Blood Vows

A Jeongcheol fanfic by titans_generation

Jeonghan, Seungcheol, Joshua (read: not Jihancheol)

Characters belong to themselves

Yaoi/BoyxBoy

Trigger Warning

Please enjoy

6. Drift Away

Dingin merayap naik dari jari-jari kakiku ketika perlahan nyawaku terkumpul. Selimut menutupi sampai ke daguku namun ujungnya tak sampai menghangatkan kakiku yang telanjang. Sebenarnya tak hanya kaki, tanpa perlu melihat aku tahu tubuhku tengah polos tanpa sehelai benang; selain selimut tipis yang hanya sedikit melawan hawa dingin. Cahaya matahari yang menembus kaca jendela pagi itu lembut, mungkin tertutup lapisan awan bekas badai semalam. Tapi itu cukup untuk membentuk bayangan tubuhku yang membelakangi jendela.

Masih setengah sadar mataku memandang kosong kertas dinding yang lusuh, meraba-raba apa aku sudah mati atau belum. Satu tarikan napas membuktikan aku masih berada di dunia dan akan segera menghadapi hari-hariku yang penuh lelucon. Kugeser tubuhku sedikit, menyembunyikan kaki-kakiku yang mulai kedinginan. Ini masih terlalu awal untuk memulai kegiatan, tapi aku tahu bantal di samping milikku telah dingin.

Aku tidak perlu berbalik untuk tahu seseorang yang di sampingku semalam telah pergi. Setiap kali akan selalu seperti itu. Setiap orang yang menghabiskan malam denganku akan lenyap ketika fajar menyingsing. Kecuali mama. Tapi bukan mama yang bersamaku semalam dan itu membuatku tersenyum sendiri. Bodohnya aku memikirkan sesuatu yang menggelikan malam itu. Seungcheol tak lebihnya pelampiasan emosiku yang tak terbendung. Begitu juga sebaliknya, aku hanya peredam nafsu Seungcheol.

Tapi aku sendiri tak tahu apa yang membuatku sedikit berharap Seungcheol masih berbaring di sana. Ujung selimutku aku genggam dan aku menghela napas panjang sebelum memutar badanku. Benar saja, Seungcheol tak ada di sana. Bantalku sedikit cekung, tanda seseorang sempat merebahkan kepalanya. Kuraih bantal itu, merabanya pelan sambil mencari bukti keberadaan Seungcheol di sana. Mataku turun ke bawah, perutku terasa lengket dan ada sesuatu yang mengering di kulitku; entah itu milik Seungcheol atau milikku.

Ada suara ketukan di laci tepat di samping tempat tidurku. Cepat-cepat aku bangkit dan berbalik, takut mama menemukanku dalam keadaan kotor seperti ini. Namun yang berdiri di samping tempat tidurku bukan mama atau Jihoon.

Choi Seungcheol.

Tangannya membawa bungkusan obat dan yang satunya tengah meletakkan gelas di atas laci. Dia menghentikan kegiatannya untuk bertukar pandang denganku. Kuteliti wajahnya yang mengantuk karna tak terbiasa tidur di malam hari, rambutnya yang basah dan acak-acakan namun tetap terlihat tampan, lengan besarnya dan tubuhnya yang hanya ditutupi sepasang celana berbahan denim sampai tetesan air yang meluncur dari dada ke perutnya. Sejenak aku merasa iri dengan bentuk tubuhnya, jauh jika dibandingkan dengan tubuhku yang kurus.

Tiba-tiba Seungcheol melemparkan bungkus obat penambah darah di tangannya ke pangkuanku. "Selamat pagi, putri. Sarapanmu belum siap tapi kamu bisa minum obat itu sementara menunggu," ujarnya dengan nada yang menjengkelkan. Kuputar bola mataku dan bungkus obat itu aku lempar kembali ke arahnya.

"Aku tidak perlu minum itu pagi ini."

"Setelah darahmu aku minum semalam? Tidak, Jeonghan, kamu perlu itu." Seungcheol kembali melempar obat itu padaku.

"Aku tidak merasa sedang anemia, Seungcheol. Diamlah!"

Dan selanjutnya kami hanya saling melempar bungkus obat yang malang itu. Seungcheol sangat gesit ketika menghindar dan menangkap bungkusan itu sebelum melemparnya kembali ke arahku. Aku tertawa puas ketika plastik itu mengenai wajahnya cukup keras. Seungcheol pun akhirnya menyerah dan berhenti menyerang balik. Tapi bukan berarti ia menyerah untuk menyuruhku meminum obat. Sambil menggelengkan kepala Seungcheol membuka bungkus obat itu dan membawanya padaku dengan segelas air.

"Aku serius. Kamu harus minum obat atau si pemburu itu akan curiga. Joshua? Entahlah aku sulit mengingat nama," ujarnya. Aku sedikit kecewa dengan kalimat Seungcheol itu. Alasannya menyuruhku minum obat bukan karena dia peduli denganku ternyata, dia takut para pemburu terutama Joshua akan mencurigaiku.

Tapi tetap kusambut obat itu dan aku telan dengan berat. Seungcheol menyodorkan gelas berisi air yang dibawanya dan meminumkannya untukku. Ia duduk di sampingku sambil memastikan aku benar-benar meminum obatnya.

Ada sesuatu yang menggangguku di bawah sana. Kugeser sedikit posisiku dan bisa kurasakan cairan kental mengalir di antara pantatku. Seungcheol menyadari aku terlihat risih dan bertanya dengan nada yang sedikit khawatir, "Badanmu masih sakit?"

Aku menggeleng cepat. "Tidak sama sekali. Hanya saja kamu mengeluarkannya di dalam dan sangat banyak semalam," jawabku seolah cairan Seungcheol di antara selangkanganku itu hal biasa.

"Maaf, maaf. Aku tidak bisa menemukan kondom di kamarmu." Aku memicing ke arah Seungcheol. Tanganku menyusup ke bawah bantal dan melempar bungkus alat kontrasepsi kepadanya.

