VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


Seoul, as Beginning

Sehun menguap beberapa kali sambil menggosok-gosok hidungnya yang tersumbat. Ini hari pertamanya bangun pagi semenjak dirinya berkuliah di Yonsei, terlalu pagi untuk mengingatkanya mengamankan Do Kyungsoo dari peloncoan teman-temanya sebagai mahasiswa baru. Ini adalah tahun terakhirnya dan tahun pertama Do Kyungsoo di kampus. Sebagai seorang sahabat, mustahil bagi Sehun menolak permintaan Jongin untuk menjaga pacarnya yang temperamental itu. Meskipun selama lebih dari tiga tahun Kyungsoo sudah mendapatkan perawatan Intensif tentang Alzheimernya, Sehun meragukan kalau Kyungsoo sudah berubah. Demi Tuhan dia tidak takut kalau terjadi apa-apa pada gadis itu, Sehun lebih takut bila Kyungsoo yang melukai orang lain seperti yang seringkali di lakukanya di sekolah.

Sehun melirik Swiss Army-nya, sudah yang kedelapan kali dan Kim Jongin baru saja datang lengkap dengan topi dan kacamata hitamnya untuk mengantar Kyungsoo ke kampus. Sebagai selebriti terkenal, Jongin mungkin sedang berusaha menyamar. Tapi bagi Sehun, Jongin malah lebih terlihat sangat mencolok. Kacamata berbingkai tebal dan jaket lusuh rasanya cukup bisa untuk membuatnya terlihat berbeda seperti yang di lakukanya dulu untuk bisa masuk ke sekolah asrama dan mengejar-ngejar Kyungsoo pujaan hatinya itu.

"Bagus sekali! Aku tidur sangat sedikit semalam dan harus bangun pagi karena menunggu kalian." Sehun menggerutu, Kim Jongin dan Do Kyungsoo datang dengan sangat terlambat daripada waktu yang mereka janjikan. Ia menguap sekali lagi, dan membayangkan kembali apa yang sudah di lakukanya tadi malam. Bercinta dengan pacar baru setidaknya bisa membuatnya lebih semangat belajar. Hiburan yang baru di lakukanya beberapa tahun belakangan saat ia menyadari betapa banyak gadis-gadis di kampus yang menyukainya. Di asrama Sehun tidak pernah melihat perempuan lain selain Do Kyungsoo dan Kakak perempuanya, Oh Krystal yang merupakan guru di asrama itu.

"Maaf, Aku harus menghindari beberapa orang wartawan untuk membuat Kyungsoo aman!" Jongin berusaha membela diri, sebelah tanganya masih menggandeng erat Do Kyungsoo sejak mereka keluar dari dalam mobil dan sekarang berakhir di salah satu tangga kampus dimana Sehun duduk dengan tenangnya.

"Memangnya kenapa kalau Kyungsoo dilihat wartawan? Kau takut kalau semua wartawan cidera karenanya?"

"Jangan sampai aku memukulmu Sunbae !" Kyungsoo mengerang.

Kim Jongin tertawa ringan, dia sangat hapal kalau Sehun dan Kyungsoo adalah rival yang seringkali berdebat dan bahkan beberapa kali dengan brutal Kyungsoo melukai Sehun. Tapi hanya Sehun yang paling paham dengan Kyungsoo bila dibandingkan dengan dirinya. "Aku hanya ingin merahasiakanya beberapa waktu lagi sampai Aku siap untuk mengumumkan siapa wanita yang paling ku cintai di depan publik!"

Sekarang giliran Sehun yang tertawa. Ia sama sekali tidak bermaksud mengejek, tapi perutnya selalu terasa seperti di gelitik setiap kali ada seseorang yang mengatakan kata cinta. Baginya cinta itu masih sangat misterius dan belum di temukan olehnya sekarang, atau mungkin oleh siapapun di dunia. Semua wanita yang di kencaninya selalu mengatakan bahwa mereka mencintai Sehun, tapi Sehun tau kalau semuanya hanya kagum terhadapnya, menyukainya karena ia cerdas, tampan dan sangat di kenal. Ya, mereka semua hanya mengagumi atau menyukai seseorang, lalu mencari-cari nama yang tepat untuk menyebut perasaan yang mereka rasakan itu hingga pada Akhirnya cinta terpilih menjadi kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.

