Chapter 5
Lucky Bet
Naruto cuma punya Masashi Kishimoto-san
Banyak kurangnye enih fict
OOC-Typo-Garing
Maklum Newbie
Bruak Bruak Bruak !
Setiap pukulan Naruto mengenai wajah Kiba, tetapi setiap pukulan Kiba ditangkis oleh Naruto. Teman sekelasnya hanya bisa menonton Naruto memukuli Kiba, saking takutnya melihat orang yang pendiam menjadi garang seperti ini
"Hentikan Naruto-kunnnn, kasihan Kiba-kun !" Teriak Hinata. Naruto yang mendengarnya langsung menghampiri Hinata
"Heh kau bilang kasihan Hyuga-san? Apa kau tidak sadar ini semua karena ulahmu. Kalau kau tidak mendekatiku, si pecundang ini tidak akan menghina ibuku, kalau dia tidak menghina ibuku, dia tidak akan babak belur seperti itu. Dan satu lagi berhentilah mengikutiku !" Ucap Naruto. Setelah itu Naruto langsung pergi meninggalkan kelasnya
Skip time
Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua murid KHS sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi tidak dengan Hinata. Hinata masih menatap bangku kosong di sebelahnya dengan tatapan kosong, sejak kejadian tadi Naruto juga belum kembali ke kelasnya, Naruto pergi tanpa ada yang tahu keberadaannya, Naruto juga melupakan tasnya yang masih tertinggal di kelas.
Hinata yang melihat tas Naruto, berinisiatif mengantarkannya karena sang pemilik belum juga mengambilnya. 'Bagaimana aku ingin mengantarkannya? Aku bahkan tidak tahu rumahnya dimana, ah mungkin Ino-chan tau' Ucap Hinata dalam hati
Hinata langsung menghampiri kedua sahabatnya
"Ano Ino-chan, apa kamu tau dimana rumah si Uzumaki itu ?" Tanya Hinata pada Ino
"Ah gomen Hinata-chan, aku tidak tau" Jawab Ino. Hinata yang mendengarnya langsung memasang raut muka kecewa.
"Tapi setauku dia itu bekerja paruh waktu di kedai ramen Hinata-chan" Sambung Ino. Raut muka Hinata langsung berubah, yang sebelumnya sedih menjadi senang
"Eh betulkah? Dimana kedai ramen itu Ino-chan?" Tanya Hinata penasaran.
"Nanti saja aku antar Hinata-chan, aku sedang ada waktu luang kok" Jawab Ino
"Ah tidak usah Ino-chan, aku bisa sendiri kok. Sekalian aku ingin minta maaf padanya soal kejadian tadi" Ucap Hinata. Sakura dan Ino menaikkan sebelah alis mereka. Mereka heran, selama mereka berteman dengan Hinata, mereka tidak pernah sama sekali melihat Hinata meminta maaf kepada seorang pria.
"Eh Sakura-chan, apa aku tidak salah dengar? Seorang Hyuga Hinata ingin meminta maaf kepada seorang pria" Ledek Ino
"Ternyata pendengaranmu sama denganku Ino-chan, mungkin kita sedang bermimpi " Jawab Sakura
"Berhentilah meledekku! Kalian jangan salah paham dulu, aku ingin minta maaf karena aku ingin memenangkan taruhan kita, mana mungkin aku menang jika dia marah padaku." Ucap Hinata geram
"Ha'i seterah kamu saja nanti aku kirim alamatnya Hinata-chan. Dan ingat misimu sudah berjalan hampir satu minggu, tapi kamu belum memperlihatkan hasil sedikitpun, hehe" Ucap Ino sambil tertawa meledek
"Teruslah meledekku Ino-chan, kau tunggu saja hukumanmu tidak lama lagi" Balas Hinata
Skip time
"Ko-san, bisa kau antar aku ke alamat ini?" Pinta Hinata seraya menunjukkan alamat
"Ha'ii Hinata-sama" Balas supir Hinata. Setelah itu Hinata dan supirnya menuju kedai ramen.
5 menit kemudian
"Hinata-sama, bukankah itu pemuda yang bersama anda waktu itu?" Ujar supir Hinata
"Siapa maksudmu Ko-san?" Balas Hinata
"Itu pemuda yang berambut pirang, yang sedang duduk di taman"
Ujar Ko. Hinata langsung melihat orang yang dimaksud oleh supirnya itu.
"Berhenti " Hinata berteriak. Ko langsung mengerem mendadak
"Anda mengagetkan saya saja Hinata-sama. Kenapa kita tidak mendekatinya saja?" Saran Ko
"Tidak, kita di sini saja"Jawab Hinata
"Eh, apa anda mengagumi pemuda itu diam-diam Hinata-sama?" Ledek Ko
"Itu bukan urusanmu Ko-san, bisakah kau tidak menanyakan hal-hal seperti itu !" Bentak Hinata
"Gomennasai Hinata-sama" Ujar Ko
Beberapa menit kemudian
"Hinata-sama, sepertinya temanmu itu ingin pergi ke suatu tempat"
Ucap Ko memberitahu Hinata
"Ah iya, kita ikuti saja dia Ko-san, tapi jangan sampai ketahuan kita harus jaga jarak" Ujar Hinata
"Ha'ii Hinata-sama" Jawab Ko
Pelan-pelan Hinata dan supirnya mengikuti Naruto sampai ke kedai ramen tempat Naruto bekerja.
