Our Bolt

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Via Ni


Minato lelarian di antara pejalan kaki. Langkahnya melaju pada gang sempit kumuh, beberapa kali visualnya menangkap orang-orang yang kebetulan mengenalnya. Senyumnya mengembang kendati napas tersenggal mengiringi langkah kesitnya.

Hanya satu yang dia tuju... apartment kecilnya. Minato melompati pagar yang lumayan cukup tinggi, wajahnya berseri, dia belum bisa tenang sebelum menampaki tangga-tangga yang menuju sebuah pintu.

Wajahnya memerah, senyumnya merekah, Minato tak sanggup berkata.

"Minato kau kerasukan?"

lelaki berambut gelap dengan wajah datar yang baru pulang dari pekerjaan serabutannya memilih duduk di sofa sambil membaca selembar koran yang dia pungut di jalan. Hiashi benar-benar terkejut dengan kedatangan Minato, lelaki di hadapannya itu begitu aneh.

"Aku ..." Minato sulit mengatur napas dan kata-kata, dia merasa gugup sekaligus bersemangat. "Aku.. ah tidak.. kita.. aku punya pekerjaan untuk kita." Benar-benar kebingungan.

Hiashi beranjak dari tempat nyamannya, menepuk kasar punggung Minato sampai terbatuk. "Kalau bicara yang benar, aku tidak mengerti, tahu." Hiashi bersungut.

"Aku mendapatkan pekerjaan. Kita bisa memulainya besok."

Hiashi menautkan kedua alisnya, "pekerjaan apa, hingga membuatmu berwajah bodoh seperti itu?"

Minato sudah menemukan tempo napasnya kembali. Lelaki bermarga Namikaze itu berjalan sambil menunjukan wajah sombong, kemudian duduk di sofa, meneguk air putih—milik Hiashi tentunya. Safir Minato memincing, "Kita akan bekerja di sebuah gedung yang tinggi dan besar," paparnya tak lupa kedua tangannya bergerak menggambarkan sebuah bangunan yang luarbiasa menurut Minato.

Alis Hiashi menukik. "Di sebuah gedung? Apa yang akan kita kerjakan? Bekerja Di belakang meja menghadap komputer?"

"Bukan." Minato menyela. "Kita akan membersihkan kaca di gedung itu."

Astaga, Hiashi menepuk keningnya. Untuk sesaat Hiashi berpikir dia akan bekerja di tempat yang dingin tanpa harus mengeluarkan keringat. Ternyata masih sama dengan yang dia kerjakan selama ini.

"Apa yang membuatmu sampai sesenang itu? jika hanya membersihkan kaca, bukankah kau sudah sering melakukannya?"

Minato masih tersenyum tidak jelas, "Soalnya, aku baru pertamakali masuk ke sebuah bangunan yang begitu besar. Astaga, apa benar tempat itu dibuat oleh manusia. Tempat itu benar-benar mengagumkan. Aku bisa melihat apartemen kita dari sana. Bukankah itu luarbiasa, Hiashi?"

Mendengar ucapan polos Minato, sontak saja menarik paksa sudut bibir Hiashi. Lelaki minim ekspresi itu tertawa kecil. "Dasar bodoh."

Minato dan Hiashi. Dua lelaki lajang yang merantau ke kota mencari kehidupan yang lebih baik. awalnya mengira kehidupan mereka akan berubah begitu cepat. Nyatanya ibu kota memang lebih kejam dari ibu tiri. Keduanya bertemu di kedai ramen milik Teuchi, mereka berada pada keadaan yang sama, hingga tidak ada kata sungkan dari keduanya.

Berpikir bahwa membayar sewa apartemen begitu berat untuk kantong mereka, akhir Hiashi dan Minato memutuskan untuk tinggal bersama. Kendati sifat mereka sama sekali berbeda, tak lantas menjadi halangan di antara keduanya untuk menjadi sahabat. Terbukti kini mereka berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit, memandang barang sejenak tempat yang akan mereka masuki.

Membersihkan kaca sebenarnya sebuah pekerjaan yang mudah. Hanya saja, untuk kali ini mereka meneguk ludah ngeri. Berdiri di atas gondolan di ketinggian lima belas lantai dengan berbagai alat keselamatan, siapa saja yang baru pertama kali mencoba pekerjaan ekstream ini pasti akan gemeratan kakinya.

"Astaga, aku kira aku akan mati hari ini." Seharian berada di atas, membuat Minato dan Hiashi begitu merindukan tanah. Keduanya ambruk begitu saja di tanah ketika gondola tempatnya berpijak turun.

