Our Bolt
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Vinara 28
Rate: M
Genre: Family, Romance, Drama.
Warning: OOC, Mainstream, Abal, Typo, No EYD, No Tanda baca, DWWL (Dan warning-warning lainnya)
Satu jam memang waktu yang terlalu singkat untuk memikirkan apa langkah yang harus mereka ambil. Bagi Naruto, semakin lama ia berpikir maka semakin buram hasilnya. Ia memutuskan untuk mengambil langkah itu.
"Hinata, kita temui orang tua kita, dan bicarakan semuanya pada mereka." Naruto menunduk dalam-dalam, air matanya masih membekas di pelupuk, kelopak mata yang membengkak tak bisa disembunyikan.
Hinata tak jauh berbeda dengan Naruto. Surai indigonya digunkan untuk menutupi wajah yang sembab. Kedua tangan bertumpu, menyangga kening untuk menahan rasa haru dan sedih. "Mereka pasti akan marah—"
"Aku tidak akan lari lagi. Aku akan menghadapi mereka," ucap Naruto bersungguh-sungguh. Ia menegakkan kepala, menghadap Hinata. Keputusan Naruto sudah benar-benar bulat.
Nada bicara Naruto yang berubah menjadi tegas, membuat Hinata mengarahkan pandangannya menuju Naruto. Hinata tersenyum lalu mengangguk, ia menemukan kesungguhan dari pancaran mata Naruto. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar serius. Tidak ada kata yang bisa menghalanginya, Hinata memutuskan untuk setuju dan bersama-sama menanggung resiko yang akan mereka hadapi.
. . . .
Tak tahu harus berkata apa, cacian dan hinaan sukses membuat nyali Hinata menciut. Hinata merasa benar-benar hina. Ia tidak bisa menyangkal semua yang dikatakan Minato—ayah Naruto—padanya.
"Aku tidak sudi menerima menantu sepertimu. Kau tidak lebih hanya wanita pelacur yang menggoda laki-laki untuk tidur denganmu. Bahkan aku tidak yakin jika anak di dalam kandunganmu ini adalah anak dari Naruto."
"TOU-SAN!" Naruto naik pitam. Awalnya Naruto akan berbicara baik-baik, tapi jika ini yang ia dapat, Naruto tak kuasa untuk tidak menentang ayahnya sendiri. Ia tidak tahu ini benar atau salah, namun saat ini Naruto merasa sikap ayahnya sudah keterlaluan.
Naruto menarik Hinata untuk keluar dari rumah orangtuanya. Ia menyuruh Hinata untuk menunggu di luar. Awalnya Hinata tidak setuju, ia ingin menghadapinya bersama, namun Naruto memaksanya. Naruto tidak tega jika Hinata terus-terusan disalahkan.
Naruto kembali masuk ke rumahnya, atau lebih tepatnya rumah orangtuanya. Setelah lulus SMA, Naruto memutuskan untuk tinggal sendiri, ia membeli sebuah apartment yang kini ia tinggali. Tidak ada perbedaan mencolok saat tinggal di rumah dan setelah pindah di apartment, Naruto jarang bertemu dengan Minato karena pekerjaan Minato yang membuatnya jarang pulang ke rumah. Keduanya jarang berkomunikasi, sekalinya bertemu mereka pasti saling adu mulut dan berakhir dengan mengalahnya Naruto. Hal-hal yang biasa dibahas Minato adalah tentang memintanya untuk serius belajar hingga siap menjadi pewaris perusahaan yang dikelola Minato, topik lainnya tentang menjauhi Hyuuga.
Namun kali ini Naruto tidak akan mengalah. Ia akan menentang ayahnya apa pun resikonya. "Aku akan menikahinya ..." Datar Naruto sinis, setelah perdebatan panjang yang cukup rumit hingga membuat Naruto ingin berteriak dan memaki ayahnya sendiri. Sayangnya Naruto cukup tahu diri bahwa lelaki paruh baya di hadapannya ini adalah ayahnya, sosok yang seharusnya ia hormati.
