Title: Back of Coin

Chapter: 2 / 4

Starring: Huang Zitao, Wu Yi Fan, Wang Darren, Zhang Yixing

Author: Annannnn

Pairing: KrisTao (main), RenTao (side pairing), KrisLay (broke up, mentioned)

Rating: NC

Genre: angst, romance, fantasy and crime AU

Disclaimer: I have a great power upon my fanfic and this story undeniably mine to post and edit. I only use their names for the sake of storyline. You have no rights to copy and change the storyline under any circumstance. Inspired by The Reason by Hoobastank.

Warning: Violence. Messed up timeline. Crude words.

Chapter 2 — Start

"The man will end up on hanging tree, the lovers will mourn their souls inside the tower while the moon watching them in her sincerity."

.

Ruangan itu begitu luas, lantainya berhamparkan permadani putih dengan dindingnya yang putih bersih, di tengahnya terdapat meja kaca yang besar dikelilingi kursi ramping yang terbuat dari stainless steel dengan bantalannya yang berwarna putih susu. "Aku khawatir dengan prediksiku sendiri," sosok yang mengenakan pullover putih dan celana khaki itu memulai. Kartu Tarot terlihat berjajar di meja dengan seorang pemuda yang duduk tak jauh darinya, sibuk mengamati dan menerka-nerka maksud perkataannya.

"Ada hal fatal yang akan terjadi lagi," ucapnya sambil meletakkan tiga kartu di atas meja. Kartu pertama bergambar sebuah menara yang tersambar petir dan terbakar, kartu kedua bergambar seorang pria yang digantung pada dahan pohon secara terbalik dan kartu terakhir dengan pria dan wanita yang berdiri berhadapan. Melihat itu sang pria yang duduk di dekatnya mengernyitkan dahi.

"The tower, the hanged man, dan the lovers," ia menjajarkannya setelah memandangi kartu terakhir di tangannya beberapa detik lebih lama dari yang lainnya. "Akan adanya konflik hebat yang mungkin melibatkan tragedi, perubahan drastis yang mungkin mengubah takdir seseorang untuk selama-lamanya, dan…" ia berhenti, mengulas senyum miris, "… drama, betapa manusia menyukai keberadaan drama sebagai pewarna hidupnya, terlalu klise." Tawanya pelan terdengar mencemooh selagi menelaah foto seorang pemuda yang disodorkannya padanya sejak dari dua menit yang lalu dan kini tengah dibacakan alur hidupnya secara gamblang olehnya sendiri.

Pemuda di hadapannya pun berujar, "Layaknya dua mata koin ya? Tidak akan ada sisi kepala tanpa kehadiran sisi ekor, benar-benar ketergantungan yang terlalu tinggi." Berdecak sedikit, ia mengangsurkan selembar foto lainnya, seorang pemuda dengan kemeja putih yang memasang ekspresi sendu. "Aku mendapat penglihatan jika dia akan berguna di masa depan, kau harus menyingkirkannya dulu untuk sementara," perintahnya tak dapat diganggu-gugat, sedikit terlalu otoriter.

Pemuda itu menghela nafas panjang. "Sampai kapan? Aku tidak ingin akan ada orang yang tersakiti, terlebih kehilangan jiwanya," suaranya terdengar lirih dan tak yakin sementara pemuda di hadapannya itu berdiri dan mengusap rambut cokelat kayunya dengan lembut.

"Sebentar lagi, oleh karena itu jadilah anak baik, dan lakukan pekerjaanmu seperti biasanya. Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu," mengulaskan senyum malaikat, pemuda dengan kemeja dan suit hitam itu pun beranjak dari sana membawa sebuah koper metal, berniat meninggalkan pemuda yang masih sibuk dengan kartu tarotnya tersebut.

"Ah, kau boleh menemuinya besok, buatlah sesuatu yang berkesan, tapi jangan pernah melupakan kepada siapaku kau harus kembali," mengecup dahi mulusnya, ia menepuk pundaknya pelan. "Kau pasti bisa," ucapnya dengan suara yang mantap.

