Park Jimin and Min Yoongi?

Yes, They Love each other.

.

.

.

btsyugar's story

.

.

Berhubung kemarin Jimin mendapat uang tambahan karena membantu tetangganya membuat rumah anjing, hari ini Jimin berencana mengajak Yoongi berkencan. Lumayan, mengisi perut mereka dengan makanan manis di hari minggu.

Tapi, sebelum dia membuka pintu, suara Ibunya sudah memotong, menghentikan semua pergerakan Jimin.

"Ada apa, bu?"

"Mau kemana? Kenapa sudah rapi?" Tanya Ibunya.

"Kan Jimin sudah izin tadi pagi mau pergi." Jimin menghentak kakinya lucu.

"Antar Ibu dulu ke supermarket." Ibunya tersenyum. "Nanti Ibu tambah uang jajanmu." Ibunya memainkan alis, seolah mengajak Jimin bernegosiasi.

"Mau Bu, tapi Jimin kan sudah a-"

"Mau makan tidak? Bahan di kulkas habis. Masih mending Ibu minta antar ke supermarket, coba kalau ke pasar, kan lebih lama." Omel Ibunya. "Memang sudah buat janji?"

"Belum sih," Jimin menggaruk tengkuknya.

"Ya sudah ayo, naik mobil Ayah saja."

"Aku kan belum terlalu pandai."

"Belanjaannya banyak, sudah jangan cerewet."

Jimin sukses manyun.

.

.

.

Memang ya, Ibu-ibu itu kalau sudah belanja pasti akan memakan waktu lama. Ini sudah dua jam Jimin menunggui Ibunya, mendorong troli kesana-kemari, mengangkat belanjaan yang sekiranya cukup berat, juga membantu Ibunya memilih ini itu.

Kalau begini, sudah dipastikan kencan yang ia rencanakan gagal.

Bisa saja Yoongi sudah asik dengan bola basket di Taman dan Jimin malas sekali harus kesana.

"Eh, Jimin?" Jimin menoleh, ia terkejut mendapati sosok tak asing dihadapannya. Ia segera membungkuk sopan lalu tersenyum manis.

"Halo Bibi, tidak menyangka bertemu disini, hehehe." Jimin menggaruk tengkuknya canggung.

"Sudah lama tidak main ke rumah."

"Iya, akhir-akhir ini harus ikut Ayah kesekolah karena motor di bengkel, Bibi sehat?"

"Jim?" Jimin menoleh lagi, kali ini mendapati Ibunya yang tengah membawa botol susu dan langsung meletakkannya di troli. "Ah, halo."

"Ibu Jimin?"

"Iya. Park Jinyoung, anda?" Ibu Jimin mengulurkan tangannya.

"Cho Hyelhyn," Kedua Ibu itu bersalaman.

"Ibunya teman Jimin?"

"Ibu pacar Jimin kalau boleh jujur." Ibu Yoongi tertawa kecil. Ibu Jimin hanya melebarkan matanya lalu menatap ke anaknya yang salah tingkah.

"Ibunya Yoongi? Yang kau ceritakan itu?" Bisiknya.

"Iya," Jimin menjawab malu-malu.

"Ibu," Mereka bertiga kali ini menoleh bersamaan, mendapati Yoongi yang salah tingkah karena ditatap intens begitu. Rasanya dia ingin kembali ke rak makanan ringan saja lalu menunggu Ibunya di parkiran.

"Ah Yoongi, Ibu bertemu dengan Jimin dan Ibunya. Kemari, beri salam dulu." Ibunya melambai, menyuruh ia mendekat.

"Selamat pagi, Bi." Yoongi membungkuk sopan lalu tersenyum. Dia tidak tau saja jika Jimin tengah terpesona.

Min Yoongi yang memakai hoodie coklat dipadu dengan celana jeans selutut dan snapback hitam terlihat sangat menggemaskan. Jimin rasanya ingin menculik Yoongi lalu memeluk pemuda itu seharian.

Itu juga kalau Yoongi tidak memenggal kepalanya.

"Jadi ini ya Yoongi? Manis sekali, tampan juga." Ibu Jimin mengelus lengan Yoongi. Heran kenapa anak semanis Yoongi mau dengan anak sebulat Jimin. Jimin tidak bulat-bulat sekali sih, tapi pipinya itu seperti pantat bayi.

Tuh, memikirkannya saja sudah membuat Ibu Jimin gemas sendiri.

"Ah, terimakasih Bi." Yoongi menjawab kaku.

"Ayo mengobrol sambil makan, ini hampir memasuki jam makan siang kan?" Ibu Yoongi mencairkan suasana. "Tidak sedang terburu-buru kan, Jinyoung eonnie? Ku rasa aku memang harus memanggil Eonnie."