"Berhenti di sini saja Ko-san. Kau boleh pulang duluan Ko-san" Ujar Hinata
"Ah baiklah Hinata-sama. Hubungi saya saja Hinata-sama jika anda membutuhkan saya" Balas Ko
"Ha'ii arigatou Ko-san" Ucap Hinata, lalu Ko langsung meninggalkan Hinata
Setelah Ko meninggalkannya, Hinata langsung masuk ke dalam kedai ramen
"Selamat sore nona, anda ingin memesan apa?" Sapa pemilik kedai ramen a.k.a Teuchi
"Selamat sore paman, sebenarnya aku ingin bertemu dengan temanku." Jawab Hinata
"Tunggu sebentar, apakah anda nona Hinata? Putri Hyuga Hiashi?" Pertanyaan Teuchi hanya dibalas anggukan oleh Hinata "Mana mungkin anda memiliki teman di sini, haha. Di sini hanya ada aku, anakku, dan pegawaiku. Tidak mungkin salah satu dari kami adalah teman anda Hinata-sama" Ucap Teuchi yang bingung
"Kalau aku boleh tau, siapa nama anak anda dan siapa nama pegawai anda paman?" Tanya Hinata
"Anakku namanya Ayame, dan pegawaiku namanya Uzumaki Naruto. Apakah mereka salah satu temanmu ? Haha mana mungkin" Ujar Teuchi dengan tawanya
"Kenapa tidak mungkin paman? Naruto-kun memang temanku" Balas Hinata dengan senyuman
"Naruto-kun? Dia pernah memberi tahuku kalau dia tidak memiliki teman Hinata-sama" Kata Teuchi bingung.
"Benarkah? Berarti dia bohong, boleh aku bertemu dengannya paman?" Pinta Hinata
"Tentu boleh Hinata-sama. Biar saya panggilkan, ngomong-ngomong anda mau memesan apa Hinata-sama?" Tanya
"Arigatou paman, aku Miso Ramen saja" Jawab Hinata
"Baiklah, tunggu sebentar ya Hinata-sama" Ujar Teuchi dibalas anggukan oleh Hinata
"Naruto-kun ke sini sebentar, ada temanmu yang ingin menemuimu" Teriak Teuchi
"Teman? Bukankah aku sudah bilang padamu Teuchi-ji kalau aku tidak memiliki teman" Jawab Naruto
"Tapi dia bilang kalau dia temanmu. Kamu temuilah sebentar, biar paman yang mengerjakan pekerjaanmu" Ujar Teuchi
"Ha'ii paman tunggu sebentar" Setelah itu Naruto langsung menemui 'teman'nya
"Naruto-kun" Sapa Hinata 'Oh kami-sama ujian apalagi yang kau berikan? Kenapa wanita ini muncul lagi' Keluh Naruto
"Bukankah sudah kukatakan jangan mengikuti aku lagi Hyuga-san" Ucap Naruto dingin.
"Aku kesini ingin meminta maaf kepadamu Naruto-kun, dan aku ingin mengantarkan tasmu" Ujar Hinata sambil memberikan tas
"Kamu tidak perlu meminta maaf Hyuga-san, aku yang bersalah karena termakan emosi hanya karena omongan Inuzuka-san. Dan terima kasih telah mengantarkan tasku" Ucap Naruto
"Naruto-kun, tolong bawakan Miso Ramen untuk Hinata-sama" Teriak Teuchi
"Ha'ii Teuchi-ji" Jawab Naruto
10 menit kemudian
Hinata sudah selesai memakan pesanannya, dan sekarang dia bingung mau apa.
"Apa kau sudah selesai Hyuga-san? " Tanya Naruto
"Sudah Naruto-kun" Jawab Hinata "Kalau sudah tidak ada yang diperlukan, pulanglah Hyuga-san" Suruh Naruto
"Apa kamu mengusirku Naruto-kun?" Ucap Hinata dengan wajah sedih "Tidak, aku hanya memberimu saran" Jawab Naruto tanpa ekspresi
"Aku juga ingin pulang, tapi supirku sudah pulang duluan Naruto-kun" Curhat Hinata "Aku tidak bertanya tentang itu Hyuga-san" Jawab Naruto dingin "Bukankah orang kaya bisa menyuruh supirnya kapan saja? Kenapa kau tidak telpon saja" Sambung Naruto
"Tidak semua orang kaya seperti yang kamu kira Naruto-kun, lagipula supirku sedang tidak bisa, karena sedang mengantarkan Tou-san ku" Balas Hinata
"Tapi menurutku kalian itu sama". Balas Naruto "Kalau sudah tidak ada yang diperlukan lagi, aku sebaiknya melanjutkan pekerjaanku lagi" Pamit Naruto langsung menuju dapur.
"Apa anda sudah ingin pulang Hinata-sama ?" Sapa Teuchi
"Ah iya paman, arigatou ramennya paman" Balas Hinata dengan lembut.
"Apa anda dijemput supir anda Hinata-sama?" Tanya Teuchi
"Tidak paman, aku pulang sendiri. Supirku sedang mengantar Tou-san ku" Jawab Hinata
"Apa anda ingin saya meminta Naruto-kun untuk mengantar anda?" Tanya Teuchi
"Mana mungkin Naruto-kun mau mengantarku paman. Melihat wajahku saja seolah-olah dia jijik" Hinata memasang muka melas.
"Tentu saja dia mau, serahkan saja semuanya pada saya Hinata-sama" Ujar Teuchi dengan percaya diri. "Naruto-kun, Hinata-sama ingin kamu mengantarnya pulang" Teriak Teuchi
Naruto yang mendengarnya kaget "Aku tidak mau Teuchi-ji-san. Lagipula aku masih ada pekerjaan di sini." Tolak Naruto
"Biarkan saja pekerjaan itu, Ayame-chan bisa mengerjakannya sendirian. Kamu antar saja Hinata-sama, ini perintah Naruto-kun dari ku sebagai bossmu." Ucap Teuchi
"Baiklah baiklah" Balas Naruto 'Merepotkan sekali wanita itu' Runtuk Naruto dalam hati.