"Kau gila. Menerima pekerjaan seperti ini. Bagaimana jika aku jatuh tadi?" Hiashi mengumpat, dia memegangi dadanya, memeriksa barangkali jantungnya berhenti berdetak. "Aku masih hidup."

"Hahaha, bukankah tadi sangat seru? Aku merasa berada di dunia berbeda." Minato mencoba untuk bergurau.

"Iya, kau memang hampir saja memasuki dunia yang berbeda, jika kau terjun langsung dari sana."

"Hey, jangan mendoakan yang tidak-tidak." Minato merangkul pundak Hiashi. Keduanya menatap ke atas. Mereka baru menyadari bahwa gedung ini terlihat lebih tinggi dari pertama yang mereka lihat.

"Yang kau katakan benar. Berada di atas benar-benar berbeda. Anginnya sedikit lebih kencang, aku bisa merasakannya di wajahku. Kakiku pun sedikit bergetar, aku harus melangkah penuh perhitungan. Meski terlihat menakutkan, pemandangan dari atas sana begitu mengagumkan."

Minato menautkan alisnya, menatap Hiashi lamat-lamat, tidak percaya sudah mendengar kalimat itu dari sahabatnya. Hey, jarang-jarang Hiashi berbicara panjang seperti itu.

"Mau ke dalam?" ajak Minato, lelaki berrambut pirang itu berdiri kemudian mengulurkan tangannya ke arah Hiashi. Tanpa pikir panjang Hiashi menerima uluran tangan Minato.

Dua orang kampung yang tak berhenti jelalatan, mengabsen tiap sudut property dan dekorasi, seolah merekam baik-baik apa yang ada di hadapan. Barangkali mereka tidak bisa melihat hal seperti ini lagi. Keduanya begitu terkagum. Padahal ini bukan kali pertama mereka masuk ke sana.

"Hey, Minato, kira-kira berapa yang harus dikeluarkan untuk membuat bangunan semegah ini?" Hiashi berbisik, dia menatap langit-langit lobi. Begitu besar, terdapat lukisan awan dan beberapa patung malaikat di tiap sudut, tak lupa sebuah lampu kristal sebagai pusat. Hiashi benar-benar terpukau.

"Aku rasa, kau menjual ginjalmu pun tidak akan bisa membuat yang seperti ini." Minato terkikik. Sementara Hiashi memutar bola mata kesal.

Sejenak Minato mencibir ucapan Hiashi, namun setelahnya dia tampak berpikir dan mulai menata impiannya. "Aku ingin suatu saat nanti bisa membuat bangunan semegah ini." Minato menerawang, ucapannya hampir seperti bisikan. Meskipun begitu Hiashi mampu mendengarnya dengan jelas.

"Jangan bermimpi, bukankah kau sendiri yang bilang, menjual ginjal saja tidak akan cukup. Apa kau juga akan berencana untuk menjual jantung?"

"Aku hanya berharap, bukankah kau juga menginginkannya, Hiashi?"

Lelaki berwajah datar itu tak menjawab. Dia hanya tersenyum dalam diam.

~oOo~

"Setelah pulang dari sana aku tidak berhenti memikirkannya. Gedung itu begitu mengaggumkan. Teuchi-san, kau harus melihatnya, aku yakin kau akan kagum setelah melihatnya."

Teuchi tak menjawab, dia sibuk meracik ramen, ia hanya menanggapi dengan senyum. Dua sahabat yang ada di hadapannya ini sedari tadi tak berhenti berceloteh mengenai tempat yang luarbiasa atau apalah itu namanya.

"Aku jadi berpikir untuk membuat rumah yang seperti itu." Hiashi menanggapi. Pikirannya menerawang, dalam bayangannya muncul sebuah rumah yang luas dan besar. Ah, tidak ketinggalan dengan kolam renangnya. Hiashi ingin memiliki rumah seperti itu.

"Aku juga.. aku membayangkan sebuah rumah dengan halaman yang luas, agar aku nanti bisa bermain dengan anakku kelak."

Kali ini Teuchi terkikik lantaran hayalan dua pemuda itu sudah tak masuk akal. "Bekerja yang rajin, dan cari uang yang banyak. Jangan hanya berhayal saja."

"Memangnya ada yang salah?" ucap Minato dan Hiashi bebarengan. Keduanya bersungut.

