Blood Vows

A Jeongcheol fanfic by titans_generation

Jeonghan, Seungcheol, Joshua (read: not Jihancheol)

Characters belong to themselves

Yaoi/BoyxBoy

Trigger Warning

Please enjoy ^^

3. Eleutheromania

Satu dua hari berlalu seperti biasa sejak pertemuanku dengan Seungcheol. Kabar tertangkapnya Seungcheol hari itu tak sempat masuk media massa. Begitu pula ketika dia lepas dan kabur entah kemana, padahal biasanya seujung kuku pun jenis mereka tertangkap basah, media akan gonjang-ganjing meributkannya.

Joshua marah besar ketika tahu Seungcheol sudah tidak berada di kamar Seokmin sorenya sepulang mereka bekerja. Dia tidak banyak bicara apalagi mengomel, hanya sibuk memeriksa seisi apartemennya dengan rahang mengeras setelah Seokmin menanyakan padaku apa yang terjadi. Sempat terpikir olehku, Joshua benar-benar mengkhawatirkanku. Dadaku bergejolak membayangkan Joshua memelukku dan mengatakan aku akan baik-baik saja. Tentu saja itu hanya bagian dari kebodohanku. Mana mau Joshua memelukku yang sudah berlumur dosa. Bukan aku yang ada di pikirannya saat ini. Tapi Seungcheol yang sekarang bebas berkeliaran.

Dan di hari yang sama ketika Seungcheol mengikat janji denganku, aku diijinkan pulang oleh Seokmin. Apartemen mereka sudah tidak aman lagi karena bisa diserang teman-teman Seungcheol kapan saja dan mereka harus patroli malam karena kejadian yang menimpaku itu. Aku melewati Joshua yang mematung di depan kamar dengan senyum kecil yang terlindung rambutku. Dia sempat menahan dan menyuruhku untuk mengatur jadwal pemotretan hanya di siang hari dan sebisa mungkin sudah pulang saat senja, yang tentunya tidak perlu aku pedulikan.

Joshua tidak pernah bilang kalau dia dan Seokmin punya 'pekerjaan sampingan'. Tak kusangka mereka salah satu dari kumpulan orang kurang kerjaan yang menembaki makhluk seperti Seungcheol di malam hari. Selain rantai dan bilah kayu yang dipakai untuk mengekang Seungcheol kemarin, juga sebuah pistol yang terselip di bantal Seokmin, tidak ada lagi senjata khusus di apartemen mereka. Pekerjaan mereka yang satu ini sangat berbahaya bagi Seungcheol dan jenisnya.

Tidak seperti yang diceritakan orang-orang dulu, Seungcheol bukan makhluk immortal. Mereka juga tidak diberkahi kekuatan super ataupun lemah terhadap bawang putih dan sinar matahari. Meski siklus hidupnya sangat lambat, mereka juga akan mati ketika menua. Kemampuan mereka beregenerasi juga akan melambat seiring umur mereka bertambah. Tapi belum ada penjelasan tentang mengapa rasa sakit dari gigitan Seungcheol akan hilang setelah beberapa saat. Hal itu karena mereka langsung dieksekusi ketika tertangkap.

Dan juga mengapa keindahan fisik mereka begitu tidak manusiawi.

Aku putuskan untuk berhenti membaca artikel tentang mereka. Salahku memilih mempelajari makhluk sejenis Seungcheol di tempat yang pengap oleh alkohol dan asap rokok. Hentak musik dan segelas minuman keras di tangan membuatku sulit untuk fokus dengan deretan kalimat di layar telepon genggamku. Ada tangan yang sedari tadi meraba punggungku. Kumatikan layar telepon genggamku dan mendesaknya ke dalam kantong celanaku yang sesak. Dengan malas ku tolehkan kepalaku yang sedikit pusing ke lelaki yang tengah duduk di sampingku.

"Hey," sapanya sambil tersenyum dengan mata setengah terbuka. Laki-laki itu mengangkat gelas dan meminum alkohol di dalamnya dengan gerakan lambat sebelum bertanya, "Sendiri saja?"

Aku hanya mengangkat bahu, kepalaku terlalu sakit untuk memikirkan sebuah kalimat. Laki-laki yang tidak aku kenal itu kemudian tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku, "Minhyuk."