"Arigatou, aku pamit dulu ya paman, besok aku ke sini lagi "
Pamit Hinata pada Teuchi
"Iya Hinata-sama, saya akan senang jika anda datang ke sini lagi " Balas Teuchi
"Cepatlah Hyuga-san, kau mau kuantar atau tidak" Ucap Naruto
"Iya iya Naruto-kun, kamu ini tidak sabaran sekali" Balas Hinata dan tidak mendapatkan jawaban dari Naruto
Diperjalanan yang selalu memulai pembicaraan di antara mereka adalah Hinata, kadang Naruto menjawab dengan singkat dan kadang tidak menjawab.
"Nee Naruto-kun, apa kamu memiliki seseorang yang kamu sayangi?" Tanya Hinata dan hanya dijawab anggukan oleh Naruto
"Boleh aku tau siapa itu Naruto-kun?" Tanya Hinata penasaran
"Kaa-chan dan Hana-chan" Jawab Naruto singkat
"Maksudku bukan seperti itu Naruto-kun, maksudku seperti laki-laki menyayangi perempuan!" Ujar Hinata kesal
"Aku menyayangi mereka, seperti laki-laki menyayangi perempuan"Balas Naruto
"Bukan seperti itu, contohnya seperti... Ano.. seperti Aku menyayangimu Naruto-kun" Ujar Hinata malu malu. Dan Naruto tidak membalasnya
"Apa kamu tidak menyayangiku Naruto-kun?" Tanya Hinata penasaran. "Tidak" Jawab Naruto singkat
"Lalu, apa yang kamu rasakan terhadapku Naruto-kun?" Hinata penasaran dengan perasaan Naruto terhadapnya
"Membencimu" Jalan Hinata terhenti mendengar jawaban Naruto "Kau mau pulang, atau hanya berdiam diri di situ Hyuga-san" Hinata tersadar dari lamunannya 'Walaupun dia membenciku setidaknya dia peduli padaku, itu masih memberiku harapan untuk mendapatkannya' Kata Hinata dalam hati.
"Boleh aku bertanya Naruto-kun? Kenapa kamu membenciku?" Pertanyaan Hinata yang lain.
"Aku tidak membenci dirimu Hyuga-san, aku hanya membenci sifatmu, sifat kalian itu semua sama saja, kalian orang kaya itu semua sama menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang dan semuanya bisa diselesaikan dengan uang. Dan jika kalian menginginkan sesuatu, kalian harus mendapatkannya tanpa memperdulikan orang lain. Itulah kenapa aku membencimu Hyuga-san" Jawab Naruto dengan tegas
Hinata terdiam, dia mencerna bait per bait perkataan Naruto. 'Apa semua yang dibicarakan Naruto-kun benar?' Gumamnya dalam hati
"Apa rumahmu masih jauh Hyuga-san?" Tanya Naruto membangunkan Hinata dari lamunannya
"Sedikit lagi Naruto-kun" Jawab Hinata
5 menit kemudian
"Ah kita sudah sampai Naruto-kun, kamu cukup mengantarku sampai sini saja, kalau Ayahku melihat bisa repot jika aku diantar seorang pria" Ujar Hinata, Naruto hanya mengangguk
"Arigatou Naruto-kun" Ucap Hinata "Hn" hanya itulah jawaban Naruto, setelah itu dia pulang ke rumahnya
"Tadaiimaa Kaa-chan, Hana-chan" Sapa Naruto
"Okaeri Naruto-kun/Okaeri Naruto-nii-chan" Jawab Kushina dan Hana
"Kaa-chan memasak apa hari ini?" Tanya Naruto
"Kaa-chan memasak sayuran Naruto-kun, kamu ganti pakaianmu dulu, Kaa-chan dan Hana-chan menunggu di ruang tamu" Jawab Kaa-chan. Memang sudah kebiasaan keluarga Uzumaki makan malam di ruang tamu.
"Ha'ii Kaa-chan" Jawab Naruto langsung mengganti pakaiannya
5 menit kemudian
"Kamu harus banyak-banyak memakan sayuran Naruto-kun, supaya kamu terus sehat, biaya berobat kan mahal, sedangkan kita hanya orang miskin. Pasti kamu tidak ingin melihat Kaa-chan sengsara kan?"Ucap Kushina
"Ha'ii Kaa-chan aku akan memakan sayuran yang banyak agar Kaa-chan selalu tersenyum" Ucap Naruto sambil mengecup dahi Kaa-channya. Tetapi ada yang cemburu Naruto mengecup dahi Kaa-channya
"Nee Naruto-nii-chan kenapa hanya Kaa-chan yang dicium, aku kan juga mau" Ucap Hana sambil menggembungkan pipinya. Itu membuatnya tampak lucu sekali, semua orang serasa ingin mengigitnya.
"Rupanya imotou ku yang lucu ini cemburu pada Kaa-channya. Khusus untuk Hana-chan aku beri tiga ciuman" Balas Naruto sambil mengecup dahi dan kedua pipi adiknya itu
'Kami-sama aku mohon jangan pisahkan keluarga kami. Aku memohon kepadamu dengan sangat Kami-sama' Do'a Naruto dalam hati
Skip time
Sinar matahari dan kicauan burung menghiasi kota Tokyo di pagi hari. Semua penduduk Tokyo sedang menjalani rutinitasnya, tak terkecuali Uzumaki Naruto. Pemuda yang memiliki rambut pirang dan mata biru sebiru lautan itu juga sedang menjalani rutinitasnya di pagi hari yaitu berangkat ke sekolah dan mengantar adiknya sekolah, karena jalur sekolahnya melewati jalur sekolah adiknya.
