VENUS
(Novel Remake by Phoebe)
HUN-HAN
Genderswicth
Happy Reading :) :)
Sebuah rumah sederhana di pedesaan Districk Lake, bagi Sehun pemandangan kali ini cukup menarik. Meskipun wanita di pedesaan Eropa tidak semanis wanita-wanita desa di Asia, tapi rata-rata mereka semua masih memiliki keindahan fisik yang luar biasa. Memikirkan kalau dirinya akan menikah dengan seorang gadis desa, Sehun menjadi sangat berbinar-binar dan juga sangat antusias. Tapi sejak kapan dirinya memiliki perasaan yang seperti ini? Bukankah dia tidak ingin menikah jika bukan karena di desak oleh keluarganya. Sehun tidak akan merencanakan lamaranya untuk Kang Seulgi tempo hari jika menuruti kata hatinya. Sekarang desakanya juga bertambah dan sepertinya pilihan untuk segera menikah tidak bisa di elakkan lagi. Tapi walau bagaimanapun mustahil bagi Sehun untuk berhenti, dia tidak akan berhenti menjalankan hobinya. Seorang istri dari desa seharusnya tidak akan bisa banyak membantah tentang hal ini.
"Paman, bagaimana orangnya?" Sehun berbisik kepada pamanya sambil membawa tas yang berisi pakaian mereka.
"Dia cantik tidak?"
"Tentu saja!"
"Tapi tidak terlalu gemuk kan? Tidak terlalu kurus juga kan?" Pamanya berdehem.
"Berhentilah, apa yang sedang kau fikirkan sekarang? Ayo masuk!"
Sehun mengulum senyum penasaranya. Seorang wanita tua berwajah oriental bersama anak laki-lakinya yang kelihatanya tidak asing menyambut mereka dengan bahagia. Nyonya Xi adalah seorang wanita keturunan Korea. dan putranya, Ten meskipun berwajah sangat oriental memiliki rambut dan bola mata yang berwarna gelap seperti Ibunya. Anak itu terlihat seperti seorang laki-laki China-Korea yang berkulit putih bersih, melihat wajahnya mengingatkan Sehun pada seseorang. Tapi entahlah, dia sama sekali tidak ingin mengingat-ingat, yang jelas siapa yang akan menjadi tunanganya lebih menarik perhatian di bandingkan apapun sekarang.
Jarak yang jauh membuat Sehun dan pamanya harus menginap disini paling tidak untuk semalam. Nyonya Xi sudah menyiapkan sebuah kamar sederhana yang hangat untuk menentang angin musim gugur yang berhembus di luar. Setelah mengemasi barang-barangnya, Sehun dan pamanya turun memenuhi undangan makan siang. Hanya ada tiga orang anggota keluarga, tapi rumah ini memiliki banyak kamar. Ketiganya sekarang sedang berkumpul di ruang makan dan seorang gadis yang sedang membantu Ibunya dengan ceria itu membuat Sehun terperangah. Xi Luhan? Sehun mematung tak menyangka, Xi Luhan untuk pertama kalinya terlihat lebih menarik. Ia menggunakan sebuah jeans ketat dan kamisol tanpa lengan dengan bahan yang kelihatanya tebal berwarna violet. Dua pakaian yang membalut tubuhnya secara serasi, berbeda dengan sikap maskulin yang di tampilkanya selama ini.
"Kalian sudah datang? Silahkan duduk!"
