Title: Back of Coin

Chapter: 3 / 4

Starring: Huang Zitao, Wu Yi Fan, Wang Darren, Zhang Yixing

Author: Annannnn

Pairing: KrisTao (main), RenTao (side pairing), KrisLay (broke up, mentioned)

Rating: NC

Genre: angst, romance, fantasy and crime AU

Disclaimer: I have a great power upon my fanfic and this story undeniably mine to post and edit. I only use their names for the sake of storyline. You have no rights to copy and change the storyline under any circumstance. Inspired by The Reason by Hoobastank.

Warning: Violence. Messed up timeline. Crude words.

Chapter 3 — Chaos

"I'm not a perfect person, there's many thing I wish I didn't do. I'm sorry that I hurt you. It's something I must live with everyday."

.

Pintu mobil terbuka dan tertutup dengan bunyi debam yang cukup membuat penghuni rumah dua tingkat tersebut tersentak dan menengok ke bawah dari balkon tempatnya beristirahat. Buru-buru ia turun dengan wajahnya yang terlihat dingin. Kurang dari semenit setelah bel ditekan, orang tersebut sudah membuka pintu menampakkan ketiga orang dengan wajah yang sama pucatnya itu berdiri di teras dengan lampu kekuningan. "Darren, kenapa kau ke sini?" kernyitan muncul di dahi orang tersebut.

"Aku butuh tempat bermalam," sergahnya cepat sementara di belakangnya dua orang yang lebih tinggi terlihat gelisah seakan menantikan sesuatu yang buruk untuk datang. Jalanan di belakang mereka terlihat cukup sepi karena letak rumah yang cukup masuk ke daerah komplek tanpa terlalu banyak orang yang berminat untuk keluar di malam hari meski terdapat beberapa mobil yang sempat lewat dengan kecepatan sedang.

"Siapa, hyung?" suara lain yang berasal dari koridor membuat sang pembuka pintu menoleh ke arahnya. Pemuda dengan kemeja yang lengannya digulung sampai ke lengan atas dipadu dark grey jeans dengan phone case di ikat pinggangnya tersebut menghampiri mereka.

Darren menganggukkan kepala sedikit, "Maaf, kami mengganggu malammu, tapi kami benar-benar butuh tempat untuk bermalam. Apartment kami dihujani peluru.," jelasnya singkat membuat kedua pemuda berlainan tinggi di hadapannya itu membulatkan mata mereka.

"Masuklah," ucapnya memberikan jalan untuk mereka bertiga sebelum menutup dan mengunci pintu. Matanya sempat menatap pemuda dengan rambut chesnut blonde yang paling terakhir masuk tersebut dengan curiga, perlahan ia mengambil sesuatu dari closet di dekat pintu masuk dan menyembunyikannya di balik cardigan-nya yang cukup panjang.

Mereka duduk di ruang tamu dengan satu set sofa berwarna hijau limau dan meja kacanya yang tak terlalu rendah berisikan seteko teh hangat dan beberapa cangkir setengah kosong. Sementara Tao terlihat lebih tertarik mengamati sekelilingnya, baik Darren maupun Kris terlibat dengan pembicaraan yang lebih serius dengan kedua pemilik rumah tempat mereka singgah. Pemuda yang diketahui bernama Luhan dengan cardigan abu-abunya dan Sehun yang lebih tinggi dengan wajah yang terlihat berpikir keras tersebut menimpali di sana-sini cerita Kris dan Darren.

"Aku rasa seseorang mengincar kalian," terang Luhan melirik pada Tao yang kini matanya tertuju pada sebuah lukisan dengan gambar harimau putih yang tengah duduk atas bukit.

"Pastinya, untuk apa mereka menembaki apartment kami tanpa sebab?" jawab Darren tak terlalu menghiraukan Tao yang kini beranjak dari sisinya dan mendekati lukisan yang sejak tadi menarik perhatiannya tersebut.

Sehun menimpali, "Bisa saja mereka mengincar Tao, kau tahu kalau ayahnya memegang saham terbesar di—"

Dash.

Bunyi terhempasnya dinding dengan wallpaper garis-garis cokelat dan krem memotong pembicaran Sehun, dan membuat semua mata menatap ke arah sumber suara tersebut. Terlihat caranya yang sama terangnya dari balik dinding dan Tao yang berdiri dengan senyum lebar. "Di rumahku juga terdapat lukisan yang sama. Aku pikir isinya akan sama juga, tapi ternyata berbeda," ucapnya tanpa dosa membuat Kris terperangah dan lainnya waspada.

Darren meloncat menjauh dari Luhan maupun Sehun yang bangkit berdiri dengan wajah yang sama kagetnya sementara Kris berusaha menyingkir setelah mengambil tasnya dari kaki sofa. "Baher 23 milimeter," Tao berdeham mengusap cannon berkaliber kecil yang beratnya lebih dari dua puluh kilogram itu dengan wajah santai. "Kalian bisa mengimpornya dari Iran? Atau Amerika?"

Kris menatapnya horor, "Bagaimana kau bisa tahu?" Ternyata benar jika wajah bisa menipu.

"Tentu saja, Tao sering bermain GTA," jelas Sehun dengan manik cokelatnya yang menatap Darren yang telah menarik Tao ke sisinya dnegan waspada, di sampingnya pemuda yang lebih kecil darinya itu mengeluarkan Tokarev dari balik cardigan-nya dan mengarahkannya pada Kris yang memucat.

Mata Luhan yang tadinya terlihat ramah kini sorotnya berubah dingin. "Untuk apa kau ke sini?" suaranya terdengar menuduh.

