Change : After the Arrival of My Brother
Boboiboy ©Animonsta
.
.
"Beritahu aku… hal yang tidak bisa di ukur dari mahal atau tidaknya, tetapi hal tersebut sangatlah berharga. Jika kau benar-benar memahami nya."
.
.
"Yuk teman-teman kita pergi ke kantin. Tinggalkan saja si pelit itu."
Kelima orang itu mulai meninggalkan kelas begitu bel istirahat berbunyi atau lebih tepat nya juga membiarkan seseorang bertopi miring itu sendirian.
"Hah..."
Chapter 11
Langkah kaki terus bergerak tanpa henti, melewati lautan keramaian di sepanjang koridor seorang diri. Kepala yang sedari tadi tertunduk nampaknya tak berniat untuk menegak. Sementara bibir hanya terkatup rapat tak bersuara. Dan setelah menghabiskan waktu beberapa menit, sosok itu memilih untuk duduk di bangku paling ujung dalam ruang perpustakaan. Tempat yang akan Taufan gunakan untuk membunuh kesendirian dan menghabiskan waktu seorang diri saja.
Kedua tangan yang menempel di meja dijadikan nya alas untuk menopang kepala. Sinar mata yang begitu lemah, ia merasa lelah untuk hari ini. Mungkin efek luka tusuk di perut nya yang masih terasa sakit, padahal sudah seminggu berlalu.
"Hah... semua menjauhiku."
Begitu bel istirahat berbunyi tadi, Taufan mengajak teman-teman nya ke kantin seperti biasa untuk bercengkrama, akan tetapi mereka menolak ajakan nya dengan alasan karena insiden beberapa hari lalu- dimana Taufan yang telah menampar salah satu temannya yang telah merusak skate board pemberian Gempa.
"Apakah salah jika aku marah saat itu? Apa aku tidak boleh marah jika apa yang menjadi milikku telah dirusak? Apakah itu yang dinamakan egois?"
Taufan mendesah, di satu sisi Taufan hanya ingin menjadi dirinya sendiri- dimana ia akan melakukan apa yang dia inginkan bukan apa yang orang lain kehendaki. Ia terlalu lelah untuk menyenangkan orang lain setiap hari, jika pada akhirnya ia selalu mendapatkan rasa sakit setelah itu. Tak mau menangis sendirian diatas kegembiraan orang lain, mungkin egois... akan tetapi bukankan semua orang berhak untuk mendapatkan kebahagian nya sendiri?
Mata yang terpejam itu terbuka, menatap buku di depan yang menganggur. Sepertinya tadi baru saja ada murid yang selesai membaca tetapi lupa untuk mengembalikan buku itu kembali ke tempat asal. Tangan nya mulai tertarik untuk mengambil buku tersebut.
'Just about yourself'
Judul yang cukup menarik, membuat Taufan mulai membuka lembaran pertama untuk sekedar membaca seperti apa isi buku tersebut.
"Eh?"
Sebuah kertas putih keluar dari lembaran kertas buku itu dan terjatuh. Taufan memungut kertas putih yang terlipat itu.
"Beritahu aku… hal yang tidak bisa di ukur dari mahal atau tidaknya, tetapi hal tersebut sangatlah berharga. Jika kau benar-benar memahaminya."
Taufan menoleh ke kanan-kiri lalu menatap kertas putih dalam genggaman nya "Ini kan... kertas yang waktu itu?"
"Diskusi kita hari ini cukup, kalian boleh menikmati waktu istirahat kalian."
Kerumunan yang berada di tepi lapangan itu, satu per satu pergi untuk menghabiskan waktu istirahat yang tersisa. Mengingat lima belas menit lagi bel berbunyi.
"Halilintar, bagaimana keadaan adikmu?"
Belum sempat melangkah, ia pun memilih untuk berbalik. "Dia sudah masuk sekolah. Kenapa?"
"Hm... kurasa kau harus menemui adikmu." Ujar Sang Pelatih dengan senyum tipis diakhir, membuat kedua alis Halilintar saling bertaut.
