Change's the World
Disclaimer : Massashi kishimoto
Genre : adventure & romance
Rate : M
Pair : Naruto x ...
Warning : Miss Typo , Alur Gaje , OOC , Gaje , ide pasaran (maybe) , Strong!Naru, Smart!Naru , Mainstrem..Etc
Summary : Dia yang ingatannya perlahan mulai kembali akan merubah sebuah takdir yang digariskan untuknya./"Oh Apa aku tidak salah dengar. Biju terkuat ingin membantuku../"Khukhukhu Kau sungguh menarik bocah"
.
.
.
Selamat Membaca
.
.
.
A/N : jika ada kesamaan jutsu atau jalannya cerita mohon maaf karena memang ini terinspirasi dari beberapa fic yang pernah saya baca
Chapter 8
.
.
.
'Blaarrr..' 'Kraak' 'Bumm'
"Apa hanya itu yang kau bisa Sabaku. ?" remeh Naruto.
Sementara Gaara hanya menggeram tak suka dari balik kepulan asap akibat serangannya yang hanya mengenai pohon. Dari kepulan asap Gaara melompat kembali mencoba menerjang Naruto.
'Blaarr..' 'Kraak' 'Bumm'
Namun lagi-lagi serangan Gaara hanya mengenai pohon tempat Naruto berpijak. Karena sebelum Gaara menyerangnya Naruto sudah terlebih dahulu menghindar.
"Grr.. Berhentilah menghindar seperti pengecut, dan lawanlah aku Uzumaki."
"Oh ayolah jangan menghina orang lain. Kau itu lemah, bahkan menyentuhku saja kau tak bisa." ujar Naruto memprovokasi Gaara.
"Sialan kau.."
"Suna Shuriken."
Gaara mengayunkan lengan pasirnya dan menciptakan beberapa shuriken dari pasir. Shuriken tersebut langsung melesat menuju kearah Naruto. Melihat hal tersebut Naruto tak tinggal diam ia dengan cepat merangkai handseal.
"Suiton : Sujinheki"
Naruto lalu menyemburkan air dan membentuk dinding air menghalau shuriken pasir milik Gaara. Kemudian Naruto kembali membuat handseal ia lalu mengambil nafas dalam-dalam.
"Katon : Sanryuuhuashin no Jutsu"
Tiga naga api disemburkan oleh Naruto kearah Gaara. Gaara yang tak siap akan serangan Naruto terkena dengan telak jutsu api milik Naruto.
"Arkhh... Panas! Panas! PANAAASSS!" jerit Gaara saat terkena serangan Naruto.
Setelah api menghilang nampak tubuh Gaara yang sedang tertelungkup sedikit gosong terkena api. Pasir yang menyelimutinya kini tinggal yang ada diwajahnya saja. Perlahan namun pasti Gaara bangkit dan luka-lukannya berangsur-angsur sembuh.
"Grr.. Kali ini aku akan benar-benar membunuhmu Uzumaki." geram Gaara. Tubuhnya kembali perlahan kembali diselimuti pasir. Kini pasir tersebut menyelimuti seluruh tubuh Gaara kecuali kaki dan membentuk mini Shukaku.
"Kau akan Mati Uzumaki." ujar Gaara dengan nada suara yang mulai berat.
"Benarkah ? Kita lihat saja siapa yang akan terkapar ditanah nanti Sabaku." ujar Naruto. Ia kemudian membuat sebuah handseal jutsu andalannya.
"Kagebunshin no Jutsu."
'Boft' 'Boft' 'Boft' 'Boft' 'Boft' 'Boft'
Kemudian muncul dua puluh bunshin milik Naruto, disekitar Naruto asli. Ia lalu menoleh kearah para bunshinnya lalu mengangguk. Mereka lalu mulai melancarkan serangan kepada Gaara dengan menggunakan taijutsu dan kecepatan yang serata Lee.
'Bukh' 'Dhuak' 'Bukh' 'Dhuak'
Gaara menjadi bulan-bulanan Naruto dan bunshinnya, ia sama sekali tak bisa membalas karena tak bisa mengimbangi kecepatan Naruto. Sesekali ia membalas serangan Naruto dengan kibasan lengan pasir miliknya. Namun yang ia kenai hanya bunsinnya saja. Gaara yang mulai geram mulai merapal handseal lalu ia menggembungkan perutnya.
"Fuuton : Mugen Sajin Daitoppa."
Gaara menyemburkan peluru angin bercampur pasir dan mengarahkannya memutar 360° untuk mengenai Naruto beserta para bunshinnya.
'Brakkk' 'Brakk' 'Brakk' 'Boft' 'Boft' 'Boft' 'Boft'
Suara pohon tumbang disertai suara bunshin Naruto yang menghilang terkena jutsu milik Gaara. Melihat hal tersebut Gaara tertawa bak psikopat.
"Hahahaha.. Mati kau Uzumaki"
Tanpa disadari Gaara, Naruto yang asli sudah ada dibawah pohon yang ia tempati. Mata Naruto telah berganti dengan mata kuning dengan garis horizontal khas katak. Dengan warna orange dikelopak matanya. Ia langsung melompat keatas dan meninju wajah Gaara.
'Bukhh' 'Wushh' 'Blarrr'
"Terlalu cepat untuk puas Sabaku." ujar Naruto yang sudah memasukki sage mode miliknya.
"Gah sialan kau Uzumaki." geram Gaara yang mulai bangkit. Nampak wajah pasir mini Shukaku miliknya yang tinggal setengah akibat pukulan berlapis senjutsu dari Naruto. Namun tak butuh waktu lama pasir-pasir mulai membentuk wajah Shukaku kembali.
"Hm apa sebegitu sukanya dirimu dengan wajah menjijikkan itu, hingga kau buat lagi, he Sabaku ?" ujar Naruto.
Gaara tak menggubris pertanyaan Naruto ia lalu menyatukan kedua tangannya seakan-akan membuat sebuah handseal. Tak berselang lama pasir-pasir disekitar Gaara dan area tersebut mulai berkumpul dan menyelimuti Gaara. Selang beberapa detik pasir-pasir tersebut sudah membentuk wujud sempurna Shukaku.
"Kau berhasil memaksaku mengunakan wujud ini. Sebagai hadiah aku akan membunuhmu. Uzumaki Naruto." ujar Gaara yang berada dalam wujud Shukaku.