"Jika kau berani keluar dari rumah ini hanya untuk wanita itu, maka jangan pernah berharap untuk kembali ke rumah ini lagi," ancam Minato. Ia menyeringai karena ancamannya itu mampu membuat Naruto terhenti untuk meninggalkan ruang tamu tersebut.
Naruto memandang wajah ayahnya lekat-lekat. Ini kah sosok ayah yang ada dalam hidupnya? Tidak ada secuil memori tentang kebersamaan mereka yang terlintas dalam ingatan Naruto. Minato tak pernah ada sebagai sosok seorang ayah, hanya uang yang terus-terusan menjejali Naruto untuk terus berpikir bahwa Minato adalah ayahnya.
Ikatan ayah dan anak bukan sekedar gen dan uang. Ada hal yang tidak didapat Naruto dari Minato. Itu cukup membuatnya yakin bahwa Hinata lebih berharga dari pada sang ayah.
Naruto mengeluarkan dompetnya, menunjukannya tepat di depan wajah Minato lalu meletakkan dompet tersebut di atas meja. "Sampai saat ini, aku masih menghargaimu sebagai seorang ayah. Tapi, aku tidak ingin menjadi seorang ayah... sepertimu."
Naruto melenggang keluar tanpa memedulikan wajah Minato yang memerah karena emosi. "Naruto?!" beberapa kali panggilan dari Minato diacuhkan.
"Naruto?! Satu langkah kakimu keluar dari rumah ini, kau tidak aku anggap sebagai anakku lagi." Ancaman untuk mempertahankan Naruto telah gagal. Minato benar-benar kesal saat Naruto menghampiri Hinata dan menggandeng tangan gadis itu untuk pergi bersama.
"Naruto-kun?" Hinata menatap wajah samping Naruto yang tampak tak bergeming. Genggaman tangan Naruto semakin erat dirasakan Hinata. Gadis itu tahu betul bahwa Naruto tengah menahan tangis.
Keduanya berhenti saat didapati ada wanita paruh baya bersurai merah tengah berdiri di halaman rumah. Matanya sembab, irisnya tertuju pada Naruto. Tatapan pilu itu seolah meminta Naruto untuk jangan pergi.
"Maaf ... Kaa-san ..." Naruto menunduk. Ia kembali berjalan, melewati sang ibu yang kini tak bisa membendung tangis.
Sebelum ditarik oleh Naruto, Hinata menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Kushina. Tidak tega melihat wanita paruh baya itu menangis pilu, Hinata mencoba menahan tarikan Naruto lalu menatap laki-laki itu lekat-lekat. "Naruto-kun, apa kau yakin?" tanya Hinata meminta kepastian.
Naruto tak mampu menatap mata Hinata lama-lama, ia mengalihkan edarannya ke jalan. Ini sudah keputusannya, meski terasa sakit, Naruto tidak bisa untuk kembali, satu-satunya jalan hanya berjalan ke depan. "Jauh lebih menyakitkan jika aku tinggal di sana dan meninggalkanmu sendirian." Suara Naruto semakin lirih hingga terdengar seperti gumaman. "Aku memilihmu, Hinata," sambung Naruto, kali ini dengan suara tegas.
Hinata tidak tahu perasaan seperti apa yang tengah ia rasakan. Rasanya bahagia saat Naruto mengatakan, 'Aku memilihmu, Hinata.' namun juga sedih karena ia mendapatkan Naruto dengan jalan seperti ini. Merebut laki-laki yang ia cintai dari tangan sang orang tua. Menyakitkan mengingat bahwa dirinya-lah penyebab terpecahnya ikatan orangtua dan anak. Benar-benar merasa bersalah karena dirinya telah menarik Naruto dalam lubang gelap tak berdasar, hanya memberinya luka tanpa tahu apakah sang pria bahagia berada disampingnya.