"Benar, aku tau kau lebih muda." Mereka terkekeh bersama. "Ayo, kebetulan tadi Jimin juga ingin menemui Yoongi sebelum aku seret kemari."

"Ah, anak muda~~"

.

.

.

Mereka memilih duduk di sebuah restoran Jepang yang berada di dekat Supermarket. Suasana lebih mencair karena nyatanya kedua Ibu itu cepat akrab dan sama-sama suka menggoda anak mereka yang duduk bersebelahan di depan mereka.

Sedangkan kedua anak yang dibicarakan hanya bisa menunduk malu atau melaksanakan aksi pura-pura tidak dengar sebelum pipi mereka meledak.

"Kemarin Jimin bilang Yoongi mau menjadi guru les piano di rumah, bagaimana? Jadi?" Ibu Jimin bertanya.

"Yoongi belum bilang ke Ibu, Bi." Jawab Yoongi pelan, takut Ibunya marah.

"Les? Maksudnya mengajarkan Jimin?"

"Iya, aku ingin sekali Jimin bisa bermain piano. Guru Park kan sudah tidak mengajar. Cukup dua kali seminggu, lumayan, menambah uang jajan kan?" Goda Ibu Jimin lagi.

"Duh, sama kekasih sendiri harus bayar?" Sambung Ibu Yoongi.

"Tidak apa-apa, biar Yoongi jadi lebih tanggung jawab kan? Daripada part time ditempat lain?"

"Kalau aku terserah Yoongi saja, Eonnie. Kalau dia bisa membagi waktunya ya tidak masalah."

"Aku mengurangi porsi keluar dengan tim basket kok Bu, hanya latihan di sekolah saja. Aku juga mengambil hari Jum'at dan Minggu, jadi hari sabtu aku bisa membantu Ibu dirumah." Yoongi menatap Ibunya lucu, mengharapkan Ibunya mengangguk menyetujui.

"Boleh saja, asal jangan lupa belajar. Uangnya ditabung, katanya mau beli kamera kan?" Yoongi mengangguk senang.

"Nah, jadi bisa dimulai minggu besok kan?" Tanya Ibu Jimin lagi.

"Bisa, Bi!" Jawab Yoongi semangat disertai anggukan yang membuat Jimin mengigit sendoknya gemas.

"Semangat sekali. Ya sudah sana, kalian jalan dulu. Bibi masih ingin mengobrol dengan Ibumu."

"Tidak perlu menunggu, Ibu akan mengantar Ibu Jimin pulang nanti. Jimin antar Yoongi pulang ya?" Ibu Yoongi mengedipkan matanya ke Jimin.

"Eh tidak apa-apa, Hye?"

"Santai saja Eon."

"Ya sudah sana, jangan pulang terlalu larut."

.

.

.

.

Jimin tak berhenti tersenyum karena Yoongi menggenggam tangannya semenjak mereka memutuskan untuk duduk didalam mobil yang terparkir di pinggir taman dengan dua gelas bubble tea. Yoongi bilang, dia sedang tidak mood kemana-mana dan dia hanya ingin duduk seraya mendengarkan music.

Jadilah Jimin menyetel music dari ponselnya karena Yoongi juga protes jika lagu yang diputar di radio bukanlah style-nya sama sekali.

Padahal Jimin juga tau jika Yoongi hanya pusing mendengar lirik Bahasa Inggris yang tidak ia ketahui apa artinya.

"Jadi, hyung besok akan mulai mengajariku?" Tanya Jimin.

"Ya, tapi ingat ya Jim, aku tidak mau saat aku datang kau masih belum siap." Ancam Yoongi.

"Tenang saja hyung! Jimin akan siap dua puluh empat jam untuk menyambutmu!" Jimin cengengesan sedangkan Yoongi mendengus geli.

"Dasar bocah,"Ejeknya lalu melepakan tautan tangan mereka.

"Kenapa dilepas?" Tanya Jimin kecewa. Ia kan sedang asyik menghafal tingkat kemulusan kulit Yoongi, kenapa malah diganggu?

"Jimin, Seokjin kemarin bertanya tentang status kita."

"Lah? Kita kan pacaran, apalagi? Memang status kita di Bio kurang meyakinkan ya? Apa perlu aku membuat kita menikah saja?"

"Bodoh!" Ketus Yoongi.

Jimin gelagapan saat Yoongi memutuskan keluar dari mobil lalu berjalan keluar. Namun ia segera tersenyum karena nyatanya Yoongi hanya pindah tempat, ia duduk di kursi belakang dan Jimin langsung mengikuti Yoongi, duduk disamping pemuda itu di kursi belakang.

