Yun Ho ikut tersenyum melihat gelagat Chang Min. Kembali ia melanjutkan perjalanannya. Namun langkahnya lagi-lagi terhenti saat lehernya merasakan benda lunak, hangat, nan basah yang menyapu kulit lehernya. Tubuhnya menegang. Suara kecipak dan decakan pun mulai terdengar jelas di telinganya. Kini, sapuan di bagian sensitifnya itu berganti menjadi hisapan kuat yang berhasil membangunkan sesuatu yang telah tertidur lelap sekian lama dalam dirinya.
"Chang Min-Ssi?"
.
.
.
Title : LOVE TRIANGLE
Pair : Homin × Yunjae
Rate : T (sementara waktu)
Genre : Romance comedy
Length : 4 of ?
Disclaimer: HoMin milik Tuhan, orangtua mereka, dan juga para Cassiopeia. Author hanya meminjam namanya saja! TYPOS! Tidak suka pair HoMin, silakan menyingkir!
.
.
.
~HOMIN~
.
.
.
《 Chapter 4 》
Chang Min merasakan pening sekaligus perih pada bagian dahi sesaat setelah terbangun dari tidur panjangnya. Pancaran mentari yang membias melalui ventilasi udara membuat rasa peningnya semakin tak tertahankan. Ia pun menyembunyikan wajahnya untuk sementara waktu sampai pening di kepalanya berkurang. Dan bayangan wajah Yun Ho tanpa diminta melintas di pikirannya.
Mencoba mengingat, ia mendapat sedikit pencerahan. Semalam ia mabuk berat dan memaksakan diri untuk pulang. Ia pun bertemu dengan Yun Ho di depan toko pria tersebut. Namun ia tidak ingat pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan Yun Ho semalam. Ingatannya hanya sebatas itu.
Sejauh ia berusaha menggali ingatannya lebih dalam lagi, ia tidak menemukan sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Yun Ho. Berpegang pada keyakinannya tersebut, kini ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
"Aku akan membunuhnya jika bertemu nanti," umpatnya ditujukan pada sang mantan kekasih yang sudah membuatnya frustrasi.
Setelah memastikan pening di kepalanya mereda, Chang Min kembali mengangkat kepalanya dengan hati-hati. Fokus perhatiannya terjatuh pada bungkusan plastik hitam yang ada di dekat kakinya. Penasaran, ia pun mengambil bungkusan tersebut dengan semangat dan melihat isi di dalamnya. Bento dengan secarik kertas bertuliskan, 'Makanlah sebelum beraktivitas! Yun Ho'.
Tulisan di kertas tersebut membuat Chang Min sedikit gelisah dan panik. Dengan adanya catatan tersebut bisa diartikan semalam Yun Ho mengantarkannya pulang. Bahkan kemungkinan besar Yun Ho menyempatkan diri untuk membelikannya sarapan pagi yang terasa masih hangat di telapak tangannya itu. Jangan katakan dia menginap di rumahku, batinnya semakin gelisah.
Dengan segera Chang Min memeriksa keadaannya. Pakaian masih lengkap, sisa-sisa aktivitas panas pun tidak terdeteksi dari kasur lantainya, dan bagian bawah tubuhnya pun tidak merasakan kejanggalan apa pun.
Aman.
Helaan napas lega kembali terdengar dari celah bibirnya. Meski begitu ia harus memastikan jika Yun Ho tidak berbuat macam-macam padanya. Mungkin ia akan mendatangi Yun Ho sepulang bekerja. Mengucap terima kasih pun tidak ada salahnya.
.
.
.
Yun Ho menggerakkan kedua tangannya agar otot-ototnya sedikit lebih baik. Tidak lupa ia pun memijit belakang lehernya yang terasa kram karena tidur terduduk dengan bersandarkan dinding dingin semalam. Langkah kakinya tampak tak bersemangat. Ekspresi lesu pun tercetak jelas di wajahnya seolah ia baru menyelesaikan sesi begadang tujuh hari tujuh malam.
