Change : After the Arrival of My Brother

Maaf semuanya karena saya baru bisa update sekarang, soalnya lagi banyak kesibukan di RL. Gomen… ^^

Terima kasih sekali karena kalian sudah berkenan membaca cerita saya ini, saya merasa sangat senang karena ada yang membaca cerita yang menurut saya tidak bagus banget ini, terlebih alurnya berlibet wkwkwk.

Seperti biasa untuk balasan review kalian ada di akhir setelah cerita selesai~

.

.

.

Chapter 3 : Different

Terkadang kau tidak dapat menyadari ada perubahan yang terjadi padamu dan lingkunganmu. Namun begitu kau sadar, kau akan tahu seberapa jauhnya semua telah berubah...

Halilintar berjalan menyusuri koridor lantai bawah. Ia mengucek-ngucek matanya yang terasa ganjal, seperti kemasukan debu. Selepas mengantarkan tas milik guru Kimia ke ruangan guru, ia memutuskan untuk segera ke kantin. Waktu istirahat yang tinggal sedikit tak boleh dibuang percuma.

Kini ia sudah menggenggam sebungkus nasi berserta air minum. Inginnya sih makan di kelas, sayangnya peraturan sekolah telah melarang hal tersebut demi menjaga kebersihan kelas. Jadinya, ia memutuskan untuk ke halaman belakang saja. Selain suasananya tentram dan sunyi, itu merupakan tempat favoritenya.

"Oper kemari, Gopal!"

Halilintar berhenti. Ia mengamati suasana lapangan sekolah dari kejauahan. Terdapat beberapa siswa sedang bermain sepak bola disana. Yang menarik perhatiannya adalah sosok bertopi miring dengan variasi warna biru tua dan muda serta kuning. Itu adalah Taufan- adiknya.

"Hahaha operan yang bagus sekali Gopal."

Ia menyipitkan mata, untuk melihat lebih jelas tawa sang adik. Jujur… tawa tersebut terasa hambar dan aneh. Bukan seperti tawa yang dulu sering diperlihatkan dulu. Yeah dulu… sebelum Ibu Tomoe tiada.

Seketika bayang-bayang masa lalu yang indah kembali teringat, saat dimana ia bermain sepak bola bersama adik-adiknya sementara Ibu Tomoe duduk di pinggir lapangan menyemangati mereka. Semuanya terlihat gembira sekali saat itu, terlebih Taufan dan Api. Dua bocah itu memang sangat hyperaktif, namun Taufan masih bisa ditolerir semangatnya tak seperti Api yang begitu meledak-ledak.

Akan tetapi…

Halilintar segera menepis kenangan manis yang menyakitkan itu. Ia tidak mau tertangkap basah mengeluarkan air mata hanya karena mengingat kenangan-kenangan yang seharusnya lebih baik segera dilupakan.

… kenyataan memang terkadang menyakitkan. Berbeda dengan dunia imajinasi dimana kau bebas melakukan apapun.

Halilintar menyentuh dadanya, terasa sesak setiap kali mengingat semua kenangan indah itu. Apalagi ketika memori saat mereka menangisi kematian Ibu Tomoe di pemakaman hari itu. Rasanya perih sekali dan rasa itu semakin bertambah perih ketika ia sadar, ia tak mampu menenangkan adik-adiknya untuk berhenti menangis waktu itu. Padahal… dia adalah kakak tertua.

Sungguh sejak saat itu, Halilintar merasa dirinya telah gagal menjadi seorang kakak. Dan karena merasa terus seperti itu, ia jadi tak tahu harus bagaimana menegur sapa adik-adiknya, menenangkan adik-adiknya disaat sedih dan memberi mereka semangat selayaknya seorang kakak. Seandainya saja ia punya sedikit keberanian, akan tetapi rasa bersalah itu membuatnya menjadi kaku untuk sekedar mengajak mereka

"Hah… kau benar-benar memuakkan Halilintar." Gumamnya.

