Change : After the arrival of My Brother

Disclamer : Boboiboy (c) Animonsta

Warning : Typo, beberapa tak sesuai Eyd, alur terlalu cepat (?), Ooc

Maaf saya terlambat sekali mempublish QwQ

Kadang kita harus mengorbankan sesuatu sementara waktu demi menyelesaikan hal lain ^^;

Saya senang ternyata kalian masih menantikan ff saya ini, terima kasih ^^

Selamat membaca~


Chapter 5 : Start

"Namaku..."

Semua mata tertuju pada sosok murid baru berkacamata frame hitam yang berdiri di depan kelas. Bukan karena murid tersebut baru, tetapi wajahnya sedikit familiar-

"... Gempa. Boboiboy Gempa."

Dan dugaan mereka benar. Murid baru tersebut adalah saudara dari Boboiboy Air dan Api yang merupakan kakak kelas paling populer di sekolah tersebut.


Taufan mengerjapkan mata, ia tak pernah sekali menduga kalau- orang yang menolongnya membawakan kardus ke gudang lusa, ternyata akan sekelas dengannya.

"Namaku... Tanah."

Dengan tenangnya, siswa culun tersebut memperkenalkan diri. Seolah tak menghiraukan murid seisi kelas yang mentertawakan serta mengejek penampilannya yang terlampau seperti anak kuper. Baju lengan panjang yang di kancing pergelangan tangan begitu juga kerah. Lalu kacamata yang dikenakan, bulat dan tebal. Dan dasi yang dikenakan- ugh pokoknya kata culun sudah cukup mewakilkan.

"Baiklah, kamu duduk di belakang sana."

Sesuai perintah guru, Tanah mendekati tempat duduknya tersebut namun-

BUGH

- ia malah terjatuh dan seisi kelas mentertawakannya, termasuk Taufan.

"Kamu tidak apa-apa, nak?"

Tanah dengan sigap berdiri "Ti-tidak apa-apa Pak." Kedua tangannya membenarkan posisi kacamata yang dipakai.

"Punya mata empat aja masih jatuh. Apa perlu ku kasih mata sepuluh, hah? Biar lebih jelas hahaha." Celetuk salah seorang siswa yang lain pun ikut tertawa seakan menganggap hal tersebut lelucon yang lucu.

"Jangan berisik! Atau kalian keluar dari kelasku!"

Semua berbalik fokus mengambil buku dari dalam tas, meski beberapa masih ada yang tertawa. Senyuman tipis tersungging di bibir Tanah.


"Kak Api, aku lapar..."

Di sudut tengah ruang kantin, Gempa mulai membujuk Api yang terduduk disana. Padahal, Gempa baru saja sampai kantin dan menemukan Api.

"Jajan sendiri sana pakai uangmu!" Ketus Api.

"Ayolah Kak. Aku- ah! Kak Air!" Teriak Gempa saat melihat Air memasuki lingkup kantin.

Air menghentikan langkah, menatap adiknya yang berlari kearahnya. Ingin menghindar, tapi... tangannya sudah ditarik bocah tersebut. Akhirnya, ia terpaksa mengikuti kemana Gempa akan membawanya.

"Nah, aku pesan makanan dulu untuk kita. Kalian duduk disini ya, kita makan bareng."

Api serta Air hanya terdiam tanpa saling menatap. Apa... ini adalah hal yang bagus?

"Makan Kak, jangan di tatapin aja."

Sekarang Api dan Air hanya bisa terbengong melihat Gempa yang makan dengan lahapnya. Dua mangkuk berisi bakso tersebut pun sudah habis, di atas meja hanya tersisa dua mangkuk bakso. Satu milik Air dan satunya Api.

"Um... buat kau saja." Ucap Air menggeser makanannya ke hadapan Gempa. Mendadak ia tak napsu makan melihat cara makan adiknya yang seolah sangat kelaparan itu.

"Yang bener Kak! Makasih!"

Tentu dengan senang hati Gempa kembali melahap bakso tersebut dan menghabiskannya.

"Monster..." Batin Api.

Api mengalihkan pandangan pada Air. Entah kenapa, wajah adiknya itu terlihat pucat dan kusut. Sedang sakit kah?

"Makan saja, aku tidak lapar." Ucap Api setelah menyodorkan semangkuk bakso miliknya pada Air.

Air terdiam, memandangi bakso yang diberikan Sang Kakak. Kenapa Api tiba-tiba mendadak baik padanya?