"Setiap orang harus memiliki mimpi, untuk memotivasi hidup, bukan?" Hiashi mencibir. Omong-omong tentang mimpi, Hiashi jadi berpikir, mimpinya memiliki rumah yang besar adalah sesuatu yang sedikit konyol. Mungkin harusnya dia menjadi.. "Aku akan menjadi arsitek," celetuknya.

"Wah, arsitek? Aku juga berpikir hal yang sama. Wah.. aku rasa kita memiliki ikatan batin." Minato tertawa senang.

Hiashi, yang biasanya memasang wajah cool, sepertinya hari ini dia lebih banyak tersenyum. "Teuchi-san, apa kau punya kertas dan pensil?"

Lelaki yang sedari tadi memerhatikan dua sahabat itu tak henti-hentinya mengulum senyum. Lihatlah, setelah dirinya memberikan apa yang mereka minta. Minato dan Hiashi sibuk berdiskusi dengan design rumah impian mereka. Sampai-sampai Teuchi diabaikan begitu saja.

Sahabat yang mempunyai mimpi yang sama. Senang rasanya jika bisa berjalan di jalan yang sama menuju tempat yang sama pula—

~oOo~

"Saat itu mereka benar-benar terlihat dekat. Ketika mereka pertamakali menemukan tujuan, setelah lama menetap di sini. Awalnya aku mengira mereka akan terus seperti itu. Aku benar-benar tidak menyangka akhirnya seperti ini." Paman Teuchi menghela napas.

"Jadi Tou-san pernah hidup di jalanan? Aku baru mengetahuinya." Hinata bergumam sendiri.

"Aku juga baru mengetahuinya belum lama ini. Dan hari ini aku baru tahu alasan mengapa mereka terjun ke dunia arsitek. Saat ini mereka begitu sukses. Aku berharap mereka mengingat hari-hari itu, agar mereka tidak terlalu sombong."

Hinata menatap suaminya dalam diam. Untuk beberapa saat dia menangkap getaran halus di sudut bibir Naruto, lalu kemudian lelaki tan tersebut menarik sudut bibirnya. Entah ekpresi apa yang kini ditunjukan Naruto.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Naruto-kun?"

Naruto menoleh, "Tidak ada," jawabnya singkat. Naruto melirik jamnya, dia beralih menatap Teuchi. "paman sepertinya kami harus pulang, ini sudah hampir tengah malam, dan sepertinya kedaimu juga akan tutup."

Naruto mengenakan kembali jaketnya. "Terima kasih sudah mau bercerita tentang masa lalu orangtua kami. Aku sangat menghargainya.."

"Masih banyak hal yang mereka lakukan. Jika kalian ingin mendengarnya, kalian bisa mampir lagi. Dengan senang hati aku akan menceritakannya. Tapi maaf, aku tidak tahu alasan mengenai permusuhan mereka." Teuchi mengiring kepergian Naruto dan Hinata sampai di depan pintu.

"Mereka sangat serasi." Teuchi bergumam sendiri.

~oOo~

Naruto dan Hinata menapaki jalan sepi bersalju dengan keheningan. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Hidupnya yang seperti ini barangkali sebagai hukuman karena orangtua mereka yang terlalu angkuh, atau karena mereka sendiri yang kurang bersyukur.

"Naruto-kun, bagaimana tanggapanmu setelah mendengar cerita tadi?" Hinata memberanikan diri memecah kesunyian.

Sontak saja langkah kaki lambat Naruto terhenti, irisnya menatap tumpukan salju tempatnya berpijak. "Aku terlihat seperti orang bodoh."

Hinata bingung dengan ucapan Naruto, pun tak mampu mengartikan ekspresi sang suami lantaran irisnya tak mampu menatap wajah Naruto. Hinata memutuskan untuk lebih mendekat kemudian mendongak ke atas menatap wajah Naruto, tak menyadari bahwa hanya sisa beberapa centi saja udara yang memisahkan keduanya.

"Aku tidak mengerti apa yang Naruto-kun katakan."

Jalanan tak benar-benar sepi—gelap, karena banyaknya lampu kelap-kelip yang memenuhi jalanan. Sebentar lagi natal tiba, wajar saja jika pemandangan di sekitar mereka terlihat lebih berwarna.

"Malam itu, ketika aku pulang dalam keadaan menangis. Saat itu aku bertemu dengan ayahku. Aku mengatakan padanya bahwa uang bukan segalanya. Aku menghardiknya bahwa dia terlalu tamak. Aku hanya merasa bodoh sudah mengatakan hal itu, Hinata." irisnya bergerak menuju mata Hinata. "Saat ini, boleh aku berkata bahwa semua itu salah? Hinata,sepertinya aku memiliki pemikiran yang sama seperti ayahku. Aku ingin mengelaknya, namun rasanya mustahil. Untuk yang satu ini, aku rasa aku setuju dengannya, kita tidak bisa hidup tanpa uang."

