar. Setelah menghabiskan waktu tiga jam untuk lembur, akhirnya ia bisa pulang dan berbaring di kasur lantainya yang selalu hangat saat musim apa pun. Tanpa sempat mandi atau berganti baju, ia berniat terbang ke alam mimpi andai saja Jae Joong tidak nyelonong masuk ke rumahnya tanpa permisi. Satu yang menarik perhatian Chang Min adalah rantang makanan berbahan aluminium yang dibawa Jae Joong.
"Aku tahu kau belum makan. Jadi aku membuat Ramen untuk kita," jelas Jae Joong, duduk bersila di lantai. "Duduklah dan makan! Setelah makan, kau boleh tidur."
Chang Min menuruti saja perintah Jae Joong. "Ada angin apa kau membawa makanan ke sini?" tanyanya curiga. "Kau tidak berniat meminjam uang perusahaan atas namaku lagi, 'kan?"
Secepat kilat Jae Joong memukul kepala Chang Min dengan sepasang sumpit yang ada di tangannya. Chang Min meringis sakit, tapi Jae Joong tidak lantas peduli. Justru ia memaksa Chang Min untuk menerima sumpit yang menjadi barang bukti atas penganiayaan yang baru saja terjadi.
"Makan dan jangan cerewet!" titah Jae Joong yang mendahului Chang Min memakan Ramen langsung dari tempatnya. "Aku akan membawakan makan malam dan sarapan setiap hari jika kau bersedia menjadi simpatisanku."
Dahi Chang Min berkerut aneh. "Simpatisan?"
"Iya."
"Kau mau mencalonkan diri jadi Presiden, huh?"
Untuk kesekian kalinya Jae Joong harus bersabar. "Kau pikir aku sudah gila," jawabnya tidak memberi kepastian.
"Lalu? Simpatisan apa?"
Jae Joong mendengus sebelum meletakkan sumpit ke pangkuannya. Ia menatap Chang Min dengan serius. "Aku minta maaf," lanjutnya semakin membuat Chang Min penasaran.
"Untuk?" Tidak bosannya Chang Min bertanya, membuat Jae Joong ekstra bersabar. "Aku tidak ingat kau membuat kesalahan padaku," imbuhnya.
Jae Joong menggeleng beberapa kali, sedikit prihatin dengan kinerja otak Chang Min yang begitu lamban. Entah Chang Min yang terlalu naif dan polos, atau dirinya yang membesar-besarkan masalah sepele. Yang pasti ia datang untuk meminta maaf atas pemikiran buruknya pada Chang Min sepanjang hari ini.
"Yang penting aku sudah minta maaf," jawab Jae Joong pada akhirnya. "Sudah, makanlah! Keburu dingin."
"Baiklah, aku memaafkanmu."
Chang Min melahap Ramen yang dibawa Jae Joong dengan semangat. Berbahagialah dirinya karena Tuhan selalu mendengar rontaan dari perutnya yang sedikit sixpack tersebut.
"Chang Min-ah."
"Ng."
"Tolong doakan aku, ya!"
"Kau belum mati, jadi tidak perlu didoakan," sahut Chang Min dengan asal. Berakhir ia mendapatkan pukulan kecil lagi di kepalanya. "Yak! Jangan memukul kepalaku! Aku takut menjadi bodoh sepertimu!"
"Salah sendiri," gerutu Jae Joong tidak mampu menyembunyikan kekesalannya. "Doakan aku! Aku akan mengejar cinta Jung Yun Ho mulai detik ini. Kau harus menjadi simpatisan pertamaku, oke!"
Hening.
Jae Joong yang penasaran tidak ada tanggapan sama sekali dari Chang Min, mencuri lihat ke arah Chang Min. Didapatkannya ekspresi bodoh Chang Min yang dengan cepat membuatnya merasa penasaran. Sepertinya tidak ada yang salah dengan ucapannya.
"Kau tidak mau memberiku semangat, Min-ah?"
"Ah! Apa aku harus melakukannya?" Chang Min balik bertanya dengan bodoh. "Dengan begitu aku menjadi simpatisan hubungan cintamu dan Jung, begitu? Kenapa aku seperti orang aneh, ya?"
