Blood Vows
A Jeongcheol fanfic by titans_generation
Jeonghan, Seungcheol, Joshua (read: not Jihancheol)
Characters belong to themselves
Yaoi/BoyxBoy
Trigger Warning
Please enjoy ^^
2. Vows
Sayup-sayup kudengar suara orang berbincang-bincang dan denting alat makan beradu. Harum sup rumput laut memenuhi indera penciumanku yang bercampur dengan wangi pelembut pakaian. Mataku masih terasa berat untuk dibuka dan tempatku berbaring ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Sejenak aku berpikir, beginikah suasana surga?
Sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuh kepalaku dan ibu jarinya mengusap keningku. Sentuhannya sangat lembut hingga aku enggan untuk bangun. Sampai kudengar suara yang familiar memanggil namaku.
"Jeonghan."
Perlahan kubuka kelopak mataku. Untuk beberapa saat langit-langit di atasku berputar sampai semua terlihat jelas. Seraut wajah tengah memandangiku dengan matanya yang teduh. Ibu jarinya yang hangat masih berada dikeningku namun gerakkannya terhenti. Sedetik dua ku teliti wajahnya, mencoba mengingat-ingat. Rambut coklat gelap dan sepasang mata yang melengkung indah. Sontak aku bangkit dari posisiku yang awalnya berbaring. "Joshua."
Joshua tersenyum, kemudian menyelipkan helai rambut yang jatuh di depan wajahku ke belakang telinga. Ia menyapaku seperti beberapa minggu yang lalu, dengan senyuman manisnya yang membutakan. Hatiku mencelos melihat perlakuannya padaku yang hampir mengembangkan harapan bodoh itu lagi.
"Seokmin sudah menyiapkan sarapan. Aku akan menunggumu di meja makan," ujarnya. Ia beranjak tanpa mengatakan apapun atau menanyakan keadaanku. Punggungnya menjauh meninggalkan aku yang masih tertegun.
Semua terlihat biasa seolah kejadian malam itu tidak terjadi, dan aku hanya sedang menginap di apartemen Joshua. Padahal masih jelas dalam ingatanku. Semalam seorang asing memperkenalkan diri, aku bicara perihal mimpiku padanya, tangan dan leherku digigit, darahku dihisap dan Joshua berlari di kejauhan.
Oh, dan orang asing itu berjanji akan menghilangkan bebanku.
Mungkin itu hanya mimpi, pikirku. Semua terlihat begitu normal ketika aku meninggalkan tempat tidur. Apartemen Joshua yang tidak begitu besar, riuh pikuk kesibukan kota yang diredam dinding bangunan, suara tawa renyah dari Seokmin dan Joshua dari dapur dan bercak darah yang samar di lantai dekat pintu kamar Seokmin yang tertutup. Kulirik sekali lagi ke arah Seokmin dan Joshua yang masih menertawakan lelucon konyol mereka.
'Tidak ada yang aneh' begitu mungkin reaksi yang diinginkan Joshua dan Seokmin dariku. Ya, tentu saja, memang tidak ada yang ganjil sama sekali di pagi yang cerah ini. Jika saja Seokmin tidak lupa untuk mengelap lantai dan pintu kamarnya yang kotor itu. Dengan begitu aku tidak akan mempertanyakan apa yang terjadi di balik pintu kayu itu.
Apakah ada hubungannya dengan perilaku Joshua yang terlampau biasa? Bahkan dia tidak semanis itu seminggu setelah aku memberanikan diri menyatakan cinta padanya. Ada sensasi aneh yang seperti sedang merayap dari leher ke ujung jari-jari kakiku. Jika semalam bukanlah mimpi, lantas kemana laki-laki haus darah itu? Ratusan pertanyaan berkelebat di pikiranku yang kini sulit beralih dari bercak darah itu.