Tak mau dirinya semakin terlarut, ia memutuskan untuk kembali berjalan. Beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Meski rasa bersalah itu selalu menghampiri, namun bagaimanapun juga ia harus tetap memasang dinding kokoh demi menghadapi kehidupannya ini.

Mungkin sejak tadi Halilintar tak menyadari sama sekali, bahwa adiknya itu menyadari keberadaannya disana. Iris biru cerah yang telah meredup sinarnya itu memandangi kepergian sang kakak dalam diam.

"Maafkan Taufan, Kak Hali…"

-0000-

Disisi lain, Air juga sedang melangkah dengan membawa sebuah kantung plastik hitam. Isinya berupa jajanan yang ia beli di kantin. Ia menengok ke kanan dan kiri, melihat banyak murid yang tengah mengobrol dengan serunya. Air merasa… asing berada di lingkaran keramaian yang menyilaukan ini.

Ia mulai menghadap lurus ke depan, langkahnya terhenti tak kala melihat sosok kakaknya- Api keluar dari kelas. Sedikit heran, karena biasanya jam istirahat seperti ini seharusnya kakaknya itu tengah berada di kantin dengan kawan-kawannya yang banyak itu. Tapi kini… justru ia melihat kakaknya berbelok ke kiri. Setahunya, kalau tidak main ke kelas-kelas lain ya… mungkin ke ruang UKS atau perpustakaan. Ah sepertinya tempat terakhir yang disebutkannya itu tak mungkin, karena Api adalah orang yang tak terlalu suka belajar.

Rasa penasaran yang begitu menggerogotinya, membuat Air memutuskan untuk mengikuti kemana Api akan pergi. Sesekali ia menengok ke kanan dan kiri, berjaga-jaga supaya tidak ketahuan Api. Bahkan jarak antara Api dengan Air saat ini tak begitu jauh. Seketika… Air menghentikan langkah dan membaca papan nama ruang yang sedang dimasuki Api.

RUANG UKS

"Ke-Kenapa Kak Api masuk ke ruangan itu?" Pikirnya.

Seingatnya kemarin… Api terlihat baik-baik saja meski selalu pulang larut malam. Sejak memasuki masa SMP, Api selalu pulang malam. Setiap kali ditanya oleh Ibu Hana dia hanya menampakan wajah kesal lalu berlari memasuki kamar tanpa menjelaskan apapun. Disaat seperti itu, ia hanya mampu terdiam . Ingin menegur kakaknya tapi ia tak mampu melakukannya. Ada rasa khawatir dan cemas, namun ia tak bisa menunjukkan perasaan tersebut. Mungkin… kedua kakaknya yang lain juga begitu. Semuanya terasa rumit semenjak Ibu Tomoe sudah tak ada.

Tanpa berbasa-basi lagi, Air mendekati ruang UKS itu. Ia mengintip terlebih dahulu dari jendela, melihat kakaknya tengah berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi. Dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk ke ruangan- menghampiri Api.

Tangannya menyentuh leher dan dahi Api, terasa panas. Ia mulai berpikir kalau Api terkena demam. Oleh karena itu, ia segera mempersiapkan baskom berisi Air dan sebuah handuk kecil. Dengan telaten, ia membenarkan posisi tidur kakaknya dulu menjadi lurus, lalu mengompres dahi Api.

Tak mau Api sampai tahu kehadirannya disini, Air segera keluar dari ruangan sebisa mungkin tak menimbulkan suara gaduh sedikitpun.

"Semoga cepat sembuh Kak…"

Air menutup pintu ruang UKS dari luar, setelah itu lekas pergi meninggalkan area itu. Perlahan tapi pasti, kelopak mata sang kakak terbuka. Ia memegang dahinya yang agak basah karena ada handuk kecil menempel.

