Blood Vows

A Jeongcheol fanfic by titans_generation

Jeonghan, Seungcheol, Joshua (read: not Jihancheol)

Characters belong to themselves

Yaoi/BoyxBoy

Trigger Warning

Please enjoy ^^

5. Replacement 2

Ini kali kedua aku berhadapan dengan wajah gugup Joshua, saat yang pertama ialah ketika Seungcheol kabur dari apartemennya. Ia berdiri di depanku dengan bahu yang naik turun. Kedua matanya terkunci padaku. Aku harap akan begitu selamanya, atau setidaknya sampai Seungcheol di belakangku menemukan jalan untuk menghindari perhatian Joshua dan teman-temannya.

Joshua mengambil langkah cepat mendekatiku. Diraihnya kedua sisi wajahku sambil matanya mencari-cari sesuatu, sesuatu yang sedang aku sembunyikan di sana. "Kamu pucat sekali! Apa kamu baru saja digigit?" tanyanya dengan panik. Kesusahan aku menelan ludah ketika nama itu meluncur dari bibirnya, "Choi Seungcheol?"

"A-apa maksudmu?" tanyaku dengan terbata. Aku tahu tidak ada jalan untuk lari. Aku tahu sebentar lagi Seungcheol akan berakhir. Tidak ada gunanya mengulur waktu. Tidak ada celah untuk Seungcheol. Tidak ada celah untukku mendapat kematian yang bahagia.

"Oh, Jeonghan, aku mohon jangan berbohong kali ini. Kamu bertemu Choi Seungcheol lagi atau tidak?" Joshua mengguncang bahuku pelan. Dahiku berkerut mendengar kalimatnya. Tidak kah Joshua melihat makhluk yang sedang dibicarakannya tengah duduk di balik punggungku sekarang?

Mengindahkan keraguan, aku menoleh ke sofa di belakangku. Mataku membola seketika. Aku lupa cara bernapas melihat apa yang ada di balik punggungku. Tempat dimana Seungcheol duduk sebelumnya itu telah kosong, seolah tidak pernah ada dia di sana. Sudut bibirku tertarik seraya aku berbalik menghadap Joshua. Tawaku pecah, membuat wajah Joshua berubah bingung.

"Apa maksudmu, Joshua? Siapa Choi Seungcheol? Aku pikir dia sudah mati di tanganmu," aku tepuk pundak Joshua pelan ketika aku bangkit. Hangat tangannya berangsur menghilang dari kedua bahuku; toh aku tidak bisa meminta lebih. "Aku duluan ya? Jihoon belum makan malam sepertinya."

"Jeonghan," belum selangkah aku beranjak, Joshua kembali memanggilku. Aku memutar tubuh menghadapnya, senyum di wajahku telah pudar. Air mukanya kali ini sangat serius seraya ia meraih sesuatu di pinggangnya. Pistol hitam itu muncul dalam pandanganku dan gagangnya yang dingin menyentuh telapak tanganku, entah sejak kapan Joshua menangkap pergelangan tanganku.

"Untuk apa ini?"

"Simpan saja. Akan sangat berguna ketika si Seungcheol itu kembali."

Senjata itu aku amati tanpa minat. Ada nama Joshua dan lambang pemburu di sana.

"Kamu ingin aku membunuh makhluk itu? Seperti yang kalian lakukan? Kamu ingin aku jadi salah satu dari kalian?"

Joshua menghela napas dengan berat sebelum ia menggeleng pelan, "Aku hanya ingin kamu melindungi diri dengan itu. Yakinlah akan ada banyak makhluk haus darah yang mengincarmu setelah ini. Jeonghan, aku hanya ingin kamu hidup."

Sejenak aku memandangi wajah Joshua, jauh dalam diriku masih mencari sedikit saja celah di hatinya. Dan sampai kapanpun aku menatap mata indahnya, tak akan aku temukan rasa itu di dalamnya.