Gaara lalu mengarahkan tangannya kearah Naruto. Pasir mulai menyelimuti tubuh Naruto dan kemudian membentuk bola.
"Dengan begini kau berakhir.." Gumam Gaara yang perlahan mengepalkan tangan Shukaku.
"Sabaku Soso" 'Bummm'
Bola pasir yang menyelimuti Naruto meledak sesaat setelah Gaara menggumamkan nama jutsunya.
"Hahaha.. Mati! Mati kau Uzumaki." ujar Gaara seraya tertawa ala psyco.
"Kuchiyose no Jutsu" 'Boft'
Sebuah suara mengintrupsi pendengaran Gaara, ia lalu menoleh kebelakang. Dan nampaklah sebuah kepulan asap besar menyelimuti disana, setelah asap menipis nampak Naruto yang sedang berdiri diatas seekor katak raksasa. Katak tersebut berwarna merah gelap dengan menggunakan haori berwarna biru gelap dengan aksen putih. Sebuah bekas luka nampak melintang di mata kirinya. Dimulut katak tersebut nampak sebuah pipa rokok besar, dan juga sebuah tanto yang terselip pada kain obi berwarna putih.
"Ada apa kau memanggilku kesini, gaki ? Kau tau, kau telah menganggu istirahatku." ujar katak tersebut.
"Maaf Gama-Oyabun, aku cuma perlu sedikit bantuanmu." ujar Naruto.
"Kau lihat apa yang ada didepan kita" lanjut Naruto seraya menunjuk Shukaku.
"Kau gila gaki ? Kau mau aku melawan biju itu ?" ujar Gamabunta.
"Oh ayolah Oyabun. Masa dengan Kurama yang ekor sembilan kau bisa melawannya, lalu kenapa dengan rakun ekor satu saja kau harus takut. ?" ujar Naruto.
"Itu berbeda gaki."
"Hm baiklah begini saja kau cukup menahannya dan aku akan urus sisanya. Bagaimana ?l" tawar Naruto.
"Hm baiklah ayo kita mulai." seru Gamabunta.
"Yosh.!"
Gaara yang melihat hal tersebut hanya tertawa senang dengan musuh yang dihadapinya. "Hahahaha Menarik! Menarik! Uzumaki Naruto kau telah memberikan aku banyak kesenangan hari ini. Jadi biarlah aku membunuhmu untuk membalasnya." ujar Gaara
"Heh kau berkata seakan-akan bisa melakukannya saja, Sabaku. Ikuzo Oyabun !"
Gamabunta langsung melompat menerjang kearah Gaara yang berada dalam wujud Shukaku dengan tanto miliknya. Melihat hal tersebut Gaara tak tinggal diam, ia memanjangkan tangan pasirnya mencoba menerkam Gamabunta.
'Crashh' 'Brughh' 'Jleb
Tangan pasir milik Gaara terpotong dan jatuh ketanah akibat sabetan tanto milik Gamabunta. Namun akibat serangan tersebut tanto milik Gamabunta juga terpental.
'Tak kusangka pasir itu keras sekali.' batin Gamabunta.
"Menarik sekali! Menarik sekali... Uzumaki Naruto." seru Gaara.
Tak berselang lama muncul sebuah gundukkan pasir diatas kepala Shukaku. Perlahan namun pasti gundukan pasir tersebut membentuk Gaara yang sedang menunduk. Ia lalu menyatukan kedua tangannya kemudian menggumamkan sesuati.
"Tanuki Neiri no Jutsu."
"Ini buruk dia akan mulai melepas kendalinya." ujar Gamabunta.
Setelah mengunakan jutsu tersebut Gaara langsung tertidur akibat efek jutsu tersebut. Perlahan namun pasti mata Shukaku terbuka dan menampakkan manik emas dengan corak hitam khasnya.
"Hahaha.. Akhirnya! Akhirnya! Aku bebas.. BEBAS!" seru Shukaku girang. Naruto yang melihat hal tersebut tersenyum senang.
"Cepat kesini kau! Aku akan membunuhmu" ujar Shukaku
"Kau berisik sekali rakun." balas Gamabunta.
Shukaku langsung mengibaskan ekornya kearah Gamabunta. Akan tetapi sebelum ekor tersebut mengenai target, lawannya terlebih dahulu melompat keatas. Shukaku yang melihat hal tersebut tak menyia-nyiakan kesempatan.
"Fuuton : Rekundan" seru Shukaku seraya memukul perutnya sendiri
Sebuah peluru angin besar melesat kearah Gamabunta yang sedang melompat. Gamabunta yang melihat hal tersebut tak tinggal diam, ia lalu merangkai segel sederhana.
"Suiton : Teppoudama"
Gamabunta menyemburkan bola air untuk menghalau peluru bola angin dari Shukaku. Kedua jutsu beradu dan menghasilkan hujan diarea sekitar pertarungan. Saat Gamabunta baru mendarat Shukaku langsung menyerangnya dengan bola angin beruntun miliknya. Namun Gamabunta dengan gesit menghindari serangan Shukaku. Dan sesekali membalas serangan Shukaku.
"Oyabun tolong semburkan minyak, kita akan panggang rakun itu." ujar Naruto.
"Baiklah bocah." kemudian Naruto membuat sebuah handseal, sedangkan Gamabunta menggembungkan mulutnya.
"Katon : Gamayuendan" seru Gamabunta dan Naruto bersamaan. Sebuah semburan api besar dengan cepat mengarah kearah Shukaku. Sementara Shukaku yang tak mau terpanggang langsung membentuk prisai dari pasir.
'Bummm'
Api dan pasir beradu menyebabkan asap tipis menyelimuti Gaara dan Shukakhu. Tak mau menunggu asap menipis Naruto langsung menyuruh Gamabunta melesat kearah Shukaku.
"Oyabun beri aku air." pinta Naruto. Gamabunta langsung menyemburkan air yang dari mulutnya. Melihat Gamabunta sudah mengeluarkan air Naruto langsung membuat handseal.
"Suiton : Suishoha"
Air yang dikeluarkan Gamabunta membentuk pusaran air besar yang mengelilingi Naruto dan Gamabunta. Naruto lalu mengarahkan tangannya kearah Shukaku hal tersebut membuat pusaran air tersebut menjadi ombak besar dan menerjang Shukaku.
'Buummmm'
Suara debumam terdengar akibat ombak raksasa yang diciptakan Naruto menghantam Shukakhu. Setelah air mereda nampak Shukaku terseret beberapa meter dengan kondisi kurang baik akibat terjangan ombak. Pasir yang membentuk tubuhnya menjadi lembab dan membuat Shukaku susah bergerak.
