Change : After the Arrival of My Brother

Rahasia yang sesungguhnya adalah hati.

Dan…

Batasan itu sendiri yang membuat… adalah pikiran kita.

CEKLEK

Taufan terdiam begitu membuka pintu kamar sesaat iris biru nya berhadapan dengan mata merah tajam milik Halilintar.

Tangan kanan Taufan sedikit mengepal, ketika Halilintar melewati nya begitu saja tanpa bersuara. Seolah ia tak ada di tempat itu.

Sungguh… Taufan kesal menghadapi situasi seperti ini. Dimana ia tidak mampu menyapa saudara nya, padahal jika di sekolah hal tersebut mudah dilakukan. Mengapa?

"Kenapa mulutku gak mau bicara sih?!" Rutuknya.

Chapter 7 : Ungkapkan

Tak ada yang berubah.

Seperti biasanya sikap ke-empat bersaudara itu masih saling diam. Ibu Hana yang sedang sarapan itu diam-diam memperhatikan mereka. Suasana terasa sepi tanpa Gempa. Yah… Ibu Hana lebih menyukai wajah kesal yang ditunjukkan oleh ke-empat saudara itu ketika Gempa ada.

Iris cokelat milik Ibu Hana itu tiba-tiba tertuju pada Taufan yang menatap kursi kosong di depannya dengan heran.

"Gempa sudah berangkat lebih awal, ia bilang mau pergi ke sekolah bareng teman." Ujar Ibu Hana seolah membaca pikiran Taufan.

"O-oh…"

Sarapan terus berlanjut. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar di ruangan itu. Mulut terbuka untuk menerima datangnya sesuap nasi goreng yang disendokkan. Tidak ada sedikit niat untuk saling menegur.

KREEETT

Yang pertama menghabiskan sarapan adalah Api—kini ia telah berdiri sembari mengenakan tas. Lalu dengan seenaknya pergi begitu saja tanpa pamitan lebih dahulu. Berikutnya diikuti oleh Air serta Halilintar.

"Hati-hati di jalan ya, Halilintar, Air dan Api."

Walau tahu ucapannya seakan tak berguna sama sekali—sebab ia tahu tak akan ada yang merespon, tetap saja dilakukan. Hana hanya ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, meski mereka bukan anak kandung.

Hana kembali duduk,kini perhatiannya mulai tertuju kembali pada satu orang kembaran yang tersisa.

"Taufan? Kenapa kamu tidak berangkat sekolah juga?"

Sekilas… Hana merasa Taufan sempat tersentak. Namun anak itu langsung memasang seulas senyum. Mencoba menutupi sesuatu heh?

"Be-benar juga. A-aku berangkat dulu ya."

Dengan terburu-buru, Taufan segera mengambil sepatu di rak dekat pintu masuk. Setelah itu bergegas pergi ke sekolah. Hana yang berdiri di depan pintu memandangi punggung Taufan dalam diam.

"Apa yang sedang dipikirkan anak itu?"

.

.

TAP TAP TAP

Alas sepatu yang bergesekan dengan aspal jalanan menimbulkan suara yang mendominasi di sebuah gang yang sedikit sempit tersebut. Kaki yang iseng menendang sebuah kaleng bekas yang tergeletak tak berdaya sembari terus berjalan.

Lelaki yang mengenakan topi kombinasi warna biru muda - biru tua – kuning dengan posisi miring tersebut sedari tadi berjalan dengan kepala tertunduk.

"Karena paksaan ya?"

Rupanya… ia tengah memikirkan ucapan dari Halilintar dan Api pada secarik kertas yang dibaca kemarin. Bersyukur karena keluarga nya memberikan ucapan selamat atas prestasinya. Akan tetapi… agak miris ya kalau ternyata salah dua orang saudaranya itu melakukannya karena paksaan.

Padahal…

Ia berharap semua ucapan tersebut tulus. Namun untuk saat ini, mungkin hal itu bagaikan angan-angan.