Seungcheol menatap bungkus itu sebentar sebelum menghela napas, "Ayolah, kita berdua bisa melakukan itu berkali-kali dan kamu tidak akan pernah hamil anakku, Jeonghan."

Dahiku semakin berkerut, "Kita berdua tahu alat kontrasepsi bukan hanya untuk mencegah kehamilan, Choi Seungcheol."

"Baiklah, baiklah. Aku akan lebih hati-hati lain kali. Tapi tenang saja, aku bersih," jeda sebentar ketika Seungcheol mendekatkan wajahnya padaku dengan tatapan curiga. Ia menunjuk wajahku sambil melanjutkan kalimatnya, "Kamu bersih kan?"

Kutepis jari Seungcheol dan balas mendekat, "Aku yakin aku lebih bersih darimu." Kami bertahan di posisi itu untuk beberapa saat. Hanya saling bertukar pandang dan beradu mata dalam diam. Tiba-tiba sudut bibir Seungcheol tertarik dan setelahnya kami tertawa lepas tanpa ada sesuatu yang lucu.

Aku coba mengingat kembali, kapan terakhir kali aku tertawa seperti ini. Mungkin bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih menyapa bunga-bunga kecil di pinggir jalan dan melambaikan tangan ke pesawat terbang yang lewat. Ketika aku pertama menggendong tubuh kecil Jihoon yang kulitnya masih merah dan mengatakan padanya aku akan jadi pahlawan super untuknya. Ketika aku meninggalkan mainanku untuk sekedar berebut digendong dengan Jihoon sepulang papa kerja.

Tawaku memudar dan mataku masih lekat pada Seungcheol yang masih meredakan tawanya. Terpikir olehku, benarkah orang ini yang membuatku merasakan perasaan itu lagi?

Seungcheol membuatku merasa berharga. Terlepas dari janji kami yang terikat darah, Seungcheol mengingatkanku bagaimana tertawa tanpa beban. Alih-alih menjadi malaikat kematianku, yang aku lihat pada diri Seungcheol sekarang adalah sosok sahabat yang tak pernah ada dalam diri Joshua; ataupun Seokmin. Aku bisa berbagi tawa dengannya dan mengatakan hal-hal yang biasanya hanya aku simpan untuk diriku sendiri. Dia tahu apa yang terjadi padaku sebenarnya. Aku pun tak mampu berbohong padanya ketika hariku buruk. Kami seolah sudah saling mengenal lama walaupun aku tahu waktu kami termasuk singkat untuk mengenal seseorang sedalam ini.

Lamunanku buyar ketika suara bel terdengar. Itu bukan mama. Mama tak perlu menekan bel hanya untuk masuk rumahnya sendiri. Aku curiga itu Joshua, posisinya sebagai pemburu membuatku merasa dia ada dimanapun aku dan Seungcheol berada. Tapi Seungcheol bangkit tanpa ragu, meraih dompetnya yang tergeletak di meja dekat pintu. "Mandi sana! Sarapan kita sudah siap," ujarnya sambil berlalu.

Seungcheol rupanya memesan jajjangmyeon. Tiga porsi dan dia sendiri yang memanggil Jihoon di kamarnya. Kami bertiga duduk melingkar di depan televisi yang menayangkan berita pagi.

Sambil makan aku sesekali melirik ke arah Seungcheol. Ia sedang memerhatikan Jihoon dan mengusap kepala adikku itu dengan lembut. Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kamu menyukai Jihoon?"

Seungcheol langsung menoleh kepadaku. Alisnya terangkat dan senyum kecil menghiasi wajahnya. "Iya, aku menyukainya. Jihoon terlihat seperti anak sekolah dasar yang lucu. Aku menyesal memperlakukannya seperti itu semalam," jawabnya sambil mengelus rambut Jihoon dan memperhatikannya makan sebelum melihat ke arahku lagi, "Aku tidak punya tampang seseorang yang menyukai hal-hal lucu kan?"

Aku menghela napas lega, entah untuk alasan apa. "Ya, kamu lebih terlihat seperti makhluk haus darah yang membunuh orang tanpa ragu." Aku berbohong. Mereka berdua terlihat menggemaskan. Seungcheol mengingatkanku dengan sosok papa yang dulu. Papa yang terlihat begitu bahagia ketika aku makan dengan lahap, yang akan mengusap kepalaku sambil memuji.

Tak kusangka aku akan mengenal sisi yang lain dari Seungcheol. Ia yang biasanya arogan dan menyebalkan, rupanya menyembunyikan diri yang hangat dan peduli. Itu menyadarkanku, aku tak seharusnya melihat semuanya seperti dua dimensi. Dimana ia hanya memiliki satu sisi. Duniaku tak pernah benar-benar gelap, karna toh kutemukan kembali kehangatan dalam hari-hariku yang beku.

.

.

Hari-hari selanjutnya diisi oleh wajah dan suara Seungcheol. Ia masih meminum darahku ketika lapar. Untuk menghindari mama, Seungcheol akan menghubungiku lewat pesan singkat dan menjemputku di tempat kerja. Kami akan pergi ke apartemen miliknya di sisi lain kota Seoul, jauh dari tempatku. Bukan sebuah kastil besar di tengah hutan yang tampak angker dengan sarang laba-laba dan kelelawar. Tempat Seungcheol benar-benar biasa dengan satu kamar tidur dan ruang tamu yang jadi satu dengan dapur. Selanjutnya aku hanya tinggal duduk di pangkuannya dan menonton televisi selama dia makan lewat tanganku.

Sesekali kami hanya menghabiskan waktu berdua seperti teman biasa, singgah ke warung makanan kecil atau sekedar berkeliling kota di sore hari sambil berharap kami tidak akan bertemu Joshua atau Seokmin.

