Our Bolt

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Vinara 28

Rate: M

Genre: Family, Romance, Drama.

Warning: OOC, Mainstream, Abal, Typo, No EYD, No Tanda baca, DWWL (Dan warning-warning lainnya)

. . . .


Melihat betapa baiknya Hinata memperlakukannya, tidak mencela maupun tidak menuntut banyak, membuat Naruto bertekat untuk lebih giat mencari pekerjaan.

Naruto mencoba bertanya pada sahabatnya, barang kali Sasuke bisa membantu. Awalnya Sasuke menolak, dia mengatakan tidak memiliki informasi mengenai lapangan kerja. Sayangnya dia lupa bahwa Naruto selalu merengek padanya jika mengharapkan sesuatu. Akhirnya Sasuke turun tangan untuk ikut terjun mencari pekerjaan.

Naruto tertawa puas. Temannya satu ini memang bisa diandalkan.

"Naruto-kun, besok aku akan keluar dengan Sakura-san." Hinata masuk ke kamar setelah membereskan meja makan dan mematikan lampu.

"Udara di luar begitu dingin, sebaiknya kau kenakan baju berlapis dan jaket yang tebal," tanggap Naruto sembari meletakkan ponselnya di bawah bantal.

"Naruto-kun juga... bukankah kemarin Naruto-kun menggunakan pakaian seadanya? Udara dingin bisa membuatmu mual, tahu?"

"Yang hamil itukan kau. Tidak mungkin aku mual hanya karena cuaca." Naruto terkekeh.

Menyandarkan tubuh pada tumpukan bantal, safirnya menatap Hinata yang tengah asik menyisir rambut. Sebenarnya Naruto sedikit bosan, karena di rumah ini tidak ada TV atau hiburan lainnya, satu-satunya hiburannya hanya memandangi Hinata diam-diam. Omong-omong soal bosan? Bukankah Hinata berada di rumah sepanjang hari? Naruto membayangkan betapa bosannya Hinata di sini.

"Tidak ada hubungannya dengan Ha-hamil, Naruto-kun." Menyelesaikan kegiatannya, Hinata menghampiri Naruto.

Entah sudah berapa hari mereka tidur sekamar, Naruto selalu gugup ketika Hinata naik ke atas ranjang. Jiwa kelelakiannya seolah berteriak.

"Omong-omong, Naruto-kun jangan hanya memikirkan pekerjaan saja. Naruto-kun juga harus memikirkan kuliah." Suara Hinata terdengar tegas untuk kali ini.

Naruto sampai tak bisa bersuara.

"Sudah berapa hari Naruto-kun tidak masuk kuliah?" selidik Hinata.

"E-eh? Aku masuk, kok. Aku tidak bohong..." Naruto memalingkan wajahnya, sedangkan tangannya menggaruk pipi.

Hinata menghela napas panjang, dia tahu betul bahwa suaminya ini tengah berbohong.

"Tabungan kita masih cukup, Naruto-kun tidak perlu terburu-buru mencari pekerjaan. Aku tidak mau Naruto-kun sampai melupakan pendidikan. Perlu Naruto-kun tahu, masa depanmu sangat berpengaruh bagi kita."

"Hm, baiklah. Aku lelah, sekarang aku mau tidur," jawab Naruto, memalingkan tubuhnya. Ia tak mau berdebat dengan Hinata mengenai ini. Naruto tahu bahwa dirinya salah, karenanya Naruto tidak ingin membahas hal ini dengan Hinata.

. . . .

Rasanya sudah lama Hinata tidak keluar bersama teman-teman. Awalnya ia kira hanya akan pergi bersama Sakura, ternyata Ino dan Tenten turut serta. Mereka mengatakan, "Kapan lagi bisa pergi bersama wanita yang sudah menikah. Mungkin nanti kami akan kesulitan mengajakmu keluar ketika kau sudah punya anak."