Chang Min kembali melahap makanannya tanpa memedulikan Jae Joong yang masih syok mendengar jawabannya.
"Aish! Kau itu menyebalkan," sindir Jae Joong merajuk.
"Menyebalkan tapi tampan. Tolong garis bawahi bagian itu," pinta Chang Min menekan kalimat yang diucapkannya.
"Yakin kau tampan?"
Chang Min melotot sinis. "Kau meragukan tingkat ketampananku?" desisnya tajam.
Tawa jahat Jae Joong senantiasa menguar. "Lihat caramu memegang sumpit! Lihat caramu duduk!" perintahnya mutlak.
Dengan patuh Chang Min kembali menurut. Caranya memegang sendok biasa, tidak ada yang spesial. Begitu pun cara duduknya. Lalu masalahnya apa?"
"Kenapa? Kau tidak juga menemukan kesalahan dari caramu duduk dan memegang sumpit?" tanya Jae Joong yang diangguki Chang Min. "Apa ada pria tampan yang duduk dengan cara melipat kaki ke belakang seperti itu? Apa ada pria tampan yang memegang sumpit dengan gaya melambai seperti itu? C'mon, Min-ah, kau itu tampak manis sekali. Tidak ada kesan tampannya sama sekali. Kau manis, Tae Min pun manis. Sepertinya dunia per-uke-an sedang diuji oleh Tuhan."
Chang Min tidak mampu berkata-kata. Pujian Jae Joong begitu menusuk tepat ke belahan dadanya yang sedikit terbuka. Sakit sekaligus geli. "Hahahahahaha. Lucu," komentarnya dengan tawa sumbang dan ekspresi datar.
Inginnya memancing emosi Chang Min, nyatanya Jae Joong tidak berhasil untuk kali ini. Namun ucapan Jae Joong didasari dari dalam hati. Chang Min memang tidak pantas disebut tampan. Lebih tepatnya manis, semanis gula alami, non-buatan. Jae Joong sendiri merasa heran. Dengan wajah semanis itu, bagaimana bisa Chang Min memegang posisi seme?
"Min-ah, apa kau benar-benar menyukai Tae Min?"
Chang Min tertegun. "Kau meragukanku lagi, Hyung?"
"Jawab saja!"
Pertanyaan macam apa itu, pikir Chang Min mulai kesal.
Sudah pasti ia sangat mencintai Tae Min. Tidak perlu diragukan lagi masalah perasaannya. Hubungan mereka memang dingin, namun perasaannya pada Tae Min begitu tulus. Lagi pula ia tidak akan mempermainkan perasaan seseorang. Jika memang ia tidak cinta, ia tidak akan memacari Tae Min.
"Aku sangat mencintainya, melebihi diriku sendiri. Sekarang kau puas?" Chang Min melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. "Jangan banyak tanya dan makanlah! Lama-lama kau cerewet juga."
Jae Joong tertawa sengit. "Baiklah, Shim Chang Min yang katanya sangat mencintai Lee Tae Min. Kuharap sebulan kemudian kalian masih bersama, atau kau mau dicap sebagai playboy tingkat akut karena berganti pasangan setiap bulan."
Chang Min mendengus, tidak menggubris sindiran Jae Joong. Apa salahnya berganti kekasih sebulan sekali? Toh, tidak ada yang dirugikan.
.
.
.
.
.
"Hyung, temani aku minum."
"Eh?"
Jae Joong yang baru keluar rumah sedikit penasaran dengan sesuatu yang terjadi pada Chang Min. Tanpa pemberitahuan, Chang Min datang dan menarik baju lengan panjangnya sambil merajuk minta ditemani minum. Manis sekali. Dengan sikap semacam itu, masih pantaskah Chang Min bersikeras mengatakan dirinya tampan?
"Ada apa lagi, huh?" tanya Jae Joong mencoba menenangkan Chang Min dengan cara menepuk bahu sahabatnya itu berkali-kali. "Kau tidak kuat minum, jadi jangan berlagak, Min-ah."
Gaya menenangkan ala Jae Joong terbukti ampuh membuat emosi Chang Min semakin naik ke ubun-ubun. Dengan mata berkaca-kaca, Chang Min mulai meneteskan airmata kesakitan yang dirasa mampu membuat Jae Joong terkikik menahan geli.