"Tidak Naruto-kun. Tidak sepenuhnya apa yang kau katakan itu benar. Setiap orang memiliki tujuan untuk mencari uang. Untuk menghidupi keluarga misalnya. Lantas apa di sini yang terpenting? Keluarga, bukan? Seseorang yang begitu berarti.. untuk kebahagiaan seseorang itu, untuk kebahagiaan keluarga. Yang terpenting adalah ketika melihat orang yang disayangi bisa tersenyum tanpa ada beban. Sedangkan uang memiliki tingkatannya. Ada banyak keluarga sederha yang bahagia, dan tak jarang pula seorang jutawan merasa kesepian lantaran tak ada cinta." Hinata meraih pipi Naruto lalu mengusapnya. "Naruto-kun, boleh berpikir bahwa uang itu penting, tapi bukan yang terpenting. Masih banyak hal yang tak dapat dihitung dengan nominal."

"Hinata.. maaf."

"Aku mengerti. Lain kali jangan membebani diri sendiri. Aku tidak apa-apa, bayi kita tidak apa-apa, kami berdua sehat. Jadi, Naruto-kun jangan memaksakan diri.. Naruto-kun harus pintar membagi waktu untuk kuliah, bekerja dan istirahat." Wanita yang masih dalam posisinya ini mengembangkan senyumnya.

Pipi Naruto bersemu. Dia menepuk-nepik pucuk rambut Hinata lalu tersenyum lebar. "Uhm, baiklah, aku akan menuruti nasehat istriku ini.. aku baru tahu ternyata kau sedikit cerewet—"

Cup.

Naruto memutuskan ucapannya. Matanya membulat seraya menahan napasnya. Dalam sekejap dia merasa melayang. Bayangkan saja, Hinata tiba-tiba mengecup ujung bibirnya. Meski hanya sepersekian detik, tetap saja itu adalah sebuah ciuman. Dan astaga, Hinata yang menciumnya.

Mungkin ini ciuman pertama bagi mereka setelah mereka menikah, dan bagi Hinata ini adalah ciuman pertamanya. Wajar saja, sampai saat ini Hinata belum mengingat malam di mana Naruto mencumbunya.

Wajah Hinata memerah, lalu memilih mundur beberapa langkah. Dia sangat kaget, sungguh, ciuman tadi benar-benar bukan atas keinginannya. Hinata juga tidak menyangka akan mencium Naruto. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.

"Hinata, kau menciumku?" tanya Naruto sedikit shock.

Hinata menggeleng. Wanita itu berbalik sambil menutup wajahnya.

"Ka-kau menciumku?"

Aah, seharusnya aku yang melakukannya.. lelaki macam apa aku ini. Naruto mengumpat dalam hati.

"Ti-tidak.. a-aah.. a-aku tidak tahu, maafkan aku. Tubuhku bergerak begitu saja.. ah, mungkin karena bawaan bayi. Iya, benar.. mungkin karena aku ngidam, dan ingin mencium Naruto-kun.. aaa.. ma-maksudku bayi kita yang menginginkannya." Hinata benar-benar mati kutu. "Apa yang harus aku lakukan," gumamnya tak jelas.

Seulas senyum nakal bertengger di wajah Naruto. "Ngidam? Kau tahu aku sangat menantikannya, bukan? Dan ini adalah keinginan pertamamu. A-aku akan mengabulkannya."

Tanpa pikir panjang Naruto membalik tubuh Hinata lalu menarik dagu sang istri. Bibir mereka bersentuhan. Hinata benar-benar kaget, dia mencoba untuk mundur, sayangnya tangan Naruto sudah melingkar pada punggungnya. Lalu perlahan Hinata memutuskan untuk menutup matanya, menikmati tiap kecupan yang Naruto berikan, dia mulai menerima kehadiran benda asing kenyal yang sedang menjamah bibirnya, terbukti dengan bibirnya yang terbuka.

~oOo~

Naruto berulangkali menyentuh bibirnya, seulas senyum setia menyambangi wajah tannya. Wajahnya berseri kendati duduk sendiri di meja kantin dengan sebuah buku yang ia buka namun tak satu kata pun telah dibaca.