Jarak rumah Naruto ke sekolah kira-kira 30 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Alasan kenapa Naruto berjalan kaki menuju sekolahnya ada 2 yaitu pertama Naruto tidak memiliki kendaraan dan kedua karena dia lebih suka jalan kaki.
30 menit kemudian
Uzumaki Naruto memasuki ruang kelasnya. Dan seperti biasa dia mendapatkan tatapan tidak mengenakan dari teman sekelasnya terutama Inuzuka tidak langsung menuju ke tempat duduknya tetapi dia malah menuju ke tempat duduk Inuzuka Kiba. Semua teman sekelasnya memasang muka cemas mengingat sejadian kemarin yang melibatkan Uzumaki Naruto dan Inuzuka Kiba tak terkecuali Hinata.
'Apa yang akan Naruto-kun lakukan terhadap Kiba-kun' Pikir Hinata, hal-hal negatif langsung memenuhi pikiran Hinata, tapi yang ada di pikiran Hinata tidak ada yang terjadi.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin Inuzuka-san" Ucap Naruto yang sudah berada di depan Kiba
'Syukurlah, ternyata Naruto-kun tidak seperti yang aku kira' Batin Hinata
"Heh, kau kira hanya dengan minta maaf semua urusan ini bisa selesai Uzumaki? Heh bodoh sekali kalau kau berfikir begitu" Ucap Kiba kesal. Hinata yang melihatnya langsung menghampiri keduanya
"Sudahlah Kiba-kun, Naruto-kun kan sudah minta maaf kepadamu, kenapa kamu tidak memaafkannya?" Saran Hinata sambil tersenyum kepada Kiba
"Tapi kan Hinata-chan..." Belum selesai Kiba berbicara sudah dipotong oleh Hinata
"Kumohon Kiba-kun, untukku?" Ucap Hinata
"Baiklah-baiklah, kalau bukan karena Hinata-chan, aku tidak akan memaafkanmu Uzumaki" Ucap Kiba tepat di depan wajah Naruto.
"Aku hanya ingin minta maaf, masalah kau memaafkanku atau tidak itu urusanmu Inuzuka-san. Lagipula kejadian kemarin tidak sepenuhnya salahku. Dan untukmu Hyuga-san, perkataan ku yang kemarin masih berlaku" Ucap Naruto dingin, lalu berjalan menuju bangkunya.
Flashback
"Hentikan Naruto-kunnnn, kasihan Kiba-kun !" Teriak Hinata. Naruto yang mendengarnya langsung menghampiri Hinata
"Heh kau bilang kasihan Hyuga-san? Apa kau tidak sadar ini semua karena ulahmu. Kalau kau tidak mendekatiku, si pecundang ini tidak akan menghina ibuku, kalau dia tidak menghina ibuku, dia tidak akan babak belur seperti itu. Dan satu lagi berhentilah mengikutiku !" Ucap Naruto. Setelah itu Naruto langsung pergi meninggalkan kelasnya
Flashback End
Hinata terdiam mendengar perkataan Naruto, entah kenapa mendengar Naruto yang mengatakan hal itu menyayat hati Hinata. Kiba yang mendengarnya merasa kesal pada Naruto.
Naruto langsung menuju ke tempat duduknya. Sampai ditempat duduknya, Naruto tidak langsung duduk tetapi mengambil tas yang ada dibangkunya lalu berniat memindahkannya. Belum sempat Naruto memindahkan tas tersebut sudah direbut oleh pemiliknya.
"Aku bisa memindahkannya sendiri Naruto-kun" Ucap Hinata dengan nada sedikit tinggi
"Arigatou Hyuga-san. Dengan begitu aku tidak perlu repot" Balas Naruto dingin. Mendengar itu Hinata langsung menuju tempat duduk asalnya bersama Yamanaka Ino.
"Kutebak acara mengantarkan tasnya kemarin tidak berjalan lancar, nee Hinata-chan? Dilihat dari sikapnya yang tidak berubah terhadapmu kuanggap iya" Bisik perempuan berambut pirang kepada sahabatnya
"Jawabanmu ada salahnya dan ada betulnya Ino-chan" Jawab perempuan bermata Lavender "Kemarin Naruto-kun mengantarku pulang, apakah kamu menganggapnya itu kegagalan?" Sambungnya dengan bangga.
Ino mengerutkan dahinya.'Mana mungkin pria sedingin Naruto-kun ingin mengantar Hinata-chan pulang ke rumahnya' Batin Ino 'Apa aku baru saja menyebut namanya dengan suffix -kun? Sadarlah Ino, buang perasaanmu terhadap Uzumaki itu' Gumam Ino
"Kenapa kamu melamun Ino-chan? Apa kamu tidak percaya?" Hinata membuyarkan pikiran Ino.
"Tidak Hinata-chan, aku percaya. Tapi yang aku heran, kenapa sikapnya tidak berubah terhadapmu Hinata-chan?" Tanya wanita yang memiliki rambut pirang.
"Sudahlah jangan dibahas Ino-chan, aku tidak ingin membahasnya" Jawab siswi terpopuler di KHS kepada sahabatnya.
"Kenapa begitu? Apa kamu membohongiku Hinata-chan? Atau mungkin si Uzumaki itu mengantarmu karena terpaksa? Atau karena kasihan padamu Hinata-chan?" Balas Ino kembali meledek sahabatnya.
"Mana mungkin Hyuga Hinata dikasihani oleh Uzumaki Naruto. Apa kamu bercanda Ino-chan ?"
"Seterah kamu saja Hinata-chan, aku harap kamu membuktikannya bukan hanya omong kosong, waktumu hanya tersisa 3 minggu Hinata-chan" Ino mengingatkan sahabatnya yang berambut Indigo itu.