"Aku putus dengan Tae Min, Hyung." Chang Min mengusap-usapkan hidungnya ke lengan Jae Joong, membuat Jae Joong segera menghindar. "Aku frustrasi, Hyung. Temani aku minum pokoknya."
"Putus... lagi?" Jae Joong membuka sedikit bibirnya pertanda takjub dengan percintaan Chang Min yang selalu kandas di garis awal. "Ada apa lagi?"
"Dia tidak membalas pesanku seharian. Aku telepon juga tidak diangkat. Dia sudah tidak menyukaiku lagi, makanya aku memutuskannya," ungkap Chang Min mengadu. "Aku membencinya, Hyung."
Untuk kesekian kalinya Jae Joong semakin membuka lebar mulutnya. Sungguh menakjubkan polah ajaib sahabatnya itu. Hanya karena pesan tidak dibalas, telepon tidak diangkat, Chang Min berhak menilai Tae Min sudah tidak menyukainya kemudian memutuskannya begitu saja. Permasalahannya, Chang Min berdiri pada pihak yang memutuskan, tapi mengapa Chang Min juga yang bersedih?
"Kau tahu, kau sangat labil. Baru empat hari yang lalu kau mengatakan sangat mencintai Lee Tae Min. Sekarang, kau justru memutuskannya. Apanya yang kau sebut cinta?" Jae Joong menyentakkan tangannya hingga tarikan Chang Min pada ujung lengannya terlepas. "Urus sendiri permasalahan cintamu! Malam ini aku ada janji dengan Yun Ho."
"Tega sekali kau, Hyung. Kau memilih si Jung itu dibandingkan aku?" tanya Chang Min dengan dramatis. "Dasar pengkhianat!"
Usai mengumpat, Chang Min berbalik pergi meninggalkan Jae Joong. Menghilang dalam pekatnya malam yang menebar hawa dingin menusuk tulang.
Jae Joong hanya bisa menatap miris pada punggung Chang Min hingga menghilang dari pandangannya. Sebenarnya ia tidak bermaksud meninggalkan Chang Min dalam keterpurukan. Hanya saja ia bosan. Sebulan sekali Chang Min selalu datang dan berkeluh kesah perihal cinta yang kandas di awal hubungan. Bagaimana tidak bosan?
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Chang Min hanya butuh waktu satu hari untuk bersedih. Selanjutnya pria itu akan berbahagia seolah tidak ada beban apa pun yang bertumpu pada kedua bahunya. Katakan Chang Min memiliki mood yang tidak stabil. Jae Joong yakin, tanpa dirinya Chang Min mampu melewati kesedihan hingga hari berganti.
.
.
.
"Butuh bantuan, Yun Ho-Ssi?"
Yun Ho menoleh dan mendapati Jae Joong telah berdiri di belakangnya. Setelah berbasa basi dengan pelanggan yang sedang dilayaninya, Yun Ho pun mengajak Jae Joong duduk di kursi yang ada di sudut ruangan.
Empat hari belakangan Jae Joong memang kerap datang ke toko. Bahkan Jae Joong tidak segan membantu Yun Ho melayani para pelanggan yang datang. Untuk itulah kehadiran Jae Joong selalu dinanti oleh Yun Ho atau pun Ryeo Wook. Bisa dikatakan pelanggan mulai banyak berdatangan sejak Jae Joong menjadi tenaga sukarela di toko tersebut. Jae Joong memang menjadi hoki tersendiri untuk Yun Ho yang mulai putus asa karena tokonya sepi pelanggan.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Yun Ho dan Jae Joong pun semakin dekat. Mereka tidak segan bermain tangan untuk menggoda satu sama lain. Tidak ada lagi rasa canggung seperti sebelumnya. Tawa ceria pasti terdengar jelas jika mereka sudah bertemu dan duduk bersama untuk membicarakan masalah yang tidak penting sekali pun.
Bagi Yun Ho, Jae Joong adalah malaikat penolongnya. Bagi Jae Joong sendiri, Yun Ho adalah pangeran yang dinantinya.