Ditanya begitu Kris hanya bisa tergagap, melebarkan matanya yang tak fokus memperhatikan baik wajah Tao yang terlihat tak menunjukkan ekspresi berarti, dan Darren yang terlihat tegang mengamati Sehun mengeluarkan gadget-nya. "A-aku hanya mengikuti mereka. Aku tak tahu apa-apa," tukasnya sembari mengangkat kedua belah tangannya untuk memperlihatkan bahwa ia tak bersalah. Pikirannya seakan berhenti saat ia telah melihat isi ruangan yang tetangganya buka tersebut—beberapa pistol laras pendek dan dua buah cannon, ia juga sempat melihat sekilas adanya granat tangan.

"Bagaimana kau bisa tahu kebiasaan Tao?" mata setajam rubah milik Darren menatap Sehun penuh rasa curiga yang tinggi membuat Sehun berdecak pelan.

"Dia temanku, gege," jawab Tao cukup membuat Darren menurunkan tingkat kewaspadaannya.

Luhan perlahan maju dengan pistolnya yang dipasangi peredam, jika ia harus membunuh Kris maka tak akan ada yang tahu selain tiga orang lainnya di rumah itu. "Kutanya sekali lagi, kenapa kau berani ke sini?" tanyanya dengan nada yang lebih dingin menuntut pemuda paling jangkung tersebut terus mundur hingga menabrak meja marmer kecil, membuat pingganggnya nyri sekejap.

Meneguk ludahnya, Kris menggeleng dengan sebulir keringat yang menetes di pelipisnya. "Aku tidak mengerti, aku hanya berusaha melindungi Tao dan aku diajak ke sini oleh Darren. Aku benar-benar tak mengerti," ucapnya lagi. Matanya memperhatikan moncong pistol tersebut yang jelas-jelas mengarah ke dada sebelah kirinya di mana jantungnya yang berdegup kencang terletak sementara pemegangnya sendiri mengangkat alisnya tak percaya.

Pemuda berkulit paling tan yang tengah berdiri di depan Tao tersebut mengerling pada Luhan dan Kris sementara Sehun membuat panggilan keluar dengan mata yang mengawasi mereka bagai elang yang mengincar kelinci di balik semak-semak. "Mereka sudah sampai ke tempatku, ada salah satu pengganggu yang dibawa oleh mereka," jelas Sehun cepat tanpa mengucapkan sekedar 'halo' untuk berbasa-basi seakan telah menanti kedatangan mereka bertiga bersama seseorang di seberang sana. Atau mungkin lebih dari seseorang?

"Shi Xun," panggil Tao lirih dengan sorot mata sedih sementara pemuda yang juga sering ia panggil dengan nama tersebut mengakhiri panggilannya dan memasukkan gadget-nya ke phone case yang menggantung di ikat pinggangnya.

Sehun menatapnya sekilas tanpa menggubrisnya. "Hyung, kita harus membawa mereka pergi dari sini."

Perkataan itu membuat Kris menghembuskan nafas lega saat pemuda di hadapannya menurunkan pistolnya, ia memandangi lantai sembari perlahan menurunkan tangannya yang dilapisi keringat dingin. Sebuah tangan sudah menjambret kerah kemejanya dan membuatnya tersentak saat ia ditarik oleh Luhan yang notabene berbadan lebih kecil kemudian dihempaskan ke sofa tempatnya tadi duduk. "Diam di sana," titahnya. Mau tak mau Kris menurutinya, ia bisa mendengar suara tergesa Luhan menyeret tas yang sepertinya lumayan berat keluar dan menahan nafas saat sebuah AF-1 berwarna silver dilemparkan ke arah Sehun yang sigap menangkapnya kemudian memasukkannya ke tempat dari kulit di sebelah phone case-nya.

"Kita harus pergi sekarang, ikuti aku," ucap Sehun setelah mengambil tas yang Luhan angsurkan kepadanya sementara pemuda tersebut memaksa Kris berdiri dan mengikuti mereka dari belakang.

"Shi Xun, sebenarnya ada apa? Kenapa kau memiliki senjata?" tanya Tao memecah keheningan dalam ketergesaan mereka memasuki mini van berwarna hitam yang terparkir di garasi, tak jauh dari Maserati milik Darren. Kris duduk di sebelah Tao sementara Luhan di hadapannya dengan Darren yang tengah memandangi senjata di tangan temannya dengan cemas.

"The Moon sudah menjalankan aksinya, kita harus bergerak sebelum kita ketahuan," Sehun menjawab tanpa bisa dimengerti kecuali oleh Luhan. Ia menyalakan mobil dan langsung tancap gas.

DUAR. Kurang dari dua puluh meter, suara ledakan terdengar keras membuat Tao memejamkan matanya rapat dengan engahan sementara Kris menutupi kepala bersurai hitam itu menggunakan tangannya sendiri seakan ingin melindunginya. Di hadapannya Darren serta Luhan terlonjak dan buru-buru mengintip dari celah jendela van.

Wajah pemuda berkulit tan itu pucat pasi saat Luhan menatapnya miris. "Sepertinya sejak kau tiba di apartment, mobilmu telah dipasangi detonator," ucapnya membuat temannya itu meneguk salivanya. Jika saja tempat tujuannya lebih jauh daripada delapan kilometer atau ia lebih lama dari dua pulut menit, bisa dipastikan baik tubuhnya dan dua orang pemuda lain yang kini terlihat meringkuk di depannya berujung serpihan dan onggokan tak bernyawa.

Kris menunduk memperhatikan Tao yang meremas kemejanya dengan erat, mengingatkannya kembali kepada peristiwa beberapa puluh menit yang lalu. "Tenang saja, tarik nafas dalam-dalam. Kau akan baik-baik saja," ujarnya mengusap punggung yang bergetar tersebut.

Tao mengangkat kepalanya, sorot matanya penuh penyesalan. "Kau harusnya tak di sini, maaf, gege."