PLAKKK!

Bunyi tamparan itu sangat nyaring membuat telinga Sehun berdenging, senyumnya memudar berganti dengan keheranan dengan apa yang sudah terjadi padanya barusan. Baginya, di tampar oleh perempuan bukanlah hal yang asing, tapi di tampar oleh orang yang tidak di kenalnya membuatnya benar-benar shock. Ia memandangi seorang gadis yang berdiri di hadapanya, rambut bergelombang berwarna coklat madu dengan bola mata hitam pekat. Wajahnya sangat berbeda dengan gadis-gadis Korea pada umumnya. Matanya lebih lebar dibandingkan dengan gadis Korea manapun yang pernah Sehun temui. Tapi melihat wajahnya, Sehun yakin kalau gadis itu bahkan belum berusia tujuh belas tahun. Untuk apa dia datang ke Kampus ini dan menampar Sehun? Ini pertemuan pertamanya, dan Sehun belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.

"Hei Nona! Kau salah orang?" Sehun bertanya dengan nada biasa, ia masih bisa bersabar.

"Oh Sehun ! Itu kau kan?"

Mata Sehun mebesar. Gadis ini tau siapa namanya?

"Mahasiswa Ilmu Politik semester sembilan. Dua puluh tujuh pacar dalam setengah tahun? Mengencani hampir dua puluh lima perempuan di Yonsei termasuk mahasiswa dan dosen. Kau fikir kau ini siapa?"

"Apa maksudmu, dan kenapa kau menamparku?"

"Hei Tuan! Kau baru saja memutuskan hubungan dengan Bae Irene kemarin sore, dan semalam kau sudah tidur dengan perempuan lain. Dimana tanggung jawabmu? Irene sedang mengandung anakmu dan sekarang dia sekarat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri!"

Bae Irene, itu masalahnya? Sehun tergelak sinis. Memangnya kenapa ia harus berbuat seperti itu, Sehun tidak melakukanya secara paksa, wanita itu yang memintanya dan dia tidak mungkin menolak. Hanya laki-laki bodoh yang akan menolak, dan perlu di ingat bahwa Sehun tidak akan melakukan seks tanpa izin dan kesukarelaan dari pihak lawan dalam hal ini adalah pasanganya. Lagi pula Sehun bukan orang pertama yang melakukan itu kepada Irene kan? "Lalu kau mau aku melakukan apa? Aku harus menemuinya dan mengatakan kalau aku akan bertanggung jawab?"

"Yang perlu kau lakukan adalah pergi ke laut dan tenggelamkan dirimu sendiri. Laki-laki sepertimu lebih pantas mati!" Gadis itu mendengus keras. Dengan langkah penuh amarah dia menjauh dan meninggalkan Sehun yang masih terperangah.

Anak itu! Sehun menggeram. Ia mengumpulkan tenaga untuk berteriak. "Hei Nona! Kau ingin aku mati? Kau yang nantinya akan mati jika tidak bisa bersamaku!"

.

.

.

.

London, 8 tahun kemudian.

Harusnya makan malam kali ini berlangsung sangat romantis. Sehun sudah mengatur semuanya dengan maksimal dan malam ini seharusnya ia melamar seorang gadis Korea yang merupakan rekan kerjanya di kedutaan besar Korea di London. Meskipun bukan seorang wanita yang Sehun cintai, tapi Seulgi adalah wanita yang sempurna dan membuatnya sangat bergairah. Seulgi juga wanita yang sangat ideal untuk menjadi istri Sehun karena wanita itu bukan tipe yang pencemburu. Ia mengetahui kebiasaan buruk Sehun dan selalu memahaminya, berasal dari keluarga baik-baik dan pasti akan di sukai keluarganya. Tapi sekarang semuanya tinggal rencana karena saat ini Sehun hanya bisa merasakan nyeri di pipi kananya karena Xi Luhan menamparnya tepat di depan Seulgi. Ini sudah yang kedua kali dalam kurun waktu setahun terkhir dan kali ini sangat mengesankan, mereka bahkan di potret beberapa orang wartawan.