"Kau terlambat datang, Jae Joong-Ssi. Banyak pelanggan yang kecewa dan memilih pulang karena kau tidak juga datang," ujar Yun Ho mengawali pembicaraan. "Sepertinya pamorku mulai kalah karena kedatanganmu."
"Apa itu artinya kau menyuruhku untuk pergi?" Jae Joong tertawa sambil menangkap mulutnya menggunakan telapak tangannya. "Tadi saat pulang bekerja, motorku macet di tengah jalan. Dan lagi, Chang Min ada sedikit masalah, jadi aku menenangkannya terlebih dahulu sebelum datang ke sini."
Mendengar nama Chang Min disebut, Yun Ho berubah antusias. "Ada apa dengannya?" tanyanya penasaran.
"Biasalah anak muda," sahut Jae Joong memilih tidak menjelaskannya secara detail. "Khusus malam ini, sepertinya aku tidak bisa membantumu sampai toko tutup. Aku harus memastikan Chang Min tidak bunuh diri."
Apa separah itu permasalahan yang dihadapi Chang Min, pikir Yun Ho dengan cemas.
"Jangan berpikir macam-macam! Aku hanya bercanda saat mengatakan dia akan bunuh diri. Dia bukan orang yang akan bertindak gegabah. Lagi pula ini masalah cinta, bukan permasalahan yang sangat serius," jelas Jae Joong yang segera mengerti arti di balik ekspresi cemas Yun Ho.
"Kau membuatku takut," ucap Yun Ho tersenyum lega. "Kalau boleh tahu, masalah cinta seperti apa?"
Jae Joong terdiam sejenak sebelum menjawab, "Masalah dengan kekasihnya."
"Oh, jadi benar dia sudah punya kekasih?" Raut kecewa nampak jelas di wajah Yun Ho, namun tidak disadari betul oleh Jae Joong. "Kalau boleh tahu lagi, kekasihnya itu pria atau perempuan? Maksudku... di zaman seperti sekarang ini 'kan percintaan sesama jenis sudah menjadi hal yang lumrah. Siapa tahu Chang Min lebih memilih mencintai sesama jenis."
Sebenarnya Jae Joong tidak terlalu suka harus membahas Chang Min. Dipastikan Yun Ho akan sangat antusias, dan berakhir ia akan sedikit sakit hati. Jujur saja, setiap kali mereka bertemu selalu ada saja pertanyaan kisaran Shim Chang Min dari Yun Ho. Ia sangat cemburu.
"Kekasihnya perempuan, dan dia normal," bohong Jae Joong dengan lancarnya. "Dia tidak suka pria."
Sekarang Jae Joong benar-benar melihat dengan jelas keputusasaan pada ekspresi yang ditunjukkan Yun Ho setelah ia mengatakan Chang Min normal. Seperti dugaannya sebelum ini, Yun Ho sedikit tertarik pada Chang Min. Yun Ho pasti kecewa karena termakan kebohongannya.
Jae Joong jelas tidak ingin membangun sebuah hubungan dengan kebohongan di dalamnya. Namun sikap Yun Ho dan kecemburuannya-lah yang memaksanya berbuat demikian. Walau ia tidak punya alasan terancam karena yakin Chang Min tidak ada ketertarikan sama sekali pada Yun Ho, namun untuk antisipasi rasanya sungguh wajar.
'Maafkan aku, Yun.'
.
.
.
.
.
"HYUNG, GAWAT!"
Ryeo Wook berlari tergesa dan masuk ke ruangan pribadi Yun Ho tanpa izin. Seraya menunjukkan kepanikannya, Ryeo Wook memaksa Yun Ho untuk mengikutinya keluar.
Yun Ho yang sebenarnya masih sibuk menghitung pengeluaran beberapa hari belakangan, terpaksa mengikuti langkah kaki Ryeo Wook. Tidak mungkin bisa menolak jika Ryeo Wook menarik kuat lengannya dan tidak membiarkannya bernapas barang sekejap. Sebenarnya ada apa?
Sesampainya di luar, Ryeo Wook melepas kaitan tangannya pada lengan Yun Ho dan menunjuk satu objek di luar toko. "Bukankah itu pelanggan pertama kita yang datang bersama Jae Joong-Ssi? Dia sepertinya mabuk," ujarnya sedikit was-was berurusan dengan orang mabuk.
