Change : After the arrival of my brother

.

.

"Lambat sekali, seperti siput. Heh."

Langkah Tanah terhenti tepat di depan gerbang sekolah. Salah satu tangan nya ia gunakan untuk membenarkan sedikit posisi kacamata yang di kenakan. Sudut bibir nya tertarik.

"Hee... Tidakkah kau takut ketahuan..."

Chapter 12

Tap Tap Tap

Dua anak muda tersebut kini melangkah berdampingan. Tanah masih memakai seragam sekolah lengkap serta tangan yang setia di dalam saku celana.

Ia melirik ke sebelah nya.

"Tidak biasanya kau mendatangiku seperti ini, Gempa?"

Anak yang bernama Gempa itu mendengus. Seolah seperti ada yang lucu dari perkataan nya.

"Tidak bolehkah?"

"Aku ada janji dengan seseorang masalah nya..."

"Klien mu? Tidak masalah kan aku ikut?"

Tanah melepas kacamata yang ia pakai. Kini iris kecoklatan nya terlihat jelas.

"Terserah kau saja, bocah keras kepala."

"Kau mengenalku dengan sangat baik heh."

Tanah memejamkan mata nya dengan bibir yang tersenyum tipis. Hanya beberapa saat sebelum kembali normal.

"Tapi bisa-bisa kakakmu mencurigai ku karena bisa mengenal adik nya yang satu ini- yang bahkan mereka tidak mengenal sangat baik adik mereka." Ucap nya lagi.

Gempa memilih untuk diam. Pandangan yang ada di depan seakan begitu menarik. Ditambah lagi angin yang berhembus pelan- namun cukup menyegarkan suasana. Matahari pun tidak terlalu terik, sebab hari sudah sore.

.

.

.

Ting Tong

Pintu terbuka setelah bel berbunyi dua kali. Taufan yang masih memakai seragam sekolah- dengan kancing atas yang terbuka serta dasi yang tidak ada di sekitar leher menandakan ia baru saja tiba di rumah- dan kini ia bingung dengan kedatangan teman-teman Gempa yang kemarin datang.

"Ah ka-kalian, silahkan masuk. Gempa mungkin sedang perjalanan pulang, sebentar lagi juga datang."

Gopal, Yaya dan Ying saling memandang dalam diam. Sekilas rasa takut hinggap di wajah mereka, namun mereka memilih untuk masuk dahulu.

"Duduk saja di sofa. Ku ambilkan beberapa cemilan dan minuman dulu ya."

Ketiga nya mengangguk "Ma-maaf merepotkaaan." Sahut mereka serempak.

Taufan menyunggingkan senyum, sebelum benar-benar melesat ke ruang dapur. Membuka kulkas dan mengambil kue tart- buatan Ibu Hana dan membelah nya jadi beberapa potongan. Diletakkan nya potongan kue-kue itu di piring lalu mulai mengambil tiga gelas untuk diisi air putih.

Dengan sebuah nampan, ia membawa itu semua ke ruang tamu dimana ketiga teman Gempa berada.

"Maaf ya, aku cuma menyajikan seperti ini." Ucap nya dengan cengiran.

"Wuiih enak banget kue nya~"

"Gopaaaal!"

Yaya menjitak kepala Gopal. Lalu tersenyum canggung pada Taufan. Sementara Taufan hanya tertawa dengan tingkah mereka.

"Kau ini tahu makan saja mah." Omel Ying.

Gopal melanjutkan makan nya yang tertunda karena jitakkan Yaya tadi. "Habis ku lapar, lagipula Kakak nya Gempa sudah menghidangkan, sayang kalau tak di makan."

"Hah... Maafkan teman kami Kak." Ucap Yaya frustasi.

Taufan masih tertawa "Hahaha tidak apa-apa kok. Jangan sungkan dan panggil saja aku Kak Taufan."

"Baiklah, kalau begitu Kak Taufan." Ucap Yaya.