"Tapi… bagaimana kalau dia menolakku sebelum kau sempat bekerja? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya setengah memaksa.

Pemuda dengan suit itu tersenyum simpul seakan meremehkan. "Asalkan kau menjauhkannya dari the lover, semuanya akan baik-baik saja," mata pemuda yang tengah duduk itu melebar menangkap maksud perkataannya. Ia yang tengah berdiri tersebut hanya tertawa kecil, kilatan berbahaya terlukis di matanya yang sekilas terlihat layaknya kegelapan mennggantikan senja.

"Karena jika kita tak bisa memisahkannya kedua sisi koin, lebih baik kita membengkokkannya, sampai patah," suaranya terdengar terlalu keji untuk wajahnya yang terlihat ramah, dan tak berdosa.

Membalas senyuman bengisnya, pemuda dengan pullover putih itu tersenyum begitu manis layaknya sakarin yang meninggalkan rasa pahit yang tak akan kunjung hilang dari ujung lidah.

"Demi kamu, aku akan mematahkannya," cetusnya dengan nada riang.

~†~†~†~

Darren menegaknya latte-nya dengan wajah masam, di sebelahnya Shin Hye sedang bersenandung sembari membuat catatan di IPad-nya. Terpampang jelas nama, nomor telpon dan jumlah uang yang ditransfer masuk ke rekening yang ia kelola lengkap dengan tanggal dan nomor urutan masuk di hari tersebut, tersusun rapi, dan rinci. Di seberangnya, Kai Ko menghisap lintingan ganja yang baru ia dapat dengan santai, tak terlalu mempedulikan teman-temannya yang sibuk dengan tugas maupun buku mereka sendiri. Sekilas puntung yang ia pegang tak melebihi puntung rokok pada umumnya berkat ketelitian peraciknya sebelum diedarkan kepada para pelanggan.

"Kau makin lengket dengan anak itu, kau yakin tak ingin berbagi denganku," Kai Ko menaik-turunkan alisnya seakan memberikan isyarat yang cukup jelas untuk ditangkap tanpa perlu penelaahan lebih lanjut. Tangannya masih memainkan sisa lintingan ganja di tangannya sebelum membuangnya ke asbak di depannya, membuat Shin Hye berdecak kesal karena potongan daunnya sempat berhambur ke dekatnya.

Darren menatapnya malas. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan bocah satu itu. Pamanku yang menitipkannya padaku, orang tuanya di Qingdao dan ia kuliah sendiri di sini." Ia menenggak habis latte-nya kemudian mengeluarkan gadget-nya dari kantong, di sana terpampang jelas pesan dari orang yang baru saja ia bicarakan.

"Aku rasa dia bukan bocah kalau melihat dari tubuhnya," Kai Ko mengerling padanya. "Dari anak itu ya?" tanyanya menyiratkan rasa penasaran. Sebenarnya pemuda itu sudah cukup tertarik saat pertama kali bertemu dengan Tao yang nampak canggung masuk ke dalam club menjemput Darren beberapa minggu lalu. Wajahnya menyiratkan ketidaksetujuan saat menemukan isi dari night club yang agaknya tak cocok dengan preferensinya dalam menikmati waktu senggang di kala malam.

Pemuda bermata setajam rubah itu mengangguk pelan. "Biasalah, dia menyuruhku untuk pulang, membuat tugas, dan beristirahat. Benar-benar cerewet," tuturnya dengan ekspresi jengkel. Bersandar di sofa kulit berwarna hitam di tengah ruangan lumayan luas dengan permadani dari Persia dan wallpaper cokelat yang terlihat mewah sekaligus dingin, Darren menyamankan duduknya di sebelah Shin Hye yang kini meletakkan kepalanya ke bahunya.