Aku sudah berusaha untuk mengubur dalam-dalam perasaanku padanya. Tapi, Joshua, bantulah aku untuk setidaknya mengubah sosokmu di mataku menjadi sekedar teman jika memang tak mungkin aku benar-benar lepas darimu. Dan kalimatnya itu bukannya membuatku berhenti putus asa, namun semakin menghancurkanku. Tak ada gunanya aku hidup jika suatu hari aku harus melihatmu berdiri di altar bersama seorang wanita yang sangat beruntung, sementara aku masih bergelut dengan mama di bawah selimut dan menampari wajah Jihoon.

Aku tersenyum pahit. Sekali lagi pistol itu aku amati. Kusapu ukiran nama Joshua dengan ibu jariku. "Kamu memberi senjata yang salah, Joshua." Kening Joshua berkedut mendengar perkataanku. "Ini juga bisa melukai manusia kan? Kamu yakin memberiku ini?"

Pistol itu aku arahkan ke lantai, aku tarik slide-nya dan aku lepaskan sebelum aku angkat kembali dan menodongkannya ke pelipis kananku sendiri. Kukirimkan seulas senyuman pada Joshua yang terkesiap. Kulihat ia mulai bangkit ketika jariku berada di pelatuk dan melompat ke arahku ketika pelatuknya akan aku tarik.

"Bang!" teriakanku membuat Joshua membeku di tempat, tangannya menggenggam erat pergelangan tanganku seperti berusaha mencegah pelurunya menembus kepalaku. Aku terkekeh melihat wajahnya yang penuh ketakutan.

Tidak, tentu saja aku takkan mengakhiri hidup dengan tanganku sendiri. Ada janji yang harus aku tepati. Pelatuk pistol itu tak pernah aku tarik dan aku dorong badan pistol ke dada Joshua. Aku tak perlu benda itu. Jika memang aku akan berakhir, tidak ada apapun yang bisa mencegahnya kan?

Aku berbalik dan meninggalkan Joshua yang masih berusaha memberikan pistolnya padaku. Jika ada makhluk berbahaya yang harus aku hindari, itu adalah aku sendiri. Akulah yang tak mampu melupakan perasaanku terhadap Joshua. Yang tak mampu melawan mama. Yang membenci adik kandungku sendiri. Yang serakah akan perhatian. Yang mengharapkan kematian ketika kematian itu sendiri tidak menginginkanku.

.

.

.

Pintu apartemenku masih terkunci rapat ketika aku pulang, tanda mama belum kembali. Seisi apartemen juga terlalu sunyi; entah Jihoon sedang tidur atau sudah mati menenggak racun. Lampu di setiap ruangan satu-persatu aku nyalakan dan yang terakhir adalah di kamar mandi.

Kamar mandi itu seharusnya kosong karena tidak dikunci dari dalam. Lantainya dingin karena tak seorang pun yang menggunakannya untuk beberapa waktu. Tapi di dalam bak mandi aku dapati sepasang lutut muncul di permukaan air dingin yang banjir sampai ke lantai. Keran air masih menyala dan semakin memenuhi bak mandi itu.

Aku mendekat tanpa ragu, sudah yakin siapa pemilik kaki-kaki kurus yang memucat itu. Yoon Jihoon. Sebagian besar wajahnya tenggelam namun dia masih bisa bernapas. Matanya tertutup rapat seperti menanti air itu menelan kepalanya dan mencekik napasnya. Baju kaos putihku masih melekat di tubuhnya dengan sepasang celana pendek.

"Jihoon," panggilku, memastikan apa dia masih hidup atau sudah menjemput maut.

Tiba-tiba kedua matanya terbuka dan wajahnya sedikit terangkat. Bibirnya yang membiru bergetar ketika matanya bertemu denganku. "Lapar," ujarnya singkat. Bukannya meminta tolong atau apapun, hanya satu kata itu.

Aku menghela napas panjang. Tidak sekali Jihoon seperti ini. Sering aku dapati dia duduk di meja makan sambil memandangi langit-langit dapur dengan sebilah pisau di lengan dan darah yang mengucur dari pangkal pahanya. Terkadang ujung-ujung jari Jihoon memerah dan terkelupas, bekas ia gigit entah kenapa. Biasanya ini terjadi setelah mama mendisiplinkannya. Bukan seperti yang mama lakukan padaku, hanya marah-marah singkat ditemani cambuk.