Kadang aku menemaninya ke game center dan menonton Seungcheol menghentakan kakinya saat bermain Pump. Awalnya aku tidak tertarik, aku tak pernah punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang bersifat rekreasional di tengah kalutnya alur hidupku. Tapi ajakan Seungcheol untuk bermain sebuah game perang yang aku lupa namanya, mengingatkanku kalau aku seorang yang kompetitif dan benci kekalahan.

.

.

Cahaya jingga yang menyusup lewat pintu ganda kamarku menuju balkon berangsur memudar. Langit kota Seoul yang awannya seolah terbakar perlahan berubah gelap. Hari itu sekitar dua bulan setelah aku bertemu dengan Seungcheol, suatu hari di awal musim panas yang membuat keringat tak berhenti keluar dari pori-poriku meski malam telah hadir. Terima kasih banyak untuk pendingin ruangan tak berguna yang hanya menempel di dinding kamarku. Baru beberapa saat aku menginjakkan kaki di apartemen ini dan aku sudah merindukan studio tempatku bekerja yang jauh lebih sejuk dari neraka ini.

Lama kupandangi layar telepon genggamku. Pesan terakhir dari Seungcheol adalah beberapa hari yang lalu. Jika menurut kebiasaanya, Seungcheol akan memintaku datang esok hari atau lusa. Memberi makan Seungcheol perlahan menjadi sebuah kebiasaan yang nyaris spontan aku lakukan tanpa pikir panjang. Aku mulai terbiasa dengan taring-taring Seungcheol yang menembus kulit tangan atau leherku dan mulai meminum obat penambah darah rutin tanpa harus Seungcheol paksa.

Sayup aku mendengar suara ribut di luar apartemen seperti berpasang-pasang kaki berlari di koridor. Suara itu mendekat dan tiba-tiba pintu apartemenku digedor kencang. Tubuhku yang awalnya menempel dengan kasur seketika melompat dan reflek meraih pisau lipat dari dalam laci sambil memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menyapaku di pintu depan.

Pintu itu masih bergetar ketika aku meraih kenopnya dan aku buka dengan cepat. Tanpa sempat mengayunkan pisauku seseorang melesat masuk dan menutup pintu itu dengan keras. Kulihat seseorang yang familiar bersandar di pintu dengan napas yang terengah-engah.

"Seungcheol?" aku memicingkan mata melihat kain baju di bahunya robek dan mengeluarkan darah. Yang dipanggil menoleh ke arahku. Sepasang bibirnya terbuka dan keringat mengucur deras dari pelipisnya. Seungcheol mengangkat jari telunjuknya dan menaruhnya di bibir, memberi isyarat padaku untuk diam.

Suara hentak kaki yang masih terdengar di koridor semakin mendekat ke apartemenku. Mata Seungcheol melebar dan sebelum aku sempat bertanya apa yang terjadi dia sekejap menghilang di balik pintu kamarku , meninggalkanku yang berdiri mematung dalam kebingungan.

Tak lama setelahnya bel apartemenku berdering. Aku mengira-ngira, mungkin ini sumber kepanikan Seungcheol. Sekali lagi aku meraih kenop pintu dan memutarnya pelan. Celah di pintu memperlihatkan seseorang yang menggunakan seragam serba hitam. Namun rambut coklat yang ditata rapi itu sudah sangat aku kenal. Tidak salah lagi, orang inilah sumber kepanikan Seungcheol, Joshua Hong.

"Ada apa?" tanyaku singkat setelah pintu itu aku buka sedikit lebih lebar dan kuselipkan pisau lipatku di kantong celana. Mataku tak melewatkan pistol yang ada di tangan kanan Joshua. Beberapa meter di belakangnya berdiri Seokmin dan beberapa pemburu lain, sibuk memeriksa tetanggaku.

"Kami sedang patroli dan aku melihat Choi Seungcheol berlari menuju lantai tempatmu tinggal," jawab Joshua. Tangan kirinya memegang selembar foto Seungcheol yang penuh luka, mungkin diambil ketika dia menyekap Seungcheol di apartemennya dulu.

"Kalau kamu mencari Seungcheol, sayang sekali dia tidak tinggal di sini," suaraku sedikit bergetar ketika panik mulai merasukiku.

Aku tahu Joshua tidak akan secepat itu memercayai kata-kataku. Dia menghela napas sebelum meminta maaf dan mendorong pintu apartemenku. Dia melangkah masuk dan mulai melihat sekeliling ruang tamu sebelum aku mengizinkannya.

Dengan geram aku meraih bahu Joshua dan mendorongnya sedikit menjauh. "Aku pikir kamu tahu sopan santun. Apa maksudmu menerobos masuk ke rumah orang seenaknya?"

"Dan aku pikir kamu tahu kami punya izin untuk melakukan pemeriksaan di tempat yang mencurigakan," balas Joshua dingin. Dia menatap langsung ke mataku. "Aku hanya bermaksud untuk melindungi orang-orang termasuk dirimu, Jeonghan," dengan itu Joshua berjalan melewati punggungku dan memeriksa kamar mama.

Kepalaku dipenuhi dilema. Jika aku bersikeras mengusir Joshua, dia akan semakin curiga dan mungkin saja memanggil rekannya untuk menyisir seisi apartemenku. Tapi jika dia kubiarkan mencari sendiri, bukan tidak mungkin Seungcheol akan berakhir di balai kota dan ditembak mati di hadapan orang banyak. Pikiranku kacau dan amarahku mulai mendidih. Kulihat Joshua menutup pintu kamar mama setelah dia tidak menemukan apapun di sana.

"Kenapa kamu yakin sekali Seungcheol ada di sini?" tanyaku dengan gugup. Hanya itu yang muncul di kepalaku, paling tidak itu bisa mengulur waktu.

Perhatian Joshua kini teralih padaku. Wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi. "Aku mengenalmu, Jeonghan. Dan aku tahu kondisimu sekarang akan menarik banyak makhluk haus darah. Seungcheol sudah pernah merasakan darahmu, itu akan membuatnya lebih sensitif dengan keberadaanmu."

