Lucky Bet

Naruto cuma milik Masashi Kishimoto-san

Warning: AU, OOC , Typo(s)

Genre: Drama, Romance

...

...

...

"Bukan hanya teman, tapi kita adalah teman dekat" Hinata menjawab dengan senyuman. Sedangkan Naruto mengerutkan dahinya 'Apa-apaan orang ini' Batin Naruto.

"Benarkah itu Naruto-nii-chan?" Tanya Hana kepada Onii-chan nya

"Tidak, bahkan kita tidak berteman. Bukankah sudah Onii-chan bilang, kalau Onii-chan tidak mempunyai teman Hana-chan ?" Jawab Naruto datar. Hinata yang mendengarnya merasa sakit di dadanya. 'Apakah aku tidak pernah dianggap sebagai temanmu Naruto-kun' Batin Hinata

.

Chapter 6

Mendengar penuturan Naruto bahwa pemuda tersebut tidak menganggapnya teman membuat dada Hinata terasa sesak, setelah apa yang telah Hinata lakukan untuk Naruto, tapi Naruto malah tidak menganggapnya sebagai teman. Perkataan Naruto membuat mood Hinata berubah, akhirnya dia memutuskan untuk pulang.

"Paman aku pamit pulang dulu" Hinata pamit kepada pemilik kedai ramen.

"Kenapa anda buru-buru sekali Hinata-sama? Bukankah tadi anda menanyakan Naruto-kun? Dia baru datang tapi anda malah ingin pulang" Hinata malu mendengar penjelasan dari pemilik kedai ramen tersebut 'Kenapa kau harus menyebutkan kalau aku menanyakannya, paman' batin Hinata.

Naruto mengerutkan dahinya 'Untuk apa dia menanyakanku' batin Naruto.

"A..no.. Siapa yang menanyakannya paman? Sudahlah aku pamit pulang saja, aku sedang tidak enak badan" Jawab Hinata gugup

"Eh baiklah Hinata-sama" Balas Teuchi lalu menoleh ke Naruto "Naruto-kun, tolong antarkan Hinata-sama sambil menunggu pesananmu siap" mendengarnya Naruto langsung protes.

"Ehh? Kenapa aku harus mengantarnya? Bukankah hari ini aku libur paman?"

"Ah tidak perlu paman, aku bisa sendiri" Mendengar balasan Hinata, pemilik kedai ramen semakin bingung 'tumben sekali Hinata-sama tidak mau diantar Naruto-kun, padahal kemarin dia yang meminta diantar Naruto-kun' batin Teuchi .

"Sudahlah antarkan saja Hinata-sama, Naruto-kun. Itu adalah perintah dari bosmu. Dan sebagai gantinya kamu tidak perlu membayar ramenmu" Bujuk Teuchi dan Naruto hanya bisa pasrah jika bosnya itu sudah memaksa, bisa-bisa bosnya itu memecatnya jika membantah. Lagipula dengan mengantar Hinata, Naruto jadi tidak perlu membayar ramennya.

"Baiklah, lagipula tidak baik membiarkan perempuan jalan sendirian" balas Naruto lalu menoleh ke adiknya "Kamu tunggu sebentar ya Hana-chan, kalau nii-san lama kamu boleh pulang duluan" Naruto bicara pada adiknya, yang diajak bicara hanya mengangguk.

"Ayo Hyuga-san, aku tidak mau adikku menunggu terlalu lama." Ucap Naruto yang langsung keluar dari kedai ramen tersebut dibalas anggukan oleh Hinata.

"Aku pamit dulu paman dan Hana-chan" Ucap Hinata lalu menyusul Naruto.

"Tunggu aku Naruto-kun" ucap Hinata yang berusaha mengejar Naruto

"Cepatlah Hyuga-san" balas Naruto yang tidak memperlambat langkahnya.

Selama perjalanan, Naruto dan Hinata tidak bicara apa-apa, karena tidak ada yang perlu dibicarakan menurut Naruto. Sedangkan Hinata masih mengingat perkataan Naruto saat di kedai ramen tadi yang membuat hatinya sakit.

"Nee Naruto-kun, apa kamu benar-benar tidak menganggapku teman?"

"Apa aku harus mengulang kata-kataku yang tadi, Hyuga-san?" Jawab Naruto dingin, yang bertanya memasang raut muka sedih.

"Apakah kamu sangat membenciku Naruto-kun?"

"Bukankah sudah kubilang, aku tidak membencimu aku hanya membenci sifat orang kaya sepertimu yang bertindak semaunya. Dan aku juga tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan Hyuga-san. Seminggu terakhir ini kau selalu mengikutiku, padahal sebelumnya kau tidak pernah sama sekali bicara denganku" jawab Naruto panjang lebar.