Hinata menyembunyikan senyum malunya.

"Kalian bisa datang ke rumah jika merindukanku," jawab Hinata dengan mengundang.

Ketiganya saling bertatap.

"Sebenarnya aku ingin, tapi ..." Ino menggantungkan ucapannya.

Melihat raut dari sahabatnya, Hinata cepat-cepat menepis ajakannya itu. "Ji-jika kalian sibuk, kalian tidak harus ma-mampir. Lagi pula, kalian tahu rumahku yang sekarang sedikit jauh dan ..."

"Tentu aku akan mampir." Sakura menyela. Entah kenapa aura saat ini begitu tidak enak, seperti ada kecanggungan.

Hinata sadar diri, bahwa tempat tinggalnya yang sekarang berada di perumahan biasa, bukan di kompleks elit yang terjaga kebersihannya. Sedangkan setatus mereka adalah... anak orang kaya. Tentu tempat tinggalnya sekarang tidak sebanding dengan pakaian yang mereka kenakan.

"Sakura-san tidak perlu memaksakan diri—"

"Tidak, Hinata. Aku ingin mampir. Aku ingin mengobrol dan minum teh bersamamu. Aku juga ingin melihat kamarmu dan Naruto." Sakura mengerling.

"Iya, aku juga ingin meihat. Pasangan baru ini selalu saja bikin iri." Tenten heboh sendiri ketika sudah membahas kamar.

Hinata menunduk, seburat merah tercetak tipis di pipinya. Sayangnya rasa tidak enak masih menyumpal di hati.

"Aku juga akan mampir, kalau saja kalian mau menyesuaikan dengan jadwalku."

"Kyyaaa.. terima kasih Ino." Sakura memekik lalu memeluk gadis berambut pirang yang saat ini memasang tampang berpikir.

Ya, seorang Ino yang selalu memperhatikan penampilannya, harus membutuhkan waktu untuk berpikir apakah ia akan mampir atau tidak. Dan Hinata tahu itu. Ia senang melihat mereka begitu menghargai dirinya yang sekarang meski sudah tidak seperti dulu lagi.

. . . .

Sepertinya Naruto harus menepis pikiran bahwa dia akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Apa lagi pekerjaan ini didapat dari sahabatnya—Sasuke.

Sasuke mengomel, bahwa dia sudah mencari susah-payah, dan ini adalah hasilnya. "Kau harus menghargai usahaku, Naruto." Wajah Sasuke sudah datar, dan sekarang semakin datar saja.

Kalau Sasuke bukan sahabatnya, ia ingin sekali menyetrika wajah Sasuke agar lebih datar lagi. Kenapa harus menjadi kuli bangunan, coba?

Awalnya Naruto mengira dia akan dijadikan mandor, menyesuaikan dengan pendidikan yang ia pilih sebagai arsitek. Tapi ternyata dia hanya diperkerjakan sebagai kuli. Artinya ilmu yang selama ini didapat tidak berguna samasekali.

"Kalau kau terus pilih-pilih pekerjaan, kau tidak akan pernah mendapatkannya. Lakukan apa yang bisa kau lakukan sekarang, meski itu pekerjaan kasar sekali pun." Sasuke berdecak bosan melihat wajah Naruto yang terlihat enggan.

"Aku bukannya pilih-pilih pekerjaan, hanya saja aku tidak menyangka pekerjaan ini yang kau pilihkan untukku? Kau tahu kan kalau kau mempunyai koneksi yang luas? Jika hanya pekerjaan seperti ini, aku juga bisa mendapatkannya," omel Naruto bergumam tidak jelas.

"Jadi kau tidak mau?"

"Te-tentu saja aku mau," potong Naruto cepat. "Aku akan mencobanya. Lagi pula aku tidak punya pilihan."

Sasuke tersenyum. "Baiklah, sekarang kau aku tinggal." Menepuk pundak Naruto pelan sebelum pergi.