Aku menyerah. Joshua sepertinya yakin betul dia akan menemukan Seungcheol di sini. Lelaki yang pernah aku cintai itu membuka kamar Jihoon dan disambut lemparan gelas dari adikku. Ia dan Seungcheol hanya dibatasi oleh dinding dan setelah Joshua selesai dengan Jihoon dan kamarnya, hanya tersisa kamarku.

Jam dinding berdetak seperti bom waktu ketika Joshua sampai di depan kamarku. Aku tak sanggup melihat dan hanya mendengar pintu kamarku dibuka. Dalam hati aku merutuk, menyumpahi kebodohan dan ketidakberdayaanku menghadapi situasi seperti ini.

Aku beranikan diri untuk mengangkat kepalaku. Pintu kaca menuju balkon masih terkunci, Seungcheol tak mungkin meninggalkan kamarku dan itu membuatku semakin panik. Bibir bawahku aku gigit dan telapak tanganku basah, menunggu Joshua menemukan makhluk yang ia cari.

Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepalaku. Tidak, ini lebih seperti keinginan yang aku pendam sudah lama sekali dan hampir aku lupakan. Tidak punya pilihan lain, aku melesat ke arah Joshua. Di pikiranku hanya ada Seungcheol dan Seungcheol seorang.

Joshua mendengar derap kakiku di lantai dan menoleh cepat, mungkin bermaksud untuk menjelaskan kepadaku lagi tentang pentingnya patrolinya sekarang. Namun tak sempat ia mengatakan satu kata pun, sepasang bibirnya aku bungkam dengan bibirku. Kedua sisi wajahnya aku tangkup dengan tanganku, membawa kami semakin dekat.

Sejenak aku merasa seperti di dalam mimpi. Meski hanya sepihak, ciuman itu aku bawa lebih dalam. Di sela ciuman itu kubuka sedikit mataku dan kulihat mata Joshua melebar dalam kengerian. Aku tertawa dalam hati, apa menurut Joshua yang ada di depannya sekarang adalah makhluk mengerikan yang sedang menghisap nyawanya tanpa ampun?

Aku mengalungkan kedua tanganku ke leher Joshua. Jari-jariku menyisir rambutnya dan menariknya lebih dalam secara paksa. Beberapa saat kemudian Joshua tersadar dari keterkejutannya dan secepat aku menciumnya, secepat itu pula dia mendorong tubuhku menjauh darinya. Tak kulewatkan punggung tangan Joshua yang menyeka bibirnya sendiri dengan kasar. Oh ya, aku tidak pernah lupa kalau aku makhluk kotor di matanya.

"Apa maksudmu, Yoon Jeonghan?!" bentaknya. Matanya membelalak padaku yang hanya membalasnya dengan senyuman.

"Aku tak tahan, Joshua. Sudah lama aku ingin kamu datang ke kamarku dan melakukan hal yang sepasang kekasih lakukan jika mereka hanya berduaan saja. Tidakkah kamu tahu? Aku menginginkanmu. Siapa aku untuk menolak kesempatan yang aku punya sekarang?" jawabku enteng meski aku tahu semua itu hanya omong kosong. Tidak, aku tak lagi terlalu berharap Joshua akan membalas perasaanku. Sama saja sia-sia seperti hidupku.

Alis Joshua bertaut tak suka dan aku menertawakannya ketika ia berlalu dari hadapanku. Tawaku tak berhenti sampai ku dengar pintu depan ditutup. Mataku jauh memandang dinding kamarku yang kusam. Hening yang seketika menyelimuti seisi apartemen itu mencekik leherku perlahan.

Lihatlah bagaimana wajah Joshua yang begitu jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada yang apa baru aku lakukan.

Kelopak mataku berkedut dan ada rasa menyengat di belakang mataku. Bibirku gemetar dan otakku masih memainkan wajah Joshua dan begitu kerasnya dia mendorong tubuhku tadi. Dalam diriku aku luluh lantak. Rasanya tak mungkin lagi untuk menyatukan kepingan yang telah menjadi debu itu.

"Kamu boleh tertawa sekarang, Seungcheol," kataku lirih. Kudengar gesekan di lantai kamarku dari arah tempat tidur. Rupanya Seungcheol bersembunyi di sana, sungguh klise.

Tapi bukannya suara tawa Seungcheol yang kudengar menggema di kamar, hanya hening yang berlanjut dan sepasang lengan besar melingkar di pinggangku. Seungcheol memelukku dari belakang dan kepalanya tenggelam di bahuku.

Pelan aku menolehkan kepalaku untuk bertemu mata dengan Seungcheol. Roman mukanya sulit dibaca dan aku hanya bisa merasakan jarinya mengusap bibirku, menghapus sisa-sisa ciumanku dengan Joshua. Dalam jarak yang semakin berkurang antara kami berdua, kudapati kesedihan di mata Seungcheol yang gelap sebelum menutup ketika bibir kami menyatu. Aku sendiri tak sempat mengartikan tatapan Seungcheol itu dan perlahan meleleh dalam pagutannya.

Dia membalik tubuhku pelan dan memperdalam ciuman kami. Ada sesuatu yang lain dari Seungcheol. Dia berkali-kali menyapu bibirku dengan lidahnya dan melumatnya sedikit kasar. Aku ingin berpikir kalau ia tengah berusaha menghapus jejak Joshua di sana, tapi aku tak berani meninggikan harapanku. Akhirnya kunikmati saja apa yang ia berikan dan berusaha menghilangkan bayang-bayang Joshua dari pikiranku.

.

.

Aku tak pernah bertanya apa yang Seungcheol lakukan untuk membayar apartemen dan biaya makanku; dia bersikeras aku harus mengisi tubuh kurus keringku. Sampai suatu malam dia menelpon dan memintaku untuk datang ke apartemennya. Di lobi aku berhadapan dengan wajah lelah Seungcheol. Kantung mata yang menghitam di bawah matanya makin jelas terlihat dan tanpa banyak bicara ia menarik tanganku menuju elevator.