"Jeonghan," ku sambut tangannya dan membalas senyumnya. Satu lagi orang yang mencoba 'berkenalan' denganku malam ini. Wajah lelaki bernama Minhyuk itu mengabur di mataku tapi dapat kurasakan tubuhnya mendekat.

Aroma alkohol yang kuat dari sepasang bibirnya menusuk indera penciumanku. Bukan masalah, aku pun sama saja. Di antara gemerlap lampu, Minhyuk menangkup wajahku dan memejamkan mata. Di antara dentam musik yang menghentak lantai dansa di depan kami, Minhyuk dengan lancang mencuri ciuman dariku. Bau keringat yang bercampur alkohol di udara tidak membuatku menjauh dari tangan Minhyuk. Di tengah lautan manusia yang menggeliat liar dan tak lagi seirama dengan dentam musik, lelaki bernama Minhyuk itu membuka kancing kemejaku satu persatu.

Satu lagi malam yang akan kulalui dengan berkubang dalam dosa. Kuhapus detik demi detik ingatan tentang impian masa depan cerahku yang digerus habis. Tentang bagaimana aku mencintai dan mengagumi sosok Joshua. Namanya tak lagi terucap dalam setiap hembusan napasku. Juga bukan nama Minhyuk.

Dalam toilet sempit yang pengap itu napasku memburu. Kepalaku tenggelam di bahu Minhyuk yang tangannya sibuk menyusuri kaki-kakiku. Hangat bibirnya belum juga beralih dari leherku, bahkan ketika aku mencoba menciumnya.

Diangkatnya tubuhku ke westafel dan diciumnya leher dan dadaku. Sambil berpegangan di tepi westafel aku mencoba untuk tetap duduk. Minhyuk menatapku sejenak sebelum rasa perih yang menusuk membuat buku-buku jariku memutih, terlalu erat mencengkeram pinggiran westafel.

Kubuka mataku dan pemandangan yang familiar memutar kembali memoriku ke dua hari yang lalu. Minhyuk tengah tenggelam dalam dunianya sendiri sambil meneguk darah yang mengalir dari lengan kananku, sama seperti Seungcheol. Langit-langit diatasku berputar. Aku belum makan malam dan sekarang harus mendonorkan darahku lagi untuk orang yang baru aku temui.

Tidak berapa lama Minhyuk melepas tanganku dan mengangkat kaki kiriku yang sudah terlepas dari celana. Tanpa buang waktu taring-taringnya menembus kulit pahaku bagian dalam, begitu menyakitkan sampai air mata menumpuk di mataku. Tubuhku gemetar tapi tidak juga melawan. Bahkan ketika Minhyuk melepaskan kakiku dan beralih ke leher. Taring-taringnya menusuk bekas luka dari Seungcheol. Rasanya seperti leherku sedang dikoyak olehnya.

Sambil mengerang kesakitan, kutunggu rasa sakit dan ngilu itu hilang. Aku yakin bukan hanya Seungcheol yang bisa melakukan itu, membius sekitar lukaku agar tidak terasa sakit. Dalam hati aku meminta maaf padanya, karena yang mengingkari janji kami pada akhirnya adalah aku sendiri. Senyum mengembang di wajahku membayangkan Seungcheol yang naif, merengut kesal makan malamnya dicuri Minhyuk.

Tapi senyum itu tidak bertahan lama. Kepalaku semakin pusing dan berat. Rasa sakit dari luka yang Minhyuk buat tak kunjung hilang. Aku paksa otakku untuk berpikir. Inikah yang dimaksud Seungcheol dengan tidak semua jenisnya akan memanjakan makan malamnya? Kulit leherku rasanya seperti terbakar. Aku hampir hilang kekuatan untuk menopang tubuhku.

Tidak, ini salah.

Bukan seperti ini kematian yang aku inginkan. Tapi inilah saat-saat yang sudah lama aku tunggu. Senang, cemas, takut dan gugup bercampur aduk dalam dadaku.

Otakku memaksa untuk tetap tinggal dan nikmati saja sakitnya saat-saat sekarat. Tapi tubuhku menolak untuk mengikuti perintahku dan seketika berontak. Kudorong tubuh Minhyuk sebisaku dengan kaki. Taringnya yang masih menancap di leherku merobek kulitku dan meninggalkan luka memanjang di sana. Tanpa pikir panjang aku melompat ke arahnya dan menghujaninya dengan pukulan. Amarahku mendidih dalam diriku entah kenapa bersama rasa takut Minhyuk akan membalas.