Sehun tersenyum kepada Nyonya Xi, ia dan pamanya kemudian duduk di meja makan dengan sangat bersahaja dan Luhan duduk di hadapanya. Tidak sekalipun Sehun memalingkan pandanganya dari Luhan dan dirinya dapat melihat kalau Luhan mengalami keterkejutan yang sama. Wajahnya yang ceria tadi tiba-tiba saja berubah menjadi wajah kaku seperti yang sering Sehun lihat. Seandainya bukan dirinya yang duduk disini, seandainya Kris yang datang, Sehun yakin kalau gadis itu akan terus berusaha untuk terlihat manis sepanjang hari. Sepanjang waktu-waktu di meja makan Sehun tidak bisa menghindar untuk memperhatikan tubuh Luhan, Kamisol itu benar-benar membuatnya tampak menggairahkan. 34DD, Sehun menebak ukuran branya, menakjubkan. Penglihatanya sama sekali tidak salah saat melihat Luhan untuk pertama kalinya meskipun pada saat itu Sehun tidak bisa memperhatikan gadis itu berlama-lama. Sehun tiba-tiba menyentuh pipinya, Semua tamparan Luhan masih bisa di rasakan dengan sangat jelas.
"Zhoumi dan Henry dimana? Mereka tidak ikut makan?" Paman Wu bertanya kepada siapa saja yang bersedia menjawabnya. Perhatian Sehun sempat beralih sementara.
"Mereka tidak bisa datang, Zhoumi dan Henry tidak bisa meninggalkan kedainya karena sekarang sedang sangat ramai." Jawab Nyonya Xi.
Paman Wu menyenggol Sehun yang masih memandangi Luhan tanpa henti sambil terus melahap makananya. "Lihat, Anak ini! Nyonya, sepertinya dia terus memperhatikan putrimu! Dia pasti sedang sangat tertarik."
"Benarkah?" Nyonya Xi terlihat sangat antusias. "Kalau begitu syukurlah. Luhan selalu di tolak setiap kali melakukan perjodohan. Entah apa yang terjadi dengan semua laki-laki itu!"
Sehun mendehem setelah menelan makanan yang di kunyahnya. "Di tolak? Ku rasa aku tau sebabnya, dia terlihat sangat kaku!"
"Oh, tidak. Mungkin karena dia sedang tegang sekarang! Dia berjanji akan menikah melalui perjodohan kali ini bila kau tidak menolaknya. Tidak, dia mengatakan janji yang sama setiap kali perjodohan diadakan. Sayangnya seperti yang ku katakan kalau pada akhirnya semua laki-laki menjauhinya. Kau menyukai putriku?"
"Ibu!" Luhan mendesah.
Melihat itu, Sehun menyunggingkan sebuah senyum tipis disudut bibirnya. Hanya sesaat karena berikutnya Sehun berakting kebingungan.
"Apakah aku harus memberi jawaban sekarang?"
"Tidak, tentu saja tidak! Kau bisa menjawabnya nanti setelah kau pulang ke London. Kalau kau memutuskan untuk menerima atau menolak, katakan saja pada pamanmu. Kalau kau menerimanya tentu aku akan sangat bersyukur sekali dan semuanya tetap akan aku serahkan kepada kalian berdua."
"Ibu, hentikan!" Luhan mendesah lagi. Ia mungkin merasa malu dengan ucapan Ibunya. Setelah Nyonya Xi diam gadis itu dan adiknya Ten saling pandang penuh makna. Mungkin Luhan sudah menginjak kaki adiknya di bawah meja karena pemuda itu ikut menertawainya.
.
.
.
.
"Aku hampir kena serangan jantung saat dia mengatakan kalau kau sangat kaku!" Nyonya Xi mengomentari putrinya yang membantunya di bagian belakang rumah. "Dia sangat tampan dan seorang diplomat, dia sangat cocok denganmu!"
"Bukankah seharusnya Kris Wu yang datang? Kenapa harus dirinya?"
"Kau ini bodoh? Kau masih menginginkan pengacara itu untuk datang? Ayahnya bahkan menganggap kau sangat berharga untuk dipasangkan dengan putranya. Dia menggantinya dengan laki-laki yang lebih baik. Seharusnya kau berterima kasih!"