Selama di dalam elevator Seungcheol menyandarkan kepalanya di bahuku dan merangkul pinggangku. Lirih dia bergumam kalau kepalanya sakit dan aku tidak tahu harus melakukan apa selain menepuk pelan kepalanya.

Pintu elevator terbuka dan Seungcheol menarikku keluar dengan tergesa-gesa. Kaleng kopi instan berserakan di meja ruang tamu ketika kami masuk ke apartemen Seungcheol. Di atas meja itu juga ada sebuah laptop dan telepon genggam milik Seungcheol yang berdering tanda panggilan masuk.

Sejenak Seungcheol meninggalkanku di tengah ruangan untuk menjawab panggilan. Terdengar sumpah serapah dari bibirnya yang diiringi erangan 'Sudah aku kirim, bodoh, buka email-mu!'. Aku rasa Seungcheol sedang marah dan aku tidak tahu untuk apa dia menelponku. Kucoba mengalihkan perhatianku dari punggung Seungcheol dan melirik layar laptopnya. Di sana ada tabel dan diagram yang tidak aku mengerti. Dia juga sedang membuka aplikasi Skype dan halaman email di browser.

Melihat waktu Seungcheol yang begitu fleksibel, terutama untuk menguntitku ketika bekerja, aku pikir dia berasal dari keluarga bangsawan penghisap darah kaya yang tinggal di dalam kastil tua di tengah hutan seperti dalam mitos. Aku pikir dia memutuskan untuk meninggalkan kastilnya dan hidup berdampingan dengan manusia, menganggur karena harta nenek moyangnya tidak bisa dibandingkan dengan apartemen murahnya.

Tapi sepertinya aku salah. Melihat kekacauan di ruang tamu dan lelah di wajahnya, aku rasa dia seorang telecommuter yang punya banyak waktu untuk melakukan hal lain sambil bekerja.

Seungcheol baru kembali ketika aku mendudukan diri ke sofanya. Sambil mengacak rambut hitamnya, Seungcheol mengambil tempat di sampingku.

"Deadline?" tanyaku dan Seungcheol hanya menjawab dengan anggukan.

"Lalu? Untuk apa memanggilku? Aku rasa kamu bukan perlu aku, tapi perlu istirahat."

Seungcheol menoleh cepat ke arahku. Sejenak ia menatapku seolah mengatakan 'Apa kamu bodoh?' sebelum aku rasakan telapak tangannya di atas tanganku. Aku hapal betul dengan gerak-geriknya saat itu dan aku pasrah saja ketika dia menarikku ke pangkuannya. Berhadapan dengannya seperti ini membuatku gugup. Entahlah, walaupun sudah berkali-kali aku memberinya makan seperti ini sistem sarafku tetap tak bisa tenang.

Kusisihkan rambutku ke kiri, memberikan ruang untuk Seungcheol meminum darahku dengan leluasa. Sambil menjauhi tatapan matanya, kuturunkan tubuhku dan bertumpu pada bahu lebar Seungcheol sampai leherku berada tepat di depan bibirnya. Tanpa mengatakan apapun Seungcheol memulai ritualnya untuk mengurangi rasa sakit dari gigitannya nanti dengan menjilat perpotongan bahu dan leherku.

Aku tak pernah terbiasa dengan perlakuan Seungcheol ini. Susah payah aku tahan keinginan untuk bergerak dan mengeluarkan suara. Taring-taring Seungcheol kemudian perlahan menembus kulitku, perih dan ngilu. Kain baju Seungcheol aku genggam erat dan bibir bawahku aku gigit. Walau bagaimanapun rasanya tetap sangat menyakitkan sampai air mataku ikut keluar.

Wajahku tenggelam dalam bahu Seungcheol dan aku mendesis ketika Seungcheol mulai menghisap darahku. Ujung lidah Seungcheol yang konstan bergerak di sana tidak membantu mengurangi sensasinya sama sekali. Perlahan rasa sakit itu hilang dan efeknya mulai membuat seluruh tubuhku panas. Bukan lagi rintihan menahan sakit yang keluar dari bibirku namun erangan rendah yang memalukan. Kain baju Seungcheol aku gigit, berusaha meredam suaraku yang mulai tak terkendali.

Setelah beberapa saat Seungcheol akhirnya melepas taringnya dan menjilat sisa darahku yang keluar tanpa menyia-nyiakan setetes pun. Kuangkat kepalaku untuk berhadapan dengannya. Tak kulewatkan Seungcheol yang menjilat bibir bawahnya dimana darahku masih tertinggal. Matanya yang sayu balas menatapku. Tanpa sadar aku menggigit bibirku sendiri, kali ini untuk alasan yang berbeda.

Tak ada satu katapun keluar dari kami berdua ketika jarak yang memisah perlahan hilang. Bibir Seungcheol kini menjadi candu bagiku, aku takkan pernah puas merasakannya hanya sekali. Ada sedikit rasa darah di mulutnya namun itu takkan menghentikanku.

Ciuman itu berakhir ketika paru-paruku mulai meraung meminta oksigen. Entah bagaimana tangan-tangan Seungcheol sudah menyusup ke dalam kaosku. Ujung-ujung jarinya menelusuri punggungku, perlahan naik dan turun ke dalam celana jeans yang aku pakai. Aku memekik tertahan ketika tanpa aba-aba Seungcheol menampar pantatku. Ia menyeringai puas sebelum melayangkan tangannya ke bagian bawah tubuhku lagi, setiap kali semakin keras sampai aku tak bisa menahan suaraku.

Sialan memang makhluk ini.

Awalnya aku berpikir untuk balas dendam. Satu tanganku turun ke bawah perutnya dan memegang milik Seungcheol dari balik celana kain pendeknya. Kupasang ekspresi arogan ketika tanganku mulai meremas miliknya, menikmati wajah Seungcheol dari posisiku di atasnya. Bulu matanya yang panjang terlihat jelas ketika matanya terpejam. Keringat turun dari pelipis Seungcheol ke rahangnya yang mengeras. Dan yang paling aku sukai, bibirnya yang mengkilap karena ia jilat berkali-kali.