"Yun Ho-Ssi?"
Sapaan lembut tersebut sukses membuat Yun Ho mengangkat kepalanya yang sejak tadi terus melihat aspal jalan yang dipijaknya. Tidak terasa ia sudah sampai di depan tokonya sendiri. Di depan pintu masuk tokonya, Jae Joong telah menunggu dengan senyum cerah dan penampilan yang sudah rapi. Terpaksa Yun Ho mengulas senyum palsu untuk memanipulasi rasa lelah yang menggelayutinya.
"Hai, Jae Joong-Ssi. Menungguku?"
Alih-alih menjawab, Jae Joong justru menyentuh dahi Yun Ho hingga tercipta pekikan kecil dari pria pujaannya tersebut. "Ada apa dengan dahimu? Kenapa lebam begini?" tanyanya khawatir.
Yun Ho menutupi lebam yang ada di dahinya lalu menjawab, "Jatuh di kamar mandi."
"Benarkah?"
Yun Ho hanya tersenyum. Kenyataannya semalam Chang Min membantainya habis-habisan. Setelah berhasil masuk ke rumah Chang Min, tiba-tiba Chang Min melotot bagai kesetanan dan meneriakinya sebagai orang mesum yang ingin berbuat asusila. Berlanjut dengan adegan action Chang Min yang memukulinya dan mendorongnya ke dinding berkali-kali hingga terciptalah lebam di dahinya tersebut. Ia tidak menyangka pria manis seperti Chang Min menyimpan tenaga yang begitu besar. Dan karena takut Chang Min akan menyakiti diri sendiri seperti kejadian di depan tokonya saat Chang Min membenturkan kepala ke tiang listrik, terpaksa ia pun menginap untuk menjaga pria manis tersebut.
Jika dipikir-pikir, tindakan bringas Chang Min adalah balasan yang cukup kejam untuk kenikmatan sesaat yang ia dapatkan di tengah perjalanan semalam.
"Apa ada yang lucu?"
"Eh?" Yun Ho memegang bibirnya yang tanpa sadar terangkat membentuk seulas senyum kecil. "Tidak ada yang lucu," jawabnya sedikit gugup.
Jae Joong tersenyum sebelum memukul lengan Yun Ho dengan manja. Namun tubuhnya seketika panas saat tidak sengaja matanya menangkap warna merah keunguan yang ada di leher Yun Ho.
Kissmark?
"Kau sudah sarapan? Bagaimana kalau kita sarapan bersama?" Yun Ho mengedarkan pandangannya untuk mencari kedai yang dimungkinkan sudah buka. "Sepertinya sarapan sup hangat sangat enak," lanjutnya beralih menatap Jae Joong.
Jae Joong tidak mampu lagi mendengar ucapan Yun Ho. Tubuhnya terlalu panas, begitu pun dengan hatinya. Perasaannya hancur seketika setelah melihat kissmark yang ada di leher Yun Ho. Ia sudah kalah telak. Hingga ia pun memutuskan pergi tanpa mengucap salam perpisahan. Pergi dengan membawa kesakitan yang terlalu menyakitkan untuk ditahan lebih lama lagi.
Yun Ho memenjarakan punggung Jae Joong yang mulai menjauhinya dalam penglihatannya. Tidak ada upaya untuknya menahan kepergian Jae Joong. Hanya batinnya terus bertanya pada diri sendiri, kenapa Jae Joong pergi tanpa permisi.
.
.
.
Baru saja menginjakkan kakinya memasuki perusahaan tempatnya bekerja, Chang Min melihat Jae Joong yang berlari tergesa masuk ke kamar mandi. Chang Min pun memutuskan mengikuti Jae Joong.
Di dalam Chang Min tidak melihat Jae Joong. Namun isak tangis yang ia kenali milik Jae Joong senantiasa membawa langkah kakinya ke satu dari empat bilik yang ada di sudut ruangan. Dengan hati-hati ia mengetuk pintu bilik tersebut dan memanggil nama Jae Joong berulang kali, tapi tidak kunjung ada balasan. Setelah menunggu cukup lama, barulah Jae Joong bersedia menemuinya dengan wajah penuh akan jejak airmata yang belum mengering sepenuhnya.