"Grrr Sialan kau bocah tengik." geram Shukakhu.
"Ini kesempatan kita Ikuzo Oyabun!" ujar Naruto.
Gamabunta langsung melompat kearah Shukakhu yang kesulitan bergerak. Sesampainya didepan Shukaku, Gamabunta langsung mengunci pergerakkan Shukaku. Sementara Naruto langsung melompat menerjang Gaara.
"Terima ini dan lihatlah kenyataan." ujar Naruto seraya mengayunkan tinju kearah wajah Gaara.
'Bukhh'
"Arkh Sialan kau bocah padahal aku baru saja bebas." geram Shukakhu sebelum menghilang.
Gaara perlahan membuka matanya dan dapat ia lihat Naruto tengah berdiri tak jauh darinya. Mereka berdua masih berada diatas kepala Shukakhu yang sekarang tak lebih dari tumpukkan pasir. Gaara memandang tajam kearah Naruto, sementara yang dipandang hanya membalas dengan tatapan datar.
"Guh.. Sialan! Kau membuatku muak akan ku bunuh kau Uzumaki Naruto." geram Gaara. Ia lalu mengarahkan tangannya kearah Naruto.
"Sabaku Kyu"
Pasir dari berbagai arah mencoba menerjang Naruto. Naruto yang hendak melompat menghindar kakinya sudah terlebih dahulu dililit oleh pasir yang dipijaknya.
Pasir-pasir yang mengarah kearah Naruto langsung membungkus Naruto. Gaara yang melihat hal itu menyeringai senang ia lalu mengepalkan tangannya seolah mengenggam sesuatu.
"Sabaku Soso" 'Bummm'
Pasir yang menyelimuti Naruto meledak seketika, Gaara langsung tertawa bak psyco saat mengetahui ia berhasil membunuh Naruto.
"Hahaha Akhirnya! Akhirnya kau ma-"
'Dhukk'
"Tidurlah sebentar aku sudah muak mendengarmu." ujar Naruto yang berada dibelakang Gaara. Ia tadi memberikan sebuah genjutsu sederhana pada Gaara untuk membuat Gaara lengah dan melumpuhkannya.
'Kratak.. Kratak.. Kratak.. Crasshhh..'
Replika Shukaku yang dinaiki Naruto dan Gaara perlahan-lahan hancur dan kembali menjadi serpihan pasir. Naruto dengan sigap membawa tubuh Gaara dengan menggunakan shushin agar tak jatuh ketanah.
'Tap!'
Naruto yang sedang mebopong Gaara mendarat tak jauh dari area pertempuran. Ia kemudian membaringkan Gaara dan menyenderkan kesebuah pohon yang tak jauh darinya.
"Hoy gaki aku kembali dulu, karena aku sudah sampai batasku." ujar Gamabunta.
"Hai arigato Gama-Oyabun." balas Naruto
'Boft'
"Huh akhirnya selesai ju-"
'Deg'
"Bunshinku menghilang.. Gawat Karin!" ujar Naruto saat merasakan ingatan dari Chi bunshinnya yang ia tugaskan menjaga Karin diapartemennya.
Naruto lalu membuat sebuah bunshin untuk menjaga Gaara. Sedangkan ia langsung melesat kembali kekonoha untuk memeriksa keadaan Karin. 'Bertahanlah Karin.'
.
.
.
Sesaat sebelumnya..
Diapartemen Naruto kini tengah terjadi pertarungan antara Chi bunshin Naruto melawan beberapa ninja Oto. Karin yang ketakutan berdiri dibelakang Chi bunshin Naruto. Ia tahu bahwa salah satu diantara ninja Oto tersebut ada seorang yang memiliki tanda kutukan dari Orochimaru.
Chi Bunshin Naruto yang melihat Karin ketekutan berusaha menenangkan. "Tenanglah selama aku masih ada, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu." ujar Naruto.
"Ho.. Manis sekali bocah! Sebaiknya turuti saja perintah kami dan serahkan gadis merah itu pada kami. Maka kami akan membiarkan kau tetap hidup." ujar seorang ninja Oto.
"Sedikit saja kalian menyentuhnya maka akan aku pastikan nyawa kalian terpisah dari tubuh kalian." gertak Naruto
"Cih nyalimu besar juga bocah. Kalau begitu kami tidak akan segan-segan." para ninja Oto langsung menyerang bunshin Naruto dan meninggalkan satu orang dibelakang.
"Bodoh" gumam bunshin Naruto. Ia lalu mengangkat salah satu tangannya.
"Kai."
Ninja-ninja Oto yang berlari menuju Naruto seketika beehenti bergerak. Aksara-aksara fuin mulai menjalar tubuh para ninja Oto tersebut.
"Apa yang kau lakukan pada kami bocah. ?" bentak salah satu ninja Oto.
"Haruskah aku menjawab ?" ujar Naruto dengan nada mengejek. Ia lalu merapalkan sebuah handseal.
"Fuuton : Kazekiri no Jutsu."
'Crash.. Crassh.. Crash.. Brukk.. Brukk.. Brukk'
Jutsu pisau angin yang dibuat Naruto sukses memenggal kepala para ninja Oto yang sudah tak bisa bergerak.
"Huh tak ku sangka akan semu-"
'Jleb'
"Ohokk.." darah segar keluar dari mulut Chi bunshin Naruto. Karin yang melihat hal tersebut hanya dapat menutup mulutnya seraya butiran-butiran bening keluar dari mkeduan matanya.
"Kau lengah bocah." ujar Ninja Oto yang sedari tadi diam. Ia memegang sebuah senjata menyerupai pedang yang terbuat dari tulang. Senjata tersebut tepat menusuk jantung Chi bunshin Naruto.
"Si-sialan kau" gumam Chi bunshin Naruto sebelum menghilang menjadi ceceran darah.
"Hm tak kusangka dia hebat juga meski hanya sebuah bunshin." ujar ninja tersebut lalu ia menoleh kearah Karin yang sedari tadi hanya diam.
"Kau ikut aku ! Ini perintah dari Orochimaru-sama." titah Ninja Oto tersebut. Karin dengan terpaksa mengikuti orang tersebut.
.
.
.
