Change : After the Arrival of My Brother
.
.
~ Enjoy reading ~
.
.
BRUUK
Bukan maksud Tanah menabrak seorang hingga terjatuh, sebab ia sedang terburu-buru hendak ke kelas. Lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Karena kecerobohan nya, membuat beberapa detik terbuang sia-sia.
"Maaf-"
"Oh rupanya si culun. Berani sekali dia menabrak ketua. Beri dia pelajaran Adudu!"
Sial. Niatnya meminta maaf adalah supaya masalah cepat selesai dan ia bisa segera melesat ke kelas. Akan tetapi… sepertinya agak sulit, terlebih ketika ia baru menyadari siapa ketiga orang yang kini dihadapannya. Adudu, Probe dan Pago Go. Siapa sih yang tidak mengenal preman sekolah seperti mereka?
"Kau—ikut aku!"
Tangan kanan Tanah ditarik paksa oleh Adudu. Hampir saja kacamata yang ia kenakan terlepas, jika ia tidak segera membenarkan posisi kacamata dengan tangan kiri. Ia menggigit bibir bawahnya—agak sakit cengkraman di tangannya, apalagi kuku-kuku yang panjang itu menyentuh kulitnya.
"Akhh-"
"Lepaskan atau kalian tidak akan bisa berjalan lagi."
Seketika Tanah tertegun ketika mendengar sebuah suara yang berada tepat di belakangnya.
Chapter 8 : Tantangan
"Ha-Ha-Halilintar?!"
Pago Go serta Probe dengan terkejutnya menyebutkan nama sosok yang berada di belakang Tanah. Cengkraman di tangan Tanah pun melemah, tak mau kehilangan kesempatan Tanah segera menarik tangan nya dan menoleh ke Halilintar. Buliran keringat mulai mengalir di dahi Adudu yang memasang tampang waspada, begitu juga dua lainnya yang terkesan sangat panik. Halilintar… Sang Ketua dari klub Karate, semua orang tahu akan kehebatannya.
"Untuk apa kau menolong si culun ini? Dia itu cuma sampah saja di sekolah ini. Semua murid menganggap begitu." Sungut Adudu.
"Ralat ucapanmu yang terakhir."
"Dia itu harus diberi pelajaran supaya tidak lancang!" Timpal Pago Go.
Meski situasi seolah menyudutkan Halilintar, namun tak sedikitpun menghilangkan kesan datar, tenang nan tegas pada wajahnya.
"Kalau begitu, apakah kalian mau… ku berikan pelajaran supaya mulut kalian yang lebih rendah dari sampah itu diam?"
Sebuah pertanyaan yang dialunkan dengan nada super dingin membuat ketiganya diam tak berkutik. Semua tahu, sosok Ketua Karate ini adalah tipe orang yang serius dan tak pernah main-main dengan ucapannya. Makanya… tak ada yang berani melawannya, apalagi sekedar mengajak bercanda. Salah kata bisa berakhir gawat, itulah yang dipikirkan murid-murid sekolah sana.
"Cepat. Pergi. Sekarang!"
Dan ketiga kata penuh penekanan berhasil membuat Adudu kesal dan menarik tangan Probe serta Pago Go untuk pergi dari tempat itu. Kini… tinggalah Tanah yang sedari tadi terdiam menatap Halilintar dari balik kacamata. Sejenak Halilintar menatap kearahnya—membuat Tanah meneguk ludah paksa. Tak kuat menatap mata tajam itu.
"Cih… dasar lemah."
Tanah yang mendengar umpatan tersebut, hanya bisa menarik segaris senyuman.
.
.
Halilintar membuka topinya, mengacak-acak rambut hitamnya itu sejenak lalu kembali memakai topi tersebut. Awal yang merepotkan, jika permulaan harinya sudah seperti itu—apalagi nanti akhirnya. Meski pikiran negative selalu membayang di kepala Halilintar, namun ia akan berusaha untuk menepis hal itu.
"Kau tahu—ku dengar dia membantu si culun itu."
