Change : After the Arrival of My Brother

.

.

~ Enjoy Reading ~

.

.

Chapter 9 : Begin

TAP TAP TAP

Derap langkah kaki begitu menggema memenuhi setiap koridor. Langkah kaki yang begitu cepat belum lagi napas yang menderu disertai bulir keringat yang mengalir dari dahi, menandakan orang tersebut sedang tergesa-gesa.

"Kak Ha-"

Sosok bertopi miring tersebut tertegun begitu sampai di depan pintu kelas. Tidak… firasat buruk pun mulai menghantui. Bersamaan dengan wajah yang kini diliputi kecemasan luar biasa.

"Tidak! Jangan bilang kalau aku terlambat?!"

Langsung saja Taufan segera pergi dari tempat itu—tak memperdulikan tatapan-tatapan aneh dari murid-murid yang masih ada disana. Tak sedikitpun ruangan yang berada disekolah tersebut terlewatkan oleh Taufan. Ia terus mencari sosok kakaknya.

"Ck… dimana kau Kak Hali?!"

Kini ia telah berada diluar gedung sekolah, napas nya semakin terengah-engah. Ia lelah untuk berlari akan tetapi ia harus melakukannya. Demi mencari—

JDUARRR

Sontak kedua telinga ia tutupi dengan telinganya ketika datang suara petir yang menggelegar. Mata yang sempat terpejam, kini terbuka perlahan hingga-

"K-Kak Halilintar?!"

- matanya terbelalak saat menangkap sosok Sang Kakak yang sedang berjalan bersama Ejojo dan kawan-kawan.

.

.

Iris biru yang tertutupi poni itu menatap langit yang kelabu. Tangannya ia angkat sedikit, sekedar ingin tahu apa langit sudah mulai menangis atau belum.

"Hujan akan segera turun…" Gumamnya pelan.

Pemandangan seperti ini yang Air suka. Ia sangat menyukai hujan—menyukai aroma tanah yang telah dibasahi tetetsan hujan dan juga rintik-rintik yang satu demi satu jatuh ke bumi. Begitu menenangkan.

"Ck… awan mendung sialan!"

Ia menoleh ke samping, tidak terlalu terkejut kalau kakaknya belum pulang, ia tahu Api mengikuti eskul sepak bola lebih dulu. Akan tetapi…

"Kak Api…"

Rasanya agak canggung ya jika bertemu mendadak begini.

Sementara Api yang merasa terpanggil pun ikut menoleh, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun ia menatap adiknya. Hanya suara angin yang mengisi kekosongan diantara mereka berdua.

"Kak Api! Kak Air!"

Keduanya sama-sama tersentak, terlebih lagi ketika sebuah tangan merangkul lengan kanan- Api- dan lengan kiri – Air- dengan erat.

"Kita pulang bersama yuk!"

Sosok bernama Gempa itu ternyata adalah pelakunya. Wajah Api yang terlihat memerah serta Air pun hanya membeo.

"Wo-woi apa-apaan kau?!" Protes Api yang berusaha menarik lengan kanannya namun tak bisa sebab Gempa memeluk lengannya erat.

"Sudah, sudah. Lebih baik kita segera… pulang, benarkan?"

Dengan santainya, Gempa segera menarik keduanya untuk berlari bersama dirinya menuju rumah. Ditemani oleh rintikkan hujan yang perlahan turun serta… gerutuan yang terus dilontarkan Api.

.

.

Mendung.

Masih tetap melangkah, tak sedikitpun tatapan Halilintar berpindah dari langit yang kelam. Suhu mulai mendingin, angin yang berhembus begitu menyentuh permukaan kulit. Langkah demi langkah diliputi sebuah kecemasan, yang membuat bingung pemilik hati itu sendiri.

"Bagaimana jika kita bertarung disini?"

Halilintar memandang sekeliling. Baru sadar bahwa sekarang ia telah berada disebuah gang yang tidak terlalu luas. Gang yang sudah jarang ia lewati saat pulang meski gang tersebut dapat membuatnya lebih cepat untuk sampai ke rumah. Sebab akhir-akhir ini, ia sering mendengar isu bahwa ada segerombolan preman di tempat ini yang sering memeras uang setiap orang yang lewat. Makanya begitu sepi sekarang.

"Tidak masalah. Cepat kita akhiri." Ujar Halilintar tanpa basa-basi.

"Wohoo~ rupanya kau tidak sabaran sekali ya?"

"Aku tidak mau berlama-lama menghadapimu. Buang waktu saja."

Meski wajahnya terlihat datar dan tenang-tenang saja saat melihat seringaian bengis terpasang di wajah Ejojo, dalam hatinya berkecamuk perasaan gelisah. Sedari tadi… dan ia sendiri pun tak tahu apa yang digelisahkannya.

"Oh begitu ya, baiklah…"

Halilintar mulai siaga saat Ejojo mulai berjalan mendekatinya secara perlahan. Bulir keringat mulai muncul di pelipisnya, bibir yang ia gigit bagian bawahnya. Perasaan gelisah di hati sungguh mengganggunya, hingga—

"… KITA MULAI SEKARANG!"