Puas memukuli lelaki yang hampir menjadi 'temanku' malam ini, aku bangkit dan menjauh darinya yang masih mengerang. Kutarik celanaku yang hanya terpasang sebelah sebelum menyambar pintu toilet dan berhambur keluar klub malam itu. Tergopoh-gopoh aku mendekati mobil taksi yang untungnya lewat. Napasku masih sepotong-sepotong dan kepalaku masih terasa berat ketika taksi itu membawaku menjauh.

Lorong menuju apartemenku terasa begitu jauh. Malam belum terlalu tua dan aku tidak banyak minum, tapi lorong di depanku seperti dek kapal yang bergoyang dihempas gelombang. Untuk kesekian kalinya, aku tarik jaketku untuk menutupi darah yang merembes ke kemejaku. Mama tidak akan senang melihatnya.

Kusandarkan dahi ke pintu apartemenku, sejenak mengumpulkan kekuatan supaya mama tidak menyadari ada yang salah denganku. Nyaris aku terjerembap ketika pintu itu tiba-tiba terbuka. Mataku sekelebat melihat sepatu kets putih, celana jeans yang robek dan atasan jaket hitam.

Ini bukan mama...tapi Choi Seungcheol.

Untuk sepersekian detik kulihat dia juga sama terkejutnya denganku sebelum ekspresinya berganti seringai. "Malam, Jeonghan," sapanya.

Kualihkan pandanganku ke balik punggung Seungcheol, ada mama di sana yang berdiri kaku beberapa meter dari Seungcheol dengan tangan terkepal dan mata yang bergerak gelisah.

"Jeonghan sayang sudah pulang?" tanya mama yang kemudian menghampiriku sambil tersenyum tawar, seolah ada kecewa dari kedatanganku dan kehadiran Seungcheol. Diraih mama kedua sisi wajahku dan ibu jarinya mengelus lembut, "Wajahmu pucat, pasti lelah sekali ya? Sepertinya Jeonghannya mama harus istirahat, ini juga sudah malam." Mama biasa berbicara dengan nada memanjakan seperti itu, hanya saja malam itu sedikit berlebihan.

Kulirik Seungcheol yang sedang tersenyum miring. Lelaki bermata gelap itu balas menatapku dengan alis terangkat, "Benarkah kamu perlu istirahat seawal ini, Jeonghan?"

Mama mendelik usai Seungcheol bertanya. Aku akhirnya menangkap intensi mereka. Kudorong pelan badan mama dan kukatakan padanya aku baik-baik saja, sebelum menarik lengan Seungcheol dan membawanya ke kamarku.

Di kamar aku dorong tubuh Seungcheol untuk masuk lebih dulu. Pintu kamar aku tutup rapat dan ku kunci. Mama tak perlu tahu maksud kedatangan Seungcheol, itu jika Seungcheol belum memberitahunya.

Aku belum melupakan rasa sakit di kepalaku yang sekarang makin menusuk. Mungkin gejala anemia, Minhyuk mencuri banyak sekali darah dariku. Napasku masih sesak namun dapat ku tangkap suara Seungcheol, "Mamamu sayang sekali ya denganmu, sampai-sampai overprotektif begitu."

Seketika pandanganku mengabur dan ruangan ini seolah berputar. Kaki-kakiku tak lagi mampu menopang berat badan dan tiba-tiba ambruk. Jika dalam cerita, akan ada seseorang yang menangkapku ketika jatuh, sayangnya ini bukan opera sabun. Seungcheol yang berdiri di depanku hanya diam menonton ketika tubuhku jatuh berdebam di lantai. Sial memang. Seluruh tubuhku sakit karenanya.

Seungcheol kemudian mendekat. Ia berjongkok di depanku mengulurkan tangan. Disibaknya rambut yang menutupi setengah wajah dan leherku. Jaket dan kerah bajuku ditariknya tanpa aba-aba. Bagus. Sekarang dia menemukan luka dari Minhyuk.

Kutunggu amarah Seungcheol meledak. Dia akan menamparku beberapa kali dan kemudian menghujamkan taringnya lalu menghisap habis darahku. Setidaknya itu yang ada dalam bayanganku. Bukan Seungcheol yang tertawa mengejek seperti ini.