"Tadi ku lihat dia sendirian saja menuju ke perpustakaan."
Halilintar mendengus. "Paling sekarang dia sama teman-teman sekelasnya."
Yah... bagaimana pun ia bukan tipe orang yang mudah percaya. Terlebih dengan sifat Taufan yang selalu bagai musim semi tanpa awan mendung itu, mustahil ia menghabiskan waktu di perpustakaan yang bagi adik nya itu seperti ruangan kosong tempat menyimpan patung. Lagipula, setahu nya Taufan punya banyak teman. Jadi-
"Benarkah? Tetapi ku lihat muka nya suram- mungkin ada masalah?"
Kata suram terdengar menarik di telinga Halilintar, mata yang sempat terpejam kini kembali terbuka begitu mendapat tepukan pelan di pundak.
"Aku tahu kau itu orang yang diam-diam sangat perhatian di dalam. Setidaknya keluarkan sifat perhatianmu sedikit, kalau kepada adikmu saja tidak masalah, kan? Sudah ya, ku pergi dulu. Dah~" Ujar Pelatih tersebut sembari terus melambaikan tangan meski sembari berjalan.
Halilintar pun masih terdiam disana, seolah tengah menimbang-nimbang sesuatu.
"Tidak ada salahnya kan ku mengeceknya."
.
.
.
"Jadi... begitu, ya?"
Sosok remaja bertopi miring itu masih terduduk disana, di sudut ruangan dengan betahnya. Tangan kanan itu membuka setiap lembar halaman buku dalam jeda beberapa menit. Entah apa yang tengah merasukinya, tetapi Taufan terlihat begitu menikmati aktivitas nya sekarang.
"Sekarang kau beralih dari badut jadi kutu buku, heh?"
Tubuh itu mendadak kaku dan menegang saat mendengar suara yang begitu familiar. Tidak mungkin kan kalau-
"K-KAK HALIII?!" Pekik Taufan kaget bukan main. Dugaan nya tidak salah.
"Mohon maaf yang di ujung sana tolong tenang sedikit!"
Seorang wanita berumur yang sedang merapikan beberapa buku di rak baru saja angkat bicara. Mimik nya terlihat tidak begitu suka setelah Taufan sempat membuat gaduh tadi.
"Ba-Baik."
Kepala nya tertunduk pelan, tatapan beberapa pasang mata yang sempat tertuju pada dirinya kini lenyap. Mereka semua kembali sibuk dengan membaca buku yang berada di tangan mereka.
"Bagaimana pun badut yang berisik memang tak cocok di tempat seperti ini." Halilintar masih berdiri di sebelah kanan Taufan.
"Apaaa?! Kalau kau kesini cuma mau mengejek, pergi saja sana, huh!"
"Kalau begitu ayo pergi."
Wajah Taufan mulai merengut dan Halilintar pun segera menarik pergelangan tangan kanan Taufan. Membuat adik nya itu terpaksa berdiri dan mengikuti langkah Halilintar.
"He-Hei mau kemana?!"
Meskipun fakta mengatakan kalau Halilintar adalah kakaknya, akan tetapi... bagaimana pun juga, siapa yang sudi ditarik paksa oleh seseorang terlebih cengkraman di pergelangan tangan nya kuat sekali. Sesekali Taufan meringis karena nya. Pasrah akan keadaan, mau bagaimana lagi... Taufan pun hanya diam mengikuti sampai-
"Duduk."
- mereka pun sampai di halaman belakang sekolah- tepatnya di belakang gudang yang sudah usang.
"Kenapa aku harus menurutimu?!" Bentak Taufan kesal. Ia menarik pergelangan tangan nya saat merasa cengkraman itu melemah.
"Pertama, kau adikku. Kedua daripada kau di perpustakaan hanya untuk menggalau, lebih baik kau disini menemani ku makan."
Oh sungguh, nada bicara itu terdengar begitu tajam dan sinis.