"Diplomat brengsek!" Cacinya. "Kapan kau akan berhenti melakukan hal ini kepada perempuan? Kau sudah menyengsarakan banyak wanita!"

Sehun mengerang. Lagi? Baru sekitar dua bulan yang lalu ia terbebas dari skandal dengan seorang perempuan yang merupakan putri seorang pengusaha besar dan juga artis kenamaan di London. Pada saat itu ia merasa akan segera berangkat kesurga setelah terbebas dari Xi Luhan. Wanita ini, tidak bisa di pungkiri sangat menarik. Meskipun gayanya sedikit maskulin dan keras, Xi Luhan memiliki tubuh yang sangat menarik bagi laki-laki manapun yang memperhatikannya, apalagi yang hidung belang seperti Sehun.

Sehun seringkali berfikir yang tidak-tidak setiap kali bertemu dengan pengacara muda itu, tapi kekejaman kata-katanya membuat Sehun melupakan semua minatnya.

"Kali ini siapa? Aku akan menyelesaikanya!" Bentak Sehun. "Kau tidak perlu melakukan hal seganas ini, Bukankah kau seorang pengacara?"

Luhan menggigit bibirnya geram. Sebagai seorang pengacara, akan lebih baik bila menyerang seseorang dengan kata-kata saja di pengadilan nanti. Tapi untuk Oh Sehun, semuanya adalah pengecualian. Walau bagaimanapun Luhan yakin kalau dirinya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyerang. Jika tidak sekarang, pada akhirnya Luhan hanya akan gigit jari karena kasus yang berkaitan dengan Diplomat muda itu tidak akan pernah sampai kepengadilan begitu saja. Semuanya akan selesai dengan damai dan wanita-wanita bodoh itu selalu bersedia memaafkanya entah dengan cara apa. Oh Sehun selalu medapatkan apa yang dirinya mau.

"Kau akan terima suratnya di apartemenmu!" Kata Luhan akhirnya dan pergi meninggalkan Sehun dengan membawa kekesalannya.

Sehun masih mengelus pipinya beberapa kali sambil memandangi Xi Luhan dengan perasaan kesal. Tenaganya sangat luar biasa untuk seorang perempuan. Kalau saja Xi Luhan dan dirinya tidak bertemu dengan cara seperti ini, Sehun yakin dirinya akan sangat menyukai gadis itu. Sebagai pengacara fresh graduate yang dikenal kejam, seharusnya juga semakin menabah sisi menarik dari Luhan jika saja Luhan tidak bermasalah denganya.

"Kau tidak apa-apa?" Seulgi menyapanya.

Sehun mengusahakan senyumnya yang tebaik. Meskipun Seulgi adalah orang yang paling mengerti dengan keberadaanya dan segala tingkah lakunya, ia tidak ingin Seulgi merasa kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Persahabatanya dengan wanita ini di mulai sejak ia ditugaskan di London lima tahun silam. Sebagai lulusan terbaik dengan cumlaude di Yonsei memberikan jalan bagi Sehun untuk melanjutkan magister dimana saja yang pada akhirnya mengantarkanya pada jalan ini, menjadi diplomat muda yang tampan dan di cintai banyak wanita. Ini bukan salahnya kan? Tapi mungkin hanya Seulgi (dan Xi Luhan tentunya) yang terlihat tidak begitu tertarik pada keunggulanya. Tidak, Seulgi yang seperti itu, kadang-kadang adakalanya Seulgi tidak begitu tertarik meskipun ia dan Sehun sering bersenang-senang sedangkan Xi Luhan sepertinya lebih dari sekedar tidak tertarik, wanita itu sangat memusuhinya.

"Fine, Tenanglah, ini hal yang biasa!" Jawab Sehun sambil memandang beberapa orang Security restoran mengusir wartawan yang terus berusaha memotretnya dari jendela kaca. Sehun mendesah, besok pagi namanya akan menjadi topik pembicaraan hangat di surat kabar pagi dan mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari apartement untuk beberapa hari. Ia harus menghubungi Kris. Pengacaranya itu harus segera menyelesaikan semua kekacauan ini dengan anggun seperti biasanya.

"Oh, Ya! Apa yang ingin kau bicarakan tadi?" Seulgi bertanya lagi.