Taufan melirik jam dinding. Jarum jam panjang menunjukkan angka 12 sementara yang pendek angka 4. Sudah pukul 16.00.

"Kemana si Gempa itu ya, biasanya sudah pulang jam segini." Gumam nya.

"K-Kak Taufan sebenarnya kedatangan kami kesini untuk-"

.

.

"Cukup mewah..."

Gempa dan Tanah kini berdiri di depan gerbang sebuah rumah yang mewah. Iris emas itu melirik ke samping- dimana Tanah terlihat tengah menekan sebuah tombol merah dari benda berbentuk kotak disana.

'Beritahu namamu dan tujuanmu ke tempat ini?'

"Ini aku... Tanah."

'Ah Tuan Tanah. Silahkan masuk, Tuan Cielo menunggu anda.'

Pintu gerbang pun terbuka otomatis. Menampakkan sebuah pemandangan yang luar biasa. Kolam air mancur berada di tengah, sementara sisi kanan-kiri adalah taman yang ditumbuhi bermacam bunga serta pepohonan. Rumah seperti istana, heh.

"Kau tidak terlalu terkejut. Seperti nya sudah terbiasa menghuni rumah mewah dan penginapan kelas atas, heh." Ujar Tanah seperti mengejek.

Gempa mendengus "Hmph, bodooh."

Tanah kembali tertawa, tetapi tidak merespon apapun perkataan dari Gempa yang terakhir. Mereka terus berjalan sampai bertemu di pintu masuk- disana terdapat dua orang penjaga yang segera membukakan pintu bagi mereka.

"Yo, Tanah. Kau mau makan apa? Biar ku hidangkan untukmu, kau pasti lelah. Eh.. Siapa yang bersama mu ini?"

Gempa hanya mengamati sosok pria berambut pirang dengan mata kecoklatan yang tengah berbincang dengan Tanah.

Sesekali ia mengamati sekitar ruangan tersebut.

Dinding rumah ini semua bernuansa krem- kecoklatan. Termasuk ruang tamu tempat ia berpijak sekarang. Hanya ada dua sofa panjang serta dua yang pendek mengitari sebuah meja di tengah. Di bagian timur terdapat sebuah meja yang ditempati sebuah televisi yang tak menyala. Lalu bagian selatan dan utara hanya ada sebuah laci panjang dan diatasnya berdiri beberapa boneka, action figure serta hiasan lainnya. Terlihat ramai namun tak berantakkan. Malah terlihat penuh nostalgia dengan adanya bingkai-bingkai foto yang berjejeran disana.

Hal yang menarik perhatian Gempa adalah foto dalam bingkai-bingkai itu. Dimana ada seorang pria dan wanita dewasa- seperti nya suami istri- berambut hitam dan coklat sedang tersenyum. Di kedua sisi, ada dua orang anak- yang satu lebih pendek, masing-masing dari mereka memeluk salah seorang dari sepasang suami tersebut. Lalu...

"Dimana Terra, Paman Cielo?"

Gempa tidak mendengar jelas apa yang Tanah bicarakan dengan pria itu. Hanya kata 'Terra' yang sempat didengar olehnya.

"Gempa... Kau duduk saja disini, nanti ku kembali. Ingat, jangan nakal ya." Canda Tanah pada kalimat terakhir.

Gempa menggembungkan pipi nya kesal. Selalu saja Tanah memperlakukan nya seperti anak kecil. Walaupun ia sadar diri bahwa usia nya masih 12 tahun. Tidak seperti Tanah yang sudah 16 tahun.

Tanah sudah tak ada di ruang itu. Ia telah pergi bersama pria yang Gempa tahu bernama Cielo. Memutuskan untuk mengamati benda-benda di sekitar sebagai pelampiasan kekesalan.

Tangan nya meraih sebuah bingkai dimana foto tersebut terdapat seorang remaja lelaki berambut hitam serta bocah laki-laki dengan warna rambut serupa. Bocah tersebut tengah digendong lelaki itu dengan tangan memegang medali. Mereka tampak bahagia sekali.