"Pertama, aku tadi sedang membaca sebuah buku. Kedua, AKU TIDAK MENGGALAU KAU TAHU!"
Perempatan kecil mulai bermunculan disekitar pelipis Taufan, terlebih ketika melihat Halilintar dengan santai nya membuka sebuah kantong plastik yang sejak tadi kakak nya bawa itu. Karena merasa diabaikan, Taufan pun memilih duduk, membanting topi yang ia kenakan ke bawah dan mengacak-acak rambut nya dengan kesal.
"ARGGGH KAK HALI MENYEBAL- HMPH!"
Sesuatu masuk ke dalam mulut Taufan, membuat Taufan terpaksa mengunyah nya dan menurutnya itu adalah sebuah nugget dengan nasi putih?
"Dia menyuruhku membawakan bekalmu yang tertinggal." Ujar Halilintar lalu memberikan kotak bekal yang terbuka itu pada Taufan, kemudian setelah diterima- ia segera membuka kotak bekal nya sendiri.
Taufan hanya memandangi kotak bekal yang kini berada di tangan nya tanpa berniat untuk menyentuh sedikitpun.
"Jangan terlalu banyak berpikir, seperti bukan kau saja."
"Heh?"
Ia menatap lurus kearah Halilintar yang sedang makan itu, masih terdiam tanpa ekspresi. Seolah menunggu Halilintar kembali berbicara. Hingga pada akhirnya, sebuah tangan menepuk kepala nya.
"Semua akan baik-baik saja, masih ada aku... kakakmu." Ujar Halilintar dengan senyum tipis.
Dengan tiba-tiba Halilintar berdiri setelah menutup kotak bekal yang sudah kosong dan memasukkan nya kembali ke kantong plastik.
"Cepat habiskan makanan mu. Lima menit lagi masuk." Ujar nya sebelum pergi.
.
.
.
.
KRINNG
Beberapa murid di kelas Taufan menghela napas begitu mendengar bel pulang. Pelajaran Matematika yang berlangsung selama dua jam tanpa henti tadi rupanya mampu menguras banyak tenaga mereka- terutama pikiran. Tak heran jika beberapa ada yang terlihat seperti kelelahan. Namun berbeda dengan murid bertopi miring itu.
Setiap langkah nya diisi dengan senandung gak jelas, dan entah kenapa seperti ada sinar yang begitu menyilaukan hingga membuat banyak pasang mata menatap aneh. Tak biasanya si biang berisik itu terlihat sangat super ceria.
"Eh, Kak Hali?"
Seseorang yang dipanggil nya itu menghentikan langkah dan menoleh pada nya, kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Tidak ada jadwal latihan hari ini?"
"Tidak."
"Kalau begitu kita bisa pulang bareng hehehe. Sudah lama tidak begini..." Ujar Taufan dengan tawa canggung serta nada lemah di bagian akhir.
Halilintar tak meng-iya-kan dan tidak juga menolak. Dalam diam, ia kembali berjalan namun agak pelan... membiarkan Taufan mengimbangi langkah nya.
Memang tak banyak yang bisa diharapkan bila bersama Halilintar. Meski sudah lama sekali mereka tidak saling menegur dan sapa, itu tetap tidak mengubah kalau kakak nya memang tipikal pendiam. Akan tetapi, untuk hari ini Taufan malah merasa senang.
Persetan karena ia tidak tak tahu harus berbicara apa supaya suasana tak begitu sepi, hanya bisa kembali berangkat pulang sekolah dengan kakak nya saja...
BRAAKK
"Hiks- HUWEEEEEEEE!"
Dari kejauhan, Halilintar dan Taufan mengamati kedua anak kecil yang salah satu diantara nya terjatuh dengan sepeda yang dikendarai. Seperti nya tersandung batu. Kemudian anak yang satu lagi mencoba menenangkan.
"Sudah jangan menangis lagi. Kamu kan kuat."