Kai Ko tertawa pelan. "Dia roommate atau pacarmu sih?" Darren mengedikkan sebelah bahunya dengan wajah malas sebelum menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam, memenuhi rongga paru-parunya dengan nikotin yang akan mengendap, berakumulasi di dalam tubuhnya. Tangan pemuda itu merengkuh tubuh Shin Hye sementara Kai Ko menuang segelas gin dan menghabiskannya dalam sekali tenggak.

"Kalau kau bosan, biar aku yang menanganinya, aku selalu penasaran dengan bibirnya yang mungil dan tubuhnya yang ramping," komentarnya dengan sorot mata liar dan bejad membuat Darren melemparkan kotak rokoknya yang sudah kosong ke wajah temannya itu.

Memberikan tatapan tajam, ia memperingati lagi, "Jangan macam-macam ya, dia masih belum mengerti yang aneh-aneh. Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya dengan tangan kotormu." Kai Ko hanya menyunggingkan senyum meremehkan selagi perempuan yang bersandar di bahu temannya itu kini menarik Darren pergi bersamanya, sepertinya ingin melakukan sesuatu yang tak layak untuk dipertontonkan kepada khayalak umum.

"Aku tak bisa berjanji, aku butuh mainan baru," cetusnya pelan mengamati Darren yang kini terlihat mengobrol serius dengan Shin Hye sampai pintu mengayun menutup. Kai Ko duduk sendirian memandangi kepala beruang yang diawetkan dan menjadi pajangan di seberang sana dengan mulutnya yang terbuka.

"Bye, Jaycee," ucapnya pada seseorang yang duduk di sudut ruangan dengan notebook yang menyala di atas meja, menyambut lambaiannya dengan asal.

Pria itu berdeham dan melanjutkan aktivitasnya menyalin data transaksi yang sebagian sudah Shin Hye kirimkan melalui e-mail padanya. Sebagai pengeksekusi data dan kegiatan sebelum diserahkan ke pada atasannya maka ia harus benar-benar mengemas dan menyajikannya secara mendetail. Atasannya tak pernah mau menerima data mentah tak diolah, bisa-bisa ia diturunkan dari jabatannya tersebut. Menghela nafas, pria berkemeja hitam itu mengenyahkan rasa penasarannya sendiri untuk menemukan sosok atasannya yang sebenarnya dan mulai menuntaskan diagram yang dibuatnya.

Tak sampai lima menit Darren sudah keluar dari ruangan yang ia masuki bersama Shin Hye dengan wajah kusut. "Kau pulang saja," ujar gadis itu menasihati dnegan wajah netral, mengambil IPad-nya kembali, ia bersiap dengan tasnya.

Darren mengangguk, memakai jaket, dan meraih ranselnya. "Aku akan mengantarmu pulang," cetusnya tak ingin dibantah sebelum mengerling sejenak pada pria yang baru-baru ini dilihatnya. "Kami duluan ya," setelah dijawab dengan anggukan pelan, Darren membukakan pintu untuk Shin Hye dan turun ke club yang masih ramai—penuh dengan manusia berjiwa muda yang menikmati hentakan musik dengan minuman maupun puntung rokok di tangannya.

Berjalan menelusuri lorong, mereka melewati bouncer yang memberikan jalan dengan ekspresi datar kemudian memasuki Maserati hitam milik Darren. Mereka terhanyut dalam sunyi tak terlalu mempedulikan satu sama lain sementara dahi pemuda berkulit cokelat itu berkerut, menandakan bahwa ia merasakan kejanggalan yang kurang bisa ia tangkap begitu saja.

"Sebenarnya apa yang kalian lakukan?" tanyanya memecah keheningan membuat Shin Hye menoleh padanya.

Menatap jalanan dengan lampu-lampunya yang melesat menjadi sekelebat cahaya berwarna merah, jingga dan kuning yang samar, gadis itu menjawab, "Mengelola saham." Matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencoba mengalihkan atensinya pada apapun kecuali temannya yang duduk di belakang kemudi. Berbahaya, Darren memasuki batas wilayah yang cukup membuatnya tergugup takut tersandung dan terbongkar bagai ditelanjangi dari kekuasaannya.