Setibanya Naruto diapartemennya, ia tak mendapati keberadaan Karin. Ia hanya mendapati mayat-mayat ninja Oto yang dibunuh oleh Chi bunshinnya. Ia lalu memfokuskan cakranya untuk mendeteksi keberadaan Karin. Namun hasil yang didapat Naruto adalah nihil karena ninja Oto dan Karin sudah berada diarea sensornya.
"Cih sial aku terlambat." ujar Naruto sambil mengepalkan tangannya.
.
.
.
Gaara side
Gaara perlahan membuka matanya, ia merasakan pusing dikepalanya. Ia lalu mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Tak usah dipaksakan. Cakramu belum pulih sepenuhnya."
Gaara menoleh kearah asal suara yang ada disampingnya. Ia lalu bergeser menjauh dari Naruto atau lebih tepatnya bunshin Naruto.
"Kau apa yang kau lakukan ?" tanya Gaara dengan nada yang mengandung sedikit takut
"Tenanglah, aku hanya inginentak Gaara.
"Jika aku ingin berbicara denganmu." jawab bunshin Naruto tanpa menoleh kearah Gaara.
"Jangan bercanda." b membunuhmu sudah aku lakukan dari tadi." ujar Naruto seraya menatap Gaara.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku."
"Sesuatu yang ada dalam dirimu." ujar Naruto denga serius. Dapat dilihat wajah Gaara kembali menampilkan mimik takut. Melihat hal itu Naruto langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha."
"?"
"Lihat wajahmu itu kau betapa lucunya wajah datarmu itu saat ketekutan." ujar Naruto sambil memegang perutnya.
"Urusai. Kau mempermainkanku." geram Gaara.
"Santai saja aku cuma bercanda. Aku mengerti yang kau rasakan" ujar Naruto yang sudah berhenti tertawa.
"Maksudmu ?"
"Dibenci, dijauhi, dihina, tidak punya teman bahkan coba untuk dibunuh. Aku tau semua yang kau rasakan karena kau juga mengalaminya. Tapi yah harus aku akui kau sedikit lebih beruntung dariku karena kau masih mempunyai saudara." ujar Naruto seraya memendang langit.
"Aku tak faham apa yang kau bicarakan."
"Singkatnya kita sama, aku dan kau mengalami hal yang sama sebagai jinchuriki." balas Naruto. Gaara hanya terdiam menelaah perkataan Naruto.
"Sebaiknya aku pergi karena saudaramu sudah datang." ujar Naruto sambil berdiri.
"Tunggu !" seru Gaara. Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Gaara. "Bolehkah aku menjadi temanmu." lanjut Gaara.
Naruto membalikkan badannya lalu berkata. "Pertemanan sesama jinchuriki ya. Tidak buruk ! Kalau begitu sampai jumpa. Teman." ujar Bunshin Naruto lalu menghilang menjadi kepulan asap.
"Teman ya." gumam Gaara.
Tak lama berselang datang Kankuro dan temari menghampiri Gaara yang masih duduk bersandar dipohon.
"Kau tidak apa-apa Gaara ?" tanya Temari.
"Aku tidak apa-apa. Lebih baik kita kembali ke suna." ujar Gaara. Hal tersebut membuat Temari dan Kankuro terkejut karena baru pertama Gaara membalas pertanyaan mereka dengan baik.
"Apa benar kau tidak apa-apa. Kurasa kepalamu sedikit terbentur seprtinya." ujar Kankuro memastikan.
"Sungguh aku baik-baik saja. Tapi sepertinya aku masih belum dapat berjalan. Jadi bisakah kalian membopongku." balas Gaara.
Kembali Temari dan Kankuro dibuat terkejut dengan penuturan Gaara. Namun mereka tak mau ambil pusing karena memang sekarang keadaan di Konoha sedang berbalik jadi sebisa mungkin mereka harus mundur.
"Baiklah."
.
.
.
Suasana diKonoha sedang berkabung akibat meninggalnya sang Hokage dalam invasi yang dilakukan oleh Oto-Suna. Suasana pamakaman sang Kami no Shinobi berlangsung hikmat, langitpun ikut menangis dengan kematian sang Hokage. Semua warga bersedih akibat peristiwa tersebut.
Dua hari berlalu warga Konoha mulai berbenah membangun kembali rumah-rumah mereka yang rusak akibat invasi. Hubungan dengan Suna belum membaik akibat kejadian ini.
Disebuah ruang rapat duduk beberapa tetua dan para ketua klan dan tak lupa daimyo negara api juga turut hadir. Mereka sedang membahas kursi Hokage yang kosong pasca gugurnya Sandaime hokage.
Para tetua dan ketua klan beserta daimyo sepakat menunjuk Jiraya untuk menjadi Godaime hokage. Dengan pertimbangan ia adalah salah satu legenda Sannin konoha, dan murid dari Sandaime dan guru dari Yondaime.
"Jadi sudah diputuskan bahwa yang akan menjabat sebagai Godaime hokage adalah Ji-" "Aku menolak." ucapan daimyo terlebih dahulu dipotong oleh Jiraya yang tiba-tiba datang.
"Apa maksudmu Jiraya. Selain kau tak ada lagi yang pantas memegang jabatan ini." ujar Homura salah satu tetua Konoha.
"Ada satu orang lagi." jawab Jiraya.
"Siapa ?" tanya Koharu.
"Tsunade-hime dia juga Sannin sepertiku dan menurutku dia lebih pantas memegang jabatan ini." ujar Jiraya.
"Tapi Tsunade tidak diketahui keberadaannya. Dan hal tersebut membuat kau jadi calon tunggal." balas Koharu.
"Aku akan mencarinya."
"Kau tau desa sedang dalam masa rawan. Kita tak bisa menunggu lagi Jiraya." keukuh Homura.
"Beri aku 2 minggu. Dan akan aku bawa dia kembali kedesa, jika aku gagal aku akan menerima jabatan ini, bagaimana ?" tawar Jiraya. Mereka semua yang ada disitu berdiskusi mengenai opsi yang diberikan oleh Jiraya.
"Baiklah kami terima tawaranmu. Apa kau akan pergi sendiri. ?"
"Tidak aku akan mengajak muridku. Uzumaki Naruto." balas Jiraya.
"Kau ingin membawa bocah itu. Kau tahu sendiri statusnya sebagai Jinchuriki sangat sentral bagi Konoha." balas Danzo yang dari tadi diam.
"Apa kau tidak percaya padaku. Danzo?" tanya Jiraya.