Muka Halilintar masam seketika. Baru satu menit ia duduk dibangkunya, telinganya langsung menangkap sebuah percakapan yang makin merusak moodnya. Ia tahu… kedua teman sekelas yang berada di sebelahnya tengah membicarakan dirinya. Meski Halilintar terlihat cuek, sebenarnya ia cukup sensitive apalagi hal yang berkaitan tentang ia sendiri.
"Culun? Yang mana?"
"Yang mana lagi, adik kelas kita itu loh. Yang pernah ku ceritakan."
"Ah baru ingat, kok si Halilintar mau ya membantu si culun? Apa mereka berteman?"
"Mu-mungkin aja kali ya. Aku sih gak banget berteman dengan si culun tersebut."
"Aku juga."
Halilintar mendengus, bolehkah ia tertawa untuk beberapa menit saja? ingin sekali dia melakukan hal tersebut kalau saja ia adalah Taufan ataupun Gempa. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ck… sejak kapan orang-orang disekitarku jadi bermulut rendah." Batinnya seolah mengejek.
Bukan bermaksud menyatakan kalau teman-temannya itu rendah tidak seperti dirinya. Ia hanya tidak suka dengan setiap perkataan yang dikeluarkan teman-temannya itu ketika mulai membicarakan murid culun itu dan mengejek. Sungguh… tidakkah mereka merasa sudah banyak waktu yang terbuang hanya untuk menjelek-jelekkan orang lain? Bahkan… semakin mereka merendahkan orang tersebut maka semakin kelihatan jati diri mereka yang sebenarnya.
"Mana yang namanya Halilintar?!"
Suara lantang yang muncul dari balik pintu kelas menarik semua perhatian puluhan pasang mata. Atmosfir tegang mulai terasa- ketika Ejojo yang merupakan ketua preman sekolah ini—sekaligus anak dari kepala sekolah muncul. Belum lagi ia meneriakkan nama Halilintar. Namun yang diteriaki tak sedikitpun gentar, ia sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. Makanya ia sempat mengatakan dalam pikiran kalau hari ini adalah hari yang merepotkan.
"Yang itu… Bos." Bisik Adudu.
Ejojo langsung menatap kearah Halilintar yang tengah memandang keluar jendela dengan cueknya. Seringaian terukir jelas di bibir Ejojo. Setiap langkah orang itu, membuat suasana semakin runyam. Beberapa murid saling berbisik dengan raut tegang yang masih melekat. Dan kini…
"Oh… jadi kau yang bernama Halilintar?"
… Ejojo telah berada tepat di depan meja Halilintar. Sementara Halilintar yang tadi sempat bertopang dagu kini menurunkan tangannya.
"Hm?"
BRAKK
Gebrakan meja yang cukup keras, sukses membuat seisi orang yang berada diruangan kelas tersebut terlonjak kaget. Akan tetapi tak ada sedikitpun suara.
Berbeda dengan Halilintar yang masih duduk tenang di bangkunya, tatapan datarnya seolah tak takut menatap mata Ejojo. Malah terkesan menantang.
"Berani sekali kau mengancam anak buahku, hah! Kau mau cari masalah denganku?!" Bentak Ejojo yang mulai main kasar. Ia menarik kerah seragam yang Halilintar kenakan. Membuat tubuh Halilintar ikut terangkat sedikit karena refleks alami.
"Lalu?"
Reaksi tenang yang ditampilkan Halilintar membuat Ejojo geram. Padahal—saat ini Halilintar sedang berusaha menahan amarahnya yang bisa kapan saja keluar.
"Ku tantang kau berkelahi sepulang sekolah! Kita lihat siapa yang hebat diantara kita!" Ujar Ejojo mulai melepaskan cengkraman. Halilintar mulai merapikan kerah seragamnya.
"Jika aku tidak mau?" Tanyanya datar.
"Maka aku akan membuat hidupmu tersiksa dengan cara- membuat adik-adikmu. Kau tahu kan… Ayahku adalah pemilik gedung SMP PULAU RINTIS. Jadi aku bisa berbuat apa saja disana, sekaligus disini, hm."
Ejojo menyeringai lebar setelah berhasil membuat Halilintar menunjukan wajah penuh amarah serta kebencian padanya.