Dalam benak Darren sudah muncul pertanyaan-pertanyaan berujung pada konklusi yang kurang nyaman untuk dibayangkan. "Saham dalam bentuk apa?"

"Saham untuk night club dan kasino yang tersebar di Beijing," jawab Shin Hye cepat, cukup membuat Darren tutup mulut dan kembali fokus pada jalanan yang masih cukup pada di beberapa titik persimpangan.

Ia mengingat kembali percakapannya dengan Darren di ruangan dengan rak bersusun berisikan buku juga pajangan dan televisi tujuh puluh dua inchi di salah satu dinding ruangan. Jantungnya sedikit berdebar saat mata tajam pemuda tersebut mengeluarkan sorot menuduh sekaligus penasaran dengan pertanyaan yang cukup membuatnya makin tak karuan. Pemuda yang menjadi temannya sejak dua tahun lalu itu agaknya mencium gelagat yang tak beres darinya juga Kai Ko yang terlihat menyembunyikan sesuatu setiap mereka pergi dari satu club ke club lainnya. Nyatanya setelah berhasil menyudutkan Shin Hye tadi, Darren masih memasang ekspresi yang sama, tak puas mendengar cerita yang ia tuturkan mengenai mengganti suasana club tiap kali mereka pergi ke luar—tentu saja semuanya lebih dari sekedar kunjungan untuk menikmati malam.

~†~†~†~

"Akh!" seruan kaget dari pemuda yang belanjaannya jatuh berserakan di lobi tersebut membuat Kris berhenti dan bergegas menghampirinya. Seorang pemuda yang tengah membawa begitu banyak barang yang tadinya berada di kantong plastik putih, kini berjongkok berusaha membereskannya dengan cepat, wajahnya terlihat panik.

"Kau tidak apa-apa?" ia ikut berjongkok memunguti bahan makanan yang keluar dari kantung plastik yang kini sobek membujur.

Mengulas senyum sopan, Tao yang masih memegangi dua buku tebal mengenai makro bisnis dan manajemen di tangannya menjawab, "Tidak apa-apa, terima kasih." Ia berusaha menjejalkan bukunya ke dalam ranselnya yang berukuran tak lebih dari dua jengkal meski sudah penuh dengan barang-barangnya yang lainnya layaknya netbook dan modul juga agendanya.

Mengerutkan keningnya melihat pemuda itu kepayahan dengan barang-barangnya sendiri, Kris menawarkan diri. "Mau aku bantu bawakan?" melihat pemuda di hadapannya itu ragu meski tangannya telah penuh dengan barang belanjaannya dan sisanya masih ada di tangan Kris, ia mendesah.

"Maaf, kau tak nyaman ya?"

Tao menggeleng, "Bukan, aku tak enak sudah merepotkanmu." Wajahnya terlihat jengah mengamati selusin telur yang sebagian pecah menggenangi kotak transparannya.

Kris mengikuti arah pandang matanya dan entah kenapa ia ikut merasa bersalah. "Tidak apa-apa, aku bisa membantumu untuk membawanya. Lagipula kita ini tetangga," tuturnya sembari menaruh sebagian belanjaan Tao ke tas kerjanya sendiri dan membungkus kotak telur dengan plastik yang sobek dan memeganginya dengan hati-hati.

"Maaf," lagi-lagi pandangan mata Tao ke arah bawah berikut tundukan kepalanya setelah menekan tombol lantai di sisi pintu elevator membuat Kris bertanya-tanya apakah memang sifatnya seperti itu atau ia merasa tak nyaman dengan orang yang baru dikenalnya.