"Kamu tidak perlu terus menerus memberi tahuku Ino-chan, aku juga mengetahuinya, kau hanya perlu memberi tahuku jika batas waktuku sudah habis, dan kau bisa menagih taruhan kita. Dan itu mustahil, karena Hyuga Hinata tidak pernah gagal" Jawab Hinata dengan nada kesombongan di bagian akhir
"Terserah kamu saja Hinata-chan, kelak kesombonganm itu akan memberimu pelajaran" Ucap Ino malas jika sahabatnya sudah mengeluarkan kesomobongannya.
Pelajaran sudah dimulai, tapi Hinata masih saja memikirkan perkataan Naruto. 'Bagaimana caraku mendapatkannya kalau dia melarangku mengikutinya' Batin Hinata bertanya-tanya cara mendapatkan Uzumaki Naruto.
Beberapa menit kemudian Hinata menemukan ide 'Ah, aku tanyakan saja nanti pada paman pemilik kedai Ramen, diakan dekat sekali dengan Naruto-kun'
"Hinata-san, apa kamu melamun di jam pelajaranku?"Tanya sensei yang sedang mengajar di kelas Hinata. Tetapi tidak mendapat jawaban dari orang yang ditanyakan.
Teman sebangku Hinata menyenggol Hinata dengan sikutnya untuk membangunkan Hinata dari lamunannya."Hinata-chan" Bisik teman sebangku Hinata
"Ya kenapa Ino-chan?" Jawab Hinata masih setengah sadar.
"Sensei memanggilmu" Mendengar perkataan Ino, otak Hinata langsung bekerja keras mencernanya. Kemudian dia langsung menatap senseinya yang sudah menatapnya tajam.
"Ano gomennasai sensei, aku sedang melamun tadi" Ucap Hinata yang merasa bersalah.
"Kelasku bukan kelas untuk melamun Hinata-san, jika kamu ingin melanjutkan lamunanmu, kamu bisa melakukannya tapi tidak di dalam kelasku" Ucap sensei yang mulai kesal dengan Hinata.
"Tidak sensei, gomen. Aku tidak akan melamun lagi sensei" Balas Hinata
Skip time
Bel tanda akhirnya pelajaran hari ini berbunyi. Seluruh murid berhamburan meninggalkan kelasnya untuk pulang ke rumahnya masing-masing kecuali Uzumaki Naruto.
Pemuda pirang masih sibuk dengan tugasnya, ya karena kebiasaanya yaitu menyelesaikan semua tugasnya sebelum hari libur. Karena dia tidak ingin liburan bersama Kaa-channya dan Hana-chan terganggu karena tugas sekolahnya yang belum diselesaikan.
Liburan Naruto memang selalu ia habiskan bersama Ibu dan adiknya, karena di hari biasa dia hanya bertemu Ibu dan Adiknya sebentar saja, hanya sekedar sarapan dan makan malam, karena pulang sekolah dia harus bekerja paruh waktu. Itulah sebabnya dia selalu menghabiskan liburannya bersama dengan Ibu dan adiknya.
Naruto dengan serius mengerjakan tugasnya dan sesekali melirik jam tangannya. 'Mudah-mudah saja tidak terlambat' Batin Naruto. Selesai mengerjakan tugasnya, Naruto buru-buru merapikan bukunya, lalu pergi meninggalkan kelasnya.
Ketika Naruto sampai di pintu gerbang sekolah, seorang gadis langsung menghampirinya.
"Naruto-kun" Sapa seorang gadis cantik yang memiliki sepasang mata lavender.
"Maaf Hyuga-san, aku sedang terburu-buru. Lain kali saja, Jaa" Naruto hendak melanjutkan perjalanannya, sebelum si gadis cantik itu menawarkan Naruto sesuatu yang membuat Naruto berfikir.
"Apa kamu mau ke kedai ramen? Kalau iya, kamu bisa bareng denganku"
'Ah baiklah, kurasa jika aku terima tawarannya tidak apa-apa. Daripada aku terlambat'
"Baiklah Hyuga-san" Setelah menerima tawaran gadis itu, Naruto dan gadis itu langsung masuk ke dalam mobil dan menuju kedai ramen.
Setelah sampai di tujuan, mereka berdua turun dari mobil
"Arigatou Hyuga-san" Ucap Naruto berterima kasih kepada gadis yang memberinya tumpangan sambil membungkuk 90 derajat.
"Hihi, kamu lucu sekali Naruto-kun, tidak usah berlebihan seperti itu." Ucap gadis tersebut, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah supirnya "Arigatou Ko-san, kau boleh pulang duluan nanti aku hubungi jika ada yang kuperlukan" Ucapnya kepada supirnya
"Baik Hinata-sama" Setelah itu Hinata kembali mengarahkan pandangannya ke pemuda yang sudah ia berikan tumpangan, tetapi pemuda itu sudah tidak ada.
'Huh, dasar tidak tau terima kasih' Batinnya sebal. Pemuda yang diberikan tumpangannya ternyata mendahuluinya.
"Sore Teuchi-ji aku tidak terlambatkan?" Sapa Naruto kepada bosnya.
"Tidak Naruto-kun, cepat sana bantu Ayame-chan. Sepertinya dia perlu bantuan" Balas bosnya
"Ha'ii Teuchi-ji-san" Naruto langsung menjalankan perintah bosnya
"Halo Ayame-nee-chan, apa yang bisa kubantu?" Sapa Naruto kepada anak bosnya.
"Ah Naruto-kun, tolong buatkan pesanan ini" Jawab anak gadis pemilik kedai ramen itu sambil memberikan kertas dengan catatan.
"Siap Nyonya"
Di tempat Hinata
"Sore paman" Sapa Hinata kepada pemilik kedai ramen.
"Ah Hinata-sama, anda datang lagi. Apa anda datang sendirian Hinata-sama?" Yang disapa menjawab dengan senang.