Benar ... tidak ada jalan untuk kembali. Seberapa menyakitkannya rasa ini, sudah tidak ada jalan untuk kembali.
Hinata melepaskan gandengan tangan Naruto. Kembali berjalan menuju rumah Naruto. Naruto kaget karena tindakan yang dilakukan Hinata, namun kehawatirannya sedikit berkurang karena Hinata hanya menghampiri Kushina.
Hinata berojigi. "Maaf ... maafkan aku. Aku berjanji akan menjaga dan mengurus Naruto-kun dengan baik." suaranya bergetar. Air mata Hinata melesat jatuh tak tertahan.
Kushina menggapai Hinata, menariknya dalam dekapan. Kedua wanita itu saling menumpahkan kesedihan.
"Jaga dia dengan baik ... Naruto tidak tahan dingin, pastikan selalu membuatnya hangat, dia sedikit ceroboh dan sering lupa meletakkan barang, dia juga tidak terlalu pintar tapi dia bisa diandalkan. Jangan biarkan dia memakan ramen banyak-banyak, minimal empat hari dalam seminggu berilah dia makanan yang sehat. Marahi dia jika dia mabuk-mabukkan, sesekali tidak apa membiarkannya meminum sake, tapi jangan biarkan dia meminum sake terlalu sering. Pastikan jaga kesehatannya ..." Kushina mengeratkan pelukannya pada Hinata, suaranya semakin parau tak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya. "Jaga anakku dengan baik ..." lanjut Kushina sebagai kata penutup. Ia melepaskan pelukannya kemudian edarannya dialihkan menatap sang buah hati yang tengah menangis.
Naruto kembali meraih tangan Hinata. Genggamannya kali ini lebih erat dari sebelumnya. Keduanya bersama-sama berojigi memberi salam perpisahan pada Kushina.
. . . .
Naruto dan Hinata semakin menegang saat suasana hening menyelimuti kediaman Hyuuga setelah mereka selesai mengatakan kebenaran.
Hiashi diam sambil menatap dua pasangan yang tengah berlutut meminta restu. Entah apa yang tengah dipikirkan. Suasana hening seperti ini jauh lebih menegangkan dari pada perdebatan panjang.
Siapa yang tak tahu dengan Hyuuga Hiashi yang terkenal dengan sifat dinginnya. Ia tak banyak berbicara namun sekalinya bertindak, ia bisa memecahkan kepala orang dengan tongkat yang selalu dibawanya.
"Neji, bawa Hinata masuk ke kamar dan kunci pintunya," ujar Hiashi sangat dingin, memerintah sang keponakan untuk membawa Hinata pergi dari ruang tamu.
Hinata terbelalak, ia menolak dengan keras, namun tarikan dari Neji terlalu kuat untuk dilawan. "Nii-san, aku mohon jangan bawa aku masuk," pinta Hinata, suaranya hampir hilang karena seharian terus menangis, ia memohon dengan sangat.
Naruto tak tinggal diam, ia segera meraih tangan Hinata yang menggapai-gapai meminta bantuan. "Jangan bawa Hinata pergi!" gertak Naruto, irisnya sangat tajam menatap Neji.
Sayangnya Naruto tak mengabaikan tatapan intimidasi dari Hiashi. Laki-laki paruh baya itu bangkit dari duduknya yang nyaman lalu memukul Naruto tepat di perut, hingga pria bersurai blonde itu tersungkur jatuh dengan mulut yang memuntahkan darah.
"Naruto-kun!" pekik Hinata, perlawanannya semakin menjadi, tangannya terus menggapai-gapai ke arah Naruto berharap Neji akan melepaskannya dan membiarkan dirinya memeluk Naruto, melindunginya dari amukan Hiashi. Sayangnya Neji tetap berkeras hati.
Hiashi sudah naik pitam, kemarahannya tak bisa ditahan. Ia menghajar Naruto habis-habisan, "Laki-laki brengsek sepertimu lebih pantas mati. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki putriku. Aku akan menuntutmu karena sudah memperkosanya."