"Yun Ho sudah memiliki kekasih, Min-ah."
Untuk pertama kalinya Chang Min melihat Jae Joong menangis. Bukannya ikut sedih, justru ia ingin menampar Jae Joong secepatnya. Penyebabnya karena Jae Joong menangis karena cinta. Hal tersebut tentu sangat memalukan dan tidak keren.
"Dia bilang sendiri kalau sudah punya kekasih?" tanya Chang Min yang dengan malas melegakan hati Jae Joong. Walau tidak munafik dalam hati sebenarnya ia ingin mengumpat, 'Diam, atau kupukul kau sampai mati!'
Jae Joong menggeleng ragu. "Tadi pagi aku sengaja menunggunya di depan toko. Niatnya ingin mengajak dia sarapan bersama. Tapi aku justru mendapati pakaiannya berantakan, bahkan kancing kemeja atasnya terlepas. Dahinya juga lebam. Dan... dan... ada kissmark di lehernya, Min-ah. Pasti semalam dia habis bercinta dengan kekasihnya di hotel terdekat. Pasti mereka bercinta dengan sangat liar, Min-ah. Aku tidak berani membayangkannya," ungkapnya berlanjut dengan tangisan yang terdengar memilukan.
Chang Min tidak beraksi. Pikirannya justru memaksanya untuk mengingat sesuatu yang membuat benaknya sedikit waspada. Bayang-bayang ketika Yun Ho menggendongnya di punggung, berlanjut ia menghisap leher Yun Ho seperti anak kecil yang menghisap susu dari botolnya. Kemudian bayang-bayang sewaktu ia menghajar Yun Ho di rumahnya hingga kepala Yun Ho terbentur dinding pun turut menciptakan ketakutan tersendiri.
Mendadak Chang Min merasakan aliran darahnya mengalir dengan sangat cepat. Rasanya begitu dingin hingga kakinya bergetar hebat. Tatapannya kosong, dan matanya pun berubah sehitam jelaga tidak berjiwa.
Shit!
Shit!
Shit!
.
.
.
Ryeo Wook dan Ji Hye masih saja tertawa walau penjelasan tentang kronologi Yun Ho bisa mendapatkan kissmark dan lebam di dahinya sudah berakhir dua jam yang lalu. Bahkan dengan kurang ajar, di tengah-tengah jam kerja, Ji Hye dan Ryeo Wook mendatangi ruangan pribadi Yun Ho hanya untuk tertawa, setelah itu keluar kembali tanpa rasa bersalah.
Yun Ho yang merasa kesal pun mendatangi kedua orang tersebut yang tengah bercengkerama asyik di meja pesanan pelanggan. Dengan kesal ia mendaratkan pukulan telak pada kepala Ryeo Wook dan Ji Hye, masing-masing satu kali. Namun tetap saja kedua orang tersebut masih tertawa seolah tidak ada rasa sakit yang menyerang kepala mereka.
"Bisakah kalian hentikan kebodohan kalian itu!" pinta Yun Ho menunjukkan ekspresi datar yang tidak bersahabat. Namun dibalas gelakan rawa yang semakin membuat dadanya terasa ngilu. "Akan kubunuh kalian!" lanjutnya mengancam.
Masih tertawa, Ji Hye memegang kedua bahu Ryeo Wook dan mencerukkan kepalanya ke perpotongan leher Ryeo Wook, bermaksud mereka-ulang adegan antara Yun Ho dan Chang Min semalam. Dan kedua orang itu pun semakin tertawa melihat ekspresi merajuk Yun Ho yang begitu menggemaskan.
"Aku menyesal menceritakan semuanya pada kalian," sesal Yun Ho masih dengan ekspresi datarnya. "Aku tidak akan percaya pada kalian lagi."