"Tidak paman, sebenarnya aku ke sini dengan supirku dan Naruto-kun, tapi Naruto-kun malah meninggalkanku" Hinata memasang wajah sedih.
"Oh begitu, Saya kira anda datang sendirian. Anda ingin memesan apa Hinata-sama?" Tanya pemilik kedai ramen tersebut.
"Ah seperti kemarin saja paman. 1 mangkuk Miso ramen, dan aku ingin Naruto-kun yang membuatkannya paman" Jawab Hinata dengan senyuman.
"Eh apa anda menyukai Naruto-kun? Hinata-sama?" Jantung Hinata langsung berdetak mendengar pertanyaan bos Naruto ini. 'Kenapa jantungku jadi tidak karuan begini, aku tidak menyukainya tinggal jawab saja'
"Ehhhh? Tidak paman, aku ingin Naruto-kun yang membuatnya karena ramen buatan Naruto-kun lezat paman" Jawab Hinata kikuk
"Darimana anda tau ramen buatan Naruto-kun itu lezat?"
"Bukankah kemarin Naruto-kun yang membuatkan ramen untukku paman? Apa paman lupa" Jawab Hinata risih ditanya oleh
"Ah iya, saya lupa. Saya kira anda menyukai Naruto-kun haha" Jawab Teuchi dibarengi tawanya.
"Memang aku menyukainya paman" Ucap Hinata dengan suara pelan.
"Apa anda mengatakan sesuatu Hinata-sama?" Tanya pemilik kedai ramen yang merasa bahwa gadis di depannya itu mengatakan sesuatu.
"Ehh? Tidak. Mungkin paman salah dengar" Jawab Hinata panik. 'Apa yang baru saja kau katakan Hinata-baka? Untung saja paman tidak mendengar jelas' batin Hinata .
"Hm, baiklah" , " Naruto-kun, tolong buatkan Miso ramen untuk Hinata-sama" Teriak pemilik kedai ramen kepada pegawainya tersebut.
"Baik Teuchi-ji" Balas Naruto.
5 menit kemudian
"Ini pesananmu Hyuga-san" Ucap Naruto sambil memberikan semangkuk Miso ramen.
"Arigatou Naruto-kun" Jawab Hinata senang karena pesanannya sudah datang dan terutama karena Naruto. Melihat ekspresi Hinata membuat Teuchi-ji-san tersenyum.
"Kenapa anda senang sekali Hinata-sama? Apakah karena pesanan anda atau karena Naruto-kun ?" Goda Teuchi-ji-san. Sedangkan yang digoda panik karena aksinya ketauan, Naruto hanya mengerutkan dahinya. 'Apa yang Teuchi-ji pikirkan?' Batin Naruto.
"Ehh? Tentu saja karena makananku paman, kenapa aku harus senang melihat Naruto-kun ?" Hinata menjawab spontan karena saking paniknya.
"Hehe aku hanya bercanda, jangan terlalu serius Hinata-sama" Jawab Teuchi dengan santai.
"Berhentilah bercanda seperti itu. Atau aku tidak akan datang lagi kesini" Ancam Hinata, yang diancam langsung panik. Bagaimana tidak, dengan kedatangan Hinata 2 hari ini kedai ramennya menjadi ramai, karena hampir semua orang tau Hyuga Hinata. Kalau Hinata tidak mengunjungi kedai ramennya, bisa-bisa kedainya menjadi sepi.
Teuchi ingin meminta maaf kepada Hinata karena bercandaannya, agar Hinata tetap mengunjungi kedainya sebelum Naruto mendahuluinya.
"Kalau kau tidak datang kesini lagi, itu bagus sekali Hyuga-san" Jawab Naruto dingin, Teuchi semakin panik
"Apa yang kamu katakan Naruto-kun? Kalau Hinata-sama tidak ke sini lagi, kedaiku akan sepi" Ucap Teuchi
"Heh, apakah begitu caramu membalas orang yang memberikan tumpangan padamu, nee Naruto-kun ?" Ucap Hinata dengan kesombongan tersembunyi.
"Aku kan tidak memintamu untuk mengantarku Hyuga-san" Balas Naruto
"Ano maafkan saya dan Naruto-kun, Hinata-sama. Tolong jangan berhenti mengunjungi kedai saya. Saya akan menyuruh Naruto mengantar anda jika anda tetap datang ke sini. Bagaimana Hinata-sama?" Mohon Teuchi dengan tulus. Naruto yang disangkut pautkan langsung membuka suara
"Ehh? Kenapa aku harus mengantarnya setiap kali dia ke sini Teuchi-ji-san?" Ucap Naruto tidak suka. Sedangkan Hinata hanya tersenyum mendengar tawaran yang diberikan pemilik kedai ramen padanya. 'Heh bagus juga apa yang paman tawarkan' Batin Hinata.
"Sudahlah Naruto-kun, lakukan saja atau aku akan memecatmu" Ancam bos kedai ramen, Naruto langsung terdiam jika diancam akan dipecat. Karena Naruto sangat membutuhkan uang untuk keperluannya sehari-hari. Kalau sampai dia dipecat dia terpaksa menggunakan uang yang ditransferkan oleh ayahnya. Dan Naruto tidak sudi jika harus menggunakan kembali uang dari ayahnya.
"Baiklah Teuchi-ji-san" Ucap Naruto pasrah. Sedangkan Hinata memasang wajah dengan senyuman liciknya.
"Baiklah aku terima tawaranmu paman, tetapi Naruto-kun harus mengantarku pulang setiap kali aku ke sini" Hinata yang merayu pemilik kedai ramen
"Baik Hinata-sama" Ucap Teuchi senang, kemudian menoleh ke arah Naruto "Kamu tidak keberatan kan Naruto-kun?" Tanyanya sambil menatap tajam Naruto
"Ha'ii Teuchi-jiisan dan paman tidak perlu menatapku seperti itu" Ucap Naruto terpaksa. Sedangkan Hinata dan Teuchi hanya tersenyum dengan senyum kemenangan.