"Minggir," perintahnya singkat di antara deru napas yang mulai memburu.

Aku membulatkan mataku tak percaya, "Apa? Kita baru mulai, Seungcheol. Apa maksud-" ucapanku di potong jari telunjuk Seungcheol di bibirku.

"Aku hanya perlu ke kamar sebentar. Terakhir kali kamu protes aku tidak pakai pelindung dan aku tak mungkin menggunakan jariku tanpa pelumas kan?"

Aku menghela napas cepat sebelum merogoh pouch milikku yang tergeletak di meja, menunjukkan alat kontrasepsi yang dimaksud Seungcheol. "Dan ini-" kuraih tangan kanan Seungcheol, "-aku punya alternatifnya."

Tanpa basa-basi kumasukkan tiga jari Seungcheol ke dalam mulutku, membasahinya dengan salivaku sendiri. Sejenak kulepas tanganku dari pergelangan Seungcheol untuk memasangkan alat kontrasepsi yang aku bawa padanya. Seungcheol kembali menggigit bibir bawahnya sambil matanya lekat padaku.

Tiba-tiba dia terkekeh pelan, "Sempat-sempatnya kamu membawa kondom ke apartemenku, Jeonghan. Aku jadi tersanjung."

Aku hampir tersedak ludahku sendiri. Bajingan sombong ini benar-benar suka merusak suasana. Kulepas jarinya dari mulutku untuk membalas, "Maaf saja. Aku selalu bawa itu untuk kupakai sendiri."

Seungcheol memajukan bibirnya mendengar kalimatku. "Jadi kamu berencana untuk selingkuh dariku? Punyaku saja sudah cukup membuat lubangmu sesak, jangan ditambah lagi," ujarnya angkuh. Aku tahu dia bercanda soal 'selingkuh'.

"Sialan kau," balasku singkat sebelum melanjutkan kegiatanku yang tertunda tanpa menghiraukan tawa Seungcheol.

Laki-laki yang tak pernah aku sangka akan benar-benar melakukan hal ini denganku menarik paksa jarinya dari mulutku. Tangannya yang bebas menepuk paha kiriku. Mengerti maksudnya, kuangkat tubuhku yang masih duduk di pangkuannya. Aku sedikit menyesal memakai celana jeans ketat yang sangat merepotkan ketika harus di lepas. Jadi kubiarkan celanaku turun hanya sampai ke lutut.

Jari Seungcheol yang basah perlahan menembus bagian bawah tubuhku. Rasanya perih meski sudah berkali-kali aku melakukan hubungan seperti ini. Seungcheol menarik kepalaku dan kembali menjelajahi mulutku. Entah kenapa aku senang Seungcheol punya inisiatif untuk mengalihkan perhatianku dari persiapan kami yang menyakitkan, ketika aku sudah terbiasa menahan rasa sakit itu dengan orang-orang sebelum dirinya.

Aku sendiri yang menghentikan Seungcheol. Seulas senyuman kuberikan untuk Seungcheol, meyakinkannya aku sudah lebih dari siap. Walau akhirnya aku sadar aku tidak siap sama sekali. Aku seharusnya tak lupa Seungcheol punya yang lebih dari tiga jari, yang seolah akan merobek milikku ketika ia masuk.

Seuncheol memijit pelan pinggangku, dia tahu aku sedang menyesuaikan diri ketika aku tak bergerak sama sekali di atasnya. Tak ingin ia menunggu lama, kuangkat tubuhku dan turun perlahan. Suara kami berdua bercampur dan menggema di apartemen Seungcheol yang sepi. Kurasakan Seungcheol sedang berusaha menahan diri untuk tidak mencengkeram pinggangku dan meninggalkan bekas membiru di sana.

Tiba-tiba air mataku keluar. Bukan karena sakit, tapi karena Seungcheol tak langsung menyerangku dengan kasar seperti yang lain ketika aku berusaha menyesuaikan diri. Ia bahkan membantuku untuk bergerak. Matanya dipenuhi nafsu namun ada sedikit kekhawatiran di sana.

Ketika kaki-kakiku mulai tak mampu menopang berat badan, Seungcheol mengangkat dan merebahkanku di sofa. Tangannya memijit pelan pahaku sambil ia membubuhi leherku dengan kecupan. Sejenak mata kami bertemu. Dalam waktu yang singkat itu kuabadikan setiap detail wajah Seungcheol. Pipinya yang bersemu merah dan napas yang keluar dari bibirnya, semua aku simpan dalam benakku.

"Buka kakimu untukku, Jeonghan," bisiknya rendah tepat di telingaku. Seketika seluruh tubuhku meremang. Satu lagi canduku pada Seungcheol, suaranya.

Tanpa pikir panjang kuturuti perintahnya untuk melebarkan kakiku. Ia kembali memasukiku dengan hati-hati. Tangannya naik turun menyentuh kakiku dan bibirnya melumat bibirku, mengalihkanku dari rasa sakit yang sebenarnya tak lagi aku rasakan.

Seungcheol menyatukan kami semakin dalam. Sesekali dia menghentak tubuhku dan mempercepat irama gerakannya. Oh tidak, aku tidak boleh begini. Akal sehatku yang berkabut menjerit, melarangku untuk menyelam lebih jauh dari ini. Tapi apa dayaku ketika makhluk setampan Seungcheol mendesak satu titik di dalam diriku dengan kasar?

Aku tak bisa menahan diri untuk memegang milikku sendiri, berniat mengikuti irama Seungcheol agar ini cepat berakhir. Tapi tangan Seungcheol lebih cepat menangkap pergelanganku. Dalam sekejap kedua tanganku sudah terkunci di atas kepalaku. Aku pikir aku tak bisa merasa lebih telanjang dari sekarang. Tapi dengan keadaanku yang benar-benar tak berdaya didominasi oleh Seungcheol, seluruh inderaku terasa lebih sensitif.