"Wah wah...bagaimana rasanya digigit orang lain, Jeonghan? Oww, pasti sakit sekali, iya? Bahkan darahnya belum berhenti keluar," ujarnya sambil menekan sekitar lukaku yang masih terasa perih.

Kutepis tangannya seraya duduk dan bersandar di pintu sambil memegangi kepalaku yang pusing. Aku tidak butuh ceramah arogan Seungcheol. Masih mengendap sesalku karena kabur dari Minhyuk. Harusnya aku biarkan saja dia menghabisiku. Biar selesai semua kebodohan ini.

Tangan Seungcheol kembali terulur padaku. Diselipkannya rambutku ke belakang telinga dan ia perlahan mendekat. "Sudah kubilang hanya aku yang bisa membuat kematian seperti yang kamu inginkan, Jeonghan. Aku lapar dan sekarang kamu hampir kehabisan darah. Bagaimana bisa aku menikmati darahmu malam ini?" Seungcheol sepertinya tipe yang banyak mulut. Kalau dia marah kenapa tidak lakukan dengan tangan atau taringnya saja?

"Berisik! Kalau mau minum ya minum saja! Apa pedulimu kalau aku benar-benar kehabisan darah?" balasku ketus.

"Tentu saja aku peduli. Aku sudah putuskan kamu makan malamku. Perlu waktu yang tepat untuk makanan mewah sepertimu."

"Tsk, ujung-ujungnya makanan juga yang kamu bahas. Biar kutebak, kamu belum menemukan darah yang lebih enak dari punyaku."

"Memang belum. Sepertinya tidak ada darah yang menandingi darah kotor dan penuh kebencianmu itu, Jeonghan."

Lagi-lagi Seungcheol mengucapkan kalimat yang ambigu. Entah dia berniat memujiku atau menghinaku. Aku tidak terbiasa memerlihatkan kemarahanku pada orang lain. Tapi Seungcheol adalah satu pengecualian. Setiap kata-katanya membakar rongga dadaku dan membuat darahku mendidih. Dia membuatku siap meledak kapan saja.

"Dilihat-lihat lukamu sampai sobek begini. Kalau bukan mereka yang terlalu agresif, pasti kamu yang mencoba melarikan diri. Benarkan?" ujarnya sambil menarik kerahku hati-hati. Kualihkan pandanganku kemana saja asal bukan wajah Seungcheol. Dapat kurasakan mata Seungcheol yang sedang mengamati lukaku.

Ruangan itu hening sejenak sebelum Seungcheol mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke leherku. Aku sedikit tersentak oleh perlakuannya yang tiba-tiba itu. Lidahnya yang hangat menyapu darah yang keluar dari lukaku sambil sesekali menghisapnya. Mataku terpejam menahan perih ditambah tubuhku yang masih panas akibat Minhyuk tadi. Tanpa sadar kedua tanganku sudah berpegangan di lengan Seungcheol, seolah takut aku akan jatuh jika tangan itu aku lepas.

Deru napasku memburu semakin lama Seungcheol menghisap sisa darahku. Sesaat kemudian rasa perih dan ngilu di leherku hilang sama sekali. Dalam waktu yang singkat itu aku tersadar. Ada sesuatu dalam mulut Seungcheol yang membius sekitar lukaku, menghilangkan rasa sakit dan menggantinya menjadi semacam euforia ganjil yang melemahkan lututku. Kudapati tanganku meraih punggunggnya, mencengkeram jaketnya dan merasakan lidahnya yang sibuk membersihkan lukaku.

Sekujur tubuhku memanas, mungkin ini yang membuat manusia sulit kabur setelah dijerat makhluk seperti Seungcheol. Bukan karena kekuatan supernatural melebihi manusia, lebih ke pesona mereka yang menjerat dan kesenangan berlebih yang disuntikkannya lewat taring.

Perasaan menyenangkan walau tubuh sedang sekarat, bukankah ini kematian yang diimpikan setiap orang?

Namun euforia itu tidak bertahan lama. Seungcheol menjauhkan bibirnya dari leherku dan menata kembali bajuku. Sepasang mata gelapnya memandangku lekat, "Sebentar lagi lukanya akan menutup. Tenang saja." Kutatap Seungcheol dengan bingung. Bukankah dia bilang dia lapar? Kenapa hanya menjilat sisa darah yang keluar dari lukaku? Dia bahkan tidak menggunakan taringnya.