Naruto meringkuk menahan serangan dari Hiashi. Ia tidak diberi cela untuk melawan atau pun menahan serangan. Hiashi memukuli Naruto dengan tongkat besi. Menghujaninya dari berbagai arah, termasuk pada kepalanya yang langsung mengeluarkan darah karena sabetan benda keras itu.
Naruto tak mampu lagi untuk berbicara, tenaganya sudah habis, terlebih rasa sakit yang menjalar pada tubuhnya semakin menghambatnya untuk berbicara, hanya erangan kesakitan yang keluar dari mulut Naruto.
Neji terpatung melihat perbuatan keji yang dilakukan sang paman. Tidak menyangka bahwa Hiashi setega itu. Genggamannya pada Hinata mengendor, membiarkan sepupunya lepas dan menerjang Naruto.
Hinata menangis sejadi-jadinya, bukan hanya terisak, wanita bersurai indigo itu meraung sekeras-kerasnya saat melihat dengan dekat luka yang didapat Naruto. Ia beralih menatap Hiashi, lalu bersujud di kaki sang ayah, "Tou-san aku mohon lepaskan aku, biarkan aku dan Naruto-kun pergi."
Harga diri Hiashi terkoyak karena putrinya memohon demi seorang laki-laki, terlebih pria itu adalah putra dari musuhnya sendiri. Hiashi menendang Hinata, tidak sudi menerima permohonan itu, meski Hinata putri kandungnya sendiri, Hiashi tidak segan-segan untuk bertindak kasar karena keberadaan Hinata saat ini adalah aib untuk keluarga Hyuuga.
"Aku akan membuatmu menggugurkan kandunganmu, dan akan mengirimmu ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama." Hiashi mengayunkan tongkatnya, bersiap memukul Hinata yang kini terbaring di lantai tak berdaya.
Naruto melihat itu segera menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Hantaman tongkat Hiashi sukses mengenai punggung Naruto hingga memuncratkan darah lebih banyak dari mulutnya. Naruto ambruk menindih Hinata.
"Seorang ayah, tidak akan membiarkan anaknya tersakiti dan terluka, apa lagi melukai dengan tangan sendiri. Ayah yang baik tidak akan pernah melakukan itu. Karena itu ... karena itu, aku akan melindungi anakku dengan sekuat tenaga, aku tidak akan membiarkanmu melukai bahkan membunuhnya. Jadi, jangan harap kau bisa menggugurkan kandungan Hinata selagi aku masih hidup ..." Naruto melirik tajam, guratan emosi terlihat jelas dari wajahnya, meski saat ini tubuhnya sulit digerakkan. Ia berusaha sekuat tenaga hingga titik terakhir untuk melindungi wanita dan calon anak yang ia cintai.
"Beraninya kau?! Brengsek!" Hiashi lebih emosi dari sebelumnya. Ia berniat untuk membunuh Naruto, tapi serangannya tersebut ditahan oleh Neji.
Neji memblock serangan Hiashi dan dengan cekatan ia merebut tongkat tersebut kemudian membuangnya ke sembarang. Neji berlutut di depan Hiashi, bukan hanya Neji, tapi seluruh pelayan yang ada di manshion Hyuuga dan juga adik dari Hinata—Hanabi. Mereka yang menyaksikan kejadian itu tersentuh dengan tindakan Naruto dan memilih untuk membantu mereka berdua.
"Ojii-san, aku mohon padamu lepaskan mereka." Neji memohon dengan sangat, berharap hati sang paman bisa terenyuh.
"Tou-san, biarkan Hinata Nee-san bahagia, biarkan dia pergi. Aku berjanji akan menggantikan Hinata Nee-san sebagai pewaris Hyuuga crop, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan akan mematuhi perintah Tou-san, tapi sebagai gantinya, biarkan Hinata-Nee pergi."