"Setidaknya… aku mendapatkan ucapan selamat." Batinnya menyemangati.

Seulas senyum ia tampilkan begitu sampai di depan pintu kelas. Sampai detik ini, Taufan masih merasa jengkel pada senyuman nya sendiri, walau ia tak memperlihatkan hal itu.

"Pagi Taufan!"

Rutinitas seperti biasa, teman-teman sekelasnya menyambut kedatangannya dengan sapaan dan mendekati dirinya.

"Ah—pagi juga."

Entah kenapa Taufan merasa agak canggung untuk bicara hari ini. Ia mengeratkan pegangan pada skate board yang saat ini di dekapnya. Skate board pemberian Gempa.

"Wih skateboardnya baru ya~"

Ternyata teman-teman Taufan terlihat tertarik dengan skate board baru nya. Memang sih—desain skate board ini cukup bagus dan keren. Taufan juga suka kombinasi warnanya.

"Ah… aku lupa belum berterima kasih padanya."

Seketika ia sudah punya tujuan—pulang nanti langsung berterima kasih pada Gempa. Sebenarnya… sedikit penasaran, bagaimana Gempa yang masih SMP bisa membelikannya skate board? Setahu dia… Ibu Hana memberikan uang jajan pada mereka semua secukupnya.

"Taufan, istirahat nanti aku pinjam ya!"

"Ta-tapi—"

"Aku juga ingin pinjam. Sebentar aja ya."

"Tu-tunggu du-"

"Yay, nanti kita coba main skate board baru nya Taufan~"

Bel masuk memotong percakapan singkat tersebut. Teman-Teman Taufan segera menuju bangku masing-masing, begitu pula dengan Taufan.

Satu hal yang Taufan mulai sadari sekarang, sejak kapan ia menjadi seseorang yang tidak berani menolak?

.

.

KRING

Jam istirahat yang tidak diharapkan Taufan sedikitpun. Hati kecil yang tak rela meminjamkan apa yang ia miliki pada orang lain. Terlebih lagi itu masih baru, bahkan ia pun belum mencoba skate boardnya.

Tetapi…

"Mana Taufan! Minjem skate board nya!"

Saat ini Taufan dan ke-lima temannya sedang berada di lapangan dengan niat bermain skate board menggunakan papan skate punya Taufan.

Sang pemilik masih mengatup rapat bibirnya, seolah memberitahu bahwa ia enggan untuk melepaskan skate board yang didekapnya.

"Lama banget sih kasih nya."

Akhirnya, salah seorang dari teman nya merampas skate board tersebut dengan paksa dari tangan Taufan. Tentu Taufan terkejut, namun ia bisa apa ketika teman-temannya sudah berlari ke arena untuk bermain skate board dan tengah menggunakan papan skate miliknya.

"Ugh…"

Rasa tak rela terus menggerogoti hatinya. Untuk pertama kali, ia sudah tak tahan bersikap seolah tidak apa-apa, membiarkan teman-temannya senang asal tidak menjauhi nya. Itu salah. Dan Taufan mulai sadar akan hal itu.

BRAKK

Salah seorang terjatuh karena sebuah roda pada skate board Taufan terlepas. Mungkin terjadi karena sang pengguna yang tidak mengontrol kecepatan bermain skate boardnya, sehingga roda yang terus bergesekan dengan aspal itu lepas satu.

"Akh skate boardku!"

Taufan langsung mengambil skate board miliknya yang tergeletak, berserta satu roda yang lepas. Mengabaikan salah seorang teman nya yang baru saja terjatuh—meski tidak nampak luka.

"Skate board nya payah, untung kakiku enggak sampai lecet." Ejek seseorang yang baru terjatuh tadi.

Taufan mengeratkan dekapan pada skate board nya. Kedua iris biru tersebut tertutupi poni rambut, sebab ia menunduk.

"Paling beli bekas hahaha. Enggak modal banget."

