A/N: Apa kabar Reader? Maaf untuk chapter ini Vinara hapus bagian flashbacknya. Seperti yang Vinara katakan di chapter 4. Vinara berpikir mungkin lebih baik dihapus. Tidak peduli tanggapan kalian seperti apa. Vinara menulis untuk diri sendiri. Jika Vinara merasa tidak nyaman, Vinara akan membuangnya. Jadi jangan kecewa dengan keputusan Vinara.
Terima kasih buat yang sudah membaca dan maaf buat yang baru membaca.
Our Bolt
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Vinara 28
Rate: M
Genre: Family, Romance, Drama.
Warning: OOC, Mainstream, Abal, Typo, No EYD, No Tanda baca, (CHAPTER INI SUDAH DIRUBAH)
"Naruto-kun juga tengah mabuk." Hinata merubah posisi menjadi miring menatap Naruto yang tengah menerawang.
Terdiam cukup lama, Naruto masih menjadi orang pengecut yang tak berani mengungkapkan kebenaran. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membalas tatapan Hinata dengan berhiaskan cengiran lebar.
"Ah, benar juga. Kau mau berjanji padaku?"
"Hum?" menjawab dengan gumaman lalu mengangkat kedua alisnya.
"Lupakan kejadian malam itu dan kita mulai dari awal bagaimana?" Naruto berujar sedikit memohon dengan nada merayu.
Hinata terdiam cukup lama, masih dengan memandang sepasang bola mata biru itu. Apa yang diucapkan Naruto ada benarnya. Toh tidak ada yang dirugikan.
"Uhm, baiklah."
Keduanya tersenyum bebarengan tanpa sadar kepala mereka mengangguk dan membuat jarak keduanya begitu dekat. Tentu dengan refleks keduanya menjaga jarak, kembali pada posisi berbaring menatap langit-langit. Keheningan kembali dirasakan, keduanya terlihat canggung untuk memulai bicara atau bahkan bersuara.
Sayangnya tidak dengan Hinata, wanita itu menguap tanpa sadar, pertanda bahwa dia sudah sangat mengantuk.
Naruto terkekeh ia kembali menghadap Hinata, "Oyasumi ..." mengecup singkat kening Hinata lalu mengecup perut datar Hinata. Kemudian cepat-cepat ia merubah posisi menjadi memunggungi Hinata karena takut sang istri melihat rona di wajahnya.
Mendapat perlakuan seperti itu di malam pengantinnya tentu membuatnya tercengang sekaligus bahagia setengah mati. "Oyasumi mo ..." balas Hinata berbisik.
Memandang punggung suaminya dan mulai menutup mata. Senyumnya mungkin tak akan luntur meski ia sudah terbuai ke alam mimpi.
~oOo~
Naruto menggeliat, meregangkan tubuh. Jemarinya mengusap kelopak mata yang sepertinya masih enggan terbuka.
"Ini dimana?" tanyanya bergumam, namun tanpa perlu dijawab otaknya sudah merespon tentang kehidupan barunya. Ia terkekeh merutuki kebodohannya yang lupa bahwa dia sekarang sudah menjadi suami dari Hyuuga Hinata.
Setelah otaknya bekerja dengan benar, ia mencari-cari Hinata, namun sayangnya sang istri sudah terbangun, terbukti dengan aroma masakan yang menguar dari dapur dan secara ajaib membuat perutnya merespon dengan bersuara nyaring.
Ia berjalan menuju dapur, mendapati punggung sang istri yang tengah sibuk. Ingin rasanya menghampiri dan memeluknya dari belakang lalu mencium pipinya dan mengucapkan salam selamat pagi. Hanya saja Naruto lebih memilih duduk di kursi dan memandangi Hinata yang tengah memasak.
"Eh? Ohayou Naruto-kun, aku tidak tahu kalau kau sudah bangun." Hinata sedikit terkejut saat menengok ke belakang dan mendapati Naruto sudah berada di sana tengah memangku dagu.