Luhan mendengus pelan. Lebih baik? Inilah akibatnya bila Ibunya tidak suka nonton TV dan terlibat dengan dunia luar, semua orang di Inggris saat ini sedang berbisik-bisik tentang betapa bajinganya Oh Sehun. Dengan wajah tampan dan karir yang gemilang itu, dia sudah menjadi penggoda yang cukup sukses untuk menghabisi entah berapa orang perempuan di atas ranjangnya setiap malam. Sayang sekali hanya sedikit yang menuntut keadilan dari Sehun. Luhan sangat ingin membuka mulut tentang semua ini, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Ia tidak akan membuat Ibunya khawatir karena Oh Sehun pasti menolak, atau Luhan akan membuat Oh Sehun menolak perjodohan ini.
"Dia cukup tampan, kan? Dan yang paling penting laki-laki itu menyukaimu!"
"Benarkah? Semua laki-laki yang datang juga bersikap seperti itu pada awalnya!"
"Itu karena kau sangat egois. Alasan mereka semua sama saat menolak, kau terlihat sangat kaku dan kata-katamu itu sangat kejam. Berusahalah menjadi wanita yang dia inginkan dan menikahlah!"
Nyonya Xi kemudian menyerahkan dua tumpukan selimut kepada Luhan dengan hati-hati.
"Kau antarkan ke kamar mereka, sana!"
Luhan lagi-lagi mendesah. Dengan malas dirinya mengantarkan kedua selimut itu kelantai dua, mungkin ia akan membawa selimut itu kekamarnya dulu untuk mengganti pakaian meskipun itu harus membuatnya bolak-balik. Jadi wanita yang di inginkan Oh Sehun? Apa dirinya harus membuka pakaianya di depan laki-laki itu? Ibunya juga akan segera kena serangan Jantung kalau dia mengetahui seperti apa wanita yang di inginkan Sehun. Luhan menggenggam selimut erat. Begitu menaiki tangga genggamanya mengendor saat melihat Sehun keluar dari kamar tamu, ia sudah berganti pakaian dan mungkin akan menyusul pamanya kehalaman. Yang bisa Luhan lakukan sekarang hanya pura-pura tidak tau dan berjalan lurus menuju kamarnya, barulah ia akan kembali lagi untuk mengantarkan selimut.
Gadis itu memaki dirinya sendiri dalam hati karena merasa gugup, kenapa ia gugup seperti sekarang, karena Sehun sedang memandanginya dan menghalangi jalanya sebisa mungkin. Luhan menghela nafas lalu memandang Sehun kesal.
"Tidak bisa minggir?" Luhan berkata dengan nada sinis meskipun suaranya tidak selantang yang biasa di lakukanya terhadap Sehun.
"Kebetulan sekali, Aku ingin menemuimu!"
"Untuk apa? Kau tidak boleh terlalu berharap! Aku tidak akan menikah denganmu apapun yang terjadi. Jadi lakukan apa yang ku katakan, Tolak perjodohan ini dan menyingkir dari hadapanku sekarang! Aku harus segera kekamarku!"
Sehun memandang ke belakang sekilas, pintu yang berada diujung itu ternyata milik Luhan? Tapi melihat selimut yang Luhan bawa, Sehun menduga kalau seharusnya selimut itu di bawa ke kamar tamu. Luhan hanya berusaha menghindar dan tidak ingin melihat wajahnya, Sehun bisa merasakanya.
"Selimut itu, harusnya kau bawa ke kamarku kan?"
"Tidak, ini untukku sendiri!" Luhan segera menutup mulutnya.
Kenapa ia mengatakan hal seperti itu? Seharusnya ia memberikan selimut itu kepada Sehun agar tidak perlu masuk kekamar tamu dan meletakkanya sendiri di tempat tidur laki-laki itu.
"Untukmu sendiri? Kau kekurangan selimut?"
"Tentu saja, musim dingin akan segera tiba dan aku sudah mulai merasa kedinginan. Aku butuh tambahan selimut!"
Lagi-lagi Luhan berbohong. Bukan orang yang pandai berbohong karena kegugupanya sangat terlihat jelas. Luhan menunduk saat melihat Sehun tersenyum padanya, Senyuman yang sudah membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Sejak kapan ia menjadi bodoh saat berhadapan dengan orang ini?.