Meski kesal, Naruto membalas senyum Sasuke dengan senyuman lebarnya, seolah berkata, 'pekerjaan seperti ini? Sangat mudah!' Naruto memang tidak biasa bekerja kasar, namun bukan berarti dia tidak bisa. Jika hanya mengangkat benda berat, tubuhnya dapat melakukan dengan mudah. Tak sia-sia dia membentuk otot-ototnya, ternyata tidak hanya digunakan untuk gaya saja, melainkan memudahkannya untuk bekerja kasar.

Sayangnya semua itu tidak cukup dalam pekerjaan seperti ini. Naruto bukan dewa yang bisa melakukan semua hal dengan mudah.

. . . .

"Wah, lihat Hinata, baju ini cocok sekali untukmu." Tenten merentangkan sebuah baju musim dingin. Ditempelkannya pada badan Hinata. Warna biru muda yang kontras dengan musim dingin tersebut begitu apik jika disandingkan dengan wajah lembut Hinata. Benar-benar cocok.

Hinata menggeleng, mendorong perlahan tangan Tenten.

Ino berdecak sebal melihat reaksi Hinata. Sedari tadi mereka memilih baju dan berkeliling, namun Hinata seolah menolak semua pilihan teman-temannya, dan hasilnya hanya Hinata yang tidak membeli sepotong baju.

"Kau tidak berbelanja?" tanya Ino.

"Aku sudah senang bisa pergi keluar dengan kalian, aku rasa itu sudah cukup untukku," balas Hinata menyembunyikan raut tak enak hatinya.

"Kau tidak ingin membelikan baju musim dingin untuk Naruto?" tawar Sakura.

"Mungkin aku butuh satu jaket yang cukup tebal. Naruto-kun selalu keluar dan pulang malam, aku khawatir dia kedinginan, apalagi dia tipe orang yang tidak kuat dingin. Meski jaketnya ada banyak, aku hanya ingin dia lebih hangat lagi—"

Hinata menghentikan kata-katanya, dia merasa aneh dengan tatapan teman-temannya.

"Hinata, wajahmu terlihat bersinar ketika membicarakan tentang Naruto." Sakura mengerling, lalu menyeringai.

"Wajah berseri pengantin baru. Kau terlihat imut, Hinata. aku jadi ingin menikah." Seperti biasa Tenten terlihat heboh.

"Kau mau menikah dengan siapa? Pacar saja tidak punya?" tanya Ino. Dia ingin tertawa rasanya.

"Berisik."

. . . .

Naruto memang tidak tahan dingin, selama ini dia terus menahan ketika pergi malam, lalu pulang tanpa mendapatkan kehangatan dari Hinata.

Lalu sekarang? Tubuhnya membeku, dengan setumpuk batu yang harus ia pecahkan. Dia mendapatkan masalah ketika bekerja di bagian mengaduk, padahal baru beberapa menit di sana, sudah dimarahi habis-habisan, lalu beralih dengan tugas mengangkat besi, tapi lagi-lagi apa yang dikerjakannya itu salah. Ada apa dengan bangunan ini? Rasanya seperti neraka. Apa yang dikerjakannya selalu berakhir dengan ocehan. Rasanya Naruto sudah melakukan dengan benar. Telinganya pengap, dadanya panas, belum pernah dia dibentak seperti itu selain dengan ayahnya, rasanya harga diri Naruto sudah berkeping-keping, sayangnya Naruto tidak bisa melakukan apapun kecuali meminta maaf. Membuang seluruh harga diri dengan membungkuk, dan berkata; "Tolong, beri aku kesempatan lagi." Kini dia ditugaskan untuk memecahkan batu.

Pekerjaan seperti ini, tentu sulit dilakukan jika mengenakan jaket tebal. Naruto hanya mengenakan kaos panjang seadanya, padahal salju sudah mulai turun. Udara dingin langsung menusuk-nusuk. Keringat yang mengucur membasahi badannya tak lantas membuat tubuhnya panas. Naruto hanya harus menahannya.