DUAGH

Halilintar terjatuh setelah menerima tinjuan yang dilayangkan Ejojo tepat di perutnya dengan sangat cepat. Menyesal karena ia bisa-bisanya lengah. Tangannya memegangi perut yang terasa sakit.

"Baru serangan pertama saja sudah kena hahaha~"

Sepertinya ia harus serius meladeni Ejojo, karena setahunya… Ejojo juga jago dalam ilmu bela diri.

"Ck…"

Tes Tes Tes

Tanpa permisi rintik hujan tersebut turun satu per satu, semakin lama makin bertambah deras. Hingga Halilintar yang sedang menengadah ke langit pun sedikit terhalang pandangannya akibat rintikan hujan tersebut.

DUAGH

Untuk yang kedua kalinya, Halilintar kembali menerima sambutan hangat di pipi kanan oleh Ejojo. Darah mengalir dari bibirnya yang terluka akibat pukulan yang membuat giginya menggores luka di bibir. Iris merah itu menatap tajam orang yang berdiri dihadapannya.

"Apa ada masalah dengan hujan? Apa kau anak mama yang takut sakit kalau terkena air hujan, hm? Hahahaha~"

Tangannya mengepal. Masih dengan kesabaran yang hampir diambang batas, ia terus menatap Ejojo, Probe, Adudu serta Pago Go yang sedang tertawa mengejek itu.

"Akan ku buat kau berhenti tertawa!" Tegas Halilintar.

Ketiga anak buah Ejojo bungkam, menyadari kalau ucapan Halilintar bukanlah main-main. Sementara Ejojo semakin memperlebar seringaiannya saat Halilintar berusaha berdiri.

"Coba saja kalau kau-"

JDUAK

Dengan cepat Halilintar mendekati Ejojo, melompat sedikit ke samping dan dengan sekuat tenaga menendang kepala Ejojo hingga terjatuh. Dua tiga tempat sampah habis ditimpah oleh tubuh Ejojo, Halilintar langsung mengambil pose siaga untuk menyerang kembali. Sementara Ejojo…

"Kenapa dia jadi kuat begini?!"

.

.

"Tadi sepertinya… mereka lewat sini."

Tanpa kenal lelah Taufan terus berlari demi mencari sosok Halilintar. Tadi ia sempat melihat Halilintar bersama Ejojo dkk, sayang dirinya kehilangan jejak. Dan sekarang hanya dengan mengikuti naluri ia terus berlari. Tak peduli dengan derasnya hujan, dirinya yang basah kuyup serta napas yang tak beraturan. Berlari, berlari dan berlari.

BRUKK

PRANGG

AKHHHHH!

Taufan segera mengerem kecepatan larinya, spontan mulai mempertajam pendengaran. Suara gaduh terdengar meskipun samar-samar, dan Taufan yakin suara teriakan yang barusan didengarnya adalah… suara Ejojo.

"Su-suara itu—sepertinya tak jauh dari sini. Mungkinkah itu Ejojo dan Kak Hali yang sedang bertarung?" Pikirnya.

Langsung saja ia mendekati sumber suara tersebut. Secercah harapan bercampur kecemasan meliputi hatinya. Berharap dugaannya benar kalau disana ada Halilintar, juga sangat mengharapkan ia tidak terlambat datang—sebelum terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya. Karena ia tahu siapa Ejojo. Mantan ketua klub karate yang dikeluarkan dari klub karena menyalah-gunakan kemampuan dengan memeras uang serta memukuli siswa-siswi yang menentangnya. Setelah Ejojo diambil paksa jabatannya dan diusir dari klub, Halilintar lah penggantinya. Makanya… ia sempat berpikir apakah… Ejojo menaruh rasa iri serta dendam pada kakaknya?

"Ah—itu Kak Hali."

Ia tertegun ketika melihat wajah serius Halilintar yang sedang bertarung. Jarang-jarang melihat ekspresi kakaknya seperti itu, sungguh keren bagai aktor di film laga. Namun…

"Aku harus membantunya." Ucapnya ketika menyadari beberapa lebam di wajah Halilintar.

BUUGH

Disaat hendak melangkah, sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Perlahan…

"Kak Ha-"

…. Pandangannya mulai buram. Tubuhnya tersungkur, jatuh ke tanah beraspal tersebut. Begitu tidak berdaya, Taufan kehilangan kesadarannya.

"Akan ku jadikan kau sebagai kelemahannya hahaha~"

.

.

DUAGH

BRUKK

PRANGG

AKHHHHH!

Serangan diluncurkan secara bertubi-tubi oleh Halilintar. Kepala, perut, tangan hingga kaki pun tak terlewatkan oleh Halilintar. Ia terus memberi pukulan pada Ejojo, hingga punggung Ejojo pun kembali menabrak drum-drum sampah.

"Bo-Bos!" Probe memekik kaget. Semua anak buah Ejojo bungkam dengan tubuh gemetaran.