Dan ketika membalikkan bingkai tersebut, ia mendapati sebuah tulisan... Terra dan Kak Lucio.

Ia mengernyitkan alis, hanya sesaat sebelum ekspresi tak acuh nya kembali. Ia meletakkan foto tersebut, namun sayang... tangan nya tak sengaja menyenggol bingkai yang lain hingga-

PRAANG

- bingkai tersebut jatuh dan pecah.

.

.

"PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI! PERGI!"

Selimut yang terjatuh ke lantai, vas bunga yang pecah serta benda-benda lain bertebaran di lantai dengan tidak indah. Belum lagi tumpahan beberapa butir nasi serta isi dari sup menjadi pelengkap untuk mendeskripsikan ruangan ini seperti habis dilanda badai besar.

Tanah yang memegangi kedua tangan anak bernama Terra itu mulai menghela napas. Lega, karena anak itu tidak memberontak lagi melainkan tertidur pulas setelah Cielo memaksakan menelan obat tidur ke anak itu.

Disinilah mereka, bersama dengan dua orang pembantu wanita membereskan kekacauan di ruangan itu.

"Seperti nya kau harus tetap menggantikan Tuan Terra bersekolah, Tanah." Ucap Cielo dengan raut sedih.

"Tidak masalah. Lagipula namanya memiliki arti yang sama dengan ku, yaitu tanah. Maaf saja aku menggunakan nama Tanah saat di sekolah, rasanya aneh kalau mereka memanggilku Terra."

"Hal itu tidak terlalu dipermasalahkan. Mengingat Tuan Terra memang selalu dipanggil dengan nama Tanah disini." Ujar Cielo lagi dengan tangan yang sibuk meletakkan barang-barang ke tempat asal.

"Tetapi kondisi nya terlihat..."

Tanah tidak melanjutkan kembali perkataan nya. Ia hanya mengamati seorang anak lelaki yang terbaring di kasur. Rambut hitam legam seperti milik nya. Iris coklat muda tersembunyi di balik kelopak mata yang sembab itu. Kulit putih nya begitu pucat, belum lagi rambut yang tak tertata rapi. Tubuh nya juga begitu kurus. Seperti mayat hidup. Padahal anak itu sama dengan Gempa dalam hal usia.

"Mendatangi psikiater pun belum membuahkan hasil." Ujar Celio pasrah.

Tanah membersihkan tangan nya dengan saling menepuk tangan secara bergantian setelah acara beres-beres tersebut usai.

"Lalu sekarang apa?"

"Berharap keajaiban, meski konyol kedengaran nya." Ujar Celio dengan segaris senyum.

Tanah juga ikut melakukan nya. Kedua orang itu masih menatap Terra yang tertidur.

"Jadi... Kesimpulan hari ini, aku masih harus menyamar?" Tanya Tanah dalam keheningan.

"Maaf merepotkanmu, jawaban nya iya."

"Tak masalah sih..." Tanah mengendikkan bahu. "... Lagipula penyamaran ini cukup membantu ku untuk menangani hal lain." Sambung nya.

"Hal lain?"

"Ah matahari hampir terbenam, seperti nya harus cepat pulang sebelum mendapat masalah hahaha." Tawa Tanah agak garing.

Mereka memutuskan keluar kamar, membiarkan Terra beristirahat. Sesampainya di ruang tamu, Tanah mendapati Gempa yang sibuk membaca sebuah novel.

"Oi oi kau tidak mau pulang?"

Gempa menutup buku yang ia baca, melayangkan tatapan jengkel sekaligus bosan bersamaan. Tanah hanya tertawa, ia segera pamit pada Celio dan menarik Gempa keluar dari rumah itu.

"Seharusnya kau jangan ikut denganku. Lihat... Sudah jam 6 sore. Kakak-kakak mu pasti mengkhawatirkanmu." Omel Tanah.