Sebenarnya yang dikatakan Hinata benar mengenai tabungan mereka. Jika mereka menggunakan hitungan milik Hinata. Berbeda jika dalam hitungan Naruto. Belum lagi Naruto selalu pulang dengan rasa bersalah ketika melihat Hinata. istrinya itu tengah hamil muda, namun dia tidak pernah meminta apapun pada Naruto. Entah Hinata tidak mengalami masa ngidam, atau Hinata menahannya. Naruto hanya ingin memberi yang terbaik untuk Hinata.

. . . .

"Sepertinya yang ini cocok." Sakura memberikan penilaian tentang jaket yang dipilih Hinata.

"Hum, sangat cocok," timpal Tenten.

"Baiklah, aku akan memilih yang ini." Hinata tersenyum puas setelah setengah jam memilih jaket untuk Naruto.

"Bukankah harganya terlalu murah?" Ino melihat nominal yang tertera.

Sakura meyikut Ino, lalu mendelik, memperingati untuk menjaga ucapannya.

"Memang, tapi aku suka." Hinata menimang-nimang jaket berwarna orange itu.

Tanpa perlu berdebat kembali, Hinata berjalan menuju kasir. Tangan mungil itu meletakkan sepotong jaket pada meja kasir. Namun tanpa diduga ada orang lain yang ikut meletakkan belanjaannya di sana, dan jumlahnya jauh lebih banyak dari punya Hinata.

Hinata tersentak, seketika menengok melihat orang itu. Lavendernya membulat begitu pun lawan tatapnya. Keduanya saling terkaget.

"O-oba-san?"

"Hinata?" Kushina tak kalah kaget ketika melihat wanita yang kini menjadi menantunya tersebut.

Soal pernikahan Naruto dan Hinata, memang hanya dihadiri teman-teman dekat saja, namun bukan berarti gosipnya tak beredar. Bukan hanya Kushina, teman-teman Kushina yang kini berdiri di belakang nyonya Namikaze itu pun mengetahui tentang sekandal Naruto Namikaze dengan Hinata Hyuuga.

"Dia menantumu?"

"Tidak seperti yang dibayangkan."

"Lihat saja, wajahnya pucat, apa dia kurang makan?"

"Coba lihat apa yang dia beli? Apa itu untuk putramu? Murahan sekali." Bisik teman-teman Kushina.

Hinata meraih kembali tangannya dari meja, ia menunduk, tak berani menatap wajah mertuanya dan juga teman-teman mertuanya. Melihat barang yang dibeli Kushina, semuanya barang bermerek, ada tiga potong jaket laki-laki, dan lima potong jaket perempuan, juga tas-tas yang terlihat begitu mahal. Jika dibandingkan dengan milik Hinata, rasanya memalukan sekali. Apalagi di hadapan teman-teman Kushina.

"Maaf, aku tidak jadi beli." Hinata berojigi lalu berlari keluar dari toko, meninggalkan semua teman-temannya.

"Hinata, tunggu?!" Kushina ingin mengobrol banyak dengan Hinata, menanyakan kabar Naruto, sayangnya dia tidak bisa mengejar Hinata karena dicegah oleh sang kasir.

Mana mungkin Kushina pergi begitu saja setelah memilih baju begitu banyaknya. Dalam hati dia kesal karena ucapan teman-temannya sudah menyakiti Hinata.

Sakura melihat Hinata berlari keluar, langsung saja ikut menyusul. Tak jauh beda dengan Hinata ketika bertemu dengan Kushina, Sakura terkaget, namun cepat-cepat memasang wajah tenang, berojigi sejenak lalu menyusul pergi. Begitu pun dengan Ino dan Tenten.

Sekarang mereka tahu kenapa Hinata keluar dengan wajah menangis.