Memang apa yang diucapkan Naruto itu benar, Hinata memang tidak pernah berbicara dengan Naruto sebelumnya, bahkan Hinata tidak mengenalinya sebelum dia bertaruh dengan kedua sahabatnya itu. Padahal Hinata dan Naruto sekelas sudah hampir dua tahun.

Hinata diam seribu bahasa, hingga tidak sadar bahwa dia sudah sampai di depan gerbang mansion Hyuga.

"Ah sudah sampai Hyuga-san, kalau begitu aku pamit dulu jaa" setelah itu Naruto langsung meninggalkan Hinata.

'Tidak bisakah aku menjadi temanmu Naruto-kun?' batin Hinata

Setelah mengantar putri sulung Hyuga Hiashi dan makan siang di Ichiraku ramen. Uzumaki Naruto bersama bersama adiknya Uzumaki Hana segera kembali ke rumah mereka. Sampai di rumah, mereka merasakan ada yang aneh di rumah mereka, seperti ada orang ramai di dalam padahalkan mereka hanya tinggal dengan ibunya. Karena penasaran siapa yang berada di rumahnya, mereka mempercepat langkahnya.

"Tadaima Kaa-chan" sapa Naruto dan Hana berbarengan. Saat mereka masuk rumah pandangan mereka tertuju kepada seorang perempuan cantik berambut pucat yang tidak mereka kenal, karena mereka baru sekali melihat perempuan itu.

"Okaeri Naruto-kun, Hana-chan" jawab ibunya. Perempuan cantik itu langsung menoleh ke arah pintu dimana ada dua orang yang baru saja masuk. Dan tatapannya tidak berpindah seolah terkunci pada pemuda berambut pirang dengan mata sebiru lautan. 'Tampan sekali' gumam perempuan cantik itu dan tak sadar jika ada rona merah di pipi mulusnya.

"Naruto-kun, Hana-chan kenalkan ini Shion-chan. Dia tetangga baru kita" Naruto dan Hana langsung menghampiri perempuan cantik tersebut.

"Perkenalkan namaku Uzumaki Naruto. Senang berkenalan denganmu Shion-san" ucap Naruto datar sambil mengulurkan tangannya.

"Dan aku Uzumaki Hana. Senang berkenalan denganmu Shion-nee-chan" Ucap anak perempuan Kushina dengan gembira.

"Aku Shion, senang berkenalan denganmu Naruto-kun, Hana-chan" ucap Shion dengan rona merah di pipi sambil menyambut tangan Naruto dan Hana.

"Nee Naruto-kun, Hana-chan bisa kalian antar Shion-chan berkeliling sebentar, agar dia tahu bagaimana lingkungan di sekitar sini" ucap perempuan berambut merah kepada kedua anaknya.

.

.

.

Hana senang sekali senang sekali jika nii-san nya mendapatkan teman apalagi jika teman tersebut seorang perempuan. Meskipun belum tentu Naruto menganggap Shion sebagai temannya, setidaknya Hana berharap kalau nii-san nya itu mau berteman dengan Shion. Hana kasihan melihat Naruto yang tidak memiliki teman semenjak kakaknya itu masuk SMA.

Seingat Hana dulu Naruto pernah memiliki dua orang teman bisa dibilang sahabat ketika masih SMP yaitu Shikamaru Nara dan Sabaku Gaara. Tetapi kedua sahabat nii-san nya itu sudah tidak terlihat lagi semenjak Naruto menginjakkan kakinya di SMA.

"Nee Shion-san, apa alasanmu pindah ke Tokyo? Apa kamu memiliki masalah dengan tempat tinggalmu yang sebelumnya?" Tanya Naruto membuka pembicaraan.

"Tidak Naruto-kun, aku pindah karena aku mendapatkan beasiswa di salah satu SMA di Tokyo di Konoha High School bersama kedua temanku" Jawab Shion malu-malu.

"Apa barusan Shion-nee bilang Konoha High School?" Tanya Hana memastikan bahwa yang barusan didengar oleh telinganya tidak salah.

"Iya, memangnya kenapa Hana-chan?" Mendengar jawaban Shion membuat senyum terukir di wajah Hana.

"Itu sekolah yang sama dengan Naruto-nii"

"Eh benarkah?" Shion menatap Hana tidak percaya lalu menoleh ke Naruto "Kenapa kamu tidak bilang kalau itu sekolahmu Naruto-kun? Apa kamu tidak senang satu sekolah denganku Naruto-kun?" Tanya Shion

"Bukan seperti itu, hanya saja sekolahku lebih pantas dibilang kebun binatang untuk orang sepertiku"

"Aku tidak mengerti maksudmu Naruto-kun" Ucap Shion kebingungan.