"Kalau begitu biarkan aku menghangatkanmu!" Sehun beraksi cepat. Karena sesaat kemudian Luhan sudah ditarik kedalam kamar dan merasakan bunyi pintu tertutup di belakangnya. Gadis itu menggenggam selimut yang di bawanya semakin erat, tidak lama karena selimut itu segera terjatuh kelantai ketika menyadari Oh Sehun sudah memandangi setiap inci tubuhnya. Ia bergerak selangkah demi selangkah mendekati Luhan tapi gadis itu tidak bergerak sedikitpun, ia sedang berusaha mempertahankan diri dengan memasang wajah tergalaknya. Luhan mulai merasa terintimidasi meskipun ia terus berusaha menantang dan memandang wajah Sehun dengan pandangan tidak suka. Perlahan-lahan ia mundur dan berusaha menjaga jarak.
"Kau sedang apa?"
"Lihat dirimu! Ternyata kau sangat cantik. Kau berdandan seperti ini untukku?"
"Kalau aku tau yang datang adalah kau, aku tidak akan memakai pakaian seperti ini!"
"Jadi, kau berdandan seperti ini demi Kris?" Sehun tertawa, tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Harusnya kau tidak menggunakan camisole dengan bahu selebar ini." Ia menyentuh pundak Luhan dengan satu jarinya sehingga Luhan mundur selangkah lagi dan membuatnya jatuh ke tempat tidur. Gadis itu terpekik kecil saat Sehun sudah merangkak di atas tubuhnya dan menyentuh dadanya.
"Tapi aku suka tali yang ini,"
"Kau mau memakai camisole? Aku punya banyak!"
Sehun tertawa lagi. Luhan masih berusaha mengejek dalam situasi segawat ini. "Kau punya banyak? Menarik! Bagaimana kalau tali ini ku buka?" sebelah tangan Sehun terangkat menarik ikatan camisole satu demi satu dan berhenti ketika Luhan menepis tanganya.
"Kau mau bersikap kurang ajar padaku?"
"Lalu kenapa tidak teriak? Kau menyukainya kan? Katakan saja!" pandangan mata Sehun semakin terlihat bergairah. Terlebih saat melihat leher Luhan yang bergerak karena menelan ludah, pandanganya kemudian turun ke camisole yang sudah terbuka sebagian dan memamerkan payudara Luhan lebih banyak lagi.
"Kau sangat pandai menuntut kan? Kalau di tempat tidur, sekuat apa tuntutanmu?"
Sehun menarik tangan Luhan yang menghalangi pandanganya dan menekanya kuat keatas ranjang. Ia kemudian menarik tali camisole yang ketiga dan keempat dengan giginya. Menggairahkan sekali dan sekarang dirinya sangat terangsang. Tapi bunyi pintu terbuka membuat Sehun menarik dirinya dari ranjang dan berdiri menghadap pamanya dengan nafas tergengah-engah. Luhan juga melakukan hal yang sama, ia berdiri dan menghadap dinding untuk mengikat kembali ikatan camisolenya yang di lepaskan oleh Sehun.
"Kalian berdua sedang apa?" Paman Wu menatap Sehun dan Luhan bergantian dengan sangat heran. Tidak ada seorangpun yang menjawab hingga Luhan berbalik dengan pakaianya yang sudah kembali utuh lalu mengambil selimut yang berserakan di lantai.
"Aku mengantarkan selimut, Paman!" Meskipun Luhan berusaha untuk tampak biasa tapi dari suaranya barusan Paman Wu bisa merasakan kegugupanya yang luar biasa. "Tapi selimutnya terjatuh, aku akan menggantinya. Permisi!"
Paman Wu tersenyum kecil dan membiarkan Luhan keluar dari kamar itu. Ia memandang Sehun lagi dan menutup pintu.
"Kau mau melakukan apa? Bagaimana kalau aku tidak datang tadi?"