Kejadian semalam benar-benar membuatnya terbius untuk terus mengingatnya. Demi tuhan, wanitanya semalam tampak menggiurkan ketika menampakkan wajah merah dengan salivan yang menggantung di bibir menganganya. Jika saja Naruto tak tahu diri, mungkin dia akan memakan Hinata di sana—di tengah jalan.

Jemari Naruto bergerak menutup wajahnya yang mulai memerah. Ciuman semalam memang hal manis sepanjang mereka menjalani kehidupan rumah tangga, namun setelahnya suasana canggung menguasai keduanya. Naruto dan Hinata tak banyak berkata, mereka hanya mengatakan kata-kata seperlunya saja.

Dan sekarang Naruto berpikir keras bagaimana menemui Hinata ketika pulang nanti. Ekspresi apa yang akan ia tunjukan dan topik apa yang akan mereka bahas. Jujur saja, Naruto terus-terusan terpaku pada bibir Hinata ketika berhadapan dengan wanita yang kini tengah mengandung anaknya tersebut. Dan itu semakin membuat suasana terlihat aneh.

"Sepertinya kau mulai gila."

Naruto menegakkan kepalanya, menatap lelaki yang tengah berdiri di seberang mejanya. Lelaki itu duduk di hadapan Naruto kemudian menyangga dagu, tak lupa senyum manis selalu terpampang di wajah pucat tersebut.

"Sai?" Naruto sedikit malas berhadapan dengan temannya yang satu ini.

"Kapan kau mulai kembali ke kampus?"

Naruto meraih bukunya, dia membalik halaman berpura-pura fokus membaca. "Kemarin, mungkin kau sedang bekerja, jadi kita tidak bertemu." Balas Naruto.

Sai mengingat kembali kegiatannya kemarin. Ah, benar juga. Dia mengangguk-ngangguk sendiri. Lalu lelaki yang memiliki senyum manis itu menatap Naruto lurus-lurus tak peduli jika yang ditatapnya enggan untuk membalas tatapannya.

"Kau berubah jadi dingin setelah mengetahui apa yang aku kerjakan. Tidak seperti Naruto yang biasanya."

Naruto mengerling, "Benarkah? Aku tidak begitu. Mungkin hanya perasaanmu saja."

"Mungkin hanya perasaanku, terserahlah. Jadi bagaimana dengan tawaranku waktu itu? apa kau benar-benar tak berminat?" tawar Sai. Lelaki satu ini memang tidak bisa membaca situasi dan terlalu pemakasa.

"Sai.." Naruto memekik, dia menghempaskan tangannya di atas buku. "Aku sudah mengatakan padamu, bukan? Aku tidak mau! Jangan menawariku pekerjaan seperti itu jika kau masih berharap kita berteman." Naruto tak dapat menahan amarahnya. Dia berdiri, memasukkan buku ke dalam tasnya, namun langkahnya terhalang dengan lelaki pemaksa lainnya.

Sepertinya Naruto sedang sial kali ini. Dia mendelik menatap lurus-lurus Sasuke. "Jangan halangi jalanku."

"Kau belum mendaftar?" tanya Sasuke mengabaikan gertakan Naruto.

"Aku sudah mengatakan tidak akan mengikutinya, bukan? Kopetisi seperti itu hanya akan membuang-buang waktuku saja."

"Ini kesempatan terakhirmu, Naruto." Sasuke berusaha menahan Naruto, dia tidak ingin Naruto menghindari pembicaraan mereka.

"Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri. Kau tahu kemampuanku, dan aku tidak ingin terlibat dengan orang-orang kaku seperti ayahku. Apa kau mengerti? Ayahku dan ayah Hinata tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Naruto mendelik, intonasinya meninggi.

"Aku tahu, karena itu aku memaksamu untuk mengikutinya."

Sasuke tahu keputusan yang dia ambil. Mengenai ayahnya—Fugaku, Minato dan juga Hiashi. Dan dia memilih berdiri di tempat berbeda dari tiga pemimpin perusahaan tersebut.

Memilih mendukung Naruto dengan orang yang baru ditemuinya. Meski Sasuke tak benar-benar percaya dengan lelaki yang kemarin sore berbicara hal tak masuk akal. Tapi dia memilih untuk mencoba.

Kejadiannya saat Sasuke baru pulang dari kampus, dia mendapat pesan dari nomor asing. Seseorang yang mengirimi pesan tersebut memintanya bertemu di kafe dekat kampus.