"Hm tidak masalah jika selama dia bersamamu kami tidak akan khawatir. Jadi kapan kau akan berangkat ?" balas Koharu menegahi.
"Besok pagi. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku pamit untuk memberi tahu Naruto." ujar Jiraya.
"Ya silahkan."
.
.
.
Di apartemen milik Naruto, kini Naruto sedang duduk merenung dengan kejadian-kejadian yang ia alami belakangan ini. Dan yang paling membuat ia terpuruk adalah meninggalnya seseorang yang telah ia anggap kakek sendiri.
"Apa yang kau pikirkan gaki. ?" tanya seseorang dari arah jendela apartemen Naruto.
"Bukan apa-apa Ero-sennin, dan ada apa kau menemuiku." ujar Naruto.
"Hm begitukah caramu berbicara dengan guru sekaligus ayah angkatmu. Naruto." ujar orang yang dipanggil Ero-sennin yang tak lain adalah Jiraya.
"Huh.. Sudahlah tidak usah basa-basi cepat katakan apa yang kau inginkan." balas Naruto dengan ketus. Yah sekarang memang suasana hatinya sedang tidak ingin bercanda.
"Kau akan ikut aku keluar desa untuk mencari hokage selanjutnya. Masalah tetua tak usah difikirkan karena aku sedah mendapatkan ijin agar kau bisa ikut denganmu." terang Jiraya.
"Kenapa harus mencari orang lain sedangkan kau sendiri sudah lebih dari layak untuk mengambil posisi itu." ujar Naruto.
"Kau tahu kan aku ini tidak cocok untuk hal seperti itu. Aku lebih suka menjadi mata-mata dan mengelilingi dunia." balas Jiraya.
"Huh pasti karena novel nistamu itu." dengus Naruto.
"Hoy apa maksudmu ? Kau itu masih kecil jadi tidak akan mengerti karya seni yang sebenarnya." balas Jiraya.
"Ya ya.. Kau dan buku nistamu. Jadi siapa yang akan kita cari ?" tanya Naruto.
"Kita akan mencari Tsunade."
"Hm jadi dia yang akan jadi hokage. Kapan kita akan berangkat ?"
"Besok jadi bersiap-siaplah" ujar Jiraya lalu menghilang menjadi kepulan asap.
"Dasar Ero-sennin." gumam Naruto.
.
.
.
Keesokan harinya..
Kini Naruto sedang bersiap-siap untuk mencari keberadaan calon hokage yang entah dimana dia. Naruto dengan tenang berjalan menuju kearah gerbang desa, ia mengacuhkan setiap penduduk yang memandangnya dengan benci. Hal tersebut sudah biasa Naruto alami jadi ia tidak mau ambil pusing dengan pendapat orang lain tentang dirinya.
Sesampainya digerbang desa ia dapat melihat gurunya sedang berbincang dengan beberapa tetua desa. Naruto dengan santai mendatangi mereka yang sudah menyadari kedatangannya.
"Kau terlambat gaki." ujar Jiraya.
"Sebenarnya tidak juga. Karena kemarin kau hanya bilang besok meskipun aku datang jam 11 malam. Aku tidak terlambat karena itu juga termasuk dalam cakupan waktu yang kita sepakati."balas Naruto santai.
Alis Jiraya berkedut apa-apan muridnya ini. Apa dia tidak tahu sekarang ada siapa diantara mereka. Apa memang dia sengaja menjatuhkan harga diri gurunya.
"Hah terserah kau saja kalau begitu ayo kita berangkat." Ajak Jiraya.
"Hm".
Setelah berpamitan dengan tetua yang menyempatkan diri mengantar. Mereka langsung pergi ke desa-desa yang kemungkinan disinggahi oleh Tsunade.
"Jadi kemana tujuan pertama kita ?" Tanya Naruto membuka percakapan.
"Kita akan ke Kirigakure terlebih dahulu."
"Kenapa tak langsung ke Tanzaku Gai. Bukankah kemungkinan besar Tsunade Baa-chan ada di sana. Mengingat kebiasaan buruknya." Ujar Naruto. Lalu ia menyipitkan matanya melihat Jiraya yang sedang tersenyum canggung.
"Kuharap apa yang aku pikirkan tidak benar." Lanjut Naruto.
"Ahaha kau tau saja gaki." Ujar Jiraya dengan tawa canggung.
Naruto hanya mendesah mengetahui apa yang sedang difikirkan guru mesumnya ini. "Hah baiklah aku juga ingin menemui seseorang di Kiri." Ujar Naruto lalu berjalan mendahului Jiraya.
.
.
.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari Naruto dan Jiraya telah sampai di desa Kirigakure. Mereka dihadang oleh penjaga gerbang guna mengikuti prosedur yang berlaku untuk memasuki desa Kiri. Setelah melakukan administrasi mereka langsung mencari apartemen untuk tempat mereka menginap.
Setelah mendapatkan apartemen mereka langsung beristirahat. Karena selama perjalanan mereka tak berhenti dan terus berjalan.
Naruto terbangun saat hari memasuki senja, ia terbangun karena rasa lapar yang menderanya. Perlahan ia bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah keluar kamar mandi ia masih mendapati sang guru yang sudah tidak ada. 'mungkin dia melakukan kebiasaannya.' batin Naruto.
Ia lalu pergi berjalan mengelilingi desa untuk mencari makan. Namun, tak sengaja ia berpapasan dengan orang yang ia kenal. Dengan cepat ia menghampiri orang tersebut.
"Yo hisashiburi ne Haku-chan." Sapa Naruto.
"Eh.. Naruto-kun apa yang kau lakukan disini. ?" Tanya Haku.
"Hm begitukah sikapmu saat lama tak bertemu denganku." Balas Naruto dengan nada ngambek.
"Bu-bukan begitu aku kan hanya bertanya." Ujar Haku.
"Hm aku hanya singgah sebentar disini. Dan sekaligus menemuimu, tapi kau malah bersikap seperti itu." Ujar Naruto.
"Eh menemuimu memangnya ada apa. ?"
"Hm sebaiknya kita bicarakan itu sambil makan karena aku sedang lapar. Apa kau bisa memberiku refrensi untuk makanan enak yang ada di Kiri." Ujar Naruto sambil mengelus perutnya.
"Hm baiklah kalau begitu ikut aku." Ujar Haku seraya berjalan mendahului Naruto.
.
.
.