"Oh, tidak. Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu saja." Sehun berdehem berusaha menyembunyikan kekikukanya. Ini bukan saat yang tepat untuk menyampaikan lamaranya karena Seulgi pasti tidak menginginkan lamaran yang seburuk ini. "Selamat ulang tahun!"

Seulgi Tersenyum. "Kau memang laki-laki yang romantis. Sayang semuanya terjadi seperti ini tapi kau cukup membuatku gembira. Aku juga punya kabar baik untuk dirimu!"

"Benarkah? Apa?"

"Aku akan segera menikah."

Senyum Sehun tiba-tiba memudar. Seulgi akan menikah dan meninggalkanya? Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia bersyukur Xi Luhan datang tadi, setidaknya Luhan menghindarkanya dari sesuatu yang lebih memalukan daripada berdebat dengan pengacara kejam itu. Seulgi akan menikah dan Sehun baru mengetahuinya? Diam-diam ia melirik ke jari manis Seulgi dan disana memang sudah melingkar sebuah cincin perak yang indah. Seulgi akan menikah dengan siapa? Dia tidak perlu tau dan tidak ingin tau.

"Kenapa dengan wajahmu itu?" Tanya Seulgi.

"Kau akan meninggalkanku? Kita tidak bisa bersama lagi? Bersenang-senang bersama, menghabiskan malam bersama!"

"Kenapa semuanya harus berakhir? Aku menikah untuk menyenangkan kedua orang tuaku tapi aku tidak akan bisa meninggalkan kesenanganku sendiri. Kita masih bisa memiliki Affair yang menyenangkan, kan?"

Sehun lagi-lagi berusaha tersenyum. Itu artinya Seulgi masih tertarik kepadanya meskipun hanya untuk bersenang-senang. Baiklah, Seulgi yang meminta dan Sehun akan melakukanya. Dia akan membuat Seulgi senang hingga Sehun merasa bosan dan menemukan perempuan baru. Lagipula apa yang sedang di khawatirkanya? Semua wanita menginginkanya kan? Tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pesona Oh Sehun dengan ketampanan dan hartanya yang melimpah. Dengan kebahagiaan seperti ini Sehun merasa ingin terus hidup selamanya dan tidak pernah menikah. Ia tidak pernah menyukai satu wanita dalam satu waktu, jadi tidak menikah adalah pilihan yang baik. Tuhanpun sepertinya tidak mengizinkan Sehun untuk menikah karena satu-satunya perempuan yang di anggap pantas menjadi istrinya sudah di ikat oleh orang lain. Bukan masalah, hal seperti ini tidak akan jadi masalah selagi dunia masih terus memproduksi makhluk bernama perempuan.

.

.

.

.

Pagi yang membuat Sehun merasa lesu. Ia tidak akan kekantor hari ini dan Kris pasti sudah mengurusnya. Kepalanya agak pusing karena banyak hal yang mengganggunya. Dimulai dari Xi Luhan dan Klienya, Seulgi yang sudah menolaknya bahkan sebelum Sehun menyatakan lamaranya, sampai berita yang mungkin sudah merebak luas di kalangan Masyarakat. Pilihanya untuk tidak segera pulang sepertinya adalah pilihan yang sangat tepat. Sehun beruntung Kris adalah pengacara yang baik juga sahabat dan sepupu yang baik selama dirinya berada di London karena Kris tidak pernah membiarkan Sehun kewalahan dalam hal apapun. Kris membuka pintu kamarnya dan menatap Sehun yang masih duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya. Sesekali ia menggeleng dan tersenyum melihat Sehun yang sudah sangat sering seperti ini. Mengesankan jika ia masih terkejut saat sepupunya itu pulang semalam.

"Kau sudah baikan?" Tanya Kris lalu kembali duduk ke meja makan.

Dengan malas Sehun keluar kamar yang di tumpanginya dan duduk di dekat Kris lalu meminum air putih yang ada di hadapanya dengan brutal. Itu gelas Kris, tapi Kris tidak protes, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kemakluman.

"Kau mabuk semalam! Sudah ingat?"