"Aku bisa membuatmu keluar tanpa perlu disentuh, Jeonghan," Seungcheol setengah menggeram.

Kabut memenuhi penglihatanku. Napasku tersengal dan punggungku terangkat. Jari-jari kakiku melipat ketika kurasakan puncakku semakin dekat. Namun gerakan Seungcheol tidak menunjukkan kalau dia berada di posisi yang sama denganku. Seluruh tubuhku bergetar hebat ketika pandanganku berubah putih. Kuku jariku mencakar tangan Seungcheol ketika hanya namanya yang mampu keluar dari bibirku.

"Seungcheol, henti-… hentikan!" aku merintih ketika Seungcheol belum juga melepas dirinya dariku. Gerakannya menjadi semakin liar dan tak berirama membuatku hanya bisa menjerit dan pasrah menunggu Seungcheol selesai dengan gilirannya.

Ada perasaan bangga ketika aku mengagumi sosok Seungcheol yang berada di atasku sekarang. Erangan rendah keluar dari sepasang bibirnya yang bengkak dan ia gigit kuat-kuat. Cahaya lampu di atas kami membuat butiran keringat di tubuhnya semakin jelas. Rambut hitam Seungcheol menempel di dahinya, di atas kedua matanya yang tertutup rapat dan alisnya yang bertaut. Rahangnya yang tegas mengeras dan ketika akhirnya dia merunduk untuk bertukar pandang denganku, saat itu kurasakan jantungku berdetak satu ketukan lebih cepat.

Sambil terengah-engah, seulas senyuman muncul di wajah Seungcheol. Aku tak tahan untuk tidak ikut tersenyum. Dan berbeda dari kebanyakan 'teman'ku, malam itu Seungcheol menurunan tubuhnya dan menempelkan dahi kami, sebelum mencium keningku lembut.

Air mata tak kuasa mengalir ke pipiku. Sudah lama tidak ada yang mencium keningku dan aku tahu betul, ciuman itu punya arti yang jauh lebih dalam dibandingkan di bibir atau tempat lain.

Kesalahan apa yang saat itu aku buat? Suatu kesalahan besar yang seharusnya aku hindari jauh hari.

.

.

Agustus datang tanpa aku sadari. Puncak musim panas tahun ini benar-benar melelehkan seluruh kota. Tak terasa sudah empat bulan sejak pertemuanku dengan Seungcheol malam itu. Malam dimana aku pikir aku akan menjemput kematianku tapi malah berakhir menjadi stok makanan Seuncgheol. Dan tak pernah aku bayangkan aku dan Seungcheol akan duduk berdua di atas sofa apartemenku sambil menonton televisi; beruntung mama sedang keluar bersama 'teman'nya.

Seperti biasa Seungcheol sebelumnya mengirim pesan, menanyakan keadaanku dan dimana aku berada. Tapi menit berlalu dan mata Seungcheol sama sekali tidak memerhatikan layar TV. Sepasang manik gelap itu lekat memandang wajahku dari samping. Entah apa yang makhluk ini pikirkan. Mungkin Seungcheol sudah tidak sabar menunggu makan malamnya disajikan, pikirku.

Tersenyum sendiri karena tingkah laku Seungcheol yang kadang seperti anak kecil, kuambil silet di dalam kotak P3K yang aku taruh di atas meja. Aku mengernyit ketika mata silet yang tajam menggores kulit di ujung jari telunjukku. Darah mulai keluar dari luka yang aku buat dan mulai mengalir dari jariku. Merasa sudah cukup, kujulurkan tanganku ke arah Seungcheol, mempersilakan lelaki itu menikmati makan malamnya.

Tapi ada yang lain dari Seungcheol malam itu. Air mukanya seperti sedang meringis. Bukannya meminum darahku, Seungcheol mengambil sapu tangan miliknya dan melilitkannya pada jariku yang berdarah.

Dahiku berkerut. Tidak biasanya Seungcheol melakukan itu. "Tidak sedang lapar?" tanyaku ragu. Kudengar helaan napas berat darinya. Mungkin bukan darahku yang Seungcheol inginkan. Mengingat-ingat kembali, mungkin Seungcheol sedang ingin sesuatu yang lain.

Aku tersenyum miring sebelum meraih wajahnya dan menciumnya dalam. Tapi Seungcheol tidak juga membalas ciumanku. Ia diam mematung, menyentuhku pun tidak. Alisku bertaut dan kutatap matanya ketika bibir kami terlepas.

"Ada apa?" kucoba bertanya lagi.

Seungcheol menghindari kontak mata denganku. Matanya melirik ke kanan seperti sedang berpikir. Lirih suaranya terdengar, "Aku ingin menanyakan sesuatu, Jeonghan."

"Menanyakan apa?"

Seungcheol mengangkat kepalanya, membalas tatapanku dengan ragu. "Apa kamu sedang menyukai seseorang?"

Aku terdiam, mencerna pertanyaan Seungcheol yang terkesan tiba-tiba. Pelan aku menggeleng, "Tidak, aku tidak sedang menyukai siapapun," jawabku.

Kudapati Seungcheol memutar bola matanya seolah jawabanku adalah suatu kebohongan. "Kamu tidak bisa membohongiku, Jeonghan," tegasnya.

Kutelan ludahku dengan berat. Nada bicara Seungcheol berbeda dari yang biasa ia gunakan. Dia seperti sedang marah?

"Darahmu sekarang manis. Aku bahkan bisa mencium bau yang membuatku mual itu dari sini."

Lidahku terasa kelu. Seungcheol tak pernah suka darah manis, aku masih ingat apa yang diucapkannya ketika kami pertama bertemu. Bibirku bergetar ingin mengatakan sesuatu, tapi aku sendiri tak tahu harus menjawab apa.