"Aku memiliki firasat, apa yang kau katakan nanti adalah sesuatu hal penting, meski aku tidak mengenalmu." Sasuke mengambil tempat duduk. Dia tampak tenang, meski yang ada di hadapannya ini seorang lelaki berwajah dingin—seperti dirinya, dengan setelan jas yang membuatnya tampak lebih kaku. Berbeda dengan Sasuke yang mengenakan kaos dan jaket layaknya mahasiswa biasa.

"Kau memiliki firasat yang kuat. Namaku Hyuuga Neji."

"Hyuuga?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Aku rasa kau sudah mengerti apa yang akan aku katakan ke depan. Sebaiknya kau memesan makanan terlebih dahulu."

"Tunggu." Sasuke menahan Neji. Dia memerhatikan wajah Neji dengan seksama. "Bukankah kau tidak terlalu blak-blakan? Menggunakan nama Hyuuga, dan berbicara serius seperti ini. Kau itu bodoh atau apa?" Sasuke menarik sebelah ujung bibirnya.

Bagaimana bisa lelaki sebaya dengan Sasuke, bertindak sembrono dengan mengenalkan diri sebagai Hyuuga. Sasuke cukup tahu jika dirinya mungkin diincar oleh prusahaan besar lantaran ayahnya turut andil dalam kompetisi besar tahunan yang digadang-gadang sudah melahirkan arsitek-arsitek hebat yang mendunia. Benar apa yang dikatakan Naruto padanya siang tadi, bahwa kompetisi ini tak lebih dari kandang kontor dengan berjuta permainan kotor di dalamnya. Pasti ada-ada saja yang akan berbuat curang. Seperti, bertanya siapa juri-juri yang akan menilai mereka nantinya? Karena pada nyatanya seseorang yang direkrut sebagai juri tidak boleh mengumumkan pada siapa pun termasuk peserta. Penilaian akan berlangsung secera rahasia. Namun sering kali ada saja juri yang memihak salah satu peserta lantaran sudah disuap.

Neji tertawa kecil, "Sepertinya aku memang bodoh. Aku menyelidiki latar belakangmu, pergaulanmu dan kebiasaanmu. Dan sepertinya aku menyerah dengan misi yang akan aku jalankan. Kau cukup pintar untuk bisa menebak bahwa aku seorang Hyuuga meski aku tidak mengatakannya sekali pun."

"Lalu?" Sasuke menjadi serius. Dia menatap lurus-lurus lelaki berambut panjang yang ada di hadapannya.

"Aku tidak akan memintamu untuk membocorkan siapa saja juri dalam kopetisi nanti. Aku menawarkanmu untuk bekerja sama denganku. Aku menaruhkan hidupku di sini."

"Kita tidak sedang membicarakan mafia atau kejahatan, bukan? Aku tidak akan ikut jika sampai menaruhkan nyawa." Sasuke menyela.

"Naruto. Kau mengenalnya, bukan?" Neji mengerling, bibirnya terangkat.

Sementara Sasuke sukses terpaku. Sasuke tak berkomentar, dia memilih diam dan memerhatikan apa yang akan dikatakan lelaki Hyuuga ini.

"Hiashi Ji-san memintaku untuk mengikuti audisi ini. Padahal aku sudah lulus setahun lalu. Aku tidak begitu tertarik dengan kopetisi ini, jika bukan printah dari Ji-san. Aku yakin saat ini kau berpikir bahwa aku akan bermain curang." Neji memberikan jeda pada perkataannya. "Aku anggap pemikiranmu itu benar. Aku akan tetap mengikuti perintah Ji-san— mengikuti kopetisi itu, tapi aku tidak berniat untuk menang."

"Namikaze Naruto. Aku ingin dia yang memenangkannya." Neji memberi penekanan pada kata-kata terakhirnya.

Sasuke tak langsung merespon, dia terpaku untuk sesaat. Pikiran aneh menggelayuti otaknya. Rasanya Sasuke ingin menelepon rumah sakit jiwa dan mengatakan ada pasien yang kabur dari sana. Sasuke sulit menerima bahwa perkataan itu keluar dari mulut seorang Hyuuga.

"Kau tidak sedang membuat strategi agar aku percaya padamu, bukan? Sungguh, perkataanmu itu tidak masuk akal. Aku tahu permusuhan antara Namikaze Minato dan Hyuuga Hiashi, lalu kau berkelakar menginginkan Naruto untuk menang? Apa kau ingin mati?"