"Terima kasih…Air…"

Seandainya Air bisa mendengar ucapan terima kasihnya, tetapi sayangnya… itu tak akan bisa karena Api akan berusaha untuk pura-pura tidur seperti tadi kalau Air masih berada di tempat itu.

Mata kejinggaannya itu menatap datar langit-langit ruangan. Ia benci suasana seperti ini, sangat membencinya. Yang ia inginkan… kembali seperti dulu lagi. Dimana ia bisa melihat Halilintar yang selalu melontarkan kata dengan nada jutek dan mengeluarkan amarah ketika diusik, Taufan yang senantiasa tertawa setelah menjahili Kak Halilintar dan Air … yang menahan Halilintar yang berniat menghukum ia dan Taufan. Semuanya… ia ingin semua itu dapat kembali dirasakan.

"Kapan semuanya akan kembali lagi seperti dulu?" Gumamnya parau dengan cairan bening yang mulai mengalir dari matanya.

-0000-

KREET

Taufan membuka pintu rumah, setelah berada di dalam ia menutupnya kembali. Seperti biasa, rumah nampak kosong melompong, walau ada beberapa orang di rumah.

Sayup-Sayup ia mendengar suara keran air yang menyala dari dapur. Spontan, ia mendekati ruangan tersebut- mengintip dari sudut pintu yang terbuka. Mengamati sosok wanita dewasa berkerudung biru tengah membilas piring yang di cucinya.

Sebenarnya… Taufan tak enak hati selalu bersikap dingin pada Ibu Hana. Padahal ia begitu baik dan perhatian kepadanya serta saudara-saudaranya. Tapi apa mau dikata, mereka belum bisa menerima kehadiran sosok Ibu baru. Yang ada dihati mereka selamanya adalah Tomoe.

"Maaf ya…"

Taufan memasang senyum tipis dengan tatapan sayu sebelum akhirnya memilih untuk masuk ke kamar. Hanna yang sejak tadi mencuci piring, tiba-tiba berhenti. Menengok kearah pintu, namun tak menemukan siapapun. Ia mengendikkan bahu dan kembali melanjutkan perkerjaannya. Apa tadi hanya perasaannya saja kalau dia sedang diperhatikan? Batinnya.

Kini Taufan yang telah menaikki anak-anak tangga, kembali melangkah di jalan yang datar. Ia menatap kamar Air dan Halilintar yang tertutup rapat. Helaan napas keluar dari mulutnya. Lalu… matanya menangkap pintu kamar Api yang terbuka sangat lebar.

"Hah… dia akan pulang malam lagi…" Gumamnya pelan.

Tak mau memusingkan hal tersebut, Taufan segera membuka pintu kamarnya yang berhadapan dengan kamar Api itu. Ia rebahkan diri diatas kasur dengan kedua tangan yang dipakai sebagai pengganti bantal.

"Tak adakah hal yang bisa membuat semuanya kembali seperti dulu lagi? Aku tidak tahan seperti ini terus." Gerutunya pelan.

.

.

.

Sementara itu, pesawat yang ditumpangi Gempa sudah mendarat mulus di bandara tujuan. Kini… Ia sudah berada diluar bandara dengan bibir yang tertarik keatas ketika melihat langit sore berwarna orange-kejinggaan.

"Akhirnya… sampai juga disini. Saatnya semua dimulai~"

-0000-

Balasan review

Ayunf3

Hehehe terima kasih atas pujiannya ^^ gimana reaksi mereka? Kamu bisa mengetahuinya dimulai dari chapter besok mungkin hehehe

Ranni-kudo21

Hai Ranni-senpai ^^

Hahaha ada-ada aja, ngga mungkin kan Gempa ngidam wkwkwk. Terima kasih atas krisarnya ^^

Khairun269

Panggil saya Tomoe saja, jangan panggil thor XD. Iya, nanti bakal tahu kok penyebab si tomo itu meninggal tapi bukan di chapter besok