"Kamu mengerti apa artinya itu kan?" Seungcheol memiringkan kepala sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kamu bahagia, Jeonghan, dan alasan yang terburuk…adalah karena jatuh cinta. Bukankah di awal perjanjian kita aku sudah memintamu untuk tidak bahagia?"

"Sejak kapan?" tanyaku sedikit terbata.

Seungcheol mendengus, "Beberapa minggu. Dan selama itu aku terpaksa menelan darahmu yang mengerikan itu."

Sebelum aku sempat merangkai kalimatku lagi, Seungcheol kembali membuka mulutnya yang membuatku terperanjat:

"Aku benci darahmu sekarang. Rasanya menjijikan dan kotor seperti air got."

Menjijikan?

Kotor?

Aku sudah terbiasa dengan orang-orang disekitar yang menatapku seolah aku ini sampah, kata 'menjijikan' sudah jadi makanan harianku. Sudah cukup kata 'kotor' itu dihadiahkan Joshua untukku. Kenapa Seungcheol harus mengucapkan keduanya sekaligus? Kenapa harus Seungcheol yang mengingatkan aku tentang kenyataan itu? Kenapa Seungcheol?

Aku mengerti sekarang.

Aku dikutuk untuk menderita.

Tak sanggup aku membalas tatapan Seungcheol yang dingin. Kepalaku merunduk dalam sambil merasakan dadaku yang memanas. Ada rasa menyengat di belakang mataku seolah aku akan hancur. Tanganku spontan memegangi lututku yang terasa seperti mie basah.

"Pergi saja…" ada yang mengganjal di tenggorokanku hingga suaraku hampir-hampir tak terdengar.

"Kalau mau pergi ya pergi saja. Tidak jadi membunuhku juga tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri…"

Usai aku menyelesaikan kalimatku, Seungcheol tak kunjung bangkit dari tempatnya duduk. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Ia masih terdiam di tempatnya, memandangiku dengan air muka yang sulit dibaca.

"Apa? Kenapa masih di sini?" aku memicing, perlahan muak dengan keberadaan Seungcheol di depanku.

Seungcheol membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu tapi cepat ia tutup lagi. Ia menjauhi tatapanku lagi dan memalingkan kepala ke meja di sampingnya. Aku sedikit berharap dia akan berbalik ke arahku lagi sambil menyeringai, mengatakan padaku dia hanya bercanda meskipun bukan hari ulang tahunku. Lalu dia akan meminta darahku seperti biasa dan mengomentari acara TV yang kami tonton.

Tapi kebalikannya, Seungcheol bangkit dari sofa. Mataku mengikutinya. Ia berada tepat di hadapanku sekarang, hanya diam dan memandangiku dari atas. Ia berbisik untuk dirinya sendiri sebelum berlalu, telingaku menangkap satu kata yang samar keluar dari bibirnya "…mengecewakan."

Dengan itu Seungcheol membawa dirinya menjauh. Sekali lagi kulihat bahunya turun dan kepalanya menunduk. Ia terdiam di depan pintu masuk dan aku sempat melihat Seungcheol seperti akan menoleh tapi urung ia lakukan.

Pintu itu ia buka dengan kasar sebelum ia menginjakan kakinya keluar apartemenku. Aku berjengit ketika pintu itu ia banting dengan keras. Bingkai fotoku dan Jihoon di dekat pintu jatuh ke lantai. Kacanya pecah berserakan.

Mataku beralih menatap cangkir yang tadi Seungcheol pakai. Selalu cangkir itu. Cangkir yang awalnya milik papa sering Seungcheol pilih untuk ia gunakan sendiri. Dengan tangan yang gemetaran kuraih gagangnya. Secangkir kopi hitam yang sudah dingin itu beralih ke pangkuanku. Hati-hati aku menempelkan bibirku dan menyesap isinya.

Pahit.

Sepahit perasaan yang ada dalam diriku sekarang.

Cangkir yang tak bersalah itu aku lempar ke dinding dengan kasar. Keramiknya pecah dan bertebaran di mana-mana, beserta kopi di dalamnya yang menodai kertas dinding dan karpet. Begitu juga hatiku. Rasanya hancur berkeping-keping. Aku sudah tak sanggup memunguti puing-puingnya lagi untuk disatukan kembali. Seluruh tubuhku gemetar. Pikiranku kacau dan air mata mulai menggenang di pelupuk.

Sialan kau, Choi Seungcheol.

Harusnya aku sadar kamu benar-benar makhluk kotor bajingan yang hanya ingin memanfaatkanku. Bagaimana wajahmu yang nyaris sempurna itu menipuku habis-habisan. Tentu saja, tidak ada yang lebih lucu selain seorang naif yang mau saja dilambung tinggi kemudian jatuh ke dalam perut bumi.

Hancur sudah diriku. Aku benar-benar berantakan. Aku benar-benar akan mati rasa. Mungkin lebih parah dari Jihoon. Aku bahkan tak mampu meringis atau terisak. Hanya air mata yang membanjiri wajahku ketika kutatap kosong pintu apartemenku.

Mama benar. Seungcheol sama saja seperti papa.

Tinggalkan saja aku. Toh aku terlahir seorang diri, nantinya aku akan mati seorang diri. Apa bedanya jika hidup pun aku harus sendiri?

.

.

a.n. AKU BERHASIL CONFESS KE ABANG HOSHIT!!! GANTENG BANGET ASLINYA NJUUUUUUUU!!!! UDAH MAU SEBULAN DAN AKU GA BISA MUVON DARI SENYUMNYA *mimisan*

btw

akhirnya apdeeeettt~ maaf ya. Serius tugas kuliah mulai mengerikan (terutama corporate identity/mati)

dan sesuai janji, aku bikin adegan naena lagi hehe. Semoga lebih kotor dari sebelumnya. Kalo belum, maaf

dan aku ga pernah bosan berterimakasih banyaaakkkk banget sama yang udah sempetin baca apalagi voment, kalian obat stress ku~

lastly, vote sama comment kalian sangat aku nantikan, guys~