Ji Hye tertawa dan mengakhiri godaannya pada Yun Ho. "Seharusnya kau senang, Oppa," ucapnya.
"Iya, Hyung. Kapan lagi kau mendapat sentuhan dan hisapan gratis dari pria yang sudah menarik perhatianmu di pertemuan pertama kalian, huh?" ujar Ryeo Wook menimpali ucapan Ji Hye. "Hanya saja, aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresimu saat dia memberikan kissmark itu di lehermu. Hahahaha."
"Yang pasti Yun Ho Oppa sangat menikmatinya, Wokkie-ya."
"Menikmati dan meresapi dengan penuh perasaan."
"Hahahaha. Aku setuju padamu, Wokkie-ya. Pasti bibirnya mengeluarkan desahan dan erangan yang... argghhhh! Aku tidak tahan lagi. Hahahahahaha."
Kompak Ji Hye dan Ryeo Wook mulai tertawa dengan merajalela. Para pelanggan banyak yang menatap heran ke arah mereka, namun mereka tidak peduli. Menertawakan Yun Ho adalah hal menyenangkan yang jarang dijumpai seumur hidup. Sudah barang pasti Ji Hye dan Ryeo Wook akan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin.
Berbanding terbalik dengan ekspresi Yun Ho yang tampak geram. Sesekali ia menatap para pelanggan satu persatu dengan malu, sebelum beralih menatap kedua orang yang tengah menertawakannya itu. Rasanya seperti ada pisau lipat yang sudah siap sedia di genggamannya. Tinggal menunggu waktu yang tepat mempergunakan pisau tersebut untuk menyobek mulut dua orang yang ada di depannya tersebut. Baru kali ini ia menjadi bos yang tidak dihormati dan dihargai oleh pegawainya.
"Ji Hye-ya, mau taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Pasti Oppamu tidak berani menatap wajah Chang Min jika mereka bertemu nanti. Hahahaha."
"Benar juga. Hahahaha."
Yun Ho memutar bola matanya dengan malas. Mulai jengah dengan keadaan. Sekiranya ia mulai memikirkan cara jitu untuk membungkam mulut kedua orang di hadapannya itu.
"Sebaiknya kalian kembali melayani pelanggan!" perintah Yun Ho pada Ji Hye dan Ryeo Wook. "Aku tidak suka ada yang makan gaji buta di sini."
"Melayani pelanggan?" Ji Hye memberi sedikit isyarat agar Yun Ho melihat ke arah pintu masuk menggunakan dagu dan lirikan matanya. "Maksudmu pelanggan yang itu, Oppa?" tanyanya usil.
Yun Ho dengan sigap menangkap isyarat yang diberikan Ji Hye, begitu pun Ryeo Wook yang merasa penasaran. Tepat di ambang pintu, Chang Min mendekat dengan langkah pelan dan ragu. Bahkan rona merah terlihat jelas dari kedua pipi Chang Min. Bukan akibat pemerah pipi seperti yang dipakai Jae Joong tempo hari, melainkan merah alami akan rasa malu dan juga gugup.
"Ciyee, Romeo dan Juliet bertemu. Hahaha."
"Ralat, Wokkie-ya! Mereka lebih mirip David dan Victoria Becham versi Korea."
"Benar juga. Hahahaha."
"Hahahaha."
.
.
.
Chang Min belum juga mampu menguasai kegugupannya saat Yun Ho kembali ke dalam ruangan sambil membawakan teh hangat untuknya. Bukan waktu yang singkat untuk Yun Ho pergi ke dapur dan membuat minuman. Sudah seharusnya Chang Min memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menguasai kegugupannya. Namun, hasilnya sungguh mengecewakan. Chang Min masih belum berani berbicara bebas pada Yun Ho. Bahkan menatap mata musang milik Yun Ho pun Chang Min tidak mempunyai nyali.