Anak kecil itu terdiam dan menatap lekat kakak nya sebelum akhirnya mengangguk "A-Aku kuat kok hehehe."
"Ayo kita pulang. Kamu duduk di belakang dan kakak akan memboncengmu."
"Yah tapi-"
"Besok kita akan belajar naik sepeda lagi kok."
Dengan riang, anak itu segera naik ke tempat duduk bagian belakang sepeda itu sembari memeluk kakak nya dan berteriak 'Kak kita beli eskrim dulu ya.' dan dibalas dengan anggukan Sang Kakak.
"Mereka terlihat akrab ya hehehe."
Halilintar melirik sekilas kearah Taufan sambil melanjutkan kembali langkah yang tertunda. Tentu nya Taufan juga melakukan hal yang sama. Mata kemerahan itu terpejam untuk sesaat, menikmati semilir angin yang mulai datang itu.
BRUUK
Dua anak lelaki itu terjatuh dengan sepeda yang menimpa mereka, atau tepatnya menindih kaki salah seorang dari mereka, setidaknya itu yang ada dalam memori Halilintar saat ini. Dimana ia sedang mengajari Taufan naik sepeda, namun sepeda itu oleng ketika roda itu menabrak batu yang lumayan besar ukuran nya.
Tak mau adik nya sampai terluka, Halilintar yang berada di samping dengan sigap menangkap tubuh sang adik- membiarkan tubuh nya yang mendarat ke permukaan tanah yang kasar sedangkan Taufan terlindung dalam dekapan nya. Namun pada saat itu, Halilintar merasa tubuh adik nya gemetar.
"Hiks..."
Halilintar tersenyum tipis "Sudah jangan menangis ya." Ia dapat merasakan anggukan Taufan.
Taufan pun mulai melepaskan diri dari pelukan Halilintar dan berdiri. Mata biru itu membulat ketika kaki kanan Sang Kakak tertindih badan sepeda. Dengan cepat, Taufan segera mendirikan sepeda tersebut dan akhirnya berhasil. Lalu...
"Hiks... HUWEEEEEE!"
Halilintar yang sekarang dalam posisi duduk hanya memandang bingung adik nya yang tiba-tiba saja menangis.
"Ta-Taufan kenapa? Apa ada yang sakit?"
Anak kecil itu menggeleng pelan "Gara-gara aku kaki Kak Halilintar berdarah, hiks."
Mata kemerahan itu hanya menatap kaki kanan yang menjadi penyebab adik nya menangis. Memang agak perih, tetapi itu hanya goresan sedikit saja, tidak ada memar.
"Kakak tidak apa-apa kok, lihat kakak bisa berdiri hehehe." Ujar Halilintar yang kini telah berdiri tegak dengan cengiran yang ia pasang.
"Ta-Tapi-"
"Justru kalau Taufan yang terluka, kakak akan sangat sedih. Karena sebagai seorang kakak, aku pasti akan melindungimu, Api serta Air. Ingat itu ya."
Dan setelah berkata seperti itu, yang ia dapatkan sebuah senyuman yang begitu ceria dari Taufan. Mata biru itu begitu bersinar dan ia memeluk nya.
Mulai detik itu Halilintar berjanji akan menjaga senyuman itu, bukan hanya berlaku untuk Taufan tetapi dua adik lainnya yang masih kecil itu.
Tetapi...
"Ada apa, Kak Hali?"
Dengan cepat Taufan melayangkan pertanyaan, begitu langkah Halilintar berhenti dan merasakan keanehan pada diri kakak nya.
Kepala yang tertunduk itu malah membuat Taufan semakin khawatir. Apakah Halilintar terlibat kasus lagi di sekolah? Apakah Ejojo mengganggu kakak nya lagi- mengingat Ejojo hanya diberi skors seminggu setelah apa yang diperbuat pada nya.
Sebelum sempat bertanya kembali, sebuah tangan menarik lengan nya- membawa diri nya tenggelam dalam pelukan yang begitu hangat.
"Maaf..."