Kris mengangguk lemah, bibirnya terasa kering mengingat ia nyaris mati untuk ketiga kalinya malam itu padahal tak sampai sejam yang lalu ia baru saja bertemu dengan sesama bankir untuk membicarakan masalah mengenai saham beberapa perusahaan yang cukup berpengaruh di China dengan beberapa penanamnya orang asing seperti dari Amerika, Russia, sampai Korea Selatan. Negara-negara besar yang menjadi pesaing utama negara China, terlebih dengan adanya konflik mengenai sumber daya manusia mereka yang dipekerjakan sebagai buruh dengan sistem kerja outsourcing.

Semuanya berbanding terbalik dengan petinggi perusahan yang menjadi triliyuner, bermewah-mewah menghabiskan uang hanya untuk pesta semalam bersama belaian para penghibur dan minuman panas berbagai rasa. Tak hanya itu, mereka melakukannya di mana saja seakan kehidupan para pekerja mereka yang terlilit hutang demi hutang dan berkubang dalam kemiskinan tak pernah mengetuk hingga mendobrak pintu hati mereka.

Andai saja ia tak pulang lebih cepat, pasti ia tak perlu berurusan dengan hal ini.

~†~†~†~

Langkah demi langkah dari high heels itu terdengar nyaring di lorong yang sunyi menghampiri sebuah pintu dengan seorang pria dengan cerutu menggantung di bibirnya, duduk tenang di kursinya tepat di balik mejanya. "Selamat datang, kau mau minum?" tanya pria tersebut dengan wajah tenangnya.

"Tidak terima kasih, aku sudah melaksanakan tugasku," ucap bibir yang dipugas warna burgundy tersebut dengan tegas. Blazer merah hatinya melapisi jumpsuit hitamnya yang menguarkan bau mesiu yang cukup tajam, sementara rambutnya panjangnya yang diikat satu tersebut terlihat sedikit berantakan akibat ketergesaannya.

Pria di hadapannya itu menghembuskan asap cerutunya dan menaruhnya di asbak sebelum berdecak tak puas. "Mereka belum mati, Victoria. Mereka belum mati, dan kau harusnya tahu hal itu," ia mendesah seakan mengasihani wanita di hadapannya tersebut.

Wajah cantiknya terlihat mengeras dan tangannya mengepal sejenak, "Aku akan melenyapkannya, percaya padaku, aku akan membunuhnya sesuai perjanjian," tukasnya lugas dengan lengan yang sedikit bergetar membulatkan tekadnya.

"Aku pegang janjimu. Kau harus bisa melakukannya jika tak ingin melihat suamimu mati kekurangan asupan oksigen," kekehnya seakan ia berhasil memenangkan lotre dengan hanya sekali pasang.

"Aku berjanji, Li," ucapnya dengan suara yang tak kenal takut. "Akan kubawa Kris Wu kepadamu, hidup ataupun mati."

Pria itu menyudahi sesapannya pada silver bullet cocktail di tangannya. "Aku berubah pikiran. Aku menginginkan anak itu hidup, kalau kedua-duanya bisa kau dapatkan hidup-hidup, aku akan menghadiahimu dengan kehidupan yang lebih panjang," jelasnya dengan ringan meski matanya menyiratkan hal yang berbeda, penuh dengan intrik dan culas.

"Sekarang pergilah," usirnya dengan kibasan tangan membuat dua orang berbadan tegap di dekat pintu yang tadi mempersilakannya untuk masuk, kembali membukakan jalan keluarnya. Matanya memandangi Victoria yang berbalik ke luar bersama kedua bawahannya ke koridor tempatnya tadi berasal.

Bersenandung pelan, ia membuka e-mail dari Jaycee dan mengecek data pelelang barang-barang antik yang berjumlah lebih dari lima puluh orang dari luar negeri. Sementara e-mail dari Shin Hye berupa pembeli marijuana yang ia panen dari dataran rendah dekat sungai Yang Tze yang dihuni oleh penduduk desa dalam perlindungannya. "Semuanya terlihat lancar seperti biasanya," komentarnya dengan nada ringan.

"Kau tak bisa menghentikanku," ucapnya mengambil sebuah anah panah kecil dan melemparnya ke secarik foto yang tertempel pada dart di samping kiri meja kayunya. Menyeringai pada foto seorang pemuda dengan rambut hitam yang kini tertancap tepat di dekat matanya, ia melanjutkan menghisap cerutunya dalam-dalam, menyesapi manis pahitnya nikotin yang mencumbui papilanya.

Mengambil gadget-nya, ia menghubungi seseorang dan langsung bertanya, "Kau sudah di jalan?"

"Aku hampir mendapatkan mereka, dua kilometer lagi," jawab suara berat di seberang.

"Bagus, aku percaya padamu, lakukan dengan benar."

"Baik bos," sahutnya sebelum menutup sambungan telpon.

~†~†~†~

"Kita diikuti," ucap Luhan mengusik Kris yang tengah membalas segala permintaan maaf yang dituturkan Tao dengan kata-kata manis untuk membuatnya berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

Melewati truk besar yang membawa bergalon-galon air mineral di jalanan yang masih lumayan ramai, Sehun melihat dari spion kanan dan menghela nafas, "Semuanya, pegangan," titahnya.

Dengan sigap Darren berpegangan pada handle di belakang kursi pengemudi sementara Luhan pada bagian dalam van dengan tokarev yang bersiap di kepalannya. Sehun menikungkan mobil secara tiba-tiba ke jalanan yang lebih kecil untuk satu mobil membuat Kris dan Tao yang belum sempat mencari pengamanan terpelanting ke pintu belakang van dengan punggung pemuda berambut pirang itu menghantam keras. Di dalam dekapannya, Tao menyodok bahunya dengan siku yang tajam.