"Aku sudah mengatakan sebelumnya, bahwa aku menaruhkan hidupku di sini. Permusuhan Minato-san dan Hiashi Ji-san tidak ada hubungannya denganku. Aku memilih Naruto karena dia suami dari sepupuku—Hinata. aku yakin kau sudah mengerti situasi mereka saat ini." Neji menghela napas, rasanya berat untuk mengatakannya apa lagi meyakinkan lawan bicaranya ini bahwa dia berkata jujur.

Ini menarik. Sasuke menyamankan posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan yang bertaut di depan dagu. "Apa rencana yang sudah kau buat? ... anggap saja aku memercayaimu."

Kendati nyatanya Sasuke tidak serta-merta percaya pada ucapan Neji. Lelaki itu tetap saja melakukan apa yang sudah mereka rencanakan. Dengan misi pertama, yaitu; memaksa Naruto untuk mendaftar.

Tangan Sasuke ditampik kasar oleh Naruto.

"Kalian ... berhenti memaksaku." Safir Naruto menatap lekat ke arah Sai kemudian beralih pada bola mata Sasuke. Naruto tidak habis pikir dua temannya ini benar-benar pemaksa.

"Aku sudah mengatakan tidak mau. Dan jangan berharap aku akan berubah pikiran."

~oOo~

Hinata menatap syal buatannya yang baru selesai dirajut. Matanya berbinar puas dengan hasil kerja kerasnya. Hinata meletakkan perlahan pada nakas, irisnya enggan lepas barang sejenak saja dari benda merah tersebut.

"Aku harap Naruto-kun menyukainya."

Seulas senyum bertengger, beriringan dengan jemari yang ditariknya. Membiarkan syal tersebut berada di sana agar mudah dilihat.

Hinata meregangkan sedikit tubuhnya. Dia menatap ke sekeliling, berpikir bahwa dirinya sudah menghabiskan banyak waktu untuk merajut, sampai-sampai lupa untuk membereskan rumah.

Tanpa membuang waktu, wanita yang kini mengusir kebosanan ini secara cekatan merapikan ranjang dan pakaian-pakaian yang tergantung di sana. Meletakkannya pada keranjang cucian. Kini dirinya beralih pada meja belajar suaminya.

Terlihat berantakan. Wanita yang sudah melepas impiannya tersebut meraba permukaan datar buku-buku yang sangat dikenalnya. Hinata paham dengan semua buku ini lantaran dia memilih jurusan yang sama dengan Naruto. Wanita ini terlihat merindukan kegiatan menjadi mahasiswa.

"Huh, Apa ini?" jemarinya menemukan selembar kertas yang terselip pada salah satu buku milik Naruto.

Lavendernya menatap lekat deretan hurup yang tertulis di sana. Seketika jemarinya mengeras sedikit meremas kertas tersebut, begitu pun dengan rahangnya yang mulai mengeras dan membuang napas panjang juga menyesakkan.

Hinata tahu betul apa ini. Sebuah kertas pendaftaran. Mimpinya tahun lalu yang masih berjalan lurus dan begitu polos. Hinata ingin mengikuti kopetisi ini, dia juga mendengar Naruto ingin mengikutinya. Wanita yang kini menyandang gelar sebagai istri tersebut hanya bisa menghela napas sesak lantaran sebuah jalan menuju mimpinya telah menghilang tepat di hadapannya.

Jika saja...

Tapi Hinata tidak ingin menghakimi nasibnya sendiri. Hinata cukup tahu diri dan bersyukur. Wanita itu meletakkan kertas tersebut kemudian meraih pena untuk mengisi formulir tersebut.

Namun detik berikutnya Hinata berhenti. Dia berpikir kembali posisinya—Tidak. Posisi mereka. Apa semua akan berjalan mudah sekarang? Tiba-tiba Hinata merasa takut.

Hinata membuka laci meja, ada kotak bekas sepatu yang menyimpan beberapa buku yang Hinata simpan, di antara buku tersebut ada sebuah kertas yang sudah kusam dengan beberapa coretan di sana. Sebuah design rumah yang Naruto buat jauh sebelum mereka menjalani hubungan ini.

Sebuah design yang Hinata temukan kala membereskan buku-buku tempo hari. Jika diingat kembali, ini adalah rumah impian Naruto. Dan Hinata tahu betapa Naruto menginginkan pengakuan dari ayahnya dengan cara meraih mimpi.

"Maafkan aku Naruto-kun. Mungkin jalan yang akan kau lalui sedikit sulit. Aku harap kau bisa melaluinya."