"Ku tunggu kau sepulang sekolah di depan gerbang sekolah."
Siswa berambut hijau tersebut kini mulai meninggalkan ruang kelas tersebut diikuti oleh ketiga anak buahnya. Halilintar terduduk pelan, mata yang menatap kosong sebuah meja menandakan kalau ia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Halilintar?"
.
.
KRIINGGGG
Bel istirahat yang dinantikan telah berbunyi. Beberapa murid segera pergi keluar kelas—tak peduli dengan buku-buku atau peralatan tulis yang masih bertebaran di atas meja. Sedangkan sebagian memilih untuk merapikan mejanya terlebih dahulu sebelum ke kantin.
"Ku dengar Halilintar akan berkelahi dengan Ejojo sepulang sekolah nanti."
Tangan Taufan yang hendak memasukkan buku ke dalam tas sempat tertunda ketika ia mendengar ucapan tersebut.
"Kak Halilintar? Ejojo? Berkelahi?"
Meski sudah lama hubungan persaudaraan diantara mereka renggang, satu hal… bagaimana pun juga Taufan adalah adiknya—saudara sekandung. Ia tahu betul tabiat Sang Kakak yang sebenarnya cukup tempramen namun tak separah Api, karena kakaknya tersebut masih bisa mengontrol emosi walau sedikit.
Sedikit.
Agak mengkhawatirkan memang. Akan tetapi, Halilintar tidak akan semudah itu mau berkelahi kalau bukan karena ada alasan penting dibaliknya. Yah… alasan, itu pasti.
"Iya, Ejojo menantangnya. Katanya sih gara-gara Halilintar mengancam anak buahnya duluan."
"Tak ku sangka Halilintar bodoh ya, kalau aku jadi dia… lebih milih langsung keluar sekolah aja deh."
Dan setelah mendengar perkataan terakhir salah seorang teman sekelasnya, Taufan langsung berlari keluar kelas.
.
.
Taman belakang sekolah.
Sudah menjadi tempat favorit kedua Halilintar setelah atap sekolah. Disudut pojok taman—dekat sebuah gudang bekas Halilintar memilih untuk menyenderkan punggung di badan gudang yang terbuat dari kayu tersebut.
Mata merah yang tak lagi terlihat tajam, malah seperti kebingungan ketika melihat langit biru yang bercahaya.
Kenapa? Ada apa?
Bahkan ia sendiri pun tak tahu pasti apa yang sedang dibingungkannya. Semua hal begitu menumpuk dipikirannya, sementara hatinya sendiri sedang mencari penawar untuk menyembuhkan luka.
"Maaf telah membuatmu mendapatkan sebuah masalah."
Siapa yang tidak terkejut ketika kau sedang sendirian lalu ada sebuah suara lain. Halilintar yang sempat tersentak pun menengok ke samping- mendapati murid culun yang kini duduk dua tumpukkan kotak yang terbuat dari kayu.
"Kenapa—kau menyelamatkanku tadi pagi? Padahal kau bisa saja pergi begitu saja dan berpura-pura tidak melihat." Ujar Tanah to the point, karena ia tahu Halilintar tak akan merespon tadi.
"Kau lemah dan aku kesal melihat orang lemah. Jika kau terus bersikap lemah, maka makin banyak orang yang menindasmu." Ujarnya tanpa menoleh pada Tanah—tatapannya lurus ke depan. Tanah mengayun-ayunkan kedua kakinya, seolah tidak terlalu serius menganggap pembicaraan.
"Lalu... Apakah aku harus menjadi seseorang yang kuat?"
"Kau tahu jawabanku." Ucapnya singkat.
Tanah tersenyum "Lalu… jika aku kuat, menurutmu kekuatan yang ku punyai itu untuk apa?"
"Tentu saja melindungi diri sendiri, Idiot. Pantas saja mereka merendahkanmu. Kau terlalu idiot." Umpat Halilintar yang mulai kesal.
Dalam pikiran Halilintar, ia bertanya-tanya untuk apa murid culun tersebut kemari? Jika hanya untuk meminta maaf, lalu kenapa … dia malah mengajaknya mengobrol? Pertanyaan nya aneh pula.