"Sudahlah tidak usah dipikirikan Shion-san" Ucap Naruto yang melihat Shion kebingungan "Ngomong-ngomong siapa kedua temanmu yang mendapat beasiswa di KHS Shion-san?" Tanya Naruto.

"Oh kedua temanku itu Gaara-kun dan Shikamaru-kun, mereka adalah sahabatku" Mata Naruto terbelalak mendengar apa yang barusan Shion katakan.

"Apa yang kamu maksud Shabaku Gaara dan Nara Shikamaru?" Naruto penasaran, dalam hatinya berharap jika yang dimaksud Shion itu adalah kedua sahabat SMP nya.

"Bagaimana kamu bisa tau Naruto-kun? Apa kamu mengenalnya?" Mendengar jawaban Shion membuat Naruto senang. Dia akan bertemu dengan sahabatnya dulu

"Iya, mereka adalah kedua sahabatku saat di SMP. Mereka adalah teman terakhirku yang menerimaku apa adanya"

Naruto merasakan kalau hari ini adalah hari terbaiknya semenjak dia menginjakkan kakinya di SMA karena dia akan bertemu dengan sahabatnya lagi.

"Kalau mereka sahabatmu berarti aku juga sahabatmu nee Naruto-kun? Karena mereka juga sahabatku" ucap Shion penuh harap.

"Eh? Kita kan baru kenal, nanti kamu akan menyesal jika bersahabat dengan ku Shion-san" jawab Naruto datar.

"Mana mungkin aku menyesal bersahabat dengan pemuda tam- ah maksudku sebaik dirimu Naruto-kun" hampir saja Shion menyebut Naruto tampan. Jika itu terjadi bisa-bisa dia merutuki dirinya sendiri karena mulutnya yang lancang itu. Sedangkan Naruto tidak menggubris pernyataan Shion itu.

"Apa kamu mau berteman denganku Naruto-kun?". Ucap Shion dengan senyuman. Pertanyaan Shion membuat Naruto berpikir 'Jika benar dia bersahabat dengan si Nanas dan si Panda, mungkin dia orang baik. Jadi, tidak ada alasan menolaknya menjadi teman.' Batin Naruto.

"Terserah padamu saja Shion-san" ucap Naruto yang malas berdebat dengan perempuan cantik yang menjadi lawan bicaranya.

"Kalau terserah padaku. Berhentilah memanggilku seperti itu, itu terlalu formal Naruto-kun"

"Lalu aku harus memanggilmu apa?

"A-a..ano apa ya? Shion-chan juga tidak apa-apa" jawab Shion malu dengan rona merah di pipinya.

"Kenapa aku harus menurutimu? Dan apa gunanya untukku?" Ucap Naruto dingin.

"Ayolah Naruto-kun, kumohon. Kita kan bersahabat" Shion memohon dengan muka sedihnya. Sedangkan Naruto hanya bisa menghela nafas 'Percuma saja aku berdebat dengannya, sampai kapanpun tidak akan selesai' Batin Naruto.

"Baiklah Shion-chan. Apa kamu puas?" Ujar Naruto "Dan sepertinya sudah cukup mengantarmu berkeliling Shion-chan, hari sudah mulai gelap" sambung Naruto.

Lalu mereka kembali ke rumah Naruto. Sampai di rumah Naruto mereka sudah dihidangkan makan malam oleh Kushina.

"Tadaima Kaa-chan/Tadaima Kushina baa-san" Sapa seorang pemuda dan dua orang perempuan kepada penghuni rumah.

"Okaeri Naruto-kun, Hana-chan, dan Shion-chan" sambut wanita cantik berambut merah dengan senyuman.

"Naruto-kun, Hana-chan terima kasih sudah mau mengantarku mengenal lingkungan di sini" Ucap Shion dengan senyuman dan dibalas anggukan oleh Naruto dan Hana. Lalu menoleh kepada Kushina "Aku pamit dulu Kushina baa-san" pamit Shion.

"Eh? Kenapa tidak makan malam di sini dulu Shion-chan? Baa-san sudah membuat makanan untuk kalian tapi kamu malah ingin pulang"

"Iya makan malam dulu saja di sini Shion-nee. Apa Shion-nee tidak mau makan malam bersama Naruto-nii?" Ledek Hana. Yang diledek langsung merona dan bingung harus menjawab apa. Sedangkan Naruto menatap tajam adiknya, seharian ini adiknya seringkali menggoda tetangga barunya itu.