"Tidak apa-apa, tidak masalah," ucapnya berusaha menenangkan membuat pemuda itu mengulas senyum tipis di bibir mungilnya. Terdiam sampai menunggu pintu elevator terbuka, Kris mengikuti Tao berjalan di koridor dengan wallpaper krem yang cukup sepi menuju apartment nomor 601 yang ada di paling ujung, tepat berseberangan dengan apartment miliknya sendiri.

Setelah berhasil menggesek keycard-nya dan memasukkan password, Tao mendorong pintu itu terbuka dan mempersilakan Kris untuk masuk. "T-terima kasih," pemuda itu mencicit selagi meletakkan sayur-mayur dan daging di dekat kompor kemudian menata makanan kalengan dan kering di dalam cabinet.

"Baik aku permisi du—"

"Jangan!" sergah Tao sebelum menunduk kembali dan menggigiti bibir bawahnya sendiri. Ia tak ingin melihat wajah kaget Kris, maka ia melanjutkan. "Duduklah, kau belum makan malam 'kan?" tanya pemuda tersebut mengangkat kepalanya sedikit.

"Belum sih," dustanya. Ia baru saja pulang dari makan malam bersama salah satu rekan bankirnya di Crown Plaza, tapi melihat wajah anak ini yang terlihat mengiba dan penuh harap sedikit banyak membuatnya tak kuasa untuk menolak.

Menyunggingkan senyumnya yang entah kenapa membuat Kris merasakan sesuatu yang familiar. "Baiklah, kau duduk di sana dulu ya. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu," ia menunjuk pada kursi kayu di samping Kris kemudian mencuci tanganya dan mulai membuka wrap yang melapisi bahan mentah yang ia beli.

Kris duduk terdiam, matanya menelusuri dari sudut ke sudut ruangan. Dindingnya yang berwarna putih telur polos yang tak digantungkan oleh pigura berisikan foto selain lukisan pemandangan, sofa kulit berwarna hitam yang cukup besar mengelilingi meja kaca rendah dengan sebatang bunga krisantimum yang layu di dalam vas, rak majalah dan CD yang ada di samping televisi. Semuanya terkesan rapi tanpa ada sentuhan individual, manik mata karamelnya memperhatikan lemari pendingin dengan berbagai catatan kecil mengenai jam berapa Tao akan pulang dan tanggal berbelanja terakhir dengan struknya yang ditempel di sana—tak ada tanda bahwa Darren berminat untuk membalasnya.

Puas mengamati seisi apartment, ia kembali pada salah satu pemiliknya dengan punggung dan pinggang yang sempit tengah memotong-motong sayuran dan mencuci sayap ayam dengan lengan sweater kremnya yang digulung sampai batas siku. Sepertinya ia akan membuat tumisan atau sekedar sop dengan ukuran sayur yang tipis-tipis. Tak lama Kris mencium bau harum bawang yang ditumis bersama potongan jahe juga ketumbar membumbui sayuran, dan ayam sebelum disiramkan dengan kaldu yang Tao ambil dari lemari pendingin—ia mengalihkan pandangannya saat matanya tak sengaja menangkap pemuda itu mengayunkan pinggulnya untuk menutup pintu metal tersebut. Kris merasa tak pantas mengecek aset milik orang lain baik sengaja maupun tidak.

"Kau suka pedas?" tanya pemuda itu sembari mencicipi supnya.

"Ya, dan bisakah kau panggil aku gege? Aku rasa aku jauh lebih tua daripadamu," ia memperingati membuat Tao dengan matanya yang kini terlihat kelelahan dnegan kantung mata menghitam menoleh padanya.

Dengan kikuk pemuda itu mengangguk, "Iya, gege, maaf," jawabnya lirih sebelum menyelesaikan masakannya dan menciduknya ke dalam dua mangkuk porselen. Ia mulai menata meja dengan Kris yang langsung berdiri dan berusaha membantunya membuatnya tersenyum simpul, dan menggumamkan kata 'terima kasih'.