"Hee… begitu kah?"
Halilintar mulai merasa tidak nyaman duduk berlama-lama di tempat ini bersama Tanah. Perlahan dia berdiri, menepuk celana bagian belakangnya yang kotor dan mulai mengambil langkah pertama-
"Melindungi diri sendiri atau… menutupi kelemahan karena tak bisa melindungi orang lain?"
- kakinya tak melanjutkan langkah. Hanya satu langkah saja dan ia mulai terdiam layaknya patung.
Drrt Drtt Drtt
Suara ponsel yang bergetar pun terdengar. Tanah segera merogoh saku celana bagian depan dan mengecek ponselnya.
"Ah—sampai jumpa."
Begitu mendadak Tanah pergi meninggalkan Halilintar yang masih mematung karena ucapan Tanah sendiri.
"Kenapa—"
.
.
TAP TAP TAP
Lari dan berlari.
Kedua kaki yang terus berlari dengan kecepatan penuh, seolah tak peduli dengan napas yang mulai tak beraturan disaat kau punya satu tujuan yang harus segera diwujudkan.
Sesekali Taufan mengelap keringat yang terus-menerus mengalir di dahi, tanpa ada niat menghentikan laju lari atau memperlambatnya. Tujuan dia adalah…
"Kak Hal- Dimana dia?"
… kelas Halilintar. Namun sayang, begitu sampai ia tak menemukan orang itu disana. Malah teman-teman sekelas Halilintar yang berada diruangan tersebut melayangkan tatapan bingung padanya.
"Aku harus menemukannya!"
Tak mau berbasa-basi, ia kembali melanjutkan larinya. Tak tahu harus mencari kemana, tidak tahu kakinya akan melaju kemana—yang penting ia harus segera menemukan Halilintar.
"Kak Hali dimana? Dimana? Dima-"
BRUKK
Naasnya, begitu ia ingin berbelok malah menabrak orang lain. Belum lagi, bokongnya mendarat kasar ke lantai sekolah. Ugh… rasanya cukup sakit juga, batin Taufan.
"Sial banget sih hari ini."
Taufan terbelalak. Suara itu- bukanlah suara asing yang ia dengar melainkan…
"K-Ka-"
Mulutnya begitu kaku untuk sekedar mengucapkan kata 'Kak Halilintar'. Kenapa disaat ia sudah bertemu dengan seorang yang dicari malah jadi kagok seperti ini?
"K-Kau tak apa?"
Taufan yang sudah berdiri sempat merutuki dirinya. Apa-apaan itu dengan kata 'Kau', seolah terkesan kalau kakaknya sendiri adalah orang asing.
"Hm…"
Dengan santainya Halilintar berdiri, sedikit merapikan seragam serta topi yang dikenakan. Sebenarnya ia tahu—Taufan saat ini sesekali menatapnya sembari menepuk-nepuk celana yang bahkan terlihat tak kotor. Gugup atau kebingungan, huh?
Tak mau memperdulikan hal tersebut atau mungkin Halilintar berusaha untuk tidak bersikap peduli—ia memilih untuk berjalan melewati Taufan dengan telapak tangan yang berada di dalam kantong celana.
"Apa kau akan menerima tantangan Ejojo?"
Langkahnya terhenti untuk yang kedua kali. Tanpa membalikkan badan ke belakang, Halilintar menjawab.
"Haruskah ku jawab?"
Merasa tak mendapat jawaban dari adiknya, Halilintar hendak mengambil langkah kembali kalau saja lengan kanannya tak ditahan.
"Jangan terima… ku mohon Kak…Hali." Lirih Taufan mengeratkan pegangannya pada lengan Halilintar.
"Maka aku akan membuat hidupmu tersiksa dengan cara- membuat adik-adikmu. Kau tahu kan… Ayahku adalah pemilik gedung SMP PULAU RINTIS. Jadi aku bisa berbuat apa saja disana, sekaligus disini, hm."
Perkataan Ejojo kembali terngiang di kepala Halilintar. Membuatnya secara spontan menarik kuat lengannya serta menepis tangan Taufan hingga posisi tubuhnya menghadap sepenuhnya ke Taufan.