"A-a..no bukannya aku tidak mau ta-" belum sempat menyelesaikan perkataannya, tangan Shion sudah ditarik oleh Hana menuju meja makan.

"Aku tau Shion-nee tidak mungkin menolak makan malam dengan Naruto-nii. Jadi, tidak usah malu-malu" Kushina yang melihat kelakuan putrinya hanya tersenyum geli. Sedangkan yang digoda wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Hana yang melihat wajah Shion yang memerah tidak melewatkan kesempatan tersebut untuk menggoda tetangga barunya itu.

"Kenapa wajahmu merah sekali Shion-nee? Apa karena terlalu malu dengan Naruto-nii?" Lama kelamaan Naruto kesal dengan tingkah adiknya yang cantik ini.

"Berhentilah menggodanya Hana-chan. Nii-san tidak akan mengajakmu ke Ichiraku jika kamu tidak berhenti" Ancaman Naruto sangat ampuh, Hana langsung diam mendengarnya.

Makan malam Shion bersama keluarga Uzumaki berjalan dengan damai. Tidak terasa sudah larut malam, Shion memutuskan untuk pulang.

"Arigatou untuk hari ini Naruto-kun, Hana-chan, Kushina baa-san. Aku pamit dulu Jaa ne"

"Jangan sungkan untuk mampir ke sini Shion-nee. Dan jangan malu jika bertemu Naruto-nii" Hana masih sempat-sempatnya meledek tetangga barunya itu.

...

...

...

Sinar matahari telah masuk ke kamar pemuda tampan berambut pirang melewati sela-sela jendela kamarnya. Burungpun sudah mulai bernyanyi dan ayam juga sudah berlatih bernapasan. Namun penghuni kamar tersebut masih saja bergelut dengan bantal di kasurnya. Seakan dia baru pernah merasakan nikmatnya rasa kantuk yang diberikan Tuhan. Teriakan keraspun tidak juga membangunkan pemuda tampan tersebut.

"Naruto-nii bangun! Ini sudah pagi, sarapan sudah siap dan Kaa-san sudah menunggu di ruang makan" teriak Hana kepada Nii-san nya. Namun pemuda tersebut masih saja nyaman dengan keadaanya dan tidak bergerak sedikitpun. Perempuan tersebut terpaksa membangunkan dengan satu-satunya cara yang ampuh untuk membangunkan pemuda tersebut yaitu hidung Nii-san nya.

"Hahh...hahhh.. Apa yang kamu lakukan Hana-chan? Aku bisa mati jika tau" Ucap pemuda tersebut dengan ngos-ngosan.

"Abisnya Naruto-nii tidak bangun-bangun. Terpaksa Hana melakukannya" Jawab Hana "cepatlah mandi lalu sarapan. Kaa-chan sudah menunggu" Sambung Hana.

"Iyaiya cerewet"

Setelah selesai membersihkan badannya dan memilih selembar kain penutup tubuhnya. Naruto langsung menuju ruang makan. Sampai di ruang makan, Naruto bingung dengan keadaan ruang makannya. Meja makan di rumah Naruto hanya untuk 4 bangku, dan itu berarti ada 1 bangku yang kosong jika ia dan keluarganya sedang makan, tapi sekarang bangku itu hanya tersisa 1 dengan dia yang masih berdiri. Jika ia duduk maka tidak ada bangku yang kosong 'Sejak kapan anggota keluargaku bertambah' batin Naruto.

"Ohayou Naruto-kun" sambut seseorang yang mengisi bangku kosong tersebut. Ternyata orang itu adalah Shion.

"Ah Shion-chan. Ada apa kamu sarapan di rumahku? Apa orang tuamu tidak memasak sarapan untukmu hari ini?" Bagai hujan panah menusuk dada Shion. Apa Naruto tidak tau kalau orangtuanya sudah meninggal dan apa Naruto tidak suka jika dia sarapan di rumahnya. Shion pamit sambil menahan tangisnya.

"Ah jika kamu tidak mau aku di sini. Aku akan pulang saja. Maaf mengganggu sarapanmu Naruto-kun, Hana-chan, Kushina baa-san. Aku pamit" Shion langsung berlari keluar. Kushina memberi Naruto tatapan tajam.

"Siapa yang mengajarkanmu bicara seperti itu Naruto-kun?" Tanya Kushina masih dengan tatapan tajamnya yang membuat Naruto takut. Naruto bingung sekaligus takut. Bingung karena kenapa Kaa-san nya marah padahal dia hanya bertanya kepada Shion. Dan takut melihat Kaa-sannya yang marah.