"Aku hanya bermain-main sedikit. Tenanglah paman, aku tidak akan melakukan apa-apa!"
"Tidak melakukan apa-apa? Kau nyaris menelanjanginya!"
"Paman, dia menyukainya! Dia tidak berteriak kan?"
Paman Wu memukul kepala Sehun keras sehingga laki-laki itu mengaduh.
"Dia wanita terhormat. Mana mungkin dia akan berteriak begitu saja di rumahnya sendiri. Ibunya bisa kena serangan Jantung kalau mengetahui kelakuanmu ini!"
.
.
.
.
Sehun sangat berharap bisa melihat Luhan lagi. Tapi pagi ini Luhan sama sekali tidak muncul hingga saat kepulanganya tiba. Gadis itu ternyata sudah kembali ke London pagi-pagi sekali karena harus segera bekerja. Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di flat milik Kris, Sehun nyaris tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain kejadian kemarin, melihat Xi Luhan di atas ranjang membuatnya sangat bergairah. Gadis yang galak ternyata bisa membuatnya merasa sangat berapi-api seperti ini? Dia sama sekali tak menyangka, tubuh Luhan sangat wangi dan rambutnya selembut sutra. Ukuran payudara dan pinggul yang sempurna semakin memperkaya khayalanya. Kedua hal terakhir sudah sangat lama Sehun ketahui, tapi kemarin adalah saat yang paling tidak pernah di sangka-sangka dalam hidupnya karena dapat melihat payudara Luhan secara langsung. Seandainya Paman Wu tidak datang… Sehun mengerang.
"Kau kenapa?" Kris menyadarkanya.
Sepupunya itu sedang asyik membaca buku sambil duduk di sebelahnya. Hari ini anak itu tidak bekerja, Kris tidak akan pernah datang ke kantor saat ia di minta mengurusi masalah kliennya, dan berkali-kali Sehun selalu menjadi alasanya untuk bolos kerja.
"Sejak tiba disini kau terus melamun, sekarang malah mengeluarkan suara-suara aneh! Jangan bilang kau ditampar lagi oleh Xi Luhan!"
"Tidak. Aku tidak mendapatkan hadiah khusus itu seperti biasa." Sehun tersenyum getir. Seandainya dia dan Luhan bertemu lagi, gadis itu pasti akan melakukanya. Hal itu bisa di pastikan. "Kenapa kau tidak bilang kalau wanita itu adalah Xi Luhan?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak menyukainya? Dia menolakmu?"
"Kata Ibunya, pengacara gila itu tidak pernah menolak perjodohan. Pihak laki-laki yang selalu menolak. Tapi setelah ia memerintahkan aku untuk menolak perjodohan itu, aku mengerti sebabnya. Dia pasti mengancam semua laki-laki yang sudah menjalani perjodohan denganya seperti yang di lakukanya padaku!"
"Benarkah kalau dia juga melakukan itu kepadamu? Luar biasa sekali dia!"
"Dia sangat menarik, saat perjodohan Xi Luhan benar-benar berdandan dengan cantik, ia memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas, memakai camisole bertali dan tidak menggunakan bra. Seksi sekali!"
Kris yang tadi tersenyum tiba-tiba kehilangan binarnya. Sehun masih berfikiran seperti itu? Kenapa Luhan berdandan tidak biasa untuk Sehun.
"Saat kuliah beberapa orang temanya memanggil Luhan dengan sebutan Venus karena tubuhnya dan juga kecantikannya yang luar biasa itu."
"Iya! Dia seperti Venus, dewi kecantikan."
Sehun terdengar semakin antusias. Bagaimana bila Luhan tidak mengenakan pakaianya? Bagaimana bila ia mengenakan camisolenya tadi setiap hari? Sehun ingat kalau Luhan memang selalu melakukan itu. Di balik jas dan blazernya, gadis itu selalu menggunakan camisole tapi tidak terlalu menonjol karena penampilan maskulinya lebih dominan.