Seungcheol menaikkan alis, "Kamu nggak penasaran bagaimana aku bisa tahu rumahmu?"

Aku berdecih mendengar pertanyaannya, "Kalian makhluk kotor pasti punya cara yang kotor juga untuk dapat informasi. Menguntit misalnya," dan Seungcheol menanggapi dengan tawa.

"Bahkan kemarin aku ke tempat kerjamu," tambahnya sambil mengangguk.

Orang ini benar-benar gila.

Kulempar tatapan jijik ke arah Seungcheol sebelum bangkit dan menyuruhnya minggir. Kepalaku yang tadi terasa dipukul-pukul sudah sedikit reda. "Aku mau ganti baju. Kalau berani mengintip, aku sembur kamu pakai air suci!" ancamku. Sial, tadi terdengar seperti anak kecil sekali. Tawa Seungcheol makin keras setelahnya. Sayangnya tawa renyah itu terpotong ketukan di pintu kamar.

"Jeonghan sayang?" panggil mama dari luar.

Belum sempat aku beranjak untuk meraih pintu, Seungcheol sudah lebih dulu memegang kenob. "Aku sudah taruh obat tambah darah di atas meja. Kamu harus minum itu setelah ini," pesannya sebelum memutar kenob pintu.

Terlihat mama sedikit terkejut ketika Seungcheol yang membuka pintu. Entah bagaimana ekspresi Seungcheol yang membelakangiku saat itu, sampai-sampai air muka mama masam. "Ah, malam lagi, tante. Tidak usah repot-repot memanggil. Aku juga sudah mau pulang. Terima kasih sudah mau menerimaku," Seungcheol membungkuk setelah menyelesaikan kalimatnya. Nadanya yang mengejek ditambah kata-kata yang sarkastik dari Seungcheol membuat alis mama bertaut tak suka. Aku tidak tahu harus ikut marah atau tertawa.

Segera setelah Seungcheol melewati tubuh mama, wanita yang melahirkanku itu berhambur ke arahku. Mama meraih pundakku dan meneliti badanku. "Kamu tidak diapa-apakan oleh laki-laki itu kan?" tanya mama kelewat cemas, yang hanya kujawab dengan gelengan kepala. "Kamu harusnya tidak membawa laki-laki ke kamarmu, Yoon Jeonghan. Itu bahaya!" mama mulai lagi dengan ceramahnya.

"Laki-laki itu semuanya bajingan, mereka hanya sampah yang bisanya menghancurkan masa depan orang lain. Bagaimana kalau anak perempuan mama satu-satunya ini dinodai oleh laki-laki busuk tadi?!" entah mama tidak sadar atau memang sengaja, tapi Seungcheol masih di sana, beberapa meter dari pintu dan mendengarkan segala yang diucapkan mama dengan alis terangkat seperti tidak percaya. Benar sekali Seungcheol, aku anak 'perempuan' mama, hanya di mata mama.

"Jeonghan, anak gadis mama yang paling cantik, jangan diulangi ya? Mama tidak mau kamu hancur seperti mama dulu," nasihat mama dengan nada penuh 'kasih sayang'. Terasa tangan mama menjalar di punggungku dan menyentuh pipiku. Mata mama sayu memandang wajahku, tanda ia akan mendisiplinkanku dengan cara yang selalu ia gunakan entah sejak kapan. Saking seringnya sampai aku lupa caranya meringis, menangis, berteriak, berontak dan memohon ketika mama mendisiplinkanku.

Dan wajah wanita yang sembilan bulan mengandungku itu mendekat. Pandanganku beralih ke arah Seungcheol yang terpaku ketika mama mulai melumat bibirku. Tidak ada ekspresi jijik di wajahnya bahkan ketika tangan mama menyusup ke dalam bajuku. Yang ada dia terkekeh puas sebelum berlalu meninggalkanku yang tengah dimangsa oleh mama.

Ini kehancuran keduaku yang disaksikan Seungcheol. Dia pasti sangat senang akan hal ini. Baguslah. Nafsu makannya ku harap akan bertambah setelah melihat ini, pikirku sambil membalas ciuman mama yang bersikeras menarik rambutku.

Cepatlah temukan penggantiku, Seungcheol. Dan lepaskan aku dari segala lelucon yang menggerogoti kemanusiaanku. Itu jika kamu benar-benar akan menepati janji.