Dan itu terbukti dari bekas merah yang memanjang di punggung Jihoon ketika aku sibuk melucuti pakaiannya. Dia menjerit kesakitan ketika aku mengelap tubuhnya dengan handuk dan hanya dengan sehelai kain itu Jihoon melenggang ke dapur, menagih makan malam yang biasanya aku bawa.

Kami duduk berhadapan di meja makan beberapa saat kemudian, tenggelam dalam hening seperti biasa. Jihoon sibuk melahap burger yang aku beli sepulang dari restoran, masih hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Aku sendiri hanya menyisakan atasan piyamaku dan sepasang boxer, menekuk lutut di atas kursi dan memandangi adikku.

Lama aku mengamati Jihoon, memerhatikan remah-remah roti dan sisa saos yang jatuh ke lantai juga menempel di sekitar bibirnya. Beberapa kali air menetes dari ujung rambutnya yang berantakan ke bawah matanya yang kosong. Aku mencoba menghitung bekas luka di tubuhnya yang nyaris telanjang, luka lama juga yang baru dibuatnya. Bekas cambukan dari mama tidak masuk hitungan karena itu bukan hasil karya Jihoon sendiri.

Aku selalu iri dengan Jihoon. Setelah papa meninggalkan mama demi bersumpah janji dengan seorang wanita satu lantai di bawah apartemen kami, mama mulai merubah caranya mendisiplinkan aku dan Jihoon. Tujuh tahun yang lalu mama melarangku untuk memotong rambut atau setidaknya membiarkannya sepanjang bahu, membelikanku pakaian untuk perempuan dan aksesoris yang feminim. Jihoon dilarang keluar rumah bahkan untuk sekolah, mama takut Jihoon akan mengganggu anak perempuan lain.

Di tahun berikutnya mama mulai melakukan hal yang menjijikan. Berawal dari membawa teman perempuannya ke rumah dan menjamahnya di ruang tamu, mama mulai melihatku dengan cara yang berbeda. Aku sadar betul wajahku termasuk feminim dibandingkan dengan laki-laki pada umumnya. Dan perubahan perilaku mama itu mengajariku cara mencari kesenangan singkat dengan memangsa dan dimangsa. Awalnya Jihoon juga diperlakukan sama, tapi mama tak bisa melihat Jihoon sebagai anak gadisnya juga. Jihoon berakhir menjadi bulan-bulanan mama ketika tidak ada alasan untuknya mendisiplinkanku.

Sekarang aku sudah berumur 22 tahun dan sesekali masih harus didisiplinkan oleh mama. Aku takkan menyangkal kalau aku menikmati saat-saat itu, dengan mata yang tertutup dan telinga yang ditulikan.

"Tapi kenapa caranya harus berbeda?" dulu aku tanyakan itu pada mama berkali-kali tanpa pernah ia jawab. Kenapa hanya tubuhku yang nodanya menempel dan tidak bisa dibersihkan? Kenapa mama melakukan semua hal itu padaku? Jika boleh memilih, aku lebih suka dicambuk sampai pingsan daripada harus menemani mama di ranjang. Aku selalu iri pada Jihoon.

Hanya karena aku berparas sedikit lebih feminim bukan berarti mama harus melupakan genderku yang sebenarnya. Hanya karena Jihoon sedikit depresi dan sekali masuk rumah sakit karena keracunan pembersih lantai yang diminumnya sendiri, bukan berarti mama harus mengurangi kadar 'ketegasannya'.

Sejenak pikiranku kosong. Aku perhatikan lagi bekas luka di sekujur tubuh Jihoon dan seketika aku teringat kalimat yang tak sempat aku selesaikan untuk Seungcheol.

