Change : After the Arrival of My Brother

Disclaimer : Boboiboy (c) Animonsta

Warning : Alur kecepatan, Ga sesuai EYD, typo dll

I'm comeback!

Saya memang tidak bisa update kilat, tapi akan saya usahakan untuk tidak sampai disc.

Untuk chapter kali ini, mungkin lebih fokus ke Taufan dulu ya wkwk.

* Enjoy Reading *

"Wah Taufan! Selamat ya! Kamu hebat dapat juara 3!"

Taufan baru saja menginjakkan kaki di kelas dan seketika kelas menjadi ramai karena hampir semua mendekat kearahnya untuk memberi ucapan selamat. Perlu di ketahui kemarin- hari rabu- Taufan tidak masuk sekolah karena mengikuti perlombaan skateboard tingkat kabupaten. Dan tidak menyangka kalau teman-temannya tahu ia berhasil meraih juara tiga. Padahal...

"Kau tahu Taufan, sehari tanpamu kelas terasa sepi."

... saudara-saudara kandungnya sendiri tidak tahu, bahkan bertanya pun tidak.

"Hahaha kalian bisa saja." Jawab Taufan seadanya dengan cengiran terukir di wajah. Ugh... sempat-sempatnya tadi ia melamun walau cuma per sekian detik.

"Bener Taufan! Kita rindu sangat dengan kau."

Mulut Taufan tertutup rapat. Ia tidak menjawab melainkan menampilkan segaris senyuman di bibir. Sebuah senyuman yang memiliki banyak arti. Sebuah kebahagiaan yang tersembunyi sesuatu di baliknya.

"Aku juga rindu... kalian."

Chapter 6 : Mentari yang redup

Dibarisan bangku ketiga- di sebelah kiri pinggir dekat dengan jendela, Taufan terduduk dengan tangan kanan yang menopang dagu serta tangan kiri menggenggam sebuah pena.

Buku paket yang terbuka begitu juga dengan buku tulisnya diabaikan begitu saja. Suara ketukan spidol yang beradu dengan papan tulis yang ada di depan kelas serta suara guru Matematika yang sedang menerangkan materi seolah tak diindahkannya.

Bel masuk sudah berbunyi sejak dua jam yang lalu, namun dari awal kegiatan belajar mengajar dimulai... Taufan tak mampu memfokuskan diri. Pikiran yang melayang entah kemana membuat perasaan jadi tak menentu. Hingga tanpa sadar seorang Taufan melamun di tengah jam pelajaran tanpa ada seorang pun yang tahu... mungkin.

Seketika angin masuk melalui jendela, tidak terlalu kencang namun cukup mampu untuk menggerakkan lembaran kertas pada buku tulis Taufan. Sampai pada akhirnya... angin tersebut melemah bersamaan dengan terbukanya lembaran kertas paling akhir.

'Aku kangen kalian, aku merindukan semua nya."

Kalimat itu tercoret disana, di bawah tulisan itu terdapat sebuah gambar versi chibi- dimana ada empat orang lelaki yang memakai topi dengan gaya berbeda saling berpegangan tangan. Tangan kanan Taufan mulai menyentuh gambar itu, tak lama kemudian... senyum terlukis di bibir.

Tak selamanya senyuman mencerminkan kebahagiaan, bisa juga sebaliknya. Hanya dirimu saja yang tahu, arti senyuman yang kau tampilkan. Hal ini pun berlaku untuk dirinya- Taufan.

Kemarin ia baru saja menang perlombaan, bukankah seharusnya ia merasa senang? Bukan kehampaan seperti ini yang dirasakan.

Semuanya terasa hambar, biasa saja... semua pujian dan ucapan selamat yang diperoleh seakan tidak ada artinya sedikit pun.

Apalah artinya sebuah kemenangan, buat apa mendapat sebuah piala, jikalau orang terdekatmu yang sedarah pun tidak mengucapkan sepatah kata pun atas kemenanganmu?

Mungkin salah dia juga karena tidak memberi tahu kalau kemarin ia baru saja mendapat juara tiga, tetapi bagaimana caranya ia memberitahu sementara untuk menyapa saudara-saudaranya saja canggung.

Kalau sudah begini, ia hanya bisa mengenang masa lalu yang indah. Ia masih ingat, saat masih kecil... dirinya untuk pertama kali berhasil mengendarai sepeda dan waktu itu Halilintar langsung menepuk kepalanya seraya berkata...

'Kau memang hebat, Taufan!"

Lalu ia tersenyum senang mendengar pujian tulus tersebut. Rasanya ingin kembali ke masa-masa dimana mereka masih terlihat seperti saudara sungguhan bukan sekarang yang nampak macam orang asing.