Setelah makan disebuah restoran yang cukup terkenal di Kiri mereka berbincang-bincang menmbicarakan masing-masing. Naruto dengan seksama mendengarkan Haku yang sedang bercerita perihal perang saudara yang dimenangkan oleh pihak relibion. Sedangkan Naruto juga menceritakan ujian chunnin yang ia ikuti yang berakhir dengan invasi Suna-Oto. Dan tak lupa ia mengatakan tujuan mereka berkelana dan singgah di desa Kiri.
"Jadi kau kemari bersama dengan salah satu Sannin dari Konoha." Ujar Haku yang dibalas anggukan oleh Naruto. "Lalu dimana dia sekarang ?"
"Hm lebih baik kau tak usah tahu dimana dia karena ku yakin dia sedang melakukan penelitian untuk buku nistanya." Ujar Naruto yang dibalas dengan tatapan tak mengerti dari Haku.
Tak lama berselang muncul seseorang berbadan kekar membawa pedang besar di punggungnya. Orang tersebut memakai rompi khas Jounin Kiri dengan hitai ate yang diikat agak miring dikenalnya. Wajahnya dililit perban sehingga hanya menampakkan matanya saja.
"Oh kau disini rupanya Haku. Dan kau bocah apa yang kau lakukan disini ?" Ujar orang tersebut.
"Begitukah caramu menyapa orang yang lama tidak berjumpa Zabuza-san" ujar Naruto.
"Keh kau semakin arogan saja gaki." Balas orang bernama Zabuza tersebut.
"Hm benarkah aku bahkan tidak merasa demikian." Balas Naruto.
"Sudah sudah hentikan perdebatan kalian. Jadi ada apa Zabuza-sama sampai anda mencariku ?" Tanya Haku.
"Kita dipanggil oleh Mizukage-sama untuk menghadap." Jelas Zabuza.
"Hm baiklah kalau begitu. Apa tak apa aku tinggal." Tanya Haku pada Naruto.
"Tak masalah lagipula sebentar lagi aku juga akan melanjutkan perjalananku." balas Naruto.
"Begitukah ? Hm baiklah kalau begitu aku pergi dulu Naruto-kun. Semoga kita bisa bertemu lagi." Ujar Haku. MN
"Pasti" balas Naruto singkat.
Setelah kepergian Zabuza dan Haku, Naruto memutuskan untuk kembali ke apartemen yang mereka sewa. Karena dirinya yakin bahwa sang Petapa genit akan segera kembali dan mengajaknya pergi. Dan benar saja belum ada lima menit Naruto sampai di apartemennya Jiraya sudah muncul dan mengajaknya bergegas untuk pergi.
'selalu begini tak pernah berubah' batin Naruto.
"Jadi siapa lagi kini yang kau intip. ?" Tanya Naruto dengan bosan seolah sudah hafal dengan kelakuan gurunya.
"Kali ini aku mendapat tangkapan besar gaki." Balas Jiraya dengan senyum mesum andalannya.
"Jangan bilang kau mengintip Mizukage baru itu." Balas Naruto dengan menatap horor Jiraya.
"Wah kau hebat gaki bisa mengetahui pikiranku."
"Kau gila Ero-sennin apa kau mau jadi Kakek panggang akibat lava dari Mizukage." Ujar Naruto seraya menjambak surai pirangnya.
"Maka dari itu kita harus cepat pergi dari sini." Balas Jiraya yang sudah memanggul tas dan gulungan besar miliknya. Naruto hanya menghela nafas dengan kelakuan gurunya ini, mereka kemudian menghilang menggunakan shushin menuju keluar desa.
.
.
.
Sementara itu di hutan sebelah barat desa Konoha nampak dua orang yang memakai jubah dengan motif awan merah. Mereka menggunakan caping untuk menutupi wajah mereka. Mereka sedang berjalan ke arah desa Konoha.
"Huh kau tak terlihat senang padahal kau akan melihat desa asalmu." Ujar salah satu dari mereka yang membawa sesuatu seperti pedang besar yang dililit perban di punggungnya.
"Banyak hal yang tak kau mengerti Kisame." Ujar rekannya dengan datar perlahan capingnya terangkat dan menampakkan dua buah mata yang berwarna Semerah darah.
"Iya terserah kau saja Itachi." Balas orang yang bernama Kisame.
(Kejadian selanjutnya seperti canon)
.
.
.
Naruto dan Jiraya yang sudah keluar dari desa Kirigakure melanjutkan perjalan mereka menuju Tanzaku Gai. Perjalanan kesana akan menempuh waktu 3 hari dari Kiri jadi mereka memutuskan untuk beristirahat di hari kedua di sebuah desa yang tak jauh dari Tanzaku Gai.
"Ero-sennin apa tak ada sesuatu yang bisa kau ajarkan padaku lagi." Ujar Naruto membuka suara.
"Hm kurasa aku sudah mengajariku semua yang aku punya. Mungkin besok kita bisa melakukan pengembangan dari jutsu yang telah kau kuasai. Misal seperti rasengan berelemen Katon milikku." Terang Jiraya.
"Hm kedengarannya menarik. Aku akan mencobanya untuk ketiga elemen yang aku miliki." Ujar Naruto.
"Baiklah kalau begitu sementara waktu kau bisa melanjutkan pelajaran fuinjutsu yang ku ajarkan. Sementara aku akan keluar untuk mencari informasi." Ujar Jiraya seraya melangkah menuju pintu apartemen yang mereka sewa.
"Huh bilang saja kau mau mengutip wanita yang sedang mandi di Onsen." Gerutu Naruto.
"Ahaha kau tau saja gaki." Ujar Jiraya langsung pergi meninggalkan Naruto.
Setelah kepergian Jiraya, Naruto memutuskan untuk membuat bunshin agar latihannya berjalan lebih maksimal. Setelah membuat lima bunshin Naruto langsung menyuruh para bunshinnya untuk mempelajari fuinjutsu. Sedangkan Naruto yang asli memilih untuk bermeditasi dan bertemu dengan Kurama.
"Yo apa kabar Kurama ?" Sapa Naruto
"Cih jangan sok akrab denganku gaki." Balas Kurama.
"Bukankah kita teman jadi sudah seharunya kita akrab ?"
"Aku memberitahu namaku bukan berarti aku mau menjadi temanmu baka-gaki" balas Kurama.
"Hm baiklah kalau begitu mari kita berteman." Ujar Naruto.
"Cih aku tak Sudi berteman dengan bocah sepertimu. Dan sebaiknya kau keluar karena kurasa ada yang datang." Ujar Kurama.