Chikita466

Kakakmu jahil ya? XD Terima kasih atas semangatnya ^^

Yoshie augestya

Hehehe maaf saya tak bisa update kilat, bisa dimarahi orangtua saya kalau saya hanya fokus pada dunia ffn ^^

Edogawa Boboiboy

Um… sebenarnya aku ngetik di hape jadi ya ngga bisa panjang-panjang banget ngetikknya ^^ dan panggil aja aku Tomoe ^^

Rarachan24

Sikap Gempa, ku kasih bocoran sedikit mungkin agak OC XD

Dhiaz Rusyda N

Ada intinya? Seperti chapter ini contohnya? :3 terima kasih atas sarannya ^^

Kira Fumiko

Terima kasih sudah bersedia menunggu ^^

Nayu Namikaze Uzumaki

Iya, kemarin aku baca ff senpai yang welcome back, Gempa :'D maaf tak bisa mereview karena dari hape ngga bisa hehe…

Kalau yang urusan Gempa tinggal sendiri untuk mandiri itu hanya tipuannya. Ada maksud lain dari ucapannya itu hehe.

Kalau masalah yang menelpon itu, alasan Nayu-senpai benar tapi itu bukan alasan pertama. Alasan pertamanya akan diketahui di next chapter nanti.

Kalau mau tanya lebih banyak silahkan aja ^^ saya pasti akan memberitahunya. Terima kasih sudah mereview

Asha

Iya, saya pas ngetiknya juga merasa lucu ngebayangin ekspresi boboiboy yang bengong XD

Fuyaori

Hehehe terlalu cepat atuh x'D maafkan saya tak bisa update kilat

N Rani Kudo

Mungkin sifat Gempa akan OOC jika berhadapan dengan saudara-saudaranya XD

-0000-

Terima kasih pada semua yang sudah membaca, mem-fav & fol serta berkenan mereview cerita saya. Saya merasa senang sekali! ^^

Berhubung kemarin adalah hari guru, saya ingin mengucapkan …

Mungkin sebagai murid kadang kita mengeluh dengan tugas yang begitu banyak diberikan para guru, tapi niscayalah semua apa yang diajarkan, diterangkan, dijelaskan oleh para guru itu semua mengandung pelajaran yang sangat penting.

Disaat kalian mengeluh tetapi banyak guru yang jarang mengeluh dengan tugas yang diembannya sebagai guru. Jadi guru zaman sekarang sulit, terlebih system pengajaran baru mulai diterapkan. Alhasil juga guru-guru harus mempelajari system tersebut. Mereka berkerja keras setiap harinya demi memberikan ilmu kepada murid-murid yang mereka anggap sebagai anak tanpa memandang gaji mereka berapa ^^ Itulah perjuangan seorang guru, tak pernah mengharapkan gaji tinggi tetapi selalu bersemangat memberikan kalian ilmu yang bermanfaat ^^

Saya sangat salut dengan mereka, kalau bukan karena didikan mereka. Saya tidak bisa berada disini sekarang^^

Terima kasih dan selamat hari Guru ^^

-000-

Btw…

Untuk chapter selanjutnya saya kasih bocoran sedikit mungkin sifat Gempa akan ooc tapi hanya jika berhadapan dengan saudara-saudaranya, selebihnya… akan bersikap seperti layaknya Gempa XD

Bila ada pertanyaan silahkan tulis saja di kotak review, saya pasti akan menanggapi pertanyaan kalian ^^

Mohon review kalian, bukannya saya mengharapkan review banyak. Tapi saya butuh saran, krisar dan juga ingin mengenal kalian masing-masing. Meski hanya lewat review ^^

Bagi yang punya ide atau usulan boleh saja mengusulkan di kotak review, siapa tahu usulan kalian berguna bagi saya yang masih baru di fandom ini ^^

Terima kasih semua dan silahkan mereview! ^^