"Ohayou mo Hinata. Masakanmu yang tercium begitu enak ini memaksaku untuk membuka mata—"
"Eh? Apa aku sudah mengganggu tidur Naruto-kun?" potong Hinata cepat-cepat, melihat wajah lelah Naruto membuatnya bersalah, apa lagi semalam mereka tidur begitu larut setelah menyelesaikan menata barang-barang di rumah— meski tidak benar-benar selesai.
Naruto menggeleng cepat, "Tidak, tentu saja tidak. Aku sudah bangun lalu mencium aroma masakanmu, jadi aku ingin cepat-cepat memakannya. Kau samasekali tidak mengganggu, Hinata," terang Naruto, dan diikuti suara perut Naruto yang berbunyi begitu nyaring, "Aku lapar." Lanjutnya dengan cengiran.
Hinata terkikik, "Kalau begitu, Naruto-kun harus makan yang banyak, lalu kembali istirahat, aku yakin Naruto-kun sangat lelah." Hinata mengangkat panci berisi sup untuk diletakkan di atas meja.
Mata Naruto membulat menatap sup yang tersanding tepat di hadapannya. Semua masakan Hinata terlihat enak di matanya.
Naruto terus-terusan memandangi Hinata. Mulai dari menurunkan semua lauk yang dimasak, menyiapkan mangkuk dan sumpit untuk diletakkan di atas meja, kemudian sampai saat Hinata memberikan nasi ke mangkuknya dan tentunya membuatnya tersentak kaget dan berpura-pura tengah menatap hal lain.
"Selamat makan..."
"Oh ya, Hinata. Hari ini aku akan keluar dan mencari kerja. Maaf ya, seharusnya hari ini aku menemanimu seharian, meski tidak berbulan madu, setidaknya menghabiskan waktu bersama untuk pengantin baru. Tapi.. temanku menelpon, dia mengatakan mempunyai pekerjaan untukku." Naruto berbicara lirih takut-takut Hinata marah.
Hinata tak marah, ia hanya menghela napas panjang. Bukan karena kecewa, tapi karena khawatir pasalnya tubuh Naruto masih begitu lelah apalagi luka yang didapat dari ayahnya beberapa hari lalu belum benar-benar pulih.
"Apa aku tidak diijinkan untuk keluar?" mata Naruto memelas.
"Tentu saja Naruto-kun boleh pergi mencari kerja. Tapi... Naruto-kun harus berjanji untuk beristirahat dengan cukup."
Naruto tersenyum lebar. "Terima kasih Hinata."
Hinata menghantar kepergian Naruto dengan memandang punggung suaminya yang mulai menjauh. Teringat perkataan Kushina tentang Naruto yang tak tahan dingin, terbesit membuat syal untuk sang suami. Selain murah, ia juga mendapat kesibukan saat berada di rumah sendrian.
Hinata tersenyum kemudian kembali memasuki rumah karena suhu di luar begitu rendah.
~oOo~
"Jadi pekerjaan apa yang akan kau tawarkan padaku?" Naruto berjongkok di gang kosong, mengeratkan jaket mencoba membuat tubuhnya lebih hangat.
Pria berkulit pucat yang tengah bersandar di dinding sedikit berdehem, "Pekerjaan mudah dan menghasilkan uang yang banyak," jawabnya santai dengan nada yang begitu dingin.
Naruto menyipitkan matanya, temannya yang satu ini memang penuh misteri. Dia begitu tertutup tentang kehidupan pribadinya termasuk pekerjaan yang tengah ia jalani. Meskipun begitu Sai adalah teman yang cukup pintar di kampusnya, dia juga baik dan suka membantu, meski dicap playboy oleh kaum wanita.
"Pekerjaan seperti apa itu?"
Sai ikut berjongkok, ia meraih telinga Naruto untuk dibisikkan sesuatu.