Sejak ingatan semalam hadir kembali di pikirannya, Chang Min tidak ingin lagi bertemu dengan Yun Ho. Faktor yang paling memengaruhi keinginannya tersebut adalah malu. Begitu pun ia sangat takut jika Yun Ho menyebutnya sebagai pria yang suka melecehkan orang lain yang bukan kekasihnya. Andai Jae Joong tidak berkata akan datang menemui Yun Ho sepulang bekerja, dipastikan Chang Min tidak akan menemui Yun Ho saat jam makan siang seperti sekarang ini. Dengan kata lain, Chang Min datang dengan terpaksa.
Dan Chang Min pun merutuki kebodohannya, kenapa ia meng-iya-kan saja ketika Yun Ho mengajaknya bicara berdua di ruangan pribadi pria tersebut. Siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini?
"Minumlah!"
Ucapan lembut tersebut memaksa Chang Min menyadari ada eksistensi lain di sekitarnya. Eksistensi yang tepat berada di sampingnya. Chang Min tidak habis pikir, mengapa Yun Ho mengambil tempat duduk di sampingnya? Sengaja, huh?
Dilihat secara detail, ruangan Yun Ho terbilang cukup luas dibandingkan huniannya yang multifungsi sebagai tempat tidur, dapur, ruang makan, dan ruang ganti pakaian.
Di sudut kanan ruangan Yun Ho, ada kamar mandi, meja kerja, kulkas kecil, dan juga sepasang sound system aktif ukuran sedang. Dengan begitu Chang Min dapat menyimpulkan Yun Ho suka memutar musik dari benda tersebut. Lalu di sisi kiri ruangan tidak ada apa pun kecuali pintu keluar. Tidak ketinggalan di sudut tengah ruangan, dua sofa single yang menghadap sofa panjang yang tengah diduduki mereka saat ini, dan juga meja persegi panjang berbahan kayu jati yang diletakkan di tengah.
Pertanyaan yang mengganggu benak Chang Min adalah, ada dua sofa single di samping kanan-kiri tubuhnya, tapi kenapa Yun Ho justru mengambil tempat di sampingnya?
Chang Min benar-benar tidak mengerti jalan pemikiran Yun Ho. Apa Yun Ho tidak merasa canggung berada di dekatnya?
"Jika kau diam seperti ini, aku bingung harus memulai pembicaraan dari mana," ucap Yun Ho tiba-tiba.
Chang Min tidak menjawab. Tetap keterdiaman yang ia berikan. Namun setelah dipikir, rasanya sungguh tidak sopan berbicara tanpa memandang lawan bicara. Dengan berat hati dan terpaksa, ia pun memberanikan diri menoleh ke samping kiri tubuhnya. Dan, kesalahan yang sangat fatal.
Entah sengaja atau tidak, Yun Ho menggaruk lehernya yang terdapat kissmark sangat jelas di sana. Chang Min berpikir, Yun Ho pasti sengaja. Dan Chang Min pun menjadi tidak enak hati. "Apa itu perbuatanku?" tanyanya ambigu.
Yun Ho sedikit tidak paham dengan pertanyaan Chang Min. "Maksudnya?" tanyanya dengan suara lemah.
"Itu!"
"Itu apa?"
Chang Min mendesah. "Cupang di lehermu." Terpaksa ia menggunakan bahasa sedikit fulgar untuk menyadarkan kebodohan Yun Ho. "Itu perbuatanku?"
Dengan cepat Yun Ho mengangguk seperti orang linglung lalu menyingkirkan tangannya sendiri dari kissmark yang membekas jelas di lehernya. "Kukira kau tidak ingat kejadian semalam," sahutnya tersenyum aneh. "Bagaimana kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini, huh? Bahkan kau sukses membuat tubuhku tidak berdaya dan jidatku semakin lebar saja."
Bukan maksud Yun Ho menuntut pertanggungjawaban seperti yang dipertanyakannya. Melihat ekspresi Chang Min yang begitu menggemaskan dengan semburat merah menghiasi kedua pipi mulus itulah yang memaksa Yun Ho berbuat demikian. Menggoda Chang Min pastilah bukan sebuah kesalahan. Selain cara tersebut bisa dipergunakan untuk mencairkan suasana yang sejak awal sedikit tegang di antara mereka, ia pun bisa mendapati wajah manis Chang Min saat salah tingkah. Menggemaskan.