"Argh!" dengan hantaman keras dari kedua arah, Kris tersedak salivanya sendiri, meringis merasakan sakit yang menyebar cepat membuatnya sedikit sesak.

"Hei!" seru Luhan kaget dan buru-buru membantu Tao untuk bangun dari atas tubuh Kris yang setengah telentang di lantai van selagi mereka menikung untuk ketiga kalinya membuat mereka berusaha merapatkan diri untuk meredam guncangan.

"Maaf!" ucap Sehun dan Tao bersamaan. Satu untuk mengemudi dengan brutal dan satu lagi tak sengaja menyakiti pemuda yang masih mengenakan suit-nya tersebut.

"Maafkan aku, apa ada netbook di dalam sana? Apa itu baik-baik saja?" cerocos satu-satunya pemuda yang mengenakan ransel tersebut.

Beranjak dari lantai, Kris bersandar di bangku sembari berpegangan pada pintu begian belakang sementara Tao menatapnya cemas. "Tak perlu begitu, Tao. Dia baik-baik saja," celetuk Darren yang menyaksikan semuanya dengan wajah acuh tak acuh.

Suara ledakan yang terdengar begitu dekat membuat mereka terhuyung. "Mereka menembak ban mobil ini," seru Luhan mengokang tokarev-nya dan membuka jendela kecil di bagian pintu belakang van. Matanya menangkap sebuah Porsche hitam dengan pengemudinya yang berambut kemerahan menatapnya tajam. Tanpa ragu ia meletuskan senjatanya ke arah kaca yang nyatanya anti peluru tersebut, hanya meninggalkan guratan dan retakan kecil.

Cipratan api dari ban yang menguarkan bau hangus membuat Sehun mau tak mau membanting setir, menepikan mobilnya di parkiran samping sebuah apartment yang cukup Darren kenali dengan decitan yang memekakkan telinga. "Cepat keluar!" teriak Luhan membuka pintu van dan mendorong ketiga pemuda lainnya untuk masuk ke dalam gedung parkir sementara ia mengambil tas hitam dari dekat kakinya dan melompat turun bersama Sehun yang tengah menyiapkan revolver-nya.

Mereka berlari menuju elevator dan naik hingga ke tempat bagian VIP tempat penghuni apartment memarkirkan kendaraan mereka menggunakan keycard yang Sehun kantongi kembali ke dalam phone case-nya. Melihat itu Darren membuka suara, "Mengapa kau bisa memiliki keycard tersebut?" tanyanya heran sementara pemuda berambut kecokelatan itu tak berminat menjawab, kini tergesa keluar diikuti oleh Luhan dan Kris yang menggandeng Tao. Pemuda yang berjalan paling belakang terebut mulai berpikir lebih jauh. Jangan-jangan kecurigaannya benar.

Ia sangat yakin kini mereka berada di area apartment yang sama dengan yang baru disambanginya sekitar satu jam yang lalu. Darren sangat mengenal tempat di mana teman wanitanya itu turun dengan wajah yang tak terbaca atau letih, mengucapkan terima kasih kepadanya sebelum masuk ke lobi yang cukup luas dengan dua orang penjaga di pintu depannya. Seringkali ia melihat Jaycee, pria yang sepertinya bekerja dengan Shin Hye masuk ke lobi yang sama, kemungkinan besar mereka tinggal di lantai yang berbeda.

Darren mengerti bahwa agaknya ada rahasia besar yang selalu Shin Hye tutupi dengan perkataannya yang tersusun rapi, juga berusaha menenangkan, dan parasnya yang terlihat lembut—meski ia sangat perfectionist menekuni tiap pekerjaannya. IPad yang selalu berada di tangannya menerbitkan rasa penasaran yang cukup tinggi. Pernah sekali ia melihat menunya tapi tak ada yang aneh, hanya aplikasi bawaan dari developer dan tambahan aplikasi chat yang tak terlalu mencolok sebelum wanita itu merebutnya dengan decakan kesal. Pikiran Darren kembali memunculkan kepingan memori lintingan rokok yang selalu Kai Ko hisap di kala senggang—pernah sekali ia ditawari, dan begitu ia mencicipinya, ia merasakan sensai yang berbeda seakan bebannya diringankan. Cukup sekali, dan ia langsung menaruh curiga jika benar itu adalah marijuana, dari mana Kai Ko mendapat pasokannya yang seakan tak ada habisnya tersebut?

~†~†~†~

Shin Hye mengeringkan rambutnya yang setengah basah menggunakan hair dryer sementara ia mengenakan t-shirt dan training pants yang nyaman untuk tidurnya. Mengecek IPad-nya, ia terdiam menerima kabar langsung dari Li Chen, atasannya untuk memeriksa pengiriman barang ke New York yang baru dilakukan sore itu. Meletakkan hair dryer-nya di nakas, ia duduk di atas ranjang dan mulai mengecek laporan datangnya guci dari dinasti Ming yang telah masuk ke salah satu koleksi museum nasional di sana dan satu lagi ke seorang pejabat yang terlibat dalam bisnis kasino yang ada di Las Vegas maupun Beijing. Dengan informasi sepenting ini, siapa yang tak takut jika IPad-nya dipegang oleh siapapun selain dirinya sendiri?

Suara bel yang berdering nyaring membuatnya meraih cardigan cokelat-nya dari gantungan dan mengenakannya. Setelah melihat melalui intercom, ia membuka pintu membiarkan Kai Ko masuk ke dalam apartment-nya. Gadis itu duduk di hadapannya yang terlihat menuduh, "Shin Hye," mulainya dengan tatapan sangsi. "Kau tahu siapa Huang Zi Tao?"