Mereka makan dalam diam. Tao terlihat lebih tertarik untuk memndangi makanannya sementara Kris menikmati makanan sederhana yang dibuat olehnya. "Ini enak," pujinya kemudian menghabiskan supnya dengan cepat. "Biar aku yang mencuci piringnya," sergahnya saat melihat pemuda berambut kelam itu mengumpulkan piring kotor.

"Tidak perlu," ucapnya sembari berusaha mengambil piring dari tangan Kris seakan ingin merebutnya dan menyuruh pemuda yang lebih tua tersebut untuk duduk diam.

Prang. Suara itu membuat mereka berhenti.

Bukan, bukan suara pecah dari jatuhnya piring menghantam lantai melainkan suara kaca jendela di dekat dapur yang kini berhamburan sebagian bagai bunga yang ditebar saat pernikahan membuat pemuda berambut chestnut blonde itu waspada dan menyingkirkan Tao ke belakang tubuhnya. "Tetap di sana," titahnya pada Tao yang kaku di tempatnya perlahan meletakkan piring di sisinya sementara ia menemukan peluru bersarang di dinding samping lemari pendingin.

Mengendap memeriksa ke jendela yang terbuka, mata Kris membuat. "Tao, menunduk!" serunya melesat menutupi pemuda itu dengan badannya sendiri. Mereka berjongkok di sisi lemari pendingin dengan Tao yang meringkuk mencengkram bagian depan kemeja dan suit Kris dengan wajah horor selagi pemuda itu berusaha melingdunginya dengan memasang badan.

Dor. Dor. Dor. Tembakan demi tembakan terdengar melesat masuk melalui jendela yang sama hingga membuat lubang di sliding door yang mengarah ke arah beranda, mereka dapat mendengar bunyi pot jatuh dan dindingnya yang bertubi-tubi dihujam peluru. Pecahan kaca dan suara serpihan kayu bertebaran ke mana-mana terdengar begitu jelas. Jantung mereka berpacu dengan wajah Tao yang memucat mempererat pegangannya pada Kris, dan mengerti akan situasi, ia merengkuh tubuh yang bergetar itu ke dalam pelukannya.

"Bernafaslah dalam-dalam," titahnya dengan suaranya yang berat. Ia dapat merasakan tubuh Tao gemetar hebat di dalam dekapan hangatnya. Siapa yang tak akan gemetar jika mendengarkan suara tembakan yang meluncurkan peluru demi peluru bersarang di dalam apartment yang dihuninya sendiri? Bagaimana jika tanpa sengaja peluru itu melesat ke arahnya dan menewaskannya dalam sekejap? Atau meninggalkannya berlumur darah hingga mati tanpa sempat memanggil bantuan.

Prang. Tao memekik pelan saat piring yang hanya berjarak enam kaki darinya pecahnya terkena peluru membuatnya makin menundukkan punggungnya dan membenamkan wajahnya ke dalam dada Kris yang berbalut kemeja hitam dan suit-nya. Tak lama suara itu pun berhenti meninggalkan keheningan yang mencekam untuk kedua orang yang masih meringkuk berlindung dengan dua kursi yang sempat tetangganya itu tarik untuk menutupi mereka. Terlihat lubang mengoyak tirai, mewarnai dinding di arat barat di mana mereka memposisikan diri bersembunyi di sudut dapur. Bau mesiu juga hangus tercium samar berikut bau pengharum ruangan otomatis yang menguar, terjatuh dan hancur di dekat rak yang nasibnya masih sedikit lebih baik.

"Gege," suaranya lirih sarat akan nada putus asa dan ketakutan membuat Kris menunduk padanya dengan wajah yang sama cemasnya. Matanya menampilkan gurat kepanikan dengan air mata yang merebak di pelupuknya. Kalau kau hampir mati, siapa yang tak akan takut menghadapinya?