Pengorbanan yang dilakukan Hanabi sangat besar, menawarkan dirinya untuk kebebasan sang kakak, tentu Hinata sangat terharu dan juga sedih atas tindakan Hanabi. Gadis itu masih terlalu muda untuk memikul tanggung jawab sebagai seorang pewaris.
Hiashi tidak bisa berkata-kata lagi. Semua orang berlutut dan memohon. Iris keperakannya ia edarkan pada Naruto yang masih menindih Hinata dengan memeluk perut Hinata. Tubuh yang penuh darah itu masih berada di sana untuk melindungi Hinata.
Hiashi memejamkan matanya sejenak, "Jangan pernah muncul di hapanku lagi, jika kalian tidak ingin mati." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Hiashi. Ia memilih meninggalkan ruang tamu sebelum kembali berubah pikiran.
Naruto tersenyum, kata-kata dari Hiashi sukses membuatnya tenang untuk memejamkan mata dan membiarkan rasa sakitnya menghilang sesaat.
. . . .
Naruto mengerajap, mendapati dirinya berada di tempat asing, bau obat menguar di susul dengan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Ia tersadar setelah pingsan karena pukulan dari Hiashi. Rasa sakit itu seketika menghilang saat melihat Hinata yang tengah tertidur di kursi dengan kepala tertelungkup di kasur sambil memeluk lengannya.
Sebelah tangan Naruto yang bebas, berusaha menggapai rambut Hinata, mengusapnya dengan lembut tak tega jika harus membangunkannya. Seharian ini mereka sudah melewati hal-hal yang luar biasa. Dimulai dari kabar tentang kehamilan Hinata yang merubah kehidupannya.
Jika saja malam itu Naruto tidak melakukan 'itu' dengan Hinata, mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini. Satu botol sake tidak akan membuat Naruto mabuk. Naruto sadar saat pikiran kotor menguasainya hingga membuatnya melakukan hal itu. Awalnya hanya ingin melihat tubuh polos Hinata dan bermain sebentar, namun tanpa diduga Hinata menerima semua rangsangan darinya, desahan dari Hinata membuat Naruto gelap mata.
Naruto malu saat mengingat kejadian itu. Ia merasa benar-benar menjadi lelaki brengsek. Andai ada mesin waktu, Naruto ingin kembali pada malam itu, malam saat ia merenggut keperawanan Hinata. Naruto akan mencegah dirinya sendiri untuk menyentuh Hinata, dan merubah masa depan.
Mungkin Hinata tidak begitu menderita, seperti saat ini ...
Sayangnya tidak ada tombol restart. Tidak ada jalan untuk kembali. Bagi Naruto, jalan ini adalah jalan terbaik. Mendapatkan wanita yang ia cintai dan memilki seorang anak darinya. Tidak apa ditendang dari keluarga Namikaze, toh sekarang dirinya memiliki keluarga kecil yang akan mengisi hari-harinya.
Yang tersisa hanya rasa bersalah untuk Hinata. Apakah wanita itu mencintainya? Apakah wanita itu akan bahagia bersamanya? Naruto tidak pernah tahu. Satu-satunya yang bisa Naruto lakukan hanyalah menjaga Hinata dengan baik.
Wanita rapuh yang ada di hadapannya ini hanya sebatangkara, sama seperti dirinya. Tak apa jika tidak ada cinta. Janin yang ada dalam perut Hinata sudah cukup sebagai pengikat dirinya dengan Hinata.
Saat ini mungkin Naruto tidak tahu seperti apa perasaan Hinata. Namun untuk ke depan, Naruto akan berusaha membuat Hinata jatuh cinta padanya hingga keluarga kecilnya ini semakin sempurna.
Hinata menggeram, terbangun dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang berat menyentuh kepalanya. Iris lavender itu terlihat berkilau dan mulai berkaca-kaca ketika mendapati Naruto sudah tersadar.
"Naruto-kun, kau baik-baik saja?" pertanyaan yang tak butuh jawaban keluar begitu saja dari mulut Hinata. wanita itu terlalu khawatir hingga tidak tahu harus berbuat apa.