Masalah yang tidak rumit menjadi rumit, Taufan ingin semua lingkaran masalah yang menyesatkan ini menghilang. Agar dia bisa bertengkar dengan Kak Halilintar, supaya ia dapat menjahili kakak tertua bersama Api, dan mampu mendengar suara Air yang sibuk melerai mereka. Namun kapan semua itu bisa terjadi kembali? Sementara yang ia lihat dari hari ke hari tak ada perubahan sedikitpun.

"Aku... harus melakukan apa?" Pikirnya.

KRING

Bel yang berbunyi kembali membawa Taufan dalam kesadarannya. Dalam hati sempat merutuki karena bisa-bisanya melamun saat jam pelajaran.

"Baik pelajaran untuk hari ini cukup. Pelajari kembali di rumah apa yang baru saja diterangkan oleh saya, karena pertemuan selanjutnya... kita ulangan."

Kata terakhir guru tersebut begitu menohok hati Taufan. 'Ulangan' , sial... ia bahkan tidak mendengarkan dan bahkan tidak tahu materi apa saja yang baru saja dipelajari. Sudah begitu... pelajaran Matematika akan ada pada hari Sabtu besok.

"Sepertinya... aku harus mencegah diri agar tak melamun lagi haha~"

Guru tersebut pun sudah menghilang sosoknya dari ruang kelas tersebut. Kini tinggalah murid-murid yang sibuk membereskan peralatan tulis dan setelah itu bergegas ke kantin.

"Taufan, ayo ke kantin."

Taufan sempat tersentak. Jujur... untuk hari ini ia ingin menyendiri saja ketimbang harus duduk di kantin dan bercengkrama bersama teman-temannya. Tapi-

"Ayo cepatlah Taufan!"

Ia pun buru-buru berdiri "I-iya, aku da-"

BRUKK

Taufan kembali terduduk di bangkunya dengan kasar setelah tak sengaja menabrak seseorang. Secara perlahan ia membuka mata dan menemukan seorang murid culun berkacamata yang juga sedang berusaha berdiri. Sepertinya dia juga terjatuh.

"A-ah maaf ya, aku-"

"Sudahlah, Taufan. Untuk apa kau yang minta maaf?! Dia nya aja yang gak bisa liat jalan padahal udah pakai kacamata. Dasar culun!"

Sedikit meringis Taufan mendengar ucapan itu, walau bukan dia yang diejek tapi sedikit rasa kasihan muncul dalam dirinya. Namun ia tetap diam meski kini dia diseret untuk menjauhi siswa berkacamata itu. Raut wajah bingung sempat Taufan tampilkan, sebab siswa tersebut masih memandangnya sampai dirinya menghilang dari balik pintu.


"Kalian kenapa sih? Kok... bicaranya kasar gitu sama murid baru itu?"

Setelah semua makanan dan minuman yang dipesan sudah tersedia di atas meja, Taufan mulai membuka pembicaraan. Sedikit penasaran apa yang salah dari murid baru itu sampai teman-temannya melayangkan tatapan tak suka.

"Karena dia culun. Liat aja penampilannya, rambut klimis dan kacamata besar. Enggak banget deh haha."

"Betul! Siapa juga yang mau berteman dengan orang tipe kuper gitu? Membosankan."

Taufan mengernyitkan alis "Apa yang salah dengan penampilannya? Kalau berteman kan gak boleh cuma liat dari penampilan." Ujar Taufan dengan nada agak tinggi. Hingga ia tersadar, kalau dirinya seolah seperti-

"Kok kau kayak belain dia sih, Taufan?!"

Ia sudah menduga kawan-kawannya akan berkata seperti itu, tetapi... tetap saja Taufan merasa bahwa ada ketidakadilan disini. Masa cuma karena penampilan culun jadi bahan bully dan dijauhi?

"Kalau kau mau jadi temannya, sana! Tapi jangan main sama kami."

"A-aku kan hanya bertanya..."

Jika situasi sudah memburuk seperti ini, Taufan hanya bisa mengalah. Bagaimana pun juga, ia tidak mau berbuat masalah pada teman-temannya.

Tapi...

"Sudah, lebih baik kita bahas yang lain saja." Ujar salah satu dari kelima orang disana- belum termasuk Taufan.

... bukankah kalau seperti ini terlihat seperti orang yang sukanya cari aman saja?


"Oh seperti itu ya, maaf jika aku merepotkanmu dalam hal ini ya."

'Tidak masalah.'

"Kau... murid baru itu, sedang apa disini?"