TAP TAP TAP

Suasana semakin mendekati puncak konflik, setiap langkah Halilintar menuai rasa takut di hati Ejojo dan anak buahnya. Dengusan terdengar dari mulut Halilintar, seolah meremehkan orang yang sempat memandang rendah ia diawal.

"Bukankah sudah ku bilang… akan ku buat kau tak bisa tertawa lagi?" Sekarang Halilintar yang menampakan seringaian penuh kemenangan.

"Ugh…"

Ejojo masih terbaring diatas tanah beraspal tersebut, dengan kedua tangan yang serta bagian perutnya yang ditimbuni drum sampah. Mata yang menyiratkan rasa benci namun disatu sisi seolah menahan rasa sakit. Terlebih darah juga mengalir dari mulutnya.

"Kalau begitu, kita akhiri saja seka-"

"Jika kau memukul bosku, aku tidak bisa menjamin nyawa anak ini selamat."

Aksi Halilintar yang hendak memukul Ejojo kembali terhenti saat mendengar suara Adudu. Iris merah tersebut terbelalak ketika melihat seseorang yang terduduk—diikat kedua tangannya oleh Adudu. Orang itu…

"Ta-Taufan?!"

Mungkinkah ini perwujudan rasa gelisahnya sejak tadi?

Ejojo pun kembali bangkit, mendekati Adudu dan menepuk bahu anak buahnya tersebut. Mereka berdua saling berpandangan dengan seringaian licik yang dipasang.

"Jangan sampai kau sampai salah ambil langkah, Halilintar~" Ujar Ejojo yang merasa kalau ini akan menjadi kemenangannya.

Halilintar mengepalkan kedua tangannya "Ck… dasar licik kau!"

"Aku memang licik. Sebab tujuanku sejak awal adalah… menghabisimu Ketua Klub Karate." Jawab Ejojo dengan nada dingin.

Ketika situasi berbanding terbalik, saat tujuanmu tak sesuai kehendak. Kau ingin melindungi seseorang akan tetapi orang yang ingin kau lindungi itu malah terseret dalam bahaya juga. Apa yang harus kau lakukan?

Hujan terus mengguyur dirinya, bahkan hingga perasaan takut serta cemas yang ia rasakan. Sekarang… harus bagaimana?

.

.

.

"Hujan mendadak deras!"

Api, Air juga Gempa yang sedang dalam perjalanan pulang pun terjebak oleh hujan deras. Naasnya mereka tak menemukan tempat sama sekali yang bisa dijadikan tempat peneduh. Membuat mereka mau tak a uterus berlari, lagipula mereka sudah basah kuyup. Tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi, bukan?

"Kenapa berhenti berlari? Kita bisa kehujanan bodoh!"

Dengan segera Api menarik lengan Air dan kembali berlari menerpa hujan, menyusul Gempa yang berlari begitu cepat di depan.

"Ayo cepat! Kita harus segera pulang!" Teriak Gempa.

Api yang biasanya menggerutu jika Gempa mulai bersuara- karena memang Api tidak begitu menyukai keberadaan Gempa kini malah diam saja dan menuruti. Entah kenapa… bagi Api hari ini terasa beda, terlebih lagi… ekspresi yang ditampilkan Gempa terkesan datar.

"Kita harus cepat…"

.

.

JGERRRR

PRANGG

Suara petir yang begitu memekakkan telinga membuat Ibu Hana yang sedang mencuci piring di dapur terkejut dan menjatuhkan piring yang dipegangnya.

"Astagfirullah!"

Ibu Hana segera mengambil sapu serta pengki untuk membersihkan pecahan beling tersebut dengan tangan yang gemetaran. Gemetaran…?

"Kenapa aku jadi cemas begini?"

Hujan diluar begitu deras, sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu singkat. Sementara itu… anak-anaknya tak kunjung pulang. Semoga firasat tidak mengenakan dalam hatinya tak menjadi kenyataan.

.

.

TBC

.

.

A/ N : Maaf ada beberapa yang tidak saya sempatkan untuk dibalas reviewnya, gomen ^^'')7

Saya senang cukup banyak yang menikmati cerita ini, terima kasih bagi para readers yang terus menunggu kelanjutannya!

Salah satu postingan saya di FB mengenai siapa saya sebenarnya, mungkin diantara kalian sudah ada yang tahu wkwkwk. Maafkan saya yang telah menyamar hahaha.

Dan untuk yang belum tahu, perkenalkan… saya Ranni-kudo21 aka Ameya Nijika. Percaya atau nggak itu saya, ya terserah kalian wkwk. Memang ada sih beberapa yang sempat gak percaya wkwk.

Tujuan saya ngaku, karena udah lelah aja menyamar. Capek juga balas reviewnya jaim ke teman author yang dikenal tapi berusaha pura-pura ga kenal wkwk.

Jadi… ah—satu lagi, banyak yang bingung Tanah itu siapa, apa dia itu Gempa, apa mereka satu orang?

Jawabannya… mereka itu BEDA orang. Ok?

Sekian! See you next chapter, all! ^^