"A-a..no apa yang aku katakan salah Kaa-chan? Aku kan hanya bertanya pada Shion" ucap Naruto dengan suara yang bergetar karena ketakutan.

"Kau masih bertanya? Jelas saja! Apa kamu tidak tau bahwa orang tua Shion sudah meninggal? Dan kamu baru saja menghinanya!" Kushina semakin kesal dengan sikap Naruto yang disadar dimana kesalahannya. Sedangkan Naruto hanya kaget mendengar bahwa orang tua Shion telah meninggal. Naruto langsung dipenuhi rasa bersalah.

"Gomennasai Kaa-san. Kalau begitu aku minta maaf dulu pada Shion-chan" Naruto langsung pergi menyusul Shion.

-o0o-

Shion sudah tidak dapat menahan tangisnya. Dia menangis sejadi jadinya di dalam kamarnya. Dia masih bisa terima jika Naruto tidak ingin sarapan bersamanya, tapi yang membuatnya sedih adalah kenapa Naruto harus membawa bawa orangtuanya. Kegiatan menangis Shion terganggu oleh suara bel rumahnya

Tingnong

Shion langsung menghapus air matanya lalu menuju pintu rumahnya. Saat dia membuka pintunya yang dia dapati adalah Naruto. Orang yang membuatnya menangis barusan.

"Ano Shion-chan gomennasai. Aku tidak tau jika orangtuamu sudah meninggal. Sungguh, aku baru tau setelah Kaa-chan memberi tauku tadi" ucap Naruto dengan tulus. Shion langsung berhenti menangis lalu tersenyum licik.

"Aku tidak akan memaafkanmu semudah itu"

"Tolonglah sekali lagi aku minta maaf Shion-chan"

"Aku akan memaafkanmu tetapi dengan satu syarat" Shion mencari kesempatan dalam kesedihan. Sedangkan Naruto mengerutkan dahinya.

"Eh? Kenapa begitu?

"Yasudah kalau tidak mau, berarti aku tidak akan memaafkanmu"

"Ehhh? Baiklah baiklah apa syaratnya?" Shion yang mendengarnya tersenyum dengan senyuman kemenangan.

"A-a..ku akan memaafkanmu jika kamu a-ano mau menciumku" ucap Shion malu-malu. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus sekarang. Naruto yang mendengar syarat yang diajukan itu tentu saja keberatan.

"Apa tidak ada syarat lain? Bagaimana jika aku mentraktirmu nanti siang?" Tawar Naruto. Walaupun kecewa karena Naruto tidak mau menciumnya, tapi Shion senang Naruto ingin mentraktirnya makan siang.

"Baiklah, padahal aku hanya bercanda Naruto-kun. Tapi tidak apa-apa kalau kamu ingin mentraktirku makan siang" Naruto merasa kesal karena dibohongi. Tapi itu tidak apa-apa karena dia ingin menebus kesalahannya tadi.

Naruto hanya bisa menghela napas "Baiklah, apa kamu mau ikut sarapan atau tidak? Aku tidak mau Kaa-chan memarahiku jika kamu tidak ikut" Ini benar-benar hari kemenangan untuk Shion. Pertama bisa sarapan bersama Naruto saja dia sudah senang. Apalagi nanti siang dia akan ditraktir Naruto makan siang. Sungguh kemenangan yang indah.

-o0o-

Matahari sudah mulai naik di atas kepala, dan Shion sedang menunggu Naruto menepati janjinya. Shion sudah tersenyum senyum sendiri di rumahnya, sambil menunggu Naruto menjemputnya.

Tingtong

Mendengar belnya berbunyi Shion langsung buru-buru menuju pintu rumahnya.

"Apa kamu jadi ikut atau tidak Shion-chan?" Tanya tamu Shion.

"Tentu saja, ini adalah kesempatan terbaik dalam hidupku" ucap Shion dengan senyumm

"Terserah padamu saja. Ayo cepat Kaa-chan dan Hana-chan sudah menunggu"

-o0o-

Ditempat Hinata

Perempuan berambut indigo itu sedang berkutit dengan alat riasnya. Dia ingin tampil secantik mungkin, padahal dia hanya ingin ke Ichiraku. Yang membuatnya ingin tampil secantik mungkin bukan karena tempat yang ingin didatanginya tetapi orang yang ingin ditemuinya. Ya dia ingin bertemu dengan Naruto dan keluarganya. Karena memang setiap hari minggu Naruto dan keluarganya makan siang di Ichiraku ramen.