Gadis itu mematung, menatapnya bingung. "Maksudmu? Dia roommate Darren 'kan?"

"Kau tahu dia anak Huang Xiaoming?" sergahnya lagi lebih serius membuat Shin Hye tak mengalihkan pandangan dari manik mata yang menyorotkan kebencian tersebut.

"Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti apa maksudmu," sahutnya tenang seakan tak mendengar jantungnya yang berdetak dengan cepat memompa darah lebih cepat ke segala pembuluhnya.

Kai Ko menggoreskan senyuman miring di wajah pucatnya. "Dia rival bos kita, Li Chen," sambungnya membuat mata Shin Hye membulat. "Bagaimana bisa ia menjadi roommate Darren, teman kita?" nada curiga sarat terdengar di tiap kalimatnya.

Gadis itu memasang wajah tak mengerti, menatap Kai Ko dengan penuh keluguan. "Aku tidak tahu, sepengetahuanku, Darren memang tak tahu-menahu perihal pekerjaan kita sebenarnya. Lagi pula, mungkin ia teman dekat keluarga Huang Xiaoming?" cetusnya seakan-akan baru saja mendapati kebenaran.

Pemuda itu terdiam lagi sementara Shin Hye berusaha meredam kegugupannya saat sebuah revolver dengan peredam ditodongkan kepadanya. "Maaf, aku tak percaya padamu." Ia mengokang senjatanya dan langsung menekan pelatuk membuat gadis itu memejamkan mata selagi memekik kencang.

Tubuh Shin Hye lemas bersandar di sofa tempatnya duduk sementara pemuda di hadapannya berdiri sembari tersenyum lebar. "Hahah," tawanya datar memasukkan kembali senjatanya ke balik blazer yang ia kenakan. "Bersyukurlah pistolku kosong," ucapnya kemudian berlalu menuju pintu depan tak menghiraukan nafas rekan kerjanya yang seakan tercekik di sana.

"Sampai nanti," ujarnya santai sembari menutup pintu putih tersebut.

Shin Hye terhuyung berjalan mengambil IPhone rose gold-nya yang tak pernah ia perlihatkan di hadapan teman-temannya dari balik kotak first aid dan membuat panggilan keluar dengan bahu yang menegang. "Halo, mereka akan melakukannya malam ini," ucapnya cepat kemudian memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan instruksi dari seberang sana.

"Bertahanlah di tempatmu, jangan mencampuri urusan mereka. Kau harus selalu berada di post-mu, apapun yang terjadi." Dengan itu Shin Hye mengambil IPhone-nya yang memiliki backup data dari IPad-nya beserta sepucuk pistol dan dua longsong peluru yang selalu ia simpan di lemari pakaiannya. Tangannya mengetikkan alamat situs e-mail yang ia tak pernah sebarkan kecuali ke satu orang dan mulai mengirim dokumen demi dokumen yang tak sempat ia kirimkan sejak dua hari yang lalu.

~†~†~†~

Melewati jajaran mobil mewah yang diterangi lampu neon di sekelilingnya dengan tergesa, mereka berusaha memasuki Ford hitam di paling ujung. Kris berada di sisi Tao yang menatap sekeliling dengan wajah yang gelisah seakan apapun bisa terjadi kapan saja. Nyatanya hal yang berkali-kali mereka tak harapkan muncul dari ujung elevator yang sama membuat mereka semua menyingkir dan bersembunyi di balik mobil.

Tlang.

Sebuah peluru berdesing mengenai dinding beton lima kaki dari tempat mereka menunduk. Luhan yang tengah memegangi tas berisi senjata langsung mengangsurkan masing-masing sepucuk revolver ke Darren dan Sehun. "Berhati-hatilah," pesannya sebelum mengintip kembali sementara Sehun menyelinap ke belakang mobil demi mobil untuk mendekati mereka.

"Aku yakin mereka pasti di sini," sebuah suara yang cukup Darren kenali membuat nafasnya memburu dan memandang Tao yang menunduk dengan wajah tegang di samping Kris.

"Itu Kai Ko," desis Darren begitu lirih namun dapat terdengar oleh Tao dan Kris yang jaraknya begitu dekat.

Tao memberikan tatapan aku-sudah-memberitahumu kepada Darren. "Temanmu bukan orang yang baik," bisiknya disambut anggukan lemah oleh roommate-nya sendiri. Mereka bertiga menunduk lebih dalam saat mendengar peluru yang dimuntahkan oleh tokarev di tangan Luhan, menyangsang ke Bentley ungu di seberang yang mulai meneriakkan alarm, memekakkan telinga.

Tanpa ragu Kai Ko menembak CCTV di dua sudut berbeda sebelum mengarahkan moncong pistolnya pada Sehun yang berhasil menggoreskan pelurunya di lengan Jaycee yang tak sempat ia lindungi. "Sialan kau," desisnya marah sementara pemuda berambut merah di depannya berusaha mengejar Luhan yang dengan lincah menghindari peluru demi peluru hingga ke lantai atas melalui landainya jalanan mobil untuk turun maupun naik.

Kris menyaksikan dari pantulan kaca spion di depannya dan terkesiap. "Chanyeol," ujarnya lirih membuat baik Darren maupun Tao menoleh ke arahnya. Wajah Kris memucat memandangi kedua tetangganya tersebut—membasahi bibirnya yang kering dengan salivanya, ia melanjutkan, "Dia temanku, Chanyeol, harusnya dia berada di Korea Selatan." Suaranya menghilang saat Darren menodongkan pistol itu ke arahnya, total sudah dua kali nyawanya terancam dengan senjata api tersebut.

"Siapa kau?" gertak Darren memicingkan matanya, ia menarik Tao yang setengah tersentak untuk berlindung di belakangnya.