"Padahal kemarin habis juara, orang tuamu pelit amat sih ngasih skate board kualitas rendah gitu. Minta yang mahal dong—"

"CUKUP!"

Semua berhenti bicara, Taufan menggigit bibir nya. Ia tak kuasa untuk menahan amarah nya lagi. Sudah cukup ia meringkuk di balik hangatnya selimut.

"Harusnya kalian itu sadar diri! Sudah ku pinjamkan malah di rusak! Aku lelah selama ini selalu diam saja dan mengalah, hanya karena tidak ingin kehilangan teman! Aku tidak mau membohongi diri sendiri, selalu tersenyum meski tidak suka! Aku benci!"

"Yaelah, cuma sebuah skate board murahan gak perlu ceramah panjang lebar begi- "

PLAK

Sebuah tamparan yang cukup kencang mendarat di pipi seseorang yang baru saja menceletuk. Iris biru itu kini menjadi tajam. Membuat semua seolah segan untuk menentangnya.

"Ini bukan masalah mahal atau tidak. Skate board itu pemberian dari saudaraku, dan itu sangat berharga!" Bentaknya kembali.

Taufan bukanlah seseorang yang mudah marah seperti Halilintar dan Api. Ia lebih cenderung menahan amarah, karena ketika marah ia merasa bukan seperti dirinya yang selalu ceria.

Namun…

Untuk saat ini, ia kembali berpikir kalau marah itu wajar. Karena dia adalah manusia, bukanlah seorang robot yang tidak memiliki emosi. Seceria apapun seseorang, pendiam ataupun cuek… ada kalanya ia bisa marah meski caranya berbeda.

Dan kini…

"Hufft mengesalkan."

Ia memilih perpustakaan sebagai tempat untuk meredam emosi. Sebenarnya ia tak perlu melakukan hal ini, karena pada dasarnya ia bukanlah seseorang yang bisa marah terlalu ramah. Paling cuma sebentar, lalu kembali baik moodnya. Namun… bukan berarti jika kau sudah membuat nya marah dan kecewa ia akan bersikap sama denganmu meski sudah dimaafkan. Pasti akan ada perubahan sikap.

Taufan yang sudah terduduk mulai menyenderkan kepala pada meja, membiarkan kedua tangannya menggantung. Perpustakaan memang tempat yang tentram, hanya sedikit siswa-siswi yang datang kemari. Mereka orang-orang yang suka membaca dan haus akan pengetahuan.

Entah kenapa, ia mulai tertarik pada sebuah kertas putih yang sedari tadi tergeletak di atas meja tersebut. Sempat berpikir kertas tersebut hanyalah sampah.

"Beritahu aku… hal yang tidak bisa di ukur dari mahal atau tidaknya, tetapi hal tersebut sangatlah berharga. Jika kau benar-benar memahaminya."

"Siapa yang menulis… ini?"

Emosi kian melenyap kini mulai berganti dengan sebuah tanda tanya yang membuat penasaran. Sayang… bel istirahat selesai telah berbunyi, membuatnya harus secepatnya sampai di kelas. Sebelum Guru Fisika datang.

.

.

"Ada yang ingin bertanya?"

Satu jam telah berlalu, cukup membuat para murid merasa mual mendengar penjelasan materi selama itu—meski hanya beberapa saja. Pertanyaan sang guru mendapat gelengan dari beberapa murid.

Guru Fisika itu melirik arloji silver yang dikenakan. Kira-kira sepuluh menit lagi ia meninggalkan kelas. Sebelum itu, sebagai bentuk mengakrabkan diri pada para murid ia mulai berkomunikasi—bercerita serta memberi nasehat.

"Bulan depan kalian sudah mulai ujian, manfaatkan waktu sebaik-baiknya mulai dari sekarang. Belajar yang giat, pelajari materi-materi yang sudah dibahas. Ingat, waktu adalah uang." Ujar Guru tersebut.