Naruto tersenyum ketika melihat ekspresi Hinata yang begitu panik. "Aku tidak apa-apa, Hinata," jawab Naruto, suaranya terdengar sangat lemah.
"Aku sangat takut saat kau tiba-tiba pingsan. Neji Nii-san yang membawamu ke rumah sakit, ini bantuan terakhir darinya karena Tou-san melarangnya untuk menemui kita lagi. Aku sangat bersyukur, Tou-san masih membiarkan Neji Nii-san membawamu ke rumah sakit. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika tidak ada satu orang pun dari keluarga Hyuuga yang membantu." Air mata Hinata kembali tumpah ketika mengingat keadaan Naruto yang begitu mengenaskan. "Padahal aku sudah berjanji pada Kushina Oba-san untuk menjagamu. Maaf, maaf sudah membuatmu jadi seperti ini—"
"Aku ini laki-laki. Seorang laki-laki harus bertanggung jawab sampai akhir."
Hinata menunduk, pipinya memanas. Penilaiannya terhadap Naruto benar adanya. Laki-laki yang tengah terbaring di hadapannya ini adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Hinata beruntung mendapatkannya.
"Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Naruto ketika teringat kejadian di kediaman Hyuuga. Hinata sempat tersungkur karena ditendang Hiashi.
"A-aku baik-baik saja." Rasanya senang mendapat perhatian dari pria yang dicintainya. Di balik kesedihan yang menghantamnya, terselip kebahagiaan yang begitu luar biasa. Saat ini Hinata merasa dirinya sangat egois.
"Kandunganmu, apa kandunganmu baik-baik saja ..." Naruto menggantungkan kalimatnya. Mungkin belum terbiasa menanyakannya, karena baru sehari dia mengetahui bahwa dirinya akan menjadi ayah. "A-apa a-anak kita baik-baik saja?" wajah Naruto merah merata mengatakan sesuatu yang sensitif dan belum pernah ia katakan.
'Anak kita?' jika tidak malu mungkin kini Naruto sudah tersenyum lebar dan berteriak, 'Beginikah rasanya menjadi calon ayah?' ada perasaan menggelitik dalam dadanya, seperti orang yang tengah jatuh cinta.
Wajah Hinata jauh lebih memerah dari Naruto. Hinata menunduk untuk menyamarkannya. "U-uhm, a-aku sudah memeriksanya, ka-kata dokter, di-dia baik-baik saja. Dia tak terpengaruh apa pun meski aku terguncang dan seharian menangis. A-anak kita sangat kuat." Ingin rasanya Hinata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Benar-benar ada sensasi asing saat membicarakan tentang calon buah hati. Hinata benar-benar bahagia.
Naruto menghela napas lega. "Bo-boleh-kah a-aku memelukmu?" tidak peduli jika permintaannya ini begitu egois, tidak peduli jika yang menginginkan pelukan ini hanya dirinya, Naruto benar-benar bahagia dan ingin memeluk Hinata, melepaskan segala beban dan kehawatiran yang sempat menguasainya.
Hinata mengagguk, tak mampu bersuara karena terlalu malu. Naruto meraih Hinata, membawanya dalam dekapan. Tanpa terasa keduanya meneteskan air mata bahagia.
"Ja-jadi, ka-kapan kita akan menikah?"
"Eh?"
Hinata tersentak karena pertanyaan dari Naruto. Menikah? Apa baru saja Naruto melamarnya? Tidak! ini bukan lamaran. Bukankah sudah jelas, satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah menikah. Pertanyaan tadi bukan pertanyaan special, tetapi pertanyaan wajar yang harus ditanyakan.
Hinata terdiam. Sejenak ia merasa dirinya special, namun setelah tersadar, hanya kata 'wajar' yang ia temukan. Sudah sewajarnya, bukan, Naruto menanyakan hal itu?