"Bukannya kau yang mengizinkan?"

"Itu karena sifat keras kepala mu yang tinggi. Percuma saja menolakmu." Gerutu Tanah.

Gempa menguap, sedikit mengucek mata kanan nya yang sedikit berair. Hembusan angin sore mulai menggoyangkan rambut hitam nya yang sudah tak terlindungi topi. Mata emas itu hanya menatapi tanah tempatnya melangkah dalam diam.

"Kau masih tetap menyamar sebagai si Terra itu?"

Tanah melirik. "Begitulah. Tak masalah bagiku, lagipula itu membantuku untuk mengawasi dan membantu mu merubah sifat kakak-kakakmu di sekolah itu."

"Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu?"

"Tidak biasanya kau memperdulikan orang yang tak kau kenal, heh." Timpal Tanah setengah mengejek.

Gempa tidak membalas balik perkataan Tanah. Dan Tanah tahu, Gempa sedang tidak dalam mode ingin bercanda.

"Tiga tahun yang lalu, Lucio- kakak nya Terra meninggal sehabis usai kompetisi pacuan kuda. Seekor kuda disana terlepas dari kandang dan mengamuk. Dan kuda itu hampir saja menyerbu Terra kalau saja Lucio tidak cepat-cepat di dorong menjauh. Namun naas, Lucio..."

"Ia yang terkena serangan kuda yang mengamuk tersebut?"

Tanah mengangguk. "Ia terpelanting beberapa kali, lalu tubuhnya menghantam pagar besi yang berada disana. Para petugas berusaha menjinakkan kuda tersebut, meski berhasil namun sayang ada nyawa yang tak terselamatkan. Semenjak itu Terra jadi depresi dan... berlanjut seperti itu kondisi nya, hingga detik ini."

Seusai penjelasan tersebut, tak ada satu komentar terlontar dari mulut Gempa. Tanah juga tidak terlalu memikirkan hal itu, hanya fokus berjalan saja.

Langit perlahan berganti warna. Dari jingga menjadi biru tua-keunguan. Meski begitu, satu per satu bintang bermunculan. Menampakkan sinar indah nya.

Mereka kini mulai melalui sebuah gang yang tak terlalu lebar. Saking hening nya hanya suara tapak kaki mereka yang terdengar. Gang tersebut memang sepi, namun hanya ini satu-satu nya jalan untuk sampai ke rumah. Ada satu jalan lagi, tetapi harus putar balik dahulu dan itu memakan waktu yang lama.

Sayup-sayup terdengar beberapa suara. Dalam diam mereka saling melempar isyarat, rasa penasaran menarik mereka menuju sumber suara tersebut.

"Seperti nya kau memilih untuk mengakhiri nyawamu di tangan kami ketimbang melukai kakakmu. Sungguh adik yang baik sekali." Seru seseorang dengan nada mengejek.

Gempa mengintip sedikit dari sudut tembok. Ada tiga- ah empat sosok disana. Salah satu nya sedang dikeroyok oleh ketiga orang itu. Iris emas itu perlahan melebar, pandangan nya mulai melihat jelas wajah orang-orang itu.

"Ge-Gempa, itu kan-"

Gempa meneguk ludah. "Ka-Kak Api?!".

.

.

See you next chapter 13!

A/N : Di Chapter ini jelas bukan siapa itu Tanah. Tanah adalah Tanah- dimana ia bersekolah di tempat tersebut karena pekerjaan jasa nya- dimana ia harus menyamar sebagai Terra untuk menggantikkan anak tsb bersekolah. Disisi lain Tanah juga membantu Gempa dalam usaha mengembalikkan sifat kakak-kakak Gempa.

Penjelasan kenapa Gempa membolos dan mengapa Api mendapat luka-luka di chapter kemarin akan di jelaskan pada Chapter Chapter berikutnya.

Tetap menikmati cerita ini ya!