Yun Ho memperjelas penglihatannya untuk menangkap objek yang dimaksud. Walau gelap, dari posture tubuh hingga rambut, Yun Ho meyakini jika objek tersebut adalah Chang Min. Guna memastikan penglihatan maupun tebakannya tidak salah, dengan berani Yun Ho meninggalkan Ryeo Wook untuk sampai ke luar.
Benar saja. Pria yang saat ini tengah berdiri sambil membenturkan kepalanya berkali-kali ke tiang listrik itu memang Chang Min. Dengan wajah memerah sempurna, Chang Min menggumamkan sesuatu yang tidak mampu ditangkap dengan baik oleh Yun Ho yang berdiri dengan jarak dua meter di sampingnya.
Khawatir Chang Min terluka, Yun Ho mengambil inisiatif menarik tangan Chang Min agar menjauh dari tiang listrik yang tingginya mencapai sembilan meter tersebut. "Apa yang kau lakukan, huh?" tanyanya.
"Jung?" Chang Min membeo dengan mata menyipit tajam dan bau alkohol tajam yang menguar dari mulutnya. Telapak tangannya meraba dada bidang Yun Ho yang berbalutkan kemeja putih bersih. "Akhirnya kau keluar juga. Aku sudah menunggumu cukup lama, Jung," lanjutnya tertawa tidak jelas.
"Jung?" Yun Ho tidak ingin percaya jika Chang Min memanggilnya hanya menggunakan nama marganya saja. "Kau memanggilku Jung?" tanyanya masih tidak yakin pendengarannya benar.
Chang Min mengangguki pertanyaan Yun Ho dengan polos. "Kau jahat. Kau merebut perhatian Jae Joong Hyung dariku. Kau benar-benar jahat. Aku kesepian, dan semua gara-gara kau, Jung. Kau benar-benar parasit."
"Sepertinya dia mabuk berat, Hyung," sela Ryeo Wook yang memilih berdiri jauh dari kedua orang tersebut. "Sebaiknya kau antarkan dia pulang sebelum dia membuat kekacauan."
Yun Ho menatap Chang Min sembari berpikir. Kesadaran Chang Min dimungkinkan sangat tipis. Tidak mungkin juga ia meninggalkan Chang Min dalam keadaan mabuk berat semacam ini. Walau ia masih ingin mempertanyakan maksud Chang Min yang menyatakan ia jahat karena merebut Jae Joong, tapi untuk sementara ini ia akan menahan keinginannya tersebut.
"Kalau begitu aku akan mengantarnya. Kau tutup saja tokonya, Wokkie-ya."
"Oke, Hyung."
Yun Ho membalikkan badan dan berjongkok membelakangi Chang Min. "Naiklah! Aku akan mengantarmu pulang," pintanya pada Chang Min.
Tidak ada respon apa pun dari Chang Min. Alih-alih mengikuti perintah Yun Ho, Chang Min justru menatap punggung di depannya itu sambil memiringkan kepala. Jari telunjuk meraba bibirnya sendiri seolah sedang berpikir sesuatu hal yang dirasa memberatkan.
"Jung, aku akan mengungkapkan sebuah rahasia padamu."
"Rahasia apa?" sahut Yun Ho tanpa berniat menoleh ke belakang.
"Jae Joong Hyung menyukaimu. Ah, tidak! Maksudku, Jae Joong Hyung mencintaimu."
Lelucon yang sangat klasik dari orang yang sedang mabuk berat, dan Yun Ho tidak ingin menanggapinya. Yang terpenting ia harus mengantarkan Chang Min pulang. Setelah itu ia bisa segera menutup toko dan pulang ke rumah. Tubuhnya sudah remuk redam karena bekerja seharian.
"Kau tidak mendengarku, Jung?"
Hening.
"Jung?"
Masih hening.
"Yak! Jung!"
~buagh~
"Argggh!" Yun Ho terpekik keras akibat rasa sakit di bagian punggungnya. Ia pun menoleh ke belakang untuk menatap Chang Min dan bertanya, "Kenapa kau memukulku? Ini sangat sakit."