Tiba-tiba aku berdiri. Kursi yang aku duduki jatuh ke belakang saking tergesa-gesanya aku berlari ke dekat westafel. Sebilah pisau yang tergeletak di dasar westafel terlihat sangat berkilau saat aku meraihnya. Dalam sekejap mata aku menarik tangan Jihoon sampai ia terjungkal dari kursi meja makan dan menjatuhkan burger-nya. Tubuh kecil Jihoon aku tindih sambil aku menggores ujung jari telunjuknya. Ia meronta sambil menjerit, menjambak rambutku yang terurai supaya aku melepaskan tangannya.

Darah seketika keluar dari lukanya yang menganga, meluncur sampai ke telapak tangan Jihoon. Aku amati cairan merah itu lekat-lekat, mencari sesuatu yang tak seharusnya aku ketahui.

Gagal menemukan yang tadinya aku cari, kucoba mendekatkan jari Jihoon yang terluka dan aku masukan ke dalam mulut. Rasanya biasa saja, asin, seperti logam dan menjijikan. Aku lepaskan tangan Jihoon setelahnya dan membiarkan dia menjerit dan menjambak rambutku. Sementara itu aku memandangi tanganku sendiri, menarik napas yang dalam sebelum membuat luka yang sama seperti milik Jihoon di jari tengahku. Cepat-cepat aku memasukannya ke dalam mulut dan menghisap darah yang keluar. Aku terdiam sejenak, sibuk mengecap rasa darahku sendiri.

"Brengsek!" umpatku dengan keras. Jihoon membisu seketika, tersentak karena tak pernah mendengarku mengumpat. Aku menoleh padanya dengan napas memburu dan amarah yang meluap-luap. Tangan Jihoon kembali aku tarik dan jarinya aku hisap sebelum beralih pada lukaku lagi.

Tidak ada yang berbeda.

Aku hampir hilang akal. Kulihat lagi wajah Jihoon yang penuh air mata tapi minim ekspresi. Aku yakin instingku benar. Mungkin memang hanya mereka yang bisa membedakan rasa darah manusia. Tapi aku tetap yakin darah Jihoon akan sesuai dengan lidah Seungcheol. Aku yakin Seungcheol akan menyukainya. Jihoon lah yang akan menggantikanku.

Segera kusambar telepon genggamku yang ada di meja dan mencari nama Seungcheol. Beberapa hari yang lalu aku bersikeras Seungcheol menelponku jika dia akan datang. Kutunggu lelaki berambut hitam itu mengangkat telepon dengan antusias, Jihoon masih berada di bawahku dan mencengkeram rambutku.

"Jeongha-"

"Rumahku, Seungcheol. Sekarang!" potongku segera setelah kudengar suaranya di seberang. Dia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya.

"Untuk apa?"

"Aku bilang aku punya penggantiku kan? Kamu bisa mengeceknya sekarang. Dia takkan lari, jadi cepatlah," balasku cepat. Napasku memburu saking semangatnya aku menyerahkan tumbal kepada malaikat kematianku.

Seungcheol takkan kecewa. Ia pasti akan menyukai Jihoon.

.

.

.

Aku dan Jihoon beralih ke sofa ruang tamu. Jihoon masih sibuk menghabiskan burger-nya; ia menolak untuk memakai pakaian sampai mama datang untuk mendisiplinkannya. Aku gelisah sejak Seungcheol mengaminkan permintaanku untuk datang. Lengan piyama kutarik-tarik sambil gigi-gigiku mengunyah bibir.

Nyaris aku melompat ketika bel apartemen bergema nyaring di koridor. Dengan langkah yang lebar aku meninggalkan Jihoon sambil menggumamkan lagu yang aku sendiri tak tahu judulnya. Kupasang senyuman paling lebar ketika pintu apartemen aku buka dan kusambut Seungcheol dengan cengiran yang sudah lama tidak aku keluarkan.

Tapi di sisi Seungcheol, ekspresinya sungguh berlawanan. Dia menarik sudut bibirnya singkat sebelum melewati tubuhku yang menunggunya di ambang pintu. Tak ada seringaian yang biasa tergambar di wajah tampannya, hanya kosong yang sukses melunturkan senyumku.