Selesai berurusan dengan alat riasnya, kini Hinata sibuk dengan memilih kain penutup tubuhnya. Dia mencari pakain yang tidak terlalu formal tetapi sopan. Setelah menemukan pakaian yang diinginkannya, Hinata langsung menuju Ichiraku ramen diantar dengan supirnya.

Sampai di Ichiraku. Hinata menyuruh sopirnya untuk pulang duluan, karena dengan begitu Naruto akan mengantarnya pulang. Dia tersenyum licik membayangkan Naruto dipaksa Teuchi mengantarnya. Tidak menunggu waktu lama Hinata langsung menuju ke Ichiraku karena tidak sabar untuk menemui pemuda berambut pirang.

"Selamat siang paman" sapa Hinata kepada paman pemilik kedai tersebut.

"Ah Selamat siang Hinata-sama" sambut pemilik kedai ramen. Hinata seakan tidak mendengar sambutan Teuchi karena terlalu fokus mencari cari pemuda berambut pirang yang menjadi alasannya berkunjung. Tidak lama kemudian Hinata menemukan pemuda yang dicarinya sedang berasama 3 orang perempuan. ' Ah mungkin itu Ibu dan adik Naruto-kun. Tapii... Perempuan yang satu itu siapa? Apa dia kekasih Naruto-kun?' batin Hinata. Hinata penasaran lantas menghampiri ke tempat Naruto dan keluarga.

"Selamat siang Naruto-kun, baa-san, Hana-chan dan..." Hinata tidak tau siapa nama perempuan cantik yang di samping Naruto.

"Ah gomen. Aku Shion, maklum saja jika kamu tidak tau. Karena aku tetangga baru Naruto-kun. Senang berkenalan denganmu" ucap Shion sambil mengulurkan tangannya. Hinata yang mendengar Shion memanggil Naruto dengan suffix "-kun" sebenarnya Hinata merasa cemburu. Tetapi karena perempuan itu bilang hanya tetangga baru Naruto, Hinata merasa lega.

"Aku Hyuga Hinata. Calon pacar Naruto, senang berkenalan denganmu Shion-san" ucap Hinata. Naruto langsung menghadiahi Hinata tatapan tajam. Hinata yang diberi tatapan tajam oleh Naruto langsung sadar apa yang baru saja ia katakan di depan keluarga Naruto. Hinata bingung bagaimana menjelaskannya. Naruto dan Shion tidak senang mendengar apa yang baru saja Hinata katakan.

"Kenapa kamu tidak membaritahu Kaa-chan jika sedang dekat dengan wanita, nee Naruto-kun?" Tanya Kushina dengan nada yang tidak bisa diartikan. Belum sempat Naruto menjawab pertanyaan Kaa-sannya, Hinata langsung meluruskan apa yang baru saja dia katakan.

"A-a..no etto... Maksudku aku teman sekelas Naruto-kun. Iya teman sekelas Naruto-kun, sungguh" ucap Hinata gugup. Shion lega mendengarnya. Kushina yang hanya bisa mengerutkan dahinya 'Tadi dia bilang calon pacar, sekarang teman putraku, aneh sekali' batin Kushina.

"Sejak kapan kamu menjadi teman sekelasku Hyuga-san? Kalau sekelas mungkin aku setuju. Kalau teman? Maaf saja tapi aku tidak memiliki teman di sekolah, Hyuga-san" ucap Naruto dingin. Lagi-lagi hati Hinata seperti disayat, tetapi tidak hanya sekali sayatan melainka beribu ribu sayatan. Sakit sangat sakit sekali. Hinata mengurungkan niatnyauntuk menghabiskan makan siang bersama Naruto dan keluarganya hanya karena satu kalimat Naruto yang tajamnya tidak kalah dengan pedang.

"Ano, sepertinya aku ada keperluan mendadak. Aku pamit dulu Naruto-kun, Baa-san, Hana-chan dan Shion-san" Hinata langsung keluar dari Ichiraku ramen. Dia tidak mau kehadirannya malah menggagu Naruto dan keluarga.

Melihat kepergian Hinata, Kushina hanya menatap Naruto dan Naruto mengerti apa arti tatapan Kaa-sannya itu.

"Apa yang baru saja kamu katakan Naruto-kun? Apa aku pernah mengajarkanmu bicara seperti itu? Atau aku salah mendidikmu?" Ucap Kushina dengan suara yang tidak terlalu keras tetapi menekankan setiap katanya. Kushina juga tidak tau kenapa putranya ini bisa sedingin itu terhadap Hinata, padahal putranya biasa saja terhadap Shion.

"Go-gom..ennasai Kaa-chan tetapi aku memang tidak memiliki teman di sekolah" Naruto membela dirinya.