"Aku Kris Wu, aku salah satu bankir sekaligus pialang saham," jelasnya singkat berusaha mengalihkan perhatiannya kepada Tao yang terlihat ragu, dan linglung. Suara alarm Bentley tersebut masih setia berbunyi dengan suara yang menulikan telinga siapa saja membuat Jaycee yang tengah mengikat lengan atasnya dengan dasi untuk mencegah pendarahan berlebih menyingkir ke samping.

"Apa kau ada hubungannya dengan organisasi gembong narkoba?" tanya Darren lagi tanpa tedeng aling-aling masih dalam bisikan.

Kris menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak—"

DOR.

Jaycee yang tengah berjalan ke ujung memegang tokarev yang sempat diberikan oleh Chanyeol kepadanya sebelum keluar dari elevator. Meski jarang menggunakan senjata, paling tidak ia bisa mengoperasikannya apalagi untuk saat-saat terdesak seperti sekarang ini. Ia menyeringai pada Kris yang buru-buru berdiri dan Tao yang tengah ditarik Darren untuk kabur dari sana.

"Aku menemukan Kris Wu!" teriaknya lantang diakhiri dengan ringisan saat tangannya yang mengayun mencoba mengimbangi larinya mengejar ketiga orang tersebut kembali berdenyut ngilu meneteskan darah.

"Shi Xun!" Panggil Tao refleks saat melihat temannya itu menghempaskan diri ke arah mereka untuk melumpuhkan Jaycee dengan menyarangkan peluru di kakinya.

Suaranya membuat kedua pemuda lain yang mengejarnya mengulum senyum simpul. "Target sudah di depan mata," ucap Chanyeol dengan rambut merahnya yang berkilat tertimpa cahaya lampu neon ke earpiece yang ia kenakan. Ia memperhatikan Kai Ko yang berusaha menghadang mereka hingga tak ada pilihan lain selain naik ke atap.

Darren mengekori Kris yang tengah menggenggam tangan Tao erat untuk memasuki elevator sementara Sehun menembaki Kai Ko dan Chanyeol yang berusaha berlari mengejar mereka. Dari sisi kiri, Luhan melesat masuk ke dalam elevator sebelum pintu metal itu bergeser menutup dengan travelling bag yang ia bawa sejak tadi. Bunyi nafas terengah-engah beradu selagi Sehun juga Luhan memasukkan selosong peluru yang baru ke dalam senjatanya.

"Kenapa mereka mengincarmu, gege?" tanya Tao pada Kris yang bersandar dengan punggung melengkung di sudut elevator sementara di sebelahnya Darren mulai berbicara lagi.

"Aku mengenal mereka," ucapnya berusaha menarik nafas dengan tenggorokannya yang terasa kering kepada Luhan dan Sehun yang siaga di depan pintu. "Kai Ko adalah temanku, kami sering bertemu Jaycee di club dan beberapa orang lainnya." Ia terbatuk sebentar sebelum melanjutkan membuat semua mata tertuju padanya. "Orang berambut merah tadi adalah Chanyeol, Kris mengenalnya."

Luhan mendesah. "Sudah kuduga kau pasti mengetahui sesuai," tudingnya pada Kris yang menggeleng lemas tak berdaya, tas kulitnya kini sudah menyelempang di bahunya dan seakan memberatkan dirinya untuk berdiri tegak.

Pada saat itu pintu metal tersebut terbuka dan mereka menaiki tangga, Sehun dan Darren menendang pintu metal lain yang menghubungkannya ke atap yang luas dengan angin malam berhembus kencang. "Mereka akan menjemput kita dalam sepuluh menit," ucap Sehun yang sejak tadi tengah melakukan panggilan sebelum mengantongi gadget-nya lagi dan berjaga di sekitar Tao dan Kris yang merapatkan diri.

"Kita tahu mengapa mereka menginginkan Tao," Luhan mengerling pada pemuda berambut hitam dengan ransel tersebut. "Apa sekarang mereka juga ingin membunuh Kris?" mata bulatnya melihat Kris yang tengah berusaha menjelaskan pada Tao bahwa ia tak mengerti apapun. Sehun hanya balas memandanginya jengah.

"Percayalah padaku, aku tak tahu apa-apa. Aku benar-benar tak mengerti," tukasnya pada Tao yang agaknya tak bisa memegang kata-kata Kris begitu saja. Pemuda itu mencoba menelisik ekspresi Kris yang sejak tadi terlihat frustasi dituduh dengan sesuatu yang tak pernah ia temukan dalam hidupnya. Ia bagaikan pengkhianat yang melarikan diri dari cengkraman tangan yang berkuasa, dan kini menginginkan kepalanya untuk makan tengah malam. Semua orang seakan tak ingin menyadari bahwa ia sama tak tahu-menahunya seperti mereka.

Sebuah tembakan keras membuat mereka semua waspada, Kris menarik Tao untuk menyingkir ke balik jajaran mesin dan pipa-pipa besar di sudut kiri sementara Darren meloncat ke penampung air yang tak jauh dari mereka. "Tenang saja, aku akan melindungimu," ia berucap pada Tao yang tengah berjongkok dengan bibirnya yang membiru dan matanya yang tak fokus.

"Kenapa kau bersikeras melindungiku?" tanya Tao lirih di tengah baku tembak yang terjadi delapan meter dari mereka.

Terlintas bayangan ibunya yang menghentikan ayahnya memukuli dirinya yang masih berusia delapan tahun dengan kayu panjang—wajah ibunya penuh keyakinan, mendorong pria yang masih gagah itu dengan kencang sebelum menghambur padanya dan membawanya pergi dengan koper kecil yang tengah menanti di depan pintu. Kris menyunggingkan senyumnya, "Karena kau pantas untuk dilindungi," sahutnya.