Naruto melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah Hinata yang tampak kosong. Naruto mengerti kenapa Hinata terdiam, tentu pertanyaan itu tidak bisa Hinata jawab, mana mungkin hanya Hinata yang menentukan tanggal pernikahan. Sepertinya Naruto salah memilih kata-kata.
"Maaf ... sepertinya aku menanyakan hal yang salah." Naruto meraih kedua telapak tangan Hinata, kemudian menggenggamnya erat.
"Apa yang dikatakan Okaa-san benar. Aku bodoh dan ceroboh, dan sekarang aku tidak mempunyai uang. Aku bukan lagi anak dari keluarga kaya, tidak ada yang special dari diriku. Maaf sudah menjadi lelaki yang buruk." Naruto terkekeh mengatakan tentang dirinya yang sekarang. "Tapi ... aku berjanji, meski aku bodoh, ceroboh bahkan tak punya uang yang banyak, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menghidupimu dan menghidupi anak kita." Naruto menatap Hinata lekat-lekat. Ia benar-benar berjanji dengan dirinya sendiri untuk menjadi seorang suami yang baik. "Aku akan berjuang demi keluarga kecil kita ... karena itu ... menikahlah denganku."
Hari ini Hinata benar-benar menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga sesaat membuatnya berpikir bahwa dirinya terkena serangan jantung. Ucapan dan tatapan mata Naruto begitu tegas, jelas terlihat kesungguhan pada wajahnya. Sekarang Hinata tidak peduli apakah perkataan itu berasal dari hati atau hanya ucapan wajar sebagai tanggung jawab. Hati Hinata sudah meleleh, sekali lagi ia terpesona dengan Naruto. Lagi dan lagi ... Hinata jatuh cinta pada pria ini. Semua perkataan Naruto membuatnya bersyukur atas takdir yang menimpanya.
"Kita ... Kita akan berjuang demi keluarga kecil kita," ulang Hinata, memperbaiki kalimat Naruto. "Uhm, a-aku mau menikah denganmu." Hinata tersenyum saat menjawab pernyataan Naruto, meski sebenarnya jawabannya tak diperlukan. Bukankah sudah jelas kalau mereka pasti akan menikah.
Rasanya seperti mimpi. Dalam sehari kehidupan mereka berubah ...
—TBC—
Sepertinya di chapter ini full NH nangis. Semoga saja gak ada reader yang nangis. Soalnya Vinara ngetik ini sambil nangis. Hahaha. Apa yang ada dalam otak Vinara, sepertinya tidak semuanya bisa dituangkan, soalnya sudah bercampur sama emosi pribadi. Habisnya yang dibahas tentang ayah sih. Vinara kan udah gak tinggal sama ayah lagi. (malah curcol) XD
Vinara harap chapter ini bisa memuaskan reader. ^^
Terima kasih yang sudah membaca dan review, maaf Vinara tidak bisa membalas review kalian, habisnya bingung mau bales apa. Yang jelas Vinara benar-benar berterima kasih dan makin bersemangat dengan adanya review dari kalian. Terutama dari teman-teman NHL Vinara yang super absurd dan kocak. Terima kasih civokannya(?)
Buat yang bertanya-tanya tentang alasan kenapa Namikaze dan Hyuuga bermusuhan. Belum bisa Vinara jelaskan di chapter ini, tunggu saja chapter-chapter selanjutnya. Dan tentang Naruto melakukan 'itu' dengan sadar. Ya! Naruto sadar, dia tidak mabuk, dia hanya khilaf, hahaha. Kalau soal flash back saat mereka uhuk gituan uhuk.. Vinara pikir-pikir dulu, mental Vinara kuat apa tidak ngetik lemon. XD tapi Vinara gak janji, jadi jangan ditagih, Vinara cuman mikir-mikir dulu, kalau pada akhirnya Vinara gak bikin, artinya Vinara gak kuattt.. hohoho.
Yosh.. sampai jumpa chapter depan (yang entah kapan updatenya) hehehe.
—Terima kasih sudah membaca—