. . . .

Langkahnya terhenti, dia tidak tahu berada di mana sekarang ini. Napasnya tak teratur, dia tidak kuat jika harus berlari lagi, meski dia sendiri tidak tahu kenapa harus berlari. Di belakangnya tak ada orang. Teman-temannya pun tak ada, sepertinya mereka kehilangan jejaknya.

Hinata beristirahat sejenak, di emperan toko. Pikirannya masih mengingat tentang kejadian beberapa menit lalu. Apa salah dirinya? Dia hanya ingin suaminya tetap hangat. Memangnya kenapa jika tidak bermerek? Benar..

Sayangnya Hinata merasa malu jika disandingkan dengan Kushina. Dia merasa tidak pantas. Mempunyai menantu seperti Hinata, hanya akan membuat Kushina malu saja. Hinata tahu diri. Dia kembali menapaki jalanan, namun lavendernya menangkap sesuatu. Tangannya meraba permukaan kaca depan toko yang menampilkan benang rajut.

Mungkin memang sebaiknya Hinata membuatnya saja.

. . . .

"Apa kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu dengan benar? Hanya memecah batu saja kau tidak bisa melakukannya? Coba lihat ini, aku memintamu untuk menjadikannya kepingan kecil. Dan kau pikir ini kecil? Sudah berapa jam kau mengerjakan ini? Dari siang sampai sore dan kau belum menghasilkan satu pun pecahan yang aku inginkan."

Naruto mencengkram erat pegangan palu besar. Memangnya mudah memecahkan batu? Butuh dua tahap untuk menjadiannya batu kecil. Ingin sekali Naruto menyela perkataan mandor. Benar-benar ingin ...

"Hari ini pemilik proyek akan memantau bangunan ini. Semuanya tertunda gara-gara dirimu. Kau tahu itu? Apa kau ingin membayar denda atas keterlambatan pengerjaan hari ini? Semuanya kacau gara-gara dirimu."

Pemilik proyek? Naruto melirik pada beberapa orang berjas yang datang melihat-lihat. Orang-orang itu sudah berada di sini. Pikir Naruto, berdecak bosan lantaran mandornya masih saja mengomel.

'Coba lihat? Mereka ke sini, sebentar lagi pasti kau yang akan dimarahi.' Naruto tersenyum diam-diam.

Senyuman tipis Naruto sayangnya tak bertahan lama, ketika safirnya melihat orang yang berada di belakang rombongan berjas, membelah rombongan tersebut kemudian berdiri paling depan. Wajah tidak mengenakan terpampang jelas pada lelaki itu. Terlebih ketika mata mereka bertemu.

Naruto menjatuhkan palunya.

Sang mandor membungkuk, lalu berucap maaf. Mulutnya tak henti memaki Naruto lalu menyuruhnya untuk meminta maaf juga.

Tentu Naruto tidak mau. Wajahnya mengeras, tatapannya menajam, tangannya mengepal. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Naruto. Dia kelewat kesal atau kelewat bingung. Sebenarnya Naruto ingin segera pergi, sayangnya tatapan meremehkan yang dilayangkan padanya membuatnya membatu.

"Bagaimana, Naruto? Bukankah kehidupanmu menjadi sulit, ketika keluar dari rumah?"

"Sayangnya tidak semenyedihkan ketika aku berada di sana," balas Naruto dingin.

Pria yang dari tadi memarahi Naruto, kali ini terdiam, lantaran terkejut melihat kemiripan pemilik proyek dengan Naruto. Dia turut berbisik dengan pegawai lain.

Minato. Tak kalah mengeras, dia berjalan lebih mendekat. "Dengan batu-batu ini? Aku tahu kau tidak terbiasa dengan pekerjaan ini." Minato merasa menang kali ini.