"AAPPAA?" teriak Naruto kaget, ia bahkan refleks mundur dan menjauhi pemuda berkulit pucat yang tengah menatapnya bosan, seolah reaksi seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari.
"Kau tidak mau?"
"Kau gila! Aku sudah menikah, mana mungkin aku melakukan itu." Naruto berdiri membelakangi Sai, ia mencengkram jemarinya erat-erat hingga buku-buku kukunya memutih.
"Kau tidak harus melakukannya jika kau tidak mau, kau hanya menemani mereka saja. Lagi pula bayarannya mahal. Apa kau benar tidak mau?" Sai menaikkan sebelah alisnya, menatap Naruto yang kini berada lebih tinggi darinya. Ia ikut berdiri, masih menatap Naruto rendah.
Tak mau membalas tatapan mata Sai, Naruto memalingkan mukanya, ia berpikir cukup keras atas tawaran Sai. Bagaimana pun ia sudah menikah, dan tidak mungkin melakukan pekerjaan itu meski tak melewati batas.
"Apa kau tidak menyadari daya tarikmu? Belakangan ini pria berkulit gelap sedang banyak dicari oleh mereka. Kau benar tidak tertarik—?"
"Maaf Sai," potong Naruto lirih. "Aku tidak akan pernah mau menemani tante-tante genit, aku tidak sama denganmu. Meski aku belum menikah sekali pun, aku tetap tidak mau melakukan pekerjaan itu. Tidak! meski aku tidak diminta untuk menemani tidur." tanpa menatap Sai kembali, ia berjalan meninggalkan gang itu.
Sai memandang punggung Naruto yang mulai menjauh kemudian berdecih kesal. "Anak orang kaya sepertimu memang tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang. Ah, aku lupa. Kau bukan lagi anak orang kaya, kau akan merasakan bagaimana susahnya mencari uang, dan saat itu terjadi kau akan datang padaku dan mengemis meminta pekerjaan itu."
"Apa kau pikir begitu?" menghentikan langkahnya, ia cukup kesal mendengar penuturan Sai.
"Tenang saja, penawaranku untukmu akan selalu berlaku."
"Simpan saja sendiri, Sai. Aku tidak akan pernah memintanya."
~oOo~
Safir itu menatap lekat-lekat berkas yang ada di hadapannya. Kedua tangannya ia sangga sambil berpikir dengan keras. Ia menghela napas panjang kemudian menatap laki-laki bermasker yang saat ini ada di depannya.
"Aku terlalu sibuk sampai tidak tahu bahwa mereka tinggal bersebelahan." Menghela napas panjang atas kecerobohannya, "Seharusnya aku terus mengontrol Naruto. Aku percaya begitu saja saat dia berkata ingin mendalami bisnis property."
"Saya mengerti keresahan anda, tapi dia hanya seorang remaja."
Pandangan Minato mengeras, "Siapa yang memintamu untuk berpendapat?" potongnya dan berhasil membuat laki-laki bermasker itu mengkerut.
Edarannya kembali beralih menatap kertas-kertas yang tergeletak di atas meja, "Apa mereka benar tidak tahu bahwa aku yang membeli apartment mereka?"
Kakashi mengangguk, tak berani untuk bersuara kembali.
"Pastikan kau merahasiakannya, terutama Kushina, jangan sampai istriku mengetahui hal ini."
Lagi, Kakashi menjawab dengan anggukan.
"Aku ingin lihat, sampai kapan ia bertahan di luar sana."
~oOo~
Tidak tahu ingin melakukan apa, akhirnya Hinata membongkar sisa-sisa kardus yang masih belum dibereskan. Menata perabotan-perabotan kecil untuk mengisi waktu senggangnya.
Jemarinya menemukan kardus yang menyimpan buku-buku. Bibirnya melengkung membentuk senyuman, namun terlihat begitu hambar. Dia dan Naruto berada dalam satu fakultas. Tak jarang ia mendapat tugas satu kelompok dengan Naruto.