Hinata meyakinkan diri bahwa pilihan yang dia ambil ini benar. Dia menulis formulir untuk Naruto.

Kendati tidak begitu yakin, Hinata terus menyemangati diri untuk pergi ke sana... perusahaan Senju. Tempat dimana kopetisi diadakan.

Hinata menatap banner yang terpasang di pintu masuk. Kopetisi tahunan yang selalu diadakan awal tahun ini selalu mengundang anemo yang luar biasa. Sebenarnya Hinata sedikit malu. Dia takut jika saja bertemu dengan orang yang dikenalnya. Sebisa mungkin Hinata mencoba untuk terlihat seperti orang asing. Mulutnya ia tutup dengan syal yang melilit lehernya, berharap tidak ada seorang pun yang mengenalnya.

Memang tidak membuatnya nyaman, untung saja Hinata hanya perlu menyerahkan formulir tersebut pada panitia tanpa harus berbasa-basi dengan orang-orang yang berkepentingan atau berlagak sok penting. Entahlah, Hinata hanya ingin pergi dari sini sesegera mungking.

Kaki kecilnya berjalan cepat lalu mulai melambat setelah dirasa cukup jauh dengan gedung yang baru saja dia jambangi. Udara dingin serasa menusuk-nusuk, Hinata mengeratkan jaketnya. Edarannya mengeliling, tak sengaja menangkap seluet orang yang ia kenal berada di sebrang jalan berlainan dengannya.

Senyumnya mengembang ketika menyadari bahwa orang tersebut melambaikan tangan ke arahnya. Ah, rasanya sudah lama tidak melihatnya. "Neji Nii-san." Hinata merindukannya, dia ingin menyapa.

Neji menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang melintas sebelum akhirnya dia berjalan menuju Hinata. Namun sebuah mobil sedan hitam melaju lurus tanpa ada sinyal sedikit pun bahwa mobil tersebut akan berhenti.

Hinata yang melihatnya sontak saja berteriak, "Neji Nii-san, awas!" berlari sekuat tenaga berharap bisa mendorong sepupunya tersebut.

Brak!

Iris lavender itu membulat, setelah telinganya menangkap teriakan kini matanya yang merespon objek yang bergerak secara cepat di hadapannya.

"Hinata!" Neji berteriak histeris.

Mobil yang melaju pada jalur yang dilalui Neji, mengetahui keberadaan Neji lantaran Neji berjalan dari kejauhan sebelum mobil tersebut sampai di sana, dan tentunya mobil tersebut mengurangi kecepatannya dan menghindari Neji.

Namun, mobil sedan yang berjalan di jalur yang dilalui Hinata tak tahu ada seseorang yang menyebrang lantaran Hinata berlari secara tiba-tiba dan mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

Hinata terserempet, lalu terhempas dua meter dari tempatnya. Pandangannya mengabur, pundak dan dadanya terasa remuk, sangat menyakitkan. Napas Hinata terpenggal-penggal. Dia menatap pria yang kini tampak panik. Hanya ada satu yang ada di pikirannya saat ini.

"Neji Nii-san ... aku tidak ingin kehilangan bayiku."

—TBC—


Untuk yang meminta update cepet. Via sudah menepatinya.. aku sendiri tahu jika update lama—berbulan-bulan—akan menyulitkan kalian untuk mengingat alur sebelumnya. Tapi kalian juga harus tahu diri, tidak semua author akan fokus pada tulisannya. Ada banyak hal yang harus dikerjakan, dan di pikirkan di dunia nyata. Dan membangun mood menulis itu sulit sekali. Dari pada menuntut author untuk up cepat, kenapa tidak kalian saja yang menulis cerita?

Aku setuju dengan review dari nana anayi; "Tulisan ini adalah dunia imajinasi kita, yang ingin bergabung dalam imajinasi, silahkan, yang tidak berkenan juga silahkan." Dan aku tidak pernah memaksa orang untuk membaca mau pun bertahan membaca sampai akhir. Tentu aku sangat berterima kasih pada kalian yang sudah membaca sampai sejauh ini. Aku hanya ingin berkata: ini imajinasiku.. aku tidak mau ada reader yang mengatur harus seperti ini, seperti itu, alurnya begini, alurnya begitu, character ini harusnya begini, dan character itu harusnya begitu. Flash back ini harusnya begini, dan jangan begitu.

Saya bukan babu.

Terima kasih sudah membaca.. doakan saja aku cepat menyelesaikan fanfic ini. Karena aku akan berusaha untuk menamatkannya.