"Lihat wajahmu? Jika Ibumu yang melihatmu, mungkin dia akan menangis. Apa kau makan tepat waktu? Ah, aku lupa, kau tidak punya uang untuk membeli makanan. Bagaimana rasanya hidup di jalanan? Tidak semenyedihkan ketika berada di rumah?"

Aura yang dipancarkan Minato, sukses membuat pegawainya mundur perlahan, memberikan ruang pada Naruto dan Minato. Kedua bola mata intimidasi itu terus saja memperhatikan tubuh Naruto yang tampak berbeda dari terakhirkali mereka bertemu.

Naruto tidak tahan. Hatinya terasa ditusuk-tusuk. Lebih menyakitkan ketika dipukul oleh Hiashi. Dia ingin membalas perkataan ayahnya, sayangnya semua perkataan itu benar adanya.

"Kebahagiaan tidak hanya terbatas dengan uang—"

"Lalu untuk apa kau bekerja seperti ini?"

Semua perkataan yang keluar dari mulut Minato seperti belati yang mengulitinya perlahan.

"Untuk mencari uang. Benar, bukan?"

Memang benar. Kenapa yang dikatan Minato itu benar? Kenapa dia selalu benar. Naruto muak. Ini tidak sama. Naruto merasa apa yang dilakukannya itu tidak sama dengan yang Minato lakukan. Naruto melakukan bukan untuk menumpuk harta, melainkan memenuhi kewajibannya. Ini berbeda, bukan? Naruto tidak ingin terlihat seperti ayahnya.

'Perlu Naruto-kun tahu, masa depanmu sangat berpengaruh bagi kita.'

Entah kenapa, perkataan Hinata menyusup tiba-tiba. Membuat Naruto berpikir bahwa dirinya kini mirip dengan Minato. Dia jarang di rumah. Selalu sibuk mencari pekerjaan. Memang benar Hinata tidak marah, wanita itu selalu menyambut dengan senyum dan berkata; 'Terima kasih untuk usahamu hari ini.'

Memang benar mencari uang adalah tugasnya, sayangnya dia lupa untuk meluangkan waktu dengan Hinata. belakangan ini yang ada di otaknya hanya 'uang'. Dan sekarang dia berkata, 'Kebahagiaan tidak hanya terbatas dengan uang.'

"Tidak. Ini tidak sama. Aku bukan orang sepertimu yang serakah dengan uang. Aku hanya ingin melihat wanita yang kucintai bahagia. Jika mendapatkan kenyamanan hidup tanpa ada Hinata di sampingku, itu sama saja seperti neraka. Aku tidak mau. Aku sudah hidup seperti itu dan sekarang aku memilih jalanku. Aku tidak akan menyesalinya. Aku tidak akan memilih jalan yang sama denganmu!" Naruto berteriak meluapkan amarahnya.

Meski begitu, hatinya tetap panas. Dia ingin berteriak lebih kencang lagi, kalau itu bisa memunguti butiran harga dirinya.

"Akan aku lihat sampai mana batasmu. Kau masih terlalu muda, semua keputusanmu terpengaruh dengan ego. Dan perlu kau tahu, cinta tidak akan menyelesaikan segalanya."

Cukup! Naruto berbalik, berniat untuk pergi.

"Sudah mau pulang? Kau melupakan sesuatu."

Naruto kembali menoleh. Rahangnya mengeras, dia merasa benar-benar dilecehkan, ketika melihat Minato memamerkan beberapa lembar uang.

"Upahmu untuk hari ini." Minato memiringkan kepalanya, menilai ekspresi yang ditunjukan Naruto saat ini. "Kenapa? Kau tidak mau? Wanitamu itu butuh makan."

"Maaf, Tuan. Harga diri saya, tidak akan pernah saya tukarkan dengan uang," balas Naruto dingin, meski sedikit bergumam.

Wajahnya menunduk, entah seperti apa ekspresinya saat ini. Yang sekarang dilihat Minato hanya punggung Naruto yang semakin menjauh.