"Kumohon, jangan beritahu Jae Joong Hyung tentang kejadian semalam, Yun Ho-Ssi!"
"Eh?" Yun Ho terhenyak. "Sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan formal seperti itu?" Ada sedikit kekecewaan di wajahnya. "Lalu kenapa aku tidak boleh mengatakannya pada Jae Joong? Ada masalah?" tanyanya lagi.
Tentu saja masalah untuk Chang Min. Jika Yun Ho mengatakan tentang kejadian semalam pada Jae Joong, sebuah persahabatan yang sudah terjalin cukup lama akan berantakan. Akan ada istilah pagar makan tanaman. Chang Min tentu tidak menginginkan hal tersebut terjadi.
"Kumohon jangan katakan pada Jae Joong Hyung! Jika kau bersedia melakukannya, aku akan melakukan apa pun yang kau mau." Chang Min kembali memohon seraya memberikan penawaran yang cukup menjanjikan.
"Apa pun yang aku mau?"
"Iya. Apa pun yang kau mau," sahut Chang Min meyakinkan Yun Ho yang terlihat ragu. "Aku tidak main-main, Yun Ho-Ssi!"
Awalnya Yun Ho mengira kedatangan Chang Min karena ingin meminta maaf. Namun kenyataannya justru di luar ekspektasinya. Bahkan Chang Min tidak merasa bersalah sama sekali dan justru menuntutnya untuk membicarakan masalah lain yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kejadian semalam.
"Apa kau tidak ingin meminta maaf padaku?"
"Meminta maaf untuk apa?" Chang Min mulai meninggalkan ketakutan dan kegugupannya pada Yun Ho. "Aku tidak melakukan apa pun. Kenapa harus meminta maaf?" tanyanya.
Yun Ho menyipitkan matanya. "Kau benar-benar yakin tidak membuat kesalahan padaku?"
"Jika memang iya, kesalahan apa?"
Yun Ho mulai sadar. Selain memiliki sikap terlalu apa adanya, frontal, jujur, dan menggemaskan, Chang Min ternyata orang yang tidak peka. Bagaimana bisa kesalahan di depan mata tidak disadari betul oleh Chang Min?
"Kesalahan apa yang kulakukan?" tanya Chang Min lagi karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Yun Ho. "Jika aku memang melakukan kesalahan, aku akan meminta maaf."
Yun Ho berpikir sejenak sebelum berkata, "Kau memukuli orang yang telah mengantarmu saat mabuk sampai ke rumah, lalu memberikan bekas kemerahan di leher yang bisa mempermalukan orang tersebut, dan kau pikir itu bukan kesalahan?"
Dengan cepat Chang Min menggeleng. "Itu salahmu. Kenapa kau mau berurusan dengan orang mabuk? Kau tentu tahu orang mabuk bertindak sesuai kehendaknya sendiri dan tidak disadari. Lagi pula aku tidak meminta tolong agar kau mengantarku pulang, 'kan? Masihkah kau berhak menyalahkan sesuatu yang jelas-jelas itu salahmu?" ungkap Chang Min yang membuat lawan bicaranya sweet drop dengan muka cengo.
Jawaban yang luar biasa, pikir Yun Ho dengan takjub.
Walau jawaban yang diterima begitu menyebalkan, Yun Ho mengakui wajah Chang Min saat menjelaskan hal tersebut sungguh menganggumkan. Dengan bibir yang mengerucut, Chang Min terlihat sangat menggemaskan. Begitu pun dengan wajah polos Chang Min yang tengah mengelak akan kesalahan yang dibebankan padanya. Seumur hidup Yun Ho tidak pernah bertemu dengan orang semacam Chang Min. Bibir selalu pedas, tidak tahu diri, namun tidak lantas menyakitkan hati.