"Aku sudah tahu itu. Tapi terima kasih atas perhatianmu." Ujar Naruto lalu keluar dari mainscapenya.
Kurama hanya mendecih tak suka mendengar perkataan Naruto. Namun seulas senyuman tercipta di bibir rubahnya. 'kau semakin menarik gaki'
Setelah Naruto keluar dari mainscapenya, ia merasakan dua orang yang memiliki Cakra lumayan besar sedang menuju apartemen yang ia tempati. Naruto langsung membuat bunshin untuk menggantikan posisinya. Sedangkan dirinya bersiap di suatu tempat untuk menyambut dua orang tersebut.
'Tok.. Tok.. Tok..'
Tak lama berselang pintu apartemen Naruto diketuk. Bunshin Naruto dengan santai berjalan menuju pintu dan membukanya. Nampak dua orang yang memakai jubah bermotif awan merah sedang memandang remeh kearahnya.
"Siapa kalian. ?" Tanya Naruto berbasa-basi.
"Dimana dia ?" Ujar salah satu dari mereka dengan datar. orang tersebut mengunakan hitai ate Konoha dengan sebuah goresan melintang ditengahnya. Ia mempunyai rambut reven lurus dengan kerutan diantara mata dan hidungnya.
"Maaf apa yang anda maksud orang yang bersama saya. Kebetulan dia sedang pergi. Ada perlu apa ninja-san." Balas Naruto dengan tenang pasalnya dia tahu siapa yang ada didepannya ini.
Bukan jawaban yang didapat melainkan sebuah hunusan kunai yang bunshin Naruto terima. Pelakunya tidak lain tidak bukan adalah orang yang berbicara tadi.
'Boft'
Bunshin Naruto menghilang menjadi kepulan asap. Orang tersebut kemudian melirik ke kanan menatap Naruto dengan sepasang mata merah darah miliknya.
"Hah memang susah menipu seorang jenius Uchiha sepertimu Itachi." Ujar Naruto.
"Uzumaki Naruto serahkan dirimu dan kita akan selesaikan semua ini dengan cepat." Ujar Itachi datar.
"ITACHI.." Seru seseorang dari arah belakang mereka.
Serentak mereka mengalihkan pandangan keasal suara. Dan nampak Sasuke yang sedang berdiri dengan mata sharingan 2 tomoe miliknya yang telah aktif. Ia lalu melakukan handseal dengan cepat. Dan munculah aliran Cakra membentuk petir ditangan Sasuke.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU." Lanjut Sasuke sambil berlari menuju Itachi. Dinding apartemen tergores cukup dalam akibat Sasuke yang menyeret Chidori miliknya.
'huh bagus sekali Uchiha besar belum aku tangani kini Uchiha kecil juga ikut-ikutan. Lebih baik aku tonton saja reuni keluarga ini.' batin Naruto.
Sasuke berlari dengan cepat kearah Itachi dengan Chidori ditangannya. Sementara Itachi hanya memandang datar adijnya yang ingin menyerangnya. Saat jarak mereka menipis Sasuke langsung mengarahkan Chidori miliknya pada Itachi.
'Bummm'
Suara ledakan terjadi didepan kamar apartemen yang Naruto tempati. Asap akibat ledakan menebal menghalangi pandangan mereka. Setelah asap menipis nampak Itachi yang mencengkram tangan Sasuke yang tadi membawa Chidori. Tangan tersebut diarahkan ke tembok di samping mereka hingga membuat tembok tersebut berlubang terkena Chidori Sasuke.
'kretek'
"Arkhhhh.." teriak Sasuke saat pergelangan tangannya dipatahkan oleh Itachi.
"Kau masih sangat lemah untuk membunuhku Sasuke." Ujar Itachi dengan datar. Lalu ia dengan sigap mengangkat tubuh Sasuke dan langsung menendangnya sampai menabrak tembok ujung lorong tersebut.
'Dhuak.. Brakkk'
Tanpa menunggu Sasuke berdiri Itachi langsung mengekang leher Sasuke dengan lenganya. Hal tersebut membuat Sasuke kembali menabrak tembok. Sudut bibir Sasuke mengeluarkan darah segar akibat luka dalam yang ia terima.
"Kau masih sangat lemah Sasuke. Jadi jangan harap kau bisa membunuhku dengan kekuatannya yang seperti ini. Kau tahu bahkan aku lebih tertarik dengan jinchuriki Kyuubi itu dari pada dirimu yang lemah ini Sasuke." Ujar Itachi.
"Gah a-akn ku-bunuh akh kau hah Itachi." Geram Sasuke yang susah payah bernafas karena lehernya dikekang Itachi.
"Apa kau tidak membantunya. ?' tanya Kisame kepada Naruto yang sedari tadi hanya diam melihat Itachi menghajar Sasuke.
"Kenapa harus." Tanya balik Naruto
"Bukankah dia tamanmu. ?"
"Aku tidak ingin ikut campur masalah keluarga mereka." Ujar Naruto tenang
"Ho begitukah kalau begitu mari kita berpesta sendiri. Karena aku sudah tidak sabar memenggal kepalamu dengan samehada milikku." Ujar Kisame seraya mengacungkan samehada miliknya.
"Seharusnya kau perhatikan dimana kau berdiri. Muka hiu" ujar Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari Itachi dan Sasuke.
Kisame langsung melihat bawahnya dan nampak sebuah ukiran fuin yang ia injak. Ia mencoba untuk beranjak dari lingkaran tersebut. Namun tubuhnya serasa kaku. Ia melirik kearah Naruto yang mengacungkan satu tangannya didepan dadanya.
"Terlambat jika kau berfikir ingin kabur dari fuin pengekangan milikku." Ujar Naruto dengan datar.
"Gah sialan kau bocah." Geram Kisame.
Kembali pada Itachi dan Sasuke setelah pembicaraan yang author rasa tidak berguna. Itachi mengakhirinya dengan membuat Sasuke masuk kedalam dunia Tsukoyomi miliknya. Hal tersebut mengakibatkan Sasuke tak sadarkan diri dengan sorot mata kosong.
"Woy Itachi kalau kau sudah selesai bisakah kau urus bedebah kecil ini." Seru Kisame.
"Hn kenapa bukan kau saja kau kan lebih dekat dengannya." Balas Itachi
"Cih jika aku bisa aku tidak menyuruhmu. Kau tidak lihat aku sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan."