Ia menurunkan satu persatu buku-buku tersebut. Lavendernya menemukan selembar kertas berisi desain sebuah rumah yang belum jadi. Rumah itu cukup minimalis, namun terkesan unik. Itu adalah desain yang Naruto buat ketika dengan iseng Sakura melontarkan pertanyaan tentang bagaimana gambaran 'rumah idaman'.
Hinata membukanya lebar-lebar, ia memperhatikan dengan seksama, terdapat tiga kamar dalam desain itu. Gaya bangunannya cukup unik dengan bentuk melingkar dan terdapat balkon di bagian atas rumah itu. Hinata berpikir, jika saja ditambah ayunan kayu di sana, mungkin terlihat lebih bagus. Ia tersenyum tanpa sadar.
Sayangnya rumah itu hanya sebuah desain saja ...
.
Udara musim dingin mulai terasa menusuk kulit. Jaket yang Naruto kenakan tak mampu menghalau hawa dingin yang terus saja mencubiti kulitnya. Ia bergegas memasuki sebuah kedai yang cukup sepi, berharap mendapatkan sesuatu yang hangat di sana.
"Paman, ramen miso level 10 satu mangkuk." Naruto menggosok-gosokkan tangannya lalu mengambil tempat duduk.
"Ha'i. Eh?" paman pemilik kedai sedikit tersentak saat melihat Naruto.
Begitu pun degan Naruto, dia kaget saat mendapati paman pemilik kedai bereaksi seperti itu. Padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Naruto memiringkan kepala, "Apa ada yang aneh denganku?" tanyanya bingung sambil meraba-raba wajahnya barangkali terdapat beda aneh di sana.
Pria paruh baya itu merubah ekspresi menjadi tersenyum lalu menggeleng. "Tidak ada yang aneh, hanya saja aku merasa familiar dengan wajahmu." Meletakkan ramen pesanan Naruto, paman itu menatap Naruto lekat-lekat. "Benar-benar mirip."
Naruto mengernyit memikirkan perkataan paman itu. "Mirip dengan siapa?"
Teuchi—paman pemilik kedai itu kembali pada pekerjaannya yaitu membersihkan mangkuk, namun bukan berarti mengabaikan Naruto, terbukti dia mulai membuka suara, "Dulu ada dua pemuda yang selalu makan di sini, salah satu di antaranya mirip denganmu. Namanya Minato—"
"Uhuk.. uhuk.." Naruto terbatuk-batuk saat indra pendengarannya mendengar nama seseorang yang sangat ia kenal. Ia meraih air yang disodorkan kemudian menenggaknya habis, namun kemudian ia tak berkomentar dan lebih memilih mendengarkan kelanjutan cerita paman Teuchi.
"Mereka berasal dari desa yang berbeda. Merantau ke konoha untuk mencari pekerjaan. Karena nasib yang sama, membuat hubungan mereka lebih dari sahabat—"
Naruto kembali tersedak, namun tak sampai terbatuk-batuk. Ia meletakkan sumpitnya karena lebih tertarik mendengar cerita dari pada menghabiskan mie tersebut. "Sahabat?" tanya Naruto antusia.
"Ya, mereka sangat dekat layaknya saudara."
"Kalau boleh tahu, siapa pria satunya?" karena Naruto tidak pernah mendengar ayahnya mempunyai seorang sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara. Ayahnya sangat dingin mana mungkin memiliki hubungan seperti itu dengan orang lain.
Teuchi mengernyit karena reaksi ingin tahu Naruto yang kelewat berlebihan. "Apa kau anak Minato? Wajah kalian terlihat begitu mirip sampai aku kira bahwa dia kembali muda."
Naruto terdiam, ia mengira bisa mengetahui tanpa memberitahu bahwa dirinya adalah anak Minato. Ternyata darah lebih kental dari air. Tanpa berbicara, kemiripan wajah sudah menjawab semuanya. Naruto mengangguk. "Uhm."