Skip time
Seperti yang sudah dijanjikan tadi, Naruto harus mengantar Hinata pulang ke rumahnya jika Hinata berkunjung ke kedai ramen di tempat Naruto bekerja. Sebenarnya Naruto tidak ingin, tapi karena ancaman dari bosnya jika dia tidak melakukannya maka bosnya akan memecatnya. Jadi, Naruto terpaksa harus mengantar pulang Hinata.
"Nee Naruto-kun, kenapa kau diam saja?' Sapa Hinata yang bosan, karena sepanjang perjalanan mereka belum melakukan percakapan sama sekali.
"Aku hanya disuruh mengantarmu Hyuga-san bukan untuk berbicara denganmu" Balas Naruto dingin. Hinata memasang wajah sedihnya.
"Apa kamu hanya mengantarku karena perintah paman?" Tanya Hinata dijawab anggukan oleh Naruto "Kalau begitu, besok aku akan bilang ke paman kalau aku akan tetap mengunjungi kedai ramennya meskipun kamu tidak mengantarku" Sambungnya
"Tidak perlu Hyuga-san, itu akan membahayakan karirku. Lagipula tidak baik membiarkan wanita pulang sendirian" Mendengar bagian terakhir ucapan Naruto membuat Hinata tersenyum. Lalu tanpa sadar Hinata memeluk tangan Naruto.
Naruto yang kaget dengan tingkah Hinata, langsung melepas pelukan Hinata "Aku mengantarmu bukan berarti kau bisa bermesraan denganku Hyuga-san" Ucap Naruto kesal
"A-a-anno Gomen Naruto-kun" Ucap Hinata menyesal. 'Apa-apaan kau ini Hinata-baka. Kenapa kau memeluknya, bisa-bisa dia semakin menjauh darimu dan kau akan lebih susah untuk mendapatkannya' Batin Hinata menyesali perbuatannya.
"Kita sudah sampai Hyuga-san, kalau begitu aku ingin kembali bekerja Jaa ne" Ucap Naruto langsung pergi namun tangannya ditahan oleh Hinata. Naruto menaikkan sebelah alisnya.
"Arigatou Naruto-kun, walaupun kamu tidak senang mengantarku tetapi aku senang diantar olehmu' Ucap Hinata sambil tersenyum lalu melepaskan tangan Naruto.
Naruto hanya membalas dengan "Hn".
Skip time
Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang melelahkan, Naruto langsung pulang ke rumahnya. Naruto sudah tidak sabar ingin bertemu Ibu dan adiknya dan ingin membahas rencana liburan yang setiap minggu Naruto lakukan bersama Ibu dan adiknya. Bayangan dia berlibur bersama Ibu dan adiknya membuat Naruto mempercepat jalannya agar lebih cepat sampai ke rumahnya.
"Tadaima" Sapa Naruto kepada penghuni rumah. Setelah itu terdengar langkah kaki mendekati pintu rumahnya, kemudian pintu itu terbuka memperlihatkan dua wanita yang sangat dicintai Naruto.
"Okaeri Naru-kunn/Okaeri Naruto-nii-chan" Jawab kedua wanita itu bersamaan dengan senyuman yang tulus. Setelah itu Naruto langsung membuka sepatunya dan menyalin bajunya, kemudian Naruto turun ke ruang tamu untuk makan malam bersama Ibu dan adiknya.
"Nee Kaa-chan, Hana-chan apa kalian sudah memikirkan kemana kita akan berlibur besok?" Naruto memulai percakapan, mendengar Onii-channya berbicara soal liburan Hana cemberut. Naruto memperhatikan adiknya itu, tidak biasanya dia cemberut saat ditanya tentang liburan.
"Ah Kaa-chan tidak ikut dulu Naru-kun, Kaa-chan ingin berberes rumah dulu besok. Tapi katanya Hana-chan ingin ke pantai " Jawab Kaa-channya Naruto. 'Oh jadi Hana-chan cemberut karena Kaa-chan tidak ikut' Batin Naruto
"Kamu tidak usah cemberut seperti itu Hana-chan, kan masih ada Onii-chan, lagipula hari minggu kita kan masih bisa makan bersama Kaa-chan di Ichiraku ramen" Mendengar perkataan kakaknya senyum langsung terukir di wajah Hana.
"Sudahlah kalian makan dulu, setelah itu tidur. Kalian tidak mau kan kalau terlambat besok ke pantainya?" Mendengar ucapan Kaa-channya kedua bersaudara itu langsung menyantap makanannya.
"Itadakimasu" Ucap keduanya bersamaan.
Skip time
Sinar matahari memasuki rumah keluarga Uzumaki melalui jendela, menandakan malam sudah berganti pagi, tetapi Uzumaki Naruto masih saja asyik bergelut dengan gulingnyan. Sedangkan ibu dan adiknya sedang sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk ke pantai nanti.
"Hana-chan, bangunkan Onii-chanmu. Bilang padanya sarapan sudah siap" Perintah Kushina pada anak gadisnya.
"Ha'ii Kaa-chan" Hana langsung menuju kamar Onii-channya
"Naruto-nii-chan, bangunnnn sarapaan sudah siaapp" Teriak Hana sambil menggoyang-goyangkan tubuh Onii-chan nya
"Heeumm, iya sebentar lagi Hana-chan" Jawab Naruto setengah sadar lalu tidur lagi.
"Apa Onii-chan lupa kita hari ini akan ke pantai, kalau Onii-chan tidur terus lebih baik tidak usah ke pantai" Ucap Hana ngambek, Naruto yang mendengar adiknya ngambek langsung bangun sempoyongan.