Tanah- sosok yang dimaksud Taufan langsung mematikan ponsel begitu mendapati Taufan dihadapannya. Saat ini mereka sedang berada di halaman belakang sekolah dekat gudang lama.

Sebenarnya Taufan datang ke tempat ini hanya untuk menenangkan diri- habis terlalu lama di kantin malah membuat moodnya semakin buruk. Dan ia sungguh tak menyangka Tanah ada disini juga. Apa yang dilakukan anak itu?

"Hei kau tidak menjawab pertanyaanku!" Bentak Taufan pada orang yang tingginya sebahunya- masih di bawah sedikit sih.

"Apa aku harus menjawabnya?"

Akhirnya Tanah mengeluarkan suara, namun itu malah membuat Taufan berkedut kesal mendengar nada bicara yang datar itu.

"Kau-"

"Aku tidak mau melakukan hal yang tidak ku hendaki. Oleh karena itu aku tidak menjawab pertanyaanmu. Meski pun kau memaksa, tidak akan ku lakukan. Karena itu lebih baik... daripada harus terpaksa menjawab." Ucapnya.

Taufan yang kebingungan hanya bisa terdiam seperti patung. Mungkin biasanya, ia akan dengan mudah menyanggah tapi kali ini-

"Seperti halnya sebuah senyuman yang menyiratkan kesedihan. Seharusnya kalau tidak ingin tersenyum, jangan lakukan. Jujur pada diri sendiri saja susah apalagi pada orang lain."

Tanpa basa-basi, sebuah senyuman tipis yang ditampilkan Tanah mengakhiri percakapan singkat mereka. Taufan pun tak sedikit pun mencegah kepergian Tanah, karena ... ia memikirkan ucapan Tanah barusan.

"Jujur pada diri sendiri..."

Angin berhembus pelan, seolah menyelimuti diri seseorang yang sedang termenung akan pemikirannya. Seolah sudah menemukan kunci permasalahan tapi masih ragu-ragu untuk mengambilnya.

Seketika bel pun berbunyi, menandakan jam istirahat yang telah berakhir. Renungan pun diakhiri, tak mau sampai dirinya kena hukuman karena telat masuk kelas Taufan segera berlari menuju kelas. Tentunya dengan wajah yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Sampai jumpa besok, Tau!"

Tangan yang melambai adalah jawaban yang diberikan Taufan. Remaja bertopi miring itu berjalan dengan kepala tertunduk. Sementara kakinya berjalan begitu saja tak tentu arah. Tidak, ia belum ingin kembali ke rumah.

Kemana pun, ke tempat apapun asal bukan tempat yang bernama rumah. Bicara soal rumah, ia pun bingung sebenarnya dia punya 'rumah' atau tidak.

Dan kini kedua kakinya malah membawanya ke sebuah lapangan berumput yang luas. Udara yang terasa sejuk, karena angin tak henti-hentinya bertiup lembut.

Sejauh mata memandang, hanya pohon-pohon rindang yang ia lihat serta dua tiang gawang di kanan dan kiri. Hanya dia seorang disana, sendirian. Ah tidak, ia ditemani langit yang sepertinya tak lama lagi meneteskan air mata.

Bayangan empat sosok bocah lelaki sedang bermain di lapangan. Yah... Taufan masih mengingat tempat ini- tempat dimana ia melewati masa kecil yang menyenangkan bersama saudara-saudaranya. Biasanya mereka sering bermain sepak bola disini, namun sekarang... semua bagai bayang semu.

Tes Tes Tes

Rintikan air hujan mulai membasahi dirinya secara perlahan. Ingin, ia ingin semuanya kembali seperti dahulu. Ia merindukan sebuah kehangatan keluarga, senyum hangat dari para saudaranya. Ia mau... mendapatkan kembali hal tersebut.

"Seperti halnya sebuah senyuman yang menyiratkan kesedihan. Seharusnya kalau tidak ingin tersenyum, jangan lakukan. Jujur pada diri sendiri saja susah apalagi pada orang lain."

Hujan semakin membasahi semua yang ada di bawahnya, angin yang berhembus membuat hawa disekitar mendingin. Tak ada yang tahu setetes air mata ikut membasahi pipi remaja bertopi miring tersebut.

.

.

.

.

.

Sementara itu, di tempat lain- tepatnya di sebuah rumah dimana di bagian ruang makan terdapat empat orang remaja lelaki yang sedang terduduk memperhatikan Sang Ibu yang sedang menata makan malam. Jam dinding terus berdetak, sebentar lagi pukul enam sore- namun seseorang belum hadir diantara mereka.