Kuputar tubuhku untuk memandang punggung Seungcheol yang menjauh dan menghilang ke ruang tamu. Bahunya turun dan dagunya rendah, tidak arogan seperti pertama kami bertemu meski dalam balutan kemeja hitam polos yang seharusnya meninggikan penampilannya.

Dengan langkah pelan aku berjalan menuju ruang tamu dan di sana kutemukan Seungcheol sudah berdiri di depan Jihoon. Mereka bertukar pandang dalam diam sebelum Jihoon melempar sisa roti di tangannya ke wajah Seungcheol.

Seungcheol menoleh ke arahku dengan alis terangkat, "Ini yang kamu maksud penggantimu?"

"Dia adikku. Bukankah baunya menggiurkan?" aku mengangguk cepat seperti anak kecil, seolah tahu pernyataanku barusan benar.

Seungcheol hanya tersenyum miring sebelum tangan-tangannya yang besar menangkap bahu Jihoon dan mendorongnya jatuh ke sofa. Jihoon mulai meronta dalam kurungan Seungcheol ketika kedua kakinya diapit paha lelaki bersurai hitam itu. Kedua mata Seungcheol yang tajam membalas tatapan benci dari Jihoon; tiba-tiba aku ingin menjadi objek yang dilihat Seungcheol sekarang. Dalam posisi itu mereka terlihat seperti akan melakukan sesuatu yang tidak senonoh ditambah hanya perut sampai ke paha Jihoon yang tertutup handuk.

Sementara aku menonton mereka di ambang pintu, Seungcheol mulai mendekatkan wajahnya ke Jihoon. Ujung hidungnya menyentuh leher Jihoon dan perlahan naik ke rahang saat ia mulai menghirup dalam-dalam bau adik laki-lakiku. Kutarik napasku cepat ketika bibir Seungcheol menyunggingkan senyum yang sering muncul di wajahnya; kali ini bukan untukku.

"Mengagumkan, Jeonghan. Darimana kamu tahu bau adikmu akan seenak ini?" ujarnya.

Jauh dalam dadaku aku bingung bagaimana harus bereaksi dengan kalimat yang keluar dari bibir ranum Seungcheol. Aku ingin tersenyum, senang karena akhirnya penderitaanku akan berakhir. Tetapi di satu sisi, aku ingin mencongkel mata Jihoon yang masih terpaku pada wajah makhluk haus darah di atasnya. Akhirnya kukulum senyumku, menahan perasaan aneh yang menggumpal dalam tenggorokan.

Susah payah aku bertanya pada pemilik mata sekelam malam itu, "Jadi, kapan kamu memenuhi janjimu?"

Seungcheol tersenyum makin lebar, "Sabarlah. Aku bahkan belum mencicipi darahnya."

Suaraku seakan dicuri ketika apa yang terjadi di depanku berhasil di proses oleh otakku. Tubuh bagian atas Seungcheol turun perlahan, mendekat ke dada Jihoon yang telanjang. Lagi dihirupnya bau Jihoon, bau darah yang membekas di jari telunjuknya. Wajah mereka begitu dekat sampai hidung Seungcheol nyaris bersentuhan dengan hidung Jihoon. Tangan kiri Seungcheol yang tadinya menahan bahu adikku kini naik ke leher, memijit pelan titik dimana biasanya mereka menggigit.

Aku kira Seungcheol akan langsung menancapkan taringnya ke leher Jihoon, menghisapnya pelan sampai dirasanya cukup untuk tahu rasa darah adikku. Tidak pernah aku bayangkan dia akan menautkan bibirnya dan Jihoon, memagutnya dalam sambil tangannya menyentuh leher adikku satu-satunya.