"Tapi sayang… waktu tidak dapat dibeli dengan uang. Seandainya bisa—"

Telinga Taufan seketika terfokus mendengar ucapan seseorang yang berada di belakangnya – Tanah. Perlu diketahui, Taufan pindah tempat duduk karena tak mau dekat-dekat dengan teman-temannya itu.

"Kenapa aku merasa seperti sedang menguping privasi orang?" Batin Taufan absurd.

Namun Tanah tak lagi melanjutkan perkataannya, Taufan hanya mendesah pasrah. Tidak tahu kenapa… murid culun berkacamata itu seolah terkesan misterius bagi Taufan.

.

.

Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, tentunya Taufan sedari tadi meninggalkan area sekolah tersebut. Malah sekarang ia sedang duduk di tepi lapangan yang kemarin ia datangi.

"Hah…"

Matanya memandangi beberapa anak-anak yang sedang bermain bola dengan antusias.

"Oper sini Gin!"

"Yey! Gooolll!"

Lima diantaranya bersorak gembira karena tim mereka berhasil memasukan sebuah gol. Tanpa Taufan sadari, ia mengulas senyum tipis.

"Bukankah mereka terlihat sangat bahagia?"

Senyuman tersebut perlahan memudar, berganti dengan rasa terkejut karena hadirnya orang asing di sisi kiri nya.

Taufan tersenyum sinis "Hm… namanya juga anak kecil. Yang ada dipikiran mereka hanyalah bersenang-senang. Mereka belum mengerti hidup." Ujarnya.

Ia mengamati seseorang di sebelahnya. Terlihat mencurigakan? Bisa jadi, sosok yang terlihat seumuran dengannya mungkin… mengenakan jaket berwarna cokelat tua yang melapisi kaos oblong hitam tanpa lengan di dalamnya. Celana jeans dan sepatu skets hitam serta topi yang ujungnya sedikit merunduk—hingga menutupi kedua matanya.

"Memangnya… menurutmu hidup yang sesungguhnya itu seperti apa?"

Orang tersebut kembali bertanya. Hei… bukankah ini adalah perbincangan untuk orang dewasa? Namun Taufan tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka bahas.

"Sebuah ilusi indah yang menyakitkan." Jawab Taufan simple.

Sosok itu tersenyum "That's your opinion, right?"

"Memang seperti itu kan? Pertemuan diawal dan berakhir perpisahan. Dengan mudahnya pergi tanpa kata-kata setelah meninggalkan beribu kenangan manis. Padahal sudah berjanji akan selalu ada. Mestinya tak perlu ada pertemuan!" Ujar Taufan beruntun dengan emosi yang kembali meluap.

"Lalu… menurutmu, kenapa kita tidak bisa tertawa bahagia seperti anak-anak yang bermain bola disana?"

"Karena pola pikir kita berbeda dengan bocah-bocah tersebut. Kita lebih realistis." Jawab Taufan dengan datanya.

"Kalau begitu… pola pikirmu sendiri yang membuat kau tidak bisa tertawa bahagia seperti anak-anak itu." Ucap Sosok itu mendengus.

"Hahaha terserah kau."

Jujur… Taufan sedang tak ingin diajak bicara oleh siapapun saat ini. Akan tetapi orang asing disebelahnya terus saja berceloteh.

"Ketika memasuki remaja, kita sudah mampu membedakan yang mana baik dan tidak untuk diri sendiri. Membatasi diri pada hal yang menurut kita kurang baik. Siapa yang bisa melakukan itu? Tentu adalah pikiran kita."

"Jangan bertele-tele dalam berucap sesuatu, wahai orang asing." Ucap Taufan dengan nada mengesalkan yang justru membuat orang itu tertawa.

"Hahaha bukankah lebih baik mengobrol santai bro? tetapi… ada hal yang tidak bisa kita batasi dengan pikiran, yaitu perasaan."

"Yang benar saja, perasaan itu bisa di tahan bodoh." Sanggah Taufan.