"Kok Kak Taufan belum pulang ya? Di luar hujan deras..." Gerutu Gempa yang wajahnya mulai cemberut. Ia tahu... ucapannya tak akan di respon oleh saudara-saudaranya paling-

"Benar juga, kalian tidak tahu kemana Taufan?"

- hanya Bu Hana yang menanggapi.

"Kalau aku tahu, pasti akan segera menyusul Kak Taufan. Iya kan, Kak Hali?" Dan seketika itu juga Gempa mendapat deathglare dari Halilintar. Namun Gempa sendiri terlihat cuek bebek saja.

Ting Tong

Semua mata menengok ke sumber suara bel tersebut- satu hal dipikiran mereka pasti Taufan yang pulang. Dan benar saja, kini... Taufan berdiri dihadapan mereka dalam keadaan basah kuyup. Sebuah senyuman diperlihatkan oleh Taufan.

"Kak Taufan darimana saja! Kami cemas tahu! Tuh Kak Hali aja sampai belum makan karena nungguin Kak Taufan." Ujar Gempa yang kini tengah memeluk Taufan.

"Aku tidak menunggumu, itu cuma bualan bocah itu." Jawab Halilintar dengan datarnya. Taufan yang masih dalam dekapan Gempa hanya sweatdrop mendengar nada kesal terselip di ucapan kakaknya barusan.

"Heleh, kalau tak menunggu lalu kenapa tidak makan saja duluan seperti Kak Api dan Kak Air?"

Ohok-

Halilintar yang baru saja meneguk sedikit air langsung tersedak. Gempa terkikik geli, sementara Api dan Air yang masih makan hanya menggelengkan kepala.

"Sudah. Taufan, lebih baik kamu cepat ganti pakaian. Kalau kelamaan kamu mengenakan baju basah itu, nanti bisa sakit." Ucap Ibu Hana yang terdengar seperti perintah.

Gempa perlahan melepaskan pelukannya- membiarkan Taufan berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Ia pun kembali duduk dan mulai menyendok nasi dan mengambil sedikit lauk untuk di makan. Tak ada yang tahu apa yang membuat saudara termuda dari lima bersaudara itu tersenyum.

Disisi lain...

KRETT

Pintu kamar terbuka, menampilkan sebuah ruangan ber-cat tembok biru cerah. Terlihat begitu meneduhkan. Kakinya berjalan mendekati sisi ranjang dan matanya terpaku pada-

"Apa... ini?"

- sebuah kado berbentuk persegi panjang. Dengan penuh kebingungan, tangannya meraih kado tersebut untuk membukanya secara perlahan dan...

"I-ini, siapa yang-"

Selamat atas kemenanganmu, Taufan. Kamu anak yang hebat, Ibu bangga padamu. Sukses selalu ya! - Ibu Hana

Kak Taufan selamat ya, ku dengar dari Gempa kakak dapat juara tiga. Kakak keren... aku jadi ingin seperti kakak - Air

Selamat ya yang dapat juara. Cih si bocah mata kuning itu memaksaku untuk menulis ini. - Api

Kau adikku yang terbaik. Jangan senang dulu karena aku memujimu, ini karena si kuning itu yang terus merengek di telingaku. Berisik sekali.- Halilintar

Air mata mengalir begitu saja seusai ia membaca secarik surat yang tergeletak di atas sebuah kardus persegi panjang yang bungkus kadonya baru saja ia buka. Kini ia membuka kardus tersebut dan isinya... sebuah papan skate dengan kombinasi warna biru tua dan muda serta garis strip seperti api berwarna orange-kejingaan di bagian tengah. Sangat keren.

Mata birunya kembali menangkap secarik kertas yang tertempel di bagian belakang papan skate tersebut. Tentu rasa penasaran membuatnya mengambil kertas tersebut dan kemudian segera membacanya.

Teruntuk Kakakku- Taufan

Meski kita baru dipertemukan sekarang, tapi aku sangat senang memiliki kakak sepertimu.

Untuk hari ini, bersinarlah terus seperti mentari.

Tetapi ku harap, kakak akan selalu seperti itu, karena itulah diri kakak.

Tersenyumlah untuk hal yang membuatmu senang, bukan untuk masa lalu yang menyedihkan.

Congratulation!^^

-Gempa-


Terima kasih bagi yang sudah menunggu Fic saya, maaf untuk kali ini saya tak bisa membalas review. Untuk disini lebih bahas ke Taufan, sebenarnya ia juga merindukan kehangatan akan keluarga. Keceriaan yang dibaliknya tersembunyi rasa kesepian dan kesedihan, itulah Taufan ^^

Bagaimana sikap Taufan setelah ini? Mencoba untuk membuka diri pada saudaranya kembali atau tidak?

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!