Tak berniat untuk melepaskan pelukan, melainkan ia malah membalas pelukan tersebut saat merasakan bahu Halilintar bergetar.
"A-aku mengingkari janji, tak mampu menjaga kalian dengan baik. Membiarkan kalian selalu menangis. Maaf... aku- ugh... memang kakak yang gagal."
Helaan napas terdengar, Taufan bisa merasa bagian pundak seragam nya mulai basah. Satu tangan ia letakkan di kepala Halilintar, mengusap helaian rambut hitam legam itu.
"Kak Hali memang kakak yang payah~" Ejek nya.
Hal itu sama sekali tak mendapat respon amukan dari Halilintar. Kakak nya itu masih terdiam dan merutuki penyesalan serta kegagalan nya. Taufan mendesah pasrah, ia benar-benar bingung harus mengucapkan apa agar Halilintar benar-benar percaya pada ucapan nya. Percaya bahwa kakak nya itu bukan seorang yang gagal, melainkan seorang kakak yang sangat berharga bagi Taufan. Tunggu-
"Beritahu aku… hal yang tidak bisa di ukur dari mahal atau tidaknya, tetapi hal tersebut sangatlah berharga. Jika kau benar-benar memahaminya."
Taufan mendengus kasar, sebelum akhirnya...
"Seorang kakak yang selalu melindungi adik-adik nya. Kau ingat saat komplotan Ejojo menahanku, dan karena itu kau membiarkan dirimu terluka hanya karena tidak ingin mereka melukaiku? Aku tidak habis pikir mempunyai kakak yang idiot seperti itu, merelakan apapun demi adik nya. Bagaimana jika saat itu Kak Hali terbunuh? Aku bahkan tak dapat membayangkan hal itu..."
Sekarang giliran Halilintar yang merasakan tubuh adik nya bergetar disertai isakan yang begitu memilukan bagi Halilintar.
"... Bagiku Kak Halilintar adalah orang yang berharga. Sepayah apapun Kak Halilintar, itu tidak mengubah fakta kalau Kak Hali adalah kakak ku yang tersayang. Dan bukankah kau sudah bilang- semua akan baik-baik saja, hm?"
Halilintar melonggarkan pelukan nya- merenggangkan jarak diantara mereka berdua. Iris kemerahan itu tanpa ragu menatap lurus kedua mata Taufan. Sedetik kemudian...
"Bodoh. Kau mengatakan hal yang memalukan!" Ujar Halilintar dengan judes nya dan tanpa merasa bersalah kembali melangkah meninggalkan Taufan.
Seketika Taufan merasa ingin membenturkan kepala pada tiang listrik terdekat. Ia lupa bahwa kakak nya yang satu itu memang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan berlebihan- atau lebih tepat nya seperti seorang pemalu yang tertutupi sifat dingin. Yeah... macam tsundere.
.
.
.
"Kami pulang!"
Halilintar mendengus- tidak dapat ia pungkiri senyuman kecil terhias di bibirnya ketika mendengar nada bicara Taufan yang mendadak ceria. Ia merasa... lubuk hati begitu damai penuh kelegaan. Sudah lama ia tak pernah merasa seperti ini.
Taufan yang sudah membuka pintu, kini mulai masuk ke dalam diikuti oleh Halilintar. Entah kenapa terdengar suara berisik sekali dari ruang tengah.
"Ibu ku cerewet sekali apalagi ayahku, selalu menyuruhku untuk belajar dan belajar, huh."
"Itu karena kau kerjaannya main game terus Gopal."
"Main game juga belajar lah Yaya~"
"Haiya, itu cuma alasan kau saja mah."
Setelah itu terdengar suara tawa yang Taufan yakin itu adalah suara Gempa. Mungkin teman-teman Gempa sedang bermain sebentar disini atau belajar kelompok- pikir Taufan.
"Kalau menurut Gempa, bagaimana?"
"Heh? Apanya?"