Sehun menyeringai. "Tentu saja! Aku di tolak semalam sebelum aku menyampaikan lamaran. Sudah sewajarnya aku mabuk."

"Kapan kau akan berhenti membuat skandal? Kau bahkan lebih terkenal di bandingkan artis internasional. Pejabat seharusnya menjadi panutan!"

"Sudahlah, aku sedang tidak butuh ceramah. Semuanya sudah kau urus? Bagaimana?"

"Kali ini kelihatanya sulit. Pihak kantor bisa saja mengeluarkanmu jika skandal ini tidak selesai dengan mudah!"

"Tapi kau bisa menyelesaikanya kan? Wanita itu minta apa?"

"Tentu saja yang itu sama sekali tidak sulit, semuanya sudah selesai. Tapi kabar seperti ini bisa menjadi pembicaraan selama berbulan-bulan. Beberapa waktu lalu kau di maafkkan karena itu yang pertama tercium oleh media dan mungkin kau tidak salah sepenuhnya. Tapi kali ini berbeda, keledai bodoh saja tidak akan masuk kelubang yang sama untuk kedua kalinya. Sekarang cobalah untuk menyelesaikanya, atau dalam beberapa bulan kedepan kau akan di kembalikan ke Korea dan usahamu untuk menjabat posisi yang lebih tinggi di Seoul akan sia-sia."

"Oh, tentu saja! Ini karena Xi Luhan. Gadis gila itu baru dua kali menangani kasus-kasusku tapi selalu melibatkan media! Sebelum dia menjadi pengacara semua masalahku bisa selesai tanpa skandal kan?" Sehun berdecak. "Lalu apa yang harus ku lakukan?"

"Menikahlah!"

"Apa? Bukankah sudah ku katakan kalau aku sudah di tolak! Aku harus menikah dengan siapa?"

"Menikah dengan siapa saja, dan skandal akan lenyap. Kau ingat Russel Graig kan? Skandal bahwa dirinya memperkosa artis itu hilang begitu saja saat masyarakat luas tau kalau ia sudah menikah, semua orang bahkan melupakan kasusnya begitu saja dan dirinya bisa hidup dengan tenang sampai sekarang! Lagi pula sampai kapan kau akan menolak perjodohan yang di adakan Ayahku?"

Sehun termenung. Walau bagaimanapun dia tetap tidak akan menikah dengan orang yang sembarangan. Tapi siapa calon yang tepat? Dia tidak mungkin ikut perjodohan begitu saja, Skandal kali ini benarbenar membuatnya jadi serba sulit. "Kau punya ide? Wanita mana yang harus ku nikahi?"

Kris tersenyum dengan sangat misterius. "Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Demi kebaikanmu, berusahalah untuk kali ini. Berjanjilah, apapun yang terjadi kau tidak akan menyerah begitu saja!"

"Maksudmu?"

"Aku menyerahkan calon istriku kepadamu."

Kali ini Sehun tidak berkomentar. Keningnya berkerut tajam. Sejak kapan Kris punya calon istri? Dan lagi-lagi ia tidak mengetahui apa-apa, kelihatanya Sehun sangat banyak ketinggalan beberapa waktu belakangan ini. Kris memiliki kekasih, Sehun mengetahuinya dengan baik tapi dia dan wanita itu baru bertemu beberapa minggu sejak jatuh cinta pada pandangan pertama mereka terjadi. Wendy, gadis Korea dan masih sangat muda, meskipun Wendy cukup cantik dan menarik Sehun tidak mungkin menikahi mahasiswi tahun kedua.

"Aku di jodohkan!" Ujar Kris berusaha menjawab keheranan Sehun.

"Dengan putri salah seorang kerabat Ayah. Tapi dengan berbagai cara aku sudah berhasil membujuk Ayah untuk menggantikan diriku denganmu."

"Katakan padaku, seperti apa dia? Apakah dia cantik? Tubuhnya bagaimana?"

"Sudahlah, Kau pasti akan menyukainya, percayalah!" Jawab Kris.

Sehun menelan ludahnya. Seperti apa wanita itu? Kris bilang Sehun pasti akan menyukainya dan seharusnya ia percaya kalau Kris sangat hapal dengan seleranya. Kris tidak mungkin membohonginya.

.

.

.

.