"Pukulanku cukup mampu menyembuhkanmu dari ketulian mendadak, 'kan?" seloroh Chang Min tanpa rasa bersalah sama sekali. "Jika kau menyakiti Jae Joong Hyung, aku akan membunuhmu."
Yun Ho mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan menyakiti Jae Joong. Tapi sekarang kau naik ke punggungku, ya! Aku akan mengantarmu pulang," ucapnya dengan senyum palsu.
Untuk kesekian kalinya Chang Min memilih membangkang. "Punggungmu terlalu keras. Aku tidak suka. Aku mau jalan saja. Aku juga bisa pulang sendiri. Aku bukan anak kecil."
"Coba naik dulu! Kalau keras, kau boleh turun lagi," bujuk Yun Ho.
"Aku tidak mau. Nanti Jae Joong Hyung marah."
"Tidak. Jae Joong tidak akan marah."
"Kau tahu dari mana?"
Yun Ho berpikir sejenak. "Karena aku tahu Jae Joong orang yang baik. Sama sepertimu, Anak Baik," jawabnya asal.
"Tapi aku takut dia marah, Jung."
"Tidak akan."
"Kau berani menjamin, Jung."
Ryeo Wook mendengus karena bosan menunggu adegan drama picisan yang diperankan Yun Ho dan Chang Min. Jika kedua orang tersebut terus berdebat, tidak akan ada akhirnya. Ia pun terpaksa mengambil tindakan untuk mendorong Chang Min dari belakang sehingga jatuh tepat ke punggung Yun Ho.
"Terima kasih, Wokkie-ya," ujar Yun Ho sebelum mengunci kedua kaki Chang Min agar tidak memberontak. "Jangan lupa tutup tokonya!" pesannya pada Ryeo Wook sebelum berdiri dan melangkah masuk ke kegelapan. Meninggalkan Ryeo Wook yang hanya bisa pasrah mendapat tugas tambahan untuk menutup toko seorang diri.
Kembali pada Yun Ho dan Chang Min yang masuk gang sempit untuk sampai ke tempat tujuan. Chang Min yang awalnya memberontak, kini mulai tidak berkutik dalam gendongan Yun Ho. Tangannya yang semula bersiap memukul, kini mulai berani melingkar di leher kekar Yun Ho. Kepalanya yang terasa pening pun mulai ia letakkan di bahu Yun Ho. Punggung Yun Ho begitu pas dan hangat. Rasanya sungguh nyaman.
"Jung?"
"Ng." Yun Ho menggeram pelan demi menjawab panggilan sayang Chang Min.
"Tubuhmu hangat."
Langkah Yun Ho terhenti mendadak. Ucapan Chang Min adalah alasan utamanya. Mengapa aku jadi berpikiran yang tidak-tidak, batinnya mulai panik.
Yun Ho mencoba menoleh ke belakang. Tepat ketika wajah Chang Min hanya berjarak sekitar lima centimeter dari wajahnya. Deru napas Chang Min pun sukses menyapu kulit wajahnya. Aroma napas tajam yang tercium di indera penciumannya pun cukup berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak untuk sementara waktu.
"Kau mencintai Jae Joong Hyung?" tanya Chang Min menyunggingkan senyum kepayahan.
Yun Ho menelan ludah susah payah. Dengan jarak sedekat itu ia tidak mampu berkutik. Wajah Chang Min yang terlihat manis saat tidak mempunyai tenaga meski untuk membuka mata secara penuh menjadi alasannya. Sungguh, Chang Min terlihat seperti buruan yang tengah pasrah di genggaman pemangsanya.
"Berhenti menggodaku!" Yun Ho mendorong wajah Chang Min agar menjauh menggunakan kepalanya sendiri. "Aku bukan orang baik-baik jika dalam posisi semacam ini," ucapnya mulai kewalahan menahan sesuatu yang menggebu di dalam dada.
Peringatan Yun Ho membuat Chang Min mendengus. "Aku tanya apa, kau jawab apa. Dasar idiot!" makinya kesal. "Kau mencintai Jae Joong Hyung tidak?"
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Karena dia terlalu baik untukku."
"Jadi kalau dia tidak baik, kau mau mencintainya begitu?" tanya Chang Min mulai meninggikan nada bicaranya.