. . . .

Hinata meletakkan beberapa benang di laci. Dia menyimpannya untuk nanti. Wanita itu kini duduk di depan cermin, memperhatikan wajahnya yang tampak menyedihkan. Kantung mata sembab terlihat jelas. Hinata berpikir, bagaimana cara untuk menutupinya agar Naruto tidak tahu?

Dia hanya ingin menyambut Naruto dengan senyum. Suaminya itu sudah bekerja keras seharian. Hinata tidak mau menambah beban Naruto dengan kesedihannya.

Ketika mengingat pertemuannya dengan Kushina. Hinata merasa telah gagal mengurus Naruto. Bagaimana jika mertuanya itu bertanya tentang Naruto? Hinata merasa kehidupan Naruto saat ini tidak begitu bahagia. Jelas Hinata bingung menjawabnya. Apa Naruto makan tepat waktu? Apa Naruto selalu hangat? Apa Naruto tidur dengan cukup? Apa Naruto ...

Apa Naruto tertekan dengan kehidupannya saat ini?

Pikiran aneh tiba-tiba saja menghantui Hinata. setetes air mata menggantung di pipinya. Hinata mengatup wajahnya dengan tangan, mengusap setetes pikiran buruk itu, lalu menepuk-nepuk pelan pipi tembemnya. Ia paksakan menarik sudut bibirnya.

"Kau harus menyambut suamimu dengan senyuman seperti ini," ucap Hinata pada dirinya sendiri.

Belum selesai dia membuat senyum palsu, Hinata menangkap suara pintu terbuka. Sepertinya suaminya itu sudah pulang.

Hinata bergegas menyambut di ruang tamu, tentu senyum mengembang harus ia tampilkan.

"Okaeri Naruto-kun..."

Senyum itu luntur, tak peduli sekeras apa Hinata mencoba tersenyum. Suaminya ini kembali dengan wajah sedih, ditambah tubuh kekarnya hanya berbalut kaos biasa tanpa jaket. Tubuhnya basah, entah itu keringat atau salju yang mencair. Keadaan Naruto kali ini benar-benar kacau.

Naruto tak bersuara. Tangannya raflek memeluk Hinata kencang.

Mendapat beban tubuh dari Naruto tiba-tiba membuat Hinata tidak kuat berdiri, kakinya terkulai. Keduanya terduduk di genkai, bersama dengan sepatu-sepatu yang berjejer.

"Na-Naruto-kun?"

Naruto tak menjawab, ia tenggelemkan wajahnya di leher Hinata. lalu menangis, terisak. Begitu memilukan, membuat Hinata turut meneteskan airmatanya.

Ada apa dengan Naruto? Hari seperti apa yang sudah dijalani Naruto? Sampai-sampai terisak begitu kerasnya, seperti tangisan anak kecil.

Kehidupannya saat ini, kehidupan yang mereka pilih saat ini. Benarkah jalan yang benar? Benarkah jalan ini akan membawa kebahagiaan? Barangkali jalan ini tak lebih sebuah penderitaan.

Tangisan-tangisan anak yang mendurhakai orangtua.

Jalan ini tak lebih hanya hamparan taman mawar yang indah namun berduri.


TBC—


Semoga masih ada yang inget sama alurnya. Hahaha. Maklum, Vinara kena WB (Alasan mainstream)

Vinara mau ngucapin banyak-banyak terima kasih buat kalian yang setia, nungguin, dan nagihin. Vinara kadang kehilangan gairah untuk menulis. XD alhasil FF ini terabaikan.

Oh ya, Vinara mau promo. Ada yang punya akun Wattpad? Kalian bisa nemuin Vinara di sana, jangan lupa Follow ya.. (a)Vinara28 ada FF yang gak Vinara post di FFN.

Semoga cerita ini bisa menghibur... dan selamat menunggu lagi(?) Xp