"Tapi ... dia tidak pernah bercerita bahwa dia berasal dari desa dan pernah memakan ramen di pinggir jalan, dia juga tidak pernah bercerita memiliki sahabat."
Teuchi mengusap dagunya, "Benar juga, dia tidak akan cerita karena mereka sekarang sudah bermusuhan."
"Eh?" kedua alisnya saling menaut, merespon maksud ucapan paman itu.
"Hiashi kalau tidak salah itu namanya. Terakhir aku dengar hubungan Minato dan Hiashi sangat buruk, padahal dulu mereka begitu dekat, bahkan mereka pernah berjanji di sini akan menjodohkan anak-anak mereka jika mereka mempunyai anak nantinya."
"Eh? EEHHH?"
"Ada apa denganmu, nak? Kenapa kau terlihat begitu terkejut?"
Wajah Naruto terlihat pucat pasi. Tidak menyangka ayahnya pernah membuat janji itu, dan itu benar-benar terjadi. Tapi kenapa? Kenapa hubungan mereka begitu buruk? Bahkan mereka tega mengusir anak-anak mereka?
"Paman, yang paman ceritakan itu benar Minato Namikaze dan Hiashi Hyuuga, kan?" Naruto masih tak percaya dengan pernyataan paman itu.
"Tentu saja benar. Mana mungkin aku mengarang, apa kau takut jika ayahmu akan menjodohkanmu dengan putri Hiashi?"
"Bu-bukan begitu." Naruto mengalihkan tatapannya, sebelah tangannya menutup sebagian wajahnya menyamarkan rona merah yang sudah bertengger di wajah. "a-aku sudah menikah, dan i-istriku adalah putri dari Hiashi." Kemudian menunduk dalam-dalam tak berani menampakkan wajah yang sudah semerah tomat.
"Eh?" luarbiasa kaget mendengar kebetulan itu. Teuchi terbengong sesaat. "Apa kalian benar-benar dijodohkan? Apa mereka sudah kembali berteman?"
Wajah merah Naruto kembali dalam mode normal, ia berdehem. "Tidak, kami berdua kawin lari. Aku dan Hinata sudah diusir dari rumah. Itulah kenapa aku sangat kaget saat paman cerita mereka dulu pernah bersahabat." Naruto menghela napas panjang. "Kalau boleh tahu, kenapa mereka bisa bermusuhan?"
Teuchi menggeleng. "Aku pun tidak tahu. Nak, entah kebetulan atau tidak, mungkin ikatanmu dengan istrimu adalah takdir untuk menyatukan hubungan mereka kembali."
Naruto tersenyum hambar, ia merogoh uang untuk membayar Ramen, "Terima kasih, paman. Lain kali aku akan mampir dengan istriku." Melempar cengiran sebelum berlalu pergi.
Dalam hati ia berharap seperti yang dikatakan paman Teuchi, tapi sayangnya tidak mungkin.
"Aku rasa tidak mungkin. Mereka tidak mungkin bersahabat kembali."
~oOo~
Malam ini Naruto pulang dengan kenyataan pahit bahwa dia tak mendapat pekerjaan. Tentang apa yang ditawarkan Sai, ia tak bermaksud menceritakan pada Hinata. Seharian berjalan di udara dingin memasuki satu persatu tempat yang sekiranya membutuhkan tenaga kerja, namun sayang keberuntungan tak berpihak padanya.
Naruto malu menatap wajah Hinata. Bagaimana menjelaskannya Naruto pun tak tahu.
Kegundahan hatinya terjawab saat Hinata menyambutnya dengan senyuman. Menghantarnya pada kehangatan perapian lalu memberinya secangkir coklat panas. Tanpa bertanya tentang hari ini.
Hinata hanya berkata, "Terima kasih untuk usahamu hari ini, suamiku."
Entah belajar dari mana kata-kata itu. Ucapan Hinata sukses membuat Naruto merona.
—TBC—
—Terima kasih sudah membaca—