Kris berujar pelan. "Kita harus pergi dari sini." Dia menggeser kedua kursi yang menghalanginya dan mengendap-endap bersama pemuda di belakangnya yang masih sempat meraih kedua tas di atas meja sebelum melesat ke pintu keluar. Kris buru-buru menginjak boots-nya asal dengan terus menggenggam tangan Tao yang basah akan keringat, mereka meninggalkan begitu saja apartment yang sekarang berisikan sempalan kayu dari kaki kursi yang berserakan dan vas kaca hingga pajangan lumba-lumba porselen yang kini tak berbentuk.

.

"Tao?" suara berat bernada bingung itu membuat mereka serempak menoleh ke arah sumbernya. "Kenapa kau di luar?" tanyanya curiga pada kedua orang yang tengah berlari menuju apartment milik Kris dengan Tao yang mencengkram ransel di tangan kanan dan lengan Kris di tangan kirinya.

Tergagap, Tao berusaha menyembunyikan dirinya sendiri di belakang Kris saat melihat wajah Darren yang menyiratkan rasa sangsi yang begitu kentara, "Da-Darren-ge, aku… ada—" meneguk ludahnya, ia melanjutkan. "Ada tembakan di dalam apartment kita," jelasnya parau.

Darren mematung dengan matanya yang membola. Kepingan memorinya mulai muncul kembali dengan wajah seorang pria paruh baya dengan wajah yang terlihat ramah menyambut kedatangannya ke kantornya. "Paman," suaranya sendiri bergema sementara pria yang ia panggil paman itu menyuruhnya untuk duduk. Tak mengerti, Darren pun hanya menurutinya dan mendengarkan rampaian kata demi kata yang membentuk kalimat hingga paragraf yang dinarasikan oleh monolog pamannya. Kesimpulannya hanyalah dua kata, lindungi Tao.

"Kita harus pergi dari sini, ikut aku," Darren menarik tangan sang pemuda yang masih betah memeluk lengan panjang tetangganya tersebut.

"Hei, jangan kasar begitu," lagi-lagi Kris maju untuk memperingati.

Menatapnya tajam, Darren mencecarnya, "Apa urusanmu, Wu?" matanya berkilat dengan amarah.

Kris membalasnya tak kalah tajam, "Jangan kasar memperlakukan partner-mu, tidakkah kau lihat jika Tao ketakutan? Perbuatanmu akan memperparah keadaan," jelasnya mengedikkan kepalanya ke arah pemuda yang pucat pasi di sisinya. Dirinya paling tak suka melihat seseorang dikasari, apalagi jika itu dari orang terdekatnya membuatnya teringat akan tamparan, makian, hingga tinju dan tendangan yang dulu sempat bersarang ke tubuhnya dan tubuh ibunya sebelum dapat terlepas dari manusia biadab itu.

Menyipitkan mata tak suka, mau tak mau Darren mengerling pada Tao yang menatapnya nyalang, bibirnya yang biasanya kemerahan kini tak berwarna sementara badannya terlihat menggigil ketakutan. "Ikut aku, kurasa dia tidak akan mau mendengarkanku sekarang," titah Darren cepat.

Mereka bertiga berjalan ke arah elevator, memasukinya langsung hingga ke basement tempat mobil diparkir rapi. Melesat masuk ke dalam Maserati milik Darren yang mesinnya masih panas, Kris tak bisa protes banyak karena mobilnya sendiri sedang ada di bengkel untuk perbaikan saat Lay tak sengaja memakainya diam-diam dan menabrak pagar pembatas trotoar meninggalkan penyok yang cukup membuatnya mengelus dada.

Di sebelahnya Tao terdiam dengan pipinya yang telah kering dan wajahnya yang linglung memegangi botol minuman yang ia temukan di jok bagian tengah. "Kita akan ke mana?" tanyanya lirih.

"Ke tempat temanku," jawab Darren singkat dengan mengemudikan mobilnya secara kilat menyalip kendaraan demi kendaraan meninggalkan kesunyian yang cukup tak nyaman.