"Hn itu salahmu sendiri." Balas Itachi acuh.
Kisame hanya bisa mengeram dengan perkataan patnernya. Memang apa salahnya menolong patnernya yang super tampan ini. Kan sesama patner harus saling tolong menolong. Pikir nista Kisame.
Dengan tenang Itachi berjalan perlahan menuju Naruto dan meninggalkan Sasuke yang kini terduduk dilantai. Ia mengarahkan pandangan dua mata sharingan miliknya kearah Naruto. Saat jarak diantara mereka menyusahkan dua meter Itachi berhenti lalu mengeluarkan suaranya.
"Uzumaki Naruto menyerahlah ! Dan jangan coba untuk melawan." Ujar Itachi dengan datar berusaha mengintimidasi Naruto.
"Hm aku sadar dalam levelku yang sekarang. Aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari kalian. Tapi setidaknya aku sudah mengulur waktu yang cukup untuk menahan kalian." Balas Naruto.
Seketika lorong apartemen tempat mereka berubah menjadi seperti perut katak. Kemudian dari arah belakang Naruto muncul Jiraya yang sedang memanggul perempuan.
"Wah sepertinya kau sedang kesusahan gaki." Ujar Jiraya.
"Huh perempuan itukah yang membuatmu terlambat padahal aku sudah dari tadi mengirim bunshinku." Balas Naruto.
"Hm begitulah kau seperti tak tau aku saja. Jadi apa yang dilakukan Uchiha Itachi dan Hoshigaki Kisame disini." Ujar Jiraya sambil menatap kedua anggota Akatsuki tersebut.
Itachi yang melihat kedatangan Jiraya langsung membebaskan Kisame dari fuin pengekangan Naruto dan berlari pergi menjauh dari mereka. Jiraya yang melihat dua kriminal itu pergi tak membiarkannya. Ia langsung menpelkan tangannya di atas perut katak tersebut.
Namun Itachi dan Kisame berhasil lolos berkat api amaterasu milik Itachi yang mampu membobol dinding perut katak milik Jiraya. Jiraya langsung bergegas ketempat dimana Itachi berhasil lolos. Ia lalu menyegel api hitam amaterasu milik Itachi pada fuin penyimpanan. Ia lalu melangkah menuju kearah Naruto yang tengah mengecek kondisi Sasuke.
"Bagaimana ?" Tanya Jiraya.
"Beberapa tulang rusuknya patah, organ dalamnya juga mengalami luka yang cukup serius. Dan terlebih lagi mentalnya hancur akibat terkena genjutsu milik Itachi." Balas Naruto.
"Hm dia harus segera dibawa ke Konoha untuk mendapatkan perawatan." Ujar Jiraya.
"Kau benar. Dan bisakah kau membawanya Guy-sensei." Seru Naruto.
"Wah kau tau rupanya bahwa aku sudah tiba disini." Ujar Guy.
"Hm jadi bisakah kau membawanya untuk kami. Karena kami yakin jika kau yang membawanya dengan semangat masa mudamu pasti akan lebih cepat sampai." Ujar Naruto berusaha mamacing semangat Guy.
"Yosh serahkan saja padaku. Dengan semangat masa mudaku yang bergelora aku akan menjalankan tugas ini." Ujar Guy dengan semangat menggelora.
Jiraya hanya bisa sweatdrop dengan Jounin nyentrik didepannya. Sebegitu mudahkan dia dipengaruhi orang lain. Pikir Jiraya.
Guy dengan cepat langsung menggendong Sasuke di punggungnya. Ia lalu menoleh kearah Naruto dan Jiraya. "kalau begitu aku pergi dulu Naruto, Jraya-sama." ujar Guy seraya mengacungkan jempolnya dan juga menampilkan senyum nice Guy andalannya.
Guy langsung melesat menuju Konoha dengan berlari sekuat tenaga. Meninggalkan Naruto dan Jiraya yang masih terpaku ditempat.
"Hah sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita karena kurasa akan terjadi banyak hal yang tak terduga nantinya." Ujar Jiraya.
"Yah baiklah."
.
.
.
.
TbC
Yo Minna maaf lama updatenya. Hm gimana yah sebenernya mau update seminggu sekali tapi apa daya hp saya malah rusak. Jadi harus beli lagi dan itupun harus nunggu gajian terus nulis lagi. Dan ditambah nyari email dan kata sandi yang aku sendiri lupa namanya. Yah jadinya updatenya super lama. Kok malah jadi curhat ya..
Huh baiklah kita abaikan saja yang diatas. Gimana chap ini hambarkah, menjenuhkan, membosankan, atau malah eneg bacanya. Maaf jika chap ini tidak sesuai ekspetasi kalian. Sebenernya krangkang ceritanya sudah ada tinggal penjabarannya aja tapi karena kesibukan saya jadi nulisnya Hanya pada waktu senggang saja.
Yosh kalau begitu mari kita balas review-nya. Lewati aja kalau kepanjangan.
Laffayete : pairnya belum ada bukankah sudah berulang kali saya katakan pair akan ada waktu arc shippuden dan pastinya akan banyak melibatkan intrik didalamnya.
vira-hime : iya terima kasih review-nya.
Kaito Shiratori : iya terima kasih review-nya.
prince dragon L : maaf lama updatenya
Seneal : iya makasih Review-nya
Death race : masalah pair akan terlihat di arc shippuden.
Amethyst Lavender : wah senang ada yang nunggu fic gaje ini tapi makasih dukungannya.
.980 : iya terima kasih review-nya.
naginagi : iya makasih Review-nya
Antoni Yamada : iya makasih Review-nya
Awhie onnaCrtax : wah saya akan usahakan untuk kedepannya. tapi makasih
Lora 29 Alus : Hem kita lihat aja kedepannya.
asd : hm makasih review-nya
Yury795 : Untuk Harem akan saya pikirkan sarannya. Untuk rinnegan ngak kayaknya. Untuk sembilan biju mungkin akan sama seperti di canon. Musuhnua juga masih sama.
Kurama : pairnya akan ada di arc shippuden karena mengingat Naruto yang masih kecil.
DAMARWULAN : ngak meskipun nantinya ada masalah yang menyinggung perjodohan namun bukan temari.
sasuke fans : untuk masalah itu pasti karena fic ini endingnya tak jauh dari canon.
Hm terima kasih review-nya sekali lagi maaf jika mengecewakan.
See you next chapter.