"Kau akan menikah denganya?"
"Kau fikir aku gila?" Sehun mengerang lagi. "Aku tidak akan menikah denganya karena ia terlalu cerdas dan galak untuk menjadi istriku! Xi Luhan bisa mematikan petualangan cintaku! Tapi aku akan bermain-main sebentar, Aku akan membuatnya tergila-gila padaku sebagai balasan tamparan demi tamparan yang selalu dilayangkanya. Sebagai akibat karena sudah berani-beraninya membangkitkan gairahku!"
Kris mendengus, ia pasti akan merasa semakin bersalah kepada Luhan kalau itu benar-benar terjadi. Ia akan menemui Luhan di kantor besok, Kris harus membicarakan sesuatu.
"Utamakan pernikahanmu!" Kris bersuara lagi.
"Menikah itu gampang, aku bisa memilih wanita mana saja yang kusukai, tapi seperti yang ku bilang kalau aku ingin bersenang-senang dulu!"
.
.
.
.
Luhan sekarang sudah benar-benar kalut, Bayangan tentang Oh Sehun yang mengerjainya di rumah Ibunya mungkin tidak akan pernah hilang sama sekali. Laki-laki itu pasti tertawa dibelakangnya dengan sangat puas. Kemarin dia benar-benar nekad untuk pulang sendirian pagi-pagi buta agar tidak melihat wajah orang itu lagi seumur hidupnya. Bagaimana bila Sehun menerima perjodohan itu? Apa yang harus Luhan lakukan setelah ini? Tapi rasanya mustahil Sehun akan bersedia menikah denganya. Menikah dengan Luhan berarti mengorbankan kehidupan bersenang-senangnya karena Luhan bukanlah orang yang suka berbagi apapun yang menjadi miliknya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, beberapa orang di kantor mungkin sudah pulang kerumah masing-masing dan beristirahat. Tapi map-map yang menumpuk dihadapanya sama sekali tidak ingin di tinggalkan.
"Kau masih bekerja?"
Seseorang membuka pintu ruangan dimana Luhan duduk seorang diri sekarang, Kris. Luhan mengusahakan sebuah senyum. Meskipun tidak menjawab apa-apa Luhan mengembangkan tangan memperlihatkan tumpukan map yang ada di atas mejanya lalu angkat bahu.
"Kenapa tidak kau bawa pulang saja?"
"Kalau ku bawa pulang, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dibandingkan di kantor."
"Kalau begitu apa salahnya? Yang penting semua pekerjaan kita selesai dengan baik." Kris mendekati Luhan dan mengangkat tumpukan map itu dari atas meja. "Kita pulang! Ayo ku antar!"
Luhan terperangah, Kris sama sekali tidak bertanya apakah Luhan bermaksud untung pulang atau tidak. Laki-laki itu membawa semua pekerjaan milik Luhan keluar kantor dan Luhan mau tidak mau menyusul. Kris memaksa, tapi ia melakukan itu karena sangat memperdulikan Luhan, hal yang semakin membuat Luhan kesal pada kejadian perjodohan itu. Perlahan-lahan Luhan membuka pintu mobil Kris dan duduk disebelahnya lalu menikmati perjalanan yang tidak terlalu terburu-buru menuju flat nya. Baekhyun seharusnya ada dirumah hari ini, dia berjanji untuk tidak membiarkan Luhan sendirian seperti malam kemarin.
"Sebenarnya aku tidak suka bertanya ini, tapi sungguh aku ingin tau!" Kris memulai pembicaraan lagi. "Bagaimana dengan perjodohan weekend kemarin?"
Luhan mendesah, Kris tau gadis itu sangat tidak suka membahas semuanya, Sehun pasti sudah membuatnya kesal. Menyadari kalau dirinya akan menikah dengan laki-laki yang selalu di peranginya itu adalah pukulan yang berat baginya. Tapi Luhan tetap menjawab meskipun dengan malas, ia tidak ingin membuat Kris kecewa.