"Ya, itu karena sikap dinginmu itu!" Teriak Kushina yang hampir terdengar oleh semua pengunjung. Naruto dan Hana kaget melihat ibunya semarah itu, semarah marahnya Ibunya tidak pernah sampai berteriak seperti itu "Jangan anggap aku ibumu jika kamu tidak merubah sifatmu itu dan sebelum perempuan tadi memaafkanmu. Hana-chan, Shion-chan. Ayo kita pulang" sambung Kushina bangkit dari tempat duduknya, ketika Kushina hendak berjalan keluar kedai tangan Naruto menahannya.

"Gomennasai Kaa-chan. Aku janji akan merubah sifatku dan aku akan meminta maaf padanya. Tapi jangan menyuruhku untuk tidak menganggapmu Kaa-san" ucap Naruto sambil memeluk Ibunya. Kushina yang mendengarnya tersenyum. Ternyata rencananya berhasil. Kushina sering mendengar cerita putrinya kalau kakaknya itu tidak memiliki teman karena sifatnya yang dingin.

Flashback

Suatu hari, tepatnya sore hari. Uzumaki Hana baru saja sampai di rumahnya setelah kegiatan sekolahnya. Sampai di rumah dia sudah disambut oleh Ibunya.

"Tadaima Kaa-chan" sapa Hana kepada perempuan cantik berambut merah a.k.a Kaa-sannya.

"Okaeri ah Hana-chan sudah pulang. Cepat ke kamar dan ganti baju, setelah itu temani Kaa-chan berbelanja ke pasar untuk makan malam nanti" Hana langsung menuruti permintaan Ibunya. Tanpa memikirkan rasa lelah karena baru pulang dari sekolahnya, karena jika Ibunya yang meminta ia akan melakukannya tanpa mengeluh.

Setelah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumahnya. Hana langsung keluar dari kamarnya lalu menemui Ibunya untuk berbelanja ke pasar.

Di tengah perjalanan ke pasar, ibu dan anak itu sedang serius berbincang. Topik perbincangan mereka tidak lain adalah anggota keluarganya sendiri, Uzumaki Naruto.

"Kaa-chan. Apa Kaa-chan tau kalau Naruto-nii tidak memiliki teman di sekolah?" Hana memulai percakapannya bersama Kaa-sannya. Kushina yang mendengarnya kaget, bagaimana bisa putranya tidak memiliki teman di sekolahnya. Padahal putranya bersekolah sudah hampir 2 tahun.

"Bagaimana mungkin Nii-san mu tidak memiliki teman di sekolahnya Hana-chan? Nii-san mu itu kan baik dan ceria" Tanya Kushina.

"Naruto-nii sering bercerita pada Hana. Kalau Naruto-nii tidak memiliki teman di sekolahnya. Kaa-chan taukan kalau sekolah Naruto-nii hanya untuk orang kaya dan berprestasi?" Kushina mengangguk "Karena itu, Naruto-nii di sekolah sifatnya sangat dinign Kaa-chan. Karena murid di sekolahnya adalah orang kaya. Dan Naruto-nii menganggap semua orang kaya itu sama seperti Tou-chan. Makanya Naruto-nii tidak memiliki teman." Jelas Hana. Kushina paham betul apa yang dimaksud Hana. Naruto memang sangat membenci orang kaya, karena dia menganggap orang kaya hanya mementingkan egois, seperti Tou-sannya.

Naruto membenci Tou-sannya, Namikaze Minato bukan tanpa alasan. Dia membencinya karena Tou-sannya itu sudah meninggalkan keluarganya hanya karena bisnis. Naruto pernah bertanya pada Ibunya apa alasan Ayahnya meninggalkannya. Alasannya adalah Tou-sannya memiliki bisnis di Amerika yang harus diselesaikan dan harus meninggalkan keluarganya selama 4 tahun. Tetapi sudah 4 tahun berlalu Ayahnya tidak juga pulang ke rumahnya.

Sejak kepergian Minato, Kushina mendapatkan uang transfer untuk menghidupkan dia dan kedua anaknya. Kushina memaklumi apa yang dilakukan Minato, mungkin dia harus bekerja untuk menghidupkan keluarganya. Tapi berbeda dengan Naruto, Naruto menganggap Ayahnya itu hanya mementingkan uang dan dirinya sendiri. Itulah alasan mengapa Naruto membenci orang kaya. Karena dia menganggap semua orang kaya itu seperti ayahnya, mereka tidak hanya mementingkan kesenangan dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain.