Senyuman yang melekat di wajah sosok tersebut membuat Taufan agak geram. Apakah perkataannya ada yang lucu?

"Tetapi… itu akan menorehkan luka di hatimu kan?"

Angin berhembus perlahan, kesejukkan yang membuat suasana damai. Taufan yang sedari tadi tak begitu berminat mendengarkan ucapan orang disebelahnya mulai terdiam.

"Semakin banyak luka di hatimu, akan membuatmu tidak bahagia dan melihat segala sesuatunya seperti tumpukan sampah yang menyimpan banyak beban."

Tangan Taufan menyentuh dada nya dengan ekspresi penuh tanda tanya dan kebingungan.

"Lihatlah mereka!"

Perkataan orang tersebut sontak membuat Taufan secara refleks memandangi kembali anak-anak yang masih bermain bola dengan riang.

"Ekspresikan dan beritahu apa yang hati terkecilmu rasakan. Berbahagia lah. Kita diberi kesempatan hidup hanya sekali, terlalu membosankan bukan jika terus menerus tenggelam dalam lautan masalah yang sama?"

Sosok tersebut menepuk pundak Taufan, seperti tengah menyadarkan seseorang dari lamunan. Sosok tersebut menengadah ke langit yang mulai berwarna oranye.

"Jangan sesali pertemuan kita berdua ya."

Taufan memandangi kepergian orang itu dalam diam. Baru sadar, kalau ternyata mereka telah bercakap-cakap cukup lama dan—selama itu bahkan mereka belum tahu nama masing-masing.

"Orang aneh…"

Dan Taufan pun memutuskan untuk pulang saja ketimbang memikirkan orang asing tersebut. Meski… dalam hati ia berterima kasih.

.

.

"Assalamualaikum…"

Merasa tidak akan ada yang menjawab salam nya- wajar karena ia bersuara sangat pelan, Taufan langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Sesuai naluri, ia melangkah menuju ruang makan dan menemukan saudara-saudara serta Ibu Hana disana.

"Kak Taufan! Selamat datang!"

Seperti biasa, Gempa selalu menjadi yang paling heboh disini—apalagi kalau saat makan. Tak ada yang tahu, Taufan tengah tersenyum tipis.

"Taufan, lebih baik kamu makan dulu dan ganti pakaian nak."

"Yah Ibu, aku mau makan bareng Kak Taufan juga." Ucap Gempa dengan childishnya.

Taufan tertawa kecil, lalu berjalan dan duduk di sebelah Gempa.

"Aku mandinya setelah makan saja." Ujarnya yang langsung dipeluk oleh Gempa.

Taufan tersenyum, entah kenapa ia merasa senang sekarang. Bahkan ia pun sampai tak peduli mendapat tatapan aneh dari saudaranya yang lain karena sikapnya yang berubah.

"Kak Taufan mau ini? Atau ini? Atau…"

Gempa terus menawari lauk-pauk yang tersedia di meja makan pada Taufan. Ada udang balado, cumi goreng serta sayur lodeh. Tentu nya Taufan agak kewalahan dengan itu tapi-

"Aku mau semuanya!"

- itu tidak masalah.

"Heee kalau semuanya nanti aku makan apa?!" Ujar Gempa dengan polosnya.

Taufan mulai menyendok nasi ke piring nya "Kau makan sisanya saja."

"Kak Taufan jahat ih."

"Hahahaha~"

Ibu Hana yang menyaksikan percakapan dua anak itu kini ikut tersenyum. Suasana malam ini terasa lebih baik dibandingkan kemarin dan Hana harap seterusnya akan lebih baik.

"Sepertinya—Taufan sudah kembali dengan sifat aslinya. Boboiboy pasti senang mendengar hal ini."

BRAKK

"Kalau berisik mending keluar aja deh!"

Secara tiba-tiba Api berdiri sembari menggebrak meja. Raut wajah yang menampakkan kekesalan luar biasa. Ditambah lagi mata berwarna jingga kemerahan itu menatap tajam Gempa dan Taufan.