"Eh gomen, jangan dibatalkan Hana-chan. Ayo kita turun" Kemudian Mereka berdua menuju ruang makan.
"Ohayou Kaa-chan" Sapa Naruto malas
"Ohayou Naru-kun, makanlah setelah itu mandi. Kaa-chan sudah menyiapkan perlengkapanmu dan Hana-chan untuk ke pantai" Ibunya ini memang pengertian sekali pada anak-anaknya. Itu membuat Naruto dan Hana semakin menyayanginya.
"Siap kapten" Melihat tingkah Naruto, Ibu dan adiknya tersenyum geli.
Skip time
Hyuga Hinata, gadis cantik dengan rambut indigo dan mata lavender itu sedang berjalan kaki di jalanan Tokyo. Hinata ingin mengunjungi tempat yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya, Ichiraku ramen. Tempat itu menjadi tempat favoritnya bukan hanya karena ramennya yang lezat, tetapi alasan utama dia belakangan ini sering berkunjung ke Ichiraku ramen adalah pemuda yang ingin dijadikan miliknya, Uzumaki Naruto.
'Uzumaki Naruto' Entah kenapa nama itu belakangan ini seperti nyanyian yang indah di telinga Hinata. Padahal Hinata baru benar-benar mengenalnya seminggu ini.
"Selamat sore paman" Sapa Hinata kepada pemilk Ichiraku ramen sambil tersenyum.
"Ah selamat sore Hinata-sama. Apa yang membuat anda terlihat senang sekali hari ini" Tanya pemilik kedai ramen kepada Hinata yang masih tersenyum.
"Aku hanya senang karena ini hari libur, apa Naruto-kun ada paman?" Sudah diduga oleh Teuchi, yang membuat Hinata senang sebenarnya bukan libur melainkan Naruto.
"Ah Naruto-kun tidak bekerja jika hari libur Hinata-sama. Dia menghabiskan liburannya bersama Ibu dan adiknya" Mendengar penjelasan pemilik kedai ramen tersebut, senyum Hinata seketika menghilang dari wajahnya.
"Tapi anda tidak usah khawatir Hinata-sama. Biasanya Naruto-kun ke sini setiap hari minggu bersama ibu dan adiknya" Ucap Teuchi, mendengar itu lawan bicaranya lantas tersenyum.
"Aku tidak menanyakan itu paman. Lagipula aku ke sini karena ingin menikmati ramen bukan ingin bertemu Naruto-kun" Teuchi yang mendengarnya hanya tersenyum 'Semua orang akan tau kalau anda menyukai Naruto-kun, jika sikap anda seperti itu Hinata-sama' Batin Teuchi
Hari sudah mulai sore. Naruto dan Hana sudah puas bermain di pantai sekarang waktunya mereka pulang.
"Hana-chan apa kamu lapar?" Tanya Naruto kepada adiknya dan dibalas anggukan oleh adiknya.
"Baiklah setelah ini kita mampir dulu ke Ichiraku ramen" Hana tersenyum mendengarnya.
Hinata sudah selesai dengan makanannya dan ingin segera pamit pulang sebelum suara yang ia kenal mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Sore Teuchi-ji-san" Sapa pemuda berambut pirang bersama gadis cantik berambut merah yang baru saja masuk ke kedai ramen. Hinata yang melihat pemuda tersebut bersama gadis cantik merasa tidak senang 'Apa itu pacarnya Naruto-kun?' Batin Hinata
"Ah sore Naruto-kun dan ... Hana-chan" Jawab pemilik kedai ramen kepada pemuda tersebut. Naruto melihat gadis yang tidak asing baginya sedang berada di kedai tersebut.
"Sore Hyuga-san" Sapa Naruto kepada gadis tersebut. Hana mengerutkan dahinya, dan bertanya-tanya apa kakaknya mengenal orang ini? setau Hana, kakanya itu tidak memiliki teman.
"Sore Naruto-kun. Apa kamu ke sini dengan pacarmu?" Tanya Hinata penasaran dengan gadis cantik yang bersama Naruto. Pertanyaan Hinata lantas membuat Naruto, Hana, dan Teuchi tertawa.
"Apa anda cemburu dengan adiknya Naruto-kun, Hinata-sama?" Ledek Teuchi
"Ehhh? Untuk apa aku cemburu paman? Naruto-kun kan bukan siapa-siapa ku" Jawab Hinata menahan malu.
"Baiklah, kamu mau pesan apa Naruto-kun, Hana-chan ?"
"Ah satu ramen porsi besar dan satu Miso ramen" Jawab Naruto
"Baiklah tunggu sebentar Naruto-kun" Jawab pemilik kedai lalu langsung menuju ke dapur. Hana yang daritadi memperhatikan Hinata membuka suara.
"Onee-san, apa onee-san temannya Naruto-nii-chan?" Tanya Hana penasaran dengan Hinata.
"Bukan hanya teman, tapi kita adalah teman dekat" Hinata menjawab dengan senyuman. Sedangkan Naruto mengerutkan dahinya 'Apa-apaan orang ini' Batin Naruto.
"Benarkah itu Naruto-nii-chan" Tanya Hana kepada Onii-chan nya
"Tidak, bahkan kita tidak berteman. Bukankah sudah Onii-chan bilang, kalau Onii-chan tidak mempunyai teman Hana-chan ?" Jawab Naruto datar. Hinata yang mendengarnya merasa sakit di dadanya. 'Apakah aku tidak pernah dianggap sebagai temanmu Naruto-kun' Batin Hinata
To be Continued
Buat yang nunggu-nungguin Shion. Next chapter eneng Shion nya baru nongol yak.