Flashback End

Setelah meminta maaf pada Ibunya, Naruto langsung lari mengejar Hinata, wanita yang baru saja dia hancurkan hatinya karena perkataanya. Setelah berlari cukup jauh, Naruto sudah bisa mengerjar Hinata yang kini berada tidak jauh di depannya.

"Hyuga-san" teriak Naruto. Tetapi Hinata malah mempercepat langkah kaki mungilnya karena sedang tidak ingin menemui pemuda itu.

"Hyuga-san" teriak Naruto sekali lagi. Namun Hinata tetap tidak menghentikan langkahnya. Perempuan berambut indigo itu malah mempercepat langkahnya.

"Hinata" Panggilan Naruto kali ini menghentikan langkah Hinata. Mendengar Naruto memanggilnya dengan nama kecilnya entah kenapa Hinata merasa senang. Padahal pemuda itu baru saja menyakitinya tetapi Hinata malah tersenyum hanya karena panggilan Naruto terhadapnya. Bagaimana Hinata tidak senang, mengingat orang sedingin Naruto yang bahkan tidak menganggapnya teman memanggilnya dengan nama kecilnya.

Kini Naruto sudah ada di samping Hinata dengan nafas yang terengah engah. "Ada apa Naruto-kun?" Tanya Hinata yang berusaha bersikap setenang mungkin.

"Gomennasai Hinata karena perkataanku tadi, aku benar-benar minta maaf" Lagi-lagi Hinata dikagetkan dengan aksi Naruto. Tadi pemuda berambut pirang itu memanggilnya dengan nama kecilnya sekarang pemuda itu meminta maaf dengan membungkukkan badannya 90 derajat. 'Apa kepala Naruto-kun terbentur sesuatu' batin Hinata.

"Aku akan memaafkanmu tetapi dengan syarat" balas Hinata dengan tersenyum licik. Perempatan muncul di dahi Naruto.

"Apa maksudmu Hyuga-san?" Naruto kembali memanggil Hinata dengan nama klannya. Hinata mendengus kesal, baru saja ia senang karena pemuda di hadapannya memanggilnya dengan nama kecilnya.

"Pertama jika kamu mau aku maafkan. Kamu harus berhenti memanggilku dengan nama klanku. Itu seperti kamu memanggil seluruh klan ku tau?" Naruto hanya bisa menghela nafas, jika bukan karena Ibunya, dia mana mau menuruti perintah Hinata.

"Baiklah aku harus memanggilmu apa? Hinata-san?"

"Tidak itu terlalu formal Naruto-kun"

"Lalu apa? Hinata-sama" Hinata menggelengkan kepalanya.

"A-a..no aku ingin kamu memanggilku Hinata-chan" ucap Hinata dengan rona merah di pipinya.

"Baiklah H-i-n-a-t-a-chan, apa kamu sudah memaafkanku?"

"Tentu saja belummm Naruto-kun"

"Lalu apa lagi?" Tanya Naruto dengan wajah malas.

"Aku ingin Naruto-kun mengantarku ke Ichiraku ramen lagi lalu mengantarku pulang. Aku belum sempat makan siang gara-gara perkataanmu tadi tauu? Dan satu lagi, jadilah TEMANKU" Ucap Hinata dengan menekankan kata terakhirnya.

"Baiklah baiklah Hinata-chan" Naruto pasrah dibuatnya. Mendengar Naruto memanggil namanya membuat pipi mulus Hinata merona hebat.

-o0o-

Pesanan sudah ada di meja tetapi Kushina, Hana, dan Shion masih belum menyantapnya karena masih menunggu kedatangan Naruto. Tidak lama kemudian, orang yang sedang ditunggunya datang juga, tentu saja bersama perempuan cantik berambut indigo yang sedang tersenyum tidak henti-hentinya.

"Maaf Kaa-chan aku lama, semua ini gara-gara Hinata-chan meminta yang aneh-aneh" Panggilan Naruto terhadap Hinata membuat semuanya kaget. Sebelum Naruto keluar, dia memanggil Hinata dengan nama klannya, tapi sekarang dia memanggil dengan nama kecilnya dan suffix '-chan', itu cukup aneh. Tetapi Kushina tersenyum melihat sifat putranya yang langsung berubah karena ancamannya. 'Terimakasih Kami-sama telah memberiku anak yang sayang padaku' batin Kushina.

To be Continued

Link: Makasih masukannya, author udah kasih Naruto temen tuh :)

Namikaze Yuli: Minato mungkin nanti next chapter kali ya munculnya, ditunggu aja ya

Maaf baru update minna-san. Dan terima kasih buat yang sudah review, baik kritik maupun sarannya. Keep Review, Author sangat membutuhkan kritik dan sarannya.