"Kau tahu, kau sangat manis jika cerewet seperti ini," ungkap Yun Ho antara kesal dan geli. "Dan aku hanya mencintai orang karena hati, bukan nafsu. Jadi, jika aku mencintai seseorang, hatiku yang akan berbicara dan bertindak. Sementara ini, hatiku belum merasakan apa pun pada Jae Joong. Sekarang kau puas dengan jawabanku?"
Senyum cerah terbit di bibir Chang Min dengan cepat. Rasanya sangat melegakan, hingga ia kembali mencerukkan kepalanya di perpotongan leher Yun Ho bagai anak kucing mendamba kehangatan.
Yun Ho ikut tersenyum melihat gelagat Chang Min. Kembali ia melanjutkan perjalanannya. Namun langkahnya lagi-lagi terhenti saat lehernya merasakan benda lunak, hangat, nan basah yang menyapu kulit lehernya. Tubuhnya menegang. Suara kecipak dan decakan pun mulai terdengar jelas di telinganya. Kini, sapuan di bagian sensitifnya itu berganti menjadi hisapan kuat yang berhasil membangunkan sesuatu yang telah tertidur lelap sekian lama dalam dirinya.
"Chang Min-Ssi?"
.
.
.
.
.
《 TBC 》
Demi Ela yang suka malakin epep ke kaum HMS, aku frustrasi buat adegan di scene terakhir. Berat banget. Kalau gini aja udah nyerah, gimana bikin enceh? *nangisgegulingan
Lupakan curhat colonganku! Terima kasih untuk semua reader yang udah nyempetin waktu buat baca dan review. Aku bener-bener seneng kalau karyaku diterima dengan baik oleh kalian. Ya, walau epepku nggak sehebat biang kerok kemesuman anak HMS (read:Ela), tapi kalian menyambutnya dengan baik. Terima kasih sekali kali. *bungkukinbadan
Terkhusus Ela (makasih udah bersedia share-in epep gajeku di sini), Jung Michun (Yak! Berapa umurmu? Kenapa mrmanggilku, Kak? Aku masih muda dan imut tahu!), Hyena Lee (Kamu irit banget cuma review lanjut doang. Hehe. Tapi tak apa, makasih sudah sempetin baca ^^), Lennie239 (Sering aja kasih Chang Min kue gratis? Babe Yun bangkrut dong. Ingat, gimana Emak Min kalau makan, 'kan? Hhhh), Minnie Chwangie (Yeah, kita sama-sama anak bungsu Emak, harus saling mendukung. Emak tuh bukan GR, tapi was-was. Tahu sendiri dia perawan yang menjaga kehormatannya hanya demi Babe Yun. #plak), Jijoonie (Hhhh aku nggak ngeh sama typo itu Muti. Maaf, ya!), .75470 (Iya, bener. Nggak ada yang lebih cocok jadi orang ketiga selain JJ. Seneng punya temen yang sependapat. Hehe), Guest (Lah, kamu cuma baca doang. Aku yang buat malah sakit hati banget ada nama itu, Neng. Rasanya tuh kayak diberikan cobaan berat oleh Tuhan. Hhhh), Ajib4ff (Aku suka baca reviewmu. Kenapa? Karena kamu selalu mendoakan kesehatanku. Terima kasih banyak. Semoga kamu juga sehat selalu.), dan terahir buat Wiwie (Wie, kamu mah gitu. Kita 'kan sohib, ya? Harusnya kamu dukung dong. Masa' iya itu masih pendek? Udah panjang banget itu. Sepanjang punyanya Emak #plak).
Aku sangat berterima kasih karena kalian sudah memberikan review yang berhasil membangun semangatku.
Buat silent reader, please, hargai karya sekecil apa pun dari Author, ya! Sekali-kali beramal dengan meninggalkan jejak, rasanya nggak rugi deh. Hehe
Oke, cukup sekian cuap-cuap dariku. Last, salam, Raizel Jungshim, anak Emak Babe yang polosnya ngalahin Emak saat di ranjang.
###Tambahan cuap2 dari Ela_Jungshim : jangam percaya cuap2nya si Raizel ini..masa aku dibilang biang kerok kemesuman anak HMS?! *GETOK SI PENULIS!* GUE INNOCENT! POLOS! PURE! #end#