Di sebelahnya Darren menembaki Kai Ko yang berusaha menyarangkan peluru di kepala Luhan yang malah melayang ke pagar kawat di sekeliling gedung bagian selatan membuatnya berdecak kesal. Pemuda itu mengubah targetnya, berjalan mendekati penampungan air di mana temannya bersembunyi dengan tembakan demi tembakan yang ia lancarkan tanpa henti. Kewalahan, Darren berusaha mencari senjata lain di sekitarnya. Matanya tertumbuk pada pipa-pipa besi yang teronggok beberapa kaki darinya.

Chanyeol menembaki Sehun dengan geram sementara pemuda itu berhasil menggoreskan peluru di pipinya yang kini meneteskan darah segar, pemuda berambut cokelat itu sendiri belum tergores apapun. Netranya menangkap Luhan yang tengah menembaki Jaycee yang kepayahan dan kini ambruk bersimbah darah. Pemuda berambut merah tersebut mengetahui pola pikir Luhan—cukup pintar untuk melumpuhkannya hingga nanti pria tersebut mati kehabisan lebih dari tiga liter darahnya yang terus-menerus mengucur.

Mengubah strategi, Chanyeol bersiaga di balik generator tempatnya bersembunyi. "Kris, pulanglah, paman Li sudah menyuruhmu pulang," teriaknya sembari mengamati sekitar di mana terlihat sunyi tanpa pergerakan kecuali suara batuk Jaycee yang merenggang nyawa dan Kai Ko yang terlihat menyusuri tepi gedung berusaha mencapai tempat di mana Darren berlindung.

Otot-otot dalam tubuh Kris menegang mendengar marga itu kembali menabuhi gendang telinganya untuk menggemakan nama yang mengerikan ke kepingan memori yang tersimpan dalam organ dengan aktivitas tinggi di dalam tempurung kepalanya tersebut. Tao memperhatikan wajah Kris yang terlihat tak berwarna sementara tangannya masih memegang bahunya.

Di sisi lain Sehun mengerling pada Luhan yang menggumamkan sesuatu, "Tiga menit lagi," pemuda yang lebih tinggi itu melihatnya mengetuk jam tangannya sendiri. Mengangguk mengerti, perhatian Sehun sempat teralih pada elevator yang berdenting terbuka disambung derap langkah samar dan pintu terayun.

"Shin Hye," Sehun mengucapkan tanpa suara kepada Luhan.

Chanyeol melanjutkan lagi, "Pulanglah, ikut bersamaku, kita habisi mereka bersama-sama." Matanya mengawasi pergerakan secuil apapun hingga suara tembakan yang hampir mengenai telapak kakinya membuatnya berjengit sedikit sebelum mencari sumbernya. Berdecak, ia mulai melancarkan serangannya lagi pada Sehun yang memegang dua revolver sekaligus.

Di balik mesin yang menderu, Kris terduduk bersama Tao yang berusaha mundur dari sisinya. "Aku bukan monster," ucapnya pelan.

Raut wajahnya seakan tak percaya pada dirinya sendiri. "Mereka tak bisa memanggilku monster." Bayangan ibunya yang berusaha melajukan mobil keluar dari halaman rumahnya terlintas. Sepucuk pistol yang sempat ia letuskan ke perutnya kembali terbayang berikut darah yang membanjir mengotori karpet bulu berwarna krem yang menghampar di ruang TV-nya, percikannya sempat mampir ke wajahnya yang terlihat terkejut dengan matanya yang membesar ngeri.

Wajahnya terlihat mengerikan, menakutkan, membuat Tao perlahan mundur berusaha menjauh, "Tao, percaya padaku." Ia menyergapnya, memegangi bahu pemuda berransel itu erat-erat. "Aku akan melindungimu," rapalnya bagai mantera yang sering kali ia deraskan di masa kecilnya.

Chanyeol terpleset ketika berusaha menjejakkan kaki setelah melompati pipa berusaha menghindari tembakan Sehun hingga berakhir terjatuh di atas aspal keras. Merintih, ia berusaha bangkit duduk memegangi belakang kepalanya merutuki kecerobohannya sendiri. Matanya berkunang-kunang, samar melihat seseorang menghampirinya kemudian tanpa ragu-ragu menghantamkan gagang pistol ke keningnya. Ia resmi terkapar dengan naas. Orang tersebut mengambil earpiece milik Chanyeo dan menginjaknya kuat-kuat menggunakan sneakers-nya.

Darren memukul Kai Ko dengan pipa besi yang ia pegang, menimbulkan suara yang nyaring membelah deru angin yang semakin lama semakin kencang. "Kau pecundang!" ejek Kai Ko menendang pipa besi dari tangan Darren, pistolnya sendiri sudah terpental jauh dan kini ia hanya bisa terlibat baku hantam dnegan pemuda yang disebut sebagai temannya sejak ia menempuh sekolah menengah atas tersebut.

"Sadarlah Kai," ia berujar setelah menghindari tendangan Kai Ko dan berusaha berlari menjauh dari tempat Kris dan Tao berlindung. "Kau hanya dimanfaatkan mereka," nasihatnya sembari mengelak dari pukulan Kai Ko dan membalasnya dengan tinju di wajahnya. Mereka berdua terbatuk saat Kai Ko berhasil menyarangkan tinjunya ke dagu Darren.

"Tahu apa kau? Ketika kau berfoya-foya, aku telah berpenghasilan sendiri," tukasnya dengan nada jengkel.

"Mereka memanfaatkan kecanduanmu!" tegas Darren mengelap darah di sudut bibirnya dan berusaha menahan kaki temannya yang diarahkan ke bagian perutnya.

Kai Ko meludahkan darahnya dan menyeringai, "Naif, aku lebih dari sekedar pecandu, aku juga pengedar." Ia menarik kakinya dan merangsek maju mencoba menyerang Darren yang terlihat tersentak kaget.