Seketika aku lupa caranya bernapas menonton Seungcheol melumat bibir adikku. Entah itu triknya untuk membuat adikku berhenti meronta atau iseng belaka, yang aku tahu tangan Seungcheol yang naik turun di pinggang Jihoon benar-benar membuat kepalaku terasa mendidih. Tanpa sadar tanganku sudah terkepal, tak tahan ingin meninju orang yang tengah melenguh keras di bawah Seungcheol

Kualihkan perhatianku ke karpet usang di bawah kakiku, ada noda kuning menjijikan di sana. Tapi sekeras apapun aku mencoba, tetap aku tak mampu menulikan telingaku dari suara desahan Jihoon yang memekakan. Kulihat ujung taring Seungcheol sudah menembus kulit leher adikku dan membuat sedikit darah keluar dari lukanya. Namun tangan Seungcheol yang sekarang sibuk meraba paha bagian dalam Jihoon membuatku kesal bukan main.

Aku berlari ke kamarku, tak tahan dengan adegan tidak pantas yang dimainkan adikku sekarang. Bodoh memang. Sudah tak terhitung berapa kali aku melakukannya dengan orang yang berbeda, bahkan dengan mamaku sendiri. Tapi kenapa hanya melihat Seungcheol menjamah sedikit tubuh adikku membuatku benar-benar mual?

Tanpa menutup pintu aku berjongkok di samping tempat tidur sambil menutup rapat-rapat telingaku. Suara Jihoon masih saja bergema di penjuru apartemen kecil kami dan semakin jelas terdengar. Bayang-bayang perbuatan Seungcheol dan Jihoon di ruang tamu tidak bisa hilang dan semakin menghantui akal sehatku. Rasa asin dan logam kembali memenuhi lidahku dari darah yang keluar dari bibir yang aku gigit kuat-kuat. Kulit kepalaku seperti akan robek saking kuatnya aku menjambak rambutku sendiri.

Tiba-tiba air mata meleleh ke pipiku, rasanya perih seolah ada luka memanjang yang terbentuk di sana. Isakan tertahan keluar dari sela bibirku yang gemetar. Jantungku berdetak semakin cepat dan ada sesuatu yang meremasnya sampai dadaku terasa sesak.

Apa yang terjadi denganku sekarang? Saat ditolak oleh Joshua, bahkan ketika pertama kali didisiplinkan oleh mama, rasanya tak pernah sesakit ini. Aku ingin berteriak, tapi takut Seungcheol akan marah dan meninggalkanku begitu saja. Jadilah aku telan bulat-bulat raungan tangisanku sendiri sambil meringkuk menyedihkan, benar-benar gagal untuk meredam suara aktivitas dua orang di luar.

Satu pertanyaan muncul dalam benakku, kenapa harus Jihoon yang diperlakukan selembut itu oleh semua orang?

Kupeluk kedua lututku erat. Lengan piyamaku basah seperti bertahun-tahun yang lalu. Jendela kamarku bergetar oleh riuh alam yang ikut mengejek penderitaanku. Malam ini untuk Jihoon akan ada Seungcheol yang mendekapnya dan mayatku akan membeku kedinginan.

Tiba-tiba tanganku terasa hangat ditangkup sepasang tangan milik orang lain. Tangan-tangan besar itu milik Seungcheol. Ia berlutut di depanku sambil kedua iris gelapnya menembus milikku. "Apa yang kamu lakukan di sini? Menepati janjimu?" tanyaku dengan suara yang parau.

"Aku mencium kemarahan yang sangat di rumah ini. Aku pikir itu dari adikmu tapi wajahnya tidak menunjukan amarah sedikitpun. Ternyata itu milikmu," Seungcheol melempar senyum ke arahku. Ibu jarinya menyentuh bibir bawahku yang terluka dan perlahan mengusapnya. Bekas darahku yang menempel di jarinya ia jilat seperti sisa saus tomat.

Aku memandangnya sejenak, menikmati setiap detail lekuk wajah Seungcheol yang terpahat indah. Mencoba mencari apa yang Seungcheol pikirkan ketika sedang menatapku adalah sesuatu yang sia-sia. Jika di mata mama kudapati kesedihan dan di dalam milik Joshua ada kekecewaan, tak kutemukan apapun di mata Seungcheol.

Seungcheol lain.