Aku putuskan untuk bergabung dengan mereka, menyendok sup rumput laut yang ditawarkan Seokmin sambil menoleh ke pintu kamarnya lagi. Kutunggu salah satu dari mereka menghentikan akting bodoh ini dan menjelaskan kenapa aku berada di apartemen Joshua dan Seokmin. Sesekali ku tangkap mata Joshua memerhatikanku, tidak, tepatnya sesuatu di bawah wajahku. Ada apa? Ingin rasanya aku menyentuh leherku, mencari apa yang salah sampai-sampai Joshua memandanginya seperti itu.
Pertanyaan itu terjawab ketika Seokmin meminta izin untuk ke kamar mandi dan kembali dengan kotak P3K. Ia berdiri dibelakangku dan melepas perban yang entah kapan ada dileherku. "Apa terasa sakit?" tanyanya padaku sambil menekan-nekan satu titik dileherku sebelum melilitnya dengan perban. Benar saja, ada luka di leherku.
Aku menggeleng, "Tidak sama sekali."
Kulemparkan pandangan penuh tanya ke arah Joshua, meminta penjelasan darinya seolah kami bisa bertelepati. Tapi dia bergeming, masih berkutat pada bekal makan siangnya dan Seokmin.
Siang itu mereka meninggalkanku sendirian di apartemen untuk bekerja. Mereka bersikeras aku harus tetap tinggal sampai lukaku benar-benar sembuh. Tapi tak satupun dari mereka yang menjelaskan luka apa dan kenapa yang ada di leherku. Aku memicingkan mata ke arah mereka sesaat sebelum mereka pamit di ambang pintu. Tetap tanpa jawaban yang aku harapkan, mereka berlalu begitu saja.
Aku tidak bodoh. Tentu saja aku tahu luka apa yang ada dileherku sekarang, batinku sambil mematut di depan cermin. Sambil menyisir helai rambut yang sudah sedikit melewati bahu, mataku memandang kosong dua lubang kecil di antara bahu dan leherku. Luka itu membiru dan tak lagi mengeluarkan darah. Tak ada rasa sakit atau ngilu seolah-olah luka itu memang tidak ada.
Andai semalam sedikit lebih lama lagi, aku tak harus bertemu Joshua lagi dan melanjutkan hidupku yang sia-sia ini.
Kemudian aku teringat bercak darah di lantai dekat pintu kamar Seokmin, yang juga aku dapati di dekat pintu masuk apartemen. Pasti ada alasan mengapa aku tidur di kamar Joshua dan bukan di kamar Seokmin, dimana biasanya aku akan tidur ketika menginap. Ada alasan mengapa pintunya yang selalu terbuka tiba-tiba ditutup rapat. Ada alasan mengapa mereka berusaha terlihat biasa dan menjauhi pembicaraan tentang lukaku dan kejadian semalam.
Kubuang sisir di tanganku ke sembarang tempat. Tergopoh-gopoh aku berlari keluar kamar mandi menuju kamar Seokmin. Dan benar saja, memang ada bercak darah di sana. Penasaran, kucoba mengintip lewat lubang kunci
Aku terperanjat. Darahku seolah membeku dan tubuhku jatuh berdebam di lantai. Perlahan ku atur napasku yang terengah-engah sambil mengedarkan pandangan was-was ke penjuru apartemen. Tidak ada seorang pun disini selain aku. Tidak ada yang akan melindungiku. Tidak ada yang akan mendengar jeritanku. Tidak akan ada yang menyaksikan hidupku berakhir. Sesaat kemudian aku tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu dari pemandangan di balik pintu itu sampai-sampai rahangku sakit menertawakannya.
Sambil memegangi perutku yang sakit aku beranjak dari lantai menuju kamar Joshua, mencuri sebuah kunci pintu. Kunci itu milik kamar Seokmin, aku sudah hapal dengan apartemen ini, termasuk dimana mereka menyembunyikan kunci cadangan. Sambil berjalan aku menertawakan kebodohan mereka berdua dan mengacungkan jari tengah ke arah satu-satunya foto mereka berdua.