Tao bergerak gelisah, mengerling Kris di sebelahnya yang terlihat bertanya-tanya kemudian pada Darren yang mengemudi dengan fokus yang tinggi sampai alis tebalnya sedikit bertaut. "Kenapa mereka menembaki apartment kita?" suaranya terengar tak yakin akan dirinya sendiri.

Darren terdiam sebentar sebelum menyahut, "Aku tidak tahu, yang pasti ayahmu menyuruhku untuk selalu memprioritaskan keselamatanmu."

Perkataan itu menimbulkan pertanyaan baru di benak Tao dengan dahinya yang berkerut, di sebelahnya Kris mencuri pandang—bertanya-tanya mengapa ia melibatkan dirinya sendiri pada sesuatu yang agaknya rumit dan tak berhubungan sama sekali. Terlintas wajah Lay yang mengucapkan satu kalimat tajam dengan geram saat ia menanyakan perihal nama seseorang di kontaknya, "Jangan ikut campur, Kris." Harusnya ia mendengarkannya.

Tiga puluh satu kilometer dari sana, di sebuah bangunan megah berbentuk kastil kecil di tengah rimbunnya pepohonan, dan taman dengan kolam air mancur berpatung malaikat yang menumpahkan air dari kendinya, terdapat dua orang yang masih duduk di dalam salah satu ruangan serba putih yang dilengkapi televisi flat melekat di dinding. Pemuda dengan kemeja putih itu mengerjapkan mata, membuka satu kartu di hadapannya dan mengulas senyuman lembut. "The moon sudah menunjukkan taringnya," ucapnya halus.

Pemuda berkemeja abu-abu yang ada di depannya, memutar gelas wine-nya pelan kemudian menyesapnya, menikmati rasa manis dan asam yang menggelitik baik lidah maupun kerongkongannya. "Sudah kuduga dia akan keluar sekarang," katanya tenang tak menunjukkan rasa kaget sama sekali menyebabkan pemuda berkemeja putih itu menghembuskan nafas.

"Kau benar-benar mau menyingkirkan the lover?" tanyanya dengan nada ringan. "Aku bisa melakukannya, lagipula dia cukup mengenalku," sambungnya lagi sembari merapikan kartu tarotnya dan meletakkannya ke dalam kotak bening berukir bungadan dedaunan.

Dalam sekejap pemuda itu meletakkan gelas wine-nya dan mengangkat dagu pemuda berambut cokelat tersebut. Tanpa tedeng aling-aling ia menempelkan bibirnya, membuat bibir merah itu terbuka, dan memasukkan cairan merah dari mulutnya, memaksanya menenggaknya sampai habis tak bersisa. Setelahnya ia menyesapi bibir manis tersebut dengan liar, menangkup pipinya dan menahan pundaknya supaya tak bergerak dari posisinya. Bagaikan melewati lima menit tanpa bernafas, pemuda itu terengah-engah saat bibirnya dilepaskan, memandanginya dengan sayu.

"Lakukan, dan ingatlah kepada siapa dirimu harus kembali," titahnya mengusap pipinya lembut. "Jangan kecewakan aku," mengecup dahinya lembut, ia akhirnya menjauh dan duduk kembali di singgasananya sembari melanjutkan pekerjaannya dengan notebook yang sempat ia anggurkan.

.

.

.

Author's note: Saya revisi dari wattpad saya 13AnnAnnnn.

Seperti yang kalian lihat, saya terinspirasi dari Sherlock BBC juga NCIS jadi ceritanya sedikit agak berat dan akan didramatisir untuk mengangkat subgenre romance-nya. Maaf kalau tidak puas dengan interaksi Kris dan Tao karena waktunya tidak memungkinkan, dan bisa kalian lihat sendiri saya payah soal romance. Tunggu chapter depan saja ya. Terima kasih atas semua komentarnya, saya akan berusaha untuk menyelesaikan ini sebelum tanggal 30 September. : )