Pada detik yang sama Darren mengelak menyebabkan Kai Ko membentuk pagar kawat dengan cukup kencang. Tanpa pikir panjang, Darren memukul belakang kepalanya dengan keras, menyebabkannya jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Mencoba menenangkan nafasnya yang memburu, Darren mendengar deru baling-baling yang mendekat hingga ia menengadah menyaksikan helicopter tengah berkeliling di atasnya, berusaha turun perlahan.

"Aku tak bersalah, Tao," ucapnya mencoba meyakinkan pemuda yang terduduk di hadapannya itu.

"Aku percaya gege, untuk sekarang. Gege sudah berusaha melindungiku sejak tadi," tutur Tao sembari mengulas senyum simpul yang menenangkan gemuruh emosi di dalam dada Kris. "Tapi sebenarnya gege ini siapa?" sambungnya lagi dengan pertanyaan yang membuat Kris tak berkutik.

Suara getaran baling-baling helicopter tersebut makin kencang membuat semua orang yang masih cukup sadar di sana untuk menengadah menyaksikan transportasi udara tersebut turun di tengah-tengah atap gedung yang cukup luas. Dahi Kris mengernyit saat melihat seseorang dengan pullover putih dan celana khaki menjejakkan kakinya turun. Sehun dan Luhan menghampiri helicopter tersebut sementara Darren berjalan tertatih tak jauh dari sana.

"Tao, Kris, cepatlah," teriak Luhan yang berhenti di tengah jalan untuk menoleh pada kedua orang yang keluar dari persembunyiannya.

Pemuda dengan pullover putih itu terlihat tengah berbincang dengan seorang gadis yang memegang revolver di tangan kanannya. "Kau harus kembali ke post-mu sekarang, jangan sampai ada seorang pun yang tahu," samar suara itu tertangkap indra pendengaran Kris yang masih menatapnya nyalang.

Kris tak mempedulikan angin yang semakin keras menerpa seiring langkahnya. Di sisinya Tao mengikuti langkahnya yang membimbingnya untuk masuk ke dalam heli sementara Darren sudah duduk di salah satu kursi dan seorang wanita ber-cardigan cokelat membuka pintu ke lantai bawah sebelum turun meninggalkan pintu tersebut kembali menutup. Sehun tengah memasukkan travelling bag yang ia bawa sebelum menatap Kris heran.

"Lay, kau datang kembali," suaranya terdengar berbeda bahkan untuk telinganya sendiri. Penuh ekspektasi, begitu menyedihkan. Di belakangnya Tao terlihat memandangi kedua orang itu dengan bingung. Apa hubungan Lay dengan semua ini?

Pemuda yang mengenakan pullover putih itu tersenyum lembut padanya. "Halo the lover, kita berjumpa lagi."

Kris meneguk salivanya ketika ini kali ketiganya sebuah moncong pistol ditodongkan ke arahnya. "A-apa?"

"Mana mungkin aku datang untukmu, Li Jiaheng, jangan berharap," tukasnya dingin, jemarinya sudah siap di pelatuknya, siap menyalakkan peluru menghujam ke dadanya.

Refleks Kris berdiri di hadapan Tao, tangannya yang berkeringat dingin mencoba menangkup tangan Tao yang lebih kecil daripadanya. Kedua pasang mata berbeda warna itu sama-sama memperhatikan pergerakan tangan Lay yang terlihat tak menunjukkan tanda-tanda untuk menurunkan senjatanya. Kris berusaha untuk tak gemetar karena itu tahu bahwa hanya ada dia sebagai perisai pemuda yang lebih muda di belakangnya tersebut. Bergeser sedikit saja, bisa-bisa pemuda yang sudah ia berikan janji itu akan kehilangan nyawanya.

"Kenapa kau tahu namaku yang dulu?" netra keemasan Kris bertabrakan dengan manik mata cokelat gelap tersebut. Lagi-lagi rahasia yang membuatnya frustasi, bertekad bulat melupakan masa lalunya yang begitu gelap sebelum bertemu dengan cahaya yang lebih terang di ujung koridor yang selama ini ia jejaki dengan gamang.

"Sebagai the lover, sekaligus the hanged man, kau harus memilih," tak menggubris pertanyaannya, Lay tetap melanjutkan monolognya dengan nada tenang. Di dalam heli, Sehun, Luhan juga Darren sudah berhenti dan menatap pemuda yang mengacungkan pistol itu dengan was-was. Mereka seakan menahan napasnya sendiri menyaksikannya.

"Memilih apa?" tanyanya merasakan genggaman tangan Tao mengencang. Ia bisa mendengar jantungnya berpacu dengan kencang, dan ia yakin Tao juga merasakan hal yang sama di balik punggungnya.

"Pihak mereka atau kami?" tanya Lay tanpa sungkan, masih setia menodongkan revolver-nya ke arah dada kiri Kris.

Getaran tangan Tao dapat ia rasakan dengan jelas sementara dirinya tak berbeda jauh, perlahan mundur. Kris meneguk ludahnya kasar, matanya menangkap tatapan Sehun dan Luhan yang menyiratkan rasa penasaran, dan Darren yang cemas—Kris yakin ia pasti mencemaskan Tao yang menempel padanya. Harusnya tadi ia membiarkan Tao pergi lebih dahulu supaya tak terlibat hal macam ini.

Memberanikan diri, Kris menajamkan tatapannya, "Pihak mana yang akan melindungi Tao?" tanyanya lantang. Ia melihat Lay mengulas senyum di wajahnya yang terlihat melembut.

.

.

.

Author's note: Satu chapter lagi ya. Setelah itu ada fic dengan tema lain. : )