"Buruk!"
Mendengar jawaban yang singkat itu, Kris spontan tertawa.
"Buruk? Karena Oh Sehun ?"
"Seharusnya kau yang datang, kan? Kenapa dia yang datang?"
"Kau sangat berharap aku yang datang?"
Luhan memandangnya sebentar lalu kembali menoleh ke jalanan yang masih ramai. "Tidak juga, tapi ku rasa kau jauh lebih baik dibandingkan dia!"
"Kenapa?"
"Apa lagi? Karena dia seorang penggoda. Entah berapa banyak wanita yang di habisinya dan aku tidak yakin bisa menghabiskan hidup dengan orang yang seperti itu!"
"Memangnya kenapa? Kau tergoda padanya?" Kris berkata dengan nada yang berbeda, mungkin Luhan menyadari perubahanya sehingga membuat gadis itu memandangnya meskipun sangat sebentar sekali. Luhan tidak menjawab apa-apa selain hembusan Nafas, cukup untuk membuat Kris tersenyum getir. "Ayolah, kau sendiri juga tau kalau hampir semua laki-laki memiliki sikap yang sama. Sehun hanya sedikit lebih menonjol karena dia pernah berurusan dengan artis yang menjadi penyebab kau menamparnya untuk pertama kali di tahun ini! Lagi pula suatu keajaiban bila Sehun menggoda, para wanitalah yang mendekatinya. Sedangkan aku, beberapa kali melakukan hal yang sebaliknya. Artinya aku lebih buruk di bandingkan dengan Sehun, Kan?"
Dia sudah menggodaku! Pikir Luhan, dia ingin meneriakkan itu. Namun ia memilih untuk mengatakan kata-kata yang lain. "Kau membelanya karena kau saudaranya!"
"Astaga!" Kris pura-pura kesal dengan perkataan Luhan barusan. "Percayalah, aku juga orang yang sama jika kau menganggapku lebih baik darinya. Sekali lagi, Sehun hanya sedikit lebih menonjol karena dia berurusan dengan artis itu. Seandainya saat itu yang berhubungan dengan klienmu adalah aku, maka yang kau tampar berkali-kali itu sudah pasti wajahku!"
"Setidaknya kau tidak pernah…" Luhan diam, dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sedikitpun. Meskipun ia tau Kris sedang memandangnya heran, Luhan tidak akan pernah menceritakan kejadian kemarin pada orang lain. "Dia pasti menolak perjodohan itu kan?"
"Bagaimana kalau dia menerimanya?"
Luhan menatap Kris lebih lama, laju mobil sudah berhenti dan tanpa terasa Luhan sudah sampai di depan gedung flat nya. Mendengar perkataan Kris membuatnya semakin terganggu oleh perasaan takut. Laki-laki itu tersenyum untuk membuat Luhan tenang, tapi sudah terlambat. Luhan tidak akan pernah bisa tenang setidaknya sampai besok pagi.
"Berjanjilah padaku kalau tidak akan pernah terjadi apa-apa padamu bila dia menerimanya. Jika tidak, aku bersumpah akan menyesali diriku karena menyerahkan dirimu kepada Oh Sehun !" Kris menarik nafasnya dalam untuk menenangkan diri, sedetik kemudian menyentuh kepala Luhan sebentar. "Aku menganggapmu seperti adikku sendiri, membiarkanya mendekatimu karena kau adalah satu-satunya orang yang selalu bisa memberikanya pelajaran. Karena itu, teruslah memberi pelajaran kepada Oh Sehun karena dia tidak akan berhenti jika bukan dirimu yang menghentikan."
"Bagaimana caranya?"
"Jangan pernah tundukkan wajahmu sekalipun kepadanya. Luhan, kau harus berani menunjukkan kekejamanmu kepada Sehun. Dengan begitu pada akhirnya hanya akan ada dua hal yang mungkin terjadi; dia memutuskan pertunangan lebih dulu, atau dia tidak bisa hidup tanpamu!".