Yang aku lihat di matanya hanyalah pantulan wajahku yang mengenaskan. Isi hatinya tidak bisa aku baca atau mungkin rasa yang ada di dalam dirinya begitu kompleks dibandingkan manusia. Mungkin itu salah satu alasan mengapa setiap kali kudapati diriku menyelam dalam manik gelap itu, mencari seperti apa aku di matanya dan akhirnya tersesat. Seperti sekarang dan aku terlupa dengan sakit yang tadinya begitu menyesakkan.

"Aku tidak mengerti, Jeonghan. Tapi kamu selalu membuatku lapar," ucapnya sambil menyeka jejak air mata yang membekas di pipiku. Tangan itu kemudian turun ke daguku dan dengan hati-hati memiringkan kepalaku. Akses ke leherku terbuka lebar untuk Seungcheol dan lelaki itu tidak buang waktu untuk segera menempelkan bibirnya ke permukaan kulitku. Alisku berkerut mengingat apa yang baru bibirnya itu lakukan dengan Jihoon.

Meskipun perasaan kesal masih mengendap dalam diriku, kudapati kedua tanganku merayap ke lengan Seungcheol dan berpegangan pada bahunya yang lebar. Kurasakan darahku berdesir naik, tumpah ke dalam mulut Seungcheol yang hangat sambil ibu jarinya mengelus lembut pipiku.

Hati-hati Seungcheol menarik kembali taringnya dan menjilat sisa darah yang keluar. Ditempelkannya dahi kami sebentar sambil menyunggingkan senyum sebelum ia mengangkat tubuhku ke kasur. Dia benar-benar memperlakukanku dengan lembut malam itu. Gigitannya pelan agar aku tidak terkejut dengan rasa sakit yang belum dibius olehnya. Seungcheol tidak buru-buru menghisap darahku seperti dikejar pemburu, tapi perlahan seolah memberikanku waktu untuk menyesuaikan diri.

Malam itu aku memeluk punggungnya lebih erat, di dalamnya aku sampaikan salam perpisahan. Tangan Seungcheol menyentuh lembut tengkuk leher dan pinggulku sambil dia minum. Di luar pepohonan meraung dijamah angin dan tanah basah bergetar dicambuk petir. Namun semua seolah teredam oleh gema pujian demi pujian yang dilontarkan Seungcheol padaku. Meski sudah meyakinkan diri bahwa semua itu hanya omong kosong, toh aku tetap terjatuh dalam mata gelapnya.

"Darahmu lebih menggiurkan. Kamu yang terbaik Jeonghan," pujinya sambil menyisir rambutku dengan jari-jarinya. Kata-kata Seungcheol mulai merasuk ke dalam kepalaku. Seulas senyuman mengembang di wajahku begitu saja. Bahkan darah Jihoon tidak bisa mengalahkanku dan aku bangga akan itu.

Aku tersedak ludahku sendiri. Kupandangi langit-langit kamarku yang remang, kusam dan retak. Kemudian mataku beralih ke Seungcheol yang sibuk membubuhi dadaku dengan kecupan; entah sejak kapan kancing piyamaku terbuka. Mataku seketika mengabur dan pipiku kembali basah. Jantungku berdetak kencang sampai dadaku terasa sesak.

Ini tidak mungkin.

Seungcheol menatap mataku dalam. Seluruh tubuhku melemah di bawah tatapannya yang tajam dan lapar. Tangan Seungcheol naik untuk mengusap kepalaku lagi, turun ke pipi dan ibu jarinya berakhir di bibirku.

Aku yakin dengan pasti ini adalah efek cairan pembius yang ada dalam mulut Seungcheol. Tidak lebih.

Wajah yang ketampanannya sungguh tidak manusiawi itu mendekat. Deru napas Seungcheol menyentuh setiap inci kulit wajahku, membuat sekujur tubuhku meremang. Dengan lembut dan sangat berhati-hati Seungcheol meleburkan batas antara dia dan aku. Mataku tertutup rapat dalam pagutannya yang memabukkan. Malam itu seharusnya sangat dingin dan mencekam dikelilingi badai petir dan hujan, tapi keringat tetap mengucur di pelipisku.