"Rasanya punya kakak itu bagaimana sih Gempa, aku penasaran! Menurutmu kakak-kakakmu seperti apa?"
Taufan tidak berniat untuk melanjutkan langkah nya- memilih diam dan mendengarkan begitu pun dengan Halilintar. Sampai pada akhirnya, mereka mendengar suara derap kaki.
"Kak Api mau kemana lagi?!"
"Bukan urusanmu!"
"Ta-tapi kakak baru saja mendapat banyak luka. Jadi kakak gak boleh keluyuran dulu."
Halilintar dan Taufan saling berpandangan saat mendengar kata 'banyak luka' dari mulut Gempa. Namun belum sempat melangkah kembali mereka mendengar-
BRAAK
- sesuatu yang menabrak sebuah lemari? Dengan sigap, Taufan dan Halilintar mendatangi ruang tengah dan begitu terkejut mendapati Gempa yang ambruk di dekat laci dengan tatapan menahan rasa sakit. Seperti nya Api mendorong kasar Gempa hingga tubuh Gempa menabrak sebuah lemari kecil.
"MEMANGNYA KAU SIAPA KU! ADIKKU SAJA BUKAN!"
"A-API!" Teriak Taufan untuk menghentikan teriakan Api.
Kini Api memang terdiam, namun remaja itu sekarang malah berjalan kearah Gempa dengan kedua tangan yang menarik kerah seragam sekolah yang dikenakan Gempa.
"Kau itu bukan siapa-siapa melainkan anak dari seorang wanita murahan yang tega meninggalkan kami selamanya setelah membuat janji manis bahwa tidak akan meninggalkan kami. Kau tahu, aku membencimu!" Desis nya sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu.
"Gempa kau tidak apa-apa?"
Taufan segera menghampiri Gempa yang masih tergeletak lemas di lantai itu. Berbeda dengan Halilintar yang keluar rumah mengejar Api dengan perasaan khawatir. Sebab ia memang sempat melihat beberapa luka lebam di sekujur tubuh Api. Apakah adik nya itu habis berkelahi?
"Maaf teman-teman, jadi melihat hal yang tidak seharusnya yang kalian lihat. Mungkin kalian tertarik untuk mengakhiri kelompok belajar hari ini? Hari sudah semakin sore, tentu nya orangtua kalian akan khawatir terlebih kalian belum izin. Benar kan?"
Gempa yang tengah berdiri itu mulai bersuara, begitu tenang dengan senyuman tipis di akhir kalimat perkataan nya. Ketiga teman nya- Ying, Yaya serta Gopal tahu akan situasi saat ini pun saling memberi isyarat dalam mata.
"I-Iya, kalau begitu kita sudahi saja hari ini." Yaya yang pertama kali berbicara.
Ketiga nya pun segera membereskan buku-buku milik mereka ke dalam tas.
"Kita pulang dulu ya Gempa!"
Tak mau berbasa-basi lebih lanjut, ketiga teman nya itu keluar dari rumah Gempa dan pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan kalut.
"Aku tak tahu ia pergi kemana, lari nya cepat sekali huh."
Halilintar pun datang kembali ke ruangan itu, setelah tadi berupaya mengejar Api namun sayang nya ia kehilangan jejak. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah saja.
Sementara Taufan masih menatap punggung adik tiri nya yang membelakangi diri nya. Ia tidak tahu seperti apa raut Gempa sekarang. Meskipun ia bukan adik kandung Taufan, tetapi... bagaimana pun juga Taufan telah menerima keberadaan nya sebagai seorang adik nya.
"Ge-Gempa..."
TBC
A/N : Saya merasa sangat tersanjung karena banyak yang menunggu kelanjutan cerita ini bahkan ada yang sampai review beberapa kali. Terima kasih semua!
Saya tidak bisa menjanjikan hal seperti update cepat, tetapi saya hanya mengungkap fakta bahwa cerita ini akan terus berlanjut hingga tamat.
Terima kasih atas apresiasi kalian yang sudah membaca! See you next chapter!