"Cih… aku jadi gak napsu makan."

Atmosfir terasa sunyi. Perlahan Halilintar, Air dan Taufan pergi menuju kamar masing-masing. Gempa menatap Ibu Hana yang masih menunjukkan senyum—meski terasa ganjil padanya. Wanita itu segera menuju dapur untuk membersihkan peralatan dapur yang kotor.

Dan kini…

Tinggalah Gempa yang mulai meninggalkan ruang makan tersebut. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok Taufan berdiri di depan pintu kamar Api yang terkunci rapat.

"Bukan salah Kak Taufan…"

Ditepuknya pundak sang kakak. Seulas senyum yang ditampilkan bersamaan dengan ekspresi tenang membuat Taufan sempat berpikir, seharusnya kan dia yang menenangkan Gempa?

"I-iya, bukan salahmu juga. Jangan dipikirkan ya."

Gempa tertawa tanpa suara, ia baru tahu kalau kakaknya yang satu ini memiliki sifat optimis tapi pesimis atau bisa dibilang pesimis yang berusaha optimis agar orang disekitarnya tak ikut cemas.

"Kau aneh sekali, kenapa tertawa terus sih? Kadang aku kesal dengan tawa mu yang tanpa sebab."

Ah- Gempa kembali menemukan sisi diri Taufan yang begitu mudah mengungkapkan sesuatu. Sepertinya… perlahan sifat asli Taufan mulai kembali.

"Hm… bukan apa-apa. Tidak perlu dipikirkan. Aku pergi tidur dulu ya."

Taufan menaikkan alis, lalu kemudian memilih untuk memasuki kamar seperti yang dilakukan Gempa.

"Tinggal dua puluh empat hari lagi. Pasti…"

Anak berusia 12 tahun itu segera menyelimuti diri setelah melepas topi dengan motif gunung yang sering digunakan olehnya secara terbalik. Mata emasnya itu perlahan terpejam, namun begitu… ia tak akan langsung tidur. Kebiasaan pada malam hari yang ia lakukan sebelum tidur adalah berpikir sampai lelah terlebih dulu.

"… bisa."

.

.

Balasan review :

Ahmad Mahmudi

: Halilintar terlalu sulit mengucapkan kata selamat /nak/. Ini udah panjang kok :'D mata saya udah minus, gak kuat tatap layar lama-lama

Annisa Wijayanti

: Mereka sebenarnya saling care, Cuma bingung nunjukkin rasa carenya

Nayu Namikaze Uzumaki

: Terima kasih atas saran yang diberikan ^^

Hehehe… pas nulis bagian dialog Tanah kebetulan emosi saya sedang labil, jadi mungkin agak jleb rasanya.

Yoshie Augestya

: Hati-Hati nanti kena hujan halilintar /loh?/

Ayunf3

: Gempa terlalu ooc disini, mentang-mentang jadi adik wkwkwk. Tapi kadang sisi kalem dan dewasanya keluar meski sekilas. Hanya yang peka yg tahu hahaha.

Alyagupitanurmalitasari

: Sengaja mau ngajak kalian baperan

Asha

: Heee benarkah? Saya cuma tahu webtoon EGGNOID tapi belum pernah baca wkwkwk. Karena Api dan Halilintar masih gak mau jujur haha.

Mi peg

: Ya, bagaimana pun dia sudah memberikan hal yang dibutuhkan yaitu kasih sayang. /mewek/

Mahrani29

: Heee suka Taufan ternyata XD

Tanah disitu cuma lagi nelpon doang kok wkwk

N Rani Kudo

: Haram hukumnya memberi spoiler bagi saya awkwk /digeplak.

.

.

.

.

Terima kasih bagi yang telah membaca, mem-fav / fol cerita saya.

Sampai berjumpa di episode selanjutnya.

Bye!

TBC