Luhan memandangi surat kabar dengan senyum pahit. Bagaimana mungkin sebanyak itu wartawan yang meliput berita tentang Diplomat playboy itu, tidak ada satupun yang memuat beritanya kecuali siaran langsung saat ia menampar Laki-laki itu di restoran. Ia ingin sekali melihat berita itu, tapi sayangnya Baekhyun yang merupakan teman se-flat nya tidak sempat merekam tayangannya karena Sibuk terperangah heran saat menonton televisi. Lagi-lagi Oh Sehun melakukan hal yang sama, ia menarik semua berita tentang skandalnya. Tapi percuma karena meskipun hanya segelintir orang, yang menyaksikan siaran langsung itu, semuanya akan segera menyebar lewat angin seperti sebelumnya. Oh Sehun beruntung memiliki Kris sebagai pengacaranya, laki-laki itu bertindak sangat cepat dan sangat menguntungkan kliennya. Sebenarnya Luhan merasa sangat terkesan dengan laki-laki itu dan dirinya merasa sangat tertarik. Perpaduan China dan Kanada membuat wajah Kris berseri-seri dan sangat sulit untuk di lupakan terlebih saat dirinya tau kalau Kris dan dirinya sudah di jodohkan. Pemikiran kolot yang menguntungkan, Luhan seperti mendapatkan durian runtuh karena dirinya akan di nikahi oleh senior yang sangat di kaguminya sewaktu kuliah.

"Kau sudah berjanji pada Ibu untuk menikah dengan laki-laki itu kan?" Ten menyapanya.

Adik laki-lakinya itu adalah satu-satunya saudara yang menemani Ibunya di rumah sedangkan Luhan hanya datang sesekali karena Districk Lake terlalu jauh dari jangkauan kerjanya. Pedesaan yang indah ini sudah menjadi tempat dimana Luhan tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya keluarga Xi karena semua saudaranya adalah laki-laki. Dua orang kakak dan satu adik, Ten. Dan sekarang, atau lebih tepatnya beberapa saat lagi akan menjadi tempatnya bertemu dengan calon suaminya yang sudah begitu lama di kaguminya.

"Berjanjilah, kali ini kau akan menikah! Ibu sudah sakit-sakitan dan sangat ingin melihatmu memakai gaun pengantin. Kau selalu memanipulasi semua perjodohan yang di adakan sehingga semua laki-laki itu menolakmu. Meskipun Ibu tidak tau tapi aku tau kalau kau selalu purapura menerima dan mengusahakan agar semua laki-laki yang dijodohkan denganmu menolak, sesuai dengan keinginanmu. Ibu akan sangat kecewa kalau dia tau."

"Kau tenang saja. Kali ini aku tidak akan mengecewakannya!"

Bunyi mesin mobil menderu dan berhenti di depan rumahnya yang bergaya khas pedesaan. Jantung Luhan tiba-tiba berdetak kencang. Dia mungkin memang akan menikah di usia muda dan semoga akan bahagia. Demi Ibunya, Luhan akan berhenti bersikap egois dan menjadi anak penurut kali ini. Ini adalah perjodohan pertama yang di jalaninya semenjak Ayahnya meninggal dunia beberapa bulan lalu. Luha sangat tau kalau Ibunya menaruh harapan yang sangat besar terhadap perjodohan kali ini, dan Luhan akan menerimanya. Dia bukanlah gadis yang pandai bergaul untuk menemukan kekasih seprti teman-temanya yang lain. Selama di flat ia bahkan terlalu sering menghabiskan malam sendirian karena Baekhyun selalu pergi bersama pacarnya. Sejak dilahirkan Luhan memang bukan seorang yang pandai untuk bersenang-senang. Ia lebih di kenal karena kekakuanya dan ketajaman bahasanya.

"Kau tidak ingin mengintip dulu?" goda Ten.

Luhan menggeleng. Ia berlari cepat menuju kamar untuk memberikan penampilan terbaik dan itu pasti akan memakan banyak waktu. Lebih baik ia sedikit menahan diri untuk melihat calon suaminya. Ia sudah tau seperti apa wajahnya, yang ingin di ketahuinya apakah Kris akan menerimanya dengan baik atau tidak.