Jika ada seribu orang yang mencalonkan diri jadi kekasihnya dan diantaranya ada Chang Min, tanpa berpikir panjang ia akan memilih Chang Min tanpa keraguan sedikit pun.
Namun Yun Ho sangat sadar jika hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Ucapan Jae Joong yang menyatakan Chang Min pria normal dan tidak menyukai sesama jenis benar-benar menampar lamunan indahnya. Ia sendiri merasa heran, sejak kapan ia ingin mendominasi Chang Min lebih dan lebih lagi. Bukankah awalnya ia hanya menganggap Chang Min sebagai pelanggan pertamanya yang tidak memiliki arti apa pun?
Yun Ho menatap Chang Min untuk kesekian kalinya. "Chang Min-Ssi, aku bukan orang yang keras hati. Jika kau mabuk di depan tokoku dan membenturkan kepalamu ke tiang listrik, apakah aku harus diam saja? Lagi pula kau membuat pelangganku takut. Terpaksa aku memulangkanmu."
Skatmate.
Chang Min tidak bisa berkilah. Menuruti daya ingatnya, banyak orang yang mengeluh dengan gaya mabuknya. Bahkan kejadian terakhir saat ia mabuk bersama Jae Joong, sahabatnya itu terpaksa mandi malam karena tercebur ke kolam ikan dekat rumah karena menghalangi jalannya. Dalam artian ia mendorong Jae Joong tanpa sadar. Dan ia pun mengakui jika gaya mabuknya benar-benar keterlaluan.
Mungkin lain kali ia tidak akan melawan kehendak takdir yang menyatakan dirinya adalah makhluk baik-baik yang memiliki toleransi tinggi pada minuman beralkohol rendah sekali pun.
"Kenapa kau diam? Apa sekarang kau merasa bersalah?" goda Yun Ho yang segera mengikis jarak di antara mereka. "Semalam aku hampir saja kehilangan kendali. Andai kau tidak menghajarku habis-habisan, mungkin aku akan melakukan sesuatu yang dirasa tidak pantas. Bersyukurlah aku masih berbaik hati padaku. Dan sekarang tugasmu hanya mempertanggungjawabkan semuanya, Chang Min-Ssi."
"Yak! Jangan dekat-dekat!" Chang Min mendorong tubuh Yun Ho menjauh, lalu mendelik tajam. "Baiklah, aku akan bertanggung jawab, asal kau berjanji tidak akan mengatakannya pada Yun Ho Hung."
Yun Ho terhenyak. "Yun Ho Hyung?"
Chang Min terkesiap. Ingin rasanya ia menampar bibirnya sendiri yang telah lancang menyerukan nama seseorang dengan salah. Mungkin rasa gugupnya yang mengakibatkan demikian. Ia benar-benar merasa malu. "Maksudku, jangan katakan pada Jae Jong Hyung!" ralatnya dengan suara melemah.
"Keuntungan untukku apa?" tanya Yun Ho sok bodoh.
"Aku akan melakukan apa pun untukmu."
"Kau yakin?"
"Yakin."
"Kalau begitu aku ingin membalas perbuatanmu dengan cara yang sama."
Cara yang sama?
Tanpa perlu berpikir, Chang Min jelas tahu arti di balik perkataan Yun Ho. Dilihat dari wajah menjijikkan Yun Ho saat menatapnya, jelas Yun Ho menginginkan hal tersebut. Hingga Chang Min pun dengan ragu menyibak kerah hoddie yang menutupi lehernya, kemudian mengarahkan lehernya yang sudah bebas hambatan itu pada Yun Ho. Dengan tubuh mulai panas-dingin, Chang Min mendongak demi memperlihatkan leher jenjangnya pada pria tampan di sampingnya itu.
"Apa yang kau lakukan?" Yun Ho yang tidak mengerti sikap Chang Min tanpa ragu menyuarakan rasa penasaran. Secara bergantian ia melihat wajah dan leher Chang Min dengan antisipasi.
"Lakukanlah!"
"Lakukan apa?"