"Aku sudah makan tadi, daripada ku buang bakso itu. Makan dan jangan salah paham." Ujar Api lagi, memusnahkan rasa senang yang sempat terselip di lubuk Air.

"Hanya karena sayang kalau dibuang, ya..." Batin Air.

Ia mulai menyendok kuah bakso tersebut dan mengecap rasanya. Hambar, mungkin ada yang salah dengan indra perasanya tapi ia tetap memakan bakso pemberian Api tersebut.

"A-ano... permisi. Gempa, kau dipanggil Kepala Sekolah."

Yaya datang tiba-tiba dihadapan mereka dan segera menyampaikan info. Gempa sedikit membenarkan posisi kacamata yang ia kenakan, kemudian berdiri.

"Antarkan aku keruangannya, ya." Yaya mengangguk dengan senyum tipis.

"Baiklah, Kak Api dan Kak Air... Gempa pergi dulu ya."

Api mengerjapkan mata "Tumben dia jadi sopan begitu." Ceplosnya ketika sosok Gempa sudah menjauhi mereka.

"Dasar licik..."

Mendadak Air berdiri dan juga meninggalkan Api yang kebingungan dengan ucapan Air barusan.

"Licik? Siapa yang li..."

Ia menatap empat piring bakso di atas meja. Beberapa menit kemudian...

"DASAR ADIK SYALAND, KAKAKNYA SENDIRI DI KERJAIN! HABIS DUITKU! AH MENYEBALKAAAN!"

Api lupa... kalau bakso-bakso tersebut... belum di bayar.


BRAKK

Semua yang didalam terkejut dengan kemunculan Api dari balik pintu rumah yang terbuka lebar. Halilintar melirik arloji yang ia kenakan, pukul 15.00.

"Tidak biasanya dia pulang jam segini." Pikir Halilintar dan yang lain mungkin juga begitu.

"Dimana dia?!"

Taufan mengerutkan alis "Siapa yang kau maksud?"

"Si mata kuning itu! Mana dia?!"

"Mana ku tahu, aku baru aja sampai rumah."

Dengan santainya Halilintar meletakkan sepasang sepatu yang tadi di kenakannya selama sekolah dengan rapi di rak. Lalu melenggang masuk dan duduk sejenak di sofa ruang tamu dengan mengendurkan sedikit dasi yang masih dipakai.

"Aku juga. Um... memangnya ada ma-masalah apa?"

"Itu tadi- ah sudah, lupakan."

Taufan menyunggingkan sudut bibirnya, ketika Api berlalu melewatinya dan menghilang setelah berbelok menaikki tangga.

"Hampir saja..."

Api telah memasuki kamarnya, tak beranjak sedikitpun dari pintu. Ia lebih memilih menyender dan tubuhnya perlahan merosot ke bawah dan terduduk.

"Tidak boleh bergantung pada orang lain. Aku harus kuat, supaya... aku tidak merasakan sakit lagi..."


Balasan Review :

1. Femix : Maaf karena baru bisa lanjut sekarang ^^

2. Asha : Tak masalah ^^. Yup, jika aku berada di posisi Air pasti akan sangat rindu.

3. Masquerate : Engga susah kok, terkadang dia cuma asal menceletuk saja. Semua orang punya dunia sendiri, kadang orang bisa kebingungan dengan dunia kita, karena berbeda ^^

4. Nur785 : Kurang lebih seperti itulah^^

5. N Rani Kudo : Iya, jadinya baru sempat update sekarang hehe

6. Fuyaori : Dan sekarang semester dua, mau musim ulangan awkwk. Boleh dan ini sudah dilanjut xD

7. Ellena Nomihara : Yeah Gempa memang ooc wkwk

8. Ahmad Mahmudi : Maaf, kenyataanya saya-update-telat-banget x'D

9. N Rani Kudo : Ralat- persona wkwk. Yah... saya tahu mana batasan ooc karakter sebuah tokoh, bagaimana pun tak boleh menghilangkan karakter asli. Yang nolong mereka berdua itu dua orang yang berbeda. Masa iya, satu orang dalam waktu bersamaan, walau di fiksi mah apa aja mungkin wkwk

10. Ayunf3 : Habisnya udah dibilangin jangan telpon, Boboiboy malah telpon x''D

11. Khairun269 : Bukan Fang kok wkwk

Oke seingat saya selebihnya sudah di balas reviewnya dan mungkin ada yang saya balas lagi disini mungkin wkwk. Hanya mengandalkan ingatan yg buram (?)

Terima kasih selalu bagi kalian yang menantikkan cerita saya ^^

Sampai jumpa di chapter berikutnya!