"Jangan memerintahku!" Ucapnya tegas dengan tatapan yang begitu tajam.
Halilintar tak akan tahu… tidak akan pernah tahu jika Kristal bening telah keluar dan jatuh dari pelupuk mata Taufan. Sebab … Halilintar terus melangkah maju, enggan untuk menengok ke belakang.
"Aku sudah gagal menjadi seorang kakak, oleh karena itu…"
.
.
KRIINNGG
Guru yang mengajar disetiap kelas sudah keluar—semenit setelah bel tersebut berbunyi. Murid-murid mulai merapikan semua perlengkapan sekolah tanpa terkecuali. Sebagian besar terlihat begitu senang berbaur dengan temannya yang beda kelas dan pulang bersama. Ada yang memilih untuk nongkrong dulu dan juga…
"Oh… akhirnya kau datang. Ternyata kau punya nyali juga~"
… mengurusi sebuah masalah sebelum pulang ke rumah.
"Kau terlalu banyak bicara." Ketus Halilintar
"Ow… Santailah sedikit. Mari ikut aku. Kita cari tempat yang aman untuk berkelahi~"
Senyum sinis mulai ditampilkan Halilintar, namun ia tetap mengikuti kemana Ejojo serta ketiga anak buahnya melangkah. Matanya menyipit, entah sejak kapan langit terlihat mendung.
.
.
TBC
.
.
Balasan review :
Silver Celestia
: Sesekali menolak juga tak apa, jika ia memang benar temanmu pasti ia akan mengerti—mungkin kamu sedang punya urusan lain atau apa. Kalau memang gak sanggup bantu, tolak aja. Kalau maksain kan… pasti kadang gerutu. Kalau membantunya begitu sama aja bohong kan. Membantu itu dari hati :'D
Punya saudara laki-laki ribet loh wkwkwk.
Ahmad Mahmudi
: Yup… minus satu QwQ
Enggaklah, masa hantu ada di sore hari wkwk
Untuk chapter depan kamu udah tau kan fokus ke siapa, Halilintar~.
Action dikit kali ya chapter depan hahaha.
EruCute03
: Gak apa kok, dibaca olehmu saja saya sudah sangat senang. Thanks!
Nayu Namikaze Uzumaki
: Untuk tokoh lain apalagi OC enggak deh wkwk.
Kakak salah, yang berikutnya adalah Halilintar~
Untuk yang masalah 24 jam, nanti aja ya jawabnya~
Nur785
: Terima kasih sudah membaca!
Annisa Wijayanti
: Api memang emosinya mudah sekali keluar, namanya juga Api. Suka memercikan api gitu~
Yoshie. Augestya
: Taufan kan juga manusia wkwkwk
Mahrani29
: Cieee samaan, mungkin kalian jodoh wkwk
Terima kasih atas sanjungannya!
Rampaging Snow
: Wow… baca marathon :'D saya aja udah gak kuat wkwk.
Untuk yang 24 hari gak bisa dijawab sekarang~
N Rani Kudo
: Masih kurang panjang? Huhuhu kasihanilah saya :'D Saya juga tak mau menghabiskan waktu mendekam di kamar hanya untuk melanjutkan ff :'D
Orang asing nya siapa ya~ Saya belum bisa kasih tahu~
Seingatmu dia dikasih jangka waktu gak sama Boboiboy? Kalau nggak, berarti bukan itu maksudnya~
.
.
A/N : Gak nyangka sudah sampai chapter 7 aja, padahal pas awal ngerjain gak yakin bisa sampai chapter 7 dalam waktu secepat ini. /Bagi saya cepat loh/.
.
"Seseorang bilang, gaya penulisanmu bisa mencerminkan kepribadian yang ada pada dirimu."
.
Kan udah sampai chapter 7 nih, menurut kalian saya itu orang yang seperti apa melalui penulisan saya?
Ini hanya game untuk hiburan semata~ Gak perlu dianggap serius. Tak mau jawab tak apa, yang jawab tentu akan membuat saya senang ^^
.
Thanks for reading my Fanfiction and see you next time!