Aku tak pernah tahu sebuah ciuman yang biasa aku lakukan seharusnya terasa semanis ini. Aku takkan pernah tahu jika saja Seungcheol tidak pernah hadir dalam hidupku dan memberikannya.

Seungcheol menempelkan dahinya ke dahiku ketika ciuman itu terlepas, mengumpulkan oksigen yang saat itu benar-benar kami butuhkan. Kutatap mata Seungcheol sejenak sebelum kepala Seungcheol aku tarik ke arahku, sekali lagi merasakan tekstur bibirnya. Bagi Seungcheol itu mungkin semacam izin untuk menjamah diantara selangkanganku.

Sengaja aku melenguh keras-keras, berharap Jihoon mendengarnya dan membuat dia sadar aku lebih baik darinya. Meski ragu kubuka kakiku sedikit lebih lebar. Seungcheol menggunakan kesempatan itu untuk memainkan lidahnya di bagian depan boxerku yang mulai sesak. Semua ini terasa seperti pengalaman pertama, dipenuhi rasa gugup dan antisipasi di bawah tatapan Seungcheol yang tak pernah gagal melumpuhkanku.

"Jeonghan," panggilan Seungcheol seketika membuyarkan khayalanku tentang apa yang akan terjadi. Ia baru melanjutkan kalimatnya ketika mata kami saling bertemu, "Aku tahu darahmu sangat luar biasa, tapi aku penasaran apa milikmu ini juga sama menggiurkannya dengan darahmu."

Aku hampir tersedak mendengar kalimatnya. Sempat-sempatnya dia memikirkan kata-kata tidak senonoh seperti itu. Senyuman mengembang begitu saja di wajahku saat aku menjawabnya, "Kalau kamu penasaran, kenapa tidak cari tahu sendiri?" dan setelahnya aku lepas kendali. Seungcheol menanggalkan potongan kain yang masih menempel di tubuhku, membuangnya ke sembarang arah dan memuaskan rasa ingin tahunya.

Kuakui sekali dua aku pernah membayangkan kami berada disituasi seperti ini. Aku ingat bayangan Seungcheol yang menghapal setiap lekuk tubuhku di ujung jemarinya. Sementara itu aku hanya bisa terbaring di kasur dan memanggil-manggil namanya di antara deru napas kami yang memburu. Ranjangku berderit ketika dia menyejajarkan tubuhnya denganku, mengingat tekstur bibirku untuk kesekian kali. Dalam ingatan yang samar kudapati jarak yang memisahkan aku dan Seungcheol sudah menghilang.

Beberapa waktu yang lalu itu hanya sebatas khayalan. Tak kusangka akan ada hari dimana Seungcheol memelukku erat dan bagian dari dirinya berada jauh di dalam diriku. Hal ini seharusnya sudah biasa bagiku. Tapi berada di bawah tatapan mata Seungcheol yang penuh misteri rupanya mampu menerbangkanku lebih tinggi dari siapapun. Salam perpisahan tak seharusnya seindah ini.

Di tengah hilangnya akal sehatku Seungcheol menautkan jemari kami berdua dan menyunggingkan senyuman yang begitu menenangkan hati. Aku bahkan lupa aku akan mati di tangannya. Namaku malam itu mengalir dari bibirnya dalam nada yang berayun seperti ombak, lembut seperti semilir angin, tenang seperti danau dan hangat seperti sebuah pelukan yang dia hadiahkan untukku saat itu, "Jeonghan."

Ini tidak mungkin terjadi.

Aku tidak mungkin memiliki perasaan ini lagi.

.

.

.

Tbc

.

.

.

a.n. pertama-tama saya mau minta maaf...hiatusnya kelamaan. Pulkam bukan berarti punya banyak waktu luang, sama aja sibuknya kayak lg kuliah…

secondly, I sincerely apologize for the failed enaena scene OTL

lastly, kindly leave your thoughts karna review kalian sangat sangat dinantikan, thanks a lot for reading ^^