Dengan cepat dan kasar kutendang pintu kamar itu. Di sana sosoknya terduduk lemas di lantai, lehernya dikekang. Benar-benar rendah dan tak berdaya penampilannya saat ini. Sebilah kayu yang ujungnya runcing menembus dada kirinya, tidak tepat di jantung tapi tetap terlihat menyakitkan. Aku mengeryit melihat darah yang mengering di bajunya dan di lantai.
Apa dia benar-benar orang asing yang menggodaku semalam? Choi Seungcheol?
Dia mendongak ke arahku. Senyum tipis tergambar di wajahnya yang lusuh. "Hei, beruntung sekali aku masih bisa melihatmu bernapas pagi ini," dia memulai omong kosongnya lagi. Dengan keadaan mengenaskan ia masih bisa melucu."Temanmu galak-galak ya? Dia tidak segan menusukku dari belakang begitu saja seperti aku ini babi buruannya. Dia pikir tidak sakit apa?" ia mendengus kesal.
"Tunggu, jangan-jangan kamu yang akan menghakimiku hari ini? Astaga, aku tak akan menyesal mati ditangan seorang yang indah sepertimu, Jeonghan," dia tersenyum arogan ketika menyebut namaku, mungkin mendengar dari Joshua dan Seokmin.
"Bodoh," sindirku.
"Haha, aku akan mati hari ini. Setidaknya aku bisa bersenang-senang sedikit," kata-katanya itu membuatku geram entah kenapa.
"Kamu tidak boleh mati hari ini," ucapanku yang tanpa ekspresi itu menarik perhatiannya. Matanya terlihat berbinar bahagia.
"Kenapa?" ada harapan dalam pertanyaan itu. Kedua matanya membola seperti anak kecil yang dijanjikan permen. Tak kusangka dia begitu naif.
"Kamu tidak boleh mati sebelum kamu membunuhku," jawabku singkat. Ku buka rantai yang melilit lehernya, ada bekas terbakar di sana, mungkin karena air suci yang membasahi rantai itu.
Sepasang mata gelapnya memandangiku dari samping. Air mukanya datar dan sulit dibaca. "Kenapa ingin sekali mati- Urgh!" kalimatnya terpotong ketika aku mencabut paksa kayu yang menusuknya.
"Kamu sudah berjanji tadi malam, akan mengangkat bebanku perlahan tanpa rasa sakit," Seungcheol mengangkat salah satu sudut bibirnya, mungkin geli sendiri mengingat kata-katanya semalam sementara aku sibuk dengan kancing kemejaku.
"Aku sudah muak dengan rasa sakit, sudah cukup luka yang aku derita. Aku hanya ingin mati dengan tenang dan hanya orang-orang sepertimu yang bisa melakukan itu dengan tanpa rasa sakit," ku turunkan kerah kemejaku yang kancingnya sudah terbuka semua sampai ke lengan, mempertontonkan kulit leher dan bahuku pada Seungcheol. "Sekarang tepati janjimu."
Sekilas tampak Seungcheol menelan ludahnya sendiri. Matanya lekat memandang leherku dengan lapar. Dia terlihat sedang menimbang-nimbang. Tapi tubuhnya perlahan mendekat juga. Tangannya menarik tengkuk dan pinggangku ke arahnya dan kepalanya sudah berada di leherku.
"Dengan senang hati," bisiknya rendah, membuat seluruh tubuhku merinding karena deru nafasnya yang menghantam kulit. Tangan Seungcheol bermain di ujung kerahku yang jatuh sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuhku. "Siapa yang sanggup menolak tawaran darahmu, Jeonghan? Bahkan baunya saja sudah sangat menggiurkan dibawah kulitmu ini."
"Aku belum mandi, bodoh."
Seungcheol tertawa kecil. Ia mengangkat wajahnya dan berhadapan denganku, sangat dekat sampai ujung hidungnya menyentuh hidungku. Sekali lagi kedua mata gelapnya menenggelamkan jiwaku. Samar bau darah menguar dari tubuhnya. Dalam posisi yang sama disituasi yang berbeda, mungkin wajah Seungcheol sudah biru disana sini. Ini pelecehan seksual namanya, ketika tangan Seungcheol dengan lancangnya meraba pangkal pahaku.
"Tentu saja aku akan membunuhmu," ucapnya enteng. "Tapi tidak secepat itu. Jarang sekali aku mendapat darah senikmat milikmu, sayang kalau cepat-cepat dihabiskan. Akan kuhabisi nyawamu, tapi setelah aku menemukan penggantimu. Selama itu aku akan datang setiap beberapa malam untuk meminta sedikit darahmu."
"Kamu tahu betapa konyolnya tawaranmu itu? Kalau kamu tidak sanggup, aku akan cari yang lain. Joshua sepertinya punya banyak 'kenalan' sejenismu."
"Kamu perlu tahu satu hal, Jeonghan. Jarang sekali ada jenisku yang mau berlama-lama memanjakan makan malamnya. Terlebih yang begitu menggoda dan punya paket lengkap sepertimu."
"Lalu? Bukankah itu lebih baik? Aku bisa cepat-cepat mati."
"Kamu bilang kamu tidak ingin kematian yang menyakitkan. Darahmu dihisap dalam sekejap itu menurutmu tidak sakit? Rasanya bahkan lebih menyakitkan dari sekedar meminum racun atau memotong nadimu, Jeonghan." Mataku bergerak mencari sesuatu yang lebih menarik dari wajah Seungcheol. Berlama-lama memandanginya entah kenapa membuatku risih.
"Banyak yang tidak kau tahu tentang jenisku, Jeonghan. Aku benar-benar akan membunuhmu. Aku sudah janji kan? Percayalah aku tidak pernah ingkar janji." Selesai dia bernegosiasi, rasa sakit itu menghantam luka dileherku lagi. Awalnya sangat perih sampai air mataku ikut keluar. Tapi seperti semalam, tak lama rasa sakitnya hilang digantikan sesuatu yang sulit dijelaskan. Apa benar akan lebih sakit jika bukan Seungheol yang melakukan?
Seungcheol tidak berlama-lama meminum darahku. Cukup sampai luka di dadanya menutup. Lagi dia berbasa-basi dengan mengelap sisa darah di leherku dan mengancingkan kemejaku. Rambutku yang jatuh di depan wajahku diselipkannya ke belakang telinga. Dia melemparkan senyum, "Jangan pernah bahagia selama aku menghantuimu, Jeonghan. Jangan hilangkan dendam itu. Aku tidak ingin rasa darahmu berubah manis. Rawat kebencianmu."
Setelah itu Seungcheol bangkit dan melangkah menuju balkon. Tidak seperti yang aku bayangkan, dia tidak terbang atau berubah menjadi kelelawar, kulitnya juga tidak melepuh dan berubah menjadi abu. Punggungnya menjauh melompati benda-benda yang bisa dijadikan pijakan. Persis adegan film aksi.
Aku pun beranjak ke kamar Joshua dan menjatuhkan tubuhku ke lantai, mengatur skenario seolah Seungcheol lah yang menyerangku. Tinggal menunggu Joshua dan Seokmin datang.
Datangnya hari berhentinya jantung manusia berdetak selalu merupakan sesuatu yang tidak pasti. Untuk orang-orang yang merindukan kematian sepertiku, waktu benar-benar mengikat tangan dan kaki kami dan menariknya ke segala arah, tapi tangan dan kaki kami belum juga putus dari badan. Aku baru saja membuat janji dengan pembawa kematian itu. Janji yang aku ikat dengan darahku.
...Janji yang awalnya aku yakin akan Seungcheol tepati.
Tbc
Author's Note: akhirnya bisa update! Tiap mau upload pasti error terus! Btw, ada yang merasa ini sedikit mirip Bloody Mary nya Samamiya Akiza tapi kebalikannya?
Special thanks for dosen bahasa Inggris-ku yang udah repot2 jadi beta reader XD
Makasih banyak juga buat yang udah mau baca, follow, favorite sama review~ moga nanti malam Vamp!Seungheol jenguk kalian ya~ I'll be working hard for the next chapter!