"Bukankah kau ingin membalas perlakuanku dengan cara yang sama?" Chang Min semakin mendongakkan kepalanya. Menutup mata, ia kembali menambahkan, "Cepat lakukan! Jangan membuatku malu karena memasrahkan diri seperti ini!"
Yun Ho mulai paham. Chang Min mengira ia berniat melakukan pembalasan kissmark di leher menggiurkan tersebut. Dan dengan yakin Yun Ho mengatakan, pikiran Chang Min salah besar.
Dari nada bicara Chang Min, Yun Ho mendengar keraguan dan ketakutan di dalamnya. Memang Yun Ho ingin Chang Min mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, bukan hal tersebut yang ia maksudkan. Walau tidak munafik, ia sangat tergiur dengan kesempatan besar di depan matanya itu. Namun dalam hal ini, ia bukanlah pria yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Andaikan ia ingin melakukan hal se-intens itu, minimal kedua orang yang terlibat di dalamnya harus saling cinta.
"Chang Min-Ssi, boleh kukatakan sesuatu padamu?" Yun Ho menempatkan kedua tangannya di bahu Chang Min, lalu menghadapkan Chang Min padanya. "Aku sedikit tersinggung dengan pemikiranmu padaku. Aku bukan orang semacam itu. Aku tidak melakukan apa pun pada orang yang bukan kekasihku, sekali pun dalam keadaan mendesak. Dengan begini, aku melindungi harga diriku, sekaligus melindungi harga diri dan kehormatanmu."
Chang Min membuka matanya secara perlahan saat perkataan Yun Ho membuat benaknya bagai diguyur air segar yang membuatnya nyaman. Kini tatapan mata mereka bertemu. Chang Min mendapati pancaran ketulusan dari tatapan lembut di hadapannya, serta senyum menawan yang belum pernah didapatkannya seumur hidup.
"Ya, kau... tampak berbeda dari pria lain," ujar Chang Min tanpa sadar dan tatapan kosong, seolah terhipnotis tatapan di depannya.
Yun Ho membelai lembut dahi Chang Min, sebelum merapikan kerah hoddie pria manis di hadapannya itu. Setelah dirasa leher menggiurkan di hadapannya tertutup dengan sempurna, Yun Ho membelai pipi Chang Min dengan penuh kasih sayang. Chang Min pun tampak menikmati perlakuan tersebut.
"Aku tidak akan mengatakan apa pun pada Jae Joong. Kau bisa percaya padaku." Yun Ho membuang muka, melangkah menuju meja kerjanya, menjauhi Chang Min. "Pulanglah dan lupakan semuanya! Anggap saja tidak pernah ada kejadian apa pun di antara kita. Tapi kuminta, setelah ini kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik lagi dari sebelumnya."
Chang Min mengangguk. Walau tahu anggukannya tidak akan dilihat oleh Yun Ho yang memilih membelakanginya. Kenapa rasanya begitu menggelisahkan, pikir Chang Min dengan kalut.
Keadaan kembali sunyi seperti beberapa saat lalu. Yun Ho memilih melihat ke luar jendela yang ada di belakang meja kerjanya, sedangkan Chang Min masih belum bisa mengalihkan perhatiannya pada punggung kokoh Yun Ho. Satu hal yang dapat disimpulkan dari kebersamaan mereka saat ini. Mereka sama-sama merasakan perasaan aneh yang tidak mampu diartikan dengan baik oleh keduanya. Mungkin kelak waktu yang akan menjawabnya.
《TBC》
Terima kasih untuk semuanya yang udah stay sama cerita gaje ini. Maaf nggak bisa bales review kalian satu per satu. Efek lemes ini -_-
Khusus untuk Jung Michun, "Sorry, Dear. Sebenernya dari kemarin udah baca PM-mu, tapi aku selalu lupa buat bales. Apalagi aku jarang stay email nih akun. Maaf, ya! ^^
Tapi, aku akan PM secara pribadi setelah ini. Jangan manyun, please! ^^
Last, salam, Raizel Jungshim ^^