"Memang status apa yang ditanya?" Tanyanya lagi, takut jika Yoongi marah.

"Kau tau kan, dihubungan yang seperti ini ada dua astaga, apa itu namanya?"

"Hum, aku mengerti kok hyung. Mendominasi dan yang di dominasi itu kan?" Tanya Jimin diiringi kekehan.

"Nah, itu." Yoongi mengangguk puas. "Dia bertanya padaku apa posisiku dan apa posisimu. Saat itu aku hanya menjawab jika kita tak mempermasalahkan posisi itu tapi sejujurnya aku tidak tau pendapatmu."

Yang lebih muda mengangguk mengerti. Ia menggeser sedikit posisinya agar menghadap Yoongi lalu tangannya terarah untuk merapikan poni Yoongi yang sedikit menutupi mata.

"Kalau bagiku sih sama saja. Kau pria, aku juga, dan aku tau betul bagaimana dirimu hyung." Jimin tersenyum manis. "Kau punya harga diri yang harus kau junjung dan aku pun begitu. Maka dari itu, ayo kita buat ini simple dan seimbang. Kita lalui semuanya sesuai naluri tanpa naskah dan jangan memusingkan hal yang tidak harus kita fikirkan."

"Memang kau tak terfikir apa yang mereka fikir?"

"Apa? Hubungan semacam itu?" Yoongi mengangguk dan Jimin tertawa pelan. Kini, tangannya turun mengelus lembut pipi Yoongi. "Kita masih SMA dan kau pernah bilang jika kau belum tentu berada disampingku selamanya. Aku tak mau mengambil apa yang seharusnya belum menjadi milikku dan aku tau kau juga begitu kan?"

"Aku senang kau mengerti." Yoongi tersenyum, tangannya meraih tangan Jimin dipipinya. "Kita tak harus sama seperti mereka kan? Karena aku menerimamu sebagai orang yang aku sayangi, bukan orang yang ingin ku dominasi atau mendominasiku. Aku suka kita yang seperti ini, saling menghargai keputusan masing-masing dan tak terkesan atur mengatur meski kadang aku sering memberi arah."

"Itu wajar hyung." Mata Jimin melembut. "Kau lebih tua dariku, sudah seharusnya aku menghormatimu sekalipun kau kekasihku. Hyung, jika boleh jujur, aku sangat senang berada dihubungan ini karena kau mau mengerti dan mengimbangi sifat kekanakkanku."

"Yang terpenting karena aku Min Yoongi dan kau Park Jimin kan?" Goda Yoongi jahil.

Mereka saling tertawa, seolah mengabaikan alunan music yang kembali berganti. Jimin diam-diam kembali terpukau karena keadaan ini sangat menenangkan hatinya.

Ia tak butuh status seperti Seokjin dan Namjoon ataupun Jaehwan dan kekasihnya yang bernama Ravi itu. Karena seperti yang Yoongi bilang, mereka ada untuk berdiri sebagai orang yang saling menyayangi, bukan yang saling memperebutkan status mendominasi atau yang didominasi.

Mereka sama-sama pria, tentu mereka butuh kedua posisi itu tanpa harus mengutamakan satu saja.

CHUP

Jimin tersentak saat Yoongi mengecup pipinya cukup lama.

"Jahil ya? Sini aku balas!"

Dan sore itu, Jimin sibuk mencoba menangkap Yoongi kepelukannya untuk memberi satu atau lima atau mungkin berpuluh-puluh kecupan di pipi sebagai pembalasan tingkah mengejutkan Yoongi.

TBCONG~~~

ADA YANG KANGEN DENGAN FF INI KAH? GA ADA? BAGUSSS! /ngais perhatian Jimin/

Jadi, Syugar sedang galau karena mixtape-nya bang Agus dan foto prewed YoonMin! Sumpah ya kenapa mereka ga nikah aja Ya Ampuun! Apa perlu gue yang narik itu mini berdua ke KUA? GEMES BANGET YA AMPUN! MOMENT DIMANA-MANA DAN TERSELIP MOMENT JIKOOK DI BON VOYAGE! Aku sih ok kalau Yoongi sama Jungkook tapi kalau Jikook? MAaf sekali temanku yang me-req cerita itu! AKU TIDAK BISA BIKIN! AKU CEMBURU SAMA MEREKA! T_T

OKe lah, Terimakasih atas segala Supportnya Yeorobun! Syugar balas komentar kalian lewat pm ya ( percayalah aku ga ngerti